Kami kemarin berdiskusi mengenai Yohanes 17:12.
Di sana Yesus berdoa pada Bapa, dalam doaNya mengenai para murid, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memelihara semuanya dengan baik agar tidak binasa, "kecuali ia yang sudah ditentukan untuk binasa".
Kata ditentukan, dan berkaitan dengan Yudas Iskariot itu membuat pertanyaan yang belum dapat kami jawab. Jika Yudas sudah "ditentukan" untuk menjadi pengkhianat, apakah dalam hal ini Tuhan bersikap adil? Membuat Yudas menjadi pengkhianat yang hingga ribuan tahun sesudah kematiannya selalu dicela semua orang. Lha kan kasihan Yudas yang karena rencana Allah, kemudian jadi "kurban"?
Jika Yudas tidak berkhianat, apakah rencana penyelamatan dapat terlaksana, karena akibat pengkhianatan Yudas, maka Yesus wafat di Kayu Salib.

(ARQ)

 


Saya seorang awam seperti anda, cuma kebetulan senang dengan pemahaman Alkitab, menggali untuk lebih memahami Firman Tuhan (meski belum pernah berkesempatan ikut seminari atau sekolah Alkitab). Sama sekali saya berusaha menjauhkan diri dari menyelidik kebenaran ayat, melainkan berusaha memahami dengan penyerahan dan doa agar Tuhan membukakan mata hati kita untuk menerima dan memahami kehendakNya. Oleh karena itu, apabila saya mencoba menjelaskan sesuatu, tentu saja kemungkinan ada penjelasan lain yang lebih gamblang, sehingga pendapat saya bukanlah yang paling baik atau paling jelas, malah jelas tidak bisa dibilang paling benar. Saya ingin menyampaikan di sini bahwa saya tidak berusaha mencari kebenaran, tetapi saya berusaha memahami apa yang tertulis dalam Alkitab. Mudah-mudahan pendahuluan ini bisa menghindari “perdebatan” yang tidak perlu, meskipun terbuka kemungkinan kita saling bertukar pikiran atau bertukar pendapat. Saya membalas pertanyaan ini juga dalam rangka mencari pemahaman bersama karena saya yakin bahwa anda bertanya juga untuk memahami apa yang tertulis dalam Alkitab.

Ayat kalimat tersebut (Johanes 17:12) kalau dilengkapi menjadi: ……Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain daripada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

Ada hal yang menarik di sini, bahwa semua itu terjadi supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka yang yang perlu kita fahami pertama adalah yang “ditentukan” itu adalah yang tertulis dalam Alkitab agar digenapi. Menurut pendapat saya, adanya pengkhianat merupakan sesuatu yang ditentukan sebagai akibat bahwa Kitab Suci harus digenapi. Saya lebih yakin bahwa yang ditentukan bukan si Yudas ditentukan sebagai pengkhianat, tetapi ditentukan “akan ada pengkhianatan”. Siapa yang akan berkhianat, belum ditentukan dari awal, karena Tuhan sudah memberikan “free will” kepada semua manusia-manusia sejak Adam, yaitu diberi kebebasan untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya dan menanggung akibat dari keputusannya. Secara kebetulan Yudas Iskariot melalui kebebasannya untuk memilih, dia memilih mendapatkan uang daripada ikut memikul sengsara yang akan dihadapi Tuhannya pada waktu itu. Secara kebetulan Yudaslah yang menjadi “korban” dari peristiwa itu, karena peristiwa itu harus terjadi sesuai yang telah ditulis oleh Kitab Suci. (Menurut saya, bisa saja terjadi pengkhianatan oleh bukan Yudas). Itu pemahaman saya yang pertama. Perlu saya tambahkan di sini, bahwa penggunaan kata “binasa” mungkin terlalu kuat kalau dibandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris yang menggunakan istilah “lost” dan “destruction”, yang artinya “hilang” dan “kehancuran” yang masih ada kemungkinan ditemukan kembali dan diperbaiki atau dibangun lagi. Dengan membuka sedikit celah arti terjemahan bahasa Inggris tersebut, maka saya membuka kemungkinan bahwa Yudas belum mutlak “binasa” dan masuk neraka. Apa “clue” atau tanda-tanda kemungkinannya? Tanda-tandanya adalah Yudas menyesal. Dia begitu menyesal sehingga bunuh diri. Di sini tentunya timbul lagi perbedaan pemahaman, mungkin saja dia menyesal dan bertobat, maka dia menghukum diri sendiri sedemikian rupa sampai dia tidak akan bisa mengulangi perbuatannya. Kalau dia bertobat, maka tentu Tuhan mengampuninya sesuai ajaranNya, sehingga Yudas tidak perlu masuk neraka. Nah, bagaimana soal bunuh diri. Bukankah bunuh diri itu merusak rumah Tuhan? Sehingga harus masuk neraka? Lha, siapa yang mengharuskan? Semua dosa bisa diampuni (kecuali menghujat Roh Kudus), demikian tersurat dalam Alkitab. Oleh karena itu, saya tidak yakin dan merasa tidak perlu Yudas ”di-binasa-kan” dan masuk neraka, karena kalau pada detik-detik terakhir dia bertobat (yang ditandai dengan penyesalan luar biasa) dan ingat ajaran Yesus meminta pengampunan, maka kemungkinan dia sekarang sudah menunggu di pintu Surga sana, tinggal menunggu bunyi Sangkakala untuk bersama-sama masuk gerbang Surga dengan mereka yang memperoleh pengampunan dari dosa-dosa ”berat” lainnya. Tentu saja ini pendapat yang kontraversial, bertentangan dengan keyakinan yang selama ini diikuti oleh banyak orang (bahwa Yudas langsung terbuang di neraka).

Dari pemahaman kedua ini, kita bisa memahami bahwa Yudas hanyalah kebetulan dia yang melakukan, dan siapapun yang melakukannya (untuk genapnya yang tertulis dalam Kitab Suci), dia masih bisa mendapat kesempatan untuk memilih bertobat dan memperoleh pengampunan. Dengan demikian, apa yang ditentukan ditulis dalam Kitab Suci bisa tergenapi, tanpa harus ”mutlak” ada korban yang ditakdirkan (pre-destinasi) masuk neraka, karena semua manusia diberi kebebasan untuk mengambil keputusan dan menanggung akibat keputusannya sendiri.

Itulah pendapat dan keyakinan saya (sebagai orang awam) yang berusaha untuk memahami apa yang dituliskan dalam Alkitab. Mudah-mudahan tidak menambah bingung, karena barang siapa yang percaya kepadaNya (Tuhan Yesus Kristus) tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yudaspun berhak untuk bertobat dan percaya kepadaNya untuk memperoleh pengampunan dan tidak binasa. Mengapa selama ini kita diajarkan bahwa Yudas masuk neraka? Ya mungkin saja bisa salah ”baca” seperti yang selama ini diajarkan bahwa Maria Magdalena sang pelacur tetapi setelah diteliti sedikit lebih mendalam, ternyata salah ”baca” alias salah interpretasi, tidak ada alasan sedikitpun secara Alkitab untuk mengatakan bahwa Maria Magdalena adalah pelacur.

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.