KONTRASEPSI MENURUT AJARAN GEREJA

oleh: Pastor William P. Saunders
 


Bagian 1:
Kasih Perkawinan

Topik mengenai kontrasepsi begitu kontroversial. Tampaknya hal ini selalu berakhir dengan perdebatan dan banyak orang mengecam Gereja karena ajarannya, termasuk orang-orang Katolik. Saya kurang paham bagaimana mempertahankan ajaran Gereja seperti yang seharusnya. Mohon penjelasan  ~ seorang pembaca di Washington


Pada tanggal 25 Juli, kita menandai 35 tahun diterbitkannya ensiklik Humanae Vitae oleh Paus Paulus VI yang menegaskan ajaran Gereja Katolik yang konsisten mengenai kesakralan kasih perkawinan dan kelirunya kontrasepsi. Tentu, topik ini pastilah akan segera mengundang headlines surat-surat kabar dan juga sebagian orang untuk mengatakan, “Saya tidak sependapat dengan Gereja” atau “Gereja itu salah.” Beberapa umat Katolik bahkan melapor kepada saya bahwa ketika mereka pergi ke suatu gereja Protestan, mereka mendengar khotbah-khotbah yang menyangkal ajaran Gereja mengenai hal ini. Sungguh sayang, banyak umat Katolik tidak memahami ajaran Gereja mengenai kontrasepsi. Di samping itu, banyak imam yang gagal membahas masalah ini dari mimbar - entah dengan cara yang positif dan rasional atau bahkan dengan tidak membahasnya sama sekali. Jadi, kita perlu mengesampingkan segala prasangka dan tafsiran kita yang keliru, membuka pikiran dan hati kita, lalu perlahan masuk ke dalam topik ini. Straight Answer akan membicarakan masalah kontrasepsi ini dalam beberapa bagian, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang jelas dan lebih baik mengenai masalah ini.
Tetapi, sebelum membahas masalah kontrasepsi itu sendiri, pertama-tama kita harus memahami ajaran moral Gereja mengenai perkawinan. Gereja tidak hanya sekedar menyampaikan suatu ajaran moral yang terpisah, melainkan ajaran moral ini didukung oleh suatu kerangka moral mengenai bagaimana seharusnya hidup dilalui di mata Tuhan. Dalam hal ini, kerangka moralnya adalah apa yang telah Tuhan wahyukan mengenai perkawinan.
Pada kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, kita mendapati kebenaran indah ini, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Dalam ayat yang satu ini kita menemukan suatu kebaikan hakiki dan martabat setiap manusia. Kita juga mengenali kebaikan seksualitas manusiawi kita - baik laki-laki maupun perempuan diciptakan seturut gambar dan citra Allah; dan keduanya, baik laki-laki maupun perempuan adalah sama baiknya. Ya, laki-laki dan perempuan berbeda - secara anatomis, fisiologis dan bahkan psikologis (seperti diakui oleh banyak psikolog, bahkan mereka yang “feminist”). Perbedaan-perbedaan ini tidak menyatakan ketidaksetaraan, melainkan saling melengkapi.
Dengan kebenaran ini, kita juga harus melihat kehidupan manusiawi kita tidak hanya sebatas dunia ini saja, melainkan juga dengan suatu pandangan kepada rancangan yang adikodrati dan abadi. Tuhan menjadikan kita bagi DiriNya, dan kita berharap suatu hari kelak mendapatkan kepenuhan hidup ini dalam Kerajaan Surga.
Pada ayat selanjutnya dari Kitab Kejadian 1:28), kita baca, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.” Inilah perkawinan, suatu penetapan yang dianugerahkan, yang dirancangkan oleh Tuhan. Jika kita dapat memikirkan cara terbaik untuk menyadari “gambar dan citra Allah” ini, maka kita akan mendapatinya dalam perkawinan. Dalam persatuan yang sakral ini, laki-laki dan perempuan - masing-masing diciptakan menurut gambar dan citra Allah dengan segala kesamaan dan segala keunikannya - bergabung menjadi satu.
Kisah kedua mengenai penciptaan dalam Kitab Kejadian mempertegas gagasan ini: Tuhan mengambil tulang rusuk laki-laki untuk menciptakan “pasangan yang sepadan” yang dikenali manusia sebagai “`Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.' Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2:23-24). Paus Yohanes Paulus II merefleksikan bahwa dalam perkawinan, “laki-laki” pada saat persatuan sungguh menjadi gambar Allah, “gambar dari suatu persatuan ilahi yang tak terselami antara Pribadi-Pribadi .”
Tuhan kita Yesus Kristus dalam Injil menegaskan ajaran Kitab kejadian. Ketika ditanya oleh kaum Farisi perihal perceraian, Yesus menjawab “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:3, dst.).
Dengan dasar dari Kitab Suci ini, kita menetapkan perkawinan sebagai suatu sakramen dalam agama Katolik kita. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini (Gaudium et Spes) dari Konsili Vatikan II berbicara sangat indah mengenai perkawinan: Perkawinan adalah persekutuan hidup dan kasih yang diadakan oleh Sang Pencipta dan dikukuhkan dengan hukum-hukumnya, yang mencakup berbagai nilai dan tujuan. Suami dan isteri “saling menyerahkan diri dan saling menerima” dan memberikan “persetujuan pribadi yang tak dapat ditarik kembali”. Perkawinan menyangkut saling serah diri antara dua pribadi, yang menuntut kesetiaan total dan tetap.
Disamping itu, kasih suami dan isteri yang mengikat keduanya menjadi satu berlimpah ruah, dan mereka beroleh keikutsertaan dalam penciptaan dengan melahirkan anak-anak. Dengan sakramen dan rahmat berlimpah yang dianugerahkan Tuhan kita, pasangan suami isteri diperteguh dalam menunaikan kewajiban mereka kepada satu sama lain dan kepada keluarga mereka. Dengan demikian, perkawinan jelas merupakan dasar keluarga dan seluruh umat manusia.
Sebab itu, kita membicarakan perkawinan bukan sebagai suatu kontrak, melainkan sebagai suatu perjanjian. Sama seperti Tuhan mengadakan perjanjian hidup dan kasih dengan umat-Nya dari Perjanjian Lama melalui Abraham dan Musa; sama seperti Kristus mengadakan perjanjian yang sempurna, abadi dan memberi hidup, melalui DarahNya di salib, demikian pula perkawinan merupakan suatu perjanjian, suatu ikatan tetap hidup dan kasih (oleh karena alasan ini, St. Paulus kerap kali mempergunakan gambaran Kristus dan GerejaNya dalam menjelaskan kasih suami isteri (mis. Ef. 5:22, dst.). Sebab itu, ketika pasangan saling bertukar janji perkawinan, mereka saling menjanjikan kasih yang setia, tetap, eksklusif dan abadi satu dengan yang lainnya dan dengan Tuhan. Laki-laki dan perempuan masuk dalam suatu perjanjian-yang-memberi-hidup dengan Tuhan sebagai suami dan isteri.

