HIDUP MANUSIA BERSUMBER PADA ALLAH

 
Ensiklik “Evangelium Vitae” (Injil Kehidupan), # 44
oleh:  Paus Yohanes Paulus II, 25 Maret 1995


[]Hidup yang disalurkan oleh orangtua bersumber pada Allah. Itu ditegaskan dalam banyak teks Kitab Suci yang dengan penuh hormat dan kasih sayang berbicara tentang kehamilan, pembentukan hidup dalam rahim ibu, melahirkan, dan kaitan erat antara saat awal hidup dan karya Allah Pencipta.

 
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau” (Yeremia 1:5): hidup setiap orang, sejak awal mula, merupakan bagian rencana Allah. Dari jurang penderitaannya Ayub berhenti untuk merenungkan karya Allah, yang secara mengagumkan membentuk tubuhnya dalam rahim ibunya. Di situ ditemukannya alasan untuk percaya, dan ia mengungkapkan kepercayaannya, bahwa ada rencana ilahi bagi hidupnya: “Tangan-Mu-lah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku? Ingatlah, bahwa Engkau yang membuat aku dari tanah liat, tetapi Engkau hendak menjadikan aku debu kembali? Bukankah Engkau yang mencurahkan aku seperti air susu, dan mengentalkan aku seperti keju? Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat. Hidup dan kasih setia Kau karuniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku” (Ayub 10:8-12). Ungkapan-ungkapan penuh rasa hormat dan kagum atas campur tangan Allah dalam hidup seorang anak dalam rahim ibunya berkali-kali terdapat dalam Mazmur-mazmur.

Bagaimana orang dapat berpikir, bahwa bahkan satu saat pun dalam proses berkembangnya hidup yang mengagumkan itu dapat dipisahkan dari karya Sang Pencipta yang arif-bijaksana dan penuh kasih, dan dijadikan mangsa bagi selera manusia?


 
[]

“Hidup adalah suatu anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Kehidupan itu ada bahkan dalam diri bayi-bayi yang belum dilahirkan. Janganlah pernah tangan-tangan manusia mengakhiri suatu kehidupan. Saya yakin bahwa jerit tangis kanak-kanak yang kehidupannya diakhiri sebelum kelahiran mereka sampai ke telinga Allah.”  ~ Beata Teresa dari Calcutta
 
 
 
Gereja Senantiasa Mengutuk Aborsi

oleh: Romo William P. Saunders *
 
Saya berselisih pendapat dengan seorang teman tentang ajaran Gereja mengenai aborsi. Menurutnya Gereja tidak menentang aborsi hingga abad ke-20; sebaliknya saya mengatakan bahwa Gereja senantiasa menentang aborsi. Apakah pendapat saya benar?  ~ seorang pembaca di Leesburg


