Arti Nama Nama Penulis Injil


YTK. TEMAN-TEMAN PENCINTA TAFSIR KITAB SUCI
Di bawah ini Romo Agustinus Gianto memberikan penjelasan arti nama-nama penulis Injil: Yohanes, Mateus, Markus, Lukas.

IOANNES
Mulai dengan namaku. Sebenarnya aslinya bunyinya bukan Yohanes, melainkan Yohanan. Begitu kedengarannya dalam bahasa Ibrani. Bentuk Yohanes itu cuma penyesuaian dari Ioannes, wajah Yunani dari nama Ibrani tadi. Artinya? Ah, letterlijk sudah jelas: Yo- itu Yahwe, Tuhan, dan -hanan, ucapannya mirip [khanan], artinya "ia menunjukkan perkenan/melimpahkan rahmat". Jadi namaku itu kalimat pendek yang menegaskan "Tuhan sudah melimpahkan rahmat". Nomen omen. Yang Mahabesar itu kaya raya dengan rahmat hidayat. Tak perlu diminta, sudah melimpahruah dari sana. Sudah turun kepada kita semua. Kalau kita berdoa memohon rahmat dan tuntunan hidayatnya, kita kan mengungkapkan kepercayaan bahwa Ia sungguh mau beri perkenan dan akan tetap begitu. Kebanyakan nama Ibrani asli dulu kalimat yang ada artinya dan biasanya menyatakan hal yang dilakukan Tuhan. Memang kami melihat, mendengar, dan dapat merasakan kehadiranNya meski sering kurang meluangkan diri bagiNya. Tapi Ia tidak membiarkan diri dibatasi oleh kekurangan kita. Itulah kebesaranNya. Lama baru kusadari itu. Dia yang di atas sana itu tidak terukur oleh banyak atau sedikitnya doa kita. Ia mengatasi semua itu. Ia bukannya Tuhan yang kasihsayangNya bisa ditukar dengan pujian atau diurungkan oleh kelemahan dan dosa kita. Dia bersinar di kegelapan justru karena Dia itu terang, bukan karena mau kuat-kuatan dengan si gelap yang lemah itu. Sudah kusuratkan, si gelap tak berdaya di hadapannya. Aku berkali-kali minta Gus menjelaskan hal ini dengan cara yang bisa dimengerti orang biasa.

MATHTHAIOS
Ehm, kalian boleh tahu, hanya aku, Yohanan, satu-satunya dari empat penulis Injil yang memiliki nama Ibrani yang asli dan benar, tidak kayak para anak muda zaman sekarang, namanya serba modern. Maththaios, yang bagi kalian Matius, aslinya memang keibrani-ibranian, yakni "Mattai", bentuk pendek dari nama asli Ibrani "Mattatiah", harfiahnya, mattat- ialah pemberian, dan -iah ialah sama dengan yah, atau Yahweh, maksudnya Tuhan. Jadi nama Matius itu dulu-dulunya berarti "anugerah dari Tuhan". Memang ada tokoh sejarah yang nama utuhnya Mattatiah, di-Yunani-kan jadi Mattathias (bagi kalian Matatias). Ia tokoh perjuangan melawan pengaruh asing dua abad sebelum kelahiran Yesus - lihat saja 1Makabe 2. Nama ini juga kemudian dipendekkan dan berbunyi Matias, yang jadi nama anak muda yang dipilih oleh kami bersebelas untuk menggantikan kedudukan Yudas Iskariot. Tanya lebih lanjut kepada Luc yang sudah mencatat peristiwa ini dengan teliti dalam Kis. 1:18-26. Jadi nama Matius kalau
diurut-urut artinya ya sama dengan Matias, walau orangnya beda. Nama mereka itu sama-sama menegaskan iman kepercayaan akan pemberian dari Tuhan. Mungkin yang memakai nama demikian itu mau mempersaksikan bahwa sudah mengalami anugerah besar dari Tuhan sendiri. O ya, tak usah berpendapat bahwa si Matt yang kita bicarakan sekarang ini sama dengan pemungut cukai yang bernama Matius yang mengikut Yesus menurut Injil Matius 9:9. Orang itu dulunya bernama Levi seperti dicatat Markus 2:14 dan diikuti Lukas 5:27. Injil Matt menampilkan orang yang sama dengan alias Matius guna menegaskan panggilan itu anugerah ilahi seperti kujelaskan di atas. Seluk beluk selanjutnya bisa dijernihkan dengan ahli tafsir.
Bagaimanapun juga, Matius, si Mattai itu, ialah bentuk modern , tentunya bagi zaman kami, buat nama tradisional Matatias. Jadi kayak nama tradisional Sugiyanto yang modernnya jadi Gianto. Kesannya, ia jadi kurang senang kalau namanya dikelirukan dan ditambah-tambah dengan "Su-", apalagi bila disisipi "-y-". Setuju, "Su-" dan "-y-" itu memberi kesan nama kodian. Maththaios juga kurang senang bila diingatkan bahwa namanya sama dengan Matatias, apalagi dengan Matias dari generasi kami. Orang sekarang! Dia suka dipanggil Matt. Tapi ia pernah terus terang berkata bahwa bahwa ia mempertahankan nama Yunaninya, yakni Maththaios, supaya bisa membuat kalian mikir tentang ungkapan Yunani "matheeteutheis" - seperti ditulisnya dalam Matius 13:52. Kata ini artinya "sudah mendapat pengajaran lengkap". Memang ia mau supaya namanya yang bagi orang yang berbahasa Ibrani berarti "Tuhan telah memberi anugerah" itu ditangkap orang yang tahu Yunani secara lebih persis sebagai "sudah mendapat pengajaran sampai utuh", jadi tidak separo-separo. Memang Matt itu begitu. Tahun lalu kalian kan disertai dia kan? Dia kan menunjukkan barang lama yang baru maknanya.