 

Bagian 2:
Aspek Unitive dan Aspek Procreative dari Kasih Perkawinan
 

Dengan pemahaman kita akan perkawinan dan kasih perkawinan, kita dapat siap melihat bahwa ungkapan kasih yang terindah dalam perkawinan adalah kasih perkawinan, atau kasih jasmani, atau hubungan seksual, atau kasih suami isteri - apapun istilahnya. Tentu saja, kasih dalam perkawinan jauh lebih luas dari sekedar tindakan kasih suami isteri. Namun demikian, tindakan ini memancarkan suatu simbolisme yang unik dan khusus dari Sakramen Perkawinan - perjanjian antara dua orang yang telah menjadi satu daging.
Yang menarik, dalam teologi sakramen, kita percaya bahwa suatu sakramen terdiri dari dua unsur: forma, atau bagian doa dari sakramen; dan materia, bagian fisik dan tindakan dari sakramen. Sebagai contoh, dalam perayaan Sakramen Baptis, materia sakramennya adalah imam menuangkan air ke atas kepala calon baptis atau membenamkan orang yang dibaptis ke dalam air sebanyak tiga kali; pada saat yang sama imam mendaraskan forma sakramen, “N. aku membaptis engkau atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Dalam Sakramen Perkawinan, pasangan yang menikah adalah pelayan-pelayan sakramen; imam adalah saksi resmi Gereja yang juga menyampaikan berkat Tuhan. Forma Sakramen Perkawinan adalah pertukaran janji perkawinan; materia sakramen adalah konsumasi (= consummatio) perkawinan, ketika pasangan menyempurnakan janji perkawinan mereka dengan ungkapan kasih secara fisik. Sebab itu Gereja mengajarkan, “Maka dari itu tindakan-tindakan, yang secara mesra dan murni menyatukan suami-isteri, harus dipandang luhur dan terhormat; bila dijalankan secara sungguh manusiawi, tindakan-tindakan itu menandakan serta memupuk penyerahan diri timbal balik, cara mereka saling memperkaya dengan hati gembira dan rasa syukur” (Gaudium et Spes, No. 49).
Paus Paulus VI dalam ensikliknya Humanae Vitae (No. 9) menawarkan suatu refleksi yang indah atas kasih suami isteri dalam perkawinan. Bapa Suci mengatakan bahwa kasih perkawinan adalah kasih yang sepenuhnya manusiawi, sebab ia merangkul kebajikan dari keseluruhan diri orang dan berdasarkan pada kehendak bebas, memberikan seluruh diri kepada pasangannya. Kasih ini bertahan melewati sukacita dan derita, keberhasilan dan kegagalan, kebahagian dan kemalangan, mempersatukan pasangan baik secara badani maupun jiwani. Kasih ini juga total - bebas dari batasan, keraguan ataupun prasyarat. Kasih ini setia dan eksklusif bagi masing-masing pasangan. Pada pokoknya, kasih ini haruslah merupakan suatu tindakan yang saling menghormati, suatu ungkapan kasih yang sejati. Tidak seperti apa yang begitu sering digambarkan oleh berbagai media pada masa kini, kasih perkawinan bukanlah suatu tindakan erotis, berdasarkan pada cinta diri, melampiaskan kenikmatan sesaat atau kesewenangan. Bukan, kasih perkawinan adalah suatu tindakan sakral yang mempersatukan suami isteri satu dengan yang lain dan dengan Tuhan. Semangat dari ajaran ini merefleksikan apa yang disabdakan Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Disamping itu, tindakan kasih perkawinan juga ikut ambil bagian dalam karya kasih penciptaan Allah. Pasangan yang telah menjadi suatu ciptaan yang baru dengan menjadi suami dan isteri, satu daging, juga dapat ikut menghasilkan ciptaan suatu kehidupan baru sesuai kehendak Tuhan. Vatikan II menegaskan, “Menurut sifat kodratinya lembaga perkawinan sendiri dan cinta kasih suami-isteri tertujukan kepada lahirnya keturunan serta pendidikannya, dan sebagai puncaknya bagaikan dimahkotai olehnya” (Gaudium et Spes, No. 48, bdk. No. 50). Konsili mengajarkan, “Oleh karena itu pengembangan kasih suami-isteri yang sejati, begitu pula seluruh tata-hidup berkeluarga yang bertumpu padanya, - tanpa memandang kalah penting tujuan-tujuan perkawinan lainnya, - bertujuan supaya suami-isteri bersedia dengan penuh keberanian bekerja sama dengan cinta kasih Sang Pencipta dan Penyelamat, yang melalui mereka makin memperluas dan memperkaya keluarga-Nya” (Gaudium et Spes, No. 50).
Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya Evangelium Vitae merefleksikan bahwa gambar dan citra Allah Sendiri disalurkan melalui penciptaan suatu jiwa yang abadi langsung oleh-Nya. Di samping itu, seorang anak adalah sungguh personifikasi kasih suami dan isteri dalam persatuan dengan sang Pencipta. Sebab itu, “Justru dalam peran serta mereka sebagai rekan-rekan kerja bersama Allah yang menyalurkan citra-Nya kepada ciptaan baru-lah kita saksikan keagungan pasangan-pasangan suami isteri, yang bersedia `bekerja sama dengan cinta kasih sang Pencipta dan Penyelamat, yang melalui mereka hendak memperluas dan memperkaya keluarga-Nya sendiri dari hari ke hari'” (Evangelium Vitae, No. 43, yang juga mengutip dari Gaudium et Spes, No. 50).
Sepanjang Kitab Suci, kita melihat kelahiran anak-anak sebagai suatu berkat dari Tuhan dan suatu tanda perjanjian yang hidup antara Tuhan dengan suami isteri. Sebagai contoh, Musa menyampaikan hukum perjanjian dengan memaklumkan, “Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu” (Ul. 7:12-14). Jelas bahwa kehidupan, kesuburan dan pembiakkan dihargai sebagai hal-hal baik yang dianugerahkan Tuhan.
Karena sabda ini dan pemahaman bahwa aspek pembiakan dari kasih perkawinan merupakan suatu anugerah yang kudus, maka “kemandulan” atau ketidaksuburan sungguh merupakan suatu salib berat yang harus ditanggung suatu pasangan. Sebagai contoh, dalam Perjanjian Lama, dalam kisah Hana - isteri Elkana - kita membaca bagaimana ia berdukacita karena tak dapat mempunyai anak meski hidup perkawinannya bahagia. Kitab Suci mencatat, “Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: `TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya'” (1Sam. 1:9-11). Tuhan mendengarkan doa permohonan Hana, dan ia mengandung lalu melahirkan seorang anak laki-laik yang diberinya nama Samuel.
Dalam Perjanjian Baru, kita membaca kisah Elisabet dan Zakharia, yang adalah orang-orang “benar di hadapan Allah” dan “hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat”. Tetapi, hingga lanjut usia mereka tetap tak mempunyai anak. Atas kehendak Tuhan, Elisabet mengandung lalu melahirkan seorang anak laki-laki, Yohanes Pembaptis. Elisabet pun berkata, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang” (bdk. Lukas 1:5-25). Mengikuti alur pemikiran ini, Vatican II menegaskan, “Memang anak-anak merupakan kurnia perkawinan yang paling luhur, dan besar sekali artinya bagi kesejahteraan orang tua sendiri” (Gaudium et Spes, No. 50).
Sebab itu, janganlah kita memisahkan aspek persatuan penuh cinta (= unitive) kasih perkawinan dari aspek pembiakan (= procreative). Kedua aspek ini pada hakekatnya baik. Kedua aspek ini tak terpisahkan dalam tindakan perkawinan (= hubungan badani suami isteri). Bahkan jika suatu pasangan tidak subur, tindakan suami isteri itu tetap memiliki karakter sebagai suatu persatuan hidup dan kasih. Kita harus terus-menerus berfokus pada perjanjian hidup dan kasih yang saling dibagikan di antara pasangan satu sama lain dalam persatuan dengan Tuhan.

