SATU BAPTISAN
"Hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu baptisan"
(Efesus 4:5 BIS)

 


Seperti yang bisa kita dengar dan saksikan, begitu banyak aliran dengan begitu banyak aturan bagi kita yang ingin menjadi murid Yesus. Yesus memberikan jalan keselamatan yang begitu mudah secara gratis, namun kita-kita masih kurang percaya, apa iya sesederhana itu untuk memperoleh keselamatan?
Demikian juga halnya tentang baptisan. Ada berapa sih baptisan itu? Mengapa orang yang akan menjadi murid Yesus perlu dibaptis? Ada berapa macam tujuan mengapa orang dibaptis? Apakah sungguh penting "teknis" baptisan itu kalau kita sudah tahu MAKNA sesungguhnya mengapa orang dibaptis?
Saya sungguh prihatin, sesudah adanya peristiwa protes dari Pastor Martin Luther, OSA (dari Jerman) di sekitar tahun 1500 an, Gereja tumbuh demikian pesat dengan membuat aliran-aliran baru. Aliran-aliran tadi lantas membuat berbagai definisi dan saling merasa masing-masing yang paling benar. Lantas pengikut-pengikutnya seperti Den Vincent kan cuma membeo adza kagak mendalami teologi en kagak tau persisnya tentang sejarah Gereja, maka ya jadinya pokoknya ikut aliran yang kini banyak teman-temanku di situ.
Coba dicheck mengenai apa makna atawa mengapa orang dibaptis, bagi aliran Bethani akan berbeda dengan yang Pantekosta, juga berbeda dengan yang aliran Baptis, apalagi dengan yang menyebut dirinya aliran Saksi Yehovah, juga aliran Bala Keselamatan, dsb.
Dan yang paling menyedihkan (menurut saya), sampai-sampai sesama murid Yesus kita bisa tegar mengatakan aliran lain baptisannya tidak sah, yang paling benar dan sah adalah aliranku. Apakah itu yang dikehendaki Yesus?
Mari kita renungkan yang dalam dan penuh damai. Ketika Vincent dibaptis ama Pendeta / Pastor Eddy (bukan yang dari Banjarmasin ya), sang Pastor ataupun Pendeta kan hanya bertindak sebagai mediator / perantara Tuhan pada upacara baptisan tadi. Setelah ditanya pengakuan iman dan sebagainya yang dianggap memadai sebagai murid Yesus, bukankah sang mediator tadi mengatakan : "Kini aku membaptis engkau DALAM NAMA BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS". Jadi, bukankah itu berarti Vincent sudah menjadi murid Yesus karna iman dan pengakuannya kepada Yesus, BUKAN KEPADA SANG MEDIATOR ataupun kepada alirannya?? Emangnya Yesus itu ada berapa macam sih??? Apa artinya "DALAM NAMA BAPA DAN PUTERA DAN ROH KUDUS"? Bukankah itu berarti sudah menjadi wewenang Allah (bukan manusia lagi donk tentunya) terhadap si Den Vincent tadi, lha kok setelah itu bisa-bisanya ada orang/manusia lain mengklaim bahwa yang dulu itu tidak sah atawa tidak benar atawa kurang afdol dan sebagainya. Apa haknya si manusia itu mengklaim sesuatu sah atau tidak sah yang sudah atas nama Tuhan?
Bahkan ada aliran yang relatif baru mengatakan bahwa baptisan bagi aliran mereka adalah untuk tanda diterimanya orang tersebut di tengah umatnya (mungkin maksudnya agar dikenali jemaatnya atas kehadiran orang yang dibaptis). Kalau memang benar untuk itu, mengapa harus dengan upacara baptisan? Kan bisa dengan cara lain untuk menerima kehadiran seseorang itu?
So, ada berapa macam sih Yesus itu, mengingat tiap aliran mengharuskan adanya baptis lagi (dengan dalih teknis, yaitu musti selam hingga kebes-bes dari ujung kuku kaki en tangan sampai ujung rambut kepala yang mana saja, atawa musti ditetesi minyak tertentu, atawa cukup dengan diusap, diolesi cairan tertentu biar afdol begitchu). Mungkinkah Yesus-nya aliran tertentu berbeda dengan Yesus-nya aliran lainnya?
Mohon pencerahan buat Den Vincent yang bingung melulu, kayaknya sok keminter ini tapi nyatanya bodonye setengah mampuik :~)