MARKOS
Kalian apa belum tahu siapa Mark? Namanya yang sesungguhnya ialah Markos Ioannes, jadi kayak namaku yang kedua, lihat catatan Luc dalam Kis. 12:25. Tahu kan, dia itu kemenakan dari Barnabas (lihat Kol. 4:10). Mereka berdua pernah bekerja kepada Paul. Ada banyak gosip tentang Mark, tapi kebanyakan sudah kalian dengar dari Luc. Begini, katanya Mark itu pernah hidup di Yerusalem, meski tampaknya tidak lahir dan besar di situ. Luc mencatat, ibu Mark bernama Maria (Kis. 12:12 di situ Mark disebut dengan nama keduanya tok, yang sama dengan namaku) yang bukan salah satu Maria yang kalian kenal. Mark ini mengikuti Paul dan Barnabas (Kis. 12:25) sampai di Siprus sebagai asisten mereka (Kis. 13:5). Ini perjalanan Paul yang pertama yang terkenal itu. Tapi waktu mereka di kota Perga di wilayah Pamfilia (Turki Selatan), Mark tiba-tiba pergi meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem. Luc tak menjelaskan kenapa, tapi boleh jadi Mark kangen ibunya - anak muda seperti dia kalau masuk angin mintanya dikeroki mama sambil megat-megot (? = My God! My God!). Penginnya mendapat tielsi - Tender Loving Care. Ah, kita tak usah ikut campur urusan gituan.
Tapi kiranya perkara itu membuat Paul kurang percaya pada tekad Mark untuk ikut jadi misionaris! Kalian tahu, meski baik hati, Paul itu orangnya keras dan susah diladeni. Dia ceplas-ceplos omong nyinggung kanan kiri. Mugkin ini membuat Mark makan ati sampai minggat. Begitu maka dalam perjalanannya yang kedua, Paul tak mau diikuti Mark lagi. Tapi Barnabas bersikeras mau membawanya serta. Dan urusan ini jadi perselisihan terbuka antara Paul dan Barnabas - semua diceritakan Luc (Kis. 15:37-39). Akhirnya Barnabas dan Paulus jalan sendiri-sendiri. Wah dua orang itu memang keras kemauannya kayak para romo misionaris zaman dulu saja ya? Begitu maka Paulus memilih Silas, sedangkan Barnabas terus pergi bersama Mark berlayar ke Siprus. Kalian apa pernah mempelajari kasus misionaris awal ini. Tak kalah menariknya dibanding dengan benturan pilihan antara dua Yesuit cikal bakal misi Jawa kalian itu. Cuma belum jelas, siapa yang kayak Paulus dan siapa yang kayak Barnabas. Luc juga tidak mau terang-terangan kasih pendapat. Ia amat menghargai Barnabas dan Mark, tapi juga setia kepada Paul. Tapi agaknya Paul juga fair. Ia rujuk kembali dengan Mark di Roma (Kol. 4:10 di atas; lihat juga 2Tim. 4:11). Ketika itu Mark tentunya sudah menjadi penerjemah Petrus di Roma dan mencatat semua kuliah lisannya dalam ujud diktat pendek tentang Yesus. Versi yang dirapikan kembali kalian punyai dalam bentuk Injil menurut Markus. Katanya kebanyakan dari kalian diajari membaca tulisan itu di novisiat - apa kalian nangkap?
Wah, ngelantur. Orang setua aku memang sulit ngatur jalannya cerita. Kita tadi omong sampai mana ya? O, kan tentang Mark. Kalian mau tahu arti nama dia kan? Mark bukan nama asli Yunani - Markos - meski dicetak begitu dalam edisi asli. Namanya itu nama Latin ting. Yang bener tulisannya ialah Marcus, artinya palu, martil, hammer.Kita bayangkan ia bisa jadi anak seorang perwira Romawi yang tinggal di Yudea. Ibunya kiranya orang asli situ yang jadi kristen. Jadi Mark itu berdarah setengah Latin setengah Yahudi dan kristen sejak lahir. Ini sering bikin setori dengan orang Yahudi yang sering mengatai orang kayak dia ratetak. Ah, ini cerita lama. Tapi sebetulnya tak jelas kenapa ia dinamai Marcus. Orang Romawi itu adatnya praktis. Anak digadang-gadang supaya bisa jadi ahli ini itu dan dinamai dengan salah satu atribut khasnya atau piranti yang sering dipakai tokoh ahli ini. Yang memakai martil itu biasanya pandai besi kan, dan dalam masyarakat Romawi ya kaum ahli menempa pedang, senjata, roda besi, kereta. Jadi memang ia diharapkan berprofesi di kalangan para empu senjata. Ini butuh pengetahuan khusus. Boleh jadi bapaknya dulu dari divisi logistik pasukan Romawi dan ingin agar Mark nanti kalau besar jadi ahli tempa pedang. Dan memang ia menempa kata sehingga jadi Injil yang tajamnya bagai pedang bermata dua! Tulisannya dipakai dasar oleh Luc dan Matt. Kadang-kadang aku juga memanfaatkannya meski aku masih ingat semua yang kulihat dan kudengar dulu.

LOUKAS
Sekarang tinggal nama Luc yang mesti dijelaskan. Tapi dengar-dengar ia sudah pernah memperkenalkan diri kepada kalian. Luc itu leluhurnya orang Yunani utara - Makedonia, seperti Aleksander Agung - tapi sejak kecil pindah ikut orang tuanya dan besar di Antiokia, metropolitan yang sekarang namanya Antakya di Turki tenggara, dekat perbatasan dengan Siria. Namanya memang Yunani asli, yakni Loukas. Sebetulnya ini bentuk panggilan akrab dari Loukanos. Rada mirip dengan Hans, sapaan akrab bagi Yohanes. Juga kedengaran agak modern kan? Maka Gus benar, ia memanggilnya Luc, pakai c, kedengaran lebih akrab. Bunyi Lukas dalam bahasa Indonesia, menurut Gus, tidak dapat memunculkan perasaan yang ada dalam nama Loukas, tidak seperti Luc.
Luc orang Yunani kosmopolitan. Arti dasar namanya sayang masih teka-teki. Belum kutemukan jawaban yang memuaskan. Kalau tanya dia, malah tambah misterius. Di kepala ia rasional sampai ke tulang sungsum, tapi di hati tahyulnya mendarah daging. Luc memang selalu tampil tenang, intelektual, menguasai diri. Akrab tapi tetap enigmatik. Yang ketemu dia langsung merasa diperlakukan sebagai orang yang paling penting di muka bumi ini. Kalian tanya saja orang-orang paling malang; kan mereka jadi tokoh-tokoh penting dalam Injilnya! Kalian tahu juga, Ma Miryam - ibu Yesus - mau cerita soal dulu-dulu hanya kepada Luc. Ia bahkan bisa meladeni orang sesukar Paul. Ia menyertai Paul ke barat dan sabar menungguinya ketika dipenjarakan di Roma. Luc itu ahli menenun cerita. Sebelum menulis kitab pertamanya, dengan teliti diperiksanya semua kisah tentang Yesus. Ia menerjuni kawasan diegesis dan hasilnya ialah sebuah buku, dan dalam bahasa Yunani bisa disebut logos pula, artinya kisah yang ada nalarnya. Luc menerawang nalar dari perkara-perkara yang bisa dikisahkan. Dan semua dilakukannya dengan penuh perasaan. Para perempuan yang sering datang arisan ke sini sampai berlinang air mata terharu mendengar kisah yang ditulis Luc dalam bahasa Yunani yang indah itu. Juga para bapak yang mendengar semua kisah para rasul bisa jadi berapi-api penuh gairah mau ikut jadi penyebar semangat roh.
Kalian boleh jadi tak pernah menyangka, Luc juga kenal macam-macam roh jahat, bahkan ia tahu persis nama-nama mereka: Beelzebul, Satanas, Diabolos, Daimonion, Pneuma Akatharton, Pneuma Poneeron. Rada kayak teman kita yang kenal sama para lelembut, memedi, dan dhemit Jawa walau tinggal di Roma. Hitung-hitung Luc tentunya juga tahu nama setan yang ketujuh, itu lho yang bersama enam yang lainnya pernah merasuki Maria Magdalena. Tapi kalian tanya pada Luc atau langsung sama Magda saja. Aku tidak begitu biasa omong tentang para setan - dalam tulisanku tak kuhubung-hubungkan kegiatan Yesus dengan eksorsisme. Ini katanya pernah jadi tanda tanya besar bagi para eksege. Mereka heran kenapa dalam Injil Yohanes praktis tak ada kisah pengusiran setan. Diskusikan ini dengan ahli kitab kalian saja.