 

Bagian 3:
Kontrasepsi Melenyapkan Persatuan Perkawinan

Dalam dua tulisan sebelumnya, kita telah membahas keyakinan kita mengenai Sakramen Perkawinan dan ungkapan kasih perkawinan yang indah, yang sekaligus unitive (= persatuan penuh cinta kasih) dan procreative (= pembiakan). Kedua aspek ini pada hakekatnya baik dan tak terpisahkan dalam tindakan suami isteri. Sebagai konsekuensinya, dalam kasih perkawinan, orang tak dapat memisahkan aspek unitive dari aspek procreative.
Karena alasan ini, Paus Paulus VI dalam ensikliknya Humanae Vitae memaklumkan, “bahwa tiap persetubuhan harus tetap diarahkan kepada kelahiran kehidupan manusia” (No. 11). Bapa Suci melanjutkan, “Ajaran ini yang sering dikemukakan oleh Magisterium Gereja, bersumber pada satu hubungan yang tidak terpisahkan yang ditentukan oleh Allah, antara kedua tujuan - kesatuan penuh cinta dan pembiakan - yang kedua-duanya terdapat dalam persetubuhan” (Humanae Vitae No. 12).
Dengan penggunaan sarana-sarana kontrasepsi (artifisial maupun bukan) dalam tindakan suami isteri, aspek pembiakan secara sengaja dienyahkan dan diabaikan. Sebab itu, aspek persatuan penuh cinta dipisahkan dari aspek pembiakan. Sama seperti suatu tindak kekerasan dalam kasih badani oleh seorang terhadap pasangannya melanggar aspek persatuan penuh cinta dari kasih perkawinan, demikian pula pelumpuhan terhadap kemampuan untuk menyalurkan kehidupan manusia melanggar aspek pembiakan. Di sini patut dicatat bahwa kontrasepsi menyangkut pelumpuhan atau pengenyahan salah satu aspek tak terpisahkan dari tindakan kasih seperti telah dirancangkan Tuhan. Pada hakekatnya, Tuhan telah merancangkan kasih perkawinan sebagai sekaligus persatuan penuh cinta dan pembiakan; mengenyahkan atau melanggar satu di antaranya berarti melawan rancangan Tuhan.
Namun demikian, kita telah menjadi saksi atas merajalelanya penggunaan sarana artifisial untuk mengatur kehamilan. Seperti telah berulang kali diperingatkan oleh Paus Yohanes Paulus II, juga Paus Paulus VI, sebagai konsekuensinya apa yang kemudian berkembang dalam masyarakat adalah mentalitas kontrasepsi, dienyahkannya kasih suami isteri dari Sakramen Perkawinan, dan dalam banyak kasus - teristimewa di luar konteks perkawinan - dimerosotkannya kasih suami isteri ke sekedar suatu tindakan seks tanpa kasih sejati. Dalam Evangelium Vitae, Paus Yohanes Paulus II menyesali dampak-dampak kontrasepsi, “Oleh karena itu seksualitas pun dikosongi nilai pribadinya dan digunakan semau sendiri. Dari kenyataannya sebagai tanda, tempat dan bahasa cinta kasih, yakni penyerahan diri dan penerimaan orang lain, dengan segala kekayaannya sebagai pribadi, seksualitas makin menjadi kesempatan dan instrumen untuk menyatakan diri, dan untuk memuaskan keinginan-keinginan serta naluri-naluri pribadi, didorong oleh cinta diri. Jadi makna asli seksualitas manusiawi mengalami distorsi dan pemalsuan, dan kedua maknanya, yakni untuk menyatukan dan mengadakan keturunan, yang melekat pada hakekat tindakan suami-isteri sendiri, diceraikan secara artifisial. Begitulah persatuan pernikahan dikhianati, dan kesuburannya dibawahkan kepada pilihan sesuka hati pasangan. Kalau begitu lahirnya keturunan menjadi `musuh' yang harus dihindari dalam tindakan seksual. Kalau lahirnya keturunan disambut baik, itu hanya karena mengungkapkan keinginan, atau memang ada maksud, untuk `bagaimana pun juga' mempunyai anak, dan bukan karena menandakan penerimaan penuh manusia lain, dan karena itu mengungkapkan sikap terbuka bagi kekayaan hidup yang nampak pada anak” (No. 23).
Di sini, kita berhenti sejenak untuk memeriksa aspek lain dari masalah dengan bentuk-bentuk artifisial pengatur kehamilan. Sebagian besar pil pengatur kehamilan artifisial sekarang ini dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki “laras ganda”. Di satu sisi, pil bekerja sebagai sarana kontrasepsi dalam meniadakan ovulasi; di sisi lain, jika ovulasi tetap terjadi dan kehamilan terjadi “karena kecelakaan,” maka pil ini juga membuat dinding rahim menolak implantasi, dan dengan demikian membuang kehidupan yang telah dikandung. Ingat bahwa begitu perkandungan terjadi, suatu individu yang unik dan berharga telah tercipta; suatu ciptaan baru yang memiliki hak untuk hidup. Sebab itu, pil-pil ini sungguh berdampak aborsi, dengan efek yang sama seperti IUD (intrauterine device = Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Sesungguhnya, efek “laras ganda” ini merupakan daya jual yang menyedihkan dari obat RU-486, yang biasa disebut “pil sesudah pagi.”
Disamping itu kita juga harus memikirkan kemungkinan efek sampingan dari pil-pil ini bagi kesehatan wanita. Dalam Physician's Desk Reference untuk berbagai obat kontrasepsi yang dikonsumsi dengan ditelan, daftar komplikasi kesehatan yang mungkin terjadi meliputi, menyebut beberapa saja di antaranya, myocardial infarction, thrombosis, cerebrovascular disorders, birth defects, dan berbagai bentuk kanker (payudara, leher rahim, indung telur, dan rahim). Tragisnya, banyak dokter tidak menginformasikan resiko kesehatan ini kepada para wanita ketika menuliskan resep obat-obatan ini. Karena tiap-tiap individu berkewajiban untuk memelihara kesehatannya, maka obat-obatan yang secara konsisten mengubah fungsi normal tubuh dan yang menimbulkan resiko-resiko ini secara moral tak dapat dibenarkan.
Jadi apakah yang harus dilakukan oleh pasangan yang tengah menghadapi masalah serius dalam perkawinan mereka, misalnya masalah kesehatan atau keterbatasan ekonomi? Gereja senantiasa mengajarkan bahwa pasangan wajib bertindak sebagai orangtua yang bertanggung jawab, “Dalam tugas menyalurkan hidup manusiawi serta mendidiknya, yang harus dipandang sebagai perutusan mereka yang khas, suami isteri menyadari diri sebagai mitra kerja cinta kasih Allah pencipta dan bagaikan penterjemah-Nya. Maka dari itu hendaknya mereka menunaikan tugas mereka penuh tanggung jawab manusiawi serta kristiani. Hendaknya mereka penuh hormat dan patuh-taat kepada Allah, sehati sejiwa dan dalam kerja sama, membentuk pendirian yang sehat, sambil mengindahkan baik kesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak, baik yang sudah lahir maupun yang mereka perkirakan masih akan ada; sementara itu hendaknya mereka mempertimbangkan juga kondisi-kondisi zaman dan status hidup mereka yang bersifat jasmani maupun rohani; akhirnya hendaknya mereka memperhitungkan kesejahteraan rukun keluarga, masyarakat di dunia, serta Gereja sendiri” (No. 50). Suami dan isteri, dengan visi menjadi orangtua yang bertanggung jawab, wajib memutuskan apakah sekarang merupakan saat yang tepat untuk mempunyai anak. Mungkin terdapat alasan-alasan serius untuk menunda kehamilan - meski tidak definitif - karena kesehatan, beban ekonomi atau alasan-alasan serius lainnya.
Namun demikian, orang harus berhati-hati untuk tidak menyelewengkan apa yang dimaksud dengan alasan “serius”. Paus Yohanes Paulus II menyatakan, “Keputusan mengenai jumlah anak-anak dan pengorbanan yang harus dilakukan bagi mereka janganlah diambil hanya berdasarkan pandangan demi menambah kenyamanan dan mempertahankan keadaan tenang sekarang. Dengan merefleksikan masalah ini di hadapan Tuhan, dengan rahmat-rahmat yang ditimba dari Sakramen, dan dengan dibimbing oleh ajaran Gereja, orangtua akan mengingatkan diri mereka sendiri bahwa sudahlah pasti kurang serius alasan mengurangi kenyamanan atau kesejahteraan material anak-anak mereka, dibandingkan menjauhkan mereka dari kehadiran saudara dan saudari yang dapat membantu mereka bertumbuh-kembang dalam kemanusiaan dan menyadari keindahan hidup di segala tingkat usia dan dalam segala keanekaragamannya” (1979).
Jika pasangan beranggapan bahwa sungguh ada alasan-alasan serius untuk menunda kehamilan, Gereja mengajarkan bahwa pasangan dapat memanfaatkan “siklus alami sistem reproduksi” (Humanae Vitae No. 16). Kita tahu bahwa seorang perempuan hanya dapat mengandung seorang anak selama masa subur. Sebab itu, pasangan dapat mengambil jalan untuk mengungkapkan kasih suami isteri hanya apabila mereka berada dalam masa tidak subur. Metode pengaturan kehamilan ini disebut Keluarga Berencana Alami, suatu sarana yang aman dan efektif, yang dapat diterima secara moral dan yang memelihara janji kasih perkawinan.

