"Luther was Right," says Pope Benedict XVI; Salvation is by Faith Alone
Aimee Herd (February 6, 2009) 

"…said the Pope, it was indeed Biblical to say, as did Luther, that it was the faith of a Christian, not his works that saved him."
According to a recent Christian Today article, one of Pope Benedict XVI's latest weekly public addresses in St. Peter's Square may have been surprising to some as he quoted Martin Luther in declaring "Sola fide," that salvation is by faith alone.
Writes Jeff Fountain, in his report: "Disagreement over this doctrine had been at the heart of the Reformation in the 16th century, splitting Christianity in Western Europe . Yet, said the Pope, it was indeed Biblical to say, as did Luther, that it was the faith of a Christian, not his works that saved him."
By defining "faith" as "identification with Christ expressed in love for God and neighbor," Pope Benedict qualified his statement, noting that the Apostle Paul had written about such faith in his letters, especially the one to the Philippians.
According to Fountain, the Pope highlighted the fact that prior to his Damascus Road conversion, Paul had strictly adhered to all the Pharisaical laws and rules.
However, after meeting the Lord Jesus in his vision, Paul began leading a lifestyle of faith alone. Pope Benedict reportedly stated that Luther was correct in translating the Apostle Paul's words as "justified by faith alone" or "sola fide" in the Latin.

 

 

http://insightscoop.typepad.com/2004/2008/11/benedict-xvi-on-st-paul-and-justification.html 
Setelah cari-cari duduknya "pernyataan" Paus Benedict XVI, ternyata benar, beliau menguraikan mengenai Sola Fide. Jelasnya bisa dijumpai di alamat situs di atas ini. Meskipun beliau tidak mempertentangkan antara "keyakinan Protestan" dengan "keyakinan Katolik", menurut saya ini suatu pintu yang akan menjadi "diskusi" baik di kalangan Protestan maupun di kalangan Katolik sendiri.
Perjalanan masih panjang, soalnya masih banyak umat Katolik yang tertegun dengan pengertian yang "sederhana" dari ayat-ayat yang ditulis dalam Yakobus 2:24 "manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman". Ayat ini seharusnya diartikan lebih mendalam, yaitu iman harus disertai dengan perbuatan yang sesuai dengan isi iman itu. Misalnya Abraham, beriman bahwa perintah Allah untuk mengorbankan Iskak itu sungguh-sungguh, maka Abraham berangkat dengan tulus untuk berbuat sesuai dengan iman itu, bukan lantas berbuat bagi-bagi harta kepada orang miskin.
Jadi "perbuatan" dalam ayat Yakobus tidak bisa disederhanakan menjadi "segala perbuatan baik", tetapi terfokus kepada perbuatan sesuai dengan iman itu (tebusan keselamatan). Karena kita beriman bahwa Yesus sudah menyelamatkan kita, maka perbuatan kita harus mencerminkan bahwa kita hidup bersyukur gembira karena terbebas dari hukuman, kita bersaksi bahwa hidup kita lebih tenang karena diselamatkan. Tidak ada hubungannya harus derma kiri kanan, nyumbang gereja, menolong orang sakit, dll. dll. Perbuatan baik itu baik, tetapi tidak ada hubungan dengan Keselamatan oleh Iman. Perbuatan baik itu kewajiban moral bagi setiap manusia beradab yang perlu dilakukan oleh setiap manusia beragama apapun (bahkan oleh orang tidak beragama sekalipun).
Topik ini memang sulit, tapi ya begitulah Alkitab mengajarkan umat Kristen, bahwa ada kabar baik ketika Yesus dilahirkan, yaitu Dia datang menebus dosa-dosa kita. Maka kalau orang bilang semua agama itu sama-sama baik, pernyataan itu betul sebatas pengertian mengajarkan kewajiban berbuat baik dalam hubungan antar manusia. Tetapi kalau sudah masuk "kawasan" keselamatan jiwa dari dosa, maka hanya ada satu kabar baik, yaitu Yesus menebus dosa kita, tanpa kita harus membayar apa-apa. Agama lain selalu (semua sama) mengajar kita harus berbuat baik untuk bisa masuk Surga. Tanpa perbuatan baik, tidak bisa masuk Surga, kita harus membeli sendiri Surga dengan perbuatan baik. Itulah yang ditegaskan oleh Paulus, bahwa bukan perbuatan baik yang menyelamatkan kita, tetapi iman bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib menebus dosa kita. Penegasan Paus membedakan antara "dibenarkan oleh hukum acara" dan "dibenarkan oleh iman penebusan". Kita selamat bukan karena "dibenarkan oleh perbuatan sesuai hukum acara manusia", tetapi kita selamat karena "dibenarkan oleh Iman" dan tidak ada hubungan dengan perbuatan-perbuatan sesuai yang diharapkan oleh tata hukum dan etika manusia.
Penegasan terakhir ini yang dibenarkan dalam "kursus" oleh Paus Benedict XVI sebagai "terjemahan Luther terhadap tulisan Paulus", di Lapangan St. Peter 19 Nopember 2008.

