Mengapa Saya Pergi ke Misa
Oleh :  Thomas Richstatter, OFM, STD


Berapa banyak hal yang kalian lakukan ketika kalian berumur 10 tahun yang masih kalian lakukan hingga sekarang? Ada banyak hal yang dulu biasa saya lakukan, sekarang tidak lagi saya lakukan. Ini sungguh benar menyangkut aktivitas-aktivitas jasmani - sepakbola adalah suatu hal dari masa lalu bagi saya.
Bahkan kehidupan doa saya telah berubah. Ada doa-doa dan devosi yang tidak lagi saya lakukan. Tetapi, Misa tinggal tetap - dalam kehidupan saya dan dalam kehidupan Gereja. Setelah 2000 tahun, undangan Tuhan ke perjamuan masih terus berlangsung.

Dalam artikel ini kita akan melihat lima alasan mengapa saya pergi ke Misa. Kalian sendiri, apakah alasan-alasan kalian? Saya berharap, alasan-alasan saya dapat membantu kalian merefleksikan alasan-alasan kalian.

1. Saya Membutuhkan Orang Lain Untuk Berdoa Dengan Baik
Sungguh berat melakukan hal-hal sulit seorang diri. Dan mengikuti Yesus dapat menjadi sesuatu yang sulit. Salah satu alasan mengapa Alcoholics Anonymous, Weight Watchers dan program-program serupa berhasil adalah karena kesemuanya itu merupakan usaha kelompok. Untuk mengubah hidup kita - dalam istilah Biblis, untuk bertobat, untuk berubah - kita membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang-orang lain. Dalam Misa, saya bersekutu dengan orang-orang lain yang juga berusaha mengamalkan Injil dan mengikuti Yesus.
Terkadang, ketika saya berusaha membuat keputusan-keputusan yang baik -keputusan-keputusan berdasarkan nilai-nilai Injil - pikiran saya dikacaukan oleh tingkat kejahatan sosial yang begitu rupa di dunia. Bagaimanakah saya dapat hidup adil di tengah begitu banyak ketidakadilan? Bagaimanakah saya dapat mengamalkan kemiskinan injili di tengah konsumsi yang menyolok begitu rupa? Bagaimanakah saya dapat mengampuni dalam suatu dunia yang menuntut balas dendam?
Dalam Misa saya diingatkan dan diyakinkan bahwa saya tidak seorang diri dalam usaha dan upaya saya. Saya adalah seorang anggota Gereja. Saya adalah anggota Tubuh Kristus. Saya ambil bagian dalam Roh Kristus dan saya dikuatkan oleh Roh Kudus. Dalam setiap Perayaan Ekaristi, saya mendengar kata-kata, “Terimalah dan minumlah: inilah piala Darah-Ku, Darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.” Bersama-sama kita dapat mendatangkan perbaikan dalam dunia ini. Bersama-sama dengan Kristus kita dapat mendatangkan perbaikan yang menakjubkan! Dan dalam Misa kita sungguh bersama-sama dengan Kristus: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).

