SINKRETISME, racun semerbak dalam Gereja

 


Sebelum saudara melanjutkan bacaan ini, harap dipahami, bahwa saya tidak bermaksud mendiskreditkan denominasi-denominasi tertentu, atau agama-agama diluar kekristenan. Saya hanya memperbincangkan pondasi dari iman Kristiani (yang saya maksud dengan kekristenan ialah Katolik dan Protestan).
Sering terdengar ungkapan dari umat Kristiani di sekitar kita bahwa agama sama saja, yang penting ialah berbuat baik. Kedengarannya indah, tetapi dibutuhkan pemahaman yang memadai tentang hal tersebut. Mereka orang awam dengan theologia, jadi ungkapan itu jangan terlalu dihiraukan, dan cukup direspons dengan senyuman jika tidak mampu menerangkan dengan baik.
Tetapi, bagaimana jika kata-kata yang sama maknanya diucapkan oleh seorang theolog yang menggondol ijazah sarjana bahkan hingga S-3? Mereka tentu sangat banyak tahu tentang Alkitab, Sejarah Gereja, filsafat, dll. Namun saya tidak berandai-andai. Ungkapan dalam agama lain juga ada kebenaran saya dengar langsung dari seorang pastor ketika sedang berkotbah pada sebuah PDO beberapa tahun lalu.
Kemudian sang pastor menjelaskan apa yang menjadi alasan pada pemikiran semacam itu. Beberapa puluh tahun yang lalu di Vatikan, Paus meminta 12 orang (?) petinggi Vatikan untuk berpuasa dalam usaha meminta jawaban dari Tuhan atas pertanyaan "Apakah faham Katolik benar?"
Setelah menjalani puasa selama 3 hari, konon satu orang di antara mereka mendengar suara: "Dalam Katolik ada kebenaran".
Mereka yakin bahwa ini adalah jawaban dari Tuhan. Puasa dihentikan. Kemudian mereka mengevaluasi kata-kata tersebut dan tiba pada kesimpulan bahwa walaupun dalam Katolik ada kebenaran, tetapi kata-kata itu tidak memutlakkan Katolik sebagai satu-satunya agama yang benar, oleh sebab itu ditafsirkan lebih jauh bahwa dalam agama lain juga terdapat kebenaran. Dan yang dimaksud dengan agama lain ialah agama yang kitab sucinya bukan Alkitab.
Saya agak terkejut ketika mendengar kalimat-kalimat pastor itu. Ada kebenaran diluar kekristenan? Sayangnya, tidak ada waktu untuk berbincang-bincang dengan beliau. Mulanya saya menduga bahwa faham ini hanya dianut oleh Katolik saja. Ternyata tidak.

Beberapa bulan lalu terdengar lagi dari seorang pendeta Protestan di tempat yang berbeda. Dengan tidak bimbang dia berkata bahwa dalam agama lain juga ada kebenaran. Saya sempat berdialog dengan sang pendeta, tetapi sangat singkat karena beliau harus segera berangkat pulang ke kotanya di propinsi lain.