 

Saya benar-benar berpikir, mengapa topik ini jadi muncul lagi (meskipun saya baru tahu adanya pidato Paus 19 Nopember 2008 ini), kemudian saya merasa inilah saat yang baik mangajak rekan-rekan memahami bahwa amanat Paus ini ingin memperjelas yang selama ini kabur, yaitu justifikasi karena iman atau justifikasi karena perbuatan (iman tanpa perbuatan, apa artinya). Jadi, saya sangat terdorong untuk ikut memahami bukan tentang Martin Luther benar, tetapi memahami bahwa Iman adalah Anugerah (gift), dan hanya dengan Iman kepada Tuhan Yesus kita diselamatkan dan bukan karena perbuatan-perbuatan. Dengan memahaminya, maka tidak perlu lagi orang yang percaya kepada Yesus tetap ketakutan terhadap neraka, tidak perlu konsentrasi kepada bagaimana berbuat agar tidak masuk neraka, tetapi mengubah sikap (attitude) menjadi konsentrasi bagaimana berbuat sesuai dengan iman kita bahwa kita sudah menyatu dalam Yesus Kristus, agar perbuatan itu menjadi saksi bahwa pengikut Yesus itu penuh kasih dan mengasihi. Jadi kita berbuat tidak untuk membeli karcis ke Surga, karena Surga sudah dijamin oleh Iman kita. Jadi kita berbuat untuk menjadi saksi membuktikan bahwa Iman keselamatan ada di dalam diri kita, kita hidup bersyukur, hidup penuh kasih dan mengasihi. Inilah menurut saya sebetulnya makna kotbah Paus, bukan soal pengakuan Paus yang seolah membenarkan Luther si “penyebab perpecahan”. Sebetulnya Paus tidak perlu menyebut Luther, tetapi mungkin “terpaksa” agar tidak belok ke luar dari intinya. Kalau Paus tidak menyebut, maka umat akan bilang, apa Paus tidak sadar bahwa Paus telah ikut pendapat Luther. Maka diskusinya menjadi berbelok soal apakah Paus keblinger atau tidak. Dengan jelas-jelas menyebut Luther, maka kita harus sadar bahwa Paus sadar bahwa apa yang dikemukakan itu “kebetulan” sama dengan pendapat Luther, dalam kasus tidak mempertentangkan antara Iman dan perbuatan kasih dan kedermawaan, tetapi dalam kasus mempertentangkan antara Iman kepada Yesus dengan perbuatan mengikuti “a social, cultural and religious identity”. Di mata Tuhan, manusia tidak bisa dibenarkan karena perbuatan sesuai dengan hukum-hukum sosial, budaya, dan identitas agama. Di mata Tuhan, manusia hanya dibenarkan karena Iman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan bukan karena perbuatan apapun. Menurut saya, arti berikutnya: Perbuatan kasih dan mengasihi adalah buah dan bukti iman, dan tidak menjadi penyebab kita dibenarkan di mata Tuhan tetapi menjadi saksi kepada orang lain sehingga menjadikan orang lain percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. (Saya tidak cenderung mau keminter dan menambah dengan ayat-ayat atau penjelasan soal justifikasi dari ceramah orang lain atau situs-situs lain, melainkan memahami sekali lagi memahami apa yang diamanatkan Paus Benedict XVI dalam kotbahnya itu, tidak ke mana-mana). 
Untuk memperjelas apa yang disampaikan oleh Paus Benedict XVI, maka dikutipkan di bawah ini kotbah lengkap dengan menekankan (ukuran diperbesar) intinya. Kalau mau singkat membaca intinya dulu (huruf-huruf besar), lebih afdol kalau ada kesempatan baca seluruhnya.
Mudah-mudahan bisa membantu, sehingga diskusi tidak bikin pusing (bisa emosi) berbelok ke urusan “Luther”.

