Jenazah Yesus di mana?

 

Tujuh catatan di Hari Paskah
 


Rekan-rekan, berikut ini sekadar catatan tentang masalah di mana jenazah Yesus dan pembicaraan mengenai penemuan peti-peti tulang tahun 1980 di sebuah makam kuno di wilayah tenggara kota Yerusalem yang dikenal dengan nama Talpiot.

1. Di kalangan para pengikut Yesus(-nya orang Kristen), tentunya pernah ada pertanyaan apakah jenazah itu diambil dan ditaruh di tempat lain, kan kini makamnya kosong. Dua ayat dalam kisah Maria Magdalena di makam (Yohanes 20:13 dan 15) mencerminkan pertanyaan itu. Pertanyaan itu juga tercermin dalam kisah para perempuan yang datang mencari jenazahnya di makam (Markus 16:6; Matius 28:5-6).

2. Injil-Injil juga memberi jawaban bagi persoalan di atas. Ringkasnya, ditegaskan bahwa Yesus tidak berada di antara orang mati - dus jenazahnya tidak lagi ada. Ia sudah bangkit. Ini ditegaskan kepada mereka yang mencarinya di kubur (kepada para perempuan Matius 28:5-7; Markus 16:6-7; Lukas 24:5-7; bagi Petrus dan murid yang dikasihi Yohanes 20:1-10). Kemudian dikuatkan dengan serangkai kisah penampakan Yesus yang sudah bangkit tadi: kepada para perempuan yang mengunjungi kuburnya (Matius 28:9-10); kepada para murid di Galilea (Matius 28:16-20); kepada Maria Magdalena sambil memanggil namanya sehingga Maria mengenalinya (Yohanes 20:16-18); kepada para murid membesarkan hati mereka dengan mengembuskan Roh (Yohanes 20:19-23); sambil mengimbau Tomas agar percaya (Yohanes 20:24-29); dengan mengawani dua murid dalam perjalanan dan menjelaskan kesaksian Kitab Suci tentang dirinya (Lukas 24:13-35); dalam menunjukkan diri kepada para murid bahwa dirinya bukan jadi-jadian (Lukas 24:36-43) dan memberi mereka penugasan untuk mempersaksikannya (Lukas 24:44-49). Peristiwa kenaikannya ke surga disaksikan para murid (Lukas 24:50-53; Kis. 1:6-11). Juga penutupan "panjang" Injil Markus menggarap hal ini (Markus 16:9-20).

3. Penelitian mengenai "keluarga" besar yang nama-nama anggotanya (termasuk nama seorang "Yesus" yang disebut sebagai anak Yosef) tertera pada enam dari sepuluh peti tulang/ossuary di Talpiot itu menarik dari segi arkeologi dan sejarah. Buku James Tabor _The Jesus Dynasty _ yang barusan terbit dalam terjemahan Indonesia memuat ikhtisar bagus tentang penemuan itu. Tabor merekonstruksi keluarga besar itu dan peran mereka di masyarakat Yahudi waktu itu. Namun demikian, hasil rekonstruksi ini tidak dapat begitu saja disamakan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam Injil termasuk Yesus yang dipercaya orang Kristen dari awal. Paling-paling akan dapat dipaparkan kemiripan antara kelompok yang dikenal dalam Injil dengan kelompok yang direkonstruksi dari nama-nama pada beberapa peti di Talpiot itu. Kemiripan perlu dipertahankan sebagai kemiripan dan tidak langsung dianggap kesamaan. Tabor sendiri tetap mempertahankan pembedaan ini. Ia hanya menyarankan bahwa bukannya tak mungkin sama. Tetapi pernyataan ini tidak mengatakan kaitan positif apa pun di antara keduanya.

4. Ada perbedaan yang lebih mendasar. Injil-Injil menceritakan bahwa jenazah Yesus yang dibungkus kafan itu ditaruh dalam kubur. Menurut kebiasaan waktu itu, tidak dipakai peti bagi jenazah. Jenazah langsung ditaruh dalam kubur yang berupa rongga, tidak ditimbun tanah. Setelah cukup lama dalam kubur seperti ini, jenazah tadi akan mengalami dekomposisi dan baru setelah itu tulang-tulangnya dikumpulkan dan dimasukkan dalam peti dari batu (juga guci dipakai untuk itu). Inilah yang disebut ossuary. Tahap ini sama sekali tidak ada dalam Injil-Injil, tetapi menjadi titik tolak seluruh pembicaraan mengenai makam di Talpiot. Inilah perbedaan yang paling mendasar di antara kedua bahan tadi. Injil menegaskan jenazah Yesus sudah tidak ada lagi di kuburan/rongga tadi karena ia sudah bangkit. Inilah fokus Injil ketika mengisahkan kejadian pada pagi hari Paskah. Dan inilah yang kemudian terungkap dalam kisah-kisah Yesus menampakkan diri seperti didaftarkan dalam (1) di atas.

