Injil dan bacaan pertama Minggu tanggal 30 Desember 2007 (Matius 2:13-15.19-23; Sirakh 3:2-6.12-14)

KEBATINAN ST. YUSUF SEBAGAI 'ORANG PINTAR' 


KELUARGA KUDUS
Injil bagi Perayaan Keluarga Kudus kali ini ialah Matius 2:13-15.19-23.
Kisahnya sudah banyak dikenal. Atas suruhan malaikat lewat sebuah mimpi, Yusuf membawa Yesus dan Maria menyingkir ke Mesir menghindari tangan kejam Herodes yang mau membunuh. Petunjuk malaikat dengan cara yang sama membuatnya kembali bersama keluarganya. Sekali lagi di tanah asalnya bisikan dalam mimpi membawanya pindah ke utara, dan menetap di Nazaret di Galilea. Matius menggambarkan riwayat sebuah keluarga yang menghadapi macam-macam kesulitan tetapi tetap disertai lindungan ilahi. Akan ditambahkan di bawah satu dua catatan mengenai bacaan pertama, yaitu Sir. 3:2-6.12-14.

KISAH MASA KECIL YESUS
Boleh dikatakan, membaca Kisah Masa Kecil Yesus ada seninya tersendiri.
Pokok-pokok yang dikisahkan dapat dan bahkan sebaiknya dibayangkan dengan cara yang cukup bebas. Kita juga biasa menggambarkan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita itu. Cara ini bahkan sudah menjadi motif seni lukis dan pementasan selama berabad-abad. Dari keempat penginjil hanya Matius dan Lukas-lah yang mengisahkan masa kecil Yesus. Kedua Injil ini berbicara kepada orang-orang yang sudah mulai mengenal Yesus (lewat Markus) dan kini mau mengerti apa artinya menjadi muridnya dengan mendalami asal usulnya, keluarganya, masa kecilnya. Nanti akan tiba saatnya murid akan berbagi kehidupan rohani dengan Yesus sendiri, berbagi sangkan paran dengannya. Itulah saatnya Injil Yohanes dapat membantu lebih jauh. Di situ tidak lagi ada kisah masa kanak-kanak.
Dalam upaya membaca secara kreatif itu tadi dapat kita bayangkan tokoh-tokoh yang berperan dalam kisah Yusuf bersama Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir, kemudian pulang dan menetap di Galilea. Ada empat tokoh, yang pertama ialah malaikat yang menampakkan diri dalam mimpi, kemudian Yusuf, dan "Anak serta ibunya", akhirnya "Herodes, ayah dan anak." Boleh jadi di antara rekan ada yang heran mengapa "Ibu dan anak" dianggap satu tokoh dan bukan dua. Di situlah kita perlu mengikuti cara bercerita Matius dengan teliti dan berusaha memahami maksudnya. Bila kita baca dari dekat ayat 13, 14, 20, 21, Yesus dan Maria kedua-duanya selalu disebutkan bersama. Mereka tidak dapat dipisahkan. Jadi Matius menampilkan mereka sebagai satu tokoh dengan "dua sisi". Memang penokohan seperti ini hanya muncul dalam hubungan dengan tindakan Yusuf yang mengikuti petunjuk malaikat, yakni membawa mereka mengungsi, membawa mereka kembali.
Bagaimanapun juga kita diajar Matius untuk membayangkan Yesus kanak-kanak dan Maria, yang hanya disebut sebagai "ibunya", sebagai kesatuan, sebagai satu pribadi yang tak terpisahkan. Namun lebih penting lagi, "anak dan ibunya" itu ditampilkan Matius sebagai tokoh yang dilindungi oleh daya-daya langit dengan cara yang amat manusiawi, dengan memakai kesahajaan orang seperti Yusuf.
Kekuatan jahat ditokohkan dengan sosok yang memiliki "dua sisi" juga, yakni Herodes dan anaknya. Namun kekuatan ini tidak dapat berbuat banyak. Bukan tanpa maksud Matius menggambarkan Herodes ayah-anak itu sebagai kekuatan gelap yang turun-temurun yang mau merusak dan menghancurkan kehadiran Allah di antara manusia. Menyadari hal itu dapat membuat kita mengerti gerak gerik kehadiran kekuatan yang jahat di dunia ini: hadir terus, memakai kekuasaan dan menungganginya untuk memusuhi kemanusiaan. Tidak lagi penting lagi siapa persisnya yang membadankan kuasa ini.
Yang mencolok ialah perkaranya, kegiatannya. Kekuatan jahat bisa memakai orang ini atau orang itu, Herodes yang dulu atau Arkhelaus, anaknya.
Sekarang pun masih ada dalam macam-macam bentuknya yang hanya dapat dikenal oleh orang yang jeli batinnya seperti Yusuf.

