BANGGA JADI KATOLIK
Oleh: Inno Ngutra

"Banyak orang sekarang ini mendirikan gerejanya berdasarkan KITAB SUCI.
Pertanyaan muncul:
SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI?
APAKAH KITAB SUCI MENCIPTAKAN GEREJA ATAU GEREJALAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI?
Semakin bingung, kan? Walaupun topiknya lumayan sulit untuk dipahami, tapi lebih baik tahu daripada tidak sama sekali.

Terhadap pertanyaan utama:
"SIAPAKAH YANG MENCIPTAKAN KITAB SUCI" memang rasanya sulit untuk dipahami. Karena itu, mungkin kita bisa merumuskan seperti ini:


ATAS JASA SIAPAKAH TULISAN-TULISAN BERSERAKAN ITU DIKUMPULKAN MENJADI KITAB SUCI SEPERTI YANG KITA MILIKI SEKARANG INI?

1. KITAB SUCI BUKANLAH SATU-SATUNYA SUMBER IMAN
Dengan judul ini saja, kita sudah berseberangan dengan keyakinan saudara/i kita Protestan, yang inti ajarannya adalah "SOLA SCRIPTURA" (Hanya Kitab Suci saja).
Namun, saya tidak mau berpolemik tentang keyakinan yang berbeda seperti ini.
Apa yang saya jelaskan adalah soal kelogisan berpikir dan keyakinan akan kebenaran yang tertulis berdasarkan sejarahnya.
Jesus selama hidup-Nya di dunia ini tak pernah menyebutkan tentang sebuah Kitab Suci (dalam arti keharusan adanya sebuah Kitab Suci seperti TAURAT dalam Agama Yahudi). Benar, kan?
Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul-Nya untuk percaya kepada sebuah buku.
Demikian pun IA tak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk menuliskan sebuah buku.
Karena itu, sewaktu hidupnya para Rasul, harus diakui bahwa tidak ada yang namanya KITAB SUCI.
Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus tak pernah membangun gereja-Nya di atas dasar sebuah Kitab/Buku sebagai dasar iman, tetapi Ia membangun sebuah Gereja sebagai pilar dan dasar dari sebuah kebenaran. (2Timotius 3:15).
Dan Dia tidak pernah berjanji sebuah buku/Kitab melaikan Diri-Nya sendiri akan selalu beserta Gereja-Nya sampai akhir zaman (Matius12:15) dan Roh Kudus akan memimpin para rasul dan para pengganti mereka sampai kepenuhan kebenaran yakni setelah Ia naik ke Surga (Yohanes14:16-17).

2. TRADISI DAN KITAB SUCI
Pada awal gereja di mana Kitab Suci belum ada, umat Kristen percaya pada pengajaran para Rasul, yang menjadi dasar iman mereka, yang mana disebut oleh gereja sebagai "TRADISI SUCI."
Hal ini bisa dilihat dalam Matius15:6-9.
Sedangkan istilah2 seperti Tritunggal, Api Penyucian dan lain2 berasal dari surat2 para bapa Gereja yang kemudian dikuatkan oleh isi Kitab Suci kelak.
Tentang pentingnya tradisi dalam gereja bisa dibaca dalam 2 Tesalonika 2:15; "Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran2 yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis."
Atau dalam 1Korintus 11:2: "...kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu.
Dengan penjelasan ini maka kiranya menjadi jelas bahwa; Pertama, Kitab Suci adalah sebuah TRADISI.
Kitab Suci bukanlah sesuatu yang diturunkan oleh Allah sebagai sebuah buku melainkan berupa inspirasi yang menggerakan para penulis menuliskan apa yang mereka alami.
Kedua, tradisi lisan maupun tulisan tetap penting dalam membangun iman umat.

