Poligami dan Pemakaman Katolik
oleh: P. William P. Saunders *


Baru-baru ini dalam HERALD terdapat suatu artikel mengenai Sonny Bono. Semua orang menyampaikan eulogi untuknya (eulogi = pidato berisi pujian bagi orang yang baru meninggal dunia) pada Misa Pemakaman Katolik dan pada paragraf akhir diberitakan bahwa ia mempunyai empat isteri. Bagaimana saya dapat menjelaskan kepada teman Protestan saya yang tercengang dan mempertanyakan,
“Bagaimana ini bisa terjadi. Aku selalu beranggapan bahwa orang Katolik tidak mengijinkan perceraian dan pernikahan kembali?” Saya sendiri sama tercengangnya seperti orang-orang Katolik lainnya, pula kaum muda yang melihat hal ini sebagai sesuatu yang dapat diterima. Orang-orang Katolik terkenal lainnya yang meninggal dunia baru-baru ini juga mendapat perlakuan yang sama, meski secara terang-terangan mereka hidup tidak sesuai dengan hukum Tuhan.

~ seorang pembaca di Leesburg

Pemakaman Sonny Bono dan artikel di HERALD menggerakkan banyak pembaca untuk menulis kepada “Straight Answers” mengenai masalah ini. Saya telah membahas pokok masalah ini sebelumnya pada musim gugur yang lalu ketika beberapa pembaca mempertanyakan masalah serupa perihal pelayanan pemakaman bagi Giani Versace dan Justice William Brennan. Jadi, pertama-tama kita perlu menyegarkan ingatan kita akan pandangan Gereja dalam situasi-situasi macam ini.

Kitab Hukum Kanonik menetapkan peraturan mengenai pelayanan Misa Pemakaman dan Upacara Pemakaman Kristiani. Secara umum, umat beriman Katolik yang meninggal dunia mempunyai hak untuk mendapatkan pemakaman gerejawi yang sepantasnya. Upacara Pemakaman Gerejawi dimaksudkan tidak hanya untuk memohon belas kasihan Tuhan bagi umat beriman yang meninggal dan menghormati tubuhnya dalam pemakaman, melainkan juga untuk memberikan penghiburan berupa harapan bagi anggota keluarga dan mereka lainnya yang ditinggalkan (bdk No. 1176).

Namun demikian, tidak boleh diberi pemakaman gerejawi, kecuali jika sebelum meninggal menampakkan sekedar tanda-tanda tobat, individu-individu berikut ini:
(1) mereka yang nyata-nyata murtad, mengikuti bidaah dan skisma;
(2) mereka yang memilih kremasi jenazah mereka sendiri demi alasan yang bertentangan dengan iman Kristiani [misalnya menyangkal kebangkitan badan];
(3) pendosa-pendosa publik lainnya yang tidak dapat diberi pemakaman gerejawi tanpa menimbulkan sandungan bagi kaum beriman.

Jika ada keragu-raguan, hendaknya Ordinaris wilayah dihubungi yang keputusannya harus diturut (bdk Kitab Hukum Kanonik, No 1184).

Pedoman singkat ini yang menjadi acuan atas kasus Bono.
Sebelum melangkah lebih lanjut, patutlah kita camkan satu hal yang teramat serius ini: Kita mempercayakan penghakiman atas jiwa seorang kepada Tuhan, hanya Ia saja yang mengenali kedalaman jiwa dan yang melaksanakan pengadilan-Nya yang ilahi dan sempurna. Tak seorang pun dari kita berhak menghakimi bagaimana keadaan jiwa Sonny Bono pada saat kematiannya.

Kenyataan bahwa Sonny Bono kawin-cerai sebanyak tiga kali, dan kemudian bertahan dengan isteri keempatnya, sepintas mendengar kita segera berpikir akan kategori no. 3 di atas (patut dicatat bahwa saya tidak tahu secara khusus sejarah pribadi Sonny Bono).
Namun demikian, patut kita sadari bahwa hidup perkawinan Sonny Bono dapat saja mengikuti salah satu dari dua kemungkinan ini:
Pertama, ia mungkin telah mendapatkan Pernyataan Pembatalan Perkawinan yang diperlukan bagi ketiga perkawinan pertamanya dan kemudian secara sah menikah dalam Gereja Katolik.
Kedua, ia, seorang yang dibaptis Katolik, mungkin melangsungkan ketiga kawin-cerai di luar Gereja Katolik, yang berarti ketiganya tidak diakui sama sekali oleh Gereja; setelah pernyataan yang diperlukan dari Gereja dan tobat, maka ia dapat secara sah masuk ke dalam perkawinannya yang terakhir, yang secara teknis bukan perkawinan pertamanya secara sipil, tetapi adalah perkawinan pertamanya di mata Gereja.

