Kenaikan Tuhan Yesus, tanggal 17 Mei 2007  (Lukas 24:46-53)

HARI RAYA KENAIKAN TUHAN YESUS KE SURGA
 


Pada hari raya Kenaikan Tuhan tahun C ini dibacakan Lukas 24:46-53. Isinya menceritakan pengutusan para murid setelah mereka memahami warta Kitab Suci mengenai kemesiasan Yesus (ayat 46-49) dilanjutkan dengan kisah kenaikan Yesus ke Surga setelah memberkati para murid (ayat 50-53).

MEMBUKA PIKIRAN
Guna memahami ayat 46-49 marilah kita tengok konteksnya, yakni ayat 45 yang tidak ikut dibacakan hari ini: "Lalu ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci". Yang dimaksud ialah warta seluruh Kitab Suci mengenai dirinya. (Hal ini diungkapkan dalam ayat 44 sebagai "Taurat Musa, nabi-nabi, dan kitab Mazmur"). Seperti diutarakan dalam ayat 46, ia menjadi Mesias Tuhan yang benar lewat penderitaan dan kebangkitannya. Ditegaskan dalam ayat 47, murid-murid kemudian diminta ikut meluruskan pendapat orang mengenai dia dan wartanya ("mewartakan tobat") agar orang mendapat "pengampunan dosa" dalam nama dia yang telah bangkit itu.
Pikiran murid-murid kini diterangi sehingga mereka mengerti itu semua. Kejadian ini juga dialami oleh kedua orang murid yang sedang ada dalam perjalanan ke Emaus. Mereka mendapat penjelasan mengenai Kitab Suci tentang Yesus (Lukas 24:27) dari Yesus yang telah bangkit sendiri meskipun waktu itu mereka belum menyadarinya. Kini, dalam ayat 46 dst. murid-murid sudah tahu siapa yang menjelaskan. Mereka telah mendapat penampakan mengenai dia yang bangkit itu (Lukas 24:36-44). Bagaimanapun juga di dalam kedua peristiwa ini para murid akhirnya sama-sama mendapatkan kekuatan untuk mulai menyampaikan pengalaman berjumpa dengan dia yang telah lama diberitakan dalam Kitab Suci. Kedua murid dari kisah Emaus itu segera bergegas ke Yerusalem (Lukas 24:33) memberi tahu para murid lain. Kini para murid yang lain juga memperoleh dorongan untuk mewartakan tentang dia mulai dari Yerusalem (ayat 47). Perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit itu memberi kekuatan serta gairah.
Apa itu bersaksi mengenai dia? Kesaksian itu perlu dipahami dalam rangka peristiwa kenaikan Yesus ke Surga yang dirayakan hari ini. Ia yang bangkit itu dikatakan berpisah dari murid-muridnya dan terangkat ke Surga (Lukas 24:51). Bacaan pertama (Kis. 1:1-11) mengisahkan peristiwa yang sama dan pada akhir petikan ini (ayat 10-11) disebutkan bahwa dua orang yang berpakaian putih mengatakan kepada murid-murid bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara seperti yang mereka lihat ketika ia naik ke Surga. Maksudnya, dia yang kini telah memasuki dunia ilahi itu suatu ketika nanti akan datang kembali dengan cara yang sama. Dan tenggang waktu antara kenaikan dan kedatangannya kembali ialah zaman kita belajar mengenali kehadirannya di dunia dan mengakuinya...mempersaksikannya. Orang banyak akan makin mengerti kehadirannya. Bila terjadi maka dapat dikatakan ia telah datang kembali. Bisa dikatakan bahwa kedatangannya kembali itu sejalan dengan pengertian manusia akan kehadirannya. Tugas para murid ialah mewartakan kehadiran ini dan membuat banyak orang memahami serta menghormati kehadiran ini Dalam banyak hal boleh dikatakan bahwa kita yang percaya akan dia ikut membuatnya datang kembali dengan cara sama seperti para murid dulu melihat ia terangkat ke Surga.