Gereja Katolik Roma tak henti-hentinya mengutuk aborsi - yang secara langsung dan terencana mencabut nyawa bayi yang belum dilahirkan. Pada prinsipnya, umat Kristen Katolik percaya bahwa semua kehidupan adalah kudus sejak dari masa pembuahan hingga kematian yang wajar, dan karenanya mengakhiri kehidupan manusia yang tidak bersalah, baik sebelum ataupun sesudah ia dilahirkan, merupakan kejahatan moral. Gereja mengajarkan, “Kehidupan manusia adalah kudus karena sejak awal ia membutuhkan 'kekuasaan Allah Pencipta' dan untuk selama-lamanya tinggal dalam hubungan khusus dengan Penciptanya, tujuan satu-satunya. Hanya Allah sajalah Tuhan kehidupan sejak awal sampai akhir: tidak ada seorang pun boleh berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan mana pun, untuk mengakhiri secara langsung kehidupan manusia yang tidak bersalah” (“Donum vitae,” 5).
Hormat terhadap kudusnya kehidupan dalam rahim berakar dari kekristenan bangsa Yahudi. Peradaban bangsa Yahudi kuno jauh berbeda dari peradaban bangsa-bangsa sekitarnya di Palestina di mana pembunuhan bayi, persembahan korban bayi dan aborsi merupakan hal biasa, dan dalam beberapa kasus merupakan hal yang lazim. Bagi bangsa Yahudi pada masa itu dan bagi bangsa Yahudi Orthodoks hingga sekarang ini, semua kehidupan manusia adalah ciptaan Tuhan yang dengan daya cipta-Nya menciptakan anak dalam rahim ibunya dan membentuknya tahap demi tahap hingga mencapai kepenuhan hidupnya. Pewahyuan dalam Perjanjian Lama yang diwarisi dan diterima Gereja memberikan bukti nyata bahwa kehidupan dalam rahim dianggap kudus. Musa menyatakan, “Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” (Ulangan 28:2-6). Malaikat mengatakan kepada ibu Simson, “Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir.” (Hak. 13:5). Ayub menyatakan, “Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?” (Ayub 31:15). Dalam Mazmur 139:13 kita berdoa, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.”
Perjanjian Lama juga memberikan kesaksian bagaimana Tuhan telah memberikan tanda secara istimewa kepada masing-masing pribadi untuk suatu peran kepemimpinan yang penting sejak saat pertama kehidupan mereka. Nabi Yesaya memaklumkan, “Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: `Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.' Tetapi aku berkata: `Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.' Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya - maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku!” (Yesaya 49: 1-5). Demikian juga Nabi Yeremia mengenangkan, “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: `Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.'” (Yeremia 1:4-5).
Sesudahnya beberapa tafsiran para rabi mengijinkan pengecualian dalam aborsi, namun demikian tidak ada pembenaran yang pasti atau yang berlaku umum. Pada dasarnya, ajaran Yahudi menjunjung tinggi kekudusan hidup bayi yang belum dilahirkan.
Peradaban Greco-Romawi, pada jaman Kristus dan jaman mulai berkembangnya kekristenan, mengijinkan aborsi dan pembunuhan bayi-bayi. Menurut hukum Romawi, aborsi maupun pembunuhan bayi tak ada bedanya sebab seorang bayi tidak memiliki status hukum hingga ia diterima oleh pater familias, kepala keluarga; sebelum diterima, seorang bayi bukanlah seorang pribadi dan dengan demikian diperkenankan dibinasakan. Di beberapa wilayah dalam Kekaisaran Romawi, aborsi dan pembunuhan bayi-bayi begitu lazim hingga tingkat kelahiran berada di bawah angka nol. (Sungguh menyedihkan bahwa sebagian besar negara Eropa menghadapi masalah serupa sekarang ini karena kontrasepsi dan aborsi).
Sementara itu, kaum Kristiani tetap menjunjung tinggi kekudusan hidup bayi yang belum dilahirkan, bukan saja karena pewahyuan seperti yang disampaikan dalam Perjanjian Lama, tetapi juga karena misteri inkarnasi. Umat Kristen perdana, hingga sekarang kita pun juga, percaya bahwa Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus, dan melalui dia, Yesus Kristus - pribadi kedua dalam Tritunggal Mahakudus, sesuai rencana Bapa, sungguh Allah - menjadi sungguh manusia. Tak seorang pun Kristen yang saleh akan menyangkal bahwa Yesus adalah sungguh manusia yang hidupnya dikuduskan sejak dari saat pertama perkandungan-Nya dalam rahim Bunda-Nya, Santa Perawan Maria.
Kisah kunjungan Maria kepada Elisabet - saudarinya, lebih mempertegas kekudusan hidup dalam rahim dan adanya pribadi dalam diri bayi yang belum dilahirkan: “Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: `Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.'” (Lukas 1:39-45).
Seturut wahyu, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dengan penekanan khusus pada misteri inkarnasi, Gereja Katolik Roma mengutuk praktek aborsi. Beberapa contoh ajaran dalam rentang waktu tiga ratus tahun pertama sejak berdirinya Gereja meliputi yang berikut ini: “Didache” (“Ajaran dari Keduabelas Rasul,” thn 80 M) menegaskan, “Engkau tidak boleh melakukan abortus dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan.” “Surat Barnabas” (thn 138) juga mengutuk aborsi. Athenagoras (thn 177) dalam tulisannya “Pembelaan Atas Nama Umat Kristen” (suatu pembelaan terhadap paham kafir) menegaskan bahwa umat Kristen menganggap para wanita yang menelan ramuan atau obat-obatan untuk menggugurkan kandungannya sebagai para pembunuh; ia mengutuk para pembunuh anak-anak, termasuk anak-anak yang masih ada dalam rahim ibu mereka, “di mana mereka telah menjadi obyek penyelenggaraan ilahi.” Tertulianus (thn 197) dalam “Apologeticum” menegaskan hal serupa, “mencegah kelahiran adalah melakukan pembunuhan; tidak banyak bedanya apakah orang membinasakan kehidupan yang telah dilahirkan ataupun melakukannya dalam tahap yang lebih awal. Ia yang bakal manusia adalah manusia.” Pada tahun 300, Konsili Elvira, suatu konsili gereja lokal di Spanyol, mengeluarkan undang-undang khusus yang mengutuk aborsi (Kanon 63).
Setelah pengesahan kekristenan pada tahun 313, Gereja tetap mengutuk aborsi. Sebagai contoh, St. Basilus dalam sepucuk suratnya kepada Uskup Amphilochius (thn 374) dengan tegas menyatakan ajaran Gereja: “Seorang wanita yang dengan sengaja membinasakan janin haruslah diganjari dengan hukuman seorang pembunuh” dan “Mereka yang memberikan ramuan atau obat-obatan yang mengakibatkan aborsi adalah para pembunuh juga, sama seperti mereka yang menerima racun itu guna membunuh janin.”

