Saya selalu mengikuti ulasan bapak di mailing list 'tulang-rusuk' ini.
Mengenai Israel, apakah berarti Bapak 'membela dan membenarkan' bangsa Israel yang menindas bangsa Palestina? Apakah pembantaian anak-anak dan wanita Palestina, bapak samakan dengan bangsa Amalek yang akan dihapuskan dari muka bumi ini?
Pertanyaan kedua, sepertinya bapak paham sekali firman-firman Tuhan dalam Kitab Suci.
Saya sebagai orang awam kadang mengintepretasikan Kejadian Lama dgn Kejadian Baru ada bbrp hal yang bertentangan. Semisal di Perjanjian Lama, tersirat perang dan pembunuhan dibenarkan untuk orang/bangsa pilihan ALLAH (pribadi pertama). Padahal di Perjanjian Baru, YESUS KRISTUS (pribadi kedua) sendiri yang selalu menanamkan cinta kasih, perdamaian dan mencintai sesama. Demikian juga di Galatia 5 tentang buah ROH KUDUS (pribadi ketiga): Buah Roh adalah Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kelembutan, Kebaikan, Penguasaan Diri, juga menentang pembunuhan dan kekerasan.
Bisakah bapak memberikan sedikit pencerahan tentang hal ini?

 

 

"Soal Israel lawan Palestina" ini memang ruwet bundet, dan rasanya seperti sudah di"takdirkan" jalannya begitu sesuai rencanaNya.
Kalau menengok sejarahnya secara singkat begini:

Abraham dipanggil Tuhan dari Haran (Padang Haran) ke Kanaan, bablas ke Mesir, balik ke Kanaan (pisah dari Lot), lalu mempunyai anak Ismail dari pembantunya Hagar, kemudian sesuai rencana dan janji Allah kepada Abraham dan Sarah, mereka punya anak Ishak. Kedua anak itu dijanjikan Tuhan akan turun temurun seperti bintang di langit jumlahnya. Ringkas kata Ismail turun menurun menjadi nenek moyang di kawasan negara-negara Arab, sedangkan Ishak beranak Yakub, dan Yakub beranak 12 yang menjadi 12 suku bangsa Israel (nama Yakub diganti Israel). Sebelum menetap menjadi suku bangsa Israel di Kanaan, masa Yakub ada kelaparan di Kanaan sehingga seluruh keluarga Yakub hijrah ke Mesir (Yusuf duluan ke Mesir karena dijual oleh kakak-kakaknya), dan di sana bani Israel menjadi "bawahan" orang Mesir sampai Musa diperintahkan eksodus ke luar dari Mesir kembali ke Kanaan, setelah Musa meninggal di depan Kanaan diganti Harun, maka bangsa Israel kembali dan menetap di Kanaan sebagai 12 suku bangsa.

Bangsa Israel hidup langsung di bawah "kontak dan pengawasan Allah" melalui Hakim-hakim/Nabi-nabi. Lantas mulailah ditunjuk raja pertama Saul, diteruskan oleh Daud, diteruskan oleh Salomo. Sepeninggalnya Salomo, kerajaan terbelah dua menjadi Israel dan Yehuda. Israel dikalahkan oleh Asiria, Yahuda dikalahkan oleh Babilonia. Semua diboyong menjadi budak ke negara penakluk. Baru setelah Babilonia dikalahkan oleh Persia, raja Persia membebaskan bangsa Yahudi (ex Yehuda) kembali ke Kanaan/Jerusalem untuk membangun kembali. Kemudian seluruh daerah Kanaan dan sekelilingnya ditaklukkan oleh Aleksander Agung dari Yunani, Yahudi dijajah lagi, Yunani dikalahkan oleh Kerajaan Romawi, sampai Tuhan Yesus lahir. Lha karena berontak, maka bangsa Yahudi ditindas oleh Kerajaan Romawi, tahun 0070 Jerusalem diratatanahkan termasuk Bait Allah (2nd Temple), orang Yahudi dibubarkan disebar-sebar ke berbagai negara di Eropa, Asia, dan Afrika.

