Bacaan pertama dan Injil Minggu Biasa XVIII/A, tanggal 3 Agustus 2008  (Matius 14:13-21 dan Yesaya 55:1-3)

ITU DIA - BEKAL YANG TAK BAKAL HABIS

Rekan-rekan yang baik,
Peristiwa memberi makan lima ribu orang dalam Injil Minggu Biasa XVIII A (Matius 14:13-21) terjadi setelah berita mengenai dibunuhnya Yohanes sampai kepada Yesus. Ia berperahu menyingkir ke sebuah tempat terpencil. Orang banyak mengikutinya lewat jalan darat. Ketika berlabuh kembali, didapatinya orang banyak sudah menunggu. Tergeraklah hatinya. Di situ ia menyembuhkan orang sakit. Ketika malam hampir tiba, murid-muridnya usul agar orang-orang itu disuruh pergi mencari makan di perkampungan sekitar. Tetapi Yesus malah menyuruh murid-murid memberi mereka makan walau hanya tersedia lima roti dan dua ikan. Apa yang terjadi? Setelah mengucapkan doa syukur, Yesus membagi-bagi roti dan memberikannya kepada para murid agar diteruskan kepada orang banyak. Sisa roti terkumpul sebanyak 12 bakul penuh, padahal ada lima ribu orang lelaki tak terhitung perempuan dan anak-anak. Apa makna peristiwa ini? Adakah kaitannya dengan bacaan pertama (Yesaya 55:1-3)?

MENYINGKIR KE DALAM KESUNYIAN
Matius sengaja menghubungkan menyingkirnya Yesus ke sebuah tempat sepi dengan berita kematian Yohanes Pembaptis. Markus dan Lukas menceritakan dua kejadian ini secara berurutan tanpa menyarankan hubungannya. Meski tidak jelas-jelas dikatakan, boleh diduga Matius mengajak pembaca menyadari bahwa mulai saat itu selesailah sudah masa Yohanes Pembaptis, tokoh besar yang mengantar masuk Yesus ke dalam kehidupan umat. Kini perhatian utama hendaknya dipusatkan pada Yesus. Ikutilah dia ke mana saja ia pergi. Dialah yang sekarang mengantar perjalanan umat.
Dapat dicatat dua hal lain. Pertama, dalam menyepi Yesus menghadapi dirinya sendiri yang sesungguhnya. Ketika dicobai di padang gurun ia menemukan diri sebagai abdi Yang Mahakuasa sendiri. Kini ia menyepi dan mendapati diri sebagai yang datang untuk melayani orang banyak yang sedemikian menaruh kepercayaan dan harapan kepadanya. Ia merasa bertanggung jawab akan kesejahteraan mereka. Kedua, orang banyak terlihat semakin membutuhkannya. Mereka mengikutinya. Seperti umat Tuhan yang dulu mengikutiNya di padang gurun dan hidup dari manna, makanan yang turun dari langit hari demi hari dari Dia sendiri. Yesus kini tampil sebagai manna bagi umat yang baru.

TENTANG MEMBERI MAKAN ORANG BANYAK
Ada tiga kelompok kisah Yesus memberi makan orang banyak menurut jumlah orang dan sisanya: lima ribu orang dengan sisa 12 bakul, Markus 6:30-44 // Matius 14:13-21 // Lukas 9:10-17; orang banyak tanpa perincian jumlahnya tapi sisanya juga 12 bakul, Yohanes 6:1-15; dan empat ribu orang dengan sisa 7 bakul, Markus 8:1-10 // Matius 15:32-39 (tanpa paralel dalam Injil Lukas).
Kisah-kisah itu tumbuh di pelbagai kalangan Gereja Awal sebelum Injil-Injil sendiri ditulis. Kisah-kisah itu berkembang di dalam pengajaran dan katekese mengenai Ekaristi, yakni perayaan syukuran memperingati kurban penebusan oleh Yesus. Peristiwa memberi makan lima ribu orang tumbuh di antara pengikut Yesus dari kalangan Yahudi sebagaimana dapat diduga antara lain dari ungkapan 12 bakul, angka lambang suku-suku Israel. Yang menyangkut empat ribu orang hidup di lingkungan orang bukan asal Yahudi, seperti kentara dari sisanya yang 7 bakul. Kedua-duanya diolah Markus dan hasilnya dipakai dalam Injil Matius. Lukas hanya menggunakan bahan yang pertama. Mengapa justru dia yang lebih bergerak di kalangan bukan Yahudi tidak merekam dari lingkungan yang bukan Yahudi? Boleh jadi karena perkembangan Ekaristi di kalangan bukan Yahudi digarap Lukas secara khusus dalam Kisah Para Rasul. Oleh karena itu, ia merasa tidak perlu menyertakan kisah yang kedua tadi dalam Injilnya. Bagaimana dengan Yohanes? Ia memakai tradisi yang menggarisbawahi sisanya yang 12 bakul. Juga ada kesan Yohanes hendak meyakinkan pembaca bahwa ia mengalami sendiri peristiwa itu sebagai salah satu dari Yang Duabelas. Ia bahkan mengingat nama murid yang berbicara dengan Yesus, yakni Filipus dan Andreas dan beberapa seluk beluk khas yang hanya bisa diberikan oleh saksi mata. Pengisahan Yohanes mengajak pembaca semakin mempercayai kebenaran peristiwa itu.