Begitu banyak contoh dapat disebutkan, tetapi poin utamanya adalah Gereja Katolik Roma sejak dari awal secara terus-menerus menjunjung tinggi kekudusan hidup dari bayi yang belum dilahirkan dan mengutuk tindakan aborsi langsung (abortus langsung, artinya abortus yang dikehendaki baik sebagai tujuan maupun sebagai sarana, KGK No. 2271). Menentang ajaran ini berarti menyangkal ilham Kitab Suci dan Tradisi kristiani. Kita, sebagai umat Kristen Katolik, patut berdoa demi berubahnya hati nurani umat manusia dan dengan gagah berani mengajarkan, mempertahankan serta membela kekudusan hidup manusia, teristimewa bayi-bayi tak dilahirkan yang tak berdaya dan tak bersalah.


* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
Sumber: “Straight Answers: Church Has Always Condemned Abortion” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
 

Menentang Aborsi Tetapi Pro-Choice?

[]

Terkadang saya bertemu dengan orang-orang Katolik - terutama di tempat saya bekerja - yang mengatakan, “Secara pribadi saya menentang aborsi, tetapi saya pro-choice.” Bagi saya, pernyataan ini tak masuk akal, tetapi bagaimana saya dapat menyanggah mereka?  ~ seorang pembaca di Sterling

 

