SERBA SERBI IMAN KATOLIK


Sakramen:
Apa itu "Sakramen Baptis"?
Apa itu pembaptisan dengan air, dengan darah dan dengan kerinduan?
Apa itu "Sakramen Penguatan / Krisma"?
Apa itu "Sakramen Ekaristi"?
Apa itu "Sakramen Pengakuan Dosa"?
Lembar Pemeriksaan Batin oleh Romo Edward Filardi
Mengapa saya harus mengakukan dosa saya kepada imam?
Apakah mungkin mengaku dosa melalui internet?
Apa itu "Indulgensi"?
Apa itu "Sakramen Pernikahan"?
Apa itu "Sakramen Terakhir"?
Tritunggal Maha Kudus & Sakramen: Yang manakah Sakramen Bapa?

Sakramentali:
Apa itu "Sakramentali"?
Apa itu "Rosario"?
Apa itu "Simoni"?
Apakah Medali merupakan jimat keberuntungan?
Mengapa kita membuat Tanda Salib?

 


APA ITU SAKRAMEN BAPTIS? Baptis merupakan inti serta langkah awal yang paling penting untuk menjadi seorang Kristen. Baptis merupakan sakramen. Artinya, "bahasa isyarat" dari Tuhan. Bahasa isyarat seringkali mempunyai pengaruh lebih besar daripada bahasa-bahasa lain. Sebab bahasa isyarat itu bersifat umum. Dalam sakramen, Tuhan menggunakan benda-benda biasa seperti air, roti, minyak zaitun serta tindakan tertentu untuk berbicara secara langsung kepada jiwa kita. Tidak seperti bahasa isyarat yang lain, bahasa isyarat Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah orang yang dijamahnya. Yang mengejutkan, bahasa isyarat dalam sakramen baptis kadang-kadang bukan hanya sekedar air, tetapi juga menenggelamkan atau pun merendam dalam air. Jika kamu memasukkan suatu barang ke dalam suatu cairan, maka cairan itu akan berubah atau barang yang kamu rendam itu berubah. Misalnya saja, jika kamu merendam sehelai baju yang terkena noda ke dalam air yang telah diberi bubuk deterjen, maka bubuk itu akan menghilangkan noda baju. Kita semua dilahirkan ke dunia dengan noda: ketidakacuhan dan ketamakan. Dalam sakramen baptis kita direndam dan dibersihkan dalam Nama Yesus. Yesus membersihkan dan mengisi hidup kita. Lambat laun hidup kita akan menjadi seperti Kristus, namun tanpa kehilangan identitas pribadi kita. Lambat laun hidup kita menyatu dengan hidup-Nya. Kita menjadi bagian hidup-Nya dan Ia menjadi bagian hidup kita.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


Gereja Katolik mengajarkan bahwa seseorang dapat menerima Sakramen Pembaptisan dengan salah satu dari ketiga cara berikut. Yang pertama adalah DENGAN AIR. Ini adalah cara yang paling umum. Air dituangkan ke kepala seseorang, atau orang tersebut seluruhnya dibenamkan ke dalam air. Kedua cara tersebut dapat diterima. Yang dipergunakan haruslah betul-betul air, bukan cairan yang lain.
PEMBAPTISAN DENGAN DARAH: Jika seseorang rindu untuk dibaptis, tetapi ia wafat sebagai martir sebelum menerima Sakramen, Gereja percaya bahwa ia telah dibaptis oleh kemartirannya.
PEMBAPTISAN KARENA KERINDUAN: Jika seseorang rindu untuk menjadi bagian dari Yesus dan Gereja-Nya, tetapi oleh karena suatu alasan tertentu tidak dapat menerima pembaptisan. Meskipun ia meninggal tanpa pernah menerima Sakramen, kerinduannya yang mendalam untuk menerima pembaptisan telah memungkinkannya menerima buah-buah pembaptisan yang sama seperti jika ia menerima Sakramen.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; tambahan: Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, Propinsi Gerejani Ende 1995, Percetakan Arnoldus - Ende


APA ITU SAKRAMEN PENGUATAN / KRISMA? Mungkin banyak di antara kalian yang sedang mempersiapkan diri untuk menerima Sakramen Penguatan. Mengertikah kalian apa itu Sakramen Penguatan? Pada dasarnya ada dua hal yang perlu kalian pahami:

1. Apa itu Sakramen? 2. Apa itu Penguatan / Krisma?
Sakramen adalah semacam bahasa isyarat. Jika kalian pernah mencoba berbicara kepada seseorang yang tidak mengerti bahasa kalian, mungkin kalian akan menggunakan gerak isyarat agar maksud kalian itu dipahami olehnya. Gerak isyarat itu dapat sederhana seperti mengusap-usap perutmu jika kamu lapar atau mengisyaratkan "OK" dengan menjentikkan ibu jari dan jari tengahmu. Tuhan menggunakan bahasa isyarat jika Ia berbicara kepada kita, karena kita tidak paham bahasa Tuhan. Tuhan itu Roh, jadi bahasa Tuhan adalah bahasa roh. Untuk mempermudah komunikasi-Nya dengan kita, Tuhan berbicara kepada kita melalui tindakan atau isyarat. Sakramen adalah bahasa isyarat dari Tuhan. Sakramen menyampaikan pesan dari Tuhan saat perubahan-perubahan besar terjadi dalam hidup kita. Seperti misalnya: kelahiran, tumbuh dewasa, pernikahan dan sakit parah.
Setiap kali, Tuhan mengirimkan pesan yang berbeda-beda sesuai dengan perubahan yang terjadi pada diri kita. Pada umumnya Tuhan menyampaikan pesan bahwa Ia mengasihi kita, Ia senantiasa bersama kita, dan akan memelihara kita, apa pun yang terjadi. Sakramen Penguatan adalah sakramen yang membimbing kita untuk tumbuh dewasa. Ketika kita dilahirkan, kita tinggal dalam dunia yang sempit. Dunia itu terdiri dari orangtua, kakak serta adik. Kita tinggal dalam dunia keluarga karena kita belum siap untuk berhubungan dengan dunia yang lebih luas. Demikian juga, kita adalah bagian dari dunia sempit yang lain, yaitu paroki. Pada mulanya mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi mereka menyentuh dan mempengaruhi hidup kita. Lambat laun dunia kita berkembang semakin luas. Ketika kita bersekolah, kita menjadi sadar bahwa dunia sekolah jauh lebih luas dari dunia keluarga. Mungkin pada awalnya kita merasa takut. Ingatkah kamu bagaimana perasaanmu pada hari pertama bersekolah? Kamu membutuhkan bantuan untuk berkenalan dan bermain dengan anak-anak lain. Sebagian dari anak-anak itu sama sekali berbeda dengan kakak atau adikmu. Mungkin kamu punya seorang sahabat atau kakak atau saudara yang membantumu melewati masa-masa itu. Ia yang menasehati kamu bagaimana menghadapi duniamu. Nah, itulah sebenarnya Sakramen Penguatan itu, yaitu bagian untuk bertumbuh dan berkembang dalam dunia Tuhan. Awalnya hanya parokimu saja. Dengan Sakramen Penguatan duniamu semakin luas. Sekarang kamu menyadari bahwa kamu bagian dari suatu keuskupan. Yaitu sekelompok orang yang memiliki iman yang sama tetapi tinggal tersebar di daerah yang lebih luas yang dipimpin oleh seorang Uskup. Teman yang membimbingmu adalah Allah Roh Kudus.
Tadi sudah saya katakan bahwa sakramen adalah salah satu bentuk dari bahasa isyarat - gerak isyarat atau tindakan yang dilakukan Tuhan untuk berkomunikasi dengan kita. Apa saja gerak isyarat tersebut? Ada dua gerak isyarat Tuhan dalam Sakramen Penguatan. Bapa Uskup yang melakukannya atas nama Tuhan. Yang pertama, Ia menumpangkan tanganNya di atas kepala kita. Yang kedua, Ia mengolesi kening kita dengan minyak krisma, yaitu campuran minyak dan balsem harum dari pohon zaitun. Bau harum itu dimaksudkan untuk menghilangkan bau tidak enak dari minyak zaitun. Apa sebenarnya yang hendak Tuhan sampaikan melalui dua gerak isyarat itu?
Penumpangan tangan. Sentuhan tangan - seperti jabat tangan - adalah isyarat penerimaan. Di masa lampau seseorang akan menumpangkan tangan ke atas kepala atau menumpangkan tangan ke atas bahu orang lain untuk menyatakan sesuatu. Ketika Bapa Uskup menumpangkan tangannya atasmu, Tuhan berkata kepadamu, "Aku mengasihi engkau, Aku ingin agar engkau menjadi bagian dari Keluarga-Ku, Gereja-Ku."
Apa artinya minyak Krisma? Ketika kamu masih kanak-kanak, pernahkah ibumu menggosok dadamu dengan Vicks Vaporub ketika kamu pilek? Atau mungkin menggosok kakimu yang keseleo? Kamu akan segera merasa nyaman karena dua hal. Pertama, obat gosok itu meresap ke dalam kulitmu dan menghangatkan tubuhmu sehingga kamu merasa nyaman. Kedua, karena kamu menikmati sentuhan dari orang yang mengasihimu. Sama halnya dalam Sakramen Penguatan. Tuhan menyentuhmu dan menawarkan kesembuhan bagimu dari segala macam beban yang kamu pikul selama bertumbuh. Tuhan berkata kepadamu, "Aku tidak akan tinggal jauh darimu, Aku sungguh memperhatikan kamu karena kamu adalah pribadi yang berharga bagi-Ku." Kita pun perlu melakukan sentuhan fisik dengan orang-orang yang kita kasihi. Sebagian dokter menggunakan sarung tangan ketika mereka menyentuh pasien. Mungkin mereka takut pasiennya menderita kusta, AIDS, atau penyakit lainnya. Tetapi Tuhan tidak pernah berbuat begitu.
Suatu ketika seorang penderita kusta datang kepada Yesus dan berkata, "Tuhan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Sesungguhnya ia hendak mengatakan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkannya dengan sentuhan-Nya. Masa itu orang banyak mengira bahwa kusta adalah penyakit menular yang sangat mengerikan, seperti AIDS sekarang. Sesungguhnya pertanyaan orang kusta itu adalah, "Apakah Engkau sungguh mengasihi aku sehingga Engkau mau menyembuhkan aku?" Jawab Yesus kepadanya, "Aku mau, jadilah tahir." Dalam Sakramen Penguatan Tuhan menjamahmu dengan tangan-Nya yang menyembuhkan. Yang terindah dari bahasa isyarat Tuhan adalah ia menggenapi apa yang dijanjikan-Nya. Sakramen Penguatan menjanjikan bimbingan agar kamu tumbuh serta menjadi kuat dalam hidup rohanimu dan dalam Gereja Dunia.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA SAYA HARUS MENGAKUKAN DOSA SAYA KEPADA IMAM?
Sebagian orang beranggapan bahwa mereka tidak perlu mengakukan dosa mereka kepada imam yang hanyalah seorang manusia. Mereka beranggapan bahwa mereka dapat langsung mengatakan kepada Tuhan bahwa mereka menyesali dosa mereka dan Ia akan mengampuni mereka, di mana saja dan kapan saja. Sebenarnya, pendapat tersebut benar jika yang kita mohon hanyalah pengampunan belaka. Tetapi Sakramen Pengakuan Dosa (atau Rekonsiliasi) lebih dari hanya sekedar pengampunan dosa. Jika kita sungguh-sungguh menyesal atas dosa kita, maka kita dituntut untuk berubah dan tidak berbuat dosa lagi. Semua hal yang menyakiti atau merugikan orang lain adalah dosa. Banyak orang yang tidak peduli akan kebutuhan sesama, jadi mereka terus-menerus berbuat dosa. Sakramen Pengakuan Dosa mengajak kita untuk meneliti diri kita (baca juga Lembar Pemeriksaan Batin) dan melihat bagaimana perbuatan-perbuatan kita mempengaruhi orang lain. Imam bertindak sebagai penasehat yang akan menjelaskan di mana kesalahan kita dan bagaimana kita harus berubah. Ia tidak bertugas untuk menghakimi atau menghukum kita. Tetapi tugas imam ialah menganalisa masalah dan memberi saran, jalan keluar atas suatu masalah. Seorang imam dapat menjelaskan banyak hal kepada kita dan bahkan mengatakan kepada kita jika kita memang tidak bersalah. Penitensi (= denda dosa) adalah suatu langkah awal kecil untuk berubah. Kita tidak harus berubah saat itu juga, tetapi kita perlu berubah. Sakramen Pengakuan Dosa memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan perubahan itu.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APAKAH MUNGKIN MENGAKU DOSA - YAITU, MENERIMA SAKRAMEN REKONSILIASI - MELALUI INTERNET?
Pertanyaan tersebut tidak semudah tampaknya. Pertama-tama kalian perlu menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
1. Mengapa kita perlu mengaku dosa? Memang mengaku dosa itu penting dan wajib, tetapi mengapa? Coba bertanyalah kepada dirimu sendiri, mengapa berdosa tidak diperbolehkan?
2. Apa gunanya Pengakuan Dosa? Salah satu hal yang biasa kita terima dari Sakramen Pengakuan Dosa adalah Absolusi atau pengampunan dosa. Tetapi, adakah hal-hal lain yang terjadi? Coba pikirkan sekurang-kurangnya 2 hal lain.
3. Siapakah yang dapat memberikan absolusi? Apakah ia harus hadir secara fisik?
4. Apa gunanya Penitensi (=denda dosa)? Apakah penitensi itu hukuman atau sesuatu yang lain?
5. Apa maksudnya Pengakuan Dosa itu bersifat pribadi?
6. Dan yang terakhir, dapatkah kamu menerima Sakramen Rekonsiliasi melalui Internet?

Tentu saja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kita tidak dapat mengandalkan pendapat kita sendiri. Gereja Katolik memiliki ajaran-ajaran yang indah mengenai Sakramen. Untuk memulainya pelajarilah terlebih dahulu ajaran-ajaran tersebut dan berpikirlah dari sana. Latihan ini dapat membantumu untuk lebih menghargai Sakramen Rekonsiliasi dan melakukannya dengan lebih baik.

JAWAB:
1. Kita mengaku dosa karena mengaku dosa adalah perintah (kewajiban bagi seluruh anggota) Gereja Katolik. Kita adalah bagian dari komunitas gereja dan dosa-dosa yang kita perbuat merugikan anggota-anggota komunitas yang lain.
2. Di samping dosa-dosa kita diampuni, Sakramen Pengakuan Dosa juga memberikan kepada kita: Rahmat untuk menghapuskan dosa-dosa yang kita akukan dan Nasehat dari imam yang berguna untuk mengubah cara hidup kita.
3. Hanya imam Katolik yang telah ditahbiskan dapat memberikan absolusi. Pertanyaan apakah seorang imam harus hadir secara fisik untuk memberikan Sakramen Pengakuan adalah pertanyaan yang menjebak. Di masa perang, seorang imam Katolik yang bertanggung jawab untuk militer dapat memberikan absolusi umum kepada sekelompok besar tentara, di mana beberapa di antara mereka berada sangat jauh jaraknya dari imam. Dalam beberapa kasus, seorang Uskup dapat memberikan absolusi jarak jauh.
4. Penitensi dimaksudkan sebagai obat penyembuh sebagian dosa.
5. Sakramen Pengakuan Dosa bersifat pribadi dan dalam kondisi normal harus dilaksanakan secara pribadi. Seorang imam tidak diperkenankan mengungkapkan dosa-dosa kita kepada siapa pun juga. Jika ia melanggar, hukumannya sangat serius. Internet tidak bersifat pribadi.
6. Mengaku dosa melalui internet mungkin saja bisa, tetapi hingga kini tidak disetujui oleh Gereja atau pun oleh Bapa Suci.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 

APA ITU SAKRAMEN PERNIKAHAN? Sakramen Pernikahan bukanlah sekedar upacara pernikahan belaka. Sakramen Pernikahan adalah sakramen. Artinya, "bahasa isyarat" dari Tuhan. Bahasa isyarat seringkali mempunyai pengaruh lebih besar daripada bahasa-bahasa lain. Sebab bahasa isyarat itu bersifat umum. Dalam sakramen, Tuhan menggunakan benda-benda biasa seperti air, roti, minyak serta tindakan tertentu untuk berbicara secara langsung kepada jiwa kita. Tidak seperti bahasa isyarat yang lain, bahasa isyarat Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah orang yang dijamahnya. Ada beberapa isyarat/lambang yang digunakan dalam Sakramen Pernikahan, misalnya cincin kawin, lilin, dsbnya. Tetapi dua isyarat yang paling penting adalah sumpah setia dan berkat. Keduanya menyampaikan hal yang sama: kita menyatakan janji setia satu sama lain sementara Tuhan juga menyatakan janji setia kepada kita.
Kita harus ingat bahwa Sakramen Baptis bukan sekedar upacara belaka - tetapi suatu awal di mana kita memulai usaha seumur hidup untuk menyatukan diri serta disatukan di dalam diri Yesus. Jadi Sakramen Baptis bukanlah perjanjian sekali-selesai, melainkan perjanjian seumur hidup. Demikian juga halnya dengan Sakramen Pernikahan. Pasangan yang menikah bukannya menikah untuk satu hari saja, tetapi mereka akan hidup bersama sepanjang hayat mereka. Janji setia yang dilakukan oleh pasangan pengantin itu merupakan perjanjian sah yang mengikat mereka secara hukum. Artinya, masing-masing pengantin itu saling mengatakan satu kepada yang lainnya, "Saya mencintai engkau lebih dari siapa pun di dunia ini. Saya tahu bahwa saya hanyalah seorang manusia dan cinta saya dapat menjadi lemah. Oleh karena itu, saya membuat suatu perjanjian dengan engkau untuk mendorong saya agar selalu berusaha mempertahankan pernikahan kita. Jika tidak demikian halnya, maka engkau dapat menuntut saya di pengadilan."
Sakramen Pernikahan lebih dari sekedar perjanjian. Tuhan menyatakan perjanjianNya - dalam isyarat berkat - untuk membantu pengantin agar tetap saling setia apa pun yang terjadi. Sakramen Pernikahan membekali pasangan pengantin dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan. Rahmat itu senantiasa bersama mereka kapan pun mereka membutuhkannya. Yang mereka perlukan hanyalah memintanya. Untuk memintanya, mereka tidak perlu mencari kata-kata yang indah serta muluk-muluk. Sebab Tuhan paham semua bahasa, terutama bahasa cinta. Jika mereka menggunakan kekuatan yang mereka terima dari Tuhan itu, mereka bisa mencapai tingkat tertinggi dalam hidup perkawinan. Yaitu ketika pasangan suami isteri itu demikian terikat satu sama lainnya. Jika yang seorang gembira, yang lain ikut tertawa; jika yang seorang terluka, yang lain ikut menderita.
Mengapa pasangan pengantin perlu menyatakan janji setia? Karena cinta sejati perlu waktu untuk tumbuh dan berkembang. Tanpa ikrar, pasangan suami isteri tersebut akan mudah menyerah jika masalah mulai timbul dalam hubungan mereka. Dengan demikian mereka tidak akan pernah mengenal cinta sejati yang baru dapat dicapai setelah beberapa tahun masa pernikahan.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 


