1)  P. Vincent, bisa buka di Matius 7:15-23 tentang nabi-nabi palsu.
Ditegaskan oleh Tuhan Yesus di ayat 21:
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga
Mohon Bapak membaca keseluruhan sub-title tersebut sehingga Bapak bisa menangkap makna secara lebih luas.


Setelah membaca ayat-ayat itu, jelas tak ada hubungan langsung dengan bagaimana kita bisa selamat. Menurut saya tujuan penggalan cerita itu mengenai jangan percaya nabi palsu, jadi objeknya bukan bagaimana bisa selamat, tapi bagaimana menghindari nabi palsu. Ciri nabi palsu adalah teriak-teriak kayak nabi tapi perbuatannya tidak cocok, jadi bagian ini mau bicara kalau ada yang mengaku nabi tetapi perbuatannya tidak cocok, jangan dipercaya. Teriak teriak saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa dirinya nabi karena meskipun teriakannya pakai nama Tuhan, tidak cukup membuktikan bahwa dia orang Kerajaan Surga. Begitu pengertian yang saya tangkap, tidak ada hubungannya dengan bagaimana kita bisa masuk Surga (memperoleh keselamatan). Lalu apa yang dimaksud dengan melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga? Pesan bagi kita yaitu yang sederhana saja, Yohanes 3:16, karena demikian besar kasih Allah sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal, supaya barangsiapa yang percaya (saya tegaskan SUPAYA) tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Itu kehendak Tuhan, supaya barangsiapa yang percaya, selamat. Itulah pengertian saya setelah membaca ayat-ayat tersebut. Apa yang harus dilakukan: PERCAYA kepada Anak-Nya yang Tunggal (tentunya seluruh pesan dan Ajaran-Nya). Perlu diingat bahwa percaya kepada Yesus berarti percaya bahwa Yesus tiba di bumi untuk menyelamatkan manusia melalui pengurbanan-Nya di kayu salib. Inilah yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Barang siapa yang percaya, jelas menjadi murid Yesus (sesuai perintah Yesus: beritakan Injil dan jadikan mereka itu murid-Ku). Sebagai murid, orang akan mengikuti Ajaran-Nya, dengan mengikuti Ajaran-Nya (yaitu kasih) akan bermanfaat bagi manusia lain dan menjadi saksi hidup agar orang lain juga menjadi murid-Nya. Ini alur pemikirannya. Perbuatan bukannya tidak perlu, perbuatan itu perlu karena akan menjadi saksi hidup agar orang lain juga diselamatkan. Tidak hanya selamatnya diri sendiri tetapi juga orang lain. Sebagai catatan harus diingat bahwa manusia tidak mampu melakukan perbuatan yang dituntut oleh Tuhan (Taurat) sepenuhnya, karena daging itu lemah. Roh Kudus akan membantu orang yang percaya untuk meningkatkan perbuatan sesuai dengan Ajaran Yesus.

Isu pemikirannya ada 3 pilihan: Alternatif (1) Selamat karena perbuatan saja (percaya tidak menjadi syarat, artinya percaya kepada siapa saja boleh asal perbuatannya baik menurut ukuran umum). Alternatif (2) Selamat karena percaya dan perbuatan (harus dua-duanya, artinya harus percaya kepada salah satu guru-nabi-rasul dan harus berbuat baik sesuai ajarannya menurut takaran tertentu), Alternatif (3) Selamat karena percaya (perbuatan tidak menjadi syarat, artinya perbuatan adalah akibat, dari percaya akan timbul tekad untuk berbuat menurut ajaran guru pilihannya). Alternatif (1) pada umumnya diajarkan oleh semua kepercayaan dan agama non wahyu, dari yang animisme sampai yang paling canggih. Alternatif (2) pada umumnya diajarkan oleh agama-agama (wahyu dan non-wahyu) besar. Alternatif (3) hanya diajarkan oleh agama Kristen yang menganut aliran Kasih Allah yang sempurna (Anugerah).
Bagaimana menurut pendapat anda, milih yang mana?
 


2)  Satu lagi, di Matius 25:31-46 tentang penghakiman terakhir
Dikatakan oleh Yesus, Tuhan kita di ayat 45-46:
Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.
Sama, mohon Bapak membaca keseluruhan sub-title tersebut sehingga Bapak bisa menangkap makna secara lebih luas.