 

Kutipan terjemahan dari Zenit: http://www.zenit.org/article-24302?l=english
 
On St. Paul and Justification
 
"To Be Just Means Simply to Be With Christ and in Christ"
 
VATICAN CITY, NOV. 19, 2008 (Zenit.org).- Here is a translation of the address Benedict XVI delivered during today's general audience in St. Peter's Square.

The Holy Father continued today the cycle of catecheses dedicated to the figure and thought of St. Paul.

* * *
Dear Brothers and Sisters,
On the journey we have undertaken under the guidance of St. Paul,
we now wish to reflect on a topic that is at the center of the controversies of the century of the Reformation: the issue of justification. How is a man just in the eyes of God? When Paul met the Risen One on the road to Damascus he was a fulfilled man: irreproachable in regard to justice derived from the law (cf. Philippians 3:6); he surpassed many of his contemporaries in the observance of the Mosaic prescriptions and was zealous in upholding the traditions of his forefathers (cf. Galatians 1:14).

The illumination of Damascus changed his life radically: He began to regard all his merits, achievements of a most honest religious career, as "loss" in face of the sublimity of knowledge of Jesus Christ (cf. Philippians 3:8).
The Letter to the Philippians gives us a moving testimony of Paul's turning from a justice based on the law and achieved by observance of the prescribed works, to a justice based on faith in Christ: He understood all that up to now had seemed a gain to him was in fact a loss before God, and because of this decided to dedicate his whole life to Jesus Christ (cf. Philippians 3:7). The treasure hidden in the field, and the precious pearl in whose possession he invests everything, were no longer the works of the law, but Jesus Christ, his Lord.
The relationship between Paul and the Risen One is so profound that it impels him to affirm that Christ was not only his life, but his living, to the point that to be able to reach him, even death was a gain (cf. Philippians 1:21). It was not because he did not appreciate life, but because he understood that for him, living no longer had another objective; therefore, he no longer had a desire other than to reach Christ, as in an athletic competition, to be with him always. The Risen One had become the beginning and end of his existence, the reason and goal of his running. Only concern for the growth in faith of those he had evangelized and solicitude for all the Churches he had founded (cf. 2 Corinthians 11:28), induced him to slow down the run toward his only Lord, to wait for his disciples, so that they would be able to run to the goal with him. If in the previous observance of the law he had nothing to reproach himself from the point of view of moral integrity, once overtaken by Christ he preferred not to judge himself (cf. 1 Corinthians 4:3-4), but limited himself to run to conquer the one who had conquered him (cf. Philippians 3:12).
It is precisely because of
this personal experience of the relationship with Jesus that Paul places at the center of his Gospel an irreducible opposition between two alternative paths to justice: one based on the works of the law, the other founded on the grace of faith in Christ. The alternative between justice through the works of the law and justice through faith in Christ thus becomes one of the dominant themes that runs through his letters: "We ourselves, who are Jews by birth and not Gentile sinners, yet who know that a man is not justified by works of the law but through faith in Jesus Christ, even we have believed in Jesus Christ, in order to be justified by faith in Christ, and not by works of the law, because by works of the law shall no one be justified" (Galatians 2:15-16).

And, he reaffirms to the Christians of Rome that "all have sinned and fall short of the glory of God, they are justified by his grace as a gift, through the redemption which is in Christ Jesus" (Romans 3:23-24). And he adds: "For we hold that a man is justified by faith apart from works of law" (Ibid. 28). Luther translated this point as "justified by faith alone." I will return to this at the end of the catechesis.