APA ITU SAKRAMEN TERAKHIR? Jika seorang Katolik mendekati ajal, maka menurut Tradisi Katolik, dipanggillah seorang imam untuk memberikan “Sakramen Terakhir”. Sakramen Terakhir diberikan dengan tujuan memberi rasa tenang serta memberi kekuatan bagi si sakit dalam menanggung penderitaannya. (Bacalah Yakobus 5:14-15 untuk melihat darimana sakramen ini berasal). Sakramen Terakhir juga membantu keluarga penderita melewati masa-masa kritis.
Sakramen Terakhir adalah suatu upacara atau ibadat di mana diberikan tiga sakramen sekaligus, yaitu: Sakramen Ekaristi, Sakramen Tobat/Rekonsiliasi dan Sakramen Perminyakan Orang Sakit.
Kadang-kadang terjadi, si sakit merasa ketakutan menerima Sakramen Terakhir. Oleh karena itulah istilah Sakramen Terakhir tidak dipakai lagi sekarang, sebagai gantinya digunakan istilah Sakramen Perminyakan Orang Sakit.
Viaticum adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Komuni bagi mereka yang sedang menghadapi ajal. Viaticum adalah bahasa Latin yang artinya “santapan untuk perjalanan”. Santapannya ialah Ekaristi dan perjalanannya ialah ke Surga.
Jika seseorang dalam keluarga kalian menderita suatu penyakit yang parah dan jiwanya berada dalam bahaya, panggillah seorang imam untuk memberikan Sakramen Perminyakan. Jika keadaan si sakit menjadi lebih baik, itu bagus. Jika si sakit pada akhirnya meninggal dunia, kalian boleh yakin bahwa ia pergi kepada Tuhan untuk mengalami kasih-Nya selamanya.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


TRITUNGGAL MAHA KUDUS & SAKRAMEN : YANG MANAKAH SAKRAMEN BAPA? Umat Katolik percaya akan Allah Tritunggal. Artinya, Allah itu memiliki Tiga Pribadi yang berbeda, yaitu: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus, dalam Satu Allah. Ketiga Pribadi Allah bekerja bersama-sama dalam Allah yang Satu. Dalam setiap sakramen, ketiga pribadi dalam Tritunggal Mahakudus hadir bersama-sama.
Namun demikian, Allah menjumpai kita sebagai pribadi yang berbeda-beda. Kita berjumpa dengan salah satu dari ketiga pribadi tersebut secara istimewa. Sebagai contoh, dalam Sakramen Ekaristi kita lebih banyak berjumpa dengan Yesus, sang Allah Putera. Dalam Sakramen Penguatan, kita lebih banyak berjumpa dengan Allah Roh Kudus.
Pertanyaannya ialah: Dalam Sakramen manakah kita lebih banyak berjumpa dengan Allah Bapa? Ingatlah bahwa jika kita menjumpai salah satu pribadi Tritunggal Mahakudus, sesungguhnya kita berjumpa dengan ketiga pribadi Allah secara bersama-sama. Namun demikian, ketiga pribadi Allah tersebut memberikan tanggapan yang berbeda-beda kepada kita. Jadi, jika demikian yang manakah Sakramen Bapa?
Jawaban atas pertanyaan tersebut di atas adalah kita lebih banyak berjumpa dengan Allah Bapa dalam Sakramen Tobat (Pengakuan Dosa). Tuhan itu belas kasihnya tak terbatas. Ia mengasihi kita; Ia menciptakan kita karena kasih-Nya. Kita berhutang kepada Bapa atas segala sesuatu yang kita miliki, termasuk hidup kita.
Allah Bapa ialah kasih yang sempurna. Ia mengampuni kita dan membantu kita bertumbuh mengatasi dosa-dosa kita. Bapa tidak pernah mengeluh. Ia mengampuni dan melupakannya. Jadi, janganlah pernah merasa takut kepada Bapa-mu yang di Surga.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU SAKRAMENTALI? Sakramentali (Lat: sacramentalia = semacam sakramen) adalah benda-benda suci (seperti rosario, medali, patung, skapulir, air suci, dsb.nya) atau tindakan-tindakan (seperti berkat seorang romo atau uskup) yang mendatangkan rahmat dan kemurahan Tuhan bagi kita melalui doa-doa Gereja. Benda-benda suci menjadi sakramentali setelah seorang romo atau uskup memberkatinya. Salah satu sakramentali yang harus kita gunakan setiap kali kita hendak masuk atau keluar gereja adalah air suci. Air suci tersebut berguna untuk mengingatkan kita akan Pembaptisan kita dan sebagai senjata yang ampuh melawan kejahatan. Jika kita menggunakan atau mengenakan sakramentali dengan maksud yang baik, kita bisa memperoleh banyak keuntungan, misalnya bertambahnya persekutuan kita dengan Tuhan, pengampunan dosa-dosa ringan, perlindungan dari roh-roh jahat, pembatalan hukuman sementara karena dosa, dan banyak lagi berkat jasmani maupun rohani! Sungguh, suatu rahmat yang luar biasa dari Tuhan! Namun demikian, kita harus berhati-hati untuk tidak mempergunakan sakramentali sebagai jimat keberuntungan. Itu adalah dosa dan takhayul. Sakramentali harus digunakan dengan iman, kasih dan pengertian penuh bahwa semua berkat serta rahmat hanya datang dari Tuhan saja. Mari kita menggunakan sakramentali dengan benar karena sakramentali dapat membantu kita hidup kudus, yang merupakan tujuan hidup kita yang sebenarnya.

Sumber: The Young Saints Club; www.geocities.com/Athens/1619


MENGAPA KITA MEMBUAT TANDA SALIB, BAIK DENGAN ATAU PUN TANPA AIR SUCI? Tanda Salib dan Air Suci, keduanya adalah sakramentali (lihat Apa itu Sakramantali?). Dengan membuat tanda salib, kita sebagai umat Kristiani, melakukan suatu tindakan sakramentali yang sudah dilakukan setidak-tidaknya sejak abad kedua di mana tanda salib dipergunakan sebagai tanda pengenal atau salam di antara umat Kristiani, dan juga sebagai tanda berkat.
Dengan membuat tanda salib, kita mempertegas keyakinan kita akan dua misteri iman kita yang paling utama:
1. Ucapan “Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus” mempertegas kepercayaan kita akan Allah Tritunggal Mahakudus, satu Allah tiga pribadi.
2. Dengan membuat bentuk tanda salib di tubuh kita, kita mempertegas kepercayaan kita bahwa dengan wafat-Nya disalib, Yesus memperoleh penebusan bagi kita.

Dan yang terakhir, dalam Markus 12:30, Yesus menyatakan kepada kita bahwa hukum yang terutama ialah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Dengan anggota-anggota tubuh kita yang kita sentuh sementara membuat tanda salib, kita mempertegas ajaran-Nya tersebut: akal budi (dahi), hati dan jiwa (dada) serta kekuatan (pundak) kita. Hukum tersebut bukanlah suatu hukum baru yang ditetapkan oleh Yesus, tetapi sesungguhnya merupakan bagian dari 'shema' (Ulangan 6:5) yang didoakan setiap hari oleh setiap orang Yahudi yang taat.
Dengan membuat tanda salib setelah mencelupkan jari-jari kita ke dalam air suci, kita memberkati diri kita dengan air suci serta memperbaharui Janji Baptis kita.
Lebih lanjut, baca Tanda Salib oleh Romo Victor Hoagland, CP

Sumber: "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; by Fr. John Noone; Copyright © 1999; www.scborromeo.org


APA ITU ROSARIO? Oktober dicanangkankan sebagai "Bulan Rosario" Kalau kamu mendengar kata rosario, apakah yang terlintas di benakmu? Mungkin kamu beranggapan bahwa berdoa rosario adalah pekerjaan orang-orang lanjut usia. Mereka berkomat-kamit mengulang-ulang doa yang sama. Rosario lebih dari hanya sekedar mengulang-ulang doa. Rosario adalah sarana yang ampuh. Dengan rosario, sebagian masalah-masalah terbesar dalam gereja dapat ditanggulangi. Salah satu bentuk doa yang paling indah ialah meditasi, mendengarkan Tuhan. Tetapi kita punya masalah yang harus kita hadapi jika bermeditasi. Tuhan berbicara sangat halus sehingga kita tidak selalu dapat mendengar-Nya. Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa suara Tuhan halus seperti desiran angin. Sedangkan pikiran kita penuh dengan segala macam kebisingan. Oleh karenanya kita tidak dapat mendengar suara Tuhan. Kita menyebut suara-suara bising itu sebagai "distraksi". Gangguan itu dapat diatasi dengan berdoa rosario. Ribuan tahun yang lalu, rakyat di India dan di Cina mendapatkan bahwa pengulangan kata-kata yang sama dapat membantu memusatkan pikiran dan menghilangkan gangguan distraksi. Maka mereka menggumamkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Dengan demikian distraksi lenyap dan pikiran menjadi bebas. Orang-orang kuno menyebutnya "mantra". Sama halnya dengan pengulangan doa dalam rosario - tujuannya membebaskan pikiran kita dari gangguan distraksi. Dalam rosario, sementara bibir kita mengulang-ulang doa yang sama, kita merenungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Yesus dan Maria. Manik-manik rosario juga ada gunanya. Selain untuk menghitung, manik-manik itu membuat tangan kita bebas dari gangguan. Akan sulit bagi kita untuk bermeditasi jika tubuh kita merasa tidak nyaman. Manik-manik rosario dapat mengendorkan ketegangan dan membuat kita rileks. Banyak orang di berbagai pelosok dunia menggunakan semacam rosario untuk bermeditasi. Misalnya saja orang Yunani, Yahudi, Hindu dan juga Budha menggunakan sarana doa yang mirip rosario. Doa seperti itu dapat membuat kita rileks dan pikiran kita bersih.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APAKAH MEDALI MERUPAKAN “JIMAT" KEBERUNTUNGAN? Umat Katolik tidak menyembah santa atau pun santo. Kita memandang mereka sebagai teladan mengagumkan hidup Kristiani. Mereka dengan gagah berani mengamalkan apa yang disebut keutamaan-keutamaan; seringkali dalam situasi-situasi yang sulit. Setiap negara atau kelompok mempunyai pahlawan-pahlawan mereka. Misalnya saja Soekarno, Mohandas K. Gandhi, Martin Luther King, Jr., dan masih banyak lainnya. Orang memberi nama kota, bangunan dan monumen sesuai nama mereka. Kita juga memberi nama gereja-gereja seturut nama para pahlawan iman kita.
Para kudus mengingatkan kita akan tujuan hidup Kristiani serta membuktikan bahwa kekudusan mungkin dicapai. Medali religius adalah tanda pengingat yang mudah dibawa untuk mengingatkan kita akan para pahlawan iman. Kita membawa atau mengenakannya untuk mengingatkan kita akan hidup, kata dan karya pribadi yang diwakilinya. Banyak orang mengantongi foto dan tanda pengingat lain sebagai kenangan akan keluarga dan teman-teman mereka. Kita tahu bagaimana wajah serta penampilan orang-orang yang kita kasihi tersebut, namun demikian foto mereka merupakan tanda nyata dan kenang-kenangan yang dapat membangkitkan perasaan kita. Inilah ide di balik benda-benda religius. Salib dan medali menjadikan pribadi-pribadi yang diwakilinya lebih hidup bagi kita pada saat kita membutuhkan mereka.
Tidak ada kekuatan magis yang ajaib dalam benda-benda religius, tetapi kehadiran mereka memberi dampak psikologi yang kuat. Manusia memerlukan tanda pengingat seperti itu untuk memusatkan pikiran dan kerinduan-kerinduan mereka. Suatu kenyataan akan kelemahan manusiawi adalah kita tidak dapat memusatkan perhatian lebih lama pada pribadi-pribadi atau benda-benda yang tidak dapat kita lihat. Di masa silam, orang mungkin menyimpan segumpal rambut, atau sepatu bayi untuk membangkitkan kenangan akan mereka yang jauh.
Medali militer merupakan lambang keberanian. Orang yang mengenakannya tidak akan berkurang keberaniannya jika tidak mengenakannya, tetapi medali tersebut mengingatkan mereka yang melihatnya akan teladan yang dimenangkan dan dikenangkannya. Medali religius mewakili nilai yang tak kurang berharganya. Medali religius merupakan tanda iman.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU SIMONI? Tahukah kalian bahwa menjual rosario atau medali yang telah diberkati itu salah? Sebelum diberkati, rosario, medali atau benda-benda lainnya boleh diperjualbelikan oleh siapa saja.
Kata “Simoni” berasal dari nama seorang tukang sihir bernama Simon Majus. Ia hidup 2000 tahun yang lalu. Jaman sekarang tukang sihir atau tukang sulap menggunakan muslihat-muslihatnya untuk menghibur orang lain. Pada jaman dahulu para tukang sihir mengatakan bahwa mereka memiliki kuasa rahasia. Salah seorang di antara mereka ialah Simon Majus. Kata “Majus” artinya “orang bijaksana”. Para Majus adalah ketiga Orang Bijaksana yang datang mengunjungi bayi Yesus.
Ketika Simon Majus melihat bagaimana Santo Petrus melakukan mukjizat-mukjizat, ia berusaha membeli Kuasa itu dari para Rasul (Kisah Para Rasul 8:4-24).
Jadi, Simoni adalah usaha untuk menjual atau membeli sesuatu yang suci. Misalnya saja mencoba memperoleh kedudukan sebagai seorang Uskup atau Kardinal. Simoni juga berarti menjual atau membeli patung atau benda-benda religius lainnya yang telah diberkati oleh seorang imam. Benda-benda yang telah diberkati dapat diberikan sebagai hadiah, tetapi bukan untuk mendapatkan untung. Berkat yang diberikan pada benda-benda itu membuatnya tak ternilai.


Sumber :  Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 

 

Liturgi:
Apa itu "Dupa Ratus"?
Apa itu "Ritus Timur"?
Apakah orang Katolik menyembah patung?
Apakah mengabaikan Misa Raya pada hari Minggu merupakan Dosa Berat?
Mengapa kita selalu menempatkan salib di altar?
Mengapa kita menyalakan lilin di gereja?
Mengapa saya harus berlutut di hadapan Tuhan?
Mengapa saya harus pergi ke gereja?
Mengapa ibadah Katolik disebut Misa?
Mengapa Perayaan Misa membosankan?
Hari Raya dan Pesta Gerejani
Masa Adven & Masa Natal
Masa Prapaskah & Masa Paskah
Ruangan Liturgi
Daftar Istilah yang biasa digunakan dalam Misa


MENGAPA KITA SELALU MENEMPATKAN SALIB DI ALTAR? MENGAPA UMAT KATOLIK MERAYAKAN WAFAT KRISTUS LEBIH SERING DARIPADA MERAYAKAN KEBANGKITAN-NYA? Pedoman Umum Misale Romawi menyatakan. “Juga di atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib. Salib itu harus mudah dilihat oleh seluruh umat” (no. 308). Bahasa Latin dari `salib' adalah `crux' yang bagi umat Kristen Katolik berarti salib dengan `corpus' atau tubuh Juruselamat kita yang tersalib di atasnya.

Gereja Katolik menempatkan corpus di atas salib bukan karena kita menyembah Kristus yang wafat atau pun merayakan wafat Kristus lebih sering daripada merayakan kebangkitan-Nya, melainkan sebagai peringatan akan apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Melalui wafat Kristus di salib itulah kita beroleh keselamatan. Dalam spiritualitas Katolik, salib dan kebangkitan Kristus tak dapat dipisahkan, demikian juga bagi mereka yang hendak menjadi pengikut-Nya. Memperoleh terang kebangkitan tanpa melalui salib adalah tidak mungkin bagi Kristus dan kita semua dipanggil untuk mengikuti teladan-Nya. Kita semua diminta untuk memikul salib kita serta mengikuti-Nya (Mat. 10:38, 16:24; Mrk 8:34; Lukas 9:23). Kurban, kita diingatkan akan kurban Kristus melalui kehadiran corpus, adalah apa yang Ia lakukan bagi kita dan untuk itulah kita dipanggil jika hendak menjadi pengikut-Nya yang sejati.
“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:16-17)
Kurban-Nya di atas salib itulah yang kita hadirkan kembali kepada Allah Bapa dalam setiap Misa, sementara kita bersatu dengan Kristus dalam mempersembahkan Kurban-Nya yang abadi di surga seperti dilihat oleh St. Yohanes: “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.” (Why 5:6). Singkat kata, Yesus tidak dapat memisahkan antara Wafat-Nya disalib dan Kebangkitan-Nya, dan oleh sebab itu, demikian juga kita. Menggunakan kata-kata St. Yohanes dan St. Paulus:
“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:14-15)
“tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” (1Kor 1:23)

Sumber: "I'm Glad You Asked", Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; by Fr. John Noone; Copyright © 1999; www.scborromeo.org


TANYA: Nama saya Steve dan umur saya 15 tahun. Saya seorang Katolik sejak bayi, tetapi saya belum mengerti mengapa kita menyalakan lilin di gereja. Apakah itu artinya?