3. ALASAN TULISAN-TULISAN DIKUMPULKAN MENJADI KITAB SUCI.
Pada masa awal gereja, terdapat sekitar lebih dari 50 Injil, yang termasuk 4 Injil yang kita kta dalam Kitab Suci sekarang ini (Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes).
Selain itu, ada juga Injil lain seperti Injil Yakobus, Injil Thomas, Injil Ibrani, dll. Ada juga 22 buku Kitab lain, Kisah Para Rasul, Kisah Paulus, dan lain sebagainya. Banyaknya Kitab-kitab Injil ini semakin membingungkan umat gereja perdana. Di antara Injil dan Kitab-kitab itu ada juga yang isinya sangat bertentangan dengan ajaran Para Rasul, seperti ajaran Arius yang mengatakan bahwa Yesus bukan Allah, Apolinarius; Yesus bukan manusia, Macedonius; Roh Kudus bukan Allah.
Kenyataan ini sungguh sangat memprihatinkan umat terutama dalam usaha untuk mengembangkan kehidupan iman mereka.
Menghadapi tantangan-tantangan nyata seperti Gereja Katolik memutuskan untuk menyeleksi beberapa Kitab yang menunjukkan keaslian pada ajaran para Rasul dan yang betul-betul penuh inspirasi.
Inilah yang nantinya disebut Kanon (sarana untuk mengikut keaslian dan kebenaran Kitab Suci).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa INJIL DATANG DARI GEREJA DAN BUKAN GEREJA DATANG DARI INJIL (Inilah jawaban atas tulisan di statusku di atas).
Sekedar sebagai kesaksian bahwa banyak orang Protestan akhirnya kembali kepada pangkuan Gereja Katolik setelah menyadari akan kebenaran cerita tentang Kitab Suci.
Ini bukan terjadi karena mereka cuma belajar tentang Kitab Suci sendiri tetapi mereka belajar tentang sejrah terbentuknya Kitab Suci, yang merupakan hasil kerja keras Gereja Katolik.
Dalam konteks ini, kita bisa mengatakan bahwa TANPA GEREJA KATOLIK, PASTI KITA TIDAK MEMILIKI KITAB SUCI SEPERTI YANG ADA SEKARANG INI.

4. GEREJA KATOLIK-LAH YANG MENGUMPULKAN TULISAN2 YANG BERSERAKAN DAN MENJADIKANNYA KITAB SUCI SEPERTI YANG SEKARANG INI.
Berawal dari Melito, Uskup dari Sardis (tahun 170 SM) yang mencoba untuk memliki sebuah kanon tentang Kitab Suci Perjanjian Lama, namun karena ada kesulitan dalam daftar besar kitab2 yang beredar pada waktu itu maka usaha ini tidak berjalan dengan lancar. Konsili Gereja di Laodicea, dengan izin Paus di Roma mencoba memproduksi kanon Kitab Suci.
Tapi usaha ini pun hanya berkembang sebatas Paus Damasus. Di bawah kepemimpinannya, Ia memerintahkan St. Jerome menterjemahkan Kitab Suci dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Latin (bahasa resmi dalam gereja waktu itu).
Dengan kuasa yang dimilik oleh Paus, ia kemudian menerima Injil Lukas dan digabungkan dengan ketiga Injil lain dengan alasan bahwa dalam Injil Lukas terekam lengkap kisah kanak-kanak Yesus, terutama dalam hubungan dengan Santa Perawan Maria. Lukas jugalah yang untuk pertama kalinya melukis gambar Bunda Maria dengan Yesus, yang sampai saat ini masih tersimpan di Gereja Basilika Santa Maria Major di Roma.
Injil Matius ide jelas tentang kuasa tidak mengajar Petrus dan gereja yang dibangun di atasnya.
Injil Yohanes digunakan oleh orang Kristen perdana untuk mempertahankan imannya, terutama dalam hubungan dengan Sakramen Ekaristi sebagai Tubuh dan Darah Yesus.
Injil Markus juga memberikan gambaran yang jelas tentang kuasa St. Petrus untuk memimpin gereja yang didirikan oleh Yesus, dan kuasa ini sampai saat ini masih dijalankan oleh para penggantinya, yakni Paus di Roma.