Gerakan “pro-abortion” memperoleh banyak dukungan dengan mempergunakan label “pro-choice”. Pertama, label “pro-choice” membekukan kepekaan moral kita sebab label ini menutupi fakta bahwa mereka beranggapan siapapun sungguh berhak menggugurkan kandungan, mengabaikan bukti-bukti ilmu pengetahuan dan medis, serta mengalihkan perhatian orang dari tindakan aborsi itu sendiri. Kedua, gagasan “pro-choice” tampaknya menarik bagi orang-orang Amerika yang mengagungkan kebebasan, dan gagasan bebas untuk memilih daripada dipaksa untuk melakukan sesuatu.
Dalam menyanggah pandangan “pro-choice” ini, kita pertama-tama harus memfokuskan diri pada inti dari pilihan itu, yakni seorang anak. Dengan pendekatan dari sudut pandang ilmu pengetahuan murni, kita tahu bahwa saat pembuahan terjadi, seorang manusia yang baru dan unik tercipta. Kode genetik DNA membuktikan keunikan ini. (Jika tidak, mengapa kode DNA menjadi begitu penting dalam mengidentifikasi para kriminal?) Disamping itu, sejak dari saat pembuahan, sang anak terus bertumbuh dan berkembang; kemudian ia dilahirkan, tumbuh menjadi seorang remaja dan lalu menjadi seorang dewasa, dan pada akhirnya meninggal dunia. Namun demikian, patut diperhatikan bahwa sepanjang tahap-tahap itu ia adalah manusia yang sama yang dulu dikandung: segala yang kemudian “ditambahkan” adalah makanan, waktu dan semoga juga banyak kasih. Sebab itu, Gereja kita mengajarkan, “Dengan pembuahan sel telur mulailah hidup baru, yang bukan hidup ayah dan bukan hidup bunda, melainkan hidup makhluk baru, yang tumbuh sendiri. Tak pernah ia menjadi manusia jika ia tidak sudah manusia sejak semula” (Declaratio de abortu procurato, No. 12, 1974).
Bergerak melampaui pengetahuan ke tingkat iman, kita juga percaya bahwa Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan dan menanamkan suatu jiwa yang unik dan abadi ke dalam tubuh. Jiwa ini - prinsip hidup rohani dalam manusia - adalah apa yang memberikan kepada tiap-tiap orang identitas sebagai diciptakan seturut gambar dan citra Allah (bdk Katekismus Gereja Katolik, No. 363-368). Bahkan jika terdapat keraguan apakah Tuhan menanamkan jiwa pada saat pembuahan atau keraguan apakah anak dalam kandungan adalah sungguh seorang manusia, maka “adalah dosa berat menempuh risiko pembunuhan” (Declaratio, No. 13). “Tak pernah ia menjadi manusia jika ia tidak sudah manusia sejak semula.”
Kita mendapati dalam Kitab Suci kesaksian mengenai kesakralan hidup dalam rahim. Tuhan bersabda kepada ibunda Simson, “Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah!” (Hakim-Hakim 13:5). Ayub mengatakan, “Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?” (Ayub 31:15). Dalam Mazmur 139:13, kita berdoa, “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” Tuhan bersabda kepada Yeremia, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yer. 1:5).
Bagi umat Kristiani, kesakralan hidup dalam rahim dan keyakinan bahwa anak dalam kandungan adalah sungguh seorang manusia, lebih jauh diperteguh oleh Inkarnasi: Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus, dan Yesus Kristus sungguh Allah memasuki dunia ini dengan menjadi juga sungguh manusia. Meski Yesus masih dalam rahim BundaNya, St. Elisabet dan St. Yohanes Pembaptis, juga masih dalam rahim ibunya, bersukacita atas kehadiran Tuhan. Adakah seorang yang berani mengatakan bahwa Yesus bukanlah seorang manusia dalam rahim BundaNya? Tak heran bahwa dalam Didaché, disebut juga Ajaran Keduabelas Rasul, - buku manual pertama Gereja mengenai moral, norma-norma liturgis, dan doktrin yang ditulis sekitar tahun 80M - kita mendapati larangan moral, “Engkau tidak boleh melakukan abortus dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan.”
Memahami bahwa inti dari pilihan ini menyangkut seorang pribadi manusia yang unik, maka pilihan dari tindakan yang ditawarkan menjadi jelas: memelihara dan membela kehidupan manusia dalam rahim ini atau membinasakannya. Karena menyangkut seorang manusia, maka pilihan terakhir tidak saja menyangkut sekedar mengakhiri suatu kehamilan atau membinasakan suatu janin; melainkan, pilihan terakhir ini menyangkut juga suatu pembunuhan langsung atas manusia yang tak berdosa, suatu pembunuhan yang disengaja. Sebab itu, tindakan aborsi pada hakekatnya adalah suatu tindakan yang jahat. Konsili Vatican Kedua menegaskan, “Kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguguran dan pembunuhan anak merupakan tindak kejahatan yang durhaka” (Gaudium et Spes, No. 51).
