Injil Minggu Biasa XXXIII tahun B, tanggal 19 Nopember 2006  (Markus 13:24-32)

DIA DATANG 'BAGI' ATAU 'DEMI' KITA?

 


Rekan-rekan yang budiman,
Karangan ini membicarakan Markus 13:24-32 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXXIII tahun B. Ada dua pokok yang disampaikan dalam petikan dari Injil Markus ini. Yang pertama mengenai kedatangan Anak Manusia yang didahului "zaman edan" (ayat 24-27). Yang kedua mengajak orang memperhatikan kapan saat itu tiba (ayat 28-32). Uraian berikut diolah kembali dari ulasan bagi tahun 2004 dengan menyertakan data statistik mengenai kemiskinan di Indonesia terkini, yaitu dari tahun 2006. Demikian warta Injil makin tertantang untuk makin membumi, juga di negeri ini.

KEDATANGAN KEMBALI DIA YANG BANGKIT
Murid-murid yang masih mengenal Yesus dari dekat mewartakan bahwa ia telah bangkit dari kematian dan naik ke Surga dan kini menyiapkan tempat bagi mereka. Ia akan datang kembali dengan mulia dan orang-orang yang percaya kepadanya akan ikut serta dalam kebesarannya. Saat itu seluruh alam semesta akan menyaksikan peristiwa ini. Yang paling membuat generasi pertama murid-murid ini bergairah ialah kebangkitannya. Karena itu, pewartaan Injil yang paling awal ialah "Tuhan telah bangkit!" Semua hal lain, termasuk kedatangannya kembali, ialah kelanjutan peristiwa itu. Namun demikian, bagi murid-murid dari generasi yang tidak mengenal Yesus sendiri, kebangkitannya sudah jadi hal yang diandaikan. Minat mereka lebih terarah pada kedatangannya kembali. Di situlah letak daya tarik komunitas Kristen awal ini. Seluruh Injil Markus ditulis bagi kalangan mereka. Kepada mereka diperkenalkan siapa Yesus yang akan datang kembali itu lewat ingatan akan hal-hal yang diajarkan dan dilakukannya semasa hidupnya. Kedatangannya kembali nanti dikontraskan dengan suasana yang menggelisahkan - suasana zaman edan dan bumi gonjang-ganjing.

KERAJAAN ALLAH SUDAH TIBA
TANYA: Markus, bila begitu latar belakangnya, apa warta Yesus yang paling pokok yang anda rekam?
MARKUS: Orang-orang di sana dulu terusik dengan pertanyaan-pertanyaan tentang akhir zaman. Kepada orang-orang ini Yesus mengajarkan bahwa akhir zaman sudah tiba dalam wujud "Kerajaan Allah". Ini kutuliskan pada awal Markus 1:15.
TANYA: Lha, apa yang terjadi bila Kerajaan Allah sudah datang?
MARKUS: Dalam Markus 1:15a, kuceritakan Yesus berseru "Metanoeite!", yang sebetulnya lebih luas daripada "Bertobatlah!" yang ada dalam terjemahannya. Orang-orang diminta agar berubah haluan dari hanya ngutak-utik perkara betul atau salah menurut Taurat menjadi orang yang berpikir lapang, yang tidak membiarkan diri terganjal huruf. Begitulah ada kemerdekaan batin. Ini perlu agar warta Injil bisa diterima dengan mantap.
TANYA: Setelah itu?
MARKUS: Langkah berikutnya, ya, mendengarkan, meman­dangi, mengikuti Yesus yang mengajar, menyembuhkan orang sambil berjalan ke Yerusalem meskipun sadar di sana bakal kena susah. Jadi, kayak Bartimeus si buta yang melihat kembali.
TANYA: Maksudnya, suatu ketika orang bakal menyadari Yesus sebagai Mesias yang diutus Allah.
MARKUS: Benar. Tapi Yesus sendiri sebenarnya memakai ungkapan Anak Manusia untuk menjelaskan ke-Mesias-annya. Ia mendekatkan kembali manusia dengan Allah, ia bukan Mesias politik. Karena itu juga, seperti dalam Injilku (Markus 13:26), ia memakai gambaran Anak Manusia dengan memanfaatkan Daniel 7:13.
 

