Melihat ramainya atau meriahnya wacana tentang Alkitab dan Tradisi, berikut ini saya sampaikan sharing saya tentang DR. Scott Hahn (sekarang masih hidup di Amerika, dan pendapatnya dapat dibaca melalui Websitenya).
Dalam suatu kursus Evangelisasi, disebutkan bahwa Jakarta adalah kota nomor 5 di dunia yang umat Katoliknya banyak pindah ke gereja non-Katolik. Tetapi di bagian lain di dunia, khususnya Amerika, sekarang ini banyak orang yang kembali ke pangkuan Gereja Katolik setelah menyadari "duduk masalah" sebenarnya.
Banyak orang, termasuk saya dulunya menganggap bahwa Alkitab adalah SATU-SATUNYA sumber iman. Namun belakangan, setelah banyak membaca buku karangan DR. Scott Hahn, atau mendengarkan kaset-kaset ceramahnya, "Answers to common objections", anggapan tersebut pudar. Saya kemudian dapat memahami bahwa Alkitab adalah SALAH SATU sumber iman, bukan satu-satunya.
Namun rasa hormat dan cinta saya pada Alkitab tidak memudar, bahkan makin besar dengan makin senang membaca. Salah satu buku tulisan DR. Scott Hahn adalah "Rome Sweet Home", suatu buku yang luar biasa bagusnya. DR. Scott Hahn, mulanya adalah seorang pendeta dari gereja non-Katolik. Dia Doktor teologi dari suatu seminari non-Katolik dan pendeta yang simpatik dan disegani jemaatnya. Dia ahli Alkitab, sangat terpelajar/ intelek dan profesor pada beberapa universitas. Belajar Alkitab sejak masih muda, dididik dalam keluarga pendeta, dengan semangat "anti terhadap semua yang berbau Katolik".
Aktifis dalam berbagai kegiatan gereja non-Katolik. Dia begitu bersemangat untuk mencari ayat-ayat Alkitab yang dapat menunjukkan kesalahan praktek orang atau gereja Katolik. Namun yang didapat adalah bahwa ayat-ayat Alkitab itu malah mendukung posisi gereja Katolik. Dia teruskan lagi usahanya, dengan membaca Sejarah Gereja Purba, abad-abad pertama setelah Yesus wafat dan setelah Gereja berdiri. Termasuk dia baca juga adalah Surat Surat Pimpinan Jemaat/ Gereja yang Pertama kepada para jemaatnya.
Semua makin menguatkan bahwa posisi Gereja Katolik benar adanya, tidak bertentangan dengan Alkitab, dan tetap terpelihara lestari berkesinambungan sampai sekarang. Inilah beberapa temuannya:
- Dia baru menyadari bahwa membaca Alkitab tidak boleh mengartikannya secara sepotong-sepotong, ayat per ayat, kalimat per kalimat atau bahkan kata per kata. Tetapi harus dalam konteks yang utuh.
- Dia baru menyadari bahwa Injil Matius, Injil Lukas, Injil Markus, Injil Johanes dan Surat Surat Paulus dan surat-surat dalam Alkitab lainnya itu dibuat dalam kurun waktu 70 tahun setelah Yesus wafat. Artinya selama 70 tahun itu, jemaat betul-betul hanya mengandalkan TRADISI (AJARAN LISAN) para Rasul dan penggantinya. Jemaat belum punya Alkitab apalagi membaca.
- Dia baru menyadari bahwa Alkitab yang ada seperti sekarang ini, baru tersusun utuh, dan ditetapkan seperti sekarang ini (dalam Kanon), baru sekitar tahun 390 M, atau 360 tahun sesudah Yesus wafat.
- Dari situ ia baru menyadari bahwa selama 360 tahun itu umat betul-betul hanya mengandalkan AJARAN LISAN (TRADISI) dari Para Rasul atau penggantinya. Jemaat/ umat belum memegang Alkitab.
- Ia baru menyadari bahwa Gereja Katolik-lah yang menetapkan kanon Alkitab, artinya menetapkan kitab mana yang dapat dianggap "Sabda Tuhan"/"Words of God", dan masuk dalam Alkitab dan mana yang tidak.
- Ia baru menyadari bahwa selama beberapa ratus tahun, Gereja dengan setia tetap mengajar umatnya secara lisan, karena umatnya banyak yang belum punya akses pada Alkitab, baik karena tidak punya atau karena buta huruf.
- Ia baru menyadari bahwa Alkitab itu mulanya tidak ada nomor ayat-ayatnya. Baru dibuat nomor-nomor ayat oleh seorang Uskup Katolik John Langdon, sekitar tahun 1000 an, atau 900 tahun setelah Alkitab dibuat dan ditetapkan.
- Dengan kata lain, ia baru menyadari bahwa Gereja-lah yang membuat Alkitab itu, (dalam arti menuliskan, mengumpulkan, menyusun dan membentuk menjadi satu kumpulan kitab), bukan sebaliknya bahwa Alkitab membentuk Gereja. Maka Gereja punya otoritas untuk menafsirkan dan mengajarkannya.
Dari temuan-temuan itu, DR. Scott Hahn menyimpulkan bahwa apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah benar dan konsisten, termasuk adanya Perayaan Ekaristi Kudus (Perayaan Pemecahan Roti) yang sudah diselenggarakan sejak jaman Para Rasul, sampai sekarang. Dan ia bersama isteri akhirnya menjadi Katolik. Ia percaya pada ALKITAB, ia percaya pada TRADISI (ajaran lisan dari Yesus dan Para Rasul yang tidak tertampung di Alkitab), ia percaya pada KUASA MENGAJAR GEREJA (MAGISTERIUM).