Kita tidak mempunyai hak untuk memilih kejahatan, apapun situasinya atau bahkan jika tampaknya akan mendatangkan suatu “kebajikan”. Dengan sengaja memilih untuk melakukan yang jahat adalah menghina Tuhan Sendiri, yang seturut gambar dan citra-Nya kita dijadikan. Dalam “pandangan pro-choice,” orang tidak memilih antara dua tindakan yang baik; melainkan orang membutakan mata terhadap tindakan aborsi yang secara obyektif adalah jahat, dan berpura-pura bahwa hal ini adalah sama benarnya secara moral dengan melindungi anak dalam rahim. Mengatakan bahwa seorang adalah “pro-choice” dalam hal ini tak ada bedanya dengan mengatakan bahwa seorang adalah “pro-choice” terhadap apartheid, kamp konsentrasi Nazi atau hukum separasi Jim Crow - “Secara pribadi saya menentangnya, tetapi setiap orang harus memilih.”
Meski kita hidup dalam suatu masyarakat yang plural dan demokratis, kita sebagai umat Kristiani tidak dapat mengabaikan kebenaran, entah kebenaran itu kita dapati dalam wahyu ilahi ataupun dalam hukum kodrat yang kita kenali melalui akal budi. Pada tanggal 21 Nopember 2002, Kongregasi untuk Ajaran Iman yang diketuai oleh Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI), dengan sepersetujuan Paus Yohanes Paulus II menerbitkan “Catatan Ajaran pada Beberapa Pertanyaan yang Berhubungan dengan Peran Serta Umat Katolik di Dalam Kehidupan Politik”, menegaskan point ini: “Ada semacam budaya relativisme sekarang ini, terbukti dalam konseptualisasi dan pembelaan terhadap etis pluralisme, yang menyebabkan kemerosotan dan kehancuran akal budi dan prinsip-prinsip hukum moral dasar …. Sebagai akibatnya, masyarakat menuntut otonomi penuh atas pilihan-pilihan moral mereka, dan para pembuat undang-undang bersikukuh bahwa mereka menghormati kebebasan untuk memilih ini dengan memberlakukan undang-undang yang mengabaikan prinsip-prinsip etika dasar dan menyerah pada budaya dan kecenderungan-kecenderungan moral sekilas, seolah segala pandangan yang mungkin dalam hidup memiliki nilai yang sama…. Demokrasi haruslah didasarkan pada dasar yang benar dan kokoh atas prinsip-prinsip etis yang tak dapat diganggu-gugat, yang adalah tiang pondasi hidup dalam masyarakat.” Ketika kehidupan seorang kanak-kanak yang belum dilahirkan tak lagi dianggap sakral dan dilindungi, melainkan harus tunduk pada tuntutan aborsi sebagai pilihan yang disahkan, maka segala kehidupan pada akhirnya menjadi rentan, seperti terbukti dalam meningkatnya eutanasia dan gerakan-gerakan bunuh diri dengan dibantu di dunia kita.
Mengenai argumentasi “pro-choice”, almarhum Bapa Suci kita yang terkasih Paus Yohanes Paulus II menyatakan, “Siapapun dapat melihat bahwa alternatif di sini hanyalah tampaknya belaka. Sungguh tidaklah mungkin untuk berbicara mengenai hak memilih apabila menyangkut suatu kejahatan moral yang jelas, apabila yang dipertaruhkan adalah perintah Tuhan, `Jangan membunuh!'” (Melintasi Ambang Harapan). Umat Kristiani wajib terus-menerus membela kesakralan hidup manusia di hadapan argumentasi pro-choice yang terselubung serta membahayakan ini. Menjadi seorang yang “pro-life” bukannya memaksakan nilai-nilai pada yang lain; tetapi, menjadi seorang yang “pro-life” berarti menjunjung tinggi kebenaran Tuhan dan martabat setiap manusia, baik yang sudah maupun yang belum dilahirkan.
Dalam situasi-situasi yang sulit dan tragis - pemerkosaan dan incest, seorang remaja putri yang hamil, atau seorang kanak-kanak yang tak sempurna atau cacat - wajib kita ingat bahwa seorang kanak-kanak adalah seorang manusia yang tak berdosa yang bukan karena kesalahannya sendiri dikandung. Di sini berbagi salib Tuhan kita, tak diragukan lagi, menjadi suatu yang nyata. Dalam kasus-kasus demikian, kita sebagai warga Gereja patut mendukung baik si ibu maupun si bayi melalui doa-doa kita dan dengan membuka hati, rumah dan dompet kita demi menolong mereka. Kita wajib berkurban demi memelihara kehidupan manusia.
Pada musim gugur tahun 2001, Uskup Arlington Paul S. Loverde menerbitkan sebuah surat guna menandai Hari Minggu Menghormati Kehidupan di mana beliau mengajarkan, “Menjadi seorang Katolik yang taat dan saleh pada intinya berarti bahwa ia adalah seorang yang pro-life dan bukan pro-choice. Menjadi seorang yang pro-choice pada intinya berarti mendukung hak seorang perempuan untuk mengakhiri kehidupan bayinya, entah sebelum sang bayi dilahirkan ataupun dengan kelahiran parsial. Tak seorang Katolik pun dapat menyatakan diri sebagai seorang warga Gereja yang taat dan saleh sementara ia membela atau secara aktif mendukung serangan-serangan langsung terhadap kehidupan manusia yang tak berdosa. Di samping itu, melindungi kehidupan manusia sejak dari saat pembuahan hingga kematian yang wajar adalah lebih dari sekedar masalah Katolik. Ini adalah masalah moralitas dasar, yang berakar pada hukum kodrat maupun hukum ilahi.”