Patut kita ingat bahwa Pengadilan Keuskupan yang menangani masalah perkawinan ini tidak akan memberikan komentar secara publik demi menjamin kerahasiaan. Saya beranggapan bahwa karena ia menerima pelayanan Misa Pemakaman dan Upacara Pemakaman Kristiani, maka perkawinan terakhirnya adalah perkawinan yang sah dan ia setidaknya ada dalam persekutuan dengan Gereja Katolik. Kemungkinan, di tahun-tahun akhir hidupnya dan karena perkawinan terakhir ini, Sonny Bono memiliki pertobatan yang tulus. Intinya, kita tidak mengetahui permasalahannya secara detail, sebab itu patutlah kita menyerahkannya pada pertimbangan bijaksana uskup setempat.

Tetapi, pertanyaannya adalah apakah pelayanan Misa Pemakaman dan Upacara Pemakaman Kristiani tersebut telah mengakibatkan skandal publik. Tuhan kita telah memperingatkan, “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Matius 18:6). Otoritas Gereja hendaknya bersikap hati-hati. Sementara kebisuan mengenai kehidupan pribadi Sonny dapat melindungi privasinya “dan privasi keluarganya”, hal itu juga dapat menggoda kita untuk berprasangka buruk mengingat sejarah hidupnya di masa lampau.

Mari kita gabungkan kebisuan ini dengan peristiwa-peristiwa seputar pemakaman Sonny Bono. Sebab ia seorang entertainer selama bertahun-tahun dan sekarang wakil di Kongres, ia menarik perhatian media. Banyak orang, seperti Newt Gingrich dan isteri pertama Sonny yaitu Cher, menyampaikan eulogi, meski pujian tersebut cenderung lebih dari sisi duniawi daripada rohani. Eulogi yang demikian dapat ditafsirkan sebagai memberikan persetujuan tak tertulis terhadap setiap aspek dari keseluruhan hidup Sonny, yang selanjutnya dapat dipandang sebagai melecehkan atau mengabaikan ajaran Gereja mengenai perkawinan.

Di sinilah mungkin skandal itu muncul, dan umat beriman Katolik bertanya, “Apakah yang telah terjadi? Jadi, mengapakah aku harus bersusah-payah mentaati ajaran-ajaran Gereja?” Kita pun perlu balik bertanya, “Apakah pemakaman tersebut telah menjadi upacara kanonisasi?”

Sungguh amat bijaksana mengadakan Misa dan pemakaman secara privat dengan dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat. Acara peringatan almarhum, di mana orang-orang terkemuka menyampaikan pidato, dapat diselenggarakan secara terpisah. Media sepatutnya dijauhkan dari Gereja demi menghindari eksploitasi dan distorsi situasi.
Homili hendaknya ditekankan pada beberapa point: panggilan untuk menyesuaikan hidup kita dengan pesan Injil; pentingnya penyesalan terus-menerus atas dosa, tobat dan penitensi; persiapan menghadapi maut dan Pengadilan: pentingnya berdoa bagi kedamaian jiwa yang mungkin menderita di api penyucian; dan pentingnya mengandalkan kerahiman tak terhingga Tuhan kita, yang mengampuni penjahat yang bertobat dan bahkan para penganiaya-Nya.

Jemaat yang berkumpul hendaknya berdoa bagi kedamaian kekal jiwa Sonny dan pemulihan bagi keluarganya. Dalam pandangan saya, inilah tindakan terbaik yang dapat dilakukan.

Situasi ini dan situasi serupa macam ini dapat dikatakan amat sensitif. Kita semua juga dipanggil untuk mengampuni, untuk membebaskan diri dari syak prasangka, dan untuk berdoa bagi kedamaian jiwa yang telah berpulang, entah ia seorang kudus ataupun seorang pendosa.
Kita juga sepatutnya bijaksana dan menunjukkan kewaspadaan yang baik sehingga tak menimbulkan skandal dan dengan suatu cara tertentu melemahkan ajaran-ajaran Gereja.



* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
Sumber: “Straight Answers: Why Was Sonny Bono Eulogized in a Catholic Church?” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1997 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.