5. Oleh karena itu tak perlu berpolemik mengenai pembicaraan Talpiot atas dasar Injil. Penemuan Talpiot itu baik dikaji lebih lanjut dari segi arkeologi dan ilmu-ilmu bantu lainnya. Juga tidak pada tempatnya "membuktikan" atau "menyangkal" Injil dengan penemuan arkeologi. Mendekati Injil dengan memahami nilai penemuan arkeologi memang dapat diupayakan, tapi untuk itu juga perlu pelatihan khusus.

6. Sebaiknya Injil didalami dengan ilmu tafsir yang sehat dengan langkah-langkah yang ada dalam disiplin ilmu ini. Dengan demikian pengetahuan akan Kitab Suci akan membuat iman menjadi makin sesuai dengan wahyu. Jadi beriman bukan "pokoknya asal percaya, sudah." Sikap seperti itu malah sulit disebut iman. Juga kurang menghargai Dia yang sebenarnya hendak dipercaya.

7. Seperti pernah disampaikan juga di Internos, iman itu intinya mengindahkan pribadi yang mewahyukan diri. Dalam Syahadat Para Rasul, pengakuan "aku percaya" itu jelas-jelas ditujukan pada pribadi: Allah, Bapa Yang Maha Kuasa... PuteraNya... Roh Kudus... Gereja, yakni kumpulan orang yang percaya, bukan lembaganya, mereka itulah yang menjadi persekutuan para kudus. Kemudian pengakuan "aku percaya" itu juga terarah pada pengampunan dosa, maksudnya pada pribadi yang berani dan bisa mengampuni, dan pada kebangkitan badan dan hidup kekal, artinya pada pribadi Dia dan kita sendiri yang nanti begitu, bukan pada gagasan atau rumusannya semata-mata.

 

 

Tambahan bagi ke 7 catatan di atas. Boleh jadi ada manfaatnya diketahui bahwa bagi alam pikiran Perjanjian Baru, kebangkitan Yesus bukanlah hidup kembali, balik ke alam orang hidup di dunia ini. Jadi tidak seperti orang mati suri yang hidup kembali, bahkan bukan seperti anak janda Naim yang dihidupkan kembali atau anak perempuan yang disuruh bangun kembali oleh Yesus, juga amat berlainan dengan Lazarus yang dihidupkan kembali oleh Yesus. Mereka ini kembali ke kehidupan dan akan mengalami kematian lagi nanti. Ini bukan kebangkitan yang diwartakan pada hari Paskah.
Kebangkitan yang terjadi pada hari Paskah itu ialah "tidak lagi berada di antara orang mati". Dalam pengertian orang waktu itu ada di antara orang mati ialah ada di bawah tanah, dikungkung oleh penguasa dunia gelap, tak bisa apa-apa lagi. Dalam kesadaran orang waktu itu, siapa saja ya akan ke sana, baik atau buruk, jahat atau suci. Lalu apa yang diperbuat oleh Yang Mahakuasa? Gagasan seperti ini bergema dalam Kitab Pengkotbah. Tentunya orang bertanya apa ya begitu ya, kok tak adil. Kitab Ayub, Daniel, dan Makabe mulai menggarapnya tapi belum memperoleh pemecahannya. Ini soal iman yang baru terjawab dengan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus pada hari Paskah.
Jadi intinya kebangkitan itu bukan seperti mBok Pademo yang mati tapi ketika diusung dalam bandosa hidup kembali karena katanya disuruh pulang ke dunia karena tidak dibutuhkan di akhirat atau seperti Raja Jumjumah yang mendapat izin pulang kembali ke dunia untuk menebus kesalahan serta kelalimannya dulu sebelum diadili di akhirat. Mereka ini balik kembali ke kehidupan. Kebangkitan bukan balik ke dunia, melainkan mengatasi hidup duniawi yang bagaimanapun juga akan berakhir dengan maut. Lha apa dan bagaimana itu, tolong tanyakan sendiri kepadaNya yang telah ke sana, atau kalau mau lebih jelas, periksa bagaimana jawaban itu dirumuskan oleh 4 sekawan kita Mark, Matt, Luc dan Oom Hans.

 


Selamat Paskah,
Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.