 

* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
Sumber: “Straight Answers: Against Abortion, but Pro-Choice?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

 

 

Aborsi dan Ekskomunikasi

[]
 

Bertahun-tahun yang silam, saya menggugurkan kandungan saya. Setelah bertahun-tahun saya lewatkan sebagai seorang Katolik yang hilang, saya kembali ke Gereja dan mengaku dosa. Dosa aborsi saya akukan kepada seorang pastor rumah sakit sewaktu saya di sana. Meski bapa pengakuan mengatakan sesuatu mengenai aborsi secara otomatis mendatangkan ekskomunikasi, ia memberikan absolusi juga. Saya tak memikirkan hal itu lagi dan kemudian menyambut sakramen-sakramen (Komuni, Tobat, dan bahkan menikah kembali dalam Gereja). Hanya baru-baru ini saja saya membaca sesuatu mengenai “ritus” untuk mengampuni ekskomunikasi sehingga saya mulai takut akan apa yang telah saya lakukan dan kalau-kalau saya terus melakukan sesuatu yang salah. Mohon bantuan  ~ seorang pembaca ACH

Karena aborsi merupakan suatu pembunuhan yang disengaja atas anak yang tak bersalah yang belum dilahirkan, Gereja sungguh menjatuhkan hukuman yang paling berat, yaitu ekskomunikasi, atas tindakan amoral ini. “Barangsiapa melakukan pengguguran kandungan dan berhasil, terkena ekskomunikasi yang bersifat otomatis” (Kitab Hukum Kanonik, No. 1398). Tidak seperti pelanggaran-pelanggaran lain yang hukumannya masih harus diputuskan oleh otoritas yang berwenang (secara teknis disebut ferendae sententiae) untuk menjatuhkan hukuman ekskomunikasi, maka hukuman di sini adalah otomatis (secara teknis disebut latae sententia).
Perlu dicatat bahwa hukuman ini tidak hanya dijatuhkan atas perempuan yang menggugurkan kandungannya. Siapapun orang beriman Katolik yang menjadi pelaku-pembantu dalam terlaksananya suatu tindakan aborsi, bahkan meski tidak secara spesifik disebutkan dalam Kanon No. 1398, menerima hukuman ekskomunikasi otomatis yang sama. Di sini pelaku-pembantu adalah dia yang membantu dengan cara begitu rupa hingga tindakan amoral itu tidak akan terlaksana tanpa bantuannya. Sebab itu, dokter yang melakukan aborsi, perawat yang membantu dalam prosedurnya, teman lelaki yang mendorong dilakukannya aborsi dan orangtua yang menanggung biaya aborsi - semuanya adalah pelaku-pembantu, bersalah atas tindakannya, dan sebab itu menerima hukuman yang adil (lihat Kitab Hukum Kanonik, No. 1329.2).
Patut senatiasa kita ingat bahwa hukuman berat ekskomunikasi diadakan pertama-tama guna mencegah terjadinya suatu dosa yang keji (yakni dengan menggerakkan orang untuk berpikir kembali dalam terang hukuman yang akan dijatuhkan, sebelum ia melakukan suatu tindakan), dan kedua guna menggerakkan orang untuk bertobat dan diperdamaikan kembali. Juga, bagi orang yang dikenai ekskomunikasi otomatis, ia harus tahu bahwa hukuman ini ada dan akan dijatuhkan atas suatu pelanggaran tertentu, dan kemudian ia memilih untuk melakukan tindakan tersebut dengan pengetahuan dan kebebasan penuh.
Namun demikian, pintu rekonsiliasi tetap terbuka bagi pendosa yang bertobat. Uskup diosesan mempunyai otoritas untuk mengampuni suatu ekskomunikasi otomatis yang timbul karena aborsi. Pengampunan yang demikian pada umumnya dilakukan dalam Sakramen Tobat.
Uskup pada gilirannya dapat mendelegasikan otoritas ini kepada para imam pengakuan. Oleh karena itu, dalam Priests' Faculties and Permissions yang diterbitkan oleh Uskup Arlington, setiap imam di Keuskupan Arlington mempunyai otoritas dalam konteks Sakramen Tobat untuk mengampuni ekskomunikasi otomatis dan memberikan absolusi pertama kali orang mengakukan dosa telah melakukan atau membantu terlaksananya suatu aborsi.
Namun, dalam kasus-kasus di mana seorang pada suatu kesempatan sebelumnya telah mengakukan dosa karena melakukan atau membantu terlaksananya suatu aborsi, tetapi kemudian mengulangi pelanggaran yang sama, bapa pengakuan wajib menghubungi Uskup yang akan memberikan penitensi yang adil. Bapa pengakuan kemudian menemui sang peniten, menjatuhkan penitensi dan memberikan absolusi. (Jika bapa pengakuan menilai bahwa peniten merasa berat berada dalam keadaan berdosa berat selama waktu yang diperlukan bagi Uskup yang berwenang untuk membereskannya, Kitab Hukum Kanonik menetapkan bahwa bapa pengakuan dapat mengampuni suatu ekskomunikasi otomatis dan kemudian menginformasikannya ke Bapa Uskup (No. 1357)). Pada intinya, Gereja berjuang untuk tidak hanya menjunjung tinggi kebenaran mengenai kesakralan hidup dan untuk mencegah orang melakukan suatu dosa yang demikian keji, melainkan juga untuk mendamaikan kembali pendosa dan untuk menjadi alat belas kasihan dan kerahiman Tuhan.
Secara khusus kembali kepada pembaca yang menyampaikan pertanyaan di atas, perkenankan saya menawarkan bimbingan sebagai berikut: Tampaknya anda telah mengikuti prosedur yang benar dan telah secara pantas diperdamaikan kembali dengan Tuhan dan Gereja. Puji syukur atas rahmat Tuhan yang telah menggerakkan anda ke dalam rekonsiliasi. Sekarang, perolehlah kesempatan-kesempatan penuh rahmat di mana anda dapat melibatkan diri dan menolong orang-orang lain yang sedang menimbang-nimbang untuk menggugurkan kandungannya atau yang telah melakukan aborsi. Jika masih ada yang ingin anda tanyakan lebih lanjut mengenai masalah ini, silakan hubungi imam paroki anda.

 

Sumber: “Straight Answers: Abortion and Excommunication” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved.; www.catholicherald.com

 

Ajaran Biblis Menentang Aborsi

[]

 

 

Kitab Suci dengan jelas mengajarkan bahwa aborsi adalah salah. Ajaran ini muncul dengan berbagai macam cara dan dengan berbagai macam alasan. Sebagian orang berkeberatan karena kata “aborsi” tidak didapati dalam Kitab Suci, dan memang benar demikian. Akan tetapi, ajaran mengenai aborsi ada di sana. Hal yang sama berlaku pula bagi banyak ajaran. Kata “Tritunggal” tidak didapati dalam Kitab Suci, tetapi ajaran mengenai Tritunggal sungguh ada di sana. Bagaimanapun, seorang yang bermaksud menyangkal ajaran mengenai aborsi akan tetap menyangkalnya juga bahkan andai kata itu ada di sana. Marilah kita lihat beberapa alasan Biblis mengapa aborsi, pembinasaan secara sengaja atas seorang kanak-kanak dalam rahim, adalah sungguh amat salah.