JAWAB: Steve, Yesus menyebut diriNya "Terang Dunia" dan Ia bersabda bahwa kita harus menjadi "terang" bagi sesama, jadi lilin adalah lambang kristus sebagai Terang Dunia. Penggunaan lilin telah menjadi tradisi Gereja sejak lama. Lilin yang kamu maksud disebut "votive" atau "vigil" (Vigili, Latin = berjaga-jaga). Dengan menyalakan lilin di gereja, sebenarnya orang ingin memperpanjang doa dan kehadirannya, sebab ia sendiri tidak bisa tinggal lebih lama di gereja. Lilin yang menyala melambangkan kehadiran dan doanya.
Kaum Yahudi Orthodox di Yerusalem mempunyai kebiasaan untuk menuliskan doa-doa mereka di selembar kertas dan menempatkannya di celah-celah Tembok Ratapan, memohon agar doa-doa mereka dihantarkan kepada Tuhan ketika mereka tidak dapat berada di sana untuk berdoa. Kita diperintahkan oleh Tuhan untuk "senantiasa berdoa" dan nyala lilin adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita bersungguh-sungguh dengan kehidupan doa kita.

Sumber: The Young Saints Club; www.geocities.com/Athens/1619


TANYA: Nama saya Jessica dan umur saya 12 tahun. Seorang teman saya yang beragama Protestan bercerita kepada saya bahwa pendetanya mengatakan orang Katolik menyembah patung. Saya tahu bahwa kita tidak menyembah patung, tetapi saya tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Dapatkah anda menolong saya?

JAWAB: Baiklah, Jessica, kamu benar bahwa kita, orang Katolik, tidak menyembah patung. Sebagian orang salah mengerti dengan kepercayaan kita karena kita menempatkan patung-patung di gereja kita dan kadang-kadang kita berdoa di depannya. Sebenarnya, kita menggunakan patung, gambar, dsbnya, sebagai sarana untuk memusatkan pikiran kita. Banyak orang yang mengalami kesulitan untuk berbicara dengan Tuhan yang tidak dapat mereka lihat atau dengar. Kita berdoa kepada Tuhan, tetapi pikiran kita menerawang. Kita mempergunakan patung serta gambar religius untuk membantu kita berkonsentrasi. Sama seperti jika kamu memandang foto ibumu, maka kamu akan teringat akan ibumu. Demikian juga, dengan memandang patung, gambar atau pun lukisan para kudus, kita akan teringat pada teladan mereka. Banyak orang Protestan sendiri memiliki gambar Yesus atau gambar-gambar Kitab Suci lainnya di Sekolah Minggu untuk membantu mereka mengajar anak-anak. Dalam Kitab Suci, Tuhan memerintahkan pembuatan patung bagi rumahNya, misalnya dalam Keluaran 25, di mana Tuhan bersabda: "Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, [kerub: makhluk surgawi yang bersayap]...". Sekali lagi, patung-patung itu bukan untuk disembah, tetapi untuk mengingatkan kita akan makhluk-makhluk surgawi.

Sumber: The Young Saints Club; www.geocities.com/Athens/1619


MENGAPA SAYA HARUS BERLUTUT DI HADAPAN TUHAN? Dalam Gereja Katolik kamu akan mendapati tempat berlutut dipasang menjadi satu dengan bangku gereja. Tempat berlutut itu biasanya berupa papan dengan bantalan di atasnya tempat kamu berlutut. Di gereja-gereja Katedral (Katedral = gereja keuskupan) di Eropa dan di Basilika (Basilika = gereja besar di Roma) jarang atau bahkan tidak kita jumpai sama sekali bangku atau pun tempat berlutut. Sebagai gantinya, kamu akan mendapati prie-dieu, yaitu mebel yang khusus didesain untuk berlutut. Kata "prie-dieu" berasal dari bahasa Perancis yang artinya "berdoa" dan "Tuhan". Prie-dieu mempunyai tempat untuk meletakkan buku-buku doa atau litani - atau untuk sekedar meletakkan siku kita ketika berdoa. Beberapa sekte gereja tidak bercaya akan hal berlutut. Mereka bahkan mengatur bangkunya sedemikian rupa sehingga umat tidak dapat berlutut.
Kebiasaan untuk menekuk satu lutut (genuflect) atau kedua lutut (berlutut) berasal dari kebiasaan kuno. Pada jaman dahulu, para raja menghendakinya sebagai perlindungan diri. Para penguasa biasanya bersantap seorang diri. Siapa pun yang masuk menghadap raja dapat merupakan suatu ancaman. Para tamu diwajibkan untuk berlutut dihadapannya sebagai suatu cara untuk menunjukkan bahwa mereka tidak membawa senjata dan karenanya tidak berbahaya. Berlutut merupakan sikap penyerahan diri kepada yang lebih berkuasa. Dengan berlutut orang menganggap dirinya sendiri tidak berdaya dan tunduk di bawah perintah. Dengan posisi lutut yang ditekuk, orang tidak dapat lari atau pun berjalan dengan mudah sehingga orang lain dapat menguasainya. Lama-kelamaan berlutut berkembang menjadi suatu cara untuk menunjukkan sikap hormat.
Kitab Suci mendorong kita untuk berlutut. "Dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi." (Filipi 2:10).
Ada suatu kebiasaan kuno di mana seorang pemuda akan berlutut ketika meminta seorang gadis untuk menikah dengannya. Kita berlutut untuk meminta Tuhan membagi Diri-Nya dengan kita. Kita berlutut di hadapan Tuhan untuk mengatakan bahwa kita mengandalkan Dia untuk mengendalikan dan menguasai kita sepenuhnya. Berlutut adalah ungkapan rasa cinta dan hormat.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA IBADAH KATOLIK DISEBUT MISA? Perayaan Ekaristi berakhir ketika imam mengatakan, “Misa telah selesai…” dan umat menjawab, “Syukur kepada Allah.” Kedengarannya hampir seperti umat merasa bersyukur bahwa upacara telah selesai.

Kata “Misa” berasal dari bahasa Latin “missa” yang artinya “pembubaran”. Pada bagian akhir Perayaan Ekaristi dalam bahasa Latin, imam akan mengatakan “Ite, missa est.”
Arti lain dari pernyataan tersebut adalah “Pergilah, ini suatu misi (= perutusan)." Dengan kata lain, kita baru saja mengalami suatu hubungan pribadi secara rohani dan jasmani dengan Tuhan. Namun pengalaman itu tidak berakhir di situ. Kita diutus untuk membagikan apa yang telah kita alami itu dengan sesama kita.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA PERAYAAN MISA MEMBOSANKAN? Perayaan Misa Katolik bisa jadi suatu upacara yang membosankan. Sebetulnya tidak harus demikian dan memang tidak boleh demikian. Banyak imam "membacakan" Misa seperti mereka membaca kamus atau buku telepon. Mirip seperti suatu jampi-jampi agama yang harus selalu dilaksanakan secara tepat dan sama, karena jika tidak demikian tidak akan berhasil. Lagi pula, ada banyak orang Katolik yang dengan keras kepala menolak segala suasana yang hidup dan ekspresif dalam Misa. Namun demikian, ada juga Perayaan-perayaan Misa yang menarik dan menyenangkan. Mengapa demikian?
Pertama-tama kita harus paham mengapa perayaan tersebut dinamakan "Misa". Kata Misa berasal dari kata "missio (Latin) = misi = tugas perutusan". Dalam perayaan Misa lama, biasanya imam mengakhiri Misa dengan berkata, "Pergilah dan wartakanlah Sabda Tuhan." Kemudian umat menjawab, "Syukur kepada Allah" Tetapi, sekarang banyak imam yang hanya mengatakan, "Saudara-saudara, dengan demikian perayaan Misa sudah selesai." Dan umat tetap menjawab, "Syukur kepada Allah" Jadi, dalam perayaan Misa lama umat ditantang untuk suatu tugas perutusan, yaitu mewartakan Sabda Tuhan. Tetapi sekarang, tantangan kita dalam perayaan Misa seringkali adalah berusaha agar tidak tertidur! Sesungguhnya, saat pulang dari Misa, kita masing-masing menerima tugas perutusan untuk mengubah dunia. Coba minta imammu untuk melakukannya. Pasti ia mau - asal kamu sendiri juga bersungguh-sungguh dalam mengikuti Misa.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APAKAH MENGABAIKAN MISA RAYA PADA HARI MINGGU MERUPAKAN DOSA BERAT? Perintah ketiga dalam Sepuluh Perintah Allah adalah Kuduskanlah hari Tuhan. Pada jaman Perjanjian Lama, umat Tuhan berhenti bekerja dan berkumpul bersama untuk beribadah pada hari Sabat, yaitu hari Sabtu. Namun demikian, Gereja Perdana beristirahat dan berkumpul bersama untuk memuliakan Tuhan pada hari Minggu karena Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, bangkit dari antara orang mati pada pagi hari Minggu Paskah. Hari Minggu bukan hanya sekedar hari untuk beribadah tetapi juga hari sukacita dan kebersamaan dalam keluarga.
Sekarang masalah apakah mengabaikan Misa Raya pada hari Minggu merupakan dosa berat atau tidak. Suatu perbuatan merupakan dosa berat jika dipenuhi secara serentak tiga persyaratan dosa berat (lihat Dosa Berat). Mengabaikan Misa Raya pada hari Minggu merupakan masalah yang serius. Jika kita memiliki pengetahuan penuh bahwa melanggar salah satu dari Sepuluh Perintah Allah adalah dosa karena melanggar perintah Tuhan, maka persyaratan kedua terpenuhi. Jika kita menyadari bahwa perintah Tuhan yang ketiga meminta kita untuk berkumpul bersama dan beribadah kepada-Nya dan kita tahu bahwa melanggar Perintah-Nya berarti melakukan dosa berat, tetapi kendaraanmu mogok dan tidak ada cara lain untuk pergi ke Misa, maka persyaratan ketiga tidak terpenuhi. Tetapi jika kita mengabaikan Misa hanya karena ada hal lain yang lebih suka kita lakukan daripada pergi ke Misa (misalnya bermain, pergi tamasya, dll) maka kita secara suka rela memilih untuk melakukan dosa berat. Mengabaikan Misa Raya pada hari Minggu karena alasan demikian sama seperti mengatakan “Aku tidak cukup mencintai Tuhan sehingga merasa perlu untuk meluangkan waktu bersama-Nya.”

Sumber: I'm Glad You Asked, Questions from the parishioners of St. Charles Borromeo Catholic Church Picayune, Mississippi; www.scborromeo.org


APA ITU RITUS TIMUR? Kata “ritus” berarti “upacara” atau ritual. Pada waktu sebagian besar orang Katolik ambil bagian dalam Misa, kita menggunakan ritus yang sama dalam ibadat kita. Tetapi ritus kita itu bukanlah satu-satunya tatacara. Ada sebagian orang Katolik saleh lainnya yang menggunakan ritus yang berbeda dalam merayakan Misa. Mereka juga mempunyai kebiasaan-kebiasaan serta tradisi yang berbeda dari kita. Namun demikian, mereka semua juga merupakan bagian dari Gereja Katolik yang sama dengan kita.
Gereja yang menggunakan ritus-ritus yang berbeda itu disebut “Gereja Ritus Timur.” Gereja Katolik Roma terdiri dari 23 ritus atau keluarga yang berbeda. Kitalah yang terbesar. Kita termasuk dalam Ritus Latin, meskipun sekarang hanya sedikit saja yang masih mempergunakan bahasa Latin. Termasuk di antara ritus-ritus lain itu adalah: Armenian, Byzantine, Chaldean, Coptic, Yunani, Melkite dan ritus-ritus Katolik lainnya.
Kita dipersatukan dengan ritus-ritus tersebut oleh dua hal: kita mempunyai Kredo yang sama dan pemimpin yang sama, yaitu Bapa Suci.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU DUPA RATUS ATAU PEDUPAAN? Pernahkah kalian ikut ambil bagian dalam Perayaan Misa di mana imam menggunakan dupa? Sebagian orang menganggapnya agung, sebagian lagi menganggapnya terlalu berlebihan. Dupa adalah simbol. Dupa mengingatkan kita bahwa pada intinya, Misa adalah suatu kurban. Kurban adalah suatu persembahan bagi orang lain. Persembahan itu biasanya sesuatu yang berharga, setidak-tidaknya bagi orang yang bersangkutan. Perayaan Misa adalah kurban bagi Tuhan dan persembahannya ialah Putera-Nya sendiri, Yesus.
Dalam Perjanjian Lama, umat mempersembahkan hewan sebagai kurban. Mereka membawa hewan-hewan kurban kepada seorang imam. Kemudian imam menyembelih hewan-hewan itu dan membakarnya di atas altar. Kadang-kadang ratusan, bahkan ribuan hewan dibakar sebagai kurban persembahan. Bau yang timbul akibat kurban bakaran tersebut sungguh sangat tidak enak. Imam menggunakan dupa untuk mengatasi bau tersebut.
Yesus menggantikan segala bentuk kurban yang lama dengan Tubuh-Nya sendiri di kayu salib. Kita masih tetap menggunakan dupa ratus pada peristiwa-peristiwa khusus. Tujuannya untuk mengingatkan kita bahwa Kurban Kristus mendatangkan keselamatan. Imam menggunakan perangkat khusus - seperti tampak pada gambar - untuk menyebarkan dupa.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 

 

Devosi:
Apa itu "Rosario"?
Apa itu "Jalan Salib"?
Apa itu "Jam Suci"?
Apa itu "Adorasi Sakramen Mahakudus"?
Apa itu "Ofisi"?
Apa itu "Litani"?
Apa itu "Angelus"?
Apa itu "Meditasi"?
Apa itu "berpadang gurun"?
Apa itu "ziarah"?
Apa itu "Audiensi"?
Bagaimana Sendangsono menjadi tempat ziarah?


APA ITU OFISI? Para imam dan para anggota Ordo Religius menggunakan sebuah buku khusus yang disebut “Breviary”. Breviary berasal dari bahasa Latin yang berarti “pendek” atau “singkat”. Breviary berisi kumpulan doa dan mazmur yang diambil dari Kitab Suci dan dari bacaan-bacaan rohani yang lain. Breviary didoakan setiap hari pada jam-jam tertentu. Oleh karena itu, Breviary juga disebut “Ibadat Harian” atau “Ofisi” (dari bahasa Latin `officium', artinya kewajiban).
Ofisi adalah bagian dari “peraturan hidup” yang ditetapkan oleh Santo Benediktus dari Nursia. Pada abad kelima St. Benediktus menghimpun para pertapa dalam suatu komunitas (komunitas = kelompok atau kumpulan) yang pertama di Eropa. Ia menetapkan para biarawan dan biarawati berdoa empat hingga delapan jam sehari, tidur delapan jam dan menggunakan waktu selebihnya untuk bekerja dan belajar.
Jam-jam tersebut ialah: Matins, saat fajar; Prime saat mulai bekerja; Terce jam 9:00, Sext siang hari; None jam 3:00 sore; Vespers saat matahari terbenam; dan Compline sebelum tidur. Banyak umat Kristiani masih menggunakan Ofisi, baik dalam bentuk lengkap maupun dalam bentuk ringkas. Taizé, sebuah komunitas iman di Perancis, menerbitkan Ibadat Harian yang telah disederhanakan.
Ibadat Harian membantu kita untuk membiasakan diri beribadat kepada Tuhan sepanjang hari - tidak hanya ketika kita bangun tidur atau hendak tidur. Ibadat Harian adalah doa yang baik sekali digunakan dalam kelompok-kelompok doa. Dengan saudara seiman, kita bisa saling berbagi pengalaman iman.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU MEDITASI? Meditasi merupakan bagian yang penting dalam berbagai macam agama. Baik orang Budha, Hindu, Muslim maupun Kristen, semua melakukannya. Tetapi apa itu sebenarnya meditasi? Kamus American Heritage menjabarkan arti 'meditasi' dengan 'bersatu dalam kontemplasi terutama dalam hal yang bersifat rohani atau devosional. Kontemplasi dijabarkan sebagai "pengamatan atau pemikiran yang mendalam". Jadi secara sederhana, 'meditasi' berarti memikirkan sesuatu yang ada hubungannya dengan Tuhan. Meditasi tidak sama dengan doa. Doa adalah berbicara dengan Tuhan, sedangkan meditasi adalah mendengarkan Tuhan. Pernahkah kamu mendengarkan Tuhan? Jika belum, wah sayang sekali, kamu belum pernah mengalami sesuatu yang sangat indah.
Begini, jika kamu bercakap-cakap dengan sahabatmu, tetapi kamu terus yang memonopoli pembicaraan, itu sebenarnya bukan bercakap-cakap. Jadi bagaimana kamu mendengarkan Tuhan? Salah satu cara yang baik untuk memulai suatu percakapan dengan seseorang adalah dengan mengajukan pertanyaan dan kemudian menunggu jawaban darinya. Coba bertanyalah kepada Tuhan tentang sesuatu yang sederhana, seperti yang biasa kamu tanyakan kepada teman-temanmu. Yah, memang kadang-kadang sulit untuk mendengarkan suara Tuhan karena gangguan distraksi (distraksi = gangguan konsentrasi berupa macam-macam pikiran). Menyendiri atau musik yang tenang dapat membantumu. Intinya adalah kamu bertanya dan kemudian menunggu jawab-Nya. Misalnya saja kamu dapat bertanya kepada Tuhan: Bapa, apa yang Bapa lakukan hari ini? Kedengarannya seperti pertanyaan yang bodoh, sebab banyak sekali yang Tuhan lakukan, tetapi tanyakan saja, kamu akan tercengang mendengar jawab-Nya. Coba pikirkan sendiri pertanyaan apa yang kira-kira hendak kamu tanyakan.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU BERPADANG GURUN? Pernahkah kamu pergi ke padang gurun? Ada bermacam-macam padang gurun. Ada yang mempunyai bukit-bukit pasir yang besar, ada juga yang hanya berbatu-batu. Ada yang panas terik, ada yang cukup dingin. Hal yang utama mengenai padang gurun adalah padang gurun itu biasanya kosong dan tenang. Setelah siraman air hujan, padang gurun akan berubah. Memang di padang gurun tidak sering turun hujan, tetapi jika hujan datang padang gurun akan menjadi sangat indah.Sekonyong-konyong bunga-bunga cantik berwarna-warni bermekaran dalam semalam. Bunga-bunga itu tidak bertahan lama, tetapi untuk sementara waktu, bunga-bunga padang gurun itu menyebarkan keindahan dan kehangatan. Hal ini menunjukkan bahwa di tempat yang paling gersang pun, keindahan bisa muncul.
Orang-orang di dalam Kitab Suci sering pergi ke padang gurun untuk mendapatkan ketenangan dan membebaskan diri dari bermacam-macam gangguan. Jika mereka bersabar mereka akan menemukan keindahan. Kadang-kadang, kamu juga perlu menyendiri. Kamu perlu tempat yang tenang di mana kamu dapat merenungkan tentang hidupmu serta arah tujuanmu. Terutama di saat-saat menjelang Natal. Biarlah dirimu beristirahat. Temukan "padang gurun" di kamarmu, di pekarangan atau di gereja. Tunggu hingga bunga-bunga kasih Tuhan mekar di hatimu. Bersabarlah. Bunga-bunga Tuhan memang tidak bermekaran dengan segera, tetapi mereka akan mekar pada waktunya.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU ZIARAH? Pada bulan Agustus 2000, ratusan ribu anak-anak dari berbagai penjuru dunia datang ke Roma. Mereka datang dengan satu tujuan: ziarah. Saat di Roma, anak-anak itu dapat menikmati pemandangan-pemandangan indah yang menjadikan kota itu terkenal sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Tetapi tujuan utama mereka bukan hanya sekedar menjadi turis saja. Suatu ziarah diibaratkan seperti suatu perjalanan hidup yang singkat. Ketika hidup di dunia sebenarnya kita semua sedang dalam suatu perjalanan yang panjang. Kita bisa saja dilahirkan di belahan bumi yang berbeda-beda, tetapi tujuan kita sama, yaitu surga. Sepanjang perjalanan, kita harus banyak belajar: bagaimana bergaul dengan orang lain, bagaimana kita melayani, dan bagaimana kita menemukan Tuhan. Dalam perjalanan ziarah ke tempat-tempat religius, kita belajar intisari kehidupan yang akan berguna bagi kita dalam perjalanan kita menuju Tuhan. Berdoalah bagi anak-anak yang sedang dalam perjalanan ziarah.
 

