MENGAPA GEREJA ORTHODOX MENDOAKAN ORANG MATI
SEDANGKAN GEREJA PROTESTAN MENENTANGNYA

 

Umat Protestan tidak berdoa bagi jiwa orang yang meninggal untuk mendapatkan belas kasihan dan istirahat. Mereka hanya membawa mayat ke dalam Gereja, atau di rumah saja, lalu beberapa ayat Alkitab dibaca dan kotbah dilakukan, hanya untuk "memberi penghiburan pada yang hidup" dari keluarga orang yang meninggal tadi atau mengisahkan bagaimana peristiwa kematian si mati itu terjadi. Mereka tak pernah berdoa bagi orang yang meninggal, tak pula memohon pengampunan atau hidup kekal bagi mereka.

Umat Yahudi dan seluruh Gereja Purba dalam sepanjang sejarahnya berdoa dan memperingati orang-orangnya yang sudah meninggal, yang tradisi ini dilestarikan dalam agama Islam. Memang dalam masing-masing agama ini tujuan dan theologia yang melandasi berbeda-beda dalam praktek mereka untuk berdoa bagi orang yang sudah meninggal ini. Umat Islam berdoa bagi orang yang sudah meninggal karena mereka percaya bahwa doa itu mampu menyelamatkan orang yang didoakan. Namun kita tak hendak membicarakan keyakinan mereka.


