AJARAN CALVINISME, AJARAN DILUAR ALKITAB?
 

 

Pokok ajaran Calvinist percaya bahwa Allah telah memilih sementara orang sejak kekal untuk diselamatkan sama sekali sebagai kasih-karunia dibawah kemaha-berdaulatan-Allah yang mutlak. Mereka mengatakan bahwa segera ketika Allah berkenan, Dia telah menetapkan dan memilih sejak kekal sementara orang untuk memiliki hidup kekal  (Calvin menekankan kedaulatan Allah semutlak-mutlaknya, sehingga dia merendahkan manusia sehina-hinanya, dengan ajarannya tentang manusia sebagai yang sama sekali rusak atau "Bejat Total" ("Total Depravity").
Di atas dua kutub "Kedaulatan Allah Secara Mutlak" dan "Kebejatan Manusia Secara Total" inilah ajarannya tentang "predestinasi" itu dibangun. Ajaran ini dibangun karena reaksi terhadap ajaran Pelagianisme (ajaran Pelagius) yang mengatakan bahwa manusia dengan kehendak bebasnya melalui perbuatan baiknya sendiri, tanpa rahmat atau kasih-karunia ilahi, dapat menumpuk amal jasanya sendiri untuk naik ke Surga. Atau mungkin juga ajaran Semi-Pelagianisme yang dilihatnya dipraktekkan dalam Gereja Roma Katolik di jaman itu, yaitu bahwa meskipun manusia itu beriman kepada Kristus, namun dia harus berbuat baik untuk diselamatkan. Jadi keselamatan tidak semata karena kasih-karunia, namun ditambah perbuatan baik manusia. Untuk menegaskan supaya keselamatan itu semata-mata karena kasih-karunia dan bukan karena perbuatan, maka manusia tidak boleh diberi ruang untuk memiliki kemampuan berbuat baik, dia harus "Bejat Total", sehingga kalau dia diselamatkan itu sama sekali bukan karena perbuatannya namun kasih-karunia Allah yang menyelamatkan manusia karena kuasaNya yang berdaulat. Berarti manusia sudah ditetapkan Allah dalam keberdaulatannya itu untuk diselamatkan, atau jika mereka masuk neraka, untuk dibinasakan sesuai dengan keberdaulatan Allah sendiri. Yang selamat itu karena memang sudah dipilih dan ditakdirkan selamat, bukan karena jasa baik apapun dari dirinya. Inilah inti dari ajaran Calvinisme itu. Dan ajaran Calvin yang demikian ini diringkas dalam kata sandi "TULIP" pada Synode Dort di negara Belanda.

TULIP itu ringkasan dari kata-kata:

1. Total Depravity (Kebejatan Total)
2. Unconditional Election (Pemilihan Tanpa Syarat)
3. Limited Atonement (Penebusan Terbatas)
4. Irresistable Grace (Kasih-karunia yang tak dapat ditolak)
5. Perseverance of the Saints (Kebertahanan Orang-Orang Kudus).

Makna dari ringkasan ajaran Calvinisme ini adalah: karena manusia itu betul-betul bejat secara mutlak, dan tak mampu sedikitpun memperkenankan Allah, maka pada saat dia diselamatkan, itu mungkin terjadi karena dia telah dipilih ("elected" ) tanpa syarat apapun kecuali karena Allah memang berdaulat untuk melakukan itu sejak kekal. Karena keselamatan itu melalui penebusan Yesus Kristus, padahal yang diselamatkan itu telah ditakdirkan dan dipilih, maka penebusan Yesus Kristus itu hanya terbatas untuk orang-orang yang sudah ditakdirkan dan dipilih untuk selamat ini, bukan untuk semua orang. Jika orang sudah dipilih dan ditakdirkan untuk selamat oleh keberdaulatan Allah, maka mereka tak dapat menolak kasih-karunia Allah di dalam Yesus Kristus itu, jadi pasti dia percaya Yesus Kristus, tanpa ada kesempatan kehendak bebasnya untuk memilih, karena dia tak memiliki kehendak bebas untuk itu. Dan jika sudah tak dapat menolak kasih-karunia atau rahmat keselamatan Allah itu, karena Allah sudah menetapkan sejak kekal, maka sampai bagaimanapun dia akan tetap bertahan untuk tinggal dalam keselamatan itu, sehingga timbul ide: "Sekali selamat, tetap selamat" atau "Keselamatan tak dapat hilang, biarpun oleh perbuatan dosa apapun". Demikianlah ringkasan ajaran Calvinisme Protestan itu. Namun tidak semua orang Protestan menerima bentuk ajaran seperti ini. Ayat-ayat klasik yang digunakan untuk menunjang Dogma Calvinisme ini adalah Roma 8:29 dan Efesus 1:4-5. Ajaran ini pernah ingin dimasukkan oleh Kyrillos Lukaris ke dalam Gereja Orthodox, namun mendapat reaksi keras dari gereja, karena tak selaras dengan seluruh ajaran Orthodox maupun praktek kehidupannya. Akibatnya Kyrillos Lukaris yang menjabat Patriarkh di Konstantinopel itu dipecat oleh seluruh gereja dari jabatannya. Sehingga dia sering diejek sebagai "Calvinist Patriarkh". Karena Gereja Orthodox tidak pernah diganggu oleh ajaran Pelagianisme atau Semi-Pelagianisme yang mengganggu gereja barat pada jaman Santo Agustinus itu, maka pertanyaan yang ditimbulkan dalam ajaran Calvinisme yang berdasarkan ajaran Agustinus itu tak pernah muncul dalam Gereja Orthodox di Timur. Sehingga penghayatan makna Roma 8:29-30 dan Efesus 1:4-5 itupun akhirnya berbeda.
Sebagaimana yang sudah kita indikasikan bahwa Gereja Orthodox hanya memiliki dua Dogma saja, yaitu: Keesaan Allah dalam Tritunggal, serta Dua Kodrat Kristus dalam satu Hypostasis dalam PenjelmaanNya. Dan berdasarkan dua Dogma ini, serta dalam terang ajaran Ketujuh Konsili Gereja Purba (dari Nikea tahun 325 Masehi s/d Konstantinopel tahun 787 Masehi) yang merumuskan, membela, membentengi,dan menjabarkan Ajaran Rasuliah yang dipelihara gereja dari penyesatan kaum bidat yang menyerang Ajaran Rasuliah itu, dan dalam terang ajaran segenap para Bapa Gereja, serta dalam terang naskah-naskah Liturgisnya, Gereja Orthodox menjabarkan segenap ajarannya yang berasal dari Kitab Suci itu. Tak ada ajaran individualistik atau pendapat perorangan dalam Gereja Orthodox, semua adalah ajaran "Am", keyakinan bersama yang berasal dari Para Rasul, sehingga seorang Patriarkhpun, seperti halnya Kyrillos Lukaris, kalau mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan "Iman Am" yang satu ini akan dipecat dan dikucilkan.

