"Janganlah Masukkan Kami ke Dalam Pencobaan"

oleh:  Romo William P. Saunders *


Dalam Doa Bapa Kami, kita berdoa, “Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan.” Kedengarannya agak aneh, sebab mengapakah Tuhan hendak memasukkan kita ke dalam pencobaan?  ~ seorang pembaca di Alexandria

Sekilas mendengar, permohonan dalam Doa Bapa Kami ini memang kedengaran seolah kita memohon kepada Tuhan untuk tidak memasukkan kita ke dalam pencobaan. (Doa Bapa Kami dapat kita temukan dalam Matius 6:9-13 dan Lukas 11:2-4). Dalam pengertian tersebut, permohonan ini kedengaran seolah Tuhan akan dengan sengaja menempatkan kita ke dalam pencobaan dan membuat kita jatuh ke dalam dosa. Terjemahan harafiah dari teks bahasa Yunani memang sungguh, seperti yang kita daraskan, “dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan.”
Oleh karena itu, kita patut memahami permohonan ini dalam koteksnya. Dalam permohonan sebelumnya, kita meminta Bapa Surgawi untuk mengampuni kesalahan kita seperti kita pun mengampuni yang bersalah kepada kita - suatu permohonan yang amat positif memohon dengan sangat limpahan rahmat penyembuhan dari Tuhan. Jadi, “janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan” harus pula dilihat secara positif: permohonan ini meminta Bapa untuk tidak memasukkan kita ke dalam pencobaan, tetapi bukan dalam pengertian bahwa Tuhan menempatkan kita ke dalam pencobaan. St. Yakobus mengingatkan kita, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: `Pencobaan ini datang dari Allah!' Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun” (Yak. 1:13). Tuhan kita tidak pernah membuat kita jatuh ke dalam dosa.
Sebaliknya, seperti dinyatakan Katekismus Gereja Katolik, permohonan ini mengandung arti lebih dari sekedar “janganlah membiarkan kami masuk ke dalam pencobaan” atau “janganlah kami dikalahkan olehnya” (No. 2846). Jean Carmignac, ahli Qumran ternama, setelah mempelajari dengan cermat serta seksama, mengemukakan bahwa permohonan ini lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Bapa… peliharalah kami agar kami jangan masuk ke dalam pencobaan” atau “agar kami jangan dikalahkan oleh pencobaan.” Jadi, kita memahami permohonan ini dalam pengertian bahwa Tuhan memberikan kepada kita rahmat untuk mengenali serta menolak pencobaan. Kita patut menyadari bahwa daya upaya manusiawi kita tidaklah cukup untuk menghadapi segala pencobaan yang mengepung kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita membutuhkan pertolongan ilahi untuk membimbing kita hidup kudus.
Selain itu, permohonan ini berseru memohon rahmat untuk bertekun di jalan kekudusan. St. Paulus memaklumkan betapa kita terus-menerus membutuhkan rahmat Tuhan. Ia menulis, “… Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Kor. 10:12-13). Merenungkan perjalanan imannya sendiri di akhir hayatnya, St. Paulus menulis dalam Surat yang Kedua kepada Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (4:7). St. Paulus menyadari pencobaan dari dunia ini, tetapi ia juga menyadari benar rahmat Tuhan yang memungkinkan dia sanggup mengatasinya dan tetap bertekun.
Demikian pula St. Yohanes dari Avila (wafat tahun 1569) dalam suatu khotbah yang disampaikan pada hari Minggu Prapaskah Pertama mengingatkan umat beriman, “Tuhan berdaya kuasa membebaskanmu dari segala sesuatu, dan berkuasa memberimu jauh lebih banyak kebajikan daripada segala yang dapat dilakukan setan untuk mencelakakanmu. Yang dititahkan Tuhan hanyalah agar engkau percaya kepada-Nya, engkau datang dekat kepada-Nya, engkau mengandalkan-Nya dan tidak mengandalkan dirimu sendiri, dan dengan demikian engkau beroleh pertolongan; dan dengan pertolongan ini engkau akan mengalahkan apapun yang ditimpakan neraka atasmu. Janganlah pernah lepas dari pengharapan teguh ini… bahkan jika roh-roh jahat berlegion jumlahnya dan beragam macam pencobaan berat menderamu. Bersandarlah pada-Nya, sebab jika Tuhan bukan penopangmu dan kekuatanmu, maka engkau akan jatuh.”
Menggaris-bawahi pemahaman akan permohonan ini, Ketekismus Romawi dari Konsili Trente, dalam uraiannya akan Bapa Kami menyatakan, “Kita tidak memohon agar sepenuhnya dibebaskan dari pencobaan, sebab hidup manusia merupakan suatu pencobaan yang terus-menerus” (bdk. Ayub 7:1). Jadi, apakah yang kita doakan dalam permohonan ini? Kita berdoa agar pertolongan ilahi tidak meninggalkan kita, agar kita tidak ditipu, atau terlebih parah, kita dikalahkan oleh pencobaan; dan agar rahmat Tuhan senantiasa ada pada kita guna menolong kita apabila kita lemah, menyegarkan serta menguatkan kita dalam menghadapi pencobaan-pencobaan.”
Gagasan untuk bertekun juga mengundang kita untuk merenungkan masa akhir. Sebagian ahli Kitab Suci mengemukakan bahwa permohonan ini bukan menunjuk pada pencobaan-pencobaan sehari-hari agar jatuh dalam dosa, melainkan mungkin pencobaan akhirat yang hebat ketika kita dicobai untuk menyimpang dari Tuhan. Di sini kita akan menghadapi suatu pencobaan besar di masa mendatang dengan serangan gencar yang mengerikan oleh iblis (bdk. 2 Tes. 2:1-8). Doa Bapa Kami versi St. Matius menambahkan “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” - kejahatan bukanlah hanya satu pikiran, melainkan menunjukkan satu pribadi, yaitu iblis. Iblis adalah si penggoda, setan, yang berusaha menghalangi rencana keselamatan Allah dan mencobai kita agar menyimpang dari jalan kekudusan. Ingat pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus berdoa kepada BapaNya, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” Sebab itu, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan; oleh rahmat Tuhan, kita akan sanggup bertahan.
Sementara kita melewatkan Masa Prapaskah, patutlah kita melakukan pemeriksaan batin dengan seksama, mengenali pencobaan-pencobaan serta kelemahan-kelemahan kita, menyesali dosa dan mendapatkan absolusi sakramental. Patutlah kita memohon dengan sangat kepada Tuhan agar melimpahkan rahmat-Nya guna memberikan kepada kita ketetapan hati yang teguh dalam mengikuti-Nya, guna menjadikan kita senantiasa waspada terhadap pencobaan dan kejahatan, dan agar kita bertekun hingga akhir.



* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
Sumber : “Straight Answers: Lead Us Not into Temptation” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.