Kita akan membicarakan, mengapa umat Kristen mendoakan (Orthodox dan Roma Katolik) atau tak mendoakan (Protestan) orang mati. Untuk jelasnya kita lihat dulu mengapa Protestan menolak mendoakan orang mati. Mereka bersikap ini karena reaksi terhadap praktek Gereja Roma Katolik pada awal munculnya Gerakan Reformasi Protestan itu sendiri. Pada saat itu Gereja Roma Katolik membutuhkan uang untuk membangun Basilika Santo Petrus di Roma. Untuk mendapatkan uang, mereka menjual "Surat Penghapusan Dosa" / Indulgensia. Penjualan Surat Penghapusan Dosa ini dimungkinkan karena Gereja Roma Katolik mempercayai ajaran "Api Penyucian" yang oleh Gereja Orthodox ditolak. Menurut ajaran "Api Penyucian" ini manusia yang tak pernah ingkar dari iman Katolik namun hidupnya tidak sesuai dengan hukum-hukum ilahi, dia tak akan masuk Surga, namun juga tak akan masuk neraka. Manusia semacam ini akan masuk ke alam tengah yang bukan Surga atau neraka yaitu "Api Penyucian". Dalam "Api Penyucian" ini orang tadi akan mengalami siksa yang menyucikan, sampai akhirnya dia mengalami pembersihan dari dosa-dosanya dan diperkenankan masuk Surga. Sedangkan orang Katolik yang taat pada hukum ilahi akan masuk Surga, namun yang sampai berlebih pahala yang dicapai, maka bukan hanya dia masuk Surga, malahan dia akan menjadi orang suci. Rahmat berlebih dari para orang suci inilah yang di "deposito" dalam Gereja Katolik, dan Sri Paus sebagai Wakil Kristus di dunia berhak membagikan rahmat tadi dari "deposito" rahmat yang disimpan di Gereja. Bagi mereka yang menginginkan agar jiwa-jiwa dalam Api Penyucian yang kekurangan rahmat itu, cepat lepas masa siksanya, dapat menambah rahmat mereka itu melalui dispensasi Sri Paus, dengan menambah rahmat mereka melalui "deposito rahmat berlebih" yang disimpan dalam Gereja itu. Atau melalui doa-doa, kurban misa, dan terlebih-lebih melalui "Surat Indulgensia" tadi. Maka dijuallah "Surat Indulgensia" bagi mereka yang ada dalam Api Penyucian itu.
Demikianlah, akibatrnya kasih-karunia Kristus yang menyelamatkan itu akhirnya menjadi kabur dalam sistim semacam ini. Ajaran ini sangat asing dari cara pemikiran Iman Kristen Orthodox, karena itu tak ada landasannya dalam Alkitab maupun Paradosis Rasuliah. Menghadapi ajaran ini, Martin Luther pertama kali menolak penjualan Surat Indulgensia itu. Lalu menolak sumber munculnya ide tentang "Surat Indulgensia" itu, yaitu ajaran "Api Penyucian" dengan menekankan bahwa hanya oleh rahmat dan oleh iman saja orang diselamatkan. Akibatnya ditolak semua sistim yang ada sangkut-pautnya dengan "Api Penyucian" yaitu doa bagi orang mati, korban misa bagi orang mati, dan tentu saja Surat Indulgensia itu sendiri. Demikianlah akhirnya untuk generasi Protestan sesudah Luther, tinggal penolakan tadi yang masih dikenang tanpa mengetahui landasan sejarah yang menyebabkan munculnya penolakan itu. Akhirnya berdoa bagi orang mati itu dianggap dosa besar di kalangan Protestan, dengan dalih yang sudah percaya Kristus pasti sudah selamat dan tidak perlu didoakan lagi. Padahal Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan itu bukan hanya "sudah" saja, tetapi "sudah diselamatkan" oleh baptisan dimanunggalkan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, "sedang diselamatkan" oleh ketaatan hidup dan perjuangan melawan hawa-nafsu untuk mencapai kekudusan, dan "akan diselamatkan" pada saat kebangkitan menyatu dalam kemuliaan Kristus. Serta yang mati ya sudah mati, sudah di tangan Tuhan tak perlu didoakan. Dan bahkan datang ke kuburan saja sudah dianggap berdosa malahan di garis-bawahi "Itu Penyembahan Berhala", tanpa memberi definisi mengapa hal itu dianggap sebagai penyembahan berhala, dan dimana letak penyembahan berhalanya. Maka di dalam pemahaman Protestan, setiap doa bagi orang mati, terkait dengan "Api Penyucian" ataupun tidak, harus ditolak. Maka kebaktian di rumah duka, bukanlah lagi doa bagi si mati, namun penghiburan bagi si "hidup". Antipati reformasi terhadap praktek Katolik Roma itu dipantulkan dalam sikap sebagian umat Protestan terhadap Iman Orthodox, sehingga, Iman Orthodox difitnah oleh sebagian orang yang tidak mengerti sebagai "menyembah arwah-arwah" atau "minta perlindungan Orang Kudus". Pertama sekali harus dimengerti bahwa Iman Kristen Orthodox itu sangat menekankan "Tauhid" atau Keesaan Allah, dan menentang orang-orang musyrik ("menyekutukan Allah ") sebagaimana yang kita lihat dalam pernyataan no.2 mengenai keluarnya Roh Kudus di atas. Lalu bagaimana mungkin Iman Kristen Orthodox "menyembah arwah-arwah" atau "minta perlindungan Orang Kudus" yang jelas-jelas itu perbuatan orang musyrik?
Istilah 'Santo Pelindung" itu bukan istilah Orthodox, itu adalah istilah "Roma Katolik". Sebagai Iman yang Tauhid dan Kristus-sentris, Gereja Orthodox tak akan jatuh pada musyrik semacam itu. Pelindung setiap orang Kristen Orthodox adalah Allah sendiri di dalam Kristus oleh Roh Kudus.
Sedangkan para orang suci adalah sahabat-sahabat yang membantu doa, karena Orang Suci itu hidup di hadirat Kristus dalam sikap berdoa dan menyembahNya. Dimanakah bukti fitnahan "menyembah arwah-arwah" dan "meminta perlindungan orang-orang Kudus" yang dilontarkan kepada Iman Orthodox dalam ajaran seperti ini. Yang kedua, Iman Kristen Orthodox adalah Iman yang menekankan "Inkarnasi" yaitu "TurunNya Firman Allah ke dunia menjadi Daging" sebagaimana yang kita lihat dalam pernyataan no.1 mengenai kodrat Kristus di atas. Melalui NuzulNya sebagai daging jasad jasmani manusia, Firman Allah telah menyatukan kemanusiaan kita dengan keilahianNya sendiri. Oleh kematian dan kebangkitanNya, kemanusiaan yang dipersatukan dengan keilahianNya itu telah dimuliakan dalam kekekalan sehingga teresapi oleh kodrat keilahianNya sendiri. Demikianlah setiap manusia yang menyatu dengan Kristus oleh iman dalam baptisan, telah menjadi satu dengan kemanusiaanNya, sehingga semua menjadi anggota tubuh kemanusiaan yang satu dan yang sama itu, dan inilah yang disebut "Gereja": Tubuh Kristus. Tujuan penyatuan dalam Tubuh Kristus oleh Sakramen di dalam Gereja inilah adalah untuk "ambil bagian dalam kodrat ilahi" tadi (2Petrus 1:4).  Sehingga orang yang mati dalam Kristus itu tidak mati namun "hidup walaupun sudah mati" (Yohanes 11:25), karena mereka "sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup" (Yohanes 5:24), sebab mereka menyatu dengan keilahian Kristus yang dinyatakan melalui kebangkitanNya. Dan mereka yang "hidup walaupun sudah mati" itu, sekarang membentuk komunitas suci sebagai "roh-roh orang benar yang telah menjadi sempurna", yaitu "jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di Surga" (Ibrani 12: 23). Jadi orang yang mati di dalam Kristus itu bukannya "ya mati saja", namun mereka membentuk masyarakat suci yang sama hidupnya dengan kita, hanya mereka telah "'benar" dan "sempurna" dan dalam wujud "roh" yang sama sekali tak dapat mati lagi. Mereka lebih hidup dari kita, karena mereka tak mati lagi, dan telah menyatu dengan kehidupan ilahi di dalam Kristus. Sedangkan kita masih berwujud daging yang dapat mati, sering menyeleweng dalam dosa dan sangat tidak sempurna. Mereka ini disebut "jemaat" yaitu "Gereja", berarti mereka ini satu Tubuh dengan kita yang juga menyatu dengan Kristus itu. Mereka adalah Gereja yang sudah menang dan kita adalah Gereja yang sedang berjuang. Dan Alkitab mengatakan bahwa dalam Kristus hanya ada "Satu Tubuh" yaitu "Satu Gereja" saja (Efesus 4:4) karena hanya ada "Satu Roh" yang menghidupi. Jika demikian berarti "komunitas suci" dari "roh-roh orang benar yang telah menjadi sempurna" itu merupakan satu anggota dari "Satu Tubuh" yang sama dengan kita. Oleh karena itu mereka tak terpisah dari kita, bahkan pada saat ini juga. Karena baik mereka maupun kita sama-sama manunggal dalam Kemanusiaan Kristus yang sama, dan dihidupi oleh Roh Kudus yang sama.
Memisahkan mereka dari kita, berarti menyangkal karya Inkarnasi Kristus, dan rahmat panunggalan kita denganNya, serta pendangkalan makna ekklesiologi. Dan itulah bida'ah yang harus dijauhi. Sebagaimana kita dalam dunia sebagai Tubuh Kristus penyatuannya terletak pada Sakramen (1Kor.10:16-17), ibadah dan doa, demikianlah kesatuan dan penyatuan kita dengan Gereja yang satu namun yang sudah menang itu adalah dalam doa.