Allah adalah satu yaitu Bapa, dan di dalam Hakekat Bapa yang satu itu bersemayamlah FirmanNya sendiri sejak kekal tanpa awal-akhir yang selalu diperanakkan di dalam Diri Allah sendiri, demikian pula di dalam Diri Bapa yang Satu ini bersemayamlah RohNya sendiri, yang tinggal dalam Diri Bapa (1Korintus 2:10-11), namun juga keluar dari Diri Bapa (Yohanes 15:26), untuk tinggal dalam Diri Firman Allah yang sama-sama tinggal dalam Hakekat Allah yang satu ini. Melalui Firman dimana Roh Kudus ini bersemayam Roh Kudus itu dipantulkan kembali kepada Bapa, sehingga di dalam Diri Allah yang Esa itu terdapat lingkaran gerak terus-menerus tanpa henti. Baik "diperanakkanNya Firman dari Bapa" maupun "keluarNya Roh Kudus dari Bapa" serta "bersemayamNya Roh Kudus dalam Firman" dan "pemantulan Roh Kudus kembali dari Firman kepada Bapa", itu terjadinya di dalam Hakekat Allah yang Satu itu dan bukan di luarNya. Firman dikatakan diperanakkan karena melalui Firman itu Bapa mengenal DiriNya sendiri (Matius 11:27) sebagai GambarNya (Kolose 1:15), atau sebagai "Cahaya Kemuliaan dan Gambar Wujud" (Ibrani 1:3) DiriNya sendiri. Dalam FirmanNya Allah mengenal DiriNya, dan dalam Allah (Bapa) Firman mengenal DiriNya sendiri sebagai yang diperanakkan Bapa (Matius 11:27) sehingga antara Bapa dan Anak atau Allah dan Firman terdapat saling-mengenal secara kekal. Dan saling kenal kekal di dalam Hakekat Allah yang Satu ini terjadi di dalam Roh Allah sendiri sebagai lingkupNya. Karena Roh Kudus keluar dari Bapa (Yohanes 15:26) serta bersemayam dalam Firman, dan dari Firman memantul kembali kepada Bapa, sehingga seolah-olah Roh Kudus itu yang mengikat Allah dengan FirmanNya sendiri dalam Diri dan HakekatNya yang Esa dan Satu itu. Itulah sebabnya Roh Kudus dikatakan sebagai "keluar" dan bukan "diperanakkan", karena pengenalan Bapa (Allah) akan diriNya sendiri sebagai GambarNya bukanlah pada Roh Kudus, namun pada Firman, dan Roh Kudus adalah sebagai lingkup pengenalan Ilahi akan DiriNya sendiri itu. Saling terikat dan saling kenal antara Allah dan FirmanNya sendiri di dalam HakekatNya yang Esa itu terjadi dalam "Kasih", sebagaimana yang dikatakan oleh Firman itu sendiri ketika menjelma menjadi manusia; "…sebab Engkau (ya Bapa) telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan" (Yohanes 17:24), yaitu dalam kekekalan di dalam Hakekat Allah yang Esa tadi. Padahal Alkitab menegaskan pula bahwa "Kasih Allah dicurahkan ….oleh Roh Kudus" (Roma 5:5), dan Roh Kudus adalah "Roh yang Kekal" (Ibrani 9:4), berarti fungsi mencurahkan Kasih Allah inipun kekal.
Berarti jika Allah mengasihi FirmanNya sejak kekal, maka kasih itu dicurahkan oleh Roh yang kekal, karena memang itulah fungsi kekalNya. Dan jika Kristus dikatakan "oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah" (Ibrani 9:14), berarti persembahan yang nampak di kayu salib itu sebenarnya merupakan manifestasi dari persembahan diriNya secara kekal kepada Allah, karena Roh yang kekal yang melaksanakan ini. Dan persembahan kekal Kristus itu adalah "persembahan Kasih di dalam Roh". Dengan demikian Allah mencurahkan kasihNya pada Firman oleh Roh, Firman mempersembahkan kasih itu kembali kepada Allah di dalam Roh yang sama.
Itulah lingkaran-gerak kasih yang kekal di dalam Allah tadi. Dengan demikian Roh Kudus adalah lingkup-hidup-ilahi dimana gerak kasih dari Allah kepada FirmanNya secara timbal-balik itu terjadi. Dan di dalam kasih itu pengetahuan Allah akan diriNya di dalam Firman dan pengetahuan Firman akan diriNya di dalam Allah itu terjadi (Matius 11:27). Karena keberadaan kekal ilahi dalam kasih yang sedemikian inilah maka Allah itu disebut "Kasih" (1Yohanes 4:8). Dalam persekutuan kasih kekal di dalam DiriNya inilah Allah memancarkan kebahagiaanNya sendiri yang mutlak dan tak terkatakan, sehingga Ia disebut sebagai "Yang Penuh Bahagia" (1Timotius 6:15). Karena kasih itu sifatnya menggapai orang lain untuk memberikan kebaikan pada pihak lain tadi, demikianlah kasih Allah ini. Apa yang terjadi dalam kasih Allah yang kekal ini terjadinya di dalam Diri Allah sendiri. Karena Firman yang dikasihi Allah dan Roh Pengasih itu tinggalNya dalam Diri Allah yang Esa itu sendiri. Oleh karena itu melalui kasihNya kepada FirmanNya yang timbal-balik itu, Allah berkehendak untuk memberikan "Kasih" dan "kebahagiaanNya" itu kepada yang di luar diriNya. Padahal dalam kekekalan tak ada yang di luar diri Allah, oleh karena itulah Allah berkehendak mengadakannya, dan itulah mulainya "rencana penciptaan makhluk" terjadi. Dan tujuan penciptaan makhluk tak lain adalah agar ambil bagian kasih, kebahagiaan, kesucian, dan kekudusan yang dimiliki Allah itu sendiri.