2. Misa Memungkinkan Saya Berdoa dengan Segenap Keberadaan Saya
Apabila saya berdoa seorang diri, di rumah, saya berdoa terutama dengan kata-kata. Saya “berbicara kepada Tuhan” - itulah yang diajarkan kepada saya mengenai apa itu doa, yakni berbicara kepada Tuhan. Tetapi, apabila saya ikut ambil bagian dalam Misa, saya berdoa dengan lebih dari sekedar kata-kata; saya berdoa dengan segenap keberadaan saya. Saya berdoa dengan roti dan anggur, air dan minyak, berkumpul bersama dan diutus pergi, berdiri di tempat dan maju dalam prosesi, menyalakan lilin dan mencium harumnya bunga, bahkan debu dan abu!
Dalam Misa saya menyadari bahwa saya lebih dari sekedar jiwa atau raga. Saya diselamatkan jiwa dan raga. Saya diselamatkan jiwa, raga dan roh. Dan saya diselamatkan oleh Tuhan yang lebih dari sekedar roh. Saya diselamatkan oleh Tuhan yang “menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14). Karena Inkarnasi, saya dapat menghampiri Tuhan tidak hanya dengan kata-kata, melainkan dengan unsur-unsur dari kehidupan saya sehari-hari: makan dan minum, berbagi makanan dan melambungkan lagu.
Yesus tahu mengenai kehidupan kita sehari-hari sebab Ia tinggal di sini di antara kita. Dan Ia mengenal kita tidak sekedar dengan benaknya, melainkan dengan tubuh-Nya. Yesus tahu susah-payahnya mengangkat sebuah meja yang berat, keringat yang bercucuran sementara bekerja di bawah terik padang gurun, perut yang melilit kelaparan, peluk mesra teman dan sahabat, sedapnya anggur merah yang tua! Dengan demikian, saya dapat berdoa dengan hal-hal duniawi, saya berdoa dengan simbol-simbol. Simbol adalah bahasa Misa.
Simbol tidak selalu mudah bagi kita. Para uskup mengingatkan bahwa budaya Amerika kita “yang berorientasi pada efisiensi dan produksi telah menjadikan kita tidak peka terhadap fungsi simbolis manusia dan benda” (Environment and Art in Catholic Worship, 16). Jika simbol adalah bahasa Misa, maka orang-orang yang dididik dalam ilmu yang ilmiah, nyata dan dapat dikalkulasi, mungkin mendapati simbol sebagai suatu bahasa yang asing, dan mungkin mendapati sifat simbolis Misa sebagai sesulit berbicara suatu bahasa asing. Mereka mungkin beranggapan bahwa simbol tidaklah nyata, namun demikian simbol adalah sungguh nyata. Suatu ciuman di antara sepasang kekasih adalah suatu komunikasi nyata, yang mengungkapkan lebih dari sekedar kata.
Bahasa simbolis adalah penting bagi kehidupan doa saya sebab ada saat-saat di mana sekedar kata-kata tidaklah cukup. Simbol dapat berarti lebih dari suatu pernyataan yang dimaklumkan atau rumus ilmiah atau dogma teologis.
Sebagai misal, apa arti Misa? Ketika saya menyambut Komuni Kudus saya yang pertama dalam usia enam tahun, saya melakukannya dengan penuh hormat. Saya tahu apa yang saya lakukan. Saya tahu apa artinya Misa. Sekarang ini, jelas saya tahu lebih banyak mengenai Ekaristi daripada waktu itu. Tetapi, pengalaman menyambut santapan kudus ini tetap merupakan pengalaman yang sama.
Ini adalah suatu pengalaman yang melampaui kata-kata. Saya tahu apa itu artinya ketika saya berusia enam tahun; saya tahu apa itu artinya sekarang; meski demikian Misa melampaui segala arti itu. Inilah keindahan Misa: maknanya melampaui apa yang pernah dapat kita pahami. Suatu simbol yang mengungkapkan lebih dari sekedar kata-kata yang pernah dapat diucapkan. Misa jauh melampaui kata-kata. Dalam Misa, saya berdoa dengan segenap keberadaan saya.

3. Di Samping Berbicara kepada Tuhan, Saya Butuh Tuhan Berbicara kepada Saya
Saya sering berpikiran bahwa doa adalah “berbicara kepada Tuhan”, tetapi saya belajar dari situasi-situasi lain bahwa apabila saya berbicara terlalu banyak, saya tidak belajar apapun. Suatu percakapan yang sesungguhnya tidak hanya butuh berbicara, melainkan juga mendengarkan. Saya pergi ke Misa untuk mendengarkan Tuhan berbicara kepada saya. Saya mendengarkan suara Kristus dalam bacaan-bacaan sebab “Ia Sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #7). Saya mendengarkan suara Kristus dalam homili. Saya mendengarkan suara-Nya dalam diri para anggota jemaat yang bersembah sujud - dalam devosi mereka, dalam permohonan-permohonan mereka, dalam kurban-kurban mereka. Dan teristimewa saya mendengarkan suara-Nya dalam doa-doa dalam Misa.
Misa adalah doa Tubuh Kristus, kepala dan anggota. Imam selalu berdoa dalam bentuk orang pertama jamak - “kami, kita” - sebab Misa adalah doa kita, kita semua bersama-sama. Kita berdoa “dengan pengantaraan Kristus Tuhan kita” sebab Misa adalah doa Kristus yang dipersatukan dengan Tubuh-Nya, Gereja. Saya mendengarkan suara Kristus dalam doa-doa dalam Misa.
Dalam setiap Misa, saya mendengarkan kata-kata Kristus, “Inilah Tubuh-Ku… inilah Darah-Ku… Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Tuhan berbicara kepada saya lewat kata-kata ini. Saya mendengarkan realita inti misteri iman kita dimaklumkan. Saya percaya bahwa Kristus wafat demi dosa-dosa kita, bangkit dari antara orang mati dan memberikan kepada kita tubuh-Nya dan darah-Nya sebagai makanan dan minuman. “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yohanes 5:55-56).
Tetapi, roti tidak menjadi sekedar daging - melainkan menjadi daging Kristus; Kristus yang memberikan Diri-Nya seutuhnya bagi kita. Roti menjadi daging Kristus yang memberikan hidup-Nya bagi orang-orang yang malang, daging Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya Sendiri demi mengungkapkan betapa Allah mengasihi kita.
Ketika saya mendengarkan kata-kata, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku,” saya mendengarkan suara Tuhan yang tidak hanya sekedar menantang saya untuk pergi ke Misa, melainkan juga menantang saya untuk mempersembahkan kasih yang memberikan diri seperti yang dirayakan dalam Misa. Kita akan menjadi Tubuh Kristus. Kita akan hidup sebagaimana Kristus hidup dan bertindak sebagaimana Kristus akan bertindak. Inilah bagian yang paling sulit dari Ekaristi. Hal yang tersulit itu bukan hanya percaya bahwa roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, tetapi adalah menerima tantangan untuk “melakukan ini” - untuk hidup dengan kasih yang memberikan diri yang sama.
Setelah 2000 tahun, undangan Tuhan ke perjamuan masih berlangsung. Kita masih mendengarkan kata-kata “Lakukanlah ini ….” Namun demikian, tantangannya secara terus-menerus berubah sesuai budaya dan situasi historis ke dalam mana kata-kata itu dimaklumkan. Renungkanlah tantangan kita dalam kata-kata Kristus, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.”
Di awal milenium baru ini, apakah yang akan Kristus lakukan dalam menghadapi rasialisme, kedengkian, kekerasan dalam keluarga, meningkatnya jurang antara yang kaya dan yang miskin, tidak adilnya pembagian sumber-sumber alam, perjuangan Gereja untuk menjadi kudus?
Dalam Misa, ketika kita bangkit berdiri meninggalkan bangku pada saat komuni dan maju untuk menyambut Roti, kata “Amin” kita sebagai tanggapan atas “Tubuh Kristus” menyatakan bahwa kita menerima tantangan Kristus.