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU AUDIENSI DENGAN BAPA PAUS? Audiensi dengan Sri Paus adalah puncak ziarah ke Roma. Audiensi diadakan setiap hari Rabu pukul 11:00 pagi. Pada musim dingin audiensi dilaksanakan di ruang audiensi Paus Paulus VI yang terletak di sebelah kiri basilika St. Petrus. Bapa Suci memulai dengan khotbah dalam bahasa Italia. Kalian dapat mengikuti khotbah-khotbahnya dengan mengunjungi http://www.vatican.va.
Kemudian, para imam menyambut peziarah-peziarah asing dalam bahasa ibu mereka. Biasanya mereka bergembira-ria atau menyanyi, seringkali sambil melambai-lambaikan saputangan. Paus menyampaikan khotbahnya secara ringkas dalam bahasa mereka. Ia menambahkan kata-kata sambutan pribadi kepada sebagian kelompok peziarah.
Audiensi diakhiri dengan berkat dari Paus dan seluruh Uskup yang hadir. Mereka menyampaikan berkatnya bagi semua peziarah yang hadir dan juga bagi keluarga mereka di rumah. Acara Audiensi ini berlangsung sekitar 1½ hingga 2 jam.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


BAGAIMANA SENDANGSONO MENJADI TEMPAT ZIARAH? Tempat ziarah yang paling dikenal di Indonesia ialah Sendangsono, Kalibawang, Jawa Tengah. Sudah sejak dahulu kala, di tempat itu terdapat sebuah sendang (danau) dengan dua buah pohon sono. Menurut perasaan agama asli Jawa, kedua pohon sono itu dihuni oleh dua roh raksasa. Sebab itu, tempat tersebut dianggap keramat. Oleh para biarawan Budha yang tinggal di Boro (biara), Sendangsono digunakan sebagai tempat beristirahat dalam perjalanan menuju Borobudur. Pada tanggal 14 Desember 1904, Pastor F. van Lith SJ membaptis orang-orang Jawa pertama di tempat itu. Jumlahnya 173 orang. Untuk menindas praktek takhayul di sekitar tempat keramat itu, Pastor van Lith menempatkan sebuah patung Maria di sana. Tempat itu kemudian berkembang menjadi sebuah tempat ziarah Maria yang paling ramai di Pulau Jawa.

Sumber: AVE MARIA No. 10 September 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

 

Ajaran Gereja:
Apa itu "Roh Kudus"?
Apa itu "Ilham"?
Apa itu "stigmata"?
Apa itu "kapel"?
Apa itu "dosa berat"?
Apa beda iman dan kepercayaan?
Apa yang salah dengan NARKOBA?
Mengapa ada dua Pengakuan Iman?
Mengapa berbohong itu dosa?

Apa itu "Pencobaan"?
Apa itu "Tabernakel"?
Apa itu "Balas Dendam"?
Apa itu "Bulla"?
Mengapa saya harus mengampuni?


APA ITU ROH KUDUS? Dalam film Star Wars banyak sekali percakapan mengenai sesuatu yang disebut "Kuasa", seperti misalnya "Semoga Kuasa besertamu." Kuasa yang dimaksud adalah suatu energi yang mengelilingi dan ada dalam segala makhluk. Sebagian orang berpendapat bahwa George Lukas, direktur film tersebut, sebenarnya sedang berpikir tentang Allah Roh Kudus. Benarkah demikian? Dan jika memang benar demikian, apakah Roh Kudus itu sebenarnya?
Gagasan yang menarik, tetapi jika kalian bertanya "Apa itu Roh Kudus," maka pertanyaan kalian itu keliru. Pertanyaan yang benar seharusnya "SIAPA itu Roh Kudus?" Sebab Allah Roh Kudus itu bukanlah suatu "kuasa". Roh Kudus itu adalah sungguh-sungguh suatu pribadi, dengan kepribadian seperti kalian dan saya.
Ketika masih hidup di dunia, Allah Putera -yaitu Yesus- melindungi para murid-Nya dari yang jahat. Sebelum Ia kembali ke surga, Yesus berjanji akan mengirimkan Penghibur, yaitu Roh Kudus. Yesus menjanjikan bahwa Penghibur akan mengajarkan kepada kita segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang hidup dan bagaimana kita dapat sampai ke Surga.
Mungkin kamu beranggapan bahwa Roh Kudus adalah pribadi Tritunggal yang hampir terlupakan. Penyebabnya mungkin karena Roh Kudus tidak membawa kita kepada diri-Nya sendiri, tetapi Ia membawa kita kepada Bapa dan Putera. Namun demikian, janganlah oleh karena itu kita tidak berdoa dan tidak mencintai Roh Kudus.
Memang sulit menggambarkan suatu pribadi yang adalah energi suci, pemikiran suci. Dalam Kitab Suci, Roh Kudus digambarkan dalam rupa "burung merpati" (Lukas 3:22) atau dalam rupa "lidah api" (Kisah Para Rasul 2:3-4).
Termasuk dalam masalah kita adalah kita tidak mempunyai suatu nama yang indah untuk Roh Kudus. Kata "roh" berasal dari bahasa Ibrani "Ruah", yang artinya "napas" atau "angin". Baik dalam bahasa Yunani maupun bahasa Ibrani "Ruah" adalah kata berjenis kelamin perempuan.
Mungkin nama yang bagus dalam bahasa Inggris untuk Roh Kudus adalah "Friend" atau dalam bahasa Indonesia "Sahabat". Atau dapatkah kalian memikirkan suatu nama lain yang lebih tepat?

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA ADA DUA PENGAKUAN IMAN? Ada dua Kredo atau Pengakuan Iman yang sangat khusus dalam kehidupan Gereja. Kedua kredo tersebut biasa digunakan dalam Perayaan Misa. Yang satu adalah Syahadat Apostolik yang biasa disebut “Syahadat Para Rasul” dan yang lain adalah Syahadat Nicea-Konstantinopel.
Syahadat Para Rasul kemungkinan tidak berasal dari jaman para rasul Yesus. Menurut tradisi, pengakuan iman tersebut ditulis di Roma sekitar abad kedua atau ketiga dan digunakan dalam bentuk tanya jawab sesaat sebelum seseorang dibaptis. Pemimpin upacara akan bertanya, “Apakah saudara percaya akan Tuhan, Bapa yang Mahakuasa?” Setelah jawaban “ya” dari calon baptis, pokok-pokok iman selanjutnya akan ditanyakan. Kredo ini lebih mudah dihafal dan biasanya diajarkan kepada anak-anak.
Satu-satunya kelemahan Syahadat Para Rasul ialah bahwa di dalamnya tidak dinyatakan secara cukup jelas iman akan ke-Allah-an Yesus. Tentang Yesus hanya dikatakan bahwa Ia adalah “Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan kita.” Sebagian orang menafsirkan pernyataan tersebut dalam pengertian simbolik saja. Orang-orang lain pun disebut juga sebagai, “anak-anak Allah” (mis: Kej 6;4).
Pada awal abad keempat, Arius - seorang Imam Mesir - mulai menyebarluaskan ajaran bahwa Yesus bukanlah Allah, oleh karena Ia dijadikan pada waktunya. Para uskup dari seluruh Mediterania berkumpul di Nicea, Turki pada tahun 325 untuk membantah ajaran tersebut. Di bawah bimbingan Santo Atanasius, mereka membuat Syahadat Nicea-Konstantinopel yang lebih panjang. Di dalamnya dinyatakan secara jelas dan rinci pokok-pokok penting iman kita, “Aku percaya akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa.”
Tidak ada keraguan lagi bahwa Yesus adalah Allah. Hanya ada satu Allah, tetapi dalam Allah yang Satu itu ada Tiga Pribadi yang berbeda. Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus adalah satu. Ajaran ini berasal dari Yesus sendiri, melalui para Rasul. Ajaran tersebut mengungkapkan sekilas tentang kehidupan Tuhan Yang Mahakuasa yang misterius.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA BEDA IMAN DAN KEPERCAYAAN? Banyak orang mengatakan bahwa mereka beriman kepada Tuhan, tetapi sesungguhnya yang mereka maksudkan adalah mereka percaya kepada Tuhan. Jadi apa bedanya? Seseorang pernah mengatakan demikian: Kepercayaan adalah suatu kebenaran yang kita terima. Iman adalah api yang membakar hati. Artinya, kita mungkin saja percaya akan sesuatu, tetapi sesuatu itu tidak mempengaruhi pribadi kita. Tetapi jika kita mengimani sesuatu, ia pasti akan mempengaruhi pribadi kita. Kita menggantungkan diri padanya, kita mengandalkannya. Saya percaya bahwa dua kali dua sama dengan empat, lalu apa? Saya mengimani Allah yang Pengasih dan hidup saya menjadi lebih berarti karena iman saya.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU DOSA BERAT? Pernahkah kamu kehilangan seorang sahabat karena kamu mengatakan atau melakukan sesuatu yang melukai hatinya? Atau pernahkah kamu meninggalkan seorang sahabat yang membuatmu marah? Tiba-tiba saja sahabatmu itu tidak lagi menjadi bagian hidupmu. Tidak seorang pun yang akan menghukummu atas hilangnya sahabatmu itu, tetapi kehilangan sahabat itu sendiri sudah merupakan suatu hukuman bagimu. Begitulah gambaran dosa berat itu. Kita meninggalkan Tuhan atau kita memaksa Tuhan pergi dari kehidupan kita. Kita menciptakan neraka bagi diri kita sendiri karena kita memisahkan diri dari seorang sahabat terbaik yang pernah kita miliki. Katamu kamu tidak membutuhkan Tuhan? Ah, sayang sekali, mungkin kamu tidak pernah mengenal seorang sahabat sejati.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA BERBOHONG ITU DOSA? Suatu penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Amerika mengungkapkan bahwa 3 dari 5 anak berpendapat bahwa berbohong itu bukanlah suatu tindakan yang salah. Kenyataannya, banyak pejabat-pejabat di pemerintahan, para artis serta para tokoh olahragawan yang sering berbohong. Sebagian orang berkata bahwa mereka tidak berbohong "besar", mereka hanya mengungkapkan sebagian kebenaran dan menyembunyikan sebagian lainnya. Di lain pihak, sebagian lagi mengatakan bahwa berbohong itu selalu dosa. Jadi bagaimana, apakah berbohong itu dosa?
Segala bentuk kebohongan itu dosa karena alasan yang sederhana. Segala bentuk hubungan manusia mengandalkan kepercayaan. Orang lain akan mengasihi serta menghormati kamu, hanya jika ia percaya akan apa yang kamu katakan. Misalnya saja, seorang gadis bertanya kepada pacarnya apakah ia pergi dengan cewek lain. Pacarnya mengatakan "tidak" walau pun sesungguhnya ia memang pergi. Cepat atau lambat gadis itu akan mengetahui yang sebenarnya dan akan memakan waktu yang lama sekali sebelum ia dapat percaya lagi kepada pacarnya. Ada yang mengatakan bahwa untuk berbohong kamu harus punya daya ingat yang kuat, sebab bisa saja kamu keseleo lidah dan mengatakan kebalikan dari apa yang telah kamu katakan sebelumnya. Tidak ada bohong "kecil" atau bohong demi kebaikan. Segala bentuk kebohongan mengakibatkan hilangnya kepercayaan. Jika kamu tidak dapat mengatakan yang sebenarnya, lebih baik kamu tidak mengatakan apa-apa.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU KAPEL? Istilah kapel yang digunakan untuk menyebut gereja kecil, berasal dari nama pakaian yang dimiliki oleh seorang santo. Beginilah ceritanya.
St. Martinus dari Tours adalah seorang laskar kafir dalam angkatan bersenjata Romawi. Suatu hari di musim dingin pada abad ke-4, ia sedang mengendarai kudanya di jalanan Perancis. Ia menjumpai seorang pengemis yang menggigil kedinginan di tepi jalan. St. Martinus adalah seorang yang penuh belas kasih. Ia turun dari kudanya untuk memberikan bantuan. Dihunusnya pedangnya dan dibelahnya mantol militernya yang berwarna merah menjadi dua bagian. Kemudian diberikannya yang satu bagian kepada sang pengemis. Malam itu St. Martinus mendapat penampakan Yesus dalam suatu mimpi. Ia dibaptis dan pada akhirnya menjadi seorang uskup. St. Martinus menyimpan belahan mantolnya itu seumur hidupnya.
Beberapa abad kemudian kaisar pertama Holy Roman Empire mendirikan bangunan bundar untuk menyimpan mantol St. Martinus. Bahasa Latin untuk mantol ialah "capella". Lama kelamaan capella diartikan sebagai bangunan atau ruangan kecil untuk memuji Tuhan. Di Indonesia kita menyebutnya sebagai "kapel".
Istilah a capella juga dipergunakan untuk menyebut nyanyian tanpa iringan musik. Para rahib di kapel mengembangkan devosi ini karena tidak cukup tempat bagi pipa-pipa piano di ruangan kapel mereka yang kecil.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU STIGMATA? Stigmata adalah bentuk jamak dari "stigma" yang artinya "tanda" atau "tatto". Stigma dapat berarti noda atau borok, sesuatu yang buruk. Seseorang dapat dikatakan mempunyai noda karena perbuatan mereka yang buruk. Jika kita menggunakan bentuk jamaknya, yaitu stigmata, maka yang dimaksud adalah luka-luka pada tubuh Yesus. Luka-luka itu disebabkan karena deraan cambuk, paku serta mahkota duri saat penyaliban-Nya. Kadang kala luka-luka Yesus ini muncul secara misterius pada orang-orang tertentu, meskipun mereka tidak sungguh-sungguh dilukai oleh paku atau pun senjata. St. Fransiskus dari Assisi adalah orang pertama yang diketahui memperoleh stigmata. Stigmata muncul di tubuhnya pada tahun 1224, menjelang kematiannya. Tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti bagaimana stigmata itu muncul. Ada suatu penjelasan yang mengatakan bahwa jika seseorang menghayati penderitaan dan sengsara Yesus secara mendalam maka pikiran mereka akan memunculkan luka-luka itu di badan mereka sendiri. Pikiran kita mampu menimbulkan perubahan fisik yang nyata pada kita. Tentu saja sebagian stigmata memang timbul secara demikian, tetapi sebagian lagi benar-benar merupakan mukjizat.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU ILHAM? Dikatakan bahwa Kitab Suci diilhami oleh Tuhan. Dikatakan juga bahwa para penyair dan pengarang mendapatkan ilhamnya dari seseorang atau sesuatu. Jadi apa itu sesungguhnya ilham dan bagaimana kalian mendapatkannya?