Rada puas, kan? Anggap saja karangan-karangan yang kalian punya itu intinya dari Mark sang penempa kata dan diuntai kembali sebagai cerita asyik berisi nalar oleh Luc dan disepuh oleh Matt sehingga jadi anugerah istimewa bagi siapa saja. Kuusahakan pula agar pokok yang mereka garap itu dapat dipandangi dan didengar sebagai kelimpahan perkenan dari atas sana.

 

################################################################################

 

 

Tentang arti "mengamini - AMIN- dan mengimani -IMAN-"

Rekan-rekan,
Dalam Perjanjian Lama, gagasan yang kita kenal sebagai "iman" tak disebut dengan kata yang bunyinya mirip-mirip ke sana meski kegiatan meng-iya-kan pihak yang dipercaya memang disebut dengan kata kerja "meng-amin-i", Ibraninya [he'emin]. Kata benda 'iman' baru mulai dipakai dalam bahasa Aram/ Siria yang dipakai di kalangan orang Kristiani bunyinya kira-kira [haimanutha] dan artinya sebetulnya 'perihal mengimani', jadi kegiatan beriman, atau kegiatan mengamini tadi. Inilah yang kemudian mendasari pengertian Perjanjian Baru "pistis" (Yunani) yang biasanya dialihkan jadi "iman"

Tentunya kita mau tahu, bagi orang Perjanjian Lama, apa dan bagaimana sih mengamini dan mengimani itu. Bila kita ketemu Bapaknya kaum beriman, yakni Abraham, dan tanya-tanya soal itu kita boleh jadi akan diberi tahu demikian, "Cucu dan cicit buyutku, ketahuilah, yang ku-amin-i dulu bukan barang atau perkara atau kata, melainkan Dia, yaitu Tuhan yang menganugerahiku dengan janjiNya akan keturunan, tanah, serta berkah!" Jadi jelas yang diterima sebagai tepercaya itu ialah pribadi dan bukan semata-mata pernyataan. Memang bisa orang meminta penegasan atau tanda bahwa pihak yang diamini itu layak dipercaya. Tetapi dalam hal ini tanda juga tidak bisa disebut penyebab iman, melainkan peneguhnya.

Dalam kisah Abraham tadi, yang diamininya, jadi yang diimaninya, ialah Dia yang berjanji kepadanya, dan bukan terutama isi janji ybs. Seandainya yang mengatakan hal-hal yang dijanjikan itu bukan Tuhannya Abraham, maka Abraham kiranya tidak akan mengamini dan tidak akan mempercayainya. Ketika ia diminta untuk mengurbankan Ishak, ia tetap bersedia menjalankannya, mengamininya, walau secara pikiran sehat maupun tak sehat suruhan seperti itu tidak sambung dengan isi janji yang tadi. Maka jelas bukan janji yang pertama-tama diamini dan diimani Abraham, melainkan Dia yang berjanji, yang memerintahnya begini begitu. Kisah-kisah Abraham itu rupa-rupanya dimaksud untuk membuat pembaca berpikir - dus berteologi - ke mana sih arah peng-amin-an Abraham tadi: kepada Dia atau kepada yang dijanjikannya. Pembaca yang berani menguji kisah dengan batin merdeka akan tertuntun sehingga sampai pada jalan Abraham sendiri. Bukankah ini yang kemudian didoakan sebagai : "(...berilah kami rezeki pada hari ini...dan ampunilah...dan) jangan masukkan kami ke dalam percobaan, tapi bebaskanlah kami dari yang jahat." Atau bila melihat perspektif lain, walau sama-sama dari garis Abraham permohonannya berbunyi begini, " tunjukkanlah kami jalan mereka yang lurus, jalan mereka yang Kau beri nikmat, bukan jalan mereka yang kena murka dan zalim". Sekedar saya lontarkan ini ke sidang Internos, ada relevansi bagi kita-kita yang mau berteologi dasar mengenai iman dan wahyu dengan cara peka akan konteks budaya agama yang kaya.

Dalam Perjanjian Lama, gagasan yang kita sebut "agama" atau cara mengamini dengan lurus, bijak, dan tidak kena murka itu juga ada, hanya bunyinya khas, yakni "Takut akan Tuhan", Ibraninya "yir'at YHWH", dibaca sebagai [yi'rat adonai]. Takut akan Tuhan itu pangkal kebijaksanaan (bergema dalam Ams. 1:7), artinya, dengan ambil sikap religius yang lurus, orang bisa mulai belajar jadi orang bijaksana sungguhan. Jadi Abraham sebenarnya juga kakek buyutnya kaum bijak juga. Ini kemudian menjadi asal usul pengajaran agama dan kebijaksanaan dalam dunia Perjanjian Lama. Muncul upaya kajian iman (kajian cara-cara mengamini dengan benar dan betul, bukan asal ya ya), pengaturan pelaksanaan dalam tata hidup masyarakat (pengajaran Taurat), serta penafsirannya. Semuanya ini memang kemudian dirujuk sebagai "takut akan Tuhan" tadi. Syukur bahasa kita memiliki dua kata, asal Arab, yakni "takut" dan "takwa" yang erat hubungannya satu sama lain. Dalam bahasa Arab memang ada kata "taqaa", artinya takut akan.... Dan kata takwa dalam arti yang kita kenal memang dibentuk dari kata tadi, tapi maknanya meluas dan dipakai merujuk pada sikap orang beriman yang benar, yakni yang meluangkan tempat seluas-luasnya bagi Dia, tanpa takut-takut lagi.

Dalam Perjanjian Baru bagaimana? Tidak berseberangan. Justru ada pemusatannya pada tokoh yang dikirim ke sini oleh Dia sendiri yang dulu di-amini Abraham. Tokoh itu Yesus sang Mesias/Kristus. Dalam beberapa kisah penyembuhan kita jumpai kata-kata Yesus bahwa "imanmu telah menyelamatkanmu". Jelas orang ybs. mempercayai, mengamini siapa Yesus ini - yakni Mesias yang datang diutus oleh Dia yang di sana tadi itu...untuk menyembuhkan dst. tapi lebih-lebih untuk menolong manusia agar makin mampu mengiakan Dia dengan lebih ikhlas, karena ketemu Dia yang tampil dalam ujud manusia. Ini teologi amat halus tapi yang juga paling kongkrit. Di situ teologi menjadi nyata. Kan theos = Tuhan Allah, dan logos = wacana, dus teologi itu wacana tentang Tuhan Allah, ya ini tapi baru sisi luar, sisi dalam ialah memandangi dan mendengar wacana Tuhan Allah sendiri, yakni yang oleh Injil Yohanes sejak dulu disebut Sabda/Wacana, Logos yang menjadi manusia. Jadi kembali lagi ke gagasan mengamini Dia yang hidup, bukan barang, perkara, hal yang jadi jejak-jejaknya belaka. Lha ini juga termasuk bahan yang pernah disimposiumkan sesore di Kolsani 19 September 2005, dimoderatori dosen kristologi setempat yang hari-hari ini boleh jadi merasa agak terlalu dekat dengan wilayah tegangan tinggi "sing ndumuk mati". Jangan takut Romo, pakai saja jimat kristologi luar-dalam, nanti kan tegangannya mengendur dan yang ingin ndumuk malah akan jadi kayak Tomas.


