MENGAPA GEREJA ORTHODOX MENGHORMATI ORANG KUDUS?
 

Alasan umat Protestan tidak menghormati para malaikat, Sang Perawan Maryam, ataupun orang-orang kudus. Mereka tidak merayakan peringatan orang-orang kudus seperti yang kita lakukan, tidak pula membaca "synaxarion" Gereja yang berisi kisah kehidupan orang-orang kudus. Mereka tidak menyanyikan kidungan-kidungan yang berisi cerita orang-orang kudus, tidak pula doksologia, taddakia, peringatan orang-orang kudus, ataupun menghormati peninggalan-peninggalan suci orang-orang kudus. Hal ini menuntun kepada pokok lainnya seperti berikut ini: Penolakan akan doa bagi orang meninggal itu diakibatkan oleh reaksi terhadap penyelewengan Gereja Roma Katolik pada waktu munculnya Gerakan Reformasi Protestan, demikian pula penolakan penghormatan terhadap orang-orang kudus Gereja itupun karena reaksi terhadap hal yang sama pula.
Pada saat munculnya Gerakan Reformasi Protestan di Eropa Barat, Gereja Roma Katolik memang sedang jatuh kepada jaman kegelapan, dimana banyak praktek-praktek takhayul dan bahkan mungkin praktek-praktek kafir menyusup ke dalamnya. Di antaranya adalah penghormatan terhadap orang-orang kudus yang melebihi batas yang seharusnya. Sikap mereka terhadap orang-orang kudus itu tak banyak berbeda dari sikap orang-orang kafir Eropa sebelum menjadi Kristen terhadap dewa-dewa mereka. Dan karena inilah mungkin timbul fitnahan terhadap Gereja Orthodox sebagai "menyembah arwah-arwah" dan minta "perlindungan pada orang-orang kudus", yang merupakan fitnahan salah-alamat, karena fenomena luar yang kelihatan sama di Gereja Orthodox dianggap isinya dan prakteknyapun sama pula seperti yang terdapat dalam Gereja Roma Katolik. Pada jaman itu umat Roma Katolik mempercayai bahwa masing-masing orang kudus itu diserahi kekuasaan sendiri-sendiri. Misalnya: Santo Kristofer sebagai penjaga orang dalam perjalanan, dan lain-lain.
Dengan demikian orang lebih banyak "berdoa" kepada santo-santa ini daripada kepada Allah. Bahkan Martin Luther-pun sebelum mengadakan Gerakan Protestan ketika mendengar guruh yang menakutkan, mengatakan: "Santa Anna, tolonglah saya". Dari sinilah timbulnya ide "Santo Pelindung" itu, namun ini bukanlah istilah Orthodox. Akibat dari ini semua akhirnya umat Protestan mengatakan bahwa kita semua orang Kristen yang masih hidup inilah orang-orang kudus, tidak ada orang-orang kudus yang sudah mati itu, dan kita tak perlu menghormati mereka. Itulah reaksi terhadap Gereja Roma Katolik itu. Namun sikap Gereja Orthodox mengenai hal ini berbeda baik dari Gereja Roma Katolik maupun reaksi Protestan terhadapnya. Iman Kristen Orthodox menegaskan sebagaimana yang dikatakan oleh Alkitab bahwa Gereja itulah orang-orang kudus itu, sebagaimana yang dikatakan: "…jemaat (Gereja) Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus…" (1Korintus 1:2), juga: "…jemaat (Gereja) Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya (yaitu propinsi Akhaya dimana kota Korintus berada)…." (2Korintus 1:1), serta: "…semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat (episkop) dan diaken" (Filipi 1:1), dan lain-lain.
Gereja adalah sebagai persekutuan orang-orang kudus, karena mereka yang masuk ke dalamnya itu telah dikuduskan terlebih dahulu di dalam Kristus Yesus dan Roh Kudus, yaitu melalui Sakramen Baptisan untuk manunggal dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Roma 6:3-11) dan Krisma yaitu pengurapan dan penumpangan tangan untuk menerima Roh Kudus (Kisah 8:14-17, 1Yohanes 2:27, Efesus 1:13, 2Korintus 1:21-22), seperti yang dikatakan: "…Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus (pada saat baptisan) dan dalam Roh Allah kita (pada saat Krisma yang diberikan langsung sesudah keluar dari air baptisan)" (1Korintus 6:11). Namun kekudusan yang kita miliki sebagai anggota Gereja Kristus yang Orthodox itu adalah kekudusan dalam posisi saja sebagai umat Allah secara bersama yaitu: Gereja, belum kekudusan dalam realita bagi masing-masing pribadi kita, karena meskipun kita telah disebut sebagai "orang-orang kudus" secara bersama sebagai bagian dari Gereja yaitu "Tubuh Kristus" yang memang kudus, kita masih diperintahkan: "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah" (2Korintus 7:1). Jadi secara pribadi orang per orang kekudusan kita memang belum sempurna, kita belum menjadi "orang kudus" dalam realita, karena kita masih tunduk pada pencemaran jasmani dan rohani. Kita disebut orang-orang kudus karena kita menyatu dengan kekudusan Tubuh Kristus yaitu Gereja yang memang kudus, karena Sakramen-sakramennya yang menguduskan oleh kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalamnya, oleh ajaran dan beritanya yang mengkuduskan, dan oleh kehadiran orang-orang kudusnya yang selalu muncul di sepanjang sejarahnya selama dua ribu tahun ini. Jika kita sebagai Gereja yang sedang berjuang ini sudah disebut sebagai "orang-orang kudus" meskipun masih diperintah untuk "menyempurnakan kekudusan" dalam takut akan Allah, maka jelas bahwa "jemaat (Gereja) anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di Surga", yaitu "roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna" (Ibrani 12:23) itu adalah memang orang kudus dalam realita dan dalam arti sebenarnya, karena mereka telah disebut sebagai "orang benar" dan "telah menjadi sempurna". Mereka itu bukan hantu, bukan arwah, dan tidak disembah. Mereka itu adalah anggota Gereja, yaitu "jemaat anak-anak sulung yang namanya terdaftar di Surga".
Karena Gereja adalah satu seperti yang telah diterangkan di atas, maka mereka ini adalah anggota kita, dan kita anggota mereka, dengan demikian tak ada perpisahan atau perpecahan dalam persekutuan orang-orang kudus itu. Karena Alkitab memerintahkan kita untuk mengingat pemimpin-pemimpin yang telah ber "akhir hidup" mereka ini, dan untuk mencontoh iman mereka (Ibrani 13:7), maka taat kepada perintah Alkitab inilah maka peringatan mereka selalu diadakan, penghormatan pada karya mereka dilakukan, serta kisah hidup mereka dibacakan dan dilagukan agar kita dapat mencontoh iman mereka selama hidup mereka itu, bagi memuliakan Allah yang dimuliakan di dalam diri orang-orang kudusNya itu. Masihkah orang menuduh Iman Orthodox yang sangat Alkitabiah ini, sebagai "penyembah-penyembah arwah" dan menjadikan orang-orang Suci sebagai "Santo Pelindung" seperti tuduhan mereka itu? Dan jika mereka memang percaya Alkitab sebagai satu-satunya standard bagi iman dan praktek mereka, mengapa kebenaran Alkitabiah yang baru kita bahas ini diabaikan.

(Agus H.F)

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.