MENARA BABEL DAN KEHADIRAN YANG ILAHI
Baiklah kita coba pahami hubungan dunia ilahi dan dunia manusia dengan memakai gagasan dari Kitab Suci sendiri. Dalam Kejadian 11:1-9 diceritakan manusia yang tadinya saling mengerti dan bersatu itu akhirnya terpecah-belah karena tidak dapat saling mengerti lagi. Ini sebetulnya kisah untuk menjelaskan secara teologis asal usul kemerosotan, perpecahan dan permusuhan di antara umat manusia. Diceritakan manusia mulai berambisi memasuki wilayah Yang Ilahi tanpa menghormati kekeramatan Yang Ilahi sendiri. Mereka bermaksud membangun kota dengan menara yang puncaknya menembus ke langit (Kejadian 11:4) - tempat kediaman Yang Ilahi, wilayah yang keramat itu. Manusia ingin "membuat nama bagi diri sendiri agar jangan sampai terserak ke seluruh bumi", maksudnya menjadi seperti Sang Nama Ilahi itu. Apa yang terjadi? Tuhan malah membiarkan mereka tercerai berai ke seluruh bumi dan tidak saling mengerti lagi sehingga rencana mereka membangun kota dengan menara tadi gagal. Wilayah yang keramat tidak bisa dijadikan tempat berkiprah. Kesembronoan seperti itu malah menjauhkan mereka dari yang mereka inginkan.
Bukan khayal belaka bila kenaikan Yesus ke Surga ini kita mengerti sebagai kebalikan kisah menara Babel tadi. Kenaikan Yesus ke Surga ialah kemanusiaan yang diterima utuh oleh Tuhan. Kemanusiaan kini bahkan diangkat menjadi bagian dari Yang Ilahi sendiri. Ia juga yang menyatukan kemanusiaan. Dalam hal ini tidak ada upaya kemaruk menyamai Yang Ilahi. Ia berani mengakui diri sebagai manusia lewat penderitaan dan wafatnya itu. Ia menunjukkan kemanusiaan yang tidak meninggikan diri sampai ke awan-awan. Dan justru dengan demikian ia dibangkitkan. Ia menjadi menara kemanusiaan yang puncaknya betul-betul mencapai langit. Kenaikannya ke Surga ini juga nanti bahkan diikuti kedatangan Roh Kudus yang membuat orang dari pelbagai bahasa dan bangsa dapat saling mengerti kembali. Dalam banyak arti kenaikan Yesus ke Surga mengingatkan kita akan kehadiran Yang Ilahi di dalam kemanusiaan.

BAIT ALLAH DI YERUSALEM
Injil Lukas berakhir dengan berita bahwa para murid senantiasa berada di Bait Allah memuliakan Tuhan (Lukas 24:53). Bait Allah juga menjadi tempat awal Injil ini. Di situlah Zakharia menerima pemberitaan akan kelahiran Yohanes Pembaptis ketika bertugas menjalankan ibadat. Ketika Zakharia mempertanyakan bagaimana ia dapat percaya semua itu, malaikat Gabriel membuatnya gagu. Meskipun Injil Lukas tidak menyebutkannya, dalam keadaan ini jelas Zakharia tidak dapat mengucapkan kata-kata berkat yang menjadi bagian ibadat di Bait Allah. Pada akhir Injil Lukas disebutkan Yesus mengangkat tangan dan memberkati murid-muridnya (Lukas 24:50-51). Dengan ini kiranya Lukas hendak mengingatkan orang akan berkat imam dalam Im. 9:22. Hal yang tidak dapat dilakukan oleh Zakharia kini dilakukan oleh Yesus yang sedang terangkat ke Surga. Berarti ibadat di Bait Allah kini telah utuh kembali. Dan bukan itu saja. Kini batas-batas antara yang keramat dan yang duniawi telah dibuka kembali. Ia memberkati murid-murid ketika ia terangkat ke Surga. Ingat juga bahwa pada saat ia wafat di salib. tirai Bait Allah yang memisahkan tempat yang paling kudus dengan bagian lain koyak terbuka (Lukas 23:45). Wafatnya menandai rujuknya kembali keilahian dengan kemanusiaan. Dan Lukas maju lebih jauh lagi. Kini Yesus menjadi berkat bagi seluruh kemanusiaan. Artinya, Yang Ilahi tidak lagi jauh dari kemanusiaan. Yesus yang naik ke Surga itu bukan seperti menara Babel yang mendatangkan kutuk, melainkan yang mendatangkan berkat. Inilah yang diminta agar dipersaksikan para murid kepada semua bangsa. Pertobatan mulai dengan mengakui bahwa Yang Ilahi dapat hadir di antara manusia. Ini juga memungkinkan pengampunan dosa yang diperbuat manusia dalam kisah menara Babel dulu.