Jawabnya yang paling sederhana ialah, ilham adalah kemampuan untuk mengenali adanya hubungan antara hal-hal yang berbeda. Begini contohnya. Setiap minggu saya menulis artikel untuk menjelaskan salah satu bacaan Kitab Suci. Saya berusaha menemukan sesuatu yang dapat menggambarkan pesan yang ada dalam Kitab Suci. Saya menganggapnya sebagai menciptakan sebuah perumpamaan modern yang dapat dimengerti oleh anak-anak yang hidup pada abad ke-21 ini.
Saya tahu sedikit banyak tentang bagaimana cara berpikir orang banyak pada umumnya pada masa ini serta apa-apa saja yang menarik bagi mereka. Jadi, saya berusaha mencari suatu perumpamaan modern yang sejajar dengan yang ada dalam Bacaan Kitab Suci. Misalnya:
KESAKSIAN SEORANG PELANGGAN: “Jerawat saya sungguh mengerikan hingga saya tergoda untuk menggosokkan kertas ampelas pada wajah saya, agar dapat menarik perhatian para gadis. Kemudian saya mengoleskan Lumpur Ajaib Elisa ke seluruh wajah saya. Sekarang, saya harus menyewa seorang pengawal untuk mengusir gadis-gadis itu pergi. Saya membawa empat tas lumpur ke mana pun saya pergi. Terima kasih, terima kasih Elisa! - Nigel Naaman, 15 tahun (Diilhami oleh kisah 2Raja-raja 5:15-17).
Ide di atas tidak datang dari pikiran saya sendiri - saya tidak cukup pandai untuk itu. Roh Kudus-lah yang mengilhami saya - membantu saya menemukan hubungan antara keduanya. Seringkali Roh Kudus mengalami gangguan menyampaikan ilham-Nya kepada saya, tetapi kadang-kadang semuanya berjalan lancar.
Roh Kudus mengilhami para penulis Kitab Suci. Mereka melihat apa yang terjadi di sekitar mereka. Tiba-tiba mereka menyadari hubungannya dengan iman mereka kepada Tuhan. Sebagai contoh, suatu ketika umat dalam Perjanjian Lama terjebak di Laut Merah. Pasukan Mesir yang besar jumlahnya sedang mengejar mereka. Tiba-tiba air laut mongering dan bangsa Israel berhasil melarikan diri. Mereka kemudian menyadari bahwa kejadian seperti itu bukanlah suatu kebetulan. Tuhan telah menyelamatkan mereka dari kematian.
Kalian dapat menuliskan “kitab suci” pribadi kalian dengan menuliskan apa-apa saja yang terjadi atas diri kalian. Tulislah saat-saat ketika sesuatu yang buruk hampir saja menimpa kalian atau bahkan telah terjadi pada kalian. Kemudian tuliskan bagaimana kalian dapat menyelamatkan diri dari masalahmu itu. Kalian akan melihat campur tangan Tuhan dalam keselamatanmu.
Tuhan memperhatikanmu secara pribadi dan ingin menyelamatkanmu. Biasanya Ia melakukannya dengan mengutus seorang yang tepat pada saat kamu membutuhkan pertolongan. Ketika kamu melihat hubungan antara penyelamatanmu itu dengan imanmu, kamu telah diilhami oleh Tuhan.
Mintalah Roh Kudus untuk mengilhamimu dalam menemukan hubungan-hubungan lain dalam hidupmu. Sungguh, amat menyenangkan jika hal itu terjadi!

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA YANG SALAH DENGAN NARKOBA (NARKotik dan OBAt-obatan Terlarang)? Orang makan, minum, merokok atau menyuntikkan berbagai macam narkotik dan obat-obatan karena alasan yang berbeda-beda. Sebagian orang mengkonsumsi narkotik dan obat-obatan tertentu atas anjuran seorang dokter, yaitu demi alasan kesehatan. Tetapi, sebagian orang mengkonsumsi narkotik dan obat-obatan karena NARKOBA tersebut dapat menimbulkan rasa rileks atau rasa senang sesaat. Singkatnya, mereka menggunakan NARKOBA sebagai sarana untuk melarikan diri dari masalah yang sedang mereka hadapi.
Persoalannya ialah NARKOBA sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah; masalah yang mereka hadapi itu masih tetap ada. Cara terbaik mengatasi suatu masalah ialah dengan menghadapinya dan menyelesaikannya, bukan dengan melarikan diri darinya.
Terlebih lagi, NARKOBA menimbulkan akibat sampingan yang berbahaya. Banyak orang tidak sadar akan akibat sampingan NARKOBA, karena akibat sampingan tersebut bekerja secara perlahan-lahan dan baru muncul beberapa tahun kemudian.
Kita tidak punya cukup tempat di sini untuk menjelaskan semua bahaya akibat penggunaan NARKOBA. Tetapi coba pikirkan hal ini: Tidak sedikit dokter yang dituntut ke pengadilan karena timbulnya akibat sampingan dari penggunaan obat-obatan resmi tertentu. Bahkan obat-obatan yang nampaknya aman, ditulis oleh para dokter professional, dapat menimbulkan akibat sampingan yang membahayakan. Terlebih lagi NARKOBA yang dijual kepadamu, oleh orang-orang yang haus uang, pastilah beresiko menimbulkan akibat sampingan yang lebih membahayakan.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU BALAS DENDAM? Balas dendam dapat didefinisikan sebagai “memberi hukuman sebagai balas atas luka atau nista.” Selama ribuan tahun manusia melakukan balas dendam atas luka-lukanya. Kadang-kadang tindakan balas dendam ini lebih parah dari perbuatan asalnya. Sebagai contoh, seseorang dapat membunuh orang lain hanya karena diremehkan atau dikritik. Perjanjian Lama mengajarkan umatnya untuk membatasi tindakan balas dendam pada “mata ganti mata dan nyawa ganti nyawa,” dengan kata lain tidak membalas lebih dari yang dilakukan orang kepadanya.
Yesus mengajarkan bahwa segala bentuk balas dendam itu salah. “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. (Mat 5:38-39). Yesus menghendaki, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Hal pertama yang diinginkan oleh sebagian besar orang adalah membalas melukai - tetapi itu bukan Jalan Kristus. Kita memang harus mencari keadilan dan mempertahankan diri, tetapi jangan pernah kita bertindak karena terdorong hasrat untuk membalas dendam.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA SAYA HARUS MENGAMPUNI? Jika seseorang mencuri barang yang kita sayangi, mengejek kita atau dengan sengaja menjatuhkan buku-buku kita dari meja, maka kita akan marah. Jika seseorang itu melakukan ketiga-tiganya, kita akan sangat marah. Jika ia melakukan ketiga-tiganya dalam satu hari, baiklah, ia harus berhati-hati menghadapi kita. Sekarang ini, kemarahan bagaikan sebuah gunung berapi yang siap meledak. Kemarahan meledak di mana-mana. Seolah-olah kita tidak dapat menghadapi situasi yang mengecewakan kita, selain dengan menjadi marah dan berusaha membalas. Kemarahan dalam satu jiwa saja akan mempengaruhi kekudusan Gereja secara menyeluruh. Semua orang dalam Gereja menderita jika bahkan satu orang saja tidak mau mengampuni.
Mengampuni bukan berarti melupakan, tidak marah, tidak membela diri. Mengampuni lebih dari sekedar itu. Mengampuni berarti membiarkan kekudusan, kelemahlembutan dan cinta Tuhan menjadi demikian kuat dalam hati kita sehingga kita dapat melangkah lebih maju: penuh belas kasihan, dan bukannya meledak dalam amarah; mengutamakan keadilan dan kemurahan hati, dan bukannya dengki serta balas dendam. Mengampuni berarti mendoakan orang yang menyebabkan kita marah.
Marah seringkali tidak menyelesaikan persoalan sama sekali, banyak kali malahan memperburuk keadaan. Memusatkan diri pada tujuan yang lebih mulia dan berusaha mencapai tujuan itu, akan memberikan hasil yang lebih baik. Sebagai contoh, marah atas apa yang dikatakan seorang teman kepadamu dapat menjadikan kalian saling bermusuhan. Daripada menjadi marah, kamu dapat membantu temanmu itu untuk bersikap lebih baik. Dengan demikian mengampuni menjadi salah cara untuk mempererat persahabatan. Memang lebih mudah menjadi marah. Tetapi jalan termudah belum tentu sesuai dengan jalan Kristus. Mengampuni menjadikan kita seperti Yesus. Kita hanya bisa mengampuni jika kita menerima rahmat Tuhan yang kita terima melalui doa. Jika kita mengampuni sesama kita, kita tahu bahwa Tuhan akan mengampuni kita juga.

Sumber: My Friend; St. Thomas Corner; www.daughtersofstpaul.com/myfriend


APA ITU TABERNAKEL? Kata “Tabernakel” berasal dari bahasa Latin yang berarti “kemah”. Pada mulanya istilah “Tabernakel” digunakan untuk menyebut Kemah Pertemuan yang didirikan Musa di Gunung Sinai. Bangsa Israel adalah bangsa pengembara, mereka mengembara tanpa mempunyai tempat tinggal tetap. Oleh karena itu mereka membutuhkan Rumah Allah yang mudah dibawa sehingga mereka dapat “membawa” Tuhan bersama mereka. Ketika Salomo membangun Bait Allah di Yerusalem, istilah “Tabernakel” digunakan untuk menyebut bangunan tersebut. Namun demikian, Bait Allah yang dibangun Salomo dianggap sebagai Rumah Allah yang tidak sempurna karena dibangun oleh tangan-tangan manusia.
Penulis Kitab Ibrani mengajarkan bahwa Yesus telah memasuki Rumah Allah yang sempurna di surga, karena Ia telah mempersembahkan kurban yang sempurna yang menggantikan semua korban yang lain. Sekarang kita menggunakan istilah “Tabernakel” untuk menyebut Rumah Allah tempat menyimpan Sakramen Mahakudus. Yaitu sebuah model dari “kemah” teragung di mana kelak kita akan tinggal bersama Allah untuk selamanya.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU “BULLA?” Di waktu lampau, sebagian besar orang tidak dapat membaca ataupun menulis. Banyak yang bahkan tidak dapat menuliskan nama mereka sendiri. Kadang kala, mereka akan membubuhkan suatu “tanda” sebagai tanda tangan mereka. Apabila seseorang hendak mengeluarkan dokumen-dokumen penting, ia akan minta seorang juru tulis untuk menuliskan perkataan mereka.
Oleh sebab tanda-tanda sederhana itu mudah dipalsukan, maka dokumen-dokumen yang sungguh penting biasanya “dimeterai” dengan cincin stempel yang dikenakan hanya oleh pemiliknya. Cincin stempel ditekankan pada gumpalan tanah liat, atau lilin cair, atau timah berbentuk koin yang ditempelkan pada dokumen. Obyek yang ditempelkan ini disebut “bulla” dalam bahasa Yunani.
Paus seringkali menulis surat-surat penting mengenai berbagai macam topik seputar iman dan moral. Sebagian besar yang paling penting di antara dokumen-dokumen ini disebut Bulla. Sebagian dari Bulla Paus telah mengubah sejarah dunia. Pada abad keduabelas, Paus Adrianus IV (satu-satunya Paus yang berasal dari Inggris) menulis sebuah bulla yang disebut Laudabiliter yang memberikan hak kepada raja Inggris untuk memiliki Irlandia. Kita masih merasakan dampaknya hingga sekarang. Banyak yang sekarang menyatakan bahwa dokumen tersebut palsu belaka. Jika ingin tahu lebih banyak mengenainya, buka saja situs resmi Vatican.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 

Panggilan Religius:
Apa itu "Panggilan"?
Apa itu "Ordo Religius"?
Apa itu "Vicaris"?
Apa itu "Kuria"?
Apa itu "Cincin Penjala Ikan"?
Apa beda Imam Projo dan Imam Biarawan?
Apa yang terjadi jika seorang Paus meninggal dunia?
Apakah pernah ada seorang remaja yang menjadi Paus?
Bagaimana seorang uskup dipilih?
Mengapa para Imam dipanggil "Bapa"?
Daftar Penerus Tahta Suci