4. Dilahirkan Kembali Satu Kali Tidaklah Cukup
Saya tahu bahwa Pembaptisan adalah kelahiran baru dan bahwa dalam Pembaptisan segala dosa saya dihapuskan. Tetapi, saya terus berdosa dan terus butuh mendengarkan kata-kata, “Dosa-dosamu diampuni.” Ketika saya pergi ke Misa, saya terus diyakinkan akan kasih Allah yang tak berkesudahan. Renungkanlah betapa banyak kali sepanjang Misa kita memohon belas kasihan Allah! “Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal” (Ritus Tobat); “Engkau yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami” (Madah Kemuliaan); “Perkenankanlah juga kami, hamba-hamba-Mu yang berdosa ini, yang berharap atas kerahiman-Mu yang melimpah, mengambil bagian dalam persekutuan dengan para rasul dan para martir-Mu yang kudus … perkenankanlah kami menikmati kebahagiaan bersama mereka, bukan karena jasa-jasa kami, melainkan karena kelimpahan pengampunan-Mu” (Dosa Syukur Agung I); “Bapa Kami … ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” (Doa Bapa Kami); “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia …. Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh” (Persiapan Komuni).
Di jantung setiap dan masing-masing Misa, kita mendengarkan perintah Kristus, “Terimalah dan minumlah: inilah piala Darah-Ku, Darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.”
Meski saya telah dilahirkan kembali dalam Pembaptisan, saya merasakan perlunya dilahirkan lagi, dan lagi, dan lagi. Inilah sebabnya mengapa saya pergi ke Misa. Saya mengucapkan lagi janji, seperti yang diucapkan oleh orangtua dan wali baptis saya atas nama saya pada saat saya dibaptis, untuk mati terhadap dosa, menolak setan dan segala karyanya serta janji-janji kosongnya. Dalam setiap Misa saya berjanji lagi untuk mengikuti jejak Yesus dengan lebih setia.
Setiap kali saya memasuki gereja untuk merayakan Misa, saya menandai diri saya dengan air dari bejana baptis, atau dari bejana air suci, untuk mengingatkan diri akan Pembaptisan saya. Misa adalah cara saya memperbaharui janji-janji baptis saya. Misa adalah, seperti dikatakan salah seorang sahabat saya, “bagian Pembaptisan yang selalu diulang.”
Ketika saya pergi ke Misa saya diyakinkan kembali akan kebenaran ini: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4). Hidup baru: Itulah yang saya rindukan dari Misa.