First,
we must clarify what is the "law" from which we have been freed and what are those "works of the law" that do not justify. Already in the community of Corinth there was the opinion, which will return many times in history, which consisted in thinking that it was a question of the moral law, and that Christian freedom consisted therefore in being free from ethics. So, the words "panta mou estin" (everything is licit for me) circulated in Corinth. It is obvious that this interpretation is erroneous: Christian liberty is not libertinism; the freedom of which St. Paul speaks is not freedom from doing good.
Therefore, what is the meaning of the law from which we have been freed and that does not save? For St. Paul, as well as for all his contemporaries,
the word law meant the Torah in its totality, namely, the five books of Moses. In the Pharisaic interpretation, the Torah implied what Paul had studied and made his own, a collection of behaviors extending from an ethical foundation to the ritual and cultural observances that substantially determined the identity of the just man -- particularly circumcision, the observance regarding pure food and general ritual purity, the rules regarding observance of the Sabbath, etc. These behaviors often appear in the debates between Jesus and his contemporaries. All these observances that express a social, cultural and religious identity had come to be singularly important at the time of Hellenistic culture, beginning in the 3rd century B.C.

This culture, which had become the universal culture of the time, was a seemingly rational culture, an apparently tolerant polytheist culture, which constituted a strong pressure toward cultural uniformity and thus threatened the identity of Israel, which was politically obliged to enter into this common identity of Hellenistic culture with the consequent loss of its own identity, loss hence also of the precious inheritance of the faith of their Fathers, of faith in the one God and in God's promises.
Against this cultural pressure, which not only threatened Jewish identity but also faith in the one God and his promises, it was necessary to create a wall of distinction, a defense shield that would protect the precious inheritance of the faith; this wall would consist precisely of the Jewish observances and prescriptions. Paul, who had learned these observances precisely in their defensive function of the gift of God, of the inheritance of the faith in only one God, saw this identity threatened by the freedom of Christians: That is why he persecuted them. At the moment of his encounter with the Risen One he understood that with Christ's resurrection the situation had changed radically. With Christ, the God of Israel, the only true God became the God of all peoples.

The wall -- so says the Letter to the Ephesians -- between Israel and the pagans was no longer necessary: It is Christ who protects us against polytheism and all its deviations;
it is Christ who unites us with and in the one God; it is Christ who guarantees our true identity in the diversity of cultures; and it is he who makes us just. To be just means simply to be with Christ and in Christ. And this suffices. Other observances are no longer necessary.

That is why Luther's expression "sola fide" is true if faith is not opposed to charity, to love. Faith is to look at Christ, to entrust oneself to Christ, to be united to Christ, to be conformed to Christ, to his life. And the form, the life of Christ, is love; hence, to believe is to be conformed to Christ and to enter into his love. That is why, in the Letter to the Galatians, St. Paul develops above all his doctrine on justification; he speaks of faith that operates through charity (cf. Galatians 5:14).
Paul knows that in the double love of God and neighbor the whole law is fulfilled. Thus the whole law is observed in communion with Christ, in faith that creates charity. We are just when we enter into communion with Christ, who is love. We will see the same in next Sunday's Gospel for the solemnity of Christ the King. It is the Gospel of the judge whose sole criterion is love. What I ask is only this: Did you visit me when I was sick? When I was in prison? Did you feed me when I was hungry, clothe me when I was naked? So justice is decided in charity. Thus, at the end of this Gospel, we can say: love alone, charity alone. However, there is no contradiction between this Gospel and St. Paul. It is the same vision, the one according to which communion with Christ, faith in Christ, creates charity. And charity is the realization of communion with Christ. Thus, being united to him we are just, and in no other way.
At the end, we can only pray to the Lord so that he will help us to believe. To really believe; belief thus becomes life, unity with Christ, the transformation of our life. And thus, transformed by his love, by love of God and neighbor, we can really be just in the eyes of God.
[Translation by ZENIT]

[At the end of the Audience, Benedict XVI greeted pilgrims in several languages. In English, he said:]
Dear Brothers and Sisters,

In our continuing catechesis on St. Paul, we now consider his teaching on our justification. Paul’s experience of the Risen Lord on the road to Damascus led him to see that it is only by faith in Christ, and not by any merit of our own, that we are made righteous before God. Our justification in Christ is thus God’s gracious gift, revealed in the mystery of the Cross. Christ died in order to become our wisdom, righteousness, sanctification and redemption (cf. 1 Cor 1:30), and we in turn, justified by faith, have become in him the very righteousness of God (cf. 2 Cor 5:21). In the light of the Cross and its gifts of reconciliation and new life in the Spirit, Paul rejected a righteousness based on the Law and its works.