Itulah sebabnya kita berdoa bagi mereka yang sekarang sudah hidup dengan Kristus. Jadi kita tak berdoa bagi orang mati, namun bagi orang yang sudah hidup, yang derajat hidupnya kebih tinggi daripada hidup kita sebagai wujud kesatuan Gereja, dan bahwa cinta-kasih keluarga itu tak terputus oleh kematian di dalam Kristus. Jadi doa kita bukanlah doa individualistis, namun ekklesiologis sifatnya. Itulah sebabnya peringatan bagi orang mati dalam Gereja Orthodox selalu dilakukan dalam konteks Liturgis, dilakukan oleh Imam (Presbyter). Menyembah arwahkah ini? Jelas bukan. Doa Gereja itu bukanlah doa untuk keselamatan si mati, karena keselamatan seseorang tergantung pada iman dan pertobatan di waktu hidup di dunia ini, namun doa ini adalah penegasan iman akan janji Allah, agar janji Allah yang telah diberikan dalam Kitab Suci bahwa orang mati dalam Kristus itu menerima pengampunan, istirahat dan keteduhan serta disatukan dengan para suci yaitu "komunitas kudus dari roh-roh orang benar yang telah menjadi sempurna" itu menjadi realita dan kenyataan. Ajaran yang demikian Alkitabiah, suci, dan bersih dari bida'ah, mengapa dicela sebagai tidak rasionil dan kurang kritis? Untuk pembahasan tentang orang kudus dan wasilah atau syfaat yang diberikan oleh mereka kita dapat lihat dalam penjelasan Bapa Suci Shenouda. Doa bagi orang yang sudah hidup di dalam Kristus sebagai wujud kesatuan Gereja, dan wujud kasih yang tak dapat dipisahkan oleh kematian itu, disebut sebagai "peringatan" bukan "selamatan", karena Alkitab mengatakan: "Ingatlah pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan Firman Allah kepadamu (Para Rasul, Episkop, Presbiter, dan Diaken). Perhatikanlah akhir hidup mereka, dan contohlah iman mereka (Ibrani 13:7). Ayat ini menjelaskan bahwa pemimpin-pemimpin itu memiliki "akhir hidup" berarti mereka sudah mati. Mereka yang sudah mati itu diperintah untuk "mengingat" dan "mencontoh iman mereka". Itulah sebabnya Para Kudus yang telah mati itu tetap diingat (perhatikan: BUKAN DISEMBAH!!!) dalam ibadah Gereja dalam doa jemaat kepada Allah, karena yang diperintah untuk mengingat di sini adalah jemaat (Gereja). Dan peringatannya itu berwujud kidung-kidung yang disebut "Menaion" dan bacaan kisah hidup mereka yang disebut "synaxarion" yang mengisahkan hidup mereka, sehingga iman mereka dapat dicontoh. Peringatan akan orang yang sudah mati yang diperintahkan Alkitab ini, akhirnya tak terbatas pada para pemimpin saja, namun juga seluruh anggota Gereja. Karena di dalam Kristus kenangan mereka yang beriman kepadaNya itu kekal adanya. Itulah sebabnya diadakan peringatan dalam ibadah doa.