 

Bagian 4:
Keluarga Berencana Alami

Sementara mengutuk penggunaan alat-alat kontrasepsi, Gereja juga menyadari bahwa sebagian pasangan menghadapi situasi-situasi serius dalam perkawinan dan keluarga yang mendorong mereka untuk menunda kehamilan, meski tidak definitif. Guna membantu pasangan-pasangan ini, Gereja meminta dengan sangat kepada mereka untuk mempergunakan metode alami pengaturan kehamilan, seperti yang telah Tuhan Sendiri rancangkan sebagai bagian dari sistem reproduksi. Sistem ini disebut Keluarga Berencana Alami.
Sesungguhnya, salah satu dari bentuk-bentuk paling awal dari keluarga berencana alami adalah menyusui. Jika seorang perempuan menyusui bayinya secara teratur, besar kemungkinan ia tidak akan mengandung dalam jangka waktu 18-24 bulan. Dalam kenyataan, banyak suku-suku primitif mengatur kehamilan secara alami dengan cara ini.
Pada tahun 1930-an, dikembangkan Kalender Ritme (= Kalender Irama). Metode ini efektif jika perempuan memiliki siklus menstruasi yang teratur dan jika ia diberi penyuluhan dengan baik. Sebenarnya, metode ritme ini nyaris sama efektifnya dengan kondom atau metode-metode lain pencegah kehamilan. Namun demikian, Kalender Ritme tak dapat diandalkan bagi banyak pasangan. Mungkin karena itulah banyak orang berolok, “Disebut apakah pasangan yang mempergunakan metode ritme?” Jawabnya, “Orangtua.”
Keluarga Berencana Alami modern secara teknis disebut Sympto-Thermal Method atau Metode Pengukuran Suhu Tubuh. Metode ini didasarkan pada ketiga tanda kesuburan pada perempuan: suhu basal tubuh, sifat lendir serviks, dan perubahan-perubahan fisik dalam posisi serviks (= vagina). Ketiga tanda ini menginformasikan kepada pasangan bilamana isteri dalam masa subur dan kemungkinan dapat mengandung seorang anak apabila pasangan bersatu dalam kasih suami isteri. Ironisnya, sementara banyak dokter memberikan resep-resep sarana artifisial guna mencegah kehamilan, mereka memberikan teknik-teknik Keluarga Berencana Alami dalam membantu pasangan yang mengalami kesulitan mengandung seorang anak, dengan mengidentifikasikan masa subur dan dengan demikian mengetahui bilamana kemungkinannya terbesar dapat terjadi kehamilan. Di samping itu jika orang merasa khawatir mengenai keefektifannya, maka Metode Pengukuran Suhu Tubuh telah terbukti sama efektifnya dengan pil dan bahkan lebih efektif dari metode-metode pencegah kehamilan lainnya, jika dilakukan dengan benar.
Segera saja, sebagian orang dengan jujur mungkin bertanya, “Apakah perbedaan antara Keluarga Berencana Alami dengan bentuk-bentuk kontrasepsi lainnya? Keduanya tampak sama.” Meski kedua sarana tersebut memiliki tujuan yang sama - menunda kehamilan - perbedaannya terletak pada sarana itu sendiri. Dengan Keluarga Berencana Alami, pasangan tetap memelihara keutuhan perjanjian hidup dan kasih mereka. Mereka mempergunakan hanya sarana-sarana yang diberikan Tuhan kepada mereka, yang ada pada diri mereka. Dalam mengungkapkan kasih suami isteri, mereka sadar bahwa tindakan ini tidak hanya mempersatukan mereka sebagai suami dan isteri, melainkan juga memungkinkan mereka untuk ikut ambil bagian dalam karya kasih penciptaan Allah. Daripada mengenyahkan dan mengabaikan satu aspek tertentu, mereka menghormati kedua aspek unitive dan procreative.
Sebab itu, apabila karena suatu alasan serius mereka memutuskan untuk menunda kehamilan, maka keduanya - suami dan isteri - yang membuat keputusan dan keduanya bersama-sama ikut ambil bagian dalam berpantang tidak mengungkapkan kasih suami isteri selama masa subur. Keluarga Berencana Alami juga aman, dan beban ditanggung bersama oleh suami dan isteri. Di samping itu, pasangan tetap terbuka pada penyelenggaraan ilahi: jika seorang anak “yang tak direncanakan” hadir, kiranya terjadilah demikian - itu adalah kehendak Tuhan dan anugerah Tuhan; sementara dengan sarana kontrasepsi artifisial, di mana pasangan telah merencanakan segala sesuatunya dengan baik dan terkendali, kehamilan yang tak diinginkan seringkali dianggap bencana. Ingat bahwa salah satu argumentasi untuk melegalisasi aborsi adalah guna mengoreksi “kehamilan-kehamilan yang tak direncanakan”.
Paus Yohanes Paulus II dalam Familiaris Consortio mengajukan perbedaan-perbedaan antropologis dan moral antara kontrasepsi dan Keluarga Berencana Alami: “Pemilihan irama-irama alami berarti: menerima kenyataan siklus manusia, yakni wanita, dan serta-merta menerima dialog, sikap saling menghormati, tanggung jawab bersama dan pengendalian diri. Menerima kenyataan siklus dan mengadakan dialog berarti mengakui sifat rohani maupun jasmani persekutuan suami isteri, serta menghayati cinta kasih antar pribadi beserta tuntutannya, yakni kesetiaan. Dalam konteks itu, suami isteri beroleh pengalaman, bagaimana persekutuan pernikahan diperkaya dengan nilai-nilai kelembutan dan kemesraan, yang merupakan antipati seksualitas manusiawi, juga dalam dimensi fisiknya. Begitulah seksualitas dihormati dan dikembangkan dalam dimensinya sungguh dan sepenuhnya manusiawi, dan tidak pernah `diperalat' sebagai `obyek', yang - dengan membelah kesatuan pribadi jiwa raga - menyerang ciptaan Allah Sendiri pada taraf interaksi yang terdalam antara kodrat dan pribadi” (No. 32).
