MENGAPA GEREJA HARUS AJARAN RASULIAH?


 
Sesudah kebangkitanNya Kristus memerintahkan kepada kesebelas rasul (karena Yudas Iskariot telah mati bunuh diri): "...pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28: 19-20).

Perintah ini (ditujukan kepada Para Rasul saja dan bukan kepada murid-murid Kristus serta pengikutNya yang berjumlah ribuan) mengandung beberapa hal: para rasul itu adalah pelanjut misi Kristus, para rasul itu adalah pelaksana sakramen, para rasul itu adalah pengajar. Serta isi ajaran rasul itu adalah "segala sesuatu" yang diperintahkan Kristus kepada para rasul tadi. Dengan demikian isi ajaran rasul adalah ajaran Kristus sendiri. Karena Kristuslah yang memerintah dan menetapkan rasul-rasul ini untuk mengajar berarti ajaran rasul itu haruslah menjadi standard bagi siapapun yang ingin mengenal ajaran Kristus yang benar, karena isi Ajaran Rasuliah itu tak lain adalah "segala sesuatu yang Kuperintahkan kepadamu".  Hal ini menjadi sangat penting lagi karena adanya nabi-nabi palsu dan pengajar-pengajar palsu yang memutar-balikkan ajaran Kristus (Matius 7:15-20), bahkan mengatas-namakan dirinya sebagai Kristus sendiri dan mengatas-namakan ajaran mereka sebagai ajaran Kristus sendiri (Matius 24: 24, 1Yohanes 2:18-19). Dan Alkitab menyatakan bahwa banyak dari antara pengajar palsu itu datangnya berasal dari antara komunitas Kristen sendiri: "...sekarang telah bangkit banyak antikristus....Memang mereka berasal dari antara kita; tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita ...." (1Yohanes 2:18-19), juga: "Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah menyelusup di tengah-tengah kamu. Mereka adalah orang-orang fasik, yang menyalah-gunakan kasih karunia Allah...." (Yudas 1:4), serta: "Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan...." (2Petrus 2:1). Jika peringatan ini diberikan oleh Para Rasul ketika mereka masih hidup, apalagi sekarang dengan membanjirnya ajaran-ajaran dan dengan banyaknya "rupa-rupa angin pengajaran" (Efesus 4:14), adalah lebih diperlukan lagi kita harus kembali kepada Ajaran Rasuliah ini, karena merekalah yang telah ditetapkan oleh Kristus untuk menjadi pengajar-pengajar, jadi bukan guru-guru atau pengajar-pengajar yang mengangkat diri mereka sendiri itu, biarpun kalau mereka mengaku dirinya Kristen. Karena justru dari antara kalangan Kristen sendirilah pengajar-pengajar palsu itu muncul. Ada orang yang mengatakan: "Yang penting kan Yesus?!  Saya tak perlu Gereja, saya tak perlu sejarah, saya tak perlu Ajaran Rasuliah?" Jawaban kita: "Memang yang penting itu Yesus, dan itu harus menjadi pusatnya", namun Alkitab juga mengatakan adanya "Yesus yang lain", "Injil yang lain", "roh yang lain" (2Korintus 11:4, Galatia 1:8-9), bagaimana jika Yesus yang kita mengerti dari para pengajar tadi ternyata Yesus yang lain? Bukankah ini membahayakan keselamatan kita?"
Lagipula kita tak akan tahu Yesus tanpa Alkitab, dan Alkitab tak akan ada jika tak ada rasul yang menuliskannya, dan Alkitab (terutama Perjanjian Baru) tak akan terbentuk sebagai Kanon jika tak ada Gereja sebagai alat Allah untuk mengkanonkannya. Bukankah jelas bahwa kita tetap tergantung pada rasul juga. Sebab baik tulisan-tulisan dalam Alkitab maupun Gereja (yaitu Gereja Rasuliah) itu semua berasal dari karya rasul oleh bimibingan Roh Allah. Yang lebih penting lagi Alkitab dengan tegas menyatakan mengenai ajaran palsu dan para penganutnya: "Seorang bidat yang sudah satu dua kali kau nasihati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri" (Titus 3:10-11), juga: "Tetapi sekalipun kami (Para Rasul sendiri.) atau seorang malaikat dari Surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda....terkutuklah dia....jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda...terkutuklah dia" (Galatia 1:8-9). Mengenai guru palsu di antara umat Kristen itu Rasul Petrus mengatakan: "Mereka adalah orang-orang yang terkutuk. Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka..." (2Petrus 2:14-15). Tak kurang keras dan tegasnya Rasul Yohanes dalam hal ini: "Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini (yaitu Ajaran Rasul), janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat "(Yohanes 10-11). Ayat-ayat di atas dengan tegas memberikan kita peringatan mengenai beberapa hal, yaitu bahwa bidat ialah pengikut dan pengajar ajaran non-rasuliah yang sesat adalah sesat dan kesesatannya itu menyebabkan dia akan terhukum. Demikian juga injil yang berbeda, dengan demikian "Yesus yang lain" dan "roh yang lain" yang diikuti dan diajarkan orang menyebabkan orang yang mengajar dan mengikutinya menjadi TERKUTUK.