(Den Vincent)
 

Den Vincent,
Baptisan ada berapa, ya satu: Demi nama Bapa, dan Putera/Anak, dan Roh Kudus. Lihat perintah Yesus kepada para muridNya pada Injil Matius 28:19. Meski Efesus 4:5 mengatakan satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, Paulus sadar pembaptisan memang mudah menjadi sumber perpecahan, sebab orang tidak lebih melihat siapa (manusia) yang membaptis (yang menjadi pelayan sakramen baptisan), dan bukan berpegang pada dasar baptisan yakni dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Bacalah 1Korintus 1:10-17. Mungkinkah ini menjadi alasan Paulus mengatakan "Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis tetapi untuk memberitakan Injil..." (lihat 1Korintus 1:17).
Tafsiran saya di sini ialah: Paulus mau mengatakan juga bahwa baptisan tanpa Pemberitaan Injil akan mudah disalahgunakan oleh para pendeta untuk mencari masa dan memperbesar jemaatnya, lalu supaya persepuluhannya lebih besar. Sayang, orang mudah merasa memperbesar jemaatnya atau gerejanya yang berarti memuliakan Tuhan lebih besar. Orang di sini menyamakan kemuliaan Tuhan dengan keserakahannya. Berhasil menarik anggota umat dari gereja lain masuk ke gerejanya, atau jemaatnya menganggap dirinya hebat karena dapat mengalahkan pengaruh jemaat/gereja lain.
Semacam inilah yang terjadi lagi di tengah mereka yang mengaku iman tetapi mengatakan: 'Aku dari golongan Paulus, atau dari Apolos, Kefas, atau gereja Baptis, Betani, Pantekosta....... yang lebih suka bersaing daripada bekerjasama seia sekata dalam nama Yesus.

Sedih aku den en jeng. Lha piye.

(Romo Mardikartono, SJ)

 

Keluarga kakek en nenek sayalah yang mengawali hadirnya Yesus sebagai Juruslamat di tengah-tengah keluarga kami hingga sekarang. Ketika itu semua keluarga kami berangkat dari aliran/gereja Pantekosta. Kemudian seiring perkembangan kedewasaan masing-masing, juga banyak diantara kami berkembang pengetahuan iman kami. Lantas ada yang merasa lebih cocok di GKI, ada yang masih tetap di Pantekosta, ada yang di Gereja Isa Almasih, dan ada pula yang di Katolik (cuma saya tok, kesasar nih yeee :~)
Beberapa waktu yang lalu, salah satu famili sharing dengan saya, dimana dia ini dibaptis di Gereja Pantekosta ketika mahasiswa. Dia saat itu benar-benar dengan sungguh sepenuh hati melakukan pembaptisan selam di Gereja tersebut.
Ketika imannya berkembang terus, setelah lulus sarjana dan bekerja dengan prestasi sangat bagus, dia pelajari teologi dsb. Alhasil dia merasa lebih cocok meneruskan perkembangan imannya di Gereja Baptis. Gayung bersambut, disambutlah dia dan diminta untuk ikut aktif di gereja sana. Namun diluar dugaan sama sekali, muncul masalah. Sang Pendeta dan beberapa tetua lainnya meminta famili saya untuk dibaptis selam total terlebih dahulu. Famili saya mengatakan bahwa dia sudah dibaptis ketika di Gereja Pantekosta yang juga adalah baptis selam seluruh badan nyemplung air. Sang Pendeta cs tetap berusaha membujuk pantang menyerah hingga jam 3 pagi berdebat bahwa untuk menjadi jemaat di Gereja Baptis apalagi mau diangkat sebagai aktifis, harus bersedia dibaptis lagi walaupun sebelumnya sudah mengalami baptisan selam di Gereja Pantekosta. Famili saya terus menolak dengan alasan dia juga sudah baptis selam dan secara tegas mengatakan bahwa ketika dia dibaptis itu dia benar-benar dengan kesungguhan menerima Yesus ke dalam hidupnya, so merasa tidak perlu lagi ada baptis ulang, buat apa. Lantas famili saya mengatakan, begini: "Kalau saya tetap diminta harus mengulang baptisannya, berarti ada dua pilihan. Baptisan yang kedua ini merupakan baptisan pura-pura karna baptisan pertamanya dulu dia sudah merasa menyerahkan dirinya kepada Yesus dengan sepenuh hati dan kesungguhan. Atau baptisan yang pertama dulu cuma pura-pura dan baptisan kedua ini yang dengan sungguh-sungguh. Karna saya merasa baptisan yang pertama itu merupakan kesungguhan dan keseriusan saya, maka baptisan kedua yang merupakan baptisan pura-pura".
Akhirnya, famili saya tidak meneruskan untuk menjadi jemaat di Gereja tersebut. Ini sungguh fakta dan bisa dicheck kebenarannya.
Sungguh memprihatinkan, sesama murid Yesus masih ada keegoan klaim merasa alirannya jauh lebih baik dan sempurna ketimbang aliran lainnya. Dan ini bisa kita saksikan oleh siapa saja sekarang ini, kalau kita berasal dari Gereja aliran anu, lantas mau pindah karna lebih cocok di gereja lainnya, nanti kan kebanyakan diminta baptis lagi dengan alasan baptisan yang dulu tidak sah, atau kurang afdol, dsb. Ruarrr biasaa................manusia.
Soli Deo Gloria!!!