Sesungguhnya, Keluarga Berencana Alami mengalami sukses besar. Misalnya, pada tahun 1960, pemerintah Mauritius, suatu negara kepulauan kecil di Samudera India sebelah timur Madagaskar, hendak memulai suatu kampanye kontrasepsi besar-besaran guna mengendalikan populasi penduduk. Uskup menerbitkan sepucuk surat pastoral menentang rencana ini. Setelah mendiskusikan masalah ini dengan pejabat-pejabat pemerintah, pada tahun 1963, suatu program pendidikan Keluarga Berencana Alami dimulai. Para dokter memberikan penyuluhan kepada pasangan-pasangan pelatih, yang pada gilirannya mengajarkan metode kepada pasangan-pasangan lain. Sekarang mereka melatih 2000 pasangan setiap tahunnya. Setiap paroki memiliki suatu program khusus untuk memberikan penyuluhan kepada pasangan-pasangan dalam kursus persiapan perkawinan dan 85% pasangan yang menikah dalam Gereja menyelesaikan training tersebut. Secara keseluruhan 20% dari perempuan dalam usia subur mempergunakan Keluarga Berencana Alami; di mana kalangan Hindu dan Muslim mencapai 62%. Di samping itu, metode-metode artifisial mulai mengalami penurunan. Keefektifan Keluarga Berencana Alami menjadi suatu argumentasi yang meyakinkan dalam menentang legalisasi aborsi di negeri itu. Yang menjadi kekhawatiran Uskup Margeot sekarang ini adalah koalisi negara-negara - Amerika, Jepang dan Eropa Utara - dan yayasan-yayasan - Rockefeller and Packard - yang tengah berjuang menerapkan sarana artifisial pengatur kehamilan di segenap penjuru Afrika, yang pada gilirannya secara perlahan-lahan akan menghantar pada aborsi.
Tulisan ini tak dapat menyajikan penjelasan secara terinci mengenai Keluarga Berencana Alami, sebab itu pasangan-pasangan yang berminat atau ingin mengajukan pertanyaan lebih lanjut sehubungan dengan ajaran Gereja, hendaknya mengikuti kursus yang disediakan. Pasangan-pasangan yang mempersiapkan diri memasuki jenjang perkawinan secara istimewa didorong untuk mengikuti kursus ini. Daripada sekedar menyepelekan ajaran Gereja, baiklah orang mempelajari ikhwal ajaran dan bertanya lebih lanjut mengenai Keluarga Berencana Alami.
Kerapkali orang berpikir bahwa Keluarga Berencana Alami tidak efektif. Sesungguhnya, apabila diterapkan dengan benar, Keluarga Berencana Alami nyaris 100% efektif dengan tingkat kehamilan 0.004 (Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan Amerika Serikat (1978)) versus “pil” yang adalah 97 persen efektif, atau kondom yang 79-88 persen efektif (Contraceptive Technology).
Namun demikian, keseluruhan masalah ini menyangkut perjanjian kasih antara suami dan isteri, dan Tuhan; menyangkut penciptaan kehidupan dalam persatuan dengan Tuhan. Sementara sebagian orang suka mengutip statistik mengenai keefektifannya, tak ada satu metode pun yang 100 persen efektif; tetapi, dengan Keluarga Berencana Alami pasangan mengandalkan kehendak dan penyelenggaraan Tuhan yang tak didapati dalam sarana-sarana lainnya. Pasangan-pasangan yang menerapkan Keluarga Berencana Alami tidak berbicara mengenai “kehamilan yang tak diinginkan,” sebab mereka sadar bahwa tindakan kasih suami isteri dapat mendatangkan kehidupan. Juga, sementara tingkat perceraian di Amerika Serikat melambung hingga sekitar 50 persen dalam lima tahun pertama perkawinan, pasangan suami isteri yang mempergunakan Keluarga Berencana Alami memiliki tingkat perceraian sekitar 0.6 persen menurut Couple to Couple League, dan 2-5 persen menurut penelitian yang dilakukan oleh California State University, dengan demikian membuktikan kokohnya perjanjian kasih di antara pasangan-pasangan ini.
Sebab itu, mengenai pengaturan kehamilan, Konsili Vatican II memaklumkan, “Penilaian itu pada dasarnya suami-isterilah yang wajib mengadakan di hadapan Allah” (Gaudium et Spes, #50). Walau demikian, seorang Katolik yang saleh haruslah pertama-tama memperhatikan ajaran Magisterium. Seperti telah ditegaskan, perkawinan adalah serius, kasih suami isteri adalah serius, penciptaan kehidupan adalah serius. Sarana-sarana kontrasepsi pada hakekatnya adalah jahat (bdk Katekismus Gereja Katolik, #2370). Oleh karenanya, pelanggaran terhadap kasih suami isteri melalui praktek-praktek penggunaan kontrasepsi secara obyektif adalah dosa berat. Tentu saja, situasi-situasi serius dapat muncul yang pada gilirannya dapat mengurangi kebersalahan pasangan dalam hal ini. Apabila pasangan bergumul dengan masalah ini, saya sarankan mereka untuk menemui imam atau membicarakannya dengan pasangan pelatih yang memberikan penyuluhan Keluarga Berencana Alami. Kerapkali, pasangan pelatih ini pernah mempergunakan sarana-sarana artifisial sebelumnya dan dengan demikian dapat memberikan penjelasan terbaik kepada pasangan-pasangan lain mengenai perbedaan antara metode-metode dan membimbing mereka dalam menghadapi masalah ini.
Tak seorang pun dapat dengan angkuh menyingkirkan ajaran konsisten Gereja mengenai masalah ini. Kita tak dapat sekedar memikirkan maksud-maksud atau motif-motif baik. Di samping itu, kita tak dapat sekedar mencari di “Yellow Pages” guna mendapatkan imam atau teolog yang akan memberikan kepada kita jawaban yang ingin kita dengar. Kita harus jujur dan bergulat dengan kebenaran, dan dengan rahmat Tuhan hidup selaras dengannya. Seperti yang ditegaskan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II “Sebagai Guru tiada jemunya Gereja memaklumkan norma moral, yang menjadi pedoman bagi penyaluran kehidupan secara bertanggung-jawab. Gereja sama sekali bukan pencipta norma itu atau penilai terhadapnya. Dalam kepatuhan terhadap Kebenaran, yakni Kristus Sendiri, yang Citra-Nya terpantulkan pada kodrat maupun martabat pribadi manusia, Gereja menafsirkan norma moral serta menyajikannya kepada semua orang yang beritikad baik, tanpa menyembunyikan tuntutan-tuntutan sifat radikal serta kesempurnaan” (Familiaris Consortio, #33).
 