APA ITU ORDO RELIGIUS? Kebanyakan dari kita lebih suka jadi orang yang mandiri. Kita tidak suka orang lain mengatakan kepada kita apa-apa yang harus kita lakukan. Kebebasan memang menyenangkan, tetapi juga harus dibayar mahal. Beberapa keputusan yang kita buat membawa dampak yang buruk. Biasanya dampak tersebut tidak terjadi seketika itu juga, namun lambat-laun dampak tersebut akan mendatangkan masalah yang serius bagi kita.
Kebanyakan, masalah diakibatkan oleh ketamakan dan sikap terlalu mementingkan diri sendiri. Oleh sebab itulah sebagian orang memutuskan untuk mencari cara hidup yang lebih baik. Mereka menggabungkan diri dalam suatu komunitas, yaitu sekelompok orang yang saling berbagi apa yang mereka miliki. Mereka menyerahkan segala harta milik mereka masing-masing dan menjadikannya milik bersama. Komunitas yang paling baik adalah kelompok orang yang bergabung bersama berdasarkan iman kepada Tuhan. Biasanya mereka tinggal bersama. Komunitas seperti ini disebut Ordo Religius. Anggota Ordo tidak hanya berbagi harta milik saja, tetapi mereka juga saling menolong agar masing-masing anggota dapat menjalin hubungan yang lebih akrab dengan Tuhan. Hal demikian itu disebut Spiritualitas atau rohaniah. Mereka mengatur segala sesuatu dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan tujuan rohani. Ordo-ordo religius adalah tanda hidup yang mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang lebih penting dari hanya sekedar hidup. Hidup itu suatu perjalanan, bukan tujuan.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU PANGGILAN? Dalam bahasa Inggris panggilan disebut “vocation”. Vocation berasal dari kata Latin “vocare” yang artinya “memanggil”. Tuhan memanggil kita semua untuk ambil bagian dalam pelayanan Kristiani, tetapi Tuhan memanggil sebagian dari kita untuk mengabdikan diri secara istimewa sebagai imam, biarawati dan anggota Ordo atau Tarekat Religius.
Ada suatu kisah menarik dalam Kitab Suci tentang seorang anak laki-laki bernama Samuel. Ia mendengar suara Tuhan memanggilnya di suatu malam. Karena tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, Samuel mohon petunjuk dari seorang nabi yang telah lanjut usianya. Maka berkatalah nabi itu kepada Samuel, “Jika Tuhan memanggilmu lagi, katakanlah, 'Berbicaralah Tuhan, hambamu mendengarkan.'”
Panggilan adalah salah satu cara untuk menjawab panggilan Tuhan. Panggilan berarti mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Upahnya tidak seberapa, tetapi ganjarannya sungguh luar biasa. Coba bayangkan kepuasan yang kalian peroleh dari mengabdikan diri kepada Tuhan dengan berbuat baik kepada semua orang setiap hari.
Adakah Tuhan memanggilmu untuk hidup membiara? Satu-satunya cara untuk mengetahui jawaban-Nya adalah dengan berdoa dan mohon petunjuk dari seorang imam atau biarawati. Layakkah engkau? Seseorang pernah mengatakan, jika Tuhan memanggilmu untuk menjadi seorang misionaris, jangan bersikeras menjadi seorang raja.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA PARA IMAM DIPANGGIL “BAPA”? Yesus bersabda, “Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di Surga” (Matius 23:9). Sebagian orang bukan Katolik menggunakan ayat tersebut untuk mengkritik Gereja Katolik karena memanggil para imamnya dengan sebutan “Bapa” (Father, Pater, Padre, Romo, semua istilah tersebut berarti `Bapa').
Tetapi Yesus bukannya melarang kita menggunakan kata 'Bapa', melainkan Ia menghendaki agar kita ingat bahwa Tuhan Allah adalah Bapa yang Paling Sempurna. Sebutan 'Bapa' digunakan untuk menyapa para Imam, Uskup dan Paus. Kata 'Paus' berasal dari bahasa Latin yang berarti Bapa (Yun=Pappas=Bapa). Dahulu semua Uskup disapa dengan sebutan 'papa' atau 'paus'. Sebutan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan rohani para Uskup dengan semua orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Para rohaniwan mewakili Bapa Surgawi yang telah menciptakan kita. Jadi, ketika kita berbicara kepada seorang imam, kita sungguh-sungguh sedang berbicara kepada Tuhan melalui hamba-Nya yang tidak sempurna, namun setia, yang mewakili sosok Bapa.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA BEDA IMAM “PROJO” DAN IMAM “BIARAWAN”? Pertama-tama, semua imam adalah orang-orang yang dipanggil secara khusus oleh Tuhan untuk melayani umat-Nya. Karya kerasulan mereka meliputi khotbah / ceramah, pelayanan Sakramen dan sebagai gembala umat.
Para imam projo adalah para imam yang tergabung dalam suatu wilayah geografis yang disebut keuskupan. Para imam projo berada di bawah kepemimpinan seorang uskup. Mereka ditahbiskan untuk melayani umat dalam wilayah keuskupan, biasanya mereka ditempatkan di suatu daerah tertentu yang disebut paroki. Bekerjasama dengan Bapa Uskup, para imam projo melayani kebutuhan rohani umat dan mewartakan Injil di wilayah tersebut.
Para imam biarawan, yang adalah anggota suatu komunitas religius, melaksanakan pelayanan imamat mereka sesuai dengan SPIRITUALITAS dan MISI komunitas religius mereka. Contoh komunitas religius adalah Serikat Sabda Allah (SVD) dan Passionis. Para imam biarawan terikat pada kelompok religius mereka oleh kaul yang mereka ucapkan. Karya pelayanan mereka adalah seluas misi komunitas religius. Mereka dapat berkarya di wilayah sini atau sana; mereka dapat ditugaskan di mana pun sesuai yang ditetapkan pimpinan biara bagi mereka. Jadi, para imam biarawan tidak terikat oleh wilayah tertentu. Dimana pun mereka berkarya, para imam biarawan melaksanakan pelayanan imamat mereka sesuai spiritualitas dan misi komunitas religius mereka. Passionis didirikan oleh St. Paulus dari Salib untuk senantiasa menghidupkan kenangan akan Sengsara dan Wafat Kristus. Serikat Sabda Allah (SVD) didirikan oleh St. Arnoldus Janssen untuk dengan semangat kasih kepada Allah Tritunggal mewartakan Sabda Allah. Baik para imam Passionis maupun SVD melakukan karya kerasulan mereka dengan berbagai macam cara dan di berbagai macam negara di seluruh dunia.
BAGAIMANA SEORANG USKUP DIPILIH? Pada jaman Romawi kuno, para raja membagi kerajaannya ke dalam wilayah-wilayah politik yang disebut “diosis”. Diosis (atau Keuskupan) berasal dari bahasa Yunani yang artinya “pembagian administratif”. Seorang gubernur memimpin setiap Diosis. Diosis kemudian dibagi-bagi lagi ke dalam wilayah-wilayah yang disebut provinsi.
Setelah jatuhnya Roma pada tahun 476, Gereja Katolik mengambil alih sistem tersebut. Provinsi kemudian pada akhirnya merupakan kumpulan beberapa diosis.
Dahulu, sebagian besar uskup dipilih langsung oleh umat. Dalam suatu kasus yang amat terkenal, St. Ambrosius dipilih menjadi Uskup Milan, Italia, bahkan sebelum ia dibaptis! Pada waktu itu St. Ambrosius adalah seorang gubernur propinsi yang datang ke tempat pemilihan untuk menjaga ketenangan serta keamanan pemilihan. Seorang anak kecil melihatnya dan mulai berteriak-teriak, “Ambrosius, Uskup; Ambrosius, Uskup.” Banyak orang mendukung Ambrosius. St. Ambrosius cepat-cepat dibawa untuk mengikuti segala upacara dari seorang yang belum dibaptis hingga menjadi seorang Uskup hanya dalam waktu delapan hari.
Sejak abad kesebelas, uskup selalu ditunjuk oleh Paus. Tentu saja, Paus mengandalkan pendapat-pendapat provinsi setempat serta berbagai kalangan pejabat Vatikan. Jika seorang uskup mengundurkan diri, dipindah tugaskan atau meninggal, para uskup dalam provinsi berunding bersama untuk mengajukan seorang pengganti. Pemimpin provinsi adalah seorang Uskup Agung. Uskup Agung menemui kelompok uskup tersebut serta memilih seorang calon untuk diajukan sebagai uskup baru. Nama calon tersebut dikirim ke Vatikan. Kecakapan calon atau pun para saingannya tidak pernah dinyatakan secara umum. Paus menentukan pilihan akhir. Vatikan meminta persetujuan calon yang terpilih dan pada akhirnya nama Uskup yang baru tersebut diumumkan.
Kata “Uskup” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pengawas”. Seorang Uskup adalah imam pemimpin, administrator keuangan, serta pemimpin dari sebuah diosis/keuskupan atau keuskupan agung. Lebih dari segalanya, uskup wajib menjadi imam segala imam.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA YANG TERJADI JIKA SEORANG PAUS MENINGGAL DUNIA? Paus Yohanes Paulus II adalah paus yang memegang jabatan paus paling lama di abad ke 20 dan di masa sekarang ini. Kebanyakan dari kalian tentu belum pernah mengalami masa pemerintahan seorang paus yang lain. Kita berdoa agar beliau akan tetap menjadi Paus di banyak tahun mendatang, tetapi pada akhirnya ia akan wafat. Jika demikian, apa yang akan terjadi?
Tidak seorang pun diperbolehkan memotret seorang paus yang sedang menghadapi ajal atau pun merekam kata-kata terakhirnya. Sesudah wafatnya, ia baru boleh dipotret setelah jubah paus dikenakan kepadanya. Ketika telah dikeluarkan pernyataan resmi tentang wafatnya paus, tanggung jawab pemerintahan kepausan sehari-hari dipegang oleh Para Kardinal. Para Kardinal dipimpin oleh Kardinal Camerlengo. Istilah untuk jabatan ini berasal dari bahasa Latin yang artinya “Departemen Keuangan”. Pada umumnya Kardinal Camerlengo bertugas melaksanakan kegiatan Vatikan sehari-hari. Ia tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan hukum atau ajaran-ajaran baru.
Ritual pemakaman seorang paus berlangsung selama sembilan hari. Ia dimakamkan di bawah Basilika St. Petrus, kecuali jika ia berpesan untuk dimakamkan di tempat lain. Lima belas hingga dua puluh hari setelah pemakaman paus, dilaksanakanlah proses pemilihan seorang paus baru.
Pemilihan paus baru diadakan di antara para Kardinal. Mereka dikurung di suatu tempat dekat Kapel Sistine. Hanya para Kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang boleh ikut ambil bagian. Kardinal Camerlengo wajib mengawasi bahwa tidak seorang pun yang dapat berkomunikasi dengan dunia luar. Ia harus menempatkan teknisi-teknisi yang cakap untuk memastikan bahwa tidak ada peralatan audio-visual yang dapat digunakan untuk memata-matai. Tidak ada pula telepon genggam atau mikrofon tersembunyi. Pertemuan itu disebut Conclave (Latin, Conclave).
Pada hari pertama dilakukan satu kali pemungutan suara dan pada hari-hari selanjutnya setiap hari dilakukan empat kali pemungutan suara. Seorang paus yang baru harus dipilih oleh sekurang-kurangnya dua pertiga suara terbanyak dari para kardinal yang hadir. Jika tidak ada suara terbanyak, kartu pemungutan suara dibakar di sebuah perapian kecil. Cerobong asap perapian tersebut terlihat dari alun-alun St. Petrus. Orang banyak biasanya datang untuk melihat. Jika paus baru belum terpilih dari hasil pemungutan suara, ditambahkanlah jerami (atau suatu bahan kimia) pada perapian sehingga asap yang keluar berwarna hitam. Jika seorang paus baru telah terpilih, ditambahkanlah suatu bahan kimia pada perapian sehingga asap yang keluar menjadi berwarna putih. Orang banyak dengan gelisah memandang ke cerobong asap untuk melihat warna asap yang keluar.
Tiga orang Kardinal dipilih oleh kelompok tersebut untuk menjadi Scrutineers (Pengawas). Tugas mereka adalah mengumpulkan kartu pemungutan suara, membukanya dan membacanya dengan keras. Mereka juga bertugas menusuk setiap kartu pemungutan suara dengan jarum dan menjahitnya menjadi satu. Ketika seorang Kardinal memperoleh dua pertiga suara terbanyak, kelompok tersebut meninggalkan kapel. Segera sesudahnya, Kardinal Camerlengo tampil bersama paus yang baru terpilih di balkon Basilika dan mengumumkan, Habemus Papam! Kita mempunyai seorang Paus!

Sumber : Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


PERNAHKAH ADA SEORANG REMAJA YANG MENJADI PAUS? Ya, Paus Yohanes XII baru berusia delapan belas tahun ketika ia dinobatkan sebagai Paus. Ia dikenal sebagai “Paus Bocah”.
Paus Yohanes XII dilahirkan di Roma pada tahun 937 dalam suatu keluarga yang amat berpengaruh. Ia diberi nama Oktavius. Ayahnya bernama Alberic, seorang penguasa Roma. Alberic memaksa para anggota Majelis Tinggi Roma untuk bersumpah bahwa mereka akan menobatkan anaknya sebagai paus segera setelah wafatnya Paus Agapetus II yang pada waktu itu bertahta.
Paus Yohanes XII dinobatkan sebagai Paus pada tanggal 16 Desember 955. Ia hanya bertahta selama sembilan tahun dan wafat secara misterius.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU CINCIN PENJALA IKAN? Cincin pada umumnya dikenakan sebagai perhiasan, namun kadang kala cincin dikenakan untuk kepentingan lain. Berabad-abad yang silam hampir semua orang tidak dapat menulis, bahkan menuliskan namanya sendiri. Mereka menggunakan cap pribadi (seperti jika kita menggunakan stempel karet) untuk menandatangani suatu perjanjian. Karena cap tersebut amat berharga, mereka senantiasa membawanya bersama mereka, yaitu dengan mengenakannya sebagai cincin cap.
Sejak abad ke-13, para paus mengenakan cincin untuk keperluan ini. Pada cincin paus tersebut terdapat gambar seorang penjala ikan yang menggambarkan St. Petrus, paus pertama. Disekeliling cincin dituliskan nama paus yang bertahta. Cincin diberikan kepada Paus pada saat ia diangkat dan dimusnahkan ketika Paus meninggal.
Pada jaman modern para paus tidak lagi mengenakan cincin penjala ikan yang asli, melainkan duplikatnya. Sebagian orang menyambut paus dengan mencium cincinnya.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU VICARIS? Kata 'Vicaris' berasal dari bahasa Latin yang berarti “wakil”. Dalam Gereja Katolik, seorang vicaris adalah seseorang yang mewakili seseorang atau jabatan tertentu. Sebagai contoh, seorang Vicaris Jenderal adalah seorang imam yang mewakili uskup jika Bapa Uskup berhalangan hadir di sana. Seorang Vicaris Apostolic adalah wakil Bapa Paus untuk memerintah sebuah keuskupan.
Vicaris yang paling dikenal adalah Bapa Paus. Ia disebut sebagai “Vicaris Kristus di dunia.” Artinya ia adalah wakil Kristus yang adalah Tuhan. Bapa Suci berbicara dan menyampaikan nasehat-nasehatnya dengan kuasa Allah. Kuasa seperti itu pertama kali diberikan kepada Santo Petrus.

Sumber: 1. Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com; 2. Romo D. Suwadji, CM; Mini Ensiklopedia Katolik


APA ITU KURIA? Gereja Katolik adalah organisasi yang paling besar di seluruh dunia. Jika orang berbicara tentang lembaga ini, biasanya mereka berpikir tentang Paus. Bapa Suci adalah pemimpin gereja, tetapi sebagian besar pekerjaan administrasi gereja dilakukan oleh Kuria Romawi.
Kata Kuria berasal dari dua kata Latin, yaitu: `co' dan `vir' yang diterjemahkan secara harafiah sebagai “manusia bekerjasama.” Artinya suatu dewan atau majelis yang beranggotakan orang-orang. Pada jaman Romawi kuno, para kepala keluarga dari berbagai kalangan bertemu untuk membicarakan kerjasama yang saling menguntungkan. Pertemuan itu berkembang dan akhirnya terbentuklah Majelis Romawi. Kata `curiae' juga menunjuk pada tempat di mana kelompok tersebut berkumpul. Dapat juga berarti pengadilan.
Gereja Katolik menggunakan istilah Kuria untuk menyebut sistem administrasinya. Kuria Romawi dipimpin oleh Sekretaris Negara Kepausan dan kantornya ada di Roma. Kuria mengawasi serta mengurus sebagian besar karya serta kebutuhan umat Katolik Roma di seluruh dunia. Paus tidak dapat melakukan semua hal tersebut seorang diri saja, oleh karenanya ia melimpahkan tanggung-jawabnya kepada Kuria Romawi. Yang menjabat sebagai Sekretaris Negara Kuria Romawi saat ini adalah Kardinal Angelo Sodano.
 

Sumber : Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com

 

Para Kudus:
Apa itu "persekutuan para kudus"?
Apa itu "numbus"?
Apakah orang Katolik berdoa Kepada Santa/Santo?
Apakah ada Pesta Santa / Santo setiap hari sepanjang tahun?
Siapa itu Santa dan Santo?
Siapa Santo yang paling tinggi di Surga?
Mengapa peran St. Paulus sangat penting?
Bagaimana Gereja mengangkat seorang Santa / Santo?


APA ITU PERSEKUTUAN PARA KUDUS? Kata "persekutuan" dalam bahasa aslinya adalah "communion". "Communion" menunjuk kepada hubungan antara dua orang atau lebih. Hubungan itu dapat berupa hubungan fisik, seperti jabat tangan atau ciuman. Tetapi dapat juga berupa hubungan mental, seperti kegiatan ekstra kurikuler sekolah yang kamu kerjakan bersama-sama dengan teman sekelasmu. Atau dapat juga berupa hubungan emosional, seperti iman dan kasih yang kamu bagikan kepada orang lain. "Persekutuan Para Kudus" adalah gabungan dari macam-macam hubungan di atas. Yaitu hubungan antara semua orang - baik di masa lampau, masa sekarang maupun masa yang akan datang - yang percaya pada Tuhan Yesus. Kita semua saling berhubungan satu dengan yang lain dan dengan Yesus. Roh Kudus adalah ikatan yang mempersatukan kita semua. Mungkin kamu dapat membandingan hubungan tersebut dengan Internet. Internet merupakan persekutuan/gabungan dari banyak komputer di seluruh dunia. Internet menawarkan pengetahuan, kegembiraan dan kekuatan bagi orang-orang yang berhubungan dengannya. Persekutuan Para Kudus dapat diumpamakan sebagai Tuhan-net. Tentu saja Tuhan-net jauh lebih hebat karena kita saling dihubungkan satu sama lain tanpa menggunakan kabel atau pun satelit. Siapa saja yang menjadi bagian dari Tuhan-net tidak akan pernah "down" atau tanpa daya. Yang kamu perlukan hanyalah "password" atau kata sandinya, yaitu: "Yesus."

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA PERAN ST. PAULUS SANGAT PENTING? Jika kamu pernah membaca Kitab Suci secara serius, mungkin kamu memperhatikan adanya suatu hal yang janggal. Meskipun Yesus adalah tokoh utama dalam Kitab Perjanjian Baru, namun tidak satu pun kitab dalam Perjanjian Baru yang ditulis oleh Yesus sendiri. Malahan kamu akan mendapati 13 kitab yang seluruhnya ditulis oleh seseorang yang disebut sebagai "Paulus dari Tarsus" atau lebih dikenal dengan Santo Paulus. Sedang keempat Injil ditulis oleh penulis-penulis lain.
Mengapa kitab Paulus lebih banyak dari Injil Yesus? Salah satu jawabnya ialah karena Yesus mempunyai kendala! Hambatan yang dihadapi Yesus ialah bahwa Ia berusaha untuk mengajar orang banyak yang sebagian besar taraf pendidikannya rendah atau bahkan tidak pernah bersekolah sama sekali. Jadi meskipun Yesus memiliki pengetahuan yang paling sempurna dari yang dapat diajarkan oleh manusia, Yesus tidak dapat mengungkapkan semua yang ingin Ia katakan. Orang banyak di Israel pada abad pertama itu tidak akan dapat memahami-Nya. Oleh karena itu, Yesus mengajar mereka menggunakan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan sehari-hari - kita menyebutnya "Perumpamaan". Karena perumpamaan-perumpamaan itu diambil dari masalah serta keadaan yang dihadapi para pendengar setiap hari, maka para pendengar-Nya itu dapat menangkap maksud Yesus dengan membandingkannya dengan pelajaran yang dapat mereka petik dari perumpamaan-perumpamaan-Nya. Dongeng-dongeng Aesop juga digunakan untuk tujuan yang sama, yaitu mengajarkan gagasan-gagasan yang penting kepada mereka yang tidak mempunyai pendidikan formal.
Sekarang masalahnya adalah perumpamaan-perumpamaan Yesus diambil dari kehidupan sehari-hari di abad pertama di Israel. Banyak orang yang tidak hidup di jaman dan di tempat yang sama dengan Yesus mengalami kesulitan menangkap maksud perumpamaan yang sebenarnya. Santo Paulus dapat menangkap pesan yang hendak disampaikan Yesus melalui perumpamaan-perumpamaan-Nya. Ia dapat memamah "makanan" atau pelajaran di balik perumpamaan-perumpamaan itu. Kemudian ia dapat menterjemahkan pelajaran-pelajaran tersebut dalam bentuk contoh-contoh yang dapat dimengerti oleh orang luar.
Paulus adalah teolog yang pertama. Teolog adalah seseorang yang mempelajari Sabda Yesus secara mendalam dan yang kemudian mengajarkannya kepada kita. Setiap teolog adalah juga seorang penterjemah. Jika kamu tidak mengerti suatu bahasa atau budaya asing, maka kamu membutuhkan seorang penterjemah yang dapat menjelaskan apa yang dikatakan atau dilakukan orang asing itu. Paulus adalah penterjemah ajaran-ajaran Yesus yang pertama. Paulus tidak hanya sekedar menterjemahkan kata-kata Yesus dari bahasa Ibrani ke bahasa lainnya. Ia kerap kali mnggunakan contoh-contoh baru untuk menterjemahkan maksud suatu perumpamaan. Paulus adalah seorang penggemar olahraga, karenanya ia sering menggunakan istilah-istilah olahraga untuk menyampaikan pesan-pesan Yesus. Terutama sekali ia tertarik dengan olahraga atletik seperti lari, lompat, lempar.
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya." (I Korintus 9 : 24-27).