5. TIDAK ADA KITAB SUCI TANPA GEREJA.
Dari berbagai penjelasan di atas, kita lalu sampai pada kesimpulan logis bahwa "TIDAK ADA KITAB SUCI TANPA GEREJA KATOLIK". GEREJA KATOLIKLAH YANG MENGADAKAN KITAB SUCI,
yang skarang malah diklaim oleh banyak orang sebagai miliknya, dan lebih parah lagi jika mereka berani mengatakan bahwa mereka LEBIH BENAR, LEBIH TAHU tentang Kitab Suci daripada Gereja Katolik.
Ini sungguh sebuah lawak yang tidak lucu.

Dengan demikian, bagi mereka yang menyangkal tradisi, kuasa mengajar dan memimpin PAUS dan cuma percaya pada pewahyuan selalu mempertanyakan keabsahan Kitab Suci.
Ini yang harus kita sadari bahwa ketika kita menyebut Injil Lukas, Injil Markus, dll. bukan berarti bahwa Kitab Suci sungguh ditulis oleh mereka. Kepercayaan ini berdasar pada tradisi gereja.
Karena itu, isi Kitab Suci sendiri merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan mereka yang menjadi saksi bukan hanya sebagai Rasul tetapi sebagai murid dari para rasul seperti Lukas dan Markus. Kedua penulis ini bukanlah tergabung dalam kelompok 12 Rasul. Mereka adalah murid dari Petrus dan Paulus.

Karena itu, perjuangan untuk memasukan sebuah kitab/Surat dalam Kitab Suci sungguh memakan waktu dan pertimbangan yang matang dari sisi pewahyuan dan isinya yang mendukung perkembangan iman umat, seperti misalnya: Kitab Wahyu. Kitab ini awalnya tidak diterima oleh umat Kristen perdana.
Tapi hanya karena keputusan dari PAUS yang mempertimbangkan bahwa isi kitab ini dapat membantu umat dalam mengenal dan mengimani Allah, maka akhirnya Kitab Wahyu termaktub dalam Kitab Suci seperti sekarang ini.
Kuasa Paus untuk menentukan ini berdasar pada Matius 28:20; Ajarilah mereka tentang segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan, lihatlah, Aku akan menyertaimu sampai akhir jaman (kamu di sini adalah para rasul dibawah komando Petrus sebagai pemimpin resmi yang diangkat oleh Yesus).

Menjadi sebuah kebenaran bahwa segala sesuatu yang diperbuat oleh para rasul dan para Bapa Gereja perdana tidak tertulis dalam Kitab Suci.
Kitab Suci sendiri mengakuinya itu dalam Yohanes 21:25; "Masih ada banyak hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetpi jika semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu."
Karena itu, mereka yang percaya bahwa kebenaran hanya terdapat dalam Kitab Suci membuat sebuah kontradiksi besar dalam hidup mereka, ketika mereka menerima pewahyuan lewat pemimpin gereja mereka sebagai kebenaran.
Bukankah apa yang diwahyuhkan kemudian TIDAK TERTULIS dalam Kitab Suci?
Mengapa mereka harus mengakuinya?
Gereja Katolik telah melihat kemungkinan bahwa Allah akan terus bekerja dalam setiap generasi sampai akhir zaman.
Karena itu, kebenaran dalam Kitab Suci tak pernah disangkal, tetapi pewahyuan atau apa yang dilestarikan dalam tradisi gereja juga dipercaya datang dari Allah.