Mulailah masuk bangsa-bangsa lain ke tanah Kanaan. Namun demikian sedikit demi sedikit selama 1500 tahun secara kelompok ada yang kembali ke Kanaan dengan membeli tanah dari penduduk yang menduduki. Makin banyak, dan didukung oleh gerakan Internasional yang dikenal dengan gerakan Zionis (bertekad kembali ke Zion, sebuat bukit di Jerusalem). Akhirnya tahun 1948 PBB memutuskan berdirinya negara Israel di sebagian tanah Kanaan. Berbondong-bondong dari segala penjuru dunia kembali dan siap kembali ke Kanaan. Ketika diproklamirkan berdirinya negara Israel (kembali), tetangga-tetangganya tidak setuju dan menyerang negara baru Israel untuk dibuang ke laut. Ternyata dalam perang itu secara ajaib satu negara baru lahir menang terhadap 7 bangsa sekeliling yang menyerangnya, sehingga negara Israel tetap berdiri dengan batas Jeruselem masih terbelah dua. Tahun 1967, tetangganya masih dendam dan jahil menyerang Israel lagi, ternyata lagi-lagi Israel menang bahkan menguasai seluruh Kanaan plus, dan Jerusalem kembali bersatu di tangan Israel. Karena menang inilah maka sebagian tanah yang dinyatakan bagian dari bangsa Palestina ikut kena tilep oleh Israel. Terpaksa orang-orang Palestina mengungsi ke negara-negara tetangga. Karena yang ketiban pengungsi merasa terganggu, maka diperjuangkanlah untuk kembali ke tanah yang dulunya bagian mereka, Israel terlanjur sudah merasa menang perang, berarti Tuhan kasih kembali tanah Kanaan yang dulu kepunyaannya tapi ditinggalkan karena kalah perang. Lha sekarang dapat kembali karena menang perang kok disalahkan, Isreal tidak mau dong. Kompromi, sebagian tanah dikembalikan kepada orang Palestina (Hebron, Gaza, dll.), tapi Jerusalem? Israel bersumpah sekali Jerusalem bersatu, tak akan terpisah lagi, dari dulu Jerusalem ibukota Israel/Yehuda, dan belum pernah jadi ibukota bangsa manapun. Palestina ngotot mau Jerusalem jadi Ibukota Palestina, dan mengajak konco-konconya untuk menendang Israel seluruhnya ke laut lagi. Kemudian Palestina terbelah, ada yang mau hidup berdampingan dengan Israel, tetapi ada sebagian (Hamas/Gaza) yang tetap ngotot Israel harus dibuang ke laut. Tiap kali kirim rudal ke Israel dari Gaza, Israel membalas dengan menutup perbatasan dan juga membalas mengebom darimana rudal dikirim. Kirim rudalnya dari daerah yang ada penduduknya, lha bagaimana ini ......... kalau kirim rudalnya dari daerah yang padat penduduk. Kalau dibalas, yang salah yang kirim rudal atau yang membalas? Alasannya di sana "perjuangan", alasannya di situ "membalas", lantas yang benar yang mana? Yang situ apa yang sana?

Yang kirim rudal bilang, ini perjuangan untuk kemerdekaan dan agar perbatasan tidak ditutup, yang membalas bilang, ini perlu ditutup, kalau dibuka lebih banyak rudal yang masuk dan dikirim. Lantas ada juru damai bilang pokoknya damai dulu, semua dibuka, dan semua tidak boleh menembak, perbatasan yang dibuka harus diawasi tidak ada penyelundupan senjata. Yang satu bilang tak mau, karena perjuangan belum selesai, kalau Israel masih di situ perjuangan dan kirim rudal harus terus, sebaliknya yang satu juga bilang kalau tak ada yang menjamin tidak ada rudal lagi, maka setiap rudah dibalas darimana rudal berasal, ada penduduk apa tidak yang menentukan yang kirim rudal. Horotoyoh gimana, ruwet betul kan? Sepertinya memang dari ononya harus begini ....................tanpa semua pihak mau hidup damai, ya tak bisa damai toh! Israel mau damai, asalkan Jerusalem tidak dibelah lagi, urusan lainnya bisa berunding. Palestina ngotot, Jerusalem harus jadi Ibukotanya dan sebagian masih saja bilang sampai kapanpun saja tetap sah mengebom Israel sampai Israel musnah. Makanya saya simpati sama Israel karena dia mau damai kok, yang nggak mau itu lawannya dan lawannya pakai tameng penduduk, bisa apa ya? Yang tidak berperikemanusiaan itu yang mana? Menurut saya, Israel mengamuk karena diprovokasi dipancing-pancing supaya marah. Yang salah yang marah atau yang memancing-mancing dengan sengaja?

Maka itu, saya nggak mau ikutan jadi hakim, cuma ikut kasihan. Kok yang dipancing-pancing (diprovokasi) dengan sengaja secara terus menerus, disuruh sabar terus. Ketika mengamuk, ramai-ramai disalahkan, kasihan betul tuh si Israel ...........dituduh membantai. Lha sudah tahu, kalau kirim rudal terus-terusan akan dibalas terus-terusan, malah pasang rudalnya di tempat padat penduduk. Jelas sudah tahu tapi sengaja pasang badan agar kena bantai dengan alasan perjuangan menendang Israel ke laut, bisa diselesaikan bagaimana ya? Kalau ada yang sengaja menyebrang rel kereta api waktu kereta jalan, yang salah masinis apa yang salah yang sadar memang pasang badan menyebrang? Kalau tahu ada rudal berangkat, dan balasan mesti datang, tapi tetap pasang badan sebagai perjuangan, bagaimana? Haiyaaa.....

Jadi kalau anda tanya mengapa saya simpatik, ya seperti itu, simpatik kalau masinis kereta api disalahkan karena menabrak orang yang sengaja menyebrang mau menabrak kereta api, dikatakan masinisnya membantai.......orang jalan kaki. Kasihan betul tuh masinis ...........

Lainnya, saya setuju bahwa Perjanjian Baru telah mengubah kutuk menjadi anugerah.

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.