KESAHAJAAN YUSUF
Kesahajaan Yusuf membuat kekuatan jahat itu tidak bisa berbuat banyak walau kuasa mereka tidak dipunahkan. Sekaligus kesahajaan orang seperti Yusuf itu menjadi kebijaksanaan yang menyelamatkan. Yusuf paham situasi zaman. Matius menyiratkan hal ini dengan cara diam-diam pada ayat 22.
Dikatakannya bahwa Yusuf mendengar bahwa yang menjadi raja di Yudea ialah anak Herodes, dan kemudian disebutkan ia takut ke sana. Dengan segala sisi kemanusiaannya, termasuk rasa takut juga, Yusuf mampu membaca gerak-gerik daya-daya yang luar biasa itu. Ia pandai membaca tanda-tanda ke mana kekuatan jahat mengarah. Namun lebih dari itu, ia mahir mengenal bimbingan ilahi dan dapat menurutinya. Dan bimbingan ilahi datang sesuai dengan kejelian Yusuf. Pada ayat 22 itu tidak lagi diceritakan malaikat menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dan memberi tahu apa yang mesti dikerjakannya. Hanya disebutkan Yusuf "dinasihati dalam mimpi".
Matius seolah-olah hendak menyarankan, kini Yusuf sudah jadi orang yang peka akan bimbingan dari atas. Ia tahu apa yang mesti diperbuat. Dan memang yang dikerjakannya sejalan dengan yang diisyaratkan dari dunia keramat tadi.
Dari satu sudut pandang tertentu memang Yusuf ditampilkan sebagai tokoh buat-buatan yang dimunculkan untuk memudahkan orang memahami cara Tuhan melindungi "anak dan ibunya" tadi. Tetapi bila dibaca dengan minat untuk mengerti kemanusiaan, sambil merasa-rasakan apa yang dialami Yusuf, akan tampil seorang tokoh Yusuf yang sungguh nyata, yang berhasil menjalani liku-liku kehidupan dengan bimbingan ilahi menghindari jatuh ke dalam pengaruh yang jahat. Yusuf itu "orang pintar" yang ideal, tokoh kebatinan yang berpijak di bumi. Dia itu seperti Yusuf di Mesir yang pandai membaca arti mimpi, juga seperti Daniel si bijak yang akrab dengan dunia malaikat. Memang Matius berbicara kepada pembaca yang tahu alam pikiran Perjanjian Lama. Mereka itu segera menangkap maksudnya.

OMONG-OMONG DENGAN MATT
Malam Minggu kemarin Matt mengajak ke pasar malam Piazza Navona dan menikmati vino cotto di situ sekadar penghangat malam di musim dingin ini. Kayak minum wedang ronde di alkid Jogja.

GUS: Matt, kenapa kau buat cerita keluarga kudus itu mengungsi ke Mesir dan balik lagi?
MATT: Dalam ayat 15 kan kujelaskan, ini supaya digenapi yang difirmankan Tuhan dalam Hos. 11:1, "Dari Mesir Kupanggil anak-Ku!"
GUS: Kalau boleh kutebak, kau itu waktu ingat Musa dan umat yang dipimpinnya kan? Dan menerapkannya kepada Yesus, ya cak?
MATT: Ekseget! Tapi musti juga kalian tekankan, dulu Musa dan orang-orang yang dibawanya itu rombongan penakluk tanah terjanji. Sekarang ini cuma satu keluarga kecil yang sering kalian orang modern gambarkan sebagai Yusuf yang sedang menuntun keledai yang dinaiki Maria yang menggendong anaknya.
GUS: Jadi sekarang bukan lagi perkara menaklukkan tanah terjanji dengan pekik kemenangan, tapi menampilkan sosok kemanusiaan yang membiarkan diri dibimbing kekuatan ilahi menjauhi yang jahat?
MATT: Bener! Aku cuma mau mencatat gambaran orang dulu mengenai keluarga yang kalian rayakan sekarang sebagai keluarga kudus. Dalam usia waktu itu Yesus belum tampil sebagai dirinya sendiri. Ia masih perlu dibesarkan ibunya. Maka dia kusebut dalam hubungan dengan ibunya. Tapi setelah agak besar ia akan diasuh bapa keluarga, siapa itu tak penting, apa ayahnya atau orang yang menjalankan peran itu.
GUS: Dan kau mau menekankan Yusuf itulah yang mengasuh dan membesarkannya?
MATT: Ya, juga untuk menunjukkan siapa Yusuf itu. Dari dialah nanti Yesus akan mendapat banyak. Belajar mengenal dunia, belajar mengenal
BapaNya di Surga. Belajar memperhatikan orang-orang lain seperti Yusuf sendiri.
GUS: Tapi, Matt, apa bisa dikatakan bagi orang zaman sekarang bahwa tokoh Yusuf sendiri sebenarnya bukan pusat pengisahan. Yang mau kau tonjolkan kan peranannya sebagai pengasuh. Jadi dengan kepolosan seperti yang ada pada Yusuf itu, siapa saja bisa ikut membesarkan kehadiran Yang Ilahi, merawatnya dengan penuh perhatian. Ulah batin katakan saja begitu.
MATT: Dan itulah kebijaksanaan yang masih bisa berlaku bagi orang zaman apa saja. Yes, an appeal to humanity, nothing is more convincing than that, my friend. Dari situ baru bisa orang mulai omong tentang yang di Surga sana.