Karena itu, di balik segala kelemahan dan kekurangan gereja, terutama lewat pemimpin-pemimpinnya, kita tidak bisa membuatnya menjadi alasan untuk meninggalkan gereja Katolik, apalagi untuk membenci.
Gereja Katolik adalah gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri di atas dasar Petrus sebagai lambang kesatuan para rasul yang lain.
Para rasul yang lain, seperti Yakobus, Matius, Tadeus, dll. bahkan murid kesayangan Yesus, Yohanes, tak pernah mendirikan sebuah gereja baru karena kuasa yang diberikan kepada mereka.
Walaupun berbebda pendapat atas banyak hal tapi mereka tetap percaya kepada Petrus sebagai pemimpin resmi mereka, yang diangkat sendiri oleh Yesus.
Bahkan di zaman Paulus yang mendapatkan pewahyuan luar biasa dari Yesus, bahkan disebut rasul bagi bangsa2 lain pun tetap mengakui Petrus sebagai pemimpinnya karena hak yang diberikan oleh Yesus kepada Petrus sendiri secara khusus.

Pertanyaan untuk direnungkan oleh semua orang Kristen (baik Katolik maupun Protestan):
"KALAU YESUS, KALAU PETRUS DAN PARA RASUL YANG LAIN TIDAK PERNAH MEMBAGI GEREJA MENJADI BAGIAN2 YANG TERPISAH SATU SAMA LAIN, SEKALIPUN BANYAK TERJADI SALAH PAHAM BAIK PADA LEVEL THEOLOGIS MAUPUN PRAKTIS HIDUP TERJADI, MENGAPA KITA MANUSIA SEKARANG HARUS MEMBAGINYA KARENA MERASAKAN BAHWA KEINGINAN KITA TIDAK TERAKOMODIR DALAM GEREJA KATOLIK, LALU KITA MENDIRIKAN GEREJA BARU?"

Apa artinya doa Yesus: 'SEMOGA MEREKA BERSATU' untuk kita dewasa ini?
KALAU YESUS MEMPERSATUKAN MAKA IBLISLAH YANG SELALU MENCERAI-BERAIKAN KITA LEWAT NAFSU DAN KEINGINAN KITA YANG TIDAK BISA KITA KONTROL.
Sadarlah akan itu dan renungkanlah.
Kembalilah ke pangkuan gereja Katolik karena itulah yang diinginkan oleh Yesus.
 

#################################################################

 

Tulisan tersebut di atas boleh-boleh saja. Bagus kalau dia beriman begitu, pokoknya banggalah menjadi anggota gereja mana saja, yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus menebus dosa manusia melalui salib. Bagus. Cuma lantas bilang bangga bagusnya sendiri dan yang lain jelek, itu yang menurut saya seperti ayam dalam pagar, tempatku bagus, yang lain jelek, tidak logis. Tidak ada logika lain yang benar selain logika saya. Logika itu banyak, dan semua benar menurut yang punya logika. Tidak perlu didebat, biar bangga sesukanya, pokoknya percaya Yesus Juruselamat menebus dosa manusia yang percaya.

Protestan baru ada sesudah tahun 1500, kanonisasi antara tahun 350-400. Benar bahwa dulunya banyak naskah, yang dikanonkan hanya 66 saja. Peristiwa kanonisasi jaman itu, kayaknya kalau dilihat dari luar kandang, kayak Islam Suni dan Islam Syiah di Indonesia, yang tidak sepaham dengan mayoritas harus diusir dibakar dll. dll. {ada buku yang mengulas bagaimana pembelaan iman kepada Yesus yang menimbulkan perang, Jesus Wars, terbit pertama tahun 2011, ditulis oleh Profesor Penn State University (Philip Jenkins). Hasil riset tentang iman Katolik/Kristen, dan timbul perang untuk mempertahankan keyakinan masing-masing}.

Jadi kalau cuma sewot dan bangga, itu kecil dibandingkan dengan jaman dulu mempertahankan keyakinan dengan nyawa, termasuk keyakinan-keyakinan yang dianggap sesat dan "hilang" ikut matinya sang majikan, yang survive sekarang dan jadi kepercayaan orang Katolik dan Protestan (tak peduli berdasarkan kitab apa dan yang mana), adalah yang survive setalah bunuh-bunuhan beratus tahun antara tahun 325 sampai tahun 1700-an, satu setengah abad bunuh-bunuhan, bukan cuma debat logika (ditumpangi kepentingan penguasa-penguasa yang mengerahkan tentara membela mayoritas).