For the Apostle, the Mosaic Law, as an irrevocable gift of God to Israel, is not abrogated but relativized, since it is only by faith in God’s promises to Abraham, now fulfilled in Christ, that we receive the grace of justification and new life. The Law finds its end in Christ (cf. Rom 10:4) and its fulfilment in the new commandment of love. With Paul, then, let us make the Cross of Christ our only boast (cf. Gal 6:14), and give thanks for the grace which has made us members of Christ’s Body, which is the Church.

I am pleased to greet the participants in the international Catholic Scouting Conference meeting in Rome. Upon all the English-speaking pilgrims and visitors present at today’s Audience, especially those from England, Ireland, Denmark, Norway, Finland, South Africa and the United States, I cordially invoke God’s blessings of joy and peace.
© Copyright 2008 -- Libreria Editrice Vaticana

 

 

Ngikutin komentar-komentar, memang saya rasa ada pembelokan dari sambutan Paus Benediktus XVI yang berbicara masalah "justificatio" ke Luther. Itu saya kira logis, sebab ada yang memberi judul "Luther was Right" kata Paus. Memang itu ada, tapi salah kalau dijadikan "judul" - sensasi ni ye! Sedang dalam tulisan Zenit, 19 Nopember 2008 tidak ada judul itu. Memang ada kalimat yang mempunyai makna demikian! Nah itu biang keroknya!! Betul kalau lalu Den Vincent memberikan seluruh ucapan Paus apa adanya, setelah pembahasannya.
Kita tahu, apa yang dimaksud dengan "perbuatan" pandangan Paulus, yang lebih-lebih tentang hukum Perjanjian Lama (Musa) dan istilah "perbuatan" pandangan Luther, yang lebih ditujukan kepada devosi-devosi yang dilakukan umat Katolik zamannya Luther. Lalu juga kata "perbuatan" dari pandangan Yakobus seperti terdapat dalam surat, yang menjadi pegangan ajaran Katolik, "Iman yang hidup adalah iman dengan perbuatan". Istilah anda adalah "perbuatan kasih yang nyata"!!! Konon, pernah surat Yakobus itu dipermasalahkan di kalangan yang "sola fide", untung akhirnya mereka bijak, tetap memasukkannya ke dalam kanon Perjanjian Baru!
TQ Den Vincent, "you are right", dan yang memberi judul mengatakan ucapan Paus bahwa "Luther was right" yang membelokkan ucapan Paus, "is wrong"!


Tuhan menyatukan,
Subroto Widjojo, SJ

 

 

www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/audiences/2008/documents/hf_ben-xvi_aud_20081126_en.html

 