Dan malam itu kami pun ngobrol mengenai apa saja. Beberapa kenalan ikut nimbrung mempersiapkan homili di tengah keramaian pasar malam. Asyik.

Malam itu di rumah saya bolak-balik membayangkan cara Matt membicarakan kisah-kisah keluarga kudus yang disusunnya itu. Dia yang kelihatannya tradisional dan suka ngikut establishment itu sebenarnya orang yang berpikir merdeka tapi juga yang amat menghormati sudut-sudut keramat dalam kehidupan ini. Ternyata dengan cara yang tak habis saya mengerti itu Matt mampu menampilkan Yusuf sang Pendiam itu sebagai orang pintar yang besar peranannya.

DARI BACAAN PERTAMA
Pada awal petikan Sirakh 3:2-6.12-14 ditandaskan bahwa anak-anak ialah penghargaan yang nyata-nyata telah diberikan Tuhan ("Tuhan telah memuliakan") kepada seorang bapak. Anak-anak juga menjadi tanda dari atas bahwa seorang ibu benar-benar telah berhasil mendidiknya ("hak atas para anaknya diteguhkanNya"). Pernyataan dalam ayat 2 itu diberikan bukan sebagai anjuran melainkan sebagai penegasan mengenai yang betul-betul sudah terjadi.
Bisa disimpulkan bahwa orang tua anak-anak tadi memang dekat pada Tuhan dan mampu melihat dan memperlakukan keturunan mereka sebagai pemberian dariNya. Ayat-ayat selanjutnya dalam bacaan ini menyampaikan "penerapan" kenyataan tadi dari sisi anak. Dikatakan dalam ayat 3. bahwa menghormati bapak menjadi silih dari dosa dan memuliakan ibu sama dengan mengumpulkan harta, dan orang yang demikian tentunya juga bakal menemukan kebahagiaan pada anak-anaknya nanti dan mujur hidupnya serta panjang umurnya. Begitu seterusnya ditandaskan bahwa berbakti terhadap bapak atau ibu mendatangkan kebaikan bagi sang anak.
Pada akhir ayat 6 muncul kembali sisi ilahi. Disebutkan, orang yang taat kepada Tuhan mendatangkan ketenangan bagi ibunya. Dalam bahasa aslinya, "taat" diungkapkan sebagai "mendengarkan dan menuruti". Penandasan bahwa "orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya" di sini berisi ajakan yang ditujukan baik kepada sang anak maupun kepada ibunya - dan tentunya kepada orang tua pada umumnya. Kepada anak diminta agar menjaga ketenangan batin orang tuanya dan kepada orang tua diisyaratkan agar melihat anaknya dalam hubungan dengan Tuhan, bukan hanya dengan diri mereka sendiri. Ini imbauan agar orang tua tidak memaksa-maksakan pandangan atau keinginan-keinginan mereka sendiri kepada anak-anak mereka.
Mereka hendaknya memberi ruang kepada Tuhan untuk ikut membesarkan anak mereka sehingga mahir mengenaliNya, mendengarkanNya, dalam bahasa bacaan kali ini, "taat kepadaNya".
Dan keterbukaan seperti itulah yang membuat keluarga juga menjadi tempat Yang Ilahi bisa hadir, seperti yang terjadi dalam keluarga kudus yang pestanya dirayakan kali ini. Sang bapak keluarga, Yusuf, membiarkan kebijaksanaan ilahi sendiri membimbing perjalanan hidup keluarganya. Dan inilah perlindungan terbaik yang bisa diberikannya kepada anak dan ibunya.