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


SIAPA ITU SANTA DAN SANTO? Kata Santa dan Santo berasal dari bahasa Latin 'sanctus', yang artinya "suci, kudus". Dalam bahasa Inggris, kata 'sanctus' diterjemahkan menjadi "saint". Kamus American Heritage mempunyai beberapa definisi kata "saint". Salah satu diantaranya mendefinisikan kata "saint" sebagai "seorang yang amat kudus". Kudus berarti "berbudi luhur". Belas kasihan serta iman adalah contoh budi yang luhur. Jadi, seorang santa / santo adalah seorang yang sangat baik, penuh belas kasihan dan iman. Seorang santa / santo sejati adalah seorang yang mempunyai kebiasaan berbuat baik bagi sesama. Kamus tersebut juga mengatakan bahwa definisi kata "saint" berarti "seseorang yang telah berada di surga." Kedua definisi di atas adalah bagian dari definisi kata "saint" oleh Gereja Katolik. Seorang santa / santo bagi kita adalah seorang yang amat kudus yang telah berada di surga. Mungkin ada banyak juga santa dan santo dalam keluargamu, sanak saudara atau teman yang telah berada di surga. Tetapi, Gereja seringkali menunjuk seorang santa / santo istimewa dengan "kanonisasi". "Kanon" adalah daftar resmi, misalnya daftar hukum atau daftar santa / santo. "Kanonisasi" adalah proses peresmian seseorang yang telah meninggal diangkat menjadi Santa / Santo. Santa / Santo yang telah dikanonisasi adalah sebagian dari pahlawan-pahlawan Gereja - seseorang yang menjadi teladan bagi umat beriman lainnya. Beberapa nama santa dan santo yang terkenal misalnya: St. Yosef, St. Theresia dan St. Fransiskus dari Assisi. Sesungguhnya, siapa saja dapat menjadi santa atau santo, termasuk kamu. Yesus mengajarkan bagaimana caranya dalam Injil Matius 5: 1-12. Coba bacalah Injil-mu dan bulatkan tekadmu untuk menjadi seorang santa / santo.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


BAGAIMANA GEREJA MENGANGKAT SEORANG SANTA/SANTO? Gereja mengakui orang-orang tertentu sebagai Santa dan Santo melalui suatu cara yang khusus, yaitu melalui suatu proses yang disebut “Kanonisasi”. Kanon (Latin = Hukum atau Daftar) adalah sesuatu atau seseorang yang dijadikan contoh tetap bagi yang lain. Kanon Misa, misalnya, adalah Doa Syukur Agung yang mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Doa Syukur Agung tetap sama. Doa-doa lainnya dalam Misa dapat berubah-ubah dari minggu yang satu ke minggu yang lain, tetapi Kanon Misa tetap sama.
KANONISASI adalah proses Gereja meresmikan seseorang yang telah meninggal diangkat menjadi seorang Santa/Santo. Jika seseorang dikanonisasi oleh Gereja artinya ia dijadikan contoh atau teladan bagi umat yang lain. Seorang Santa/Santo adalah seorang Pahlawan Gereja.
Kanonisasi baru dimulai pada abad kesepuluh. Selama beratus-ratus tahun sebelumnya, mulai dari martir pertama Gereja Perdana, santa dan santo dipilih berdasarkan pendapat banyak orang. Meskipun cara demikian lebih demokrasi, namun beberapa kisah hidup santa/santo telah dikacaukan dengan cerita legenda, sebagian lain bahkan tidak pernah ada. Oleh karena itu Uskup dan pada akhirnya Vatikan mengambil alih wewenang untuk mengangkat santa dan santo.
Pada tahun 1983 Paus Yohanes Paulus II melakukan perubahan besar dalam proses kanonisasi. Proses kanonisasi dimulai setelah kematian seorang Katolik yang dianggap banyak orang sebagai kudus. Seringkali proses kanonisasi baru dimulai bertahun-tahun setelah kematian seorang kudus untuk memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai calon santa/santo tersebut. Uskup setempat mengadakan penyelidikan tentang kehidupan calon santa/santo, tulisan-tulisan mengenai teladan kepahlawanannya (atau kemartirannya) serta kebenaran ajarannya. Kemudian sejumlah teolog di Vatican menilai calon santa/santo tersebut. Setelah persetujuan para teolog dan para Kardinal dari Konggregasi Masalah Santa/Santo, Paus mengumumkan calon santa/santo tersebut sebagai "VENERABILIS" (Yang Pantas Dihormati).
Langkah selanjutnya adalah BEATIFIKASI. Beatifikasi memerlukan bukti berupa mukjizat (kecuali dalam kasus martir). Sebab mukjizat dianggap sebagai bukti bahwa orang yang dianggap kudus itu telah berada di surga dan dapat mendoakan kita. Mukjizat itu harus terjadi sesudah kematian calon santa/santo dan merupakan jawaban atas permohonan khusus yang disampaikan kepada calon santa/santo tersebut. Jika Paus telah menyatakan bahwa calon santa/santo tersebut telah dibeatifikasi menjadi BEATA/ BEATO (Latin artinya Yang Berbahagia), maka orang kudus tersebut boleh dihormati oleh daerah atau kelompok umat tertentu yang berkepentingan.
Hanya jika dapat dibuktikan adanya satu mukjizat lagi, maka Paus akan melakukan kanonisasi calon santa/santo (termasuk martir juga). Gelar SANTA atau SANTO menunjukkan kepada kita bahwa orang yang menyandang gelar tersebut adalah orang yang hidup kudus, telah berada di surga, dan pantas dihormati oleh seluruh Gereja Katolik. Kanonisasi tidak "membuat" seseorang menjadi santa/santo, tetapi merupakan pengakuan kita akan karya besar yang telah dilakukan Tuhan.
Kanonisasi bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan. Namun demikian, proses kanonisasi memerlukan waktu yang amat lama dan usaha keras. Jadi meskipun semua orang yang dikanonisasi adalah orang kudus, tidak semua orang kudus dikanonisasi. Siapa saja yang berada di surga adalah seorang yang kudus. Kamu mungkin mengenal banyak "orang kudus" dalam hidupmu. Kamu sendiri pun telah dipanggil Tuhan untuk menjadi kudus.

Sumber: 1. Catholic On Line; Saints & Angels; www.saints.catholic.org ; 2. Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


SIAPAKAH SANTO YANG PALING TINGGI DI SURGA? Jika yang kalian maksud adalah santo yang “paling tinggi kedudukannya”, tentulah akan sulit sekali menjawabnya. Secara tidak langsung Yesus menyatakan bahwa semua orang di surga mempunyai kedudukan yang sama: “Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Markus 10:31). Tetapi jika yang kalian maksud adalah santo yang secara harafiah “paling tinggi”, maka ia pastilah Santo Simeon Stylites, seorang biarawan yang dilahirkan di Antiokia, Turki sekitar tahun 390. Nama Stylites berasal dari bahasa Yunani yang artinya “tiang”. Ia menjadi terkenal karena tinggal di puncak sebuah tiang. Ia memulainya pada tahun 423 dengan sebuah tiang yang terdiri dari tiga balok batu. Ketiga balok itu melambangkan Trinitas Maha Kudus. Tinggi tiang tersebut sekitar 2 meter. Umat burduyun-duyun datang kepadanya untuk meminta nasehat dan mendengarkan ajaran-ajarannya. Pada akhirnya ia pindah ke sebuah tiang yang tingginya 20 meter. Umat membawakan makanan untuknya, kemungkinan St. Simeon mengulurkan sebuah keranjang yang diikat dengan tali untuk mengambilnya. Rupanya St. Simeon tidak mempunyai perlindungan dari serangan cuaca. Kita hanya bisa menduga-duga bagaimana ia dapat tidur di puncak tiang tanpa terjatuh. Setelah St. Simeon wafat pada tahun 459 tiang tempat ia tinggal dipindahkan ke sebuah gereja. Di kemudian hari beberapa biarawan meniru praktek yang dilakukan St. Simeon, tetapi tidak seorang pun memiliki tiang yang lebih tinggi dari tiang St. Simeon. Sekitar tahun 1920 ada suatu tontonan yang disebut “flagpole sitting” (duduk di puncak tiang bendera), tetapi tontonan tersebut hanyalah sebuah pertunjukan akrobatik untuk menarik perhatian, sesuatu yang ingin sekali dihindari oleh St. Simeon. Pesta St. Simeon Stylites dirayakan pada tanggal 5 Januari.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APAKAH ORANG KATOLIK BERDOA KEPADA SANTA/SANTO? Kita berdoa bersama Santa/Santo, bukan kepada mereka. Pernahkah kamu meminta seseorang berdoa untukmu, ketika kamu sedang menghadapi suatu masalah? Mengapa kamu memilih dia untuk mendoakanmu? Kamu memilihnya mungkin karena ia seorang yang dapat dipercaya, atau karena ia seorang yang mengerti masalahmu, atau karena ia seorang yang dekat dengan Tuhan. Demikian juga halnya mengapa kita meminta bantuan doa dari santa/santo ketika kita sedang menghadapi suatu masalah.
Karena santa/santo hidup kudus selama hidupnya di dunia dan kini telah berada bersama Tuhan di surga, kita yakin bahwa bantuan doa mereka amat berguna. Seringkali kita mohon bantuan doa dari seorang kudus tertentu, santa/santo yang menurut kita memiliki kepedulian khusus pada masalah yang sedang kita hadapi. Misalnya, banyak orang mohon bantuan doa Santa Monika jika mereka punya masalah atas doa-doa mereka yang belum terjawab. Sebab St. Monika sendiri berdoa selama dua puluh tahun untuk pertobatan puteranya. Pada akhirnya, doa-doanya dijawab Tuhan dengan suatu cara yang tidak pernah terbayangkan olehnya - puteranya, Agustinus, dikanonisasi menjadi seorang Santo dan Doktor Gereja! ©2000 Terry Matz

Sumber : Catholic On Line; Saints & Angels; www.saints.catholic.org


APAKAH ADA PESTA SANTA/SANTO SETIAP HARI SEPANJANG TAHUN? Jawabnya adalah ya dan tidak. Menurut Penanggalan Liturgi Umum yang berlaku resmi untuk Gereja Katolik seluruh Dunia, tidak setiap hari ada perayaan pesta seorang santa/santo. Gereja amat berhati-hati dalam memilih santa/santo yang pestanya wajib dirayakan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia. Santa/santo yang dipilih itu harus menyampaikan pesan yang kuat kepada Gereja secara menyeluruh. Namun demikian, bukan berarti bahwa santa/santo yang lain lebih rendah kedudukannya atau kurang kudus.
Ordo-ordo religius, negara-negara, daerah-daerah tertentu, bahkan perorangan pun, bebas untuk merayakan pesta santa/santo yang tidak termasuk dalam daftar Perayaan Wajib, namun santa/santo yang bersangkutan mempunyai peran istimewa bagi mereka. Perayaan seperti itu disebut Perayaan Fakultatif. Jika demikian, maka ya setiap hari ada perayaan pesta santa/santo setiap hari sepanjang tahun. Malahan, setidak-tidaknya setiap hari ada tiga orang santa/santo yang pestanya dirayakan pada hari itu.
Di Indonesia, misalnya, setiap tanggal 1 Desember kita secara istimewa merayakan Pesta Beato Dionisius dan Redemptus, biarawan Karmel yang wafat sebagai martir di Aceh.

Sumber: 1. Catholic On Line; Saints & Angels; www.saints.catholic.org ; 2. Ensiklopedi Orang Kudus


APA ITU NUMBUS? Sebagian orang percaya akan adanya semacam medan energi yang mengelilingi manusia. Energi ini biasa disebut aura atau halo atau numbus. Kadangkala para pelukis menggambarkan medan energi yang mengelilingi para kudus dengan suatu lingkaran cahaya di sekeliling kepala orang kudus yang dilukisnya. Beberapa pelukis bahkan menggambarkan lingkaran cahaya yang mengelilingi seluruh tubuh orang kudus. Lingkaran cahaya itu bentuknya lonjong () dan sudah lazim pada karya seni jaman itu.
Jika yang digambarkan adalah Allah (misalnya Yesus atau salah satu pribadi dalam Tritunggal Maha Kudus) pelukis akan menambahkan tiga buah sinar pada lingkaran cahaya yang dilukisnya untuk menunjukkan bahwa lukisan tersebut adalah lukisan Allah.
Ide menggambarkan lingkaran cahaya ini mungkin datang dari adanya cincin cahaya yang kadang-kadang muncul di sekeliling bulan dan bahkan matahari. Cincin itu muncul ketika kristal es yang dingin terbentuk di lapisan atas atmosfir. Cahaya yang berasal dari bulan atau matahari dibiaskan atau dibelokkan oleh kristal. Kata “halo” berasal dari bahasa Yunani kuno yang artinya “lingkaran bulan”.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com
 

 

Para Malaikat:
Siapa itu "Malaikat"?
Siapa itu "Paduan Suara Malaikat"?
Siapa itu "Malaikat Agung"?
Mengapa Malaikat Agung disebut Santo?
Siapa itu "Malaikat Pelindung"?
Apakah orang non-Kristen juga mempunyai malaikat pelindung?


SIAPA ITU MALAIKAT? Tuhan menciptakan segala yang ada dari yang tidak ada dengan ke-MahaKuasaan-Nya dan Kasih-Nya untuk Ciptaan-Nya. Ia menjadikan segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Semua makhluk hidup di bumi yang bergerak yang diciptakan oleh Tuhan mempunyai 'jiwa', yang merupakan intisari dari tubuh ragawi mereka. Oleh karena itu tubuh menjadi musnah jika jiwa sudah tidak tinggal lagi di dalamnya.
Tuhan juga menciptakan para malaikat. Mereka adalah makhluk rohani, artinya mereka tidak memiliki tubuh ragawi: tidak memiliki daging atau darah. Malaikat tidak dilahirkan, tetapi diciptakan Allah. Karena tidak memiliki tubuh, maka mereka tidak menjadi tua dan mati.
Malaikat memiliki kehendak dan budi. Sama seperti kita, para malaikat juga menerima rahmat dan kasih Tuhan. Tetapi, karena malaikat tidak mempunyai tubuh ragawi dan tidak tumbuh dan berkembang, tanggapan mereka atas kasih Tuhan juga tidak memerlukan waktu dan refleksi agar dapat tumbuh dan berkembang. Bagi mereka, keputusan untuk mengikuti Tuhan dan mentaati-Nya ditetapkan satu kali untuk selamanya.
Tuhan amat mengasihi manusia dan Ia memberikan kepada manusia sekaligus jiwa dan roh! Sama seperti para malaikat, kita juga mempunyai kebebasan untuk mengikuti Tuhan dan mentaati-Nya. Tetapi karena kita memiliki tubuh ragawi, kita tumbuh dan berkembang; kita belajar sementara kita tumbuh dewasa. Oleh karena itu kita juga bertumbuh setiap hari dalam menentukan pilihan untuk mencintai dan melayani Tuhan.
Malaikat diciptakan Tuhan untuk menjadi utusan-Nya. Kata 'Malaikat' berasal dari kata MALACH, yaitu bahasa Ibrani yang berarti utusan. Dalam bahasa Inggris kita menyebutnya 'Angel' yang diambil dari kata ANGELOS, bahasa Yunani yang juga berarti utusan. Sesuai dengan namanya, para malaikat bertugas membawa pesan dan misi dari Tuhan. Tuhan mengutus para malaikat untuk menyatakan kehendak-Nya, untuk membimbing, mengajar, menegur serta menghibur umat-Nya. Kita dapat menemukan dalam Kitab Suci bagaimana para malaikat tampil sebagai utusan Tuhan, mulai dari Kitab Kejadian dan sepanjang sejarah bangsa pilihan Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, kita juga mengenal para malaikat lewat ajaran-ajaran Yesus sendiri.
Ada malaikat yang baik yang mengikuti dan mentaati Tuhan. Ada juga malaikat yang karena kesombongannya menolak untuk taat kepada perintah Tuhan. Mereka ingin menggunakan kekuatannya untuk kepentingan mereka sendiri. Para malaikat yang memberontak ini kita sebut setan atau iblis. Raja para iblis ialah Lucifer. Kesombongan setan menciptakan neraka. Di neraka tidak ada Tuhan dan dengan demikian untuk selamanya tidak ada harapan untuk memperoleh keselamatan.
Kita tidak tahu seperti apa para malaikat itu ketika mereka berada disekeliling Tahta Allah. Atau bahkan apakah mereka punya penampilan, mengingat mereka adalah makhluk rohani. Penampilan mereka di bumi tentulah amat menggentarkan dan menakjubkan. Banyak kali disebutkan dalam Kitab Suci bahwa kata-kata pertama mereka adalah “Jangan takut.”
“Kalian harus tahu bahwa kata `malaikat' lebih mengacu pada jabatan, bukan kodrat. Makhluk surgawi ini selalu berupa roh. Mereka hanya dapat disebut malaikat jika mereka menyampaikan pesan. Para malaikat yang menyampaikan pesan-pesan yang tahap kepentingannya tidak terlalu tinggi disebut malaikat; dan mereka yang menyampaikan pesan-pesan yang sunguh amat penting kita sebut malaikat agung.” ~ homili Paus St. Gregorius Agung

Sumber: 1. Catherine Fournier; Domestic Church Communications Ltd.; www.domestic-church.com; 2. James Kiefer's Christian Biographies


SIAPA ITU PADUAN SUARA MALAIKAT? Katekismus gereja Katolik dengan sangat jelas mengatakan kebenaran iman ini, bahwa ada makluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci disebut “MALAIKAT”. Maka sudah sepantasnya setiap anggota gereja menerima dan mempercayai kebenaran iman ini. Malaikat dapat digambarkan sebagai makluk rohani murni dan wujud pribadinya memiliki akal-budi dan kehendak bebas. Malaikat tidak dapat mati.
Sejak abad ke-4, malaikat digolongkan dalam SEMBILAN paduan suara. Dikenal dengan sebutan paduan suara para malaikat. Dijelaskan kurang lebih seperti berikut:
KETIGA PADUAN SUARA yang pertama MENATAP DAN BERSEMBAH SUJUD langsung di hadapan Tuhan:
1. SERAFIM, artinya “yang bernyala-nyala”. Serafim memiliki nyala kasih yang paling berkobar di hadapan Tuhan dan hadir di hadapan Tuhan dengan pemahaman yang sungguh mendalam. <LUCIFER adalah salah satu dari Serafim yang terang benderang itu, tetapi kemudian berubah menjadi kegelapan>
2. KERUBIM, artinya “kesempurnaan kebijaksanaan”. Kerubim berdiri di hadapan kebijaksanaan Ilahi; merenungkan penyelenggaraan dan rancangan Allah bagi makluk ciptaan-Nya.
3. TAHTA, melambangkan keadilan Ilahi dan kuasa pengadilan. Tahta berdiri dengan merenungkan kuasa dan keadilan Allah.