Pendeknya Allah menghendaki agar manusia "mengambil bagian dalam kodrat ilahi " (2Petrus 1:4), menjadi seperti Allah dalam kemuliaan, yaitu "menjadi anak-anak Allah", yaitu memiliki sifat-sifat Ilahi. Karena sifat anak itu seperti sifat bapaknya. Dalam kacamata inilah Efesus 1:4-5 itu dimengerti dalam Iman Kristen Orthodox. Dikatakan dalam Efesus 1:4  "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya", maknanya: Allah "memilih kita" yaitu segenap kita sebagai manusia yang dipilih, bukan malaikat, bukan setan, bukan binatang yang dipilih itu. Serta "di dalam Dia" Allah memilih kita, maknanya; di dalam Firman tadi, akibat kasih kekal yang ada antara Allah dan FirmanNya itulah maka rancangan untuk mencurahkan sifat-sifatNya itu terjadi, dan kita yang dipilih Allah untuk menerima itu, bukan malaikat, bukan setan-setan dan bukan binatang. Dan tujuan pemilihan itu adalah "supaya kita kudus dan tak bercacat". "Kudus dan Tak Bercacat" itu adalah sifat-sifat Allah, berarti kita dipilih, atau kodrat kemanusiaan kita yang dipilih untuk dijadikan seperti Allah, artinya "ambil bagian dalam kodrat ilahi" (2Petrus 1:4). Jadi pemilihan ini bukan pemilihan "individu", namun pemilihan "kita" secara kolektif, secara bersama, yaitu pemilihan "kodrat
kemanusiaan kita". Kemudian ada pernyataan "sebelum dunia dijadikan", karena pemilihan itu terjadinya akibat lingkaran gerak kasih Allah yang kekal sebelum adanya dunia ini. Selanjutnya Efesus 1:5 mengatakan: "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya ".  "Dalam kasih" artinya: terjadinya rencana kekal itu akibat lingkaran gerak kasih tadi. "Ia telah menentukan kita" artinya Allah telah menetapkan kodrat macam apa "kita" yaitu kemanusiaan kita itu nantinya akan dijadikan. Jadi sifat kodrat kemanusiaan kita itulah yang telah ditentukan dan ditakdirkan Allah, "dari semula" yaitu dari kekekalan di dalam gerak-kasihNya sendiri itu. "Oleh Yesus Kristus", karena penentuan penciptaan kodrat kemanusiaan itu akibat hubungan kasih Allah dengan FirmanNya yang setelah menjadi manusia bernama "Yesus Kristus", maka oleh Firman: Yesus Kristus" inilah kodrat kemanusiaan itu direncanakan untuk diciptakan. "Untuk menjadi anak-anakNya" artinya untuk memiliki sifat Bapa, karena anak-anak itu bersifat seperti bapaknya.
