DASAR IMAN KATOLIK

 

1.  Mengapa orang Katolik menolak ajaran pembenaran oleh iman, bila Kitab Suci mengajarkan ini dengan cukup jelas dalam banyak tempat?
Menanggapi penyalahgunaan dalam praktek kehidupan Gereja dan kesalahan populer, banyak Reformatores abad XVI hampir secara eksklusif memberi tekanan pada ajaran Santo Paulus bahwa manusia "dibenarkan hanya oleh iman, bukan karena melakukan hukum-hukum Taurat" (Roma 3:28). Martin Luther yang bermaksud untuk mereka yang gelisah akan penyelamatan pribadi, menyatakan bahwa keselamatan tidak diperoleh dengan usaha pribadi, tetapi SOLA FIDE "hanya oleh iman": tidak percaya kepada hal lain selain kepada belas kasih Allah.
Penekanan ini melebihi rumusan kuno Santo Agustinus, SOLA GRATIA: "hanya oleh rahmat Allah", dan terjadilah perdebatan dimana baik kelompok Reformatores maupun Hierarki Gereja tidak banyak memperhatikan KEPRIHATINAN masing-masing dalam hal-hal ajaran dan praktek keagamaan.
Namun demikian cukup menggembirakan bahwa setelah lebih dari 450 tahun, perbedaan pandangan tentang ajaran pembenaran ini di Amerika Serikat paling sedikit mendekati titik akhirnya.
Pada tahun 1983, kelompok dialog LUTHERAN - KATOLIK di Amerika Serikat mengeluarkan dokumen penting yang berjudul Pembenaran oleh iman.  Di antara banyak butiran di dalam dokumen itu menyatakan: "Seluruh harapan kita terhadap pembenaran dan penyelamat bersandar pada Yesus Kristus dan pada Injil dimana kabar baik tentang tindakan, belas kasih Allah di dalam Kristus dikenal. Kita tidak menaruh kepercayaan kita yang terakhir kepada hal lain selain kepada janji Allah dan karya penyelamatan dalam Kristus", kemudian dokumen tersebut menyatakan: Orang Katolik dapat berbicara tentang pembenaran oleh iman atau bahkan pembenaran hanya oleh iman saja sejauh yang mereka ajarkan, seperti yang diajarkan oleh kelompok LUTHERAN: bahwa tidak ada yang lebih utama daripada iman yang dianugerahkan dengan cuma-cuma yang patut menerima pembenaran dan bahwa segala anugerah penyelamat Allah hanya datang melalui Kristus.
Akan tetapi orang Katolik menekankan:  bahwa Roh Kudus yang tinggal dalam hidup manusia menyebabkan orang beriman (siapapun mereka), tidak hanya menyetujui maupun mempercayai, tetapi juga terlibat penuh kasih dan menghasilkan karya yang baik. Dengan demikian, kita melihat tidak tepatlah menyatakan bahwa Gereja Katolik menolak ajaran pembenaran oleh Iman. 
 
2.  Dimanakah Kitab Suci menyebutkan pentingnya perbuatan baik?
Pentingnya karya-karya amal belas kasih begitu kuat dinyatakan di dalam Injil MATIUS 25:31-46. Anehnya tidak disebutkan peranan iman dalam perumpamaan tentang penghakiman dan penyelamat ini. MATIUS 7:21-23 juga menyarankan bahwa iman dan kuasa Roh tak berharga jika mereka hanya menghasilkan pelayan kepada Kristus hanya di bibir saja. Berbicara tentang orang beriman yang tak berbuat apa-apa "TANPA PERBUATAN". Santo YAKOBUS menulis dalam suratnya "Adalah dungu" ........ "iman, jika tanpa perbuatan adalah mati" (Yak.  2 :17).
 