(Den Vincent)

 

BAPTIS - PENCUCIAN DARI DOSA-DOSA KITA
Sangat disayangkan sekali di waktu sekarang ini ada banyak kesalahpengertian tentang kata baptis di dalam Alkitab sehingga sering membawa kita kepada kesalahan yang serius pada pengajaran tentang dasar dari keselamatan. Oleh karena itu sangat penting sekali kalau kita mengerti dengan jelas ajaran Alkitab mengenai masalah baptisan.
Pertama-tama di dalam Alkitab kata "baptis" selalu berarti dibersihkan / disucikan / dibasuh. Kita dibersihkan dari dosa-dosa kita ketika Roh Kudus menerapkan firman Tuhan di dalam kehidupan kita (Yohanes 3:3-6).
Memang benar kalau kita melihat di dalam kamus kata Yunani Baptizo kadang diartikan sebagai celup atau selam, tetapi Alkitab menggunakan kata "Bapto" yang berarti dicelup dan kata Baptizo atau Baptismos yang berarti "dibersihkan/dicuci" secara berbeda.
Contoh yang jelas dari hal ini bisa kita lihat di Markus 7:3-4:
"Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan [baptizo] tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci [baptismos] cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga (dan meja makan)."
Kita tidak mencelup perkakas atau "meja" untuk membersihkannya, tetapi kita membasuhnya dengan air untuk menjadikannya bersih. Kita harus ingat bahwa arti rohani dari "air" di dalam Alkitab adalah "Injil" atau Gospel. Ini menerangkan bahwa kata "baptisan" di dalam Alkitab digunakan untuk menunjuk kepada pembersihan atau "penyucian" atau pembasuhan. Di dalam Alkitab kata ini tidak pernah berarti untuk diselam atau dicelup.
Ungkapan "turun ke dalam air" dan "keluar dari air" (Matius 3:16, Kis. 8:38-39) tidak selalu berarti bahwa mereka melakukan upacara baptis air secara selam, bila airnya hanya ada sampai sebatas mata kaki atau lutut kita juga bisa menggunakan ungkapan "keluar dari air" atau "turun ke dalam air". Dan di Kisah Rasul 8:38-39 jelas dikatakan bahwa mereka "berdua" yaitu Filipus dan sida-sida Etiopia turun ke dalam air dan mereka berdua keluar dari air. Oleh karena itu tidak mungkin kalau ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" itu berarti penyelaman.
Lagipula Yesus Kristus melakukan upacara baptis air sama persis seperti cara imam-imam keturunan Harun di dalam Perjanjian Lama dibaptis dengan air, yaitu dengan cara membasuh "tangan dan kakinya" dengan air yang ada di dalam bejana tembaga yang terletak di dalam Bait Suci.
Keluaran 30:17-21 kita baca:
"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kau tempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kau taruhlah air ke dalamnya. Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."
Tetapi karena Yesus adalah keturunan Daud dari suku Yehuda dan imam-imam adalah dari suku Lewi maka Tuhan mempersiapkan Yohanes bin Zakaria seorang keturunan Harun untuk membaptis Yesus di Sungai Yordan karena Yesus tidak dapat menggunakan bejana tembaga yang ada di Bait Suci. Lagipula bejana pembasuhan dan ruang maha suci secara harafiah berada di kota Yerusalem, sedangkan mezbah Yesus adalah kayu salib dan tempat maha kudus itu adalah Surga (Ibrani 8:1-2, Ibrani 9:24). Oleh karena itu hal ini cukup berbeda dengan bejana tembaga di bait suci yang digunakan untuk upacara pembasuhan para imam.