 

##############################################

 

 

Apakah Tuhan itu mencobai kita?

 

Pertanyaan ini muncul dari Doa Bapa Kami,...jangan masukkan kami ke dalam pencobaan (tafsir dari Doa Bapa Kami, juga ada kaitannya dengan peristiwa Yesus dicobai).

DUA VERSI
Bapa Kami yang biasa kita doakan itu didasarkan pada Matius 6:9-13. Rumusan yang lebih pendek terdapat dalam Lukas 11:2-4. Baik Matius maupun Lukas sama-sama menggarap tradisi lebih tua mengenai kata-kata Yesus tetapi dengan cara yang berlainan. Bahan itu memuat doa Bapa Kami yang ringkas yang ditampilkan kembali oleh Lukas. Tetapi ia juga mengubah beberapa rumusan agar terasa lebih cocok bagi lingkungan yang dilayaninya. Matius selain mempertahankan rumusan aslinya juga menambahkan penjelasan sehingga rumusannya lebih panjang. (Sumber mengenai kata-kata Yesus itu dikenal di kalangan para ahli sebagai "Q" , dari kata Jerman "Quelle", artinya sumber. Bahan ini belum beredar ketika Markus menulis Injilnya sehingga tidak sempat mempergunakannya. Begitulah maka dalam Injil Markus tidak didapati doa Bapa Kami.. Injil Yohanes yang ditulis setelah ketiga Injil itu selesai tidak memuat doa Bapa Kami, tetapi isi dan semangatnya muncul dalam doa Yesus bagi para muridnya pada perjamuan malam terakhir, khususnya Yohanes 17; lihat tambahan di bawah.). Selain itu, patut diingat bahwa Matius menaruh doa tadi dalam konteks Kotbah di Bukit (Matius 5-7) yang menggariskan dasar-dasar kehidupan mereka yang mau menjadi bagian umat Kerajaan Surga. Lukas lebih menampilkan doa tadi sebagai cara Yesus membiarkan dirinya semakin dipahami sebagai "sesama" oleh orang-orang yang dijumpainya dan yang menerimanya.

LIMA PERMOHONAN KEPADA BAPA
Doa yang diajarkan Yesus, khususnya yang ada dalam rumusan Lukas, memuat lima permohonan yang diawali dengan sapaan "Bapa". Di sini terungkap keakraban Yesus dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebutan "Bapa" (kata Aramnya "Abba") itu sebutan akrab tapi penuh hormat yang biasa dipakai seorang anak kepada ayahnya, jadi agak berbeda dengan "Pak" yang bisa dipakai kepada siapa saja yang dihormati atau dituakan. Dengan mengajak murid-murid agar berani memanggil Tuhan dengan sebutan ini, Yesus mau menaruh diri sebagai sesama dengan siapa saja yang bakal memakai doa ini. Dalam Injil Lukas, Yesus memakai seruan "Bapa" di Getsemani ketika memilih mengikuti kehendakNya (Lukas 22:42), dan kemudian dua kali lagi ketika di salib, yang pertama untuk memintakan ampun dari Bapanya bagi orang-orang yang menyalibkannya (Lukas 23:34), dan kedua kalinya pada saat ia menyerahkan nyawanya kepada BapaNya (Lukas 23:46). Inilah cara Lukas menunjukkan bagaimana Yesus mau menjadi sesama manusia sekalipun berarti ia harus menempuh perjalanannya ke salib hingga akhir. Dengan latar ini, lima permohonan yang tercantum dalam doa itu besar artinya:

1. "Bapa, dikuduskanlah namaMu" (Lukas 11:2a). Diminta agar kehadiran yang Maha Kuasa itu tetap dapat dialami sebagai kehadiran yang keramat sekalipun Ia membiarkan diriNya disapa sebagai Bapa. Dengan cara ini barulah jagat ini akan makin memuliakanNya. Matius meluaskan seruan "Bapa" pada awal kalimat itu dengan "Bapa kami yang ada di surga" (Matius 6:9), untuk juga mengingatkan bahwa doa ini memang diserukan kepada Tuhan yang Maha Kuasa yang ada di surga. Kedua rumusan sama-sama menyerukan bahwa namaNya hendaknya dihormati dan diserukan sebagai nama yang kudus, tak bisa sebarangan diucapkan. Dengan mengucapkan doa ini, orang yang bersangkutan menegaskan tekad untuk menghargai kekudusan nama yang akan diseru. Inilah sikap doa yang membuat orang mulai belajar menjadi pendoa seperti Yesus.

2. "Datanglah KerajaanMu" (Lukas 11:2b). Mulai dari Lukas 4:14 Yesus mewartakan dunia baru yang dilindungi oleh kekuatan Roh Ilahi sendiri, dan oleh karenanya dunia itu disebut KerajaanNya. Amat ditekankan dalam Injil Lukas, dalam dunia yang baru ini batas-batas antara orang kaya dan kaum miskin dibuka. Bukan pertama-tama untuk mencampurbaurkan mereka begitu saja, melainkan untuk membuat masing-masing sadar bahwa bisa menjadi sesama bagi orang dari lapisan sosial yang lain, tak peduli yang mana. Matius menaruh gagasan dunia baru dalam ukuran-ukuran alam semesta dengan menambahkan ungkapan "jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga" (Matius 6:10b).

3. "Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya ." ( Luk 11:3 amat sejajar dengan Mat 6:1 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya). Didoakan agar Bapa tetap memberi apa saja yang dibutuhkan, tidak lebih tidak kurang, untuk hidup dari hari ke hari, tentu saja agar orang makin dapat hidup di dalam KerajaanNya. Semangat membiarkan diri diperhatikan Bapa dengan tidak "menimbun makanan" itu sebenarnya jalan yang paling nyata untuk merasakan kehadiran Bapa di dalam kehidupan ini. Begitu juga dalam diri orang yang membiarkan diri menjadi sesama bagi yang lain dengan memberi perhatian secukupnya, tidak berlebih-lebihan dengan akibat mengecilkan orang yang menerimanya.

4. "Dan ampunilah kami dari dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami." (Luk 11:4, sejajar dengan Mat 6:12 "dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami). Permohonan ini diajarkan Yesus untuk membuat murid-muridnya belajar mengambil sikap pengampun, sikap batin yang memerdekakan diri sendiri dan diri orang yang pernah berlaku salah. Tidak disangkal pengampunan ini tidak mudah dan acap kali juga disertai rasa pedih. Yesus yang disalib yang memintakan ampun kepada Bapanya bagi orang-orang yang menyalahinya itu mengalami kesakitan badan dan kepedihan batin. Sering sikap mengampuni yang disertai penderitaan di dalam ini tidak terlihat. Tak berlebihan juga bila kita gambarkan Tuhan sendiri tidak melihatnya. Ia bukan Tuhan yang selalu mau mengawasi apa yang terjadi dalam batin manusia. Ia menghormati kemerdekaan manusia. Dan itulah kebesaran Tuhan juga. Namun, kepedihan yang tersimpan
dalam itu satu saat dapat dibukakan kepadaNya sebagai keikutsertaan dalam sikap hidup pengampun dari orang yang ditegaskanNya sendiri sebagai Anaknya yang terkasih (pada peristiwa baptisan Yesus dan penampakan kemuliaannya di gunung) dan yang dimintaNya sendiri agar didengarkan (di dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung). Dengan ini semua, mustahillah pada saat akhir nanti Tuhan bakal memperhitungkan kesalahan kita yang seberat apapun. Tak ternalarkan Ia tega membiarkan kita tanpa pengampunan.