Ternyata Paus Benedictus XVI melanjutkan "ceramah"nya pada audiensi minggu berikutnya (26 Nopember 2008). Rupanya memang ceramah 19 Nopember 2008 yang menyebut Luther bikin heboh intern Vatican, sehingga Paus perlu memberi penjelasan lanjutan, bahkan Paus berusaha menjembatani "ajaran Paulus dengan ajaran Jakobus".
Rupanya untuk menetralisir "protes umat", Paus memberi pernyataan tegas "Or to use different words faith, if it is true, if it is real, becomes love, becomes charity, is expressed in charity. A faith without charity, without this fruit, would not be true faith. It would be a dead faith."
Ini pernyataan paling "keras" dalam ceramahnya. Tinggal interpretasi dari sudut mana dilihatnya. Apakah "perbuatan sebagai bukti dari iman" atau "perbuatan sebagai akibat dari iman". Konsekuensinya sangat berbeda. Kalau perbuatan sebagai bukti iman, maka orang yang tidak melakukan perbuatan bisa difonis tidak beriman. Kalau perbuatan sebagai akibat dari iman, maka pengaruh iman berupa proses yang memperbaiki perbuatan. Pandangan pertama menuntut orang berbuat baik (sesuai standar/referensi sang penuntut) barulah bisa disebut beriman, sehingga orang terpaksa mementingkan perbuatan jasmaniah untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya beriman.
Pandangan kedua, apabila perbuatan dianggap sebagai akibat iman, maka tidak ada yang bisa menyatakan orang lain tak beriman karena perbuatan membaik merupakan proses iman. Orang tidak perlu membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya beriman, tetapi iman itu yang akan mengubah perbuatannya sesuai dengan ketebalan imannya. Perbuatan tidak bisa dijadikan bukti tetapi sekedar indikasi. Iman sendiri merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan, karena Iman itulah yang menyelamatkan dan perbuatan sebagai akibat yang terlihat.
Maka (menurut saya) di sinilah beda pandangannya: Iman yang harus dibuktikan dengan perbuatan, membikin orang tidak bisa yakin bahwa dirinya telah diselamatkan oleh pengorbanan Yesus di kayu salib, sehingga masih dibayangi ketakutan akan masuk neraka. Sebaliknya kalau Iman(lah) yang akan mengubah perbuatan, maka orang yang merasa beriman bahwa dirinya telah ditebus oleh Tuhan Yesus di kayu salib, dia bisa yakin bahwa dia akan masuk Surga karena Imannya akan memproses memperbaiki perbuatannya. Kemajuan perbaikan berbuat membuktikan imannya dan tidak perlu khawatir masuk neraka.
Pandangan pertama sangat mudah disalah-gunakan oleh "pemimpinnya" dengan membuat aturan yang menguntungkan "penguasa" (terutama keuntungan materi dan kekuasaan) dengan menakut-nakuti akan masuk neraka bila tidak nurut.
Seharusnya aturan-aturan agama sangat perlu untuk ketertiban dan memudahkan manusia berbakti kepada Tuhan, asalkan tidak dibarengi dengan "sanksi-sanksi keselamatan" kalau tidak/belum menjalankannya, karena manusia mempunya "freewill" sehingga perubahan akibat iman melalui proses dan tidak selalu dadakan.
Pandangan kedua adalah murni, keselamatan adalah akibat hubungan antara manusia dengan Tuhan tidak ada hubungan dengan perbuatan.Pandangan kedua sangat mudah disalah gunakan oleh "orang awam" yang mengaku-ngaku ber-iman tetapi boleh berbuat semaunya (kesalahannya adalah anggapan bahwa beriman tidak perlu berbuat. Seharusnya tetap harus berbuat untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia sudah beriman dan iman mengubah/mengalahkan dirinya yang semau gue).
Penjelasan Paus dalam ceramah 26 Nopember 2008, kelihatannya merupakan jalan tengah. Keinginan Paus untuk "meluruskan" ke pandangan kedua dengan masih membuka pandangan pertama bukan pandangan yang salah. Kalau saya baca (mungkin karena saya penganut pendangan kedua), Paus berusaha mulai membangkitkan/menekankan bahwa ajaran Paulus adalah Iman saja yang menyelamatkan dan iman yang mengubah/memperbaiki perbuatan, dan bukan perbuatanlah yang menyelamatkan. Meskipun tidaklah salah bahwa perbuatan merupakan kesatuan dengan Iman karena tanpa perbuatan tidak (bisa dibuktikan) ada Iman.
Perjalanan kontroversi berabad-abad, tidak heran kalau masih akan berlanjut........... tetap ada dua pandangan, apalagi kalau ditanya "siapa yang akan diuntungkan?" ........(pasti keduanya ada bahayanya masing-masing).