Tidak usah ikut "terlalu bangga" atau "sewot", karena ada pertanyaan yang lebih mendasar. Kalau Tuhan Mahakuasa, mengapa membiarkan ada agama-agama yang saling perang. Mau bilang Islam sesat, lha Alkitab saja juga bilang anaknya Abraham Iskak dan Ismael, dua-duanya diberkati jadi bangsa yang besar. Sekarang dua-duanya menjadi sumber dua agama yang bermusuhan, mengapa Tuhan membiarkan begitu? Menurut saya (satu-satunya jawaban), agama-agama itu bukan bikinan Tuhan, tapi bikinan manusia, maka jadi senjata buat bermusuhan. Kepercayaan kepada Tuhan/Allah adalah dari Tuhan, setelah jadi agama itu ulah dan alat manusia. Jadi yang bikin ada Katolik dan ada Protestan, ada Islam, semua itu tangan-tangan manusia. Bangga atas salah satu, logis dan sah-sah saja. Persoalan ini lebih mendasar daripada mengurusi mana Kanon Alkitab yang benar dan apakah Qur'an itu sah. Semua ditulis lewat tangan dan otak manusia, segera lewat otak manusia, maka lahir tulisan sesuai logika manusia yang menerima "wahyu". Itu logika saja.

Sebetulnya katak dalam tempurung itu juga tidak salah kalau dia melakukan kodrat ilahinya secara nyaman. Maksud saya, orang yang keyakinannya tinggi meskipun cupet, bisa lebih bahagia daripada yang pengetahuannya luas tetapi terombang ambing. Orang miskin hidup bersyukur atas pemberian Tuhan, lebih bahagia daripada orang kaya raya yang rakus tidak ada puasnya, demikian pula orang beragama. Ada orang yang pengetahuan agamanya sederhana dan terima Yesus sebagai Juru Selamat, hidupnya lebih tenteram daripada yang pengetahuannya luas kayak kita-kita ini, yang bingung kiri kanan dan sewot sendiri dengan kerumitan agama.

Secara filsafat, yang bikin kacau itu karena pengetahuan kita mengenai "kebenaran". Kalau sudah mengaku "saya benar', filsafat mempertanyakan, berdasarkan apa anda mengatakan anda benar? Yang satu bilang berdasarkan Alkitab, yang satu bilang berdasarkan Al Qur'an. Ditajamkan lagi, Alkitab yang mana, terjemahan bahasa apa, terbitan mana? Lantas ditanya lagi, penterjemahnya siapa dan sejauh mana dia mengenal bahasa dan sejarah bahasa asli dan bahasa jadi (Yunani ke Indonesia). Jadi masalahnya orang meng-klaim, yang saya ikuti itu benar. Lha benarnya itu yang jadi masalah kalau dasarnya tidak sama. Makanya "kebenaran tidak bisa satu" kecuali dipaksakan dengan bedil ............. Jangan sok meng"klaim" hanya saya punya yang benar dan yang lain salah. Meng-klaim bahwa saya punya benar, boleh-boleh saja dan sah, asal jangan bilang yang lain tidak benar, kebenaran mutlak hanya akan tiba di Pengadilan Akhir (Katolik, Protestan, Islam, semua percaya akan ada Pengadilan Akhir)....... Buat apa ada Pengadilan Akhir kalau kebenaran sudah diketahui sekarang???

 



Basilika Saint Peter yang mengagumkan menggambarkan begitu terbukanya gereja bagi manusia yang secara konsekuen membuktikan filosofi yang dianut bahwa Tuhan terbuka bagi siapapun.


 

 

         

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.