1. Kitab Suci mengajarkan bahwa kehidupan manusia berbeda dari segala bentuk kehidupan lainnya, sebab manusia diciptakan seturut gambar Allah Sendiri.
Kisah penciptaan laki-laki dan perempuan dalam Kitab Kejadian (Kejadian 1:26-31; 2:4-25) mengisahkan demikian, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27).
Kata “diciptakan” dipergunakan sebanyak tiga kali di sini, menekankan saat pemahkotaan yang istimewa dalam keseluruhan proses Tuhan menciptakan dunia dan segala yang ada di dalamnya. Laki-laki dan perempuan diberi-Nya “kuasa” atas segala ciptaan lainnya di atas bumi.
Bahkan dosa asal pun tidak menghapuskan gambar Allah dalam diri manusia. St. Yakobus berbicara mengenai gambar Allah ini dan mengatakan bahwa oleh karena gambar ini kita bahkan tidak patut berbicara jahat satu sama lain. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah … Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (Yakobus 3:9-10).
Gambar Allah! Inilah artinya menjadi manusia! Kita bukan hanya sekedar setumpuk sel-sel yang secara acak dilemparkan oleh suatu kekuatan yang tak dikenali. Melainkan, kita sungguh merefleksikan Allah yang abadi, yang mengenali kita sejak dari sebelum kita dijadikan, dan dengan sengaja menciptakan kita.
Dari lubuk tragedi aborsi terdapat pertanyaan seperti yang diangkat dalam Mazmur: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu” (Mazmur 8:5-7).
Inilah kuncinya. Bukan hanya Tuhan menciptakan kita, melainkan Ia menghargai kita. Kitab Suci mengisahkan kepada kita mengenai Allah yang tergila-gila mengasihi kita, begitu rupa hingga Ia menjadi seorang dari antara kita dan bahkan wafat bagi kita ketika kita masih berdosa (lih. Roma 5:6-8). Di hadapan semua ini, dapatkah kita mengatakan bahwa manusia dapat dibinasakan dan dibuang begitu saja? “Tuhan tidak menjadikan sampah.” Tuhan juga tidak wafat demi sampah pula. Jika kita percaya Kitab Suci, kita wajib percaya bahwa hidup manusia adalah sakral, lebih sakral dari yang pernah dapat kita bayangkan!

2. Kitab Suci mengajarkan bahwa anak-anak adalah berkat.
Tuhan memerintahkan leluhur pertama kita, “Beranakcuculah dan bertambah banyak” (Kejadian 1:28). Mengapa? Tuhan Sendiri adalah kesuburan. Kasih senantiasa mengalir berlimpah ke dalam hidup. Ketika ibu pertama melahirkan anak pertamanya, ia berseru, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN” (Kej 4:1). Pertolongan Tuhan itu amat penting, sebab Ia berkuasa atas hidup manusia dan asal-usulnya. Orangtua bekerjasama dengan Tuhan dalam meneruskan kehidupan. Oleh sebab keseluruhan proses ini ada dalam kuasa Tuhan, maka adalah dosa menginterupsinya. Nabi Amos mengutuk bani Amon, “Oleh karena mereka membelah perut perempuan-perempuan hamil di Gilead” (Amos 1:13). “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mazmur 127:3).

3. Kitab Suci mengajarkan bahwa anak-anak dalam rahim adalah sungguh seorang anak manusia, yang bahkan memiliki hubungan dengan Tuhan.
Frasa “mengandung dan melahirkan” dipergunakan berulangkali (lih Kejadian 1:17) dan sang individu memiliki identitas yang sama baik sebelum maupun sesudah dilahirkan. “Dalam dosa aku dikandung ibuku,” demikian kata-kata pemazmur dalam Mazmur 51:7. Kata-kata yang sama dipergunakan bagi anak-anak sebelum dan sesudah dilahirkan (“Brephos”, yaitu “anak” dipergunakan dalam Lukas 1:41 dan Lukas 18:15).
Tuhan mengenal anak yang belum dilahirkan. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku … Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi” (Mazmur 139:13,15). Tuhan juga membantu dan memanggil anak yang belum dilahirkan. “Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan … sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku” (Mazmur 22:10-11). “Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (St. Paulus kepada jemaat di Galatia 1:15).
4. Kitab Suci berulangkali mengutuk pembunuhan orang-orang yang tak bersalah.
Hal ini mengalir dari segala yang telah kita lihat sejauh ini. Jari Tuhan sendiri menulis di atas loh batu, “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13, Ulangan 5:17) dan Kristus mempertegasnya (Matius 19:18 - perhatikan bahwa Yesus menyebutkan perintah ini di urutan pertama.) Kitab Wahyu menegaskan bahwa orang-orang pembunuh tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Surga (Wahyu 22:15).
Pembunuhan anak-anak teristimewa dikutuk Tuhan melalui para nabi. Di tanah yang Tuhan berikan kepada umat-Nya untuk didiami, bangsa-bangsa asing mempunyai kebiasaan mengorbankan anak-anak mereka ke dalam api. Tuhan bersabda kepada umat-Nya bahwa mereka tidak boleh ikut dalam dosa ini. Namun demikian, mereka melakukannya, seperti dikisahkan dalam Mazmur 106, “Tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja … Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat, dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah” (Mazmur 106: 35, 37-38). Dosa mengorbankan anak-anak ini, sesungguhnya disebut sebagai salah satu alasan utama mengapa Kerajaan Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur dan orang-orangnya dibawa ke pembuangan. “Mereka mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api … Sebab itu TUHAN sangat murka kepada Israel, dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya” (2 Raja-raja 17:17-18).

5. Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan adalah Tuhan Keadilan.
Tindakan keadilan adalah tindakan campur tangan bagi yang tak berdaya, suatu tindakan membela mereka yang terlalu lemah untuk membela diri mereka sendiri. Dalam menubutkan Mesias, Mazmur 72 mengatakan, “Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya … Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong” (Mazmur 72:7,12). Yesus Kristus adalah keadilan kita (1Korintus 1:30) sebab Ia membebaskan kita dari dosa dan maut ketika kita tidak punya penolong (lih. Roma 5:6, Efesus 2:4-5).
Jika Tuhan melaksanakan keadilan bagi umat-Nya, Ia berharap umat-Nya melaksanakan keadilan satu sama lain. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:36). “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37). “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yohanes 15:17).
Aborsi melawan ajaran-ajaran ini. Aborsi adalah kebalikan dari keadilan. Aborsi adalah pembinasaan mereka yang tak berdaya, dan bukannya menolong mereka. Jika umat Tuhan tidak campur tangan untuk menyelamatkan mereka yang hidupnya terancam, maka orang tidak akan berkenan atau beribadat kepada-Nya.
Tuhan bersabda melalui Yesaya, “Siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh … Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya … Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu … belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:12-17).
Sungguh, mereka yang beribadat kepada Tuhan tetapi mendukung aborsi jatuh ke dalam pertentangan yang sama seperti umat Allah di masa silam, dan perlu mendengarkan pesan yang sama.

6. Yesus Kristus memberikan perhatian khusus kepada mereka yang miskin, mereka yang dipandang hina, dan mereka yang dipandang sebelah mata dalam masyarakat.
Ia merobohkan pembatas-pembatas semu yang didirikan orang antara satu dengan yang lainnya, dan sebaliknya Ia memperkenalkan martabat manusia yang sama bagi setiap individu, meski mungkin melawan pandangan umum orang. Sebab itu kita melihat-Nya meraih anak-anak, meski para rasul berusaha menghalang-halangi mereka (Matius 19:13-15); para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, meski para ahli Taurat berkeberatan (Markus 2:16); orang-orang buta, meski orang banyak menegor mereka (Matius 20:29-34); perempuan asing, meski membangkitkan keheranan para murid dan bahkan perempuan itu sendiri (Yohanes 4:9,27); orang-orang asing, meski membangkitkan kemarahan orang-orang Yahudi (Matius 21:41-16); dan orang-orang kusta, meski mereka dikucilkan dari masyarakat (Lukas 17:11-19).
Ketika sampai pada martabat manusia, Kristus menghapuskan perbedaan-perbedaan. St. Paulus memaklumkan, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28).
Senada dengan itu, kita pun dapat pula mengatakan, “tidak ada yang dilahirkan atau yang belum dilahirkan.” Mempergunakan perbedaan ini sebagai dasar dalam menghargai kehidupan atau memberikan perlindungan yang menjadi hak individu adalah tak berarti dan melanggar segala yang diajarkan Kitab Suci. Anak-anak yang belum dilahirkan adalah bagian dari masyarakat kita yang paling terabaikan dan terdiskriminasi. Kristus sendiri sudah pasti memiliki kasih yang istimewa bagi mereka.

7. Kitab Suci mengajar kita untuk mengasihi.
St. Yohanes mengatakan, “Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya” (1Yohanes 3:11-12). Kasih secara langsung dipertentangkan dengan pembunuhan. Mencabut nyawa orang lain adalah melanggar perintah untuk mengasihi. Gagal menolong mereka yang membutuhkan pertolongan dan berada dalam bahaya juga berarti gagal untuk mengasihi.
Kristus mengajarkan hal ini dengan sangat jelas dalam Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37), dalam kisah Orang Kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31), dan dalam banyak kesempatan lain. Tak ada kelompok manusia yang berada dalam keadaan bahaya yang terlebih serius daripada anak-anak dalam rahim. “Barangsiapa … melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1Yohanes 3:17).

8. Hidup menang atas maut.
Inilah salah satu tema paling dasar dari Kitab Suci. Kemenangan hidup telah dinubuatkan dalam janji bahwa kepala ular, melalui siapa maut masuk ke dalam dunia, akan diremukkan (lihat Kejadian 3:15).
Yesaya menubuatkan, “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya” (Yesaya 25:8). Dalam peristiwa pembunuhan pertama, tanah “mengangakan mulutnya” untuk menerima darah Habel. Dalam peristiwa kemenangan terakhir dari hidup, maut sendirilah yang akan “ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? … Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1Korintus 15:54-57).
Aborsi adalah maut. Kristus datang untuk menaklukkan maut, dan karenanya juga aborsi. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).
Hasil akhir dari pertempuran bagi kehidupan telah ditentukan oleh Kebangkitan Kristus. Adalah tergantung pada kita untuk menyebarluaskan kemenangan itu kepada setiap orang. Gerakan pencinta kehidupan (pro-live) adalah pergerakan dari kemenangan yang dimenangkan Kristus kepada kepenuhan atas kemenangan itu pada hari terakhir. “Dan maut tidak akan ada lagi” (Wahyu 21:4). “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Wahyu 22:20).


* Rev. Frank A. Pavone, the national director of Priests for Life, works for the Pontifical Council for the Family in Rome.
Sumber: “The Bible's Teaching Against Abortion” by Rev. Frank A. Pavone; Priests for Life; P.O. Box 141172, Staten Island, NY 10314; Copyright © 2001 Priests for Life; www.priestsforlife.org

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.