 

 

Tulisan ini memang doktrin yang sudah berjalan ratusan tahun, makanya kalau Paus menyatakan (secara khusus eksklusif) mengenai ajaran Paulus dan menyebut "kesamaan pendapat" Paus dengan Luther, saya membacanya bahwa Paus ingin perlahan-lahan tidak mempertentangkan masalah ini lagi. Ajaran Luther (Sola Fide) is OK. Katolik is OK. Katolik adalah OK plus perbuatan. Tetapi tidak dibalik bahwa Sola Fide adalah OK minus perbuatan = tidak OK. Jadi dua-duanya OK kalau dijalankan dan di-imani, dua-duanya OK. Tegasnya (menurut saya mengapa Paus kotbah), iman saja cukup untuk keselamatan (Sola Fide), lebih bagus lagi kalau dibuktikan dengan perbuatan. Hal ini "melunakkan" ajaran bahwa Iman HARUS disertai perbuatan, tanpa perbuatan manusia yang beriman saja, akan tetap masuk neraka kalau tanpa perbuatan. Menurut saya, Paus hendak menghilangkan pertentangan ini, namun umat belum siap karena sudah ratusan tahun doktrinnya begitu, dan lebih mudah memang untuk diajarkan dan lebih mudah pula pemimpin agama menakut-nakuti dengan neraka kalau perbuatannya tidak mengikuti "perintah" si pemimpin (perintah sesuai doktrin maupun perintah pribadi yang numpang dalam ajaran).

Lho sebetulnya di kalangan Protestan juga banyak yang di bibir ikut Sola Fide, tapi dalam prakteknya di kotbah maupun hubungan pemimpin dan umat, sebetulnya berpaham bukan Sola Fide tapi 'Fide plus'. Kalau tidak bayar perpuluhan berarti mencuri uang Tuhan, karenanya berdosa, dosa upahnya adalah maut, maut artinya neraka ......... Ajaran beginian nyata buaaanyuaaak sekali di kalangan non Katolik, yang nyata-nyata bertentangan dengan Sola Fide. Jadi sebetulnya ajaran Sola Fide itu tidak gampang. Cuma bedanya Katolik secara resmi tidak mengakuinya, sedangkan Protestan sebagian besar menganut Sola Fide tetapi dalam kesehariannya juga tidak konsisten. Dengan Sola Fide, hamba-hamba Tuhan (=pendeta) menjadi bukan apa-apa dan sama sekali tidak punya "kedudukan" kecuali sebagai pesuruh Tuhan. Kalau paham Iman+perbuatan, Pendeta bukan hanya hamba Tuhan tetapi juga pembina umat untuk memimpin perbuatan yang baik serta punya kewenangan menyatakan mana baik dan mana tidak baik, sehingga menjadi orang terhormat ..........

Nah kalau saya, sejak lama sudah tidak "memusuhi" Fide plus perbuatan, cuma kasian kok namanya percaya kepada Yesus yang telah berkurban buat kita, masih harus takut neraka karena perbuatan yang dikatakan dosa itu, sedangkan perbuatan yang dikatakan dosa itu banyak yang tak tahu batasnya; katanya orang beriman, tetapi tiap hari masih takut neraka.

Untuk menetapkan mana dosa dan mana bukan dosa, susahnya bukan main. Tanyakan, menempeleng orang dosa apa tidak? Memaki-maki dengan kata-kata kotor, dosa apa tidak? Bikin sait hati orang, dosa apa tidak? Upah dosa itu maut, tidak pakai kelas dosa kecil apa dosa besar. Jadi orang yang suka marah, nasibnya ya neraka, kalau kata-kata menyakiti hati orang itu dosa. Bimbang kepada Tuhan itu dosa apa tidak, meragukan Tuhan itu dosa apa tidak? Kalau diurut sulit sekali menentukan mana dosa mana tidak (termasuk tidak percaya omongan Pastur itu dosa apa tidak, meragukan kotbah Paus dosa apa tidak?) Kalau saya ikut paham Sola Fide justru karena ingat Kotbah Tuhan Yesus, "lebih mudah anak-anak melihat Kerajaan Surga". Ajaran Tuhan tulus dan sederhana "Barangsiapa percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Johanes 3:16)". Karena sulit dipercaya kalau tidak pakai "hati anak-anak" yang berpikir sederhana.