KETIGA PADUAN SUARA berikutnya MENUNAIKAN RENCANA PENYELENGGARAAN ILAHI bagi alam semesta :
1. PENGUASA, nama ini menyiratkan otoritas. Dikenal juga sebagai pemimpin paduan suara yang lebih kecil.
2. KEUTAMAAN, nama ini menimbulkan kesan daya atau kekuatan. Dikenal siap melaksanakan perintah Penguasa dan memimpin kelompok surgawi.
3. KEKUATAN, nama itu menunjuk pada tugas menghadapi serta melawan kuasa-kuasa jahat yang menentang rancangan peyelenggaraan Ilahi.

KETIGA PADUAN SUARA yang terakhir berhubungan langsung DENGAN MASALAH-MASALAH Manusia:
1. KERAJAAN, melindungi kerajaan-kerajaan duniawi, seperti bangsa-bangsa atau kota-kota.
2. MALAIKAT AGUNG, menyampaikan pesan-pesan Allah yang paling penting kepada umat manusia. (Bdk. Malaikat Mikael-Gabriel dan Rafael)
3. SETIAP MALAIKAT, mengemban tugas sebagai pelindung setiap kita. Sering disebut malaikat pelindung masing-masing kita.

Walau ini “bukan merupakan” dogma resmi, tetapi penggolongan ini sangat popular pada abad pertengahan, salah satu buktinya dalam tulisan-tulisan St. Thomas Aquinas.


APA YANG DILAKUKAN MALAIKAT?
Kita mempercayai bahwa Allah menciptakan Malaikat sebelum karya ciptaan yang lainnya. Dalam perjalanan sebagian malaikat yang dipimpin LUCIFER, berontak melawan Allah. Mereka dengan KEHENDAK BEBAS-nya memilih dengan tak dapat dibatalkan kembali, untuk menolak Allah dan hukum-hukumnya secara radikal, sebab itu mereka dicampakan ke dalam neraka.
Peristiwa ini disebut sepintas dalam beberapa teks Perjanjian Baru. St. Petrus menulis, “Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman”(2Petrus 2:4), bdk teks lain Mat. 25:41. Yang perlu kita ingat adalah malaikat-malaikat yang jatuh ini <setan dan roh-roh jahat> diciptakan sebagai yang baik, tetapi dengan kehendak bebas mereka sendiri memilih untuk berdosa dan berpaling dari Allah.
Salah satu kunci untuk memahami malaikat adalah MELIHAT apa yang MEREKA LAKUKAN:
Pertama, Malaikat memandang, memuji dan memulikan Allah di hadirat-Nya yang Ilahi.
Hendaknya disadari bahwa setiap kita mempunyai seorang malaikat pelindung. Yesus sendiri pernah bersabda, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu; ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di Surga” (Mat. 18:10), bdk. teks lain: Why. 5:11 dst., tentang para malaikat yang menggelilingi tahta Allah; Luk. 15:10 tentang para malaikat yang bersukacita atas jiwa orang berdosa yang bertobat.
Kedua, Malaikat merupakan sebutan yang menggambarkan peran mereka dalam interaksinya dengan dunia ini. Malaikat dalam bahasa Ibrani “Malach” artinya “Utusan”; bahasa Inggris “Angel” dari kata Yunani “Angelos” yang berarti utusan. Kitab Suci melukiskan peran malaikat sebagai utusan Allah yang menyampaikan pesan, melaksanakan keadilan atau pun memberikan kekuatan serta penghiburan.
Beberapa contoh dari Kitab Suci tentang hal ini:
Kej. 3:24 : setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka diusir dan Kerubim ditempatkan Tuhan untuk menjaga jalan masuk taman Eden.
Kej. 19 : Malaikat melindungi Lot dan keluarga di Sodom dan Gomora
Kej. 22 : Malaikat menghentikan Abraham ketika hendak mempersembahkan Isak.
Kis. 10:1dst : Malaikat menampakan diri pada Kornelius dan menghantarnya sampai pertobatan.
Kis. 12:1dst : Malaikat membebaskan Petrus dari penjara.
Semoga kita tidak lupa bahwa para malaikat juga melindungi kita tiap-tiap hari, supaya hidup kita selalu berkenan kepada Allah.**gk


SIAPA ITU MALAIKAT AGUNG? Malaikat Agung adalah “penghulu atau pemimpin para malaikat” (Yudas 1:9; 1Tes. 4:16). Dari ketujuh Malaikat Agung, hanya ada tiga yang kita kenal namanya, yaitu Malaikat Agung St. Mikhael, St. Gabriel dan St. Rafael. Para Malaikat Agung mempunyai empat tugas utama:
Memimpin pertempuran melawan setan.
Menyelamatkan jiwa-jiwa orang beriman dari kuasa musuh, terutama pada saat kematiannya.
Menjadi kemenangan bagi umat pilihan Tuhan, yaitu bangsa Israel dalam Perjanjian Lama dan umat Kristen dalam Perjanjian Baru.
Membimbing jiwa-jiwa dari dunia dan membawanya ke pengadilan akhir.

Sumber: Catherine Fournier; Domestic Church Communications Ltd.; www.domestic-church.com


MENGAPA PARA MALAIKAT AGUNG DISEBUT SANTO? Kata `Santa atau Santo' berasal dari bahasa Latin `Sanctus' yang artinya “suci, kudus”. Memberi gelar “Santa/Santo” kepada seseorang merupakan pengakuan atas kekudusannya. Menyebut malaikat agung sebagai “Santo” juga merupakan pengakuan atas kekudusannya.

Sumber: St. Anthony messenger, Ask the Wiseman : www.americancatholic.org


SIAPA ITU MALAIKAT PELINDUNG? "Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu." (Mazmur 91: 10-12)
Oleh karena cinta kasih Allah yang luar biasa kepada kita, Ia telah memilih para malaikat terberkati di surga dan mengutusnya untuk menjadi pelindung kita masing-masing begitu kita dilahirkan. Malaikat pelindung akan melindungi dan menjaga kita selama ziarah kita di dunia agar kelak kita dapat selamat sampai ke rumah kita yang sesungguhnya, yaitu Surga, di mana kita boleh bersatu dengan Bapa untuk selamanya. Doktrin (=ajaran) tentang malaikat merupakan bagian dari Tradisi Gereja.
Tugas malaikat pelindung ialah membimbing kita kepada pemikiran, perbuatan dan perkataan yang baik serta menghindarkan kita dari yang jahat. Ia mendorong kita untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Malaikat pelindung berbicara dalam hati nurani kita agar kita melaksanakan kehendak Tuhan. Namun, sering terjadi suaranya lenyap tak kedengaran, karena pada saat yang sama si iblis membangkitkan kesombongan kita serta meraung-raung di telinga kita dengan hasutan-hasutannya.
Agar kita lebih peka terhadap bisikan malaikat pelindung, kita perlu membina hubungan baik dengannya, yaitu dengan berdoa memohon perlindungan serta penyertaannya. Sudah selayaknya kita mengikuti bimbingan malaikat pelindung kita. Tuhan amat merindukan kita ada bersamanya di surga kelak. Malaikat pelindung adalah salah satu dari sekian banyak cara yang dilakukan Tuhan agar kita sampai kepada-Nya.
Gereja merayakan pesta untuk menghormati malaikat pelindung setiap tanggal 2 Oktober.
DOA KEPADA MALAIKAT PELINDUNG:
Malaikatku yang baik, engkau datang dari Surga; Tuhan telah mengutusmu untuk menjagaku.
Oh, lindungilah aku di bawah kepak sayapmu. Terangilah jalanku dan bimbinglah langkahku.
Jangan tinggalkan aku, melainkan tinggallah di dekatku; belalah aku dari roh-roh jahat.
Tetapi di atas semua itu, datanglah menolongku di saat akhir hidupku.
Bebaskanlah jiwaku, sehingga bersamamu jiwaku boleh memuji, mencinta dan menyaksikan kemurahan Tuhan untuk selama-lamanya. Amin.

Sumber: 1. Catholic Online Angels; www.catholic.org; 2. Guardian Angels by Christine J. Murray writes from Mount Pleasant, Michigan


APAKAH ORANG-ORANG NON-KRISTEN JUGA MEMPUNYAI MALAIKAT PELINDUNG? Pendapat bahwa setiap orang mempunyai malaikat pelindung didasarkan pada sabda Yesus sendiri: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di Surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di Surga. (Mat. 18:10). Yesus mengatakannya sebelum Penyaliban-Nya, dan pada saat Ia sedang membicarakan anak-anak bangsa Yahudi.
Yesus mengatakan tentang malaikat mereka di Surga yang selalu memandang wajah Bapa-Nya. Pernyataan tersebut tidak hanya menegaskan bahwa para malaikat itu senantiasa berada di hadirat Allah, tetapi hendak menegaskan juga bahwa para malaikat itu senantiasa memiliki kontak kepada Bapa. Jika anak yang mereka jaga itu berada dalam bahaya, para malaikat itu, atas nama Tuhan, akan bertindak sebagai pembimbingnya.
Jadi setiap orang, baik Kristen maupun non-Kristen, mempunyai seorang malaikat pelindung. Namun demikian, mereka yang memiliki “materai” pembaptisan dan hidup baru dalam Kristus membutuhkan lebih banyak perhatian, bimbingan dan perlindungan untuk memastikan bahwa kelak mereka tiba di Surga.

Sumber: 1. The Catholic FAQ; www.newadvent.org; 2. Guardian Angels by Christine J. Murray writes from Mount Pleasant, Michigan
 

 

Kehidupan Sesudah Mati:
Apa itu "Pengadilan Terakhir"?
Apa itu "Surga"?
Apa itu "Api Penyucian"?
Apa itu "Indulgensi"?
Mengapa kita memerlukan Api Penyucian?
Bagaimana kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal?


APA ITU SURGA? Paus Yohanes Paulus II mengatakan kepada kita bahwa seharusnya kita tidak menganggap Surga sebagai suatu “tempat”. Bukan maksud Bapa Suci mengatakan bahwa Surga itu tidak ada, tetapi ia bermaksud untuk mengatakan bahwa Surga bukanlah suatu tempat fisik seperti anggapan banyak orang.
Cara yang lebih baik untuk menggambarkan Surga adalah ia itu seseorang. Seseorang itu adalah Bapa. Tuhan mengundang kita untuk berada bersama-Nya dalam kebahagiaan abadi.
Pernahkah kamu memperhatikan bahwa jika kamu sedang bersama dengan seseorang yang mencintaimu dan yang kamu cintai, tidak jadi masalah kalian berada di mana? Kebersamaan itu sendiri adalah sesuatu yang indah serta menyenangkan.
Bukan dinding serta dekorasinya yang membuat suatu bangungan menjadi rumah. Istana yang paling indah pun dapat menjadi “neraka” jika mereka yang tinggal di dalamnya saling membenci. Suatu bilik sederhana dapat menjadi “surga” jika mereka yang tinggal di dalamnya saling mengasihi.
Daripada bertanya seperti apakah Surga itu, sebaiknya kita bertanya seperti apakah Tuhan itu? Tuhan adalah Bapa yang Pengasih, seorang Sahabat, seorang yang Sangat Mengasihimu sebagai suatu pribadi. Tuhan akan melakukan apa saja agar kita aman dan bahagia.
Secara sederhana, Tuhan adalah pribadi yang paling keren. Memang bukan suatu istilah yang tepat, tetapi Allah itu sungguh amat baik.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


APA ITU API PENYUCIAN? Dalam salah satu audiensinya Bapa Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa api penyucian adalah keadaan yang kita alami setelah kita meninggal di mana kita dibersihkan dari segala noda dosa sebelum akhirnya diperkenankan masuk ke dalam Surga. Bapa Suci menambahkan bahwa setiap orang yang hidupnya belum sempurna tetapi diperkenankan masuk ke Surga harus terlebih dahulu tinggal dalam api penyucian. "Sebelum kita masuk dalam Kerajaan Allah, setiap noda dosa dalam diri kita harus dibersihkan, setiap cacat dalam jiwa kita harus disempurnakan. Itulah sesungguhnya yang terjadi di Api Penyucian,” kata Bapa Suci.
Paus melanjutkan bahwa Api Penyucian juga bukan merupakan suatu tempat, "Api penyucian tidak menunjuk pada suatu tempat, melainkan suatu kondisi kehidupan. Mereka yang, setelah meninggal, tinggal dalam keadaan penyucian telah dibenamkan dalam kasih Kristus, yang akan mengangkat mereka dari sisa-sisa ketidaksempurnaan."
Kemudian Paus mendorong umat Kristen untuk berdoa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi jiwa-jiwa di Api Penyucian.

Sumber: Romo Richard Lonsdale; Catholic1 Publishing Company; www.catholic1.com


MENGAPA KITA MEMERLUKAN API PENYUCIAN? Saudara-saudari kita kaum Protestan bersikeras bahwa hanya ada dua pilihan setelah kita meninggal dunia, yaitu: Surga atau Neraka. Sementara umat Katolik percaya bahwa ada pilihan lain sesudah kita meninggal, pilihan yang membuat kita amat bersyukur yaitu: Api Penyucian. Akan sangat mengerikan sekali jika kita hanya dihadapkan pada dua pilihan saja: Surga dan Neraka, sebab jarang sekali ada orang yang demikian kudus hidupnya sehingga dapat langsung masuk ke Surga. Oleh karena Belas Kasihan Allah kepada umat manusia maka kita diberi kesempatan untuk memurnikan diri sebelum masuk ke Surga yaitu melalui Api Penyucian.
Untuk mempermudah pemahaman kita, mari kita menggunakan suatu perumpamaan. Coba bayangkan: kalian diundang untuk menghadiri suatu pesta yang agung. Setiap orang yang hadir mengenakan pakaian serta gaun mereka yang terindah, rambut mereka tertata rapi, dan tubuh mereka bersih serta harum. Tuan rumah membuka pintu dan mempersilakan kalian masuk. Tetapi kalian berdiri di depan pintu dengan pakaian gembel yang bau, rambut kalian acak-acakan, tubuh kalian dekil dan perlu dibersihkan. Apakah kalian akan masuk ke dalam ruang pesta?
Jika kalian bersikeras bahwa Api Penyucian itu tidak ada, saya akan bertanya: Apa yang membuat kalian yakin bahwa kalian benar-benar bersih dan tanpa noda dosa pada saat kalian meninggal dan dihadapkan ke pengadilan akhir? Bukankah kita semua orang berdosa, yang setiap hari terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil yang hanya tampak oleh Allah saja? Oleh karena itu bersukacitalah atas Api Penyucian di mana kita dapat membersihkan diri kita dari segala dosa sebelum memasuki kemuliaan surgawi yang abadi!
Api Penyucian memang secara spiritual amat menyakitkan sebab jiwa-jiwa yang tinggal di sana sangat ingin berada bersama dengan Allah, tetapi tidak bisa. Pada saat yang sama dalam Api Penyucian ada sukacita besar sebab jiwa-jiwa yang tinggal di sana percaya bahwa setelah masa tinggal mereka di Api Penyucian berakhir, maka mereka pasti diperkenankan masuk ke dalam Surga.

Sumber: For the Love of the Poor Holy Souls in Purgatory; www.poorsouls.net


BAGAIMANA KITA BERDOA BAGI MEREKA YANG TELAH MENINGGAL DUNIA? Hal paling ampuh yang dapat kita lakukan ialah mengadakan Misa untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian, atau mohon intensi misa (intensi misa = ujub Misa yang terkadang diminta oleh umat) bagi jiwa seseorang yang telah meninggal dunia. Devosi lain yang amat bermanfaat ialah Doa Rosario dan Jalan Salib demi jiwa-jiwa menderita tersebut. Kita juga dapat melakukan matiraga. Semua matiraga kita, bahkan matiraga yang terkecil sekali pun, kita persatukan dengan penderitaan Yesus dan kita persembahkan ke dalam tangan kasih Bunda Maria demi keselamatan jiwa-jiwa di Api Penyucian. Indulgensi (indulgensi = pengampunan/ penghapusan hukuman dosa di Api Penyucian) juga berlaku bagi mereka yang telah meninggal dunia. Jadi ingatlah untuk senantiasa berdoa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik demi jiwa-jiwa tersebut.
Sebuah buletin berjudul “The Holy Souls Will Repay Us a Thousand Times Over"(Jiwa-jiwa Akan Membalas Kita Seribu Kali Lipat), mengatakan, “Ketika pada akhirnya jiwa-jiwa di Api Penyucian telah terbebas dari penderitaan mereka dan menikmati sukacita surgawi, mereka tidak akan melupakan saudara-saudarinya yang masih ada di dunia. Ungkapan rasa terima kasih mereka tidak mengenal batas. Sujud menyembah di hadapan Tahta Allah, mereka tak henti-hentinya berdoa bagi saudara-saudarinya yang telah mendoakannya. Dengan doa-doanya, jiwa-jiwa itu melindungi saudara-saudarinya dari mara bahaya serta dari segala kejahatan yang mengancam. Dan kelak, ketika saudara-saudarinya itu tiba di Api Penyucian, jiwa-jiwa itu akan mendoakan mereka sehingga masa tinggal mereka di Api Penyucian dapat dipercepat dan diperingan atau bahkan mereka dapat memperoleh pengampunan SEUTUHNYA.” (Imprimatur: Herbert Cardinal Vaughan).
"Yesus, Maria, aku mengasihi-Mu, selamatkanlah jiwa-jiwa."

Sumber: For the Love of the Poor Holy Souls in Purgatory; www.poorsouls.net

 


Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya
 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.