5. Misa Membantu Saya Menemukan Kekudusan dalam Hal-hal yang Biasa
Adakah kalian menerima surat-surat Natal di mana para teman dan sahabat menceritakan kepada kalian segala hal menyenangkan yang mereka lakukan di tahun yang akan segera lewat? Ada pada saya banyak surat-surat macam itu. Saya bahkan mengirimkannya untuk diri saya sendiri!
Tetapi sementara, di tahun yang indah, mungkin ada beberapa peristiwa yang menyenangkan, sebagian besar hidup saya biasa-biasa saja. Kita dapat berbicara mengenai “hidup baru” dan “hidup dalam Tuhan yang bangkit,” tetapi sebagian besar hidup saya adalah rutinitas biasa. Saya bangun, bekerja, pulang, tidur.
Jika kekristenan memiliki dampak yang sungguh atas hidup saya, maka kekristenan haruslah menyentuh saya dalam hal-hal yang biasa dan rutin. Dalam Misa, kita menggunakan hal-hal biasa: makan dan minum, berdiri dan duduk, bersalaman dan hening. Dalam hal-hal yang biasa ini, saya menemukan Tuhan.

Suatu kali, ketika umat paroki bertanya kepada St. Agustinus (tahun 354-430) apa yang terjadi terhadap segala mukjizat yang mereka baca dalam Injil - memberi makan ribuan orang dari roti yang hanya sedikit dan membangkitkan orang mati - St. Agustinus meminta mereka untuk merenungkan biji gandum yang jatuh ke tanah dan bertumbuh menjadi batang dan daun. Di manakah kalian dapat menemukan mukjizat yang lebih besar daripada itu! Seringkali mukjizat-mukjizat terbesar kita temukan dalam hal-hal yang biasa.
Misa adalah unsur utama dalam hidup saya yang telah membantu saya mengembangkan suatu “roh kekaguman dan ketakjuban” dalam hal-hal yang biasa. St. Agustinus mengatakan kepada umat parokinya: “Jadi, jika kalian adalah tubuh Kristus dan angota-anggota-Nya, inilah sakramen kalian yang bersemayam di altar Tuhan…. Jadilah apa yang kalian lihat dan sambutlah diri kalian” (Sermon 272). “Di sanalah kalian di atas meja, dan di sanalah kalian dalam piala” (Sermon 229).

Dalam Misa, kehidupan saya yang biasa-biasa saja diangkat ke dalam rancangan agung Allah bagi dunia. Konsili Vatican Kedua mengatakan bahwa Misa “merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #2). Dalam Misa kita tidak hanya mendengarkan kerinduan-kerinduan Tuhan bagi kita, tetapi kita mewujudnyatakannya: kita diangkat ke dalam kerinduan-kerinduan itu.
Saya mendengarkan kerinduan-kerinduan Tuhan akan keadilan bagi segenap umat manusia dari segala bangsa. Dalam Komuni Kudus saya melihat bagaimana Tubuh dan Darah Tuhan dipecah-pecahkan dan dibagi-bagikan dan bagaimana setiap orang menerima cukup - yang kaya dan yang miskin, yang tua dan yang muda, yang lapar dan yang lemah. Saya dihadapkan pada perbedaan kontras antara Meja Tuhan dan meja dunia ini (di mana sangat sedikit yang berkecukupan - sesungguhnya, berjuta-juta kelaparan!) untuk merenungkan kembali gagasan-gagasan saya akan keadilan dan belas kasihan. Dalam Misa, kita tidak hanya berdoa, “Datanglah kerajaan-Mu,” tetapi kita mengalami apa yang dijanjikan kerajaan itu. Kita tidak hanya berbicara mengenai Kamis Putih, tetapi kita makan dan minum. Kita tidak hanya berbicara mengenai Jumat Agung, tetapi kita berkurban. Kita tidak hanya ikut ambil bagian dalam liturgi-liturgi Paskah, tetapi kita dibangkitkan dalam janji Kristus. Dalam Misa, hidup kita diangkat ke dalam kemenangan Paskah Kristus.

Dalam Misa, hidup kita sehari-hari yang biasa-biasa saja diangkat ke dalam keabadian. Apa yang kita lakukan dalam Misa adalah cicipan akan apa yang akan kita lakukan selamanya dalam surga ketika, “sebagai manusia baru yang Engkau bebaskan dari dosa, dengan penuh sukacita kami akan melambungkan pujian syukur Kristus yang hidup selama-lamanya” (Doa Syukur Agung, Tobat I). Dalam dunia baru di mana kepenuhan damai Allah akan dinyatakan, kita akan duduk di meja bersama “semua orang dari segala suku dan bahasa … dalam perjamuan persaudaraan abadi di langit dan bumi yang baru yang dipenuhi dengan terang damai-Mu dalam Kristus, Tuhan kami” (Doa Syukur Agung, Tobat II). Itulah sebabnya mengapa saya pergi ke Misa!




* Fr. Thomas Richstatter, OFM, has a doctorate in sacramental theology from Institut Catholique of Paris and serves on the faculty of St. Meinrad School of Theology.
Sumber: “Why I Go to Mass by Thomas Richstatter, OFM”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org
Diperkenankan mengutip/menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya
 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.