Dasar pemikiran sinkretisme
Alkitab mengajarkan agar umat Kristiani jangan mencuri, jangan berzinah, jangan bersaksi dusta, jangan menipu, dlsb. Pada agama-agama lain juga terdapat hukum-hukum yang sama. Inilah yang menjadi dasar atas pemahaman bahwa dalam agama-agama lain terdapat juga kebenaran.
Itulah yang disebut dengan sinkretisme.
Agaknya kaum sinkretis menggunakan isi ayat Roma 2:14 untuk mendukung faham tersebut, yang bunyinya: "Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut oleh hukum Taurat, maka walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi mereka sendiri".
Kita tidak boleh berhenti mengartikan ayat ini sebatas tekstual saja. Rasul Paulus sedang berbicara tentang aksioma. Sebagai aksioma, ayat itu benar. Namun rasul tersebut menyadari bahwa dalam aplikasi, tidak ada seorang pun yang mampu melaksanakan hukum Taurat (Roma 3:23: "Karena semua orang telah berbuat dosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah…..").
Dan pernyataan Paulus yang sangat radikal berkenaan dengan hukum Taurat yang dianggapnya sampah dapat kita baca pada Filipi 3:8: "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, …."
Pada prinsipnya saya tidak dapat menerima sinkretisme.
Sesungguhnya apa kebenaran itu? Apakah dengan menuruti hukum-hukum kebaikan berarti kita sudah melakukan kebenaran? Jika konsep seperti ini diterima, sama saja dengan mengatakan bahwa ketika saya tidak mencuri, tidak berdusta, tidak berzinah, saya sedang berada dalam kebenaran. Bahkan pada saat tidur atau pingsan pun, di kala tidak mungkin melakukan hal-hal yang jahat, saya sedang melakukan kebenaran.
Selanjutnya dapat diartikan bahwa tidak melakukan sesuatu apapun adalah sedang melakukan kebenaran. Apa benar begitu? Mustahil. Tentu ada yang salah dengan premise seperti itu. Tetapi jika itu salah, bagaimana dengan suara yang didengar ketika sedang berpuasa bahwa dalam Katolik ada kebenaran? Apakah itu benar-benar suara Tuhan? Jika memang jawaban dari Tuhan, mengapa setelah diuraikan justru menimbulkan kebingungan?
Saya pribadi percaya bahwa itu adalah suara Tuhan. Yang pasti salah ialah penafsiran dari kata-kata itu. Di dalam Katolik ada kebenaran, tidak berarti dalam semua agama ada kebenaran.
Mari kita teliti duduk perkaranya. Gereja Katolik sudah lama mengklaim diri sebagai satu agama. Jika ini diterima, maka sempalan-sempalan Kristiani yang ada dalam kelompok Protestan juga adalah agama, sebagaimana Advent yang juga ingin diakui sebagai satu agama.
Yesus berkata: "Akulah jalan, kebenaran, dan hidup". Dalam “agama” Katolik ada Yesus. Pada “agama-agama” Protestan juga ada Yesus. Permasalahan menjadi jelas sekarang, kita tiba pada titik terang bahwa dimana Yesus diterima sebagai Tuhan dan Juruselamat, di situ ada kebenaran. Jadi kebenaran itu adalah Yesus sendiri, bukan perbuatan-perbuatan baik "tidak mencuri, tidak berdusta, tidak berzinah", dll. Setiap umat Kristiani memang harus menjauhkan diri dari hal-hal seperti itu, kita harus melakukan yang baik, tetapi tidak melakukan semua itu bukan berarti kita benar. Kebaikan dan kebenaran berbeda.
Jika kebenaran diletakkan sejajar dengan kebaikan, maka buku-buku Dale Carnegie, Napoleon Hill yang agnostik, dll. dapat dijadikan sebagai kitab suci karena karya tulisan-tulisan mereka baik semua. Kaum moralis yang tidak beragama pun bisa diterima sebagai nabi-nabi karena mereka menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika. Bahkan faham komunisme yang atheis dapat diterima sebagai kebenaran karena komunisme juga melarang perbuatan-perbuatan jahat dan kriminal. Rancu, amburadul.
Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik kita (Efesus 2:8-9), apalagi oleh ke-tidakberbuat-an.
Jika seseorang memiliki Kristus di dalam hatinya dengan iman yang murni dan teguh, maka orang itu ada dalam kebenaran, dan itulah yang diajarkan oleh Alkitab. Aib yang kita lakukan setiap hari akan diampuni oleh Yesus jika dimohon dengan sungguh-sungguh dalam doa.