TAFSIR DANIEL 7:13 - KEMANUSIAAN YANG BARU
Kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaannya digambarkan oleh Markus (juga oleh Matius dan Lukas) dengan memakai gambaran dari Daniel 7:13, yakni tokoh Anak Manusia yang datang menghadap Allah untuk memperoleh anugerah kuasa atas seluruh alam semesta. Dalam Kitab Daniel, kedatangan Anak Manusia ini terjadi segera sesudah Allah memunahkan kekuatan-kekuatan jahat yang mengungkung alam semesta. Zaman yang dikuasai kekuatan edan itu kini digantikan dengan zaman Anak Manusia. Siapakah Anak Manusia dalam Daniel itu? Tafsiran bisa bermacam-macam. Namun demikian, bila dibaca cermat, Anak Manusia di situ dipakai melukiskan kemanusiaan baru yang hidup merdeka di hadapan Allah. Di situlah kebesarannya. Bila diterapkan kepada Yesus, kedatangannya kembali mewujudkan kemanusiaan yang baru ini.
MARKUS: Setuju dengan catatan di atas. Kemanusiaan baru itulah wujud utuh Kerajaan Allah. Manusia tidak lagi buta, tidak lagi lumpuh, tidak lagi sakit, tidak kerasukan roh jahat, ... tapi merdeka di hadapan Allah, seperti Yesus sendiri di hadapan Allah, Bapa yang Maharahim itu. Seperti dalam Daniel, kehadiran manusia baru itu berkontras dengan zaman edan yang mendahuluinya.
TANYA: Kok dipakai ibarat pohon ara bersemi segala. Bikin kami pusing nih!
MARKUS: Aku sendiri juga belum seratus persen ngerti. Tapi pohon ara yang bersemi itu kan tanda yang pasti mengenai musim panas sudah di ambang pintu. Nah, kepastian seperti inilah yang boleh kalian pegang bila kalian mengalami macam-macam kegelisahan di zaman edan.

BAGI KAUM MISKIN ATAU DEMI PERBAIKAN NASIB MEREKA?
Negeri kita ini menderita penyakit kronis: kemiskinan. Mana mungkin dengan keadaan itu orang mengusahakan diri agar menjadi kenampakan Tuhan? Kemanusiaan masih butuh pertolongan. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) antara Februari 2005 hingga Maret 2006 ada pertambahan jumlah penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan. (Bulan Pebruari 2005 Garis Kemiskinan ialah Rp.129.108,- per bulan per kapita dan pada bulan Maret 2006 menjadi Rp.152.847,- per bulan per kapita; jumlah itu diukur dari biaya memenuhi bahan pokok pangan dan papan minimum.) Dengan ukuran tadi, jumlah penduduk miskin pada Pebruari 2005 ialah 35,10 juta (15,97 persen penduduk Indonesia), dan pada Maret 2006 ada 39,05 juta (17,75 persen). Berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta dalam periode satu tahun terakhir itu.
Ada pula data mengenai pergeseran posisi penduduk "miskin" dan "hampir miskin" dalam periode Pebruari 2005-Maret 2006. Sekitar 56,51 persen penduduk "miskin" pada Pebruari 2005 tetap terhitung sebagai penduduk "miskin" pada Maret 2006, sisanya berpindah posisi menjadi tidak miskin. Sebaliknya, 30,29 persen penduduk "hampir miskin" di bulan Pebruari 2005 jatuh menjadi "miskin" pada bulan Maret 2006. Pada saat yang sama, 11,82 persen penduduk hampir "tidak miskin" di bulan Pebruari 2005 juga jatuh menjadi miskin menurut hitungan bulan Maret 2006. Bahkan 2,29 persen penduduk tidak miskin juga jatuh menjadi miskin. Beberapa data di atas dikutip dari _Berita Resmi Statistik_ No. 47 / IX / 1 September 2006; naskah Pdf. lengkap dapat diperoleh dari [www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01sep06.pdf].