3. Akan tetapi Yesuslah yang menyelamatkan, bukan perbuatan baik kita, tidak mungkin kita memperoleh keselamatan dengan perbuatan kita, karena kita tidak mampu membuka jalan menuju Allah.
Hal ini benar! Gereja Katolik setia pada Kitab Suci, mengajarkan bahwa yang mengangkat kita sampai kepada Allah bukanlah perbuatan baik kita, tetapi perbuatan baik merupakan penegasan bahwa hidup Allah ada di dalam diri kita. Seperti St. Yakobus menulis: ".....dengan karya aku ingin  memperlihatkan imanku".   
 
4.  Tidak semua orang yang melakukan perbuatan baik adalah Kristen. Sementara orang yang berbuat baik bahkan ada orang-orang yang atheis, dan tak diragukan bahwa orang-orang yang demikian itu akan dihukum.   
Jelaslah kedatangan Kristus dimaksudkan oleh Allah untuk membimbing kita ke Surga, tetapi bukanlah hak kita untuk menghakimi alasan-alasan mengapa sementara orang orang yang berbuat baik tidak menerima Kristus dalam iman. Satu alasan bahwa mayoritas orang di dunia non-Kristiani adalah bahwa mereka belum pernah mendengar Injil dalam lingkungan yang membawa kepada iman. Tak dapat disangkal pula, bahwa banyak juga orang yang menolak Kristus karena mereka melihat contoh Kristianitas yang jahat atau salah dalam menafsir Injil. Adalah hak Allah sendiri untuk menghakimi siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang akan dihukum. Cukuplah kita bertekun untuk berbuat sebaik mungkin.
 
5.  Apakah  anda mau mengatakan bahwa mungkinlah bagi orang-orang dari agama lain diselamatkan?
Dalam perjanjian lama banyak pasal berbicara tentang Kasih Allah bagi orang-orang non Israel, misalnya: dalam Kejadian 12:2, 17:9 ; Yesaya (2:2-5, 49:6, 49:22, 60:3) antara lain bangsa-bangsa mendapatkan keselamatan lewat ABRAHAM DAN ISRAEL. Sesungguhnya AMOS 9:7, bahkan sampai pada pernyataan bahwa Yahwe mencintai musuh-musuh Israel - Orang-orang Filistin dan Aram (Syria), seperti halnya Dia mencintai Israel.
Dalam YUNUS 3 penduduk Ninive yang kafir diselamatkan tidak karena berubah agama, mereka memang tidak pindah agama, melainkan karena menyeru kepada Elohim dan menjalani pertobatan moral. Dan kita janganlah melupakan "orang-orang kafir suci" dari Perjanjian Lama misalnya: Ratu Sheba dalam 1Raja 10 dan orang jujur yang bernama Ayub.
Dalam Perjanjian Baru, Kisah 10 mengisahkan Kornelius yang disebut sebagai orang suci bahkan sebelum baptisannya.
Dalam Kisah 10:34-35 Petrus sendiri menyatakan: " ......... aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun  yang takut akan Allah dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya", dan bagian klasik dalam 1Tim 2:3-4 mengatakan "........Allah penyelamat kita ......  menghendaki semua orang diselamatkan  dan memperoleh pengetahuan kebenaran".
Dari teks-teks di atas, tidakalah mengejutkan mendapatkan pernyataan VATIKAN II, bahwa orang-orang non-Kristiani yang tulus hati digerakkan oleh "rahmat" dan mengetahui kehendak Allah "melalui ketukan suara hati" bahwa ada "kebaikan atau kebenaran" dalam hidup mereka; bahwa Kristus "menerangi" mereka dan bahwa mereka "Akhirnya memiliki hidup"  (LG 16).
Konsili Vatikan II melanjutkan menyatakan bahwa orang-orang yang belum pernah mendengar Injil memiliki "IMAN" dan "dihubungkan dengan Misteri Paskah ini", wafat dan kebangkitan Kristus. (AG 7; GS 22)
 
Tentang agama-agama Non-Kristiani seperti HINDU dan Buddha yang berkembang terpisah dari Yudaisme dan Agama Kristen, Konsili Vatikan II mengatakan dengan hormat besar "Gereja Katolik tak menolak, apapun yang yang benar dan suci dalam agama-agama itu" yang "tidak jarang memantulkan sinar Kebenaran yang menerangi semua orang" (NA 2).
Dokumen yang sama mengatakan hal yang sama hormat terhadap agama ISLAM yang mengandung unsur-unsur Yudaisme dan Kristianitas, dan berbicara tentang Yudaisme, sumber asal kekristenan.
Dengan demikian, Gereja Katolik yang orang-orangnya setia kepada Kitab Suci dan Tradisi mengajarkan bahwa: orang-orang dari agama lain dapat diselamatkan.
 