BERKAITAN DENGAN EKARISTI
Kisah pemberian makan orang banyak itu tumbuh dari pendalaman iman serta katekese bagi umat pada umumnya. Mereka diajak mendalami makna perayaan syukuran atas penebusan - yakni Ekaristi - sebagai sisi yang amat penting dalam hidup orang-orang yang mengikuti Yesus. Dia yang mereka cari sehari-hari itu memberi kekuatan hidup yang melimpah. Mereka yang letih dan lesu akan mendapat penyegaran darinya, seperti umat Tuhan yang dulu berkelana di gurun.
Bagi para pemimpin? Tentunya mereka juga ikut berbagi makanan. Namun secara khusus mereka diminta agar ikut bertanggung jawab bagi keadaan umat yang mereka layani. Yesus menyuruh mereka memberi makan orang banyak. Para pemimpin diharapkan kreatif dan tidak menyerah pada keadaan. Mereka hendaknya menyertai Yesus dalam menjalankan pelayanannya dan memungkinkannya terlaksana.
Begitulah terlihat kaitan kisah pemberian makan ini dengan perayaan Ekaristi yang sudah hidup di kalangan umat muda waktu itu. Tumpuannya satu dan sama, yakni Yesus sendiri. Dialah penopang hidup yang datang dari atas sana. Hari demi hari ia menunjang para pengikutnya. Dan bukan ini saja, ia semakin mendekatkan kenyataan Kerajaan Surga kepada manusia Ia membawa orang agar dekat pada hadirat Yang Mahakuasa yang ingin mengubah jagat ini menjadi kawasan damai, bebas dari ketakutan. Juga dalam konteks kejadian-kejadian mengerikan di pelbagai tempat akhir-akhir ini, warta Kerajaan Surga tetap bisa menumbuhkan sikap percaya.
Apa arti sisa yang sedemikian banyak itu? Bagi siapa saja yang mau datang, baik dari kalangan umat dulu atau umat yang baru, roti - makanan - tetap tersedia. Tetapi mengapa semua ini perlu disebutkan? Tentunya bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa sisanya mencukupi bagi siapa saja dan bahkan sisanya melimpah. Ada saran halus bagi mereka yang telah memperolehnya agar juga membawakan kepada mereka yang belum dapat ikut menikmati, baik yang berasal dari umat Tuhan dulu maupun orang-orang yang belum mendengar tentang kebaikanNya. Diajarkan oleh Gereja Awal, kekuatan rohani Ekaristi yang mereka rayakan itu juga bisa disampaikan kepada semakin banyak orang, lewat mereka yang telah memperolehnya.