5. "Dan janganlah membawa masuk kami ke dalam pencobaan" (Lukas 11:4b). Dalam Injil Lukas, pencobaan itu ada dalam wilayah kekuatan-kekuatan yang jahat, yang gelap, yang pasti akan menelan manusia bagaimanapun juga kekuatan pribadinya. Menakutkan. Terjemahan "janganlah membawa masuk kami" dapat memberi kesan bahwa Yang Maha Kuasa mau menguji apa orang betul baik atau untuk membuat orang makin tabah, makin terlatih, makin kuat. Terjemahan yang lebih cocok ialah "janganlah membiarkan kami masuk" ke dalam wilayah daya-daya maut tadi. Tak ada heroisme apapun hendak diajarkan dalam perkara ini. Oleh karenanya Matius, dalam versinya, menyertakan kalimat tambahan yang menjelaskan maksud permohonan ini: "(Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan ) tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat" (Matius 6:13b). Satu-satunya orang yang pernah masuk dalam kuasa yang jahat dan dapat keluar lagi ialah Yesus sendiri. Tetapi juga semua Injil Sinoptik mengatakan ia disertai Roh (Markus 1:12; Matius 4:1; Lukas 4:1). Ia memang memasuki wilayah yang gelap, tetapi ia tetap berada dalam bimbingan Roh Tuhan sendiri. Iblis tidak bisa berbuat banyak, walaupun tetap menunggu saat yang baik. Saat ini tiba ketika Yudas masuk dalam percobaan dan tidak keluar lagi.
Dalam pembicaraan ini dipakai "pencobaan" yang lebih dekat dengan aslinya (Yunaninya peirasmon) bukan "percobaan" yang biasa terdengar dalam rumusan doa sehari-hari. Gagasan "pencobaan" itu lebih berhubungan dengan kata kerja "mencobai", sedangkan "percobaan" dengan "mencoba-coba", seperi bila sedang bereksperimen. Meski kedengarannya remeh, permasalahannya amat penting. Yang mencobai itu ialah kekuatan jahat, bukan Yang Maha Kuasa yang dipanggil sebagai Bapa di dalam doa ini. Dia dimohon agar melindungi dari kekuatan yang mau mencobai seperti halnya kekuatan jahat yang mencobai Yesus di padang gurun dulu. Bila kata "percobaan" dipakai, maka akan terpikir bahwa yang Maha Kuasa mau menguji, mencoba-coba apa kita ini kuat mentalnya, kukuh imannya, besar kepercayaannya. Ini tidak benar. Bukan begitulah pemahaman Yesus mengenai siapa Yang Maha Kuasa itu. Dia itu Bapa. Dia tak bakal mencoba-coba untuk menyadarkan kita. Ia tahu, kerapuhan kita membuat kita tak bisa tahan godaan, di mana kita bakal jatuh, sampai mana kita bisa bertahan terhadap iblis. Jadi sudah jelas kita tak bisa bertahan terhadap kekuatan jahat. Bapa yang diajarkan Yesus tidak ingin menunjukkan betapa rapuhnya kita ini. Kita sendiri sebenarnya masih bisa menyadari betapa lemahnya kemanusiaan dengan melihat yang dapat terjadi pada Yesus. Walau ia utusan Allah, MesiasNya, ia dimusuhi, dicelakan, dibunuh. Namun juga jelas betapa besarnya kerahimanNya kepada manusia yang lemah. Bapa yang diseru Yesus dalam doa itu ialah Yang Maha Kuasa yang datang membela manusia rapuh dari kuasa jahat yang tak bakal diatasi dengan kekuatan sendiri. Nanti Yesus yang wafat itu akan masuk dan terkurung dalam dunia orang mati sampai tiga hari, sampai sehabis-habisnya dan tak bisa hidup kembali lagi. Tapi berkat kebesaran BapaNya maka ia dibangkitkan dari sana dan dengan demikian mengatasi kerapuhan yang ada dalam kemanusiaan ini.

Sekedar catatan. Boleh jadi dari Perjanjian Lama didapat kesan bahwa Allah mencobai umatNya dan orang-orang saleh. Kesan ini tak keliru. Tetapi itu dari masa Yang Mahakuasa mengajar kemanusiaan mengenali kerapuhannya dan mengajak orang mengarahkan diri kepadanya. Semuanya sudah jadi bagian kesadaran orang beriman. Dan Yesus tidak mengutik-utik ini lagi. Ia membawakan citra ilahi yang lebih nyata, yang lebih dekat, yang mengasihani yang lemah, yang tidak lagi mencobai demi mengajar, yang masuk dalam kenyataan, yang membela manusia dari kelemahan kita sendiri dan dari kekuatan-kekuatan jahat yang mau mempermainkan kita. Mudah-mudahan penjelasan ini menjernihkan siapa sebenarnya yang "mencobai" itu.

TAMBAHAN:
Mungkin akan ada yang bertanya lho, Yohanes kok tidak menyebut Doa Bapa Kami. Kalau Markus tak menyampaikannya sih bisa dimengerti karena bahan itu ("Q" di atas) belum beredar. Lha zaman Yohanes kan mestinya sudah jadi pengetahuan umum. Bagaimana penjelasannya? Rekan-rekan, memang lama tak ada jawaban yang saya temukan. Sudah konsultasi kepada orang pandai-pandai di tiga benua, tapi tetap tak jelas. Maka saya putuskan bertanya sendiri kepada Oom Hans lewat jalur lifeline eksegese khusus. Eh, kagak nyana, Oom kita itu bereaksi. [lihat _Membarui Wajah Manusia_, Jogjakarta: Kanisius 2006, hal. 166-169]. Seorang rekan ahli Injil Yohanes terkejut mendapati Oom Hans lebih tahu dari kami para ekseget. Selamat baca (lagi) tulisannya ini!

Gus yang baik,
Dalam Injil Yohanes bab 17 itu kucatat doa Yesus kepada Bapanya pada malam sebelum ia berpisah dengan para murid. Para murid yang ada di situ ikut mendengar isi doa Yesus. Oleh sebab itu, mereka dapat juga merasakan keakraban yang ada di antara Yesus dengan Yang Maha Kuasa yang sudah beberapa lamanya diperkenalkannya sebagai Bapa itu. Bagi para murid, ikut merasakan betapa dekatnya Yesus dengan Bapanya itu termasuk khasiat langsung doa itu. Yesus mengajarkannya bukan dengan serangkai penjelasan melainkan dengan doa dan mengikutsertakan mereka dalam pengalamannya sendiri. Ia berani meminta agar Bapanya memperhatikan dan memberikan hal-hal yang paling dibutuhkan.