Dan kemudian setelah Yesus dibaptis air, langit terbuka dan Roh Allah yang berbentuk burung merpati turun ke atas-Nya, ini menunjuk kepada "baptisan Roh Kudus" atau yang disebut juga sebagai "minyak urapan". Di dalam Perjanjian Lama, para imam keturunan Harun harus diurapi dengan minyak setelah mereka dibasuh dengan air. Mereka harus ditahbiskan dengan "minyak urapan yang kudus" sebelum mereka melayani sebagai imam (Keluaran 30:22-31).
Di dalam Alkitab secara rohani "minyak" adalah simbol dari "Roh Kudus". Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Imam Besar Agung (Ibrani 4:14, Ibrani 5:6, Ibrani 7) jadi Dia juga harus memenuhi tata cara ibadah di dalam Perjanjian Lama. Walaupun Ia tidak berdosa tetapi Ia telah menjadi berdosa karena dosa-dosa kita (2 Korintus 5:21). Ia telah mengosongkan kemuliaan-Nya dan sepenuhnya menyamakan diri-Nya dengan manusia yang berdosa. Ia harus mengikuti tata cara ibadah imam-imam Perjanjian Lama. Karena Yesus adalah Imam Besar Agung untuk selamanya, dan pengurapan tidak harus dengan minyak yang merupakan simbol dari Roh Kudus, Ia diurapi dengan Roh Kudus di hadapan orang banyak.
Matius 3:16-17 kita baca:
"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Di sini Yesus diurapi untuk tugas-Nya sebagai Imam Besar Agung, Rasul Petrus menegaskan hal ini lagi di Kisah Rasul 10:38:
"yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa,...................."
Setelah Yesus dibasuh air dan diurapi, sekarang Ia siap melayani sebagai Imam Besar Agung untuk mempersembahkan kurban bagi pengampunan dosa-dosa umat-Nya. Ia adalah Anak Domba yang tidak bercacat yang menyerahkan tubuh-Nya dan darah-Nya sendiri sekali dan selama-lamanya sebagai kurban penebus dosa yang sesuai dengan syarat-syarat Allah.
Kemudian satu hal lagi terjadi setelah Yesus dibaptis air, yaitu Roh Allah membiarkan Yesus dibawa ke padang gurun untuk dicobai oleh Iblis selama empat puluh hari dan empat puluh malam tepat "setelah" Ia dibaptis air (Matius 4).
Jadi jelas sekali bahwa upacara baptis air hanyalah sebuah tanda atau bayangan, hal ini menunjuk kepada pembersihan yang sudah terjadi atau yang kita harapkan akan terjadi di dalam kehidupan seseorang, yaitu, pembersihan dari dosa-dosanya. Semua referensi yang kita miliki di dalam Alkitab tentang kata Yunani Baptizo atau Baptismos yang diterjemahkan menjadi 'baptisan' atau 'membaptis' memiliki pengertian baptisan roh, yaitu pembasuhan yang akan dilakukan oleh Tuhan untuk menyelamatkan kita.
Sekarang kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata di Markus 16:16:
"Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum."
Jelas sekali bahwa baptisan adalah suatu syarat yang harus dipenuhi supaya kita dapat diselamatkan. Tetapi ini tidak menunjuk kepada upacara baptis air, karena bukanlah sejumlah air betulan yang akan membasuh semua dosa kita. Ini menunjuk kepada pembasuhan atau pembersihan (baptisan) yang dilakukan oleh Roh Kudus ketika kita dibersihkan oleh Firman Tuhan.