Dengan demikian takdir kodrat kemanusiaan kita adalah untuk menjadi "sama seperti Dia " (1Yohanes 3:2), yaitu "ambil bagian dalam kodrat ilahi" (2Petrus 1:4) sehingga disebut "anak-anak Allah". "Sesuai dengan kerelaan kehendakNya" artinya Dialah yang memang berkehendak dalam kasih tadi untuk menentukan kodrat manusia menjadi seperti kemuliaan DiriNya itu tanpa ada yang memaksa, namun dari "kerelaan kehendaknya", dan "sesuai" dengan kerelaan kehendaknya itu akhirnya kita diciptakan. Karena sesuai dengan rancangan untuk menjadi seperti Allah dalam kemuliaanNya itulah manusia diciptakan, itulah sebabnya waktu diciptakan manusia itu diciptakan "menurut Gambar dan Rupa Allah" (Kejadian 1:26-27). Dan semua yang dipilih inilah yang ditentukan dari semula "untuk menjadi serupa dengan Gambaran AnakNya" (Roma 8:29). Karena "Gambar" Allah adalah Kristus (Kolose 1:15) dan "Rupa Allah" adalah Kristus juga (Filipi 2:5-6), berarti manusia memang diciptakan "menurut Gambar dan Rupa Allah" yang tak lain adalah "Anak Allah" sendiri, itulah sebabnya takdir kodratnya adalah untuk menjadi "anak-anak Allah" tadi. Karena semua manusia yang dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi serupa dengan Kristus, maka "mereka juga dipanggilnya" (Roma 8:30) dan barangsiapa rela mendengarkan panggilan ini melalui karunia kehendak bebas yang diberikan Allah padanya, maka akan tahulah dia bahwa dirinya itu memang "dipilih dan ditentukan dari semula" pada waktu diciptakan dengan tujuan "menjadi seperti Kristus" atau untuk "manunggal dengan Kristus". Yaitu manunggal kemanusiaan Kristus yang telah dimuliakan itu. Dan dengan rela menerima panggilan ini, maka dia beriman kepada Kristus, dan manunggal dengan kematian dan kebangkitanNya melalui baptisan, di situlah di akan menerima "pembenaran" (Roma 8:30). Akhirnya nanti jika dia hidup dalam ketaatan pada panunggalannya dengan Kristus itu, maka tercapailah tujuan akhir kodrat yang telah dipilih dan ditentukan Allah dari semula itu yaitu "dimuliakan" untuk "ambil bagian dalam kodrat ilahi" serta menjadi sama seperti Dia" dan "menyatakan Diri dengan Kristus dalam kemuliaan" (Kolose 3:4), karena Dia telah menyatu dengan kemanusiaan Kristus yang Mulia dan telah mengalahkan kematian itu. Dalam pengertian Iman Orthodox seperti ini jelaslah "TULIP" itu tak memiliki relevansi apapun dalam kacamata Iman Orthodox, malah kelihatannya seperti di luar Ajaran Alkitab. Marilah kita selidiki "TULIP" itu dalam kacamata Iman Kristen Orthodox mengenai makna "pemilihan" dan "penentuan dari semula" itu.
Manusia diciptakan "Menurut Gambar dan Rupa Allah", yaitu menurut "Anak Allah Yang Maha Kudus" sebagai polanya, karena manusia dipilih untuk diberi takdir atau ketentuan kodrat "menjadi anak-anak Allah" yaitu kudus atau "tanpa cacat dan tanpa cela" itu. Dengan demikian tujuan akhir kodrat manusia memang menjadi "Serupa Dengan gambaran AnakNya" (Roma 8:29) itu.
Dalam pengajaran para Bapa Gereja dijelaskan bahwa "Gambar" itu memiliki makna refleksi, sehingga jika Firman Allah disebut "Gambar Allah" artinya Ia merefleksikan Allah yaitu sebagai yang menyatakan Allah. Sedangkan rupa adalah hakekat diri, sehingga jika Firman Allah disebut sebagai "dalam Rupa Allah" (Filipi 2:5-6) artinya Hakekat DiriNya adalah Allah atau Ilahi.
Manusia diciptakan menurut "Gambar dan Rupa" Allah, artinya manusia dikarunia sekaligus refleksi dari keilahian dan hakekat kodrat-keilahian di dalam panunggalanNya dengan Kristus, Anak Allah. Refleksi keilahian itu adalah sifat-sifat ilahi yang secara relatif nampak pada manusia, misalnya: kasih, adil, kebaikan, dan lain-lain termasuk kehendak bebas dengan kata lain, karunia sifat-sifat akhlaki dan moral. Melalui kasih-karunia yang berwujud kemampuan akhlak dan moral ini manusia diperintahkan untuk mencapai hakekat kodrat-keilahian, yaitu "ambil bagian dalam kodrat ilahi" dengan menggunakan kasih-karunia yang ada padanya yang berwujud kehendak bebas. Oleh dosa karunia kodrat menurut "gambar dan rupa Allah" itu rusak, tetapi tidak hilang, yang hilang adalah "kemuliaan Allah" (Roma 3:23) yang tadinya menyertainya. Jadi karunia kodrat "menurut gambar dan rupa Allah" itu masih ada biarpun sesudah jatuh ke dalam dosa (Kejadian 9:6).

Agus H.F.

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.