Saya cuma melihat bahwa Paus Benedict XVI ingin mulai meluruskan, cuma umat belum siap, perlu satu dua generasi untuk menyadarinya. Pasti di kalangan Katolik sekarang sudah mulai ada individu dan kelompok yang menangkap "hasrat" Paus Benedictus XVI, untuk menyebar dalam tubuh umat perlu puluhan tahun. Saya percaya itu, karena secara logika orang dewasa, Yesus itu cuma salah satu Guru Agama kalau iman harus disertai perbuatan, karena SEMUA agama mengajarkan hal itu. Tidak perduli Tuhan itu Esa atau tidak, semua agama mengajarkan hal yang sama, Surga upah perbuatan baik, neraka upah perbuatan dosa. Cuma bentuk Surga dan nerakanya berbeda, gurunya berbeda, caranya berbeda. Lantas mana Berita Kesukaan bahwa Sang Penebus telah lahir, kalau kita harus menebus sendiri dengan perbuatan kita? Semua agama juga mengajarkan, kalau kita mau masuk Surga, ya harus menebus dengan perbuatan baik. Jadi saya tidak mengerti apa gunanya pengurbanan Yesus, jika saya percaya kepadaNya juga tidak mendapat keselamatan. Orang percaya Buddha, memang tidak mendapat keselamatan kalau tidak berbuat, apalagi orang percaya Muhammad yang menurut kaum fundamentalis harus dengan pedang baru bisa dapat surga ...........membunuhi orang yang menolak Islam.

Saya bisa mengerti membaca artikel itu, cuma saya baru tahu kalau orang Evangelis tidak memasukkan Kitab Yakobus dalam doktrin karena dianggap buku tambahan. Menurut saya hal itu tidak benar, karena Evangelis juga percaya semua buku yang ada dalam Alkitab termasuk Yakobus. Cuma interpretasi/pengertiannya lain. Juga tentang Perjanjian Lama, kalau orang Protestan dan Katolik juga percaya semua yang tertulis di dalam Perjanjian Lama masih tetap berlaku, mengapa kita tidak memelihara Hari Sabat? Kalau dibilang ajaran Tuhan Yesus menghilangkan Sabat, lha bertentangan dong ajaran Yesus dengan Perjanjian Lama (yang Alkitab juga). Jadi jangan gampang mengatakan bahwa Evangelis tidak memperhatikan Perjanjian Lama, hal semacam itu yang membodohi umat Katolik sendiri dengan mencekoki anggapan yang salah bahwa Evangelis menganggap Yakobus buku tambahan dan tidak memperhatikan Perjanjian Lama. Alasan begini yang saya sering tidak suka, bukan menggunakan argumen Alkitab tetapi meracuni dengan "asumsi" yang umat dengan gampang percaya karena ditulis oleh pemimpin agamanya. Saya sih juga tidak suka kalau di Protestan pakai ajaran alasan begitu (kalau alasannya perbedaan terjemahan dari bahasa asli, masih bisa saya mengerti. Lha wong kata yang sama dalam bahasa yang sama di zaman yang lain, artinya bisa lain. Contohnya kalau kita baca: Si anu diamankan polisi, zaman Bung Karno dengan zaman pak Harto artinya telah berubah).

Maka saya terus belajar dari kotbah-kotbah baru, baik Katolik maupun Protestan, yang berdasarkan ajaran Alkitab. Saya mendalami ajaran-ajaran itu dengan cara mengikuti tafsirannya oleh tokoh-tokoh itu. Bapak-bapak gereja kita bisa salah, terbukti sudah berapa puluh bahkan ribuan manusia dibakar hidup-hidup hanya karena berbeda paham dengan gereja zaman dulu, termasuk Galilei Galileo yang ternyata dia dihukum mati oleh penguasa gereja karena menyatakan kebenaran yang pada waktu itu gereja belum tahu kenyataan kebenaran itu.

Kalau kita mau hidup lebih tenteram dan sejahtera tidak takut neraka, ya "berusaha" mengerti makna penebusan Jesus di kayu salib. Tapi kalau kita tidak merasa "tertekan khawatir neraka", ya ikut saja ajaran 'Iman plus perbuatan'. Beda prakteknya "hanya" di ketenteraman hidup spiritual. Saya yakin, orang beriman yang memahami Sola Fide, tidak takut/ khawatir mati (meskipun kadang-kadang bimbang), lha kalau bimbang ya khawatirnya timbul. Kalau tidak bimbang, ya hidup damai sejahtera.

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.