Jika satu buah dosa yang paling kecil saja dari seseorang tidak diserahkan kepada Tuhan Yesus, sehingga Yesus menderita murka Allah bagi orang tersebut, maka orang tersebut tidak dapat diselamatkan. Tetapi semua yang Tuhan berkenan untuk diselamatkan akan diselamatkan karena dosa-dosa mereka sudah diserahkan pada Tuhan Yesus. Jadi, syarat baptisan (pembasuhan) telah cukup bagi orang itu, dan ketika Roh Kudus menerapkan Injil dalam hidup orang itu, ia telah diselamatkan. Bukti dari keselamatan adalah kehadiran iman untuk percaya dengan sungguh-sungguh dan mempunyai kemauan yang jujur dan terus menerus untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Iman ini adalah hasil dari karya Tuhan untuk menyelamatkan kita.
Demikian juga baptisan yang dibicarakan di Kisah Rasul 2:38 adalah sama seperti Markus 16:16.
Kisah Para Rasul 2:38 kita baca:
Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus."
Upacara baptis air bukanlah baptisan yang dimaksudkan di dalam ayat ini. Baptisan ini adalah baptisan (pembasuhan) yang kita alami sebagaimana Yesus menghapus dosa kita. Hanya ketika Tuhan menerapkan pembasuhan atau pembersihan ini di dalam hidup kita maka kita akan diselamatkan. Perintah untuk bertobat dan dibaptis adalah sama dengan perintah Paulus kepada kepala penjara di Filipi ketika ia mengatakan kepadanya untuk percaya kepada Tuhan Yesus (Kis. 16:31).
Orang-orang yang berbicara kepada Rasul Petrus di Kisah Rasul 2:38 adalah sama seperti sipir penjara di Filipi yang adalah "mati secara rohani" (Roma 3:10-12, Yohanes 5:25, Yohanes 11:25, 1 Korintus 15:22, Efesus 2, Yehezkiel 37). Untuk membasuh dosa-dosa mereka atau untuk sampai kepada suatu syarat supaya mereka bisa percaya kepada Kristus dengan sepenuh hati adalah sesuatu hal yang mereka tidak mampu untuk lakukan di dalam diri mereka sendiri. Tuhan-lah yang harus melakukan karya itu di dalam diri mereka.
Demikian pula perintah untuk bertobat. Benar sekali kalau seorang yang belum diselamatkan mampu berbalik dari dosa ini atau dosa itu, tetapi pertobatan yang merupakan hasil dari keselamatan yang sejati adalah kita harus secara utuh berbalik ke arah yang berlawanan dari arah yang biasa kita jalani (metanoia). Orang yang masih mati rohani tidak dapat melakukan hal ini.
Untuk percaya, untuk dibaptis (dibersihkan dari dosa-dosa kita), untuk bertobat, semuanya itu harus dilakukan oleh Tuhan. Tuhan-lah yang harus menyucikan semua dosa kita; Ia harus memberikan kepada kita "kebangkitan roh yang baru" sehingga hidup kita akan berbalik dari melayani diri sendiri dan menjadi pelayan Tuhan; Ia harus memberi kita iman sehingga selanjutnya kita percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati, yaitu, kita akan menggantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, percaya bahwa apa yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah mutlak benar dan mempunyai otoritas yang terutama dan yang terakhir.
Dengan cara yang sama, kita dapat mengerti perintah yang diberikan kepada Paulus atau Saulus dari Tarsus setelah ia dibutakan selama tiga hari ketika Yesus menampakkan diri kepadanya. Kita baca bahwa Ananias berkata kepada Paulus dalam Kisah Para Rasul 22:16:
"Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"
Beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa ayat ini adalah bukti tertulis bahwa baptisan air adalah syarat mutlak bagi keselamatan. Tetapi seperti yang telah kita pelajari, hal itu adalah mustahil. Sesungguhnya air betulan tidak disebutkan di dalam ayat ini atau juga di Markus 16:16 dan Kisah Rasul 2:38. Sesungguhnya bahwa Ananias yang beriman melalui karya yang dilakukan oleh Tuhan memerintahkan Paulus untuk bangun (menjadi bangkit secara rohani) dan dibaptis (dibersihkan dari dosa-dosanya oleh karya Roh Kudus).