Bagian 5:
Referensi Mengenai Kontrasepsi dalam Kitab Suci

Dalam menjelaskan ajaran Gereja mengenai kontrasepsi, banyak orang secara keliru berpikiran bahwa ajaran ini relatif baru, sesuatu yang muncul dengan diterbitkannya Humanae Vitae pada tahun 1968. Sebagian lainnya, dari kalangan yang cenderung lebih fundamentalis, ingin tahu apakah ada dasar dari ajaran-ajaran ini dalam Kitab Suci. Dalam mempelajari baik Kitab Suci maupun sejarah ajaran Gereja kita dalam bidang ini, orang akan mendapati suatu dasar yang amat positif dan kokoh, seperti telah dipaparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya.
Mengenai “Apakah yang harus dikatakan Kitab Suci?” suatu paparan yang sangat positif mengenai penciptaan, kasih perkawinan, dan perjanjian, muncul dari ayat-ayat Kitab Suci. Namun demikian, kita juga mendapati referensi-referensi sehubungan dengan pelanggaran terhadap aspek unitive dan aspek procreative dari kasih perkawinan dan konsekuensi-konsekuensi ilahi yang menyertainya. Dalam Kitab Kejadian, kita mendapati kisah Onan, putera kedua Yehuda. Onan menikahi Tamar, janda kakaknya Er. (Hukum Imamat bangsa Yahudi menetapkan bahwa jika saudara laki-laki tertua meninggal tanpa keturunan, maka saudara laki-laki berikutnya yang masih lajang wajib menikahi janda kakaknya demi membangkitkan keturunan bagi saudaranya yang telah meninggal itu). Kitab Suci menulis, “Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga” (Kej. 38:1dst.). Ini adalah suatu bentuk dasar dari kontrasepsi - dan jelas adalah dosa di mata Tuhan.
Yang menarik, tradisi Protestan mengutip kisah ini sebagai dasar untuk mengutuk segala bentuk kontrasepsi. Luther mengatakan, “Onan… membiarkan maninya terbuang. Ini adalah dosa yang lebih besar dari perzinahan ataupun incest, dan ini membangkitkan murka Allah sedemikian rupa hingga Ia membinasakannya seketika” (Komentar mengenai Kitab Kejadian). Dalam tulisannya yang lain, ia menulis, “Sebab Onan menghampirinya, yaitu tidur bersamanya dan bersatu dengannya, dan ketika sampai pada tahap inseminasi (= pembuahan), ia membuang maninya supaya perempuan itu tidak mengandung. Sesungguhnya, pada saat yang demikian tata kodrat yang ditetapkan oleh Tuhan dalam pembiakan hendaknya diikuti” (Tulisan).
Calvin juga menyampaikan komentar mengenai kisah Onan, “Dengan sengaja membuang mani ke luar dari persatuan antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang sangat mengerikan. Dengan sengaja menarik dari persetubuhan supaya maninya terbuang adalah duakali lebih mengerikan. Sebab ini melenyapkan pengharapan akan keturunan dan membunuhnya sebelum ia dilahirkan (Komentar mengenai Kitab Kejadian). Menariknya, kedua pemimpin gerakan Protestan ini mengutuk praktek yang melenyapkan aspek procreative dari kasih perkawinan.
Sejarah lebih lanjut menerangkan posisi Gereja dalam masalah ini. Penelitian-penelitian antropologis menunjukkan bahwa sarana-sarana kontrasepsi sudah ada sejak zaman purbakala. Papirus-papirus kesehatan menggambarkan berbagai metode kontrasepsi yang dipergunakan di Cina pada tahun 2700 SM dan di Mesir pada tahun 1850 SM. Soranos (98-139 M), seorang dokter Yunani dari Efesus, menerangkan tujuhbelas metode kontrasepsi yang diakui secara medis. Juga pada waktu itu, aborsi dan pembunuhan bayi-bayi bukanlah praktek yang tak lazim pada masa Kekaisaran Romawi.
Komunitas Kristiani perdana menjunjung tinggi kesakralan perkawinan, kasih suami isteri dan hidup manusia. Dalam Perjanjian Baru, muncul kata `pharmakeia', yang oleh sebagian ilmuwan dihubungkan dengan masalah pengaturan kehamilan. Pharmakeia menunjuk pada campuran ramuan untuk tujuan-tujuan rahasia (= secretive); dan dari Soranos dan yang lainnya, didapatkan bukti-bukti adanya ramuan pengatur kehamilan artifisial. Sungguh menarik, pharmakeia seringkali diterjemahkan sebagai “sorcery” dalam bahasa Inggris atau “sihir” dalam bahasa Indonesia. Dalam ketiga ayat di mana kata pharmakeia muncul, dosa-dosa seksual lainnya juga dikutuk: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, pesta pora, “dan sebagainya” (bdk. Gal. 5:19-21). Bukti ini menegaskan bahwa Gereja perdana mengutuk segala sesuatu yang melanggar integritas kasih perkawinan.
Bukti lebih lanjut didapati dalam Didaché, disebut juga Ajaran Keduabelas Rasul, yang ditulis sekitar tahun 80M. Buku ini merupakan buku manual pertama Gereja mengenai moral, norma-norma liturgis, dan doktrin. Dalam bagian pertama, ditawarkan dua jalan - jalan kehidupn dan jalan kematian. Dalam mengikuti jalan kehidupan, Didaché mendesak, “Engkau tidak boleh membunuh. Engkau tidak boleh berzinah. Engkau tidak boleh melakukan semburit (=hubungan seksual laki-laki dengan anak laki-laki). Engkau tidak boleh melakukan percabulan. Engkau tidak boleh mencuri. Engkau tidak boleh mempraktekkan sihir. Engkau tidak boleh mempergunakan ramuan. Engkau tidak boleh melakukan abortus dan juga tidak boleh membunuh anak yang baru dilahirkan. Engkau tidak boleh mengingini milik sesamamu….” Lagi, para ilmuwan menghubungkan frase-frase seperti “praktek sihir” dan “mempergunakan ramuan” dengan kontrasepsi.
Pada intinya, Gereja Katolik pula denominasi-denominasi Kristen lainnya, mengutuk penggunaan alat-alat kontrasepsi hingga abad ke-20. Denominasi Kristen pertama yang menyetujui kontrasepsi adalah Gereja Inggris atau Gereja Episcopal. Dalam Konferensi Para Uskup Lambeth Gereja Anglikan, pada tanggal 14 Agustus 1930, disahkan suatu resolusi yang memperkenankan penggunaan metode-metode guna membatasi besarnya keluarga-keluarga “di mana dirasakan dengan jelas suatu kewajiban moral untuk membatasi atau menghindarkan diri dari menjadi orangtua.” Metode yang dianggap “utama dan jelas” adalah “berpantang sepenuhnya dari hubungan seksual… dalam suatu pengamalan hidup yang disiplin dan penuh penguasaan diri dalam kuasa Roh Kudus”; namun demikian, metode-metode lain juga dapat dipergunakan, yakni sarana-sarana artifisial. Uskup Brent menyerukan suatu permohonan yang berapi-api, menyatakan bahwa jika resolusi disahkan, maka segera kontrasepsi akan diperkenankan demi alasan apapun dan keputusan ini akan menggantikan rasionalisasi yang egois. Menariknya, menanggapi keputusan Konferensi Lambeth, T.S. Elliot menyampaikan komentarnya, “Dunia sedang mencoba bereksperiman membentuk suatu mentalitas yang beradab, namun non-Kristiani. Eksperimen ini akan gagal, tetapi kita harus amat sabar menanti kehancurannya” (Pemikiran-pemikiran sesudah Lambeth).
Sebagai tanggapan atas persetujuan kontrasepsi oleh Gereja Inggris, Paus Pius XI menerbitkan ensiklik Casti Connubii pada tanggal 31 Desember 1930 yang memaklumkan, “Oleh karena secara terbuka meninggalkan tradisi Kristiani yang tak terusik, di mana sebagian orang baru-baru ini menilai sebagai mungkin untuk dengan serius menyatakan suatu doktrin yang lain mengenai masalah ini, maka Gereja Katolik, kepada siapa Tuhan telah mempercayakan pembelaan terhadap integritas dan kemurnian moral, tetap berdiri tegak di tengah kerusakan moral yang mengelilinginya, agar ia dapat memelihara kemurnian persatuan perkawinan dari tercemar oleh noda ini, Gereja angkat suara untuk menunjukkan perutusan ilahinya dan melalui mulut kita memaklumkan kembali: penggunaan apapun dalam perkawinan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tindakan itu secara sengaja menghalangi kuasa kodrati perkawinan untuk menyalurkan kehidupan, adalah suatu pelanggaran melawan hukum Tuhan dan hukum kodrat, dan mereka yang terlibat dalam cara yang demikian tercemar dengan kesalahan dosa berat".

