Benarkah Dengan Membayar Perpuluhan Semua Beres?
 

 

Perpuluhan itu termasuk dalam sistim kuno, sistim Perjanjian Lama, karena Yesus tak pernah mengajarkan atau mengucapkan sepatah katapun untuk menghidupkan perpuluhan. Seperti Hari Sabat, Yesus malah mengabaikan apabila diperlukan untuk keselamatan, jadi tidak mutlak. Yang mau ikut boleh-boleh saja, yang mau mengabaikan, juga tidak mengganggu program keselamatan Tuhan. Tentang perpuluhan semuanya diteguhkan dan diwajibkan dalam Perjanjian Lama. Yesus tak pernah menyebutnya, rasul tidak pernah mengharuskannya/mewajibkannya. Jadi kalau sekarang banyak pendeta memakai ayat Maleakhi, yah menurut saya, sekedar style atau cari topik saja, apalagi akibatnya bisa bikin hidup mewah…………, sedangkan Yesus tidak pernah mengajarkan pendeta berhak atas hidup mewah. Maka kesimpulan saya, pendeta manapun yang menganjurkan perpuluhan dan memakainya untuk hidup lebih dari cukup (mewah) dengan alasan apapun (gengsi kek, sudah kerja keras kek, perlu menarik golongan atas kek, dll. dll.), maka saya berpendapat mereka mengabarkan Injil untuk numpang hidup mewah bukan untuk penginjilan.
Kalau murid Yesus mau memberi uang kepada Tuhan, berikan kepada yang membutuhkan, mau perpuluhan (10%) boleh saja bahkan kalau bisa lebih, tapi tidak harus diserahkan kepada gereja, tetapi Yesus mengajarkan memberikan kepada yang membutuhkan (miskin dan tak mampu). Yesus tak pernah mengajarkan pendeta/pastor hidup mewah, itu patokan saya. Kalau ada pendeta gembor-gembor perpuluhan dan numpang hidup mewah, maka jasmanilah motivasinya. Kalau gembor-gembor, dan uangnya dipakai untuk membantu yang papa yatim piatu dan hidupnya sendiri sekedar secukupnya, maka itulah pendeta murid Yesus yang sejati. Lihatlah dari buahnya ………. kata Paulus…....…… bukan den vincent :~(

 

 

Begini, prinsipnya yang utama, PERPULUHAN (apapun namanya) perlu untuk rumah Tuhan. Karenanya sesuai dengan hukum KASIH (kepada Tuhan dan kepada sesama manusia), maka penyerahan perpuluhan perlu untuk menyediakan makanan di rumah Tuhan, bagi umat ”Lewi” yang memelihara rumah Tuhan maupun bagi orang lain yang membutuhkannya. Perlu ditekankan, penyerahan perpuluhan karena KASIH. Saksi-saksi banyak tak terhitung banyaknya, bahwa orang yang menyerahkan tanda kasih itu, mendapat berkat yang berlimpah. Puji Tuhan.

Saya pribadi tidak sepaham kalau perpuluhan dihubungkan dengan keharusan atau imbalan. Tidak ada ajaran begitu dalam Kitab Kasih Perjanjian Baru. Kita tahu bahwa Perjanjian Lama penuh dengan ajaran ”balas membalas” baik itu benih bagus akan berbalas tuaian bagus, tetapi juga benih busuk akan menuai balasan yang maha buruk pula. Yesus datang mengubah (menyempurnakan) itu semua. Perjanjian Baru mengajarkan KASIH, dan KASIH tidak tergantung dari balasan, seperti kasih Yesus yang tidak memikirkan balasan tetapi KASIH yang menyelamatkan kita, manusia yang mau percaya kepadaNya. Tidak usah diajari, kalau kita merasakan kasihNya, maka kita akan juga menyatakan kasih kita kepadaNya.

Kalau ada yang ngotot bahwa perpuluhan itu dasarnya Alkitab, memang benar. Dan tidak ada cacat sedikitpun mengenai perpuluhan yang diajarkan oleh Alkitab. Namun mengapa saya pribadi berfaham seperti di atas, yaitu alasan menyerahkan perpuluhan karena keharusan atau karena imbalan kedua-duanya adalah alasan yang tidak tepat lagi, KUNO. Mengapa kuno? Karena semua itu telah ditelan oleh KASIH, dasar yang lebih agung dan sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus. Kita bukan pengikut agama Yahudi (dasar tulisan Kitab Perjanjian Lama), kita pengikut Tuhan Yesus. Bagaimana pendapat Tuhan Yesus mengenai perpuluhan? Mengapa tidak ada ketegasan mengenai perpuluhan dalam Kitab Perjanjian Baru (baik dalam kisah Tuhan Yesus maupun surat-surat para Rasul)? Menurut saya, karena Tuhan Yesus menganggap perpuluhan adalah baik, tetapi KASIH lebih baik.

Menurut saya, pengikut Tuhan Yesus yang baik adalah menyerahkan perpuluhan (atau apapun namanya) karena dasar KASIH. Bukan karena ketakutan ”keharusan” oleh gereja atau karena ”iming-iming” bahwa tabir langit akan terbuka dan bergerojokan berkat dari langit. Pernah saya merasa sedih ada pengkotbah yang mengatakan ”kaya atau miskin, kalau tidak membayar perpuluhan berarti merampok milik Tuhan”. Aduh, benar-benar mau nangis kalau sedang ada kotbah begitu, kok tega-teganya. Tuhan Mahakaya, tak perlu ada pengkotbah ”membela” pundi-pundi Tuhan. Namun sebaliknya: Berapakah harga keselamatan kita?
Oleh KASIHNYA kita diselamatkan, dengan apa kita bisa membayarnya?

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.