Tentu saja Paulus tidak dapat melakukan hal-hal itu didalam dirinya sendiri. Hanya Tuhan saja yang mampu melakukannya, sehingga kita dapat mengerti bahwa inilah saat keselamatan bagi dirinya. Ini tidak disebabkan karena Paulus ikut berusaha dalam suatu perbuatan tertentu untuk memenuhi keselamatan di dalam dirinya. Kenyataannya pada waktu itu Paulus yang adalah Saulus masih berada dalam pemberontakan terhadap Tuhan Yesus. Tuhan-lah yang harus melakukan semua usaha-usaha untuk membangkitkan dan menghapus semua dosa-dosanya. Bukti bahwa ini adalah saat keselamatan ketika Tuhan menyelamatkan Paulus dapat dilihat dalam kalimat dari Kisah Rasul 9:18:
"Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis."
Ada selaput yang gugur dari matanya mengingatkan kita tentang perkataan dalam 2Korintus 3:14-16:
"Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca Perjanjian Lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca Kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya."
Dengan kata lain, gugurnya selaput dari mata Paulus ini berarti mata rohaninya telah dibuka. Ia telah diselamatkan, dosa-dosanya telah dihapuskan.
Jadi kesimpulan yang kita dapatkan adalah di dalam Perjanjian Baru kata "baptisan" selalu digunakan untuk menerangkan 'pembersihan' atau "penyucian" atau 'pembasuhan'. Kata ini tidak pernah berarti untuk diselam atau dicelup. Di dalam Perjanjian Lama, sebagai bagian dari tata cara ibadah, tiga metode diterapkan untuk menandakan penyucian rohani: kurban darah, kurban bakaran, dan pembasuhan. Tetapi tidak satupun dari tindakan tersebut yang dapat menyediakan penyucian rohani yang sebenarnya. Mereka bernilai karena ini adalah bayangan yang menunjuk kepada penyucian yang akan disediakan melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Baptisan Yohanes Pembaptis, sama seperti baptisan yang diberikan oleh murid-murid pada waktu sebelum penyaliban, pada dasarnya adalah sama dengan tata cara ibadah pembasuhan di dalam Perjanjian Lama walaupun artinya rohaninya jauh lebih bermakna karena saat penyaliban sudah hampir tiba. Semua pembasuhan di dalam Perjanjian Lama, bersama dengan pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan para rasul adalah bayangan yang menunjuk kepada pembasuhan yang disediakan oleh karya Yesus di kayu salib.
Ketika Yesus menderita dan menuju kayu salib, Ia disucikan atau dibersihkan dari semua dosa yang ditanggungkan pada diri-Nya. Jadi Ia menyediakan pembasuhan yang kekal bagi semua orang yang menaruh percaya kepadaNya sebagai penebus dari dosa-dosa mereka. Lebih lanjut, Ia menggenapi seluruh hukum-hukum bayangan di dalam Perjanjian Lama yang menunjuk kepada tindakan pembasuhan di atas kayu salib.
Mereka yang sudah diselamatkan akan dibaptis atau dibasuh dalam kematian Kristus. Yaitu, ketika Kristus menebus dosa-dosa mereka melalui penderitaan di dalam neraka sebagai ganti mereka; sehingga seolah-olah semua orang yang percaya ini telah menderita di neraka.

So faith comes by hearing, and hearing by the word of God. (Roma 10:17)

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.