 

Bagian 6:
Kontrasepsi Memperlihatkan Konsekuensi yang Serius

Pada tahun 1960, Gereja menghadapi meningkatnya tekanan sehubungan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi dengan dipasarkannya anovulant pill. Sebagai tanggapan, Konsili Vatican II menyatakan dalam Gaudium et Spes, “Putera-puteri Gereja, yang berpegang teguh pada azas-azas itu, dalam mengatur keturunan tidak boleh menempuh cara-cara yang ditolak oleh Wewenang Mengajar Gereja dalam menguraikan hukum ilahi.” Namun demikian, Paus Paulus VI mengalihkan penyelidikan atas pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masalah ini ke suatu komisi khusus (semula didirikan oleh Paus Yohanes XXIII pada bulan Maret 1963) guna meneliti populasi, keluarga dan kelahiran. Sesudah itu, Bapa Suci akan mempelajari penemuan-penemuan mereka dan menyampaikan penilaian. Termasuk dalam komisi ini pasangan-pasangan yang menikah dan berbagai kalangan yang berkompeten dalam bidang ini. Uskup-uskup yang dipilih juga dimintai pendapat, sementara uskup-uskup lainnya secara sukarela menyampaikan pandangan mereka.
Pada tanggal 25 Juli 1968, Paus Paulus VI menerbitkan Humanae Vitae yang menjunjung tinggi ajaran konsisten Gereja yang berdasarkan pada hukum kodrat maupun wahyu ilahi: “bahwa tiap persetubuhan harus tetap diarahkan kepada kelahiran kehidupan manusia” (No. 11).
Bapa Suci telah terus-menerus mengulangi ajaran Gereja ini. Dalam Familiaris Consortio, Paus menyesali “tanda-tanda merosotnya berbagai nilai yang mendasar” terbukti dalam “makin banyaknya perceraian, malapetaka pengguguran, makin kerapnya sterilisasi, tumbuhnya mentalitas yang jelas-jelas kontraseptif.”
Menariknya, Paus Paulus VI telah memprediksikan konsekuensi-konsekuensi serius akibat kontrasepsi: meningkatnya ketidaksetiaan dalam perkawinan dan merosotnya standard moral; meningkatnya rasa kurang hormat terhadap perempuan, termasuk melihat seorang perempuan sebagai obyek seks semata dan sebagai alat pemuas hasrat seksual belaka daripada melihatnya sebagai pasangan hidup dalam perkawinan; pula bahaya menguasakan kepada otoritas-otoritas publik untuk menetapkan hukum hidup bagi yang lain. Tigapuluh tahun kemudian, peringatan-peringatan ini telah menjadi kenyataan. Statistik menunjukkan pesatnya tingkat perceraian, dari rata-rata 25% pada tahun 1965 menjadi 50% pada tahun 1975 dalam masa lima tahun pertama perkawinan. Pada tahun 2000, 50% remaja Amerika melewatkan bagian hidup mereka yang penuh gejolak itu tanpa figur seorang ayah. Di samping itu, Dr. Robert Michaels dari Stanford University mendapati suatu korelasi langsung dan positif antara meningkatnya tingkat perceraian dan tingkat penggunaan kontrasepsi. (Yang menarik, pasangan-pasangan yang mempergunakan Keluarga Berencana Alami memiliki tingkat perceraian yang jauh lebih rendah: 0.6 persen menurut Couple to Couple League dan 2-5 persen menurut penelitian yang dilakukan oleh California State University.)
Siapapun dapat membuktikan merosotnya kualitas moral dalam tayangan-tayangan televisi dan film-film sepanjang masa ini, seperti terbukti oleh tayangan-tayangan macam “Friends” atau “Sex in the City”. Pornografi dengan cepat merajalela, dengan 630 juta penyewaan video porno dilaporkan setiap tahunnya di Amerika Serikat. Tersedianya kontak pornografi dan seksual melalui internet juga dalam tingkat mengkhawatirkan.
Dipisahkannya aspek unitive dari aspek procreative dalam kasih perkawinan, dan dihilangkannya kasih perkawinan dari perkawinan itu sendiri telah menjadikan “kasih seksual” sekedar aktivitas rekreasi dan hubungan badani bebas. Banyak sekolah menengah negeri khususnya, menanamkan perilaku di kalangan para murid bahwa mereka dapat menikmati “seks yang aman,” dengan demikian menyamarkan tanggung jawab akan hadirnya seorang anak, atau kemungkinan terjangkit suatu penyakit, ataupun konsekuensi-konsekuensi lainnya. Di Amerika Serikat, 100 sekolah menengah memiliki klinik yang mendistribusikan kondom dan 300 sekolah menengah tanpa klinik yang menyediakan kondom melalui para pembimbing, perawat, guru, mesin-mesin penjual otomatis, atau keranjang-keranjang (2002 The National Campaign to Prevent Teen Pregnancy). Limapuluh persen dari remaja sekolah menengah sekarang ini akan kehilangan keperawanan mereka semasa sekolah mengengah (The Center for Disease Control and Prevention, 2001). Jika statistik benar, maka 840.000 remaja putri akan hamil pada tahun ini (Center for Disease Control and Prevention, 1997). Pada tahun 1995, 32 persen dari seluruh bayi-yang-baru-lahir dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak menikah (1995: Monthly Vital Statistics Report). Di lain pihak, 98 persen dari semua aborsi dilakukan untuk alasan-alasan fakultatif, non-medis, yakni “kehamilan yang tak diinginkan” (Abortion: Some Medical Facts). Tidakkah segala data-data statistik ini saling berhubungan dan secara keseluruhan menunjukkan merosotnya kekudusan seksualitas manusia, perkawinan dan kasih perkawinan?
Kejahatan permerkosaan terus meningkat setiap tahunnya. Berita marak dengan kasus-kasus pelecehan seksual dan penganiayaan seksual, bahkan di kalangan klerus. Munculnya “gerakan perkawinan sesama jenis,” adopsi anak-anak oleh pasangan-pasangan homoseksual, membuktikan hilangnya pemahaman akan rencana Allah atas perkawinan dan keluarga.