Hasil penafsiran Vatikan yang salah itu kemudian menjadi satu hal yang setingkat dengan kredo dalam Katolik, walaupun bukan kredo.
Akibatnya fatal, penginjilan oleh Katolik menjadi lesu, karena mengapa harus bersusah payah menginjil, yang menuntut biaya mahal dan penuh dengan risiko, sementara pada agama-agama lain juga ada kebenaran? Kebenaran apa lagi yang perlu dibawa kepada mereka?
Vatikan pun terlihat sangat mesra dengan agama lain yang menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jika kemesraan ini terdorong oleh motivasi hidup berdampingan dengan damai, sangat bagus dan patut didukung. Tetapi jelas bukan itu motivasinya, melainkan persepsi yang keliru yang mengakibatkan iman terkontaminasi.
Lebih jauh, persepsi yang keliru itu menular ke banyak denominasi dalam kubu Protestan. Banyak pendeta-pendeta pada denominasi-denominasi besar terseret dan terlilit oleh benang kusut sinkretisme, dan dengan teguh hati memberi dukungan di depan umum bahwa di dalam agama yang tidak menerima Kristus juga ada kebenaran. Anti-Kristus dapat angin segar. Wow!!!
Ini sangat memprihatinkan. Kekristenan sudah kehilangan jati diri pada banyak theolog.
Ada perbedaan yang sangat signifikan antara kekristenan dengan agama-agama lain. Dalam pemahaman yang paling mendasar, kekristenan bukan agama. Karena agama, menurut definisi adalah usaha atau ikhtiar yang dilakukan oleh manusia dalam mencari dan menemukan Tuhan untuk memperoleh hidup yang kekal. Sifatnya vertikal – dari bawah ke atas.
Sedangkan kekristenan ialah Tuhan turun ke bumi menjadi manusia, menemui orang-orang berdosa dan menyelamatkan setiap yang percaya kepadaNya untuk hidup yang kekal, melalui tebusan oleh darahNya sendiri. Sifatnya vertikal juga, tetapi dari atas ke bawah.
Faham sinkretisme mencampakkan Yesus sebagai the central and main figure. Ketika Dia diseret turun dari posisi itu, yang mencuat kepermukaan adalah aturan-aturan perbuatan baik yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, manusia dengan fauna, dan manusia dengan lingkungan.
Karena pada hakekatnya semua agama mempunyai aturan-aturan perbuatan baik, maka kesimpulannya ialah semua agama sama saja.
Hal ini dapat diartikan, bahkan jika saudara menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, saudara tetap ada dalam kebenaran jika senantiasa berbuat baik. Jelas, sinkretisme adalah racun dalam gereja.
Oleh sebab itu, setiap umat Kristiani, hati-hatilah. Saya tidak tahu apakah saudara sudah pernah mendengar pernyataan seperti itu dalam misa atau kebaktian gereja. Jika sudah, jangan terima itu sebagai kebenaran, dan buanglah jauh-jauh dari pikiranmu karena suatu saat saudara bisa saja tidak bertaut lagi pada Yesus sebagai Jalan menuju Kebenaran untuk Hidup yang kekal, diracuni oleh faham sinkretisme tersebut. Sang JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP itu sekarang bertahta di Surga dengan segala kemuliaanNya. Dia bukan lagi Yesus yang diperhinakan, diludahi, disiksa, bahkan dibunuh dengan cara yang sangat tragis.
Yesus mengingatkan pengikut-pengikutNya 2000 tahun yang lalu: "Hati-hati dengan ragi orang Parisi dan ragi Herodes" (Markus 8:15).
Peringatan yang sama berlaku hingga sekarang kepada kita semua. Hanya saja raginya bukan dari orang Parisi, tetapi ragi dari mereka yang sepenuhnya kita percayai sebagai perawat / pembina iman kita.
Jika ada jalan lain menuju hidup kekal diluar Yesus, maka Yesus adalah pembohong, tolol, penipu, dan gila. Dia dengan rela memilih kekonyolan dengan menerima hinaan, siksaan, hukum mati di kayu salib, untuk menyelamatkan setiap manusia berdosa yang percaya kepadaNya. KekonyolanNya diikuti lagi oleh ribuan penginjil yang percaya pada kebohonganNya dan mengalami peristiwa-peristiwa tragis. Benarkah Yesus dungu seperti itu, yang berhasil mengecoh para misionaris dan kita?

(Ronatama)

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.