6.  Dengan tulisan-tulisan ini bukankah di sini mempunyai contoh adanya konflik antara ajaran Katolik dan Kitab Suci?
Dalam Yohanes 14:6  Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup....."
Jika yang seperti itu dikatakan konflik, maka bukankah ada konflik juga antara Yohanes 14:6 dan pernyataan tegas dari teman dekat Yesus, yaitu Petrus dalam Kis. 10:34-35? Dan juga konflik antara Yohanes 14:6 dengan 1Timotius 2; 3-4?
Yang benar adalah tak ada konflik, karena semua orang yang selamat diselamatkan oleh Kristus. Mungkin bisa membantu pemahaman iman kita untuk mengingat kembali  bahwa Kristus menyentuh semua hidup manusia.
Pertama-tama, segala sesuatu diciptakan melalui Kristus yang menjaga mereka dalam keberadaannya (Yoh. 1:1-4 dan 1Kor. 1:24). Kedua, seperti yang dinyatakan oleh Konsili Vatikan II, oleh InkarnasiNya".  Putra Allah dengan cara tertentu telah menyatukan diriNya dengan setiap orang" (GS 22).
Akhirnya, Kristus dibangkitkan; Dia pada saat ini hadir pada semua manusia, menyampaikan rahmat dan keselamatan.
Maka, bahkan bagi orang yang belum mendengar namaNya, Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup.
 
7.  Apakah pengampunan dosa mutlak bagi keselamatan, dan sekali orang menjadi Kristiani, maka baik laki-laki maupun perempuan, dia sudah diampuni sepenuhnya?
Walaupun pertobatan menjadi tanda dimulainya hidup baru dalam lingkup rahmat, tidak berarti menyebabkan berhentinya dosa dalam hidup pribadi manusia. Orang-orang Kristiani memang telah diampuni, tetapi oleh karena kita juga terus berdosa, maka kita harus terus menerus mencari dan menerima pengampunan Allah.
Jadi pengampunan Allah membuat kita mampu untuk mengampuni diri kita dan orang lain yang bersalah kepada kita.
 
8.  Apa arti Baptis dalam kaitan dengan keselamatan
Baptisan adalah Ritus inisiasi kedalam Gereja yang adalah Tubuh Kristus sendiri. Baptisan membersihkan orang dari dosa asal dan dari segala dosa pribadi. Memberikan kepada mereka kelahiran kembali sebagai anak-anak Allah; memasukkan mereka ke dalam Gereja; menyucikan mereka dengan Karunia Roh Kudus, dan memberikan mereka cap yang tak terhapuskan pada jiwa mereka; memberi mereka ke dalam peranan Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Selanjutnya Gereja selalu mengajarkan bahwa baptisan penting untuk penyelamatan baptisan adalah perlu untuk keselamatan dalam arti yang sama bahwa menjadi milik Gereja perlu untuk Keselamatan.
Seperti orang-orang yang dibaptis dapat diselamatkan, demikian juga orang-orang yang tidak dibaptis diselamatkan, kecuali kalau orang-orang ini tahu bahwa Allah memanggil mereka kepada Gereja dan dengan sengaja menolak panggilan itu.
 
 
Sumber           :  Catholic Answers to Fundamentalists' Questions, Philip St. Romain Liguori  Publications, 1984
Nihil Obstat     :   F. Hartono, SJ
Imprimatur       :   Y. Harjoyo, Pr. Vikjen
 
 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.