Sebelum menjawab pertanyaanmu mengenai apa artinya "memuliakan", marilah sebentar kita ingat hal yang tentunya tak amat asing lagi, yakni kemiripan doa Yesus di sini dengan doa Bapa Kami yang kalian kenal dari Luc dan Matt. Dalam Yohanes 17:1-2 Yesus mengutarakan permohonan agar Bapa memuliakan dirinya supaya nanti ia juga dapat memuliakan Bapanya. Permintaan itu mengingatkan pada kata-kata "Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah (harfiahnya "dikuduskanlah" Lukas 11:2 dan Matius 6:9) namaMu, datanglah kerajaanMu." Kemudian dalam ayat 4-5 Yesus mempersembahkan semua yang dilakukannya sebagai pemenuhan tugas yang diberikan Bapa sendiri kepadanya sejak dulu. Kalian akan ingat ungkapan "jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga." Selanjutnya dari ayat 6-11 kita tahu Yesus membuat kita mengenal Bapa yang berfirman kepada kita semua lewat Yesus sendiri. Jelas yang dibawakan Yesus itulah rezeki hari demi hari yang membuat kita tetap hidup. Erat kaitannya dengan permohonan "berilah kami rezeki pada hari ini." Kita ini kan hidup dari firmannya (Ulangan 4, Matius 4:4). Dalam ayat 15 yang tak ikut kalian bacakan, Yesus berkata, "...supaya Engkau (Bapa) melindungi mereka (para murid) dari yang jahat." Doa ini amat mirip dengan "Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat" yang mengakhiri doa Bapa Kami. Jadi dalam saat-saat terakhir bersama murid-muridnya itu Yesus mengucapkan doa dengan sikap batin yang sudah sejak lama diajarkannya kepada murid-muridnya.

Boleh jadi banyak orang akan terbantu bila Yohanes 17 diterangkan dengan rujukan kepada doa Bapa Kami seperti di atas. Sikap batin seperti itu dapat membuat kalian semakin meresapi arti "memuliakan" tadi. Bila berguna, pahami gagasan "memuliakan" dalam teks Injilku dengan "Bapa membiarkan Putra menunjukkan kebesaran dirinya" sehingga nanti Putra dapat "menunjukkan kemuliaan Bapa". Beginilah penjelasannya.
Yesus memohon agar Bapanya tetap mendampinginya pada hari-hari terakhirnya. Kami tahu Yesus minta kekuatan agar tak mundur menghadapi penolakan dari pihak orang-orang yang didatanginya. Ia mohon agar tidak dibiarkan sendirian ketika diperlakukan dengan buruk, dipersalahkan, dan bahkan sampai dihukum mati. Perhatian Bapa di dalam penderitaan yang mesti dilalui sampai akhir itulah yang diminta Yesus ketika ia berdoa agar Bapa memuliakan Putra. Ada satu hal yang perlu kutekankan. Permohonan Yesus agar disertai Bapa itu tidak dimaksud untuk meminta Bapa menyingkirkan penderitaan dari dirinya. Ia bahkan sudah berniat menjalani apa saja hingga selesai. Mengapa?

Kudalami perkara itu cukup lama. Satu ketika aku menduga bahwa Yesus yakin Bapanya di surga itu bisa tiba-tiba menyuruh malaikat-malaikat datang menolong Putra terkasihNya yang mendapat perlakuan buruk di dunia ini. Inilah yang digelisahkan Yesus. Ia khawatir Bapanya tak bisa menerima perlakuan tadi dan mengirim balatentara surga meremukkan lawan-lawan. Gus, mungkin tak pernah kau berpikir ke situ. Tapi itulah kiranya yang membuat Yesus memohon kepada Bapa agar dibiarkan menjalani semua itu sampai tuntas, sampai "sudah terlaksana" di kayu salib (Yohanes 19:30). Yesus ingin agar dapat menunjukkan kepada dunia betapa Yang Ilahi tak segan mendekati dunia yang telah menyingkirinya. Ia bahkan minta kepada Yang Maha Kuasa agar membiarkannya mengalami jerih payah mempersaksikan hal ini. Inilah maksud Yesus ketika memohon kepada Bapa supaya Bapa "memuliakan" Putranya, membiarkan Putra memperlihatkan kebesaran dirinya dalam penderitaan nanti. Ini semua perlu terjadi agar dunia tertebus dari kekuatan-kekuatan jahat. Yah, penebusan dunia itu kan yang sejak awal dimaui Yang Maha Kuasa sendiri. Yesus mau memperlihatkan kepada dunia yang masih ada di bawah kuasa gelap bahwa Yang Maha Kuasa tidak mundur dan melupakannya, tapi malah mendatanginya dan membawanya kembali di jalan benar menuju terang yang memberi hidup, dengan pengorbanan apapun. Begitulah pemahamanku mengenai permintaan Yesus agar Bapa memuliakan Putra.

Dengan cara tadi barulah kebesaran Bapa bisa ditunjukkan oleh Putra. Begitulah akan kelihatan bahwa Yang Maha Kuasa itu bukan yang mau menang sendiri. Bila begitu dengan mudah semuanya bisa dijalankan. Tapi kerugiannya besar. Ia tidak akan tampil sebagai pribadi matang yang bisa menerima diri bahwa tidak sendirian lagi, dan menerima bahwa kebersamaan itu memiliki nilai tersendiri, sekalipun dapat menyakitkan. Rasa pilu melihat karya besarnya kini merosot ditanggungnya pula, juga kemarahan ditahanNya. Inilah kasih sayang yang menjadi inti kebesaran Yang Ilahi. Bila Ia tiba-tiba memasuki kembali jagat ini dan menatanya seperti dimauinya, maka manusia tidak ada harganya lagi. Sekedar barang mainan. Tapi bukan itulah maksudNya ketika Ia menciptakan kita. Bukankah Ia menjadikan manusia sebagai gambar dan rupa diriNya sehingga bisa menjadi "penerus"-nya di dunia ciptaan ini? Dan Putra yang diutusNya ke dunia itu, Putra terkasihnya itu, dialah yang bakal memungkinkan dunia melihat kebesaran Bapa yang demikian tadi.

 

 

##############################################

 

 

PENDALAMAN MISTERI IMAN

PERTANYAAN: Tuhan Tukang Teror? Bahasa yang bernada perang dalam Kitab Suci !!

Romo Gianto,
Jarahan dibawa serta, dan tanda kemenangan diarak di hadapan-Nya (Yesaya 40:10-17). Beberapa kali bahasa perang seperti ini muncul juga dalam brevir. Maunya doa malah berpikir-pikir, jangan-jangan benar bahwa agama kita memberikan andil dalam menumbuhkan kekerasan. Kalau pas bervis ada suara keras yang menggegerkan dari tetangga, kadang-kadang ingin berpendapat bahwa mereka itu yang harus dikalahkan. Tuhan tukang perang? Tuhan penjarah? Di kota kita Solo, penjarahan terjadi saya pernah lihat sendiri dan meninggalkan kenangan jelek bagi kota itu. Tuhan yang berperang, rasanya berlawanan dengan Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) yang kami coba gumuli selama ini.
Bagaimana ini dimengerti dan diterangkan secara ilmiah? Buku Mark Juergensmeyer yang judulnya provokatif "Teror in the Mind of God" pada halaman depan mengutip Exodus 23:27 yang diinggriskan jadi: "I will send my teror before you, and will throw into confusion all the people...". Tuhan penyedia teror?