 

 

Kalau membaca asal-usul (kanonisasi) Alkitab oleh berbagai penulis, kita akan kebingungan tergantung siapa yang mengutip siapa dan siapa yang menjamin bahwa yang ditulis itu benar. Setiap orang akan berusaha menulis menurut kepentingannya. Maka dari itu sudah sejak lama saya (pribadi) membagi Alkitab dalam 3 kategori. Kitab sebelum Yesus (Perjanjian Lama), Kitab Injil (The Gosple- lima buku pertama Perjanjian Baru), dan Surat-surat (Sisanya termasuk Wahyu). Urutan kepentingan saya yang nomor satu adalah Injil/Gospel, ini saya anggap mutlak ajaran Keselamatan. Perjanjian Lama adalah Latar Belakang lahirnya Injil. Surat-surat memberi jawaban masalah BUDAYA. Begitu kira-kira garis besar kepercayaan saya . Apa yang ditulis di dalam Injil, kita harus berusaha mendalami sedalam mungkin dan mutlak harus jadi patokan kepercayaan. Kadang untuk mengerti Injil kita harus tahu apa yang pernah terjadi sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Sedangkan apa-apa yang ditulis dalam Surat-surat yang bertentangan dengan Injil, adalah salah intrepretasi penulis/penterjemah terhadap ajaran Yesus. Apa yang tidak tertulis dalam Injil tetapi tertulis dalam Surat-surat, merupakan ajaran situasional alias untuk situasi tertentu dalam budaya atau kejadian tertentu, tidak usah berlaku bagi semua orang di segala jaman.

Lantas bagaimana kepercayaan bahwa Alkitab merupakan firman Allah secara utuh, ya jelas itu benar untuk jamannya masing-masing sesuai dengan tulisan aslinya. Maka selama saya tidak mendapatkan naskah aslinya dan tahu bahasa aslinya, maka saya mengikuti naluri saya yaitu apa yang diajarkan Yesus dan dituliskan dalam Alkitab. Lalu apakah saya tidak percaya apa yang dituliskan oleh Paulus? Saya percaya bahwa Paulus menulis itu dengan petunjuk dari Tuhan, namun tidak mutlak berlaku untuk selama-lamanya. Petunjuk Tuhan sesuai dengan lokasi, waktu, dan situasi tetapi saya tidak yakin itu seluruhnya berlaku buat kita sekarang ini. Surat-surat sebagai kelengkapan yang memberi penjelasan kepada ajaran Yesus, boleh kita terima untuk memperteguh penerimaan ajaran Yesus. Untuk berlaku selamanya? Sulit, misalnya sangat sulit bagi saya (sampai sekarang) menerima sebagai surat-surat kekal/abadi, surat-surat Paulus kepada tujuh sidang Jemaat di Asia Kecil (Turki) yang sekarang ini jemaatnya tak ada satupun yang masih ada. Apakah karena mereka itu murid Paulus sehingga mereka menjagokan (lebih percaya) Paulus lebih daripada Yesus sendiri? Maka dari itu saya sangat takut terbawa oleh ajaran-ajaran murid-murid Yesus yang bukan memberi kesaksian tetapi sudah memasukkan ajaran baru yang bukan ajaran Yesus (meskipun Tuhan meng-ilhami untuk memberi jawaban kepada jemaat tertentu pada waktu tertentu). Apalagi ajaran-ajaran manusia sesudah murid-murid dan Rasul murid Tuhan Yesus..... Maka saya menempuh keyakinan saya kepada ajaran Yesus, dan barang siapa yang percaya kepadaNya, ia selamat. Bukan oleh ajaran muridNya yang mungkin bertentangan: soal apakah perbuatan menyelamatkan kita masuk Surga. Yesus setahu saya mengajarkan klek percaya, klek selamat. Ini konsisten dengan semua ajaran dan alasan Yesus mati menebus dosa manusia. Mengapa? Karena Adam dulu juga jatuhnya, klek gigit buah terlarang, saat itu juga klek menjadi warga negara kematian. Anak cucu Adam menjadi ikutan menjadi warga negara kematian. Yesus datang dan menawarkan kepada manusia warga negara kematian, barang siapa percaya kepadaKu, dia akan bebas dan menjadi warga negaraKu yaitu warga negara kehidupan. Maka ya aku ikutan percaya kepada Yesus dan klek menjadi warga negara kehidupan. Kalau tetap tergantung dari perbuatan, apa gunanya Yesus datang dan harus mati segala? Semua nabi mengajarkan begitu ............... termasuk nabi Mohammad ..................yang sangat menonjolkan perbuatan dan atribut (penampilan) termasuk mana perbuatan jihad. Renungkan, apakah keselamatan tergantung dari perbuatan?

Dulunya saya segan memberi komentar, tetapi karena ini menyangkut keselamatan, saya rasa perlu memberi komentar. Yang prinsip ya kalimat terakhir itu, lalu kalau keselamatan tergantung dari perbuatan, apa gunanya Salib Yesus, apa bedanya Yesus dengan nabi-nabi, bahkan guru-guru lain seperti Konfusius, Buddha, dll. dll. dll.??? Kalau demikian jadinya, kematianNya tak ada manfaatnya ...... mengapa sampai Allah Bapa mengaruniakan anakNya yang tunggal, kalau ajaranNya buntut-buntutnya sama dengan ajaran nabi dan guru-guru agama sebelumnya, perbuatan yang akan menjadi kriteria keselamatan???

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.