Guru-guru palsu yang mengajarkan kesesatan yang tak sesuai dengan Ajaran Petrus (Ajaran Rasuli) itu juga disebut TERKUTUK, menurut Surat Kiriman Petrus. Orang yang tak mengajarkan ajaran ini yaitu ajaran seperti yang diajarkan Rasul Yohanes yaitu Ajaran Rasuliah dilarang diterima rumah orang beriman oleh Yohanes dan bahkan dilarang memberi salam kepada orang semacam itu. Dan Yohanes mengatakan yang dilakukan oleh para pengajar sesat ini adalah "perbuatan jahat", yaitu karena hal itu menyebabkan kebinasaan kekal. Di sinilah perlunya kita merenung sejenak akan sikap kita yang terlalu tak perduli akan kebenaran Ajaran Rasuliah ini. Karena kutuk, hukuman, kesesatan, kejahatanlah yang akan kita terima jika kita salah dalam meyakini Ajaran Kristus itu. Jadi tidak cukup hanya mengatakan: "Pokoknya Yesus".  Harus ditegaskan: Yesus yang bagaimana? Yang rasuliah atau bukan?  Jadi Ajaran Rasuliah itu bukan hanya Ajaran Petrus semata, namun ajaran segenap rasul secara serempak dan bersama yang satu isinya dan satu kebenarannya. Dan kepada ajaran yang satu dan yang sama dari Para Rasul inilah kita harus kembali dan berpegang, sebab hanya itulah satu-satunya Ajaran Kristus yang menjamin kita tak terkutuk, tak terhukum dan tak dianggap berbuat kejahatan. Jadi standard dan ukuran ajaran itu benar atau tidak, bukanlah "pendapatku dan tafsiranku" lawan "pendapatmu dan tafsiranmu", bukan pula karena dikutip dari ayat-ayat Alkitab yang dipenggal-penggal dari sini dan dari sana, namun seluruh kepenuhan dari kebenaran Ajaran Rasuliah yang tetap dipelihara oleh Gereja Purba. Oleh sebab itu Alkitab menegaskan tentang standard atau ukuran menyimpang atau tidaknya suatu ajaran itu demikian: "Tetapi aku takut, kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus...Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain daripada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau injil yang lain daripada yang telah kamu terima" (2Korintus 11:3-4), juga: "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari Surga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia" (Galatia 1:8-9), lagi: "...Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus" (Roma 2: 16) dan masih ada beberapa ayat lagi yang lain. Dari ayat-ayat ini jelas bahwa menilai suatu ajaran sebagai "Yesus yang lain", sebagai "roh yang lain" dan sebagai "injil yang lain" atau "injil yang berbeda" atau ringkasnya sebagai ajaran yang salah, bukanlah dengan apa yang diilhamkan oleh roh secara pribadi kepada perorangan, atau tafsiran pribadi perorangan biarpun kalau itu dikutip dari ayat-ayat Alkitab sekalipun, namun "lain" dan "berbeda"nya tadi harus diukur "dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu", "dengan apa yang telah kamu terima" "daripada yang telah kami beritakan", daripada yang telah kamu terima", yaitu "Injil yang kuberitakan".  Jadi standardnya adalah pemberitaan rasuliah yang diterima oleh dan diberitakan kepada Gereja. Jadi kebenaran itu bukan bersifat individualistik namun bersifat mata-rantai dari rasul dan bersifat komunal dari pihak yang menerima yaitu Gereja. Ajaran Rasuliah yang sekali dan untuk selamanya diserahkan kepada Gereja Rasuliah sepanjang segala abad itulah yang harus menjadi kacamata kita dalam mengerti Alkitab, sebab dari situlah konteks dan lingkup Alkitab itu mula-mula ditulis berasal. Membaca Alkitab lepas dari konteks dan lingkupnya akan menuju kesalah-pahaman dan kesesatan saja. Karena tanpa kacamata Ajaran Rasuliah maka Alkitab yang notabene Kitab Rasuliah tak akan berbicara menurut yang dikehendaki Para Rasul.
Contohnya: Jika kacamata injili yang digunakan, maka hal-hal mengenai Sakramen, Maria, Gereja itu pasti akan dilewatkan begitu saja. Jika kaca-mata Calvinistik yang digunakan, maka Ajaran Calvin-lah yang ditemukan dalam Alkitab. Jika kacamata Kharismatik dan Aliran Pantekostalah yang digunakan, maka yang ditonjolkan dari Alkitab karunia-karunia Roh Kudus.
Demikianlah seterusnya. Namun jika kacamata Ajaran Rasuliah yang kita gunakan, maka segenap kepenuhan Ajaran Rasuliah dengan segala kepenuhannyalah yang kita temukan.
Pertanyaannya adalah Apakah Gereja kita ini didirikan oleh Para Rasul dan bisa dibuktikan mempunyai hubungan mata rantai dan suksesi apostolik yang tak terputuskan dari jaman Rasuliah?  Karena Gereja adalah "Kepenuhan Kristus yang memenuhi segala sesuatu" (Efesus 1:23). Di dalam Gereja itulah Kristus hadir, oleh karena itu siapa yang memisahkan dari Gereja yang benar berarti memisahkan dari Kristus. Salah satu syarat Gereja yang benar itu adalah Apostolik atau Rasuli, yaitu mempunyai mata rantai tak terputuskan dari jaman Para Rasul sendiri.

(Agus H.F)

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.