NGOBROL DENGAN LUC
AG: [Di Café Venezia, menikmati gelato.] Luc, dalam jilid dua bukumu (Kis. 1:3) kau katakan Yesus naik ke Surga setelah berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara mengenai Kerajaan Allah selama 40 hari. Tapi pada akhir Injilmu kau tidak mengatakan tenggang waktu ini. Apa dapat sedikit kaujelaskan maksudmu?
LUC Ah, kau ini terlalu terbiasa bongkar pasang teks sastra kayak montir mobil aja. Pakai angan-angan dong! Waktu 40 hari itu kan cara untuk mengatakan murid-murid punya cukup waktu untuk memahami bahwa Yesus memang benar-benar ada di antara mereka, dan bahwa semua ajarannya mengenai Kerajaan Allah dulu itu tetap berlaku.
AG: Tapi mengapa Yesus kaukatakan melarang mereka meninggalkan kota Yerusalem sebelum Roh Kudus datang, begitu kan yang sebetulnya yang mau kaukatakan dalam Kis. 1:4-5?
LUC: Kamu sendiri kan telah berulang kali menjelaskan kepada rekan-rekan bahwa bila kota itu kusebut sebagai "Hierosolyma" - dan bukan "Ierousaleem" - aku bermaksud mengatakan kota dan penghuni yang bersedia menerima kehadiran Yesus. Nah dalam Kis. 1:4 kupakai bentuk "Hierosolyma". Murid-murid perlu bertekun dulu di dalam lingkungan yang menerima Yesus sambil menantikan kedatangan Roh Kudus yang bakal membuat mereka nanti mampu bersaksi kepada kota "Ierousaleem" (Kis 1:8), yakni kota dan orang-orang yang kurang menerima kehadirannya. Ingat apa yang kukatakan dalam Lukas 24:47 ketika murid-murid diutus menyampaikan berita pertobatan dan pengampunan dosa kepada semua bangsa "mulai dari Ierousaleem", mulai dari lingkungan yang kurang mengakui kehadiran Yesus.
AG: Ah, kau ini menuntut agak banyak dari pembaca. Masak orang zaman kini dapat mengerti perbedaan halus seperti ini.
LUC: [Mbeling] Karena itu kamu disuruh belajar tafsir, rasakan! Orang-orang zaman ini perlu belajar memahami yang betul halus, supaya tidak cari-cari alam alus yang semu.
AG: Wah, mulai lagi memusuhi kaum alus ya! Omong-omong, apa setuju dengan pendapat para teolog bahwa masa antara kenaikan Yesus ke Surga hingga kedatanganNya kembali nanti itu ialah masa karya Roh Kudus di dalam Gereja?
LUC: Tentu saja! [Memandangi gelas yang sudah hampir kosong, kayak anak kecil kehabisan permen]. Dan boleh kutambahkan, hendaknya Gereja pertama-tama dimengerti sebagai kumpulan mereka yang meluangkan tempat bagi kehadiran Yang Ilahi di dunia ini, seperti yang kugambarkan dalam Kisah Para Rasul. Ngerti, kan?

Dan masih banyak yang kita omongkan sore itu. Kita bicara mengenai eklesiologi yang katanya perlu dibenahi, mengenai eksegese yang sebaiknya dijadikan kegiatan kreatif agar tidak bikin ngantuk, dst. Saya tanya kenapa bahan Luc pada akhir Injilnya agak banyak kesejajarannya dengan Yohanes 20:19-23. Luc mengakui, dulu ia dan Oom Hans memang sering mendengar pembicaraan Oma Miryam dengan beberapa ibu lain ketika arisan di rumah. Karena itu mereka tahu agak lebih banyak daripada Mark dan Matt.

 


Salam,
A. Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.