 

 

###############################

 

Hingga saat ini kurang jelas bagaimana padanan Indonesia bagi kata dan gagasan Jawa "diprimpeni". Apa "didatangi impian/ mimpi"? Tapi bila begitu mimpinyalah yang menjalankan kegiatan datang, padahal kan bukan begitu. Jadi kurang tepat. Bagaimana dengan "mendapat mimpi"? Namun rasanya terlalu menekankan orangnya sehingga nanti ada yang berusaha ikut-ikutan mendapatkan mimpi, dan akibatnya bisa runyam. Biasanya Orang yang begini biasanya ini susah diajak bicara baik-baik karena sudah merasa yakin betul-betul "diprimpeni" dan bukan "ngimpi" belaka. NB, di sini tidak dibicarakan mimpi sehat yang biasanya membuat ybs. berani bilang "ik voel mij kiplekker" - rasanya fit. Dan yang jenis yang ginian ini bisa berguna bagi teori & praktek bimbingan rohani.

Tetapi karena tak ingat apa pernah sungguh "diprimpeni" saya sangsi apa bisa mengenali pelbagai nuansanya. Bisakah kita berkata bahwa Si Polan "diprimpeni" sanaknya yang baru saja meninggal tapi masih pesan dari alam gaib bahwa ada emas berkilo-kilo ditanam di halaman belakang?
Saya kira ya, tapi ini kan wacana tak ada juntrungnya tapi yang pernah dipercaya bahkan oleh seorang menteri agama RI beberapa kabinet yang lalu yang ndudah situs Prasasti Batutulis. Tetapi bagaimana dengan peristiwa Yusuf "diprimpeni" malaikat yang bolak balik dikisahkan Matt?
Malaikat kok "mrimpeni". Kok kayak arwah orang mati saja. Beberapa malaikat yang saya tanyai tidak membenarkan isi kalimat itu. Malah ada yang kurang senang karena dianggap bertugas "mrimpeni" manusia. Bagaimanapun juga soalnya belum terpecahkan, yakni apa sih "diprimpeni" (een droomverschijnsel krijgen), apa bisa dibalik jadi "mrimpeni" (in de droom verschijnen)?

Ada tokoh-tokoh besar yang dalam saat-saat gawat "diprimpeni". Misalnya Yusuf suami Maria - yang kita dengar kebijaksanaannya dalam perayaan Keluarga Kudus tahun ini. Ia pintar mengenal dunia yang tak kasat mata yang waktu itu sarat dengan jerat-jerat si jahat. Yang diperolehnya ketika "diprimpeni" membuatnya mahir berjalan aman menghindari ranjau Herodes ayah-anak. Begitu pula para Majus, mereka juga mengerti bisikan dari atas sana dalam bentuk "diprimpeni" supaya tak usah mampir ke Herodes lagi. Tapi ada beberapa tokoh lain yang juga kerap "diprimpeni". Yusuf yang lain, yaitu seorang anak Yakub, jadi ahli tentang "primpen", bukan ahli mimpi dan jelas bukan tukang mimpi. Ini perkara yang sudah diselesaikan oleh para pujangga Ibrani dulu. Satu ketika saudara-saudara Yusuf yang ini iri dan dengki kepadanya dan berniat bikin celaka. Mereka menunggu dia di tempat sepi. Ketika melihat Yusuf datang, mereka saling berbisik, "Nih, si tukang mimpi itu datang!" Dan cerita selanjutnya kita tahu. Pembaca Kej. 37:19 itu pasti tersenyum dan melihat betapa konyolnya para saudara Yusuf tadi. Mereka tak menginsyafi apa yang terjadi pada Yusuf - ia "diprimpeni", yakni sebuah pengalaman batin jernih mengenai hal-hal besar dan bukan mimpi-mimpi tentang dirinya sendiri belaka. Begitu seterusnya. Tapi ada lagi tokoh besar, yakni Daniel, yang "diprimpeni" agar bisa menolong orang yang merasa "kena mimpi" seram.

Banyak yang menduga Daniel menjadi ahli penafsir mimpi. Dan memang dalam Kitab Daniel ia diceritakan bisa menafsirkan mimpi, tetapi bukannya dia mengutarakan pendapat-