Karena Alkitab sama sekali tak pernah memerintahkan suatu larangan berdoa bagi orang yang meninggal di dalam Kristus, yang dilarang adalah menanyakan sesuatu pada orang mati atau roh peramal (Ulangan 18: 9-14), yang juga dilarang keras dalam Gereja Orthodox dan dianggap dosa besar dan dapat menyebabkan orang dikucilkan dari Gereja kalau tidak mau bertobat, maka sebagian umat Protestan mencari-cari dukungan akan ide mereka itu dari Alkitab dengan menggunakan kisah orang kaya dan Lazarus, ketika mereka meninggal (Lukas 16: 19-31). Secara garis besar mereka mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara yang hidup dan yang mati menurut kisah ini, karena adanya kata-kata: "…di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu, ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang" (Lukas 16: 26). Ayat ini sama sekali tak memberi dukungan apapun pada ide Prostestan tadi, sebab jurang yang ada itu bukan antara dunia orang hidup dengan dunia orang mati, namun dunia dalam alam kematian itu sendiri, yaitu antara Surga dan neraka. Namun meskipun ada jurang sebagai tempat yang tak dapat diseberangi, komunikasi masih tetap dapat dilakukan buktinya Abraham berbincang-bincang dengan si orang kaya yang ada dalam neraka itu. Selanjutnya adalah permintaan orang kaya agar Abraham mengirimkan Lazarus ke rumah ayahnya untuk memperingatkan saudara-saudaranya agar nantinya tak akan masuk ke tempat siksa itu (Lukas 16:27-28). Permintaan itu ditolak oleh Abraham dengan kata-kata ini: " …Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi, baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu……Jika mereka tak mendengarkan kesaksian Musa dan Para Nabi, mereka tidak akan juga diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati" (Lukas 16: 29,31). Oleh sebagian umat Protestan jawaban ini dijadikan bukti bahwa tidak ada hubungan antara yang hidup dan yang mati. Namun ayat itu tak membahas masalah adanya atau tidak adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati. Ini cara menghindar dari neraka seperti yang dikehendaki si orang kaya itu saja. Jika mereka mendengar Kitab Suci, sudah cukuplah mereka dapat diperingatkan untuk menjauhi dosa agar tak masuk neraka. Namun jika memang tak mau mendengar Kitab Suci, biarpun ada mukjizat bangkitnya orang matipun, orang tetap tak percaya juga. Jadi ayat-ayat ini sama sekali tak berbicara mengenai dapat atau tidaknya hubungan antara orang hidup dan orang mati, terutama yang dalam Kristus. Abraham tidak mau menyuruh Lazarus ke bumi lagi bukan karena hal yang demikian itu tidak mungkin terjadi, karena Musa yang sudah matipun ternyata dapat menampakkan diri ke bumi dan dilihat manusia yang masih berbadan jasmani (Matius 17: 2-3), namun hendak menegaskan pentingnya beriman kepada Kitab Suci, bukan pada mukjizat yang spektakular. Jadi argumentasi Protestan menggunakan ayat-ayat ini tak bisa dipertahankan. Maka jelaslah tak ada larangan sedikitpun dalam Alkitab untuk "memperingati orang mati", yang ada malah perintah untuk melakukan seperti yang telah kita bahas di atas. Jadi penolakan Protestan akan doa sebagai "peringatan" atas orang mati dasar theologianya sangat tipis, dan landasan Alkitabnya tidak ada. Penolakan itu hanya semata-mata merupakan reaksi terhadap penyelewengan Ajaran Gereja Roma Katolik tentang doa bagi orang mati seperti yang telah kita bahas di atas, yang juga ditentang oleh Gereja Orthodox.

Sedangkan praktek Gereja Orthodox mengenai doa sebagai "peringatan" bagi orang mati itu adalah merupakan implikasi logis dan dampak langsung serta penegasan dari doktrin inkarnasi Kristus, kematian dan kebangkitanNya, keselamatan manusia melalui panunggalan denganNya, ekklesiologi, dan persekutuan para kudus, kini dan pada saat ini, bukan hanya menunggu nanti pada akhir jaman.
(Agus H.F)

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.