Setelah membaca ayat-ayat ini, sungguh tidak mengherankan kalau kita harus menerima bahwa perbuatan sebagai satu-satunya ukuran masuk Surga (lihat alternative 1 di atas). Memang salah satu pelajaran yang sulit adalah memahami bagian-bagian Alkitab yang mengandung perumpamaan (ada unsur domba dan kambing, tanpa penjelasannya apa yang dibedakan antara domba dan kambing itu). Biasanya perumpamaan hanyalah menjawab salah satu bagian dari masalah yang sedang disoroti saja, bukan merupakan contoh lengkap dari hal yang mau dibicarakan. Rupanya bagian Matius ini juga kelanjutan dari bagian-bagian perumpamaan yang sedang menjelaskan tentang pentingnya perbuatan bagi sesama manusia yang sedang menderita dan penderitaan manusia itu sangat dirasakan oleh Tuhan. Tuhan juga merasakan penderitaan itu, maka berbuatlah bagi mereka. Perasaan penderitaan itu demikian hebatnya bagi Tuhan, sampai-sampai bagi yang tak peduli seharusnya masuk ke siksaan yang kekal. Apalagi pada saat itu masih berlaku Hukum Taurat bagi umat Yahudi (saat dan lokasi peristiwa) sedangkan penebusan pengurbanan kayu salib belum terlaksana. Jadi konteks alternative (2) yaitu percaya kepada Allah dan berbuat sesuai Taurat menjadi ukuran keselamatan masih sangat kuat. Oleh karena itu, kalau ada kesan bahwa Yesus juga memberikan penjelasan bahwa kalau tidak berbuat sosial seperti yang diajarkan agama Yahudi (santunan orang miskin) patut masuk siksaan kekal sesuai dengan Hukum Taurat, yang berlaku pada waktu itu bagi umat Yahudi. Serial perumpamaan itu memang menekankan perbuatan yang dituntut untuk keselamatan pada waktu itu tetapi banyak pemimpin-pemimpin agama yang tidak melaksanakannya. Inilah konteks yang saya baca. Namun kalau toh mau diteruskan didalami bahwa orang benar ke dalam hidup yang kekal, maka bisa diambil pengertian bahwa setelah Yesus dikurbankan di kayu salib sebagai tebusan orang berdosa, maka kita telah dibenarkan oleh pengurbanan itu. Kalau kita kemudian disyaratkan harus berbuat baik untuk bisa masuk Surga, lantas apa guna pengurbanan salib itu? Apakah pengurbanan salib itu ada batas waktunya atau hanya berlaku satu kali saja? Inilah yang menjadi landasan pemahaman yang konsisten, bagi yang percaya, telah diselamatkan. Orang percaya menyerahkan dirinya kepada Yesus sebagai murid-Nya. Roh Kudus akan membimbing untuk berbuat menjalankan Ajaran Yesus, setiap hari makin baik. Di hati orang percaya ditimbulkan kerinduan berbuat baik, di dalam hati orang percaya ditimbulkan rasa malu dan risih untuk berbuat yang tidak baik, makin tekun orang percaya, makin nyata perbuatannya. Tetapi semua itu untuk kepentingan rasa damai dan bahagia sebagai pengikut Yesus, dan bukan sebagai bayaran terhadap keselamatan (masuk Surga). Orang percaya yang berbuat jahat akan tersiksa sendiri di hatinya, karena orang yang percaya kepada Yesus akan diawasi terus oleh Roh Kudus sebagai pengganti, dan perbuatan busuknya akan mengganggu dirinya sendiri. Orang yang berkaok-kaok belum tentu menunjukkan bahwa dia orang percaya &&&lihatlah buah-buahnya apakah makin manis &&.... menurut Rasul Paulus......bukan Den Vincent lho.


Nah, sama dengan Bpk. Eddy, saya menulis ayat-ayat di atas bukan dengan pengetahuan yang mendalam dengan ilmu formal, namun hanya sebatas pengetahuan orang awam. Namun saya percaya, hanya dengan bimbingan Roh Kudus lah, saya dapat menemukan ayat-ayat di atas. Semoga Tuhan menerangi kita semua. Amin.
Sedikit bahasan dari saya atas ayat-ayat di atas (mudah-mudahan tidak salah), kalau salahpun mohon koreksi dari rekan-rekan semua.
1. Tertulis: MELAKUKAN, ini berarti mengadakan suatu perbuatan yang telah diperintahkanNya kepada kita. Apa perintah Tuhan Yesus kepada kita? Perintah kasih = Kasihlah Tuhan Allahmu (beriman / percaya) dan kepada sesamamu (perbuatan2 baik)
2. Tertulis: ORANG BENAR, bukan hanya percaya lho. Dalam pandangan saya, Benar = Percaya + Melaksanakan perintah2Nya.
Di ayat sebelumnya, jelas menggambarkan bahwa orang-orang yang tidak berbuat bukannya tidak percaya, oleh karena itu mereka berkata: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, .........
Hemat saya, percaya = beriman = mengasihi Tuhan adalah penting dan suatu keharusan, namun berbuat baik = mengasihi sesama adalah hal yang jauh-jauh lebih penting dalam pandangan Tuhan.
Demikian pandangan dari saya. Semoga Tuhan selalu menguatkan hati kita untuk selalu berusaha untuk mengasihi sesama dalam karyaNya. Amin.
Rgds,
-RT-


PERCAYA adalah syarat. Perbuatan menjadi AKIBAT, bukan syarat.
Yesus memberikan kesembuhan/keselamatan karna syaratnya PERCAYA, maka terjadilah kesembuhan dan keselamatan itu, tanpa menimbang-nimbang nanyain dulu, "hei siape elu, elu kan tentara suka bunuhin orang, dsb.dsb." Tapi karna Yesus melihat IMAN si tentara Kapernaum dan juga wanita Kanaan, TANPA SYARAT PERBUATAN INI ITU, maka terjadilah kesembuhan/keselamatan itu. SEDERHANA SEKALI, BUKAN? Haiyaaaaaa.........

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.