Prosedur-prosedur menyangkut pembuahan di luar tubuh (= vitro fertilization), inseminasi buatan dan kehamilan pinjaman semakin banyak tersedia. Disamping itu, penelitian untuk kloning, termasuk kloning manusia, terus berlanjut. Campur tangan pemerintah dalam keluarga berencana semakin meluas. Beberapa kota praja atau negara bagian, seperti Maryland dan Kansas telah mencobanya di masa lalu, mengusahakan untuk memulai program-program di mana mereka membayar para wanita untuk mempergunakan Norplant (KB Susuk, kontrasepsi selama lima tahun yang ditanamkan dalam lengan wanita) demi mengendalikan kehamilan di kalangan remaja dan kesejahteraan penerima. Negara-negara asing, seperti Peru, telah memperkenalkan program-program sterilisasi dan memaksa warga miskin untuk disterilisasi. Komisi Nasional Meksiko untuk Hak Azasi Manusia pada tanggal 16 Desember 2002 menyesalkan bahwa organisasi-organisasi kesehatan di seluruh dari ke-31 negara bagian Meksiko telah memaksakan alat-alat kontrasepsi pada warga primitif dan petani. Kebijakan internasional yang ditetapkan oleh negara-negara persemakmuran barat untuk membantu negara-negara dunia ketiga yang sedang berkembang, seringkali meliputi juga syarat-syarat untuk mengendalikan populasi penduduk, termasuk pengaturan kehamilan artifisial dan aborsi.
Ironisnya, bahkan prediksi mengenai masa mendatang pun telah berubah. Satu generasi yang lalu, Paul Ehrlich dalam bukunya “The Population Bomb” memperingatkan bahwa kelebihan populasi akan “membinasakan planet”. Kontrasepsi dinyatakan sebagai obat bagi malapetaka yang akan datang ini dan Humanae Vitae dicemoohkan. Sekarang kita mendapati diri kita dalam situasi yang berbeda. Divisi Populasi dari Perserikatan Bangsa-bangsa menerbitkan laporannya “World Population Prospects: The 2002 Revision,” memproyeksikan suatu penurunan dalam populasi penduduk dunia: dua tahun yang lalu, Divisi Populasi memproyeksikan populasi dunia 9.3 milyar jiwa pada tahun 2050; sekarang Divisi Populasi memproyeksikan 8.9 milyar. Divisi ini juga memproyeksikan bahwa tingkat kesuburan di sebagian besar negara-negara berkembang akan jatuh di bawah tingkat replacement 2.1 anak-anak sepanjang abad ini, dan pada tahun 2050, tingkat populasi di lebih banyak negara berkembang akan telah mengalami penurunan selama 20 tahun. Sebagai misal, Divisi Populasi memprediksi pada pertengahan abad terjadi 14 persen penurunan populasi di Jepang dan 22 persen di Italia; di samping itu, populasi di Eropa akan mengalami penurunan dari 726 juta jiwa menjadi 632 juta. Dengan prediksi akan harapan hidup yang lebih tinggi, lebih banyak kaum lanjut usia dan lebih sedikit kaum muda, sekarang para perencana populasi bertanya-tanya, “Siapakah yang akan merawat kaum tua? Dari manakah akan didapatkan pajak-pajak untuk menunjang program-program sosial?” Sekarang negara-negara seperti Perancis memberikan insentif pajak kepada keluarga-keluarga untuk memiliki anak-anak demi mengembalikan populasi mereka yang menurun.
Tak heran Paus Yohanes Paulus II memaklumkan Humanae Vitae Paus Paulus VI sebagai “suatu pewartaan yang sungguh-sungguh bersifat kenabian” (Familiaris Consortio, No.29). Telah tiba saatnya untuk kembali kepada Tuhan dan kebenaran-Nya dalam hal seksualitas manusia, perkawinan dan kasih perkawinan.
Yang menarik Dr. William May pada tahun 1968 menandatangani suatu pernyataan bersama banyak teolog lainnya menentang Humane Vitae. Di kemudian hari ia menyesali kekeliruannya. Pada tahun 1988, pada peringatan 20 tahun ensiklik, ia mengatakan, “Saya mulai melihat bahwa jika kontrasepsi dibenarkan, maka kemungkinan inseminasi buatan, reproduksi tabung, dan metode-metode serupa untuk membuahkan kehidupan di luar perkawinan secara moral dibenarkan juga…. Saya mulai menyadari bahwa teologi moral yang diajukan demi membenarkan kontrasepsi dapat dipergunakan untuk membenarkan segala perbuatan lainnya juga. Saya melihatnya sebagai semacam argumentasi manfaat yang egois, yaitu suatu teori yang mengingkari gagasan jahat dari tindakan-tindakan yang pada hakekatnya jahat. Saya mulai menyadari betapa sungguh benarnya nubuat Paus, dan betapa penyelenggaraan ilahi ia dianugerahi kekuatan untuk bertahan menghadapi tekanan-tekanan hebat yang dibebankan atasnya” (Columbia). Sekarang, limabelas tahun kemudian, artikel-artikel mengenai pembuahan di luar tubuh, kehamilan pinjaman dan kloning muncul secara teratur di media masa. Orang patut bertanya, “Menuju ke manakah kita sebagai suatu masyarakat?”
Paus Paulus VI mengakhiri Humanae Vitae dengan pernyataan bahwa Gereja akan menjadi “tanda pertentangan”. Dan memang demikianlah Gereja dalam menjunjung tinggi kesakralan perkawinan dan menentang kekeliruan kontrasepsi. Ya, Gereja akan menentang budaya populer dunia. Namun demikian, kata-kata St. Paulus yang dulu disampaikan kepada jemaat di Roma, hendaknya menggema di telinga kita, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).



* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.

Sumber: “Straight Answers: Contraceptives Show Grave Consequences”, by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc;

Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.