MAKANAN DARI HARI KE HARI
Dipakai kata "roti" untuk menyebut ujud kelihatan dari Ekaristi, kerap dalam hubungan dengan "anggur". Sering dijelaskan bahwa bagi orang yang hidup di dunia Alkitab dulu atau dalam kebudayaan sana, roti dan anggur ialah makanan dan minuman sehari-hari. Seperti nasi dan teh bagi orang sini. Masuk akal, tapi tidak seluruhnya tepat. Malah keterangan itu tidak mengajarkan yang penting. Roti dan anggur yang dipakai dalam Ekaristi Gereja Awal terasa sama "tak biasa"-nya juga bagi mereka kendati kata "roti" bagi mereka merujuk pada makanan sehari-hari. Persembahan yang dibawa ke dalam perayaan menjadi hal yang tidak biasa lagi. Bentuknya, apalagi peran-perannya, sudah berubah. Maka di kemudian hari untuk "roti" dipakai kata Latin "hostia" yang artinya bahan yang dipersembahkan sebagai kurban. Bukan lagi roti yang dimakan untuk pada waktu bersantap, juga anggur bukan lagi yang biasa diteguk selama makan. Perjamuan malam terakhir Yesus bersama murid-muridnya kiranya juga bukan resepsi perpisahan dengan makan malam, melainkan doa bersama yang dilakukan dengan khidmat.
Ekaristi dengan roti dan anggur itu ibadat yang dirayakan untuk memperingati dia yang telah wafat untuk menebus kemanusiaan dan telah bangkit - telah berhasil. Oleh karenanya, ikut dalam ibadat ini membuat orang berbagi pengampunan dosa.
Sisi yang "luar biasa" itu selayaknya diakui sepenuhnya. Yang luar biasa itu kini justru menjadi makanan dan minuman. Kita diajak masuk ke dalam hidup yang bukan sehari-hari dan memperoleh bekal kekuatan rohaninya bagi hidup di dunia nyata ini. Karena itu liturgi Ekaristi dapat menghadirkan yang keramat di dalam yang sehari-hari.
Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang ini menampilkan kejadian yang tidak biasa. Namun demikian, ketidakwajaran ini disampaikan agar orang semakin memahami perayaan Ekaristi yang biasa mereka lakukan. Jelas bukan kisah untuk membangkitkan rasa ingin melihat mukjizat yang ada di sana. Pembaca diminta menengok kehidupan mereka sendiri dengan bantuan kisah Yesus memberi makan orang banyak ini. Mereka akan semakin menemukan yang luar biasa, yakni hadirnya Yang Ilahi di tengah-tengah umat. Kehadiran yang dapat mengisi ruang batin ini akan menjadi sumber kekuatan yang dapat diteruskan kepada siapa saja dan tak bakal habis.

DARI BACAAN PERTAMA
Ayat pertama dari bacaan pertama (Yesaya 55:1-3) menyerukan agar siapa saja yang haus datang meneguk air, tersedia makanan cuma-cuma, bahkan lebih dari yang dibutuhkan. Ungkapan ini menggambarkan betapa besar perhatian Yang Mahakuasa kepada siapa saja. Kebaikannya tidak bergantung pada kemampuan orang untuk membelinya - juga dengan kebaikan atau kebaktian. Gagasan seperti ini dulu amat berani karena rasa keagamaan orang zaman itu umumnya berkisar pada pendirian bahwa yang berlaku lurus akan mendapat ganjaran, yang jahat mendapat hukuman. Kebahagiaan dimengerti sebagai pemberian ilahi atas kebaikan dan kebaktian. Gagasan ini memang menumbuhkan rasa tanggung jawab moral yang besar, tetapi baru akan sempurna bila maju selangkah lagi, yakni berani mengimani bahwa kebesaran ilahi mengatasi ukuran baik-buruk yang dipunyai manusia. Dalam perkembangan kepercayaan Umat Perjanjian Lama, arah ini semakin berkembang justru ketika mereka tidak lagi bisa membanggakan kebesaran bangsa mereka karena telah dikalahkan dan para tokoh masyarakat ditawan ke Babilonia. Namun kaum ulama yang bijak waktu itu mulai mengajarkan kebesaran ilahi dalam ukuran lain yang belum dikenal umat sendiri, yakni kebaikan yang cuma-cuma, rahmat yang diberikan tanpa jasa umat. Gagasan ini semakin tumbuh menjelang zaman Yesus dan dalam pengajarannya arah itu menjadi makin jelas. Perhatian kepada kaum papa dan orang kecil dalam pengajarannya ada dalam hubungan itu.
Dalam kedua ayat selanjutnya ditekankan pentingnya "mendengarkan" Tuhan, artinya membiarkan Dia berbicara, dan bukannya membuatNya mendengarkan permintaan-permintaan. Dan khususnya pada ayat 3, terdengar bahwa Dia ingin mengikat perjanjian abadi dengan umat menurut "kasih setia" yang teguh yang dijanjikanNya kepada Daud - yakni orang pilihanNya. Dalam bahasa Perjanjian Lama, "kasih setia" ialah "khesed", kebaikan yang ditawarkan secara cuma-cuma, tanpa memperhitungkan jasa atau balasan atau keadaan pihak yang ditawari. Dalam Perjanjian Baru gagasan ini diungkapkan dalam pengertian "rahmat". Baik "kasih setia" maupun "rahmat" ialah tawaran untuk memungkinkan manusia hidup sebagai orang yang amat dekat dengan keilahian sendiri. Tak terbeli. Tak bisa ditukar dengan kerja keras atau jasa. Hanya bisa diterima dan dihidupi. Yesus sendiri dalam tayangan Injil ialah kenyataan rahmat dan kasih setia ilahi. Maka dari itu barang siapa yang dekat padanya, menerima makanan darinya tidak akan kehabisan bekal.

 


Salam hangat,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.