Mohon keterangan yang mendasar, seperti biasanya kamu lakukan selama ini. Terima kasih.


Salam,

Ismartono

JAWAB: Tuhan tukang teror? Bahasa kontekstual dalam Kitab Suci Romo Ismartono, dkk.!

Sebetulnya tak usah amat diherani pemakaian ungkapan yang diangkat dari peperangan. Dalam ukuran tertentu bahasa sehari-hari kita yang kelihatan adem ayem sesungguhnya berparadigma peperangan. Contohnya:
1. "Amatannya tajam mengena sasaran": cara bicara ini diangkat dari memanah, menembak, menombak, bukankah demikian?
2. "Pembelaan disertasi itu dihadiri banyak orang": membela tentunya dalam keadaan diserang.
3. "Dihadapinya persoalan itu dengan tenang" tentu saja gagasan ini dekat dengan menghadapi musuh, konfrontasi....
4. "Kami memenangkan hadiah pertama": bukankah memenangkan itu terjadi dalam rangka peperangan.
5. "Dalam pertandingan itu kesebelasan Lazio kalah 2-0": jelas asal usul peperangannya.
6. "Piala trophy itu diacung-acungkan kepada para fans yang bersorak sorai kegirangan": bayangkan seorang panglima perang pulang dengan menunjukkan jarahan!
7. "Argumentasi tulisannya teratur rapi dan kuat sehingga tak mudah dilumpuhkan": kayak barisan tentara saja, tetapi ya begitu itulah.
Dan banyak lagi termasuk menjarah dst. Tetapi memang kita merasa kurang enak dengan bahasa semacam itu bila terpakai dalam konteks pembicaraan agama, khususnya Alkitab yang menjadi sumber hidup beragama yang "mestinya" damai, menenteramkan, welas asih, dst. Sekali lagi kita tak bisa lepas dari gagasan yang melandasi cara bicara bahasa kita, yakni bahasa perang. Bukankah "damai", "welas asih" dan "tenteram" itu baru tampil maknanya dalam konteks perang, kekejaman, kekacauan. Seandainya ada bahasa di dunia ini yang tidak mengenal metafor perang, tentunya semua perkara yang dibicarakan dalam contoh 1-7 di atas tak bisa diungkapkan. Sulit dibayangkan ada bahasa dan budaya yang demikian itu. Yang penting tentunya pemakai bahasa tidak hanyut dalam metafor atau cara bicara yang sudah mendarah daging dalam kemanusiaan itu.
Dalam budaya dan bahasa yang sastranya kaya (untuk tidak mengatakan sarat) dengan metafor perang, biasanya juga ada banyak penyeimbangnya. Lihat saja bahasa dan sastra Ibrani PL. Ibarat dan kosakata peperangan melimpah. Tetapi juga ada perkembangan untuk mengangkatnya ke tataran lain. Peperangan tidak lagi dibataskan pada dimensi sosial antara umat dengan musuh, melainkan dengan unsur-unsur kosmik yang jahat yang mesti dihadapi, dikalahkan, dikurung, disingkirkan. Ini cara membebaskan masyarakat umat dari kekerasan sosial mendasar tadi. Ada juga perkembangan lain, yakni seperti yang kedapatan dalam Sabda Kebahagiaan, yakni tidak melawan (!) kekerasan, melainkan menerima apa adanya dengan tetap berharap bahwa nanti entah kapan tapi pasti keadaan akan berbalik. Itulah yang terjadi dalam budaya yang melahirkan Kitab Suci. Peperangan (dalam dunia antar masyarakat) direlativir dengan menaruhnya dalam dimensi teologis-kosmik dan dalam dimensi kebijaksanaan.
Para nabi "keadilan sosial" di dalam Alkitab sebetulnya berada dalam fase metafor kekerasan. Bahkan bisa dikatakan mereka tidak punya bahasa lain kecuali bahasa kekerasan. Mereka mengancamkan hukuman ilahi dan mengutuk. Itulah cara bicara mereka. Kita tidak usah ikut-ikutan dalam memakai bahasa itu, walau maksud dan tujuan mereka sebaiknya dicermati dan disimak. Lain halnya dengan kaum bijak dalam PL. Mereka tidak memakai gaya bicara itu meskipun mereka masih mengandaikan adanya kekerasan dan mereka sadar bahasa bijak mereka itu hanya bisa dipahami bila dikontraskan dengan bahasa kekerasan tadi. Lain lagi halnya dengan para apokaliptist yang meski di luarnya bicara mengenai perang kosmik dan kehancuran, tetapi sebetulnya mengajarkan kelembutan. Kesukaran serta penderitaan tidak membuat mereka ciut melainkan malah membuat makin tabah. Ini sudah ada dalam kidung-kidung Hamba Yahwe yang terdapat dalam sastra para nabi sebagai barang asing. Tetapi kiranya justru diletakkan di sana untuk mengimbangi metafor peperangan yang besar tadi.
Apa yang sebenarnya mau diajarkan penginjil dengan kisah penderitaan Yesus, yakni tahap paling awal dalam terjadinya Injil-Injil? Itulah "bahasa" apokaliptik yang disebutkan di atas. Di situ ditunjukkan arti penderitaan, ditampilkan makna kelembutan, ditonjolkan nilai ketabahan. Pilatus tidak mengerti, tetapi Oom Hans mencatat bahwa Yesus mencoba menolong Pilatus mengerti walau ia tak sampai ke sana. Yesus mengatakan kerajaannya bukan dari dunia ini, kalau dari dunia ini pasti hamba-hambanya telah melawan supaya Ia tidak diserahkan (lihat Yohanes 18:36). Dan masih banyak lagi.
Apa kita mesti menjalani itu semua dan menjadi kaum apokaliptist? Tidak. Itu namanya hanya meniru-niru dan mencontoh secara buta. Kisah itu ditampilkan kepada kita untuk membuat kita berpikir - ya berpikir, bukan merasa-rasakan - bahwa bahasa kekerasan bukan satu-satunya cara berinteraksi. Ada alternatif. Ada penyeimbang.
Yesus sendiri sekali-sekali juga memakai metafor peperangan dan kekerasan dalam beberapa perumpamaan, tapi terutama dalam tindakan pengusiran setan dan pengampunan dosa. Apa konteks usir mengusir dan ampun mengampuni? Bukankah perkelahian? Nah, jelas kan. Kita diajak kembali ke realitas kompleks kehidupan.
Mari sekadar bicara ke sana ke mari. Mengapa kita kerap menghubung-hubungkan Buddhisme dengan sikap anti kekerasan? (Tak usah dicampurkan dengan kekerasan yang pernah timbul di kalangan masyarakat Buddhist di sana sini). Buddhisme tampil sebagai alternatif bagi bahasa dan cara berpikir dengan metafor kekerasan dari keagamaan waktu itu. Dan caranya khas. Digarisbawahi kekuatan berpikir. Buddhisme itu ialah pencerahan pikiran. Ini cara gerakan itu menghadapi bahasa dan kenyataan kekerasan. Apa kesamaan dan bedanya dengan bahasa apokaliptik? Gaya bicara apokaliptik sebetulnya melebih-lebihkan kekerasan dan peperangan sehingga menjadi amat surrealis dan dengan demikian kelanggengan kekerasan sendiri disangkal. Sastra Buddhist berbeda, tetapi unsur berpikirnya sama. Di situ tidak ditempuh jalan surealisme kekerasan melainkan dipaparkan kehampaan kekerasan itu sendiri. Orang diajak menyangkal kekerasan dengan menyoroti ketiadaan dasarnya dalam kenyataan! Cara apokaliptik atau cara seperti ajaran Buddhist itu kelihatannya amat berbeda tapi sama tujuannya, yakni membuat orang sadar bahwa berbicara dengan metafor peperangan (yang memang sudah menulang sumsum) sebenarnya surealis dan hampa belaka!
Seandainya teologi berani menggarap soal-soal di atas dan membawanya ke dalam kurikulum pendidikan teologi.... ah, agama akan lebih luas wawasannya. Hidup beragama bisa menyeramkan bila dijauhkan dari alam berpikir jernih.