Sekadar melihat data prosentasi kemiskinan ke belakang. Th. 1996 =17,47 persen; (data th. 1997 kosong); th. 1998 = 24,23 persen; th. 1999 = 23,43 persen; th. 2000 = 19,14 persen; th. 2001 = 18,41 persen; th. 2002 = 18,20 persen; th. 2003 = 17,42 persen; th. 2004 = 16,66 persen; th. 2005 = 15,97 persen. Seperti di atas, th. 2006 = 17,95 persen. Terlihat melonjaknya persentasi kemiskinan dari 1996 hingga 1998 yang dikenal sebagai krismon (krisis moneter) yang memerosotkan ekonomi banyak orang di negeri kita. Pidato Kenegaraan Presiden RI tanggal 16 Agustus 2006 menonjolkan penurunan tingkat kemiskinan dari 23,43 persen pada 1999 menjadi 15,97 persen (praktisnya, 16 persen) pada tahun 2005, tepatnya, Pebruari 2005 seperti di atas. Sayang tidak ditampilkan keadaan antara 2005 hingga 2006 yang semestinya ikut dipertanggunjawabkan dalam pidato tahunan bagi tahun 2006 ini. Pemakaian data usang dan kurang menyeluruh itu sudah beberapa kali disinyalir oleh para pengamat dan wakil rakyat dalam media masa.

Kenaikan prosentasi orang miskin sebesar 2,02 persen antara Pebruari 2005 hingga Maret 2006 itu mengkhawatirkan. Negeri kita ketambahan 39,05 juta orang miskin menurut standard kita sendiri. Memang ini gambaran makro, tidak kelihatan siapa-siapa dan di mana mereka itu. Tapi bisa membuat kita mulai memperhatikan apa itu kemiskinan di negeri ini. Sekaligus membengkaknya jumlah orang yang butuh diperbaiki nasibnya itu menjadi tantangan bagi siapa saja yang percaya akan kebenaran Warta Gembira. Memang Injil tidak berisi petunjuk praktis bagi segala zaman bagaimana menangani kemiskinan dan penyakit sosial lain. Injil bukan pula jimat bagi keperluan itu. jangan dikatakan Injil itu bagi orang miskin, lebih cocok, demi perbaikan keadaan mereka! Wartanya menajamkan pikiran dan membesarkan hati untuk ikut mengusahakan agar orang-orang yang berkekurangan tidak dilupakan. Makin terasa edannya zaman, makin nyatalah pula harapan akan datangnya kemanusiaan baru. Zaman edan yang mengabadi? Iman injili menyangkal keabadian zaman edan. Injil mengabarkan zaman seperti itu bisa diakhiri dan digantikan dengan kemanusiaan yang utuh. Kita akan ditanya apa andil kita dalam mengentas sesama dari keadaan yang subhuman itu. Ada dua cara. Yang pertama ialah membantu dengan bantuan material yang langsung dibutuhkan. Cara ini cocok dalam keadaan darurat, tetapi tidak banyak membantu dalam menghadapi kemiskinan kronik. Jenis ini lebih cocok dihadapi dengan cara kedua, yakni menggugah orang-orang yang berkekurangan mengusahakan perbaikan diri dan mengajak mereka maju terus. Dalam benak terpikir, inilah caranya untuk membumikan eksegese Anak Manusia dalam Daniel 7:13 dan Markus 13:26 bagi negeri ini. Kedatangannya itu juga demi perbaikan nasib kaum lemah ekonomi di bumi ini.

 


Salam hangat,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.