 

#################################################################################

 

 

PEN-JINAK-AN TEOLOGI TERORRISME DAN KEKERASAN

1. Memang seperti dituturkan Krispurwono di Innsbruck (seperti tertuis di bawah ini, adalah tentang mulainya Doa Rosario, lalu mencuatnya kebaktian kepada Hati Kudus Yesus oleh Maria Margaretha Alacoque, dan Claaudius de Colombiere, Chevalier berkonteks suasana perang dan kekerasan), tak sedikit tindakan yang kini tampil sebagai perayaan agama, dulu-dulunya berlatar belakang kekerasan walau tidak selalu diingat kecuali oleh mereka yang tahu sejarahnya. Tetapi perkara ini berkebalikan dengan yang diutarakan Ismartono, yakni adanya kosakata kekerasan, peperangan, dalam teks-teks Kitab Suci yang langsung bisa dirasakan pembaca siapa saja kapan saja di mana saja.


2. Efeknya juga rada berbeda. Berdoa Rosario sekarang, dengan atau tanpa pengetahuan dulu-dulunya berhubungan dengan suasana perang tidak sama dengan membaca atau mendengar ayat-ayat Kitab Suci yang secara lugas memintakan agar musuh diremukkan kepalanya, dan badannya dicincang, dst. Yang berdoa tasbih kini bukan orang yang pernah mengalami suasana di Lepanto abad 16 dulu; kini mereka menjalani acara sembahyangan dan bisa tak peduli dengan akar sejarah doa itu. Tapi orang yang membacakan ayat-ayat bernada keras dalam Kitab Suci kini mau tak mau akan masuk dalam alam pikiran peperangan dan kekerasan tadi. Tak bisa lolos. Bila ungkapannya dihaluskan di sana sini sehingga lirih, maka ayat itu tidak sahih lagi, dan namanya bukan baca Kitab Suci lagi. Alam pikiran kekerasan dalam hal ayat Kitab Suci itu sudah manjing di dalam ungkapannya, bukan pada latar belakang atau konteks historisnya saja. Ini persoalan yang kiranya dirasakan Ismartono dan banyak pembaca Kitab Suci lainnya, termasuk saya, juga Luc (dan Matt, Mark, Oom Hans, dan Oma Miryam kita yang ketika mudanya pernah mendendangkan Magnifikat yang bunyinya kayak mars gempur musuh!).

3. Boleh jadi jalan terbaik adalah menerima bahasa kekerasan dengan apa adanya dan menyelaminya sehingga tidak lagi menakutkan. Sebenarnya cara ini sudah dilakukan dalam dunia Kitab Suci sendiri. Kita tahu dari kitab Keluaran - Bilangan bahwa perjalanan memasuki Tanah Terjanji itu dititi dengan rangkaian kekerasan, baik dari luar kalangan umat maupun dari dalam sendiri. Motif ini diambil alih dalam Injil Lukas guna menggambarkan "tujuan perjalanan" (exodos) Yesus ke Yerusalem mulai dari gunung tempat ia menampakkan kemuliaanNya (Lukas 9:31). Kata yang dipakai sama, yakni exodos/ tujuan perjalanan. Tapi Luc itu genial lagipula lembut perasaannya. Ia gundah dengan bahasa kekerasan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama tadi, sekalipun amat menghormatinya. Ia tidak mengubahnya begitu saja. Ia tetap memakai kata dan ibarat yang sama. Tetapi tanpa terasa dibuat-buat, diejanya tempat tujuan perjalanan tadi dengan dua cara, di tempat tertentu sebagai Hierosolyma, di lain tempat sebagai Ierousalem. Yang pertama menampilkan sisi kota dan orang-orang yang menerima baik kedatangan dia yang berjalan ke sana, yang kedua menolak dengan kekerasan. Kalau mau, plesetin saja seperti yang dibuat Hani bagi umat Tangerang atau Kampung Sawah sehingga yang pertama bunyinya jadi Yeru-syalom yang mengalirkan kedamaian dan yang kedua Yeru-zalim yang jenuh kedholiman. Luc tetap memakai metafor exodos yang menghadirkan kekerasan, tetapi kekerasan ini berhasil dijinakkannya dengan kehalusan literernya menjadi barang bermakna.

4. Pelbagai motif kekerasan lain dalam Perjanjian Lama digarap oleh Luc dengan hasil seperti itu. Lihat misalnya dalam perumpamaan tentang anak hilang yang kembali, tema Perjanjian Lama seputar pertentangan dua bersaudara, dengan yang tua jadi yang bakal kalah (misalnya Yakub vs Esau, kakaknya), tidak ditutup-tutupi, tapi kekerasannya berangsur-angsur surut dalam cerita tadi karena dijajarkan dengan sikap sang bapak yang murah hati, baik kepada yang mudaan yang sembrono maupun kepada yang tuaan yang mendongkol. Motif pertentangan dijinakkan oleh kebesaran hati Tuhan! Juga permusuhan antara orang Yahudi dan orang Samaria jelas-jelas muncul kembali dalam kisah orang Samaria yang baik hati, tapi entah bagaimana kisah itu malah menjadi pengajaran mengenai sikap sesama yang sesungguhnya. Ini kemahiran Luc memperkenalkan siapa Yesus dan ajaranNya. (Saya duga untuk itu ia pernah berguru ilmu gaib dari Oom Hans dan Tante Lena yang katanya pernah diakrabi tujuh daimonia - Lukas 8:2. Terus terang saya rada jeri berurusan dengan dua paranormal itu meski hitung-hitung saya juga ada azimat pengurai makna yang bisa memudarkan tenung mereka. Ekseget profesinya bergulat dengan teks yang jerat-jeratnya bagai sihir yang nggegirisi.) Kita berada dalam tahun C, tahunnya kawan kita Luc. Tidak berkelebihan bila minta dia sekedar mengajarkan bagaimana menjinakkan bahasa kekerasan tanpa terlalu memelintirnya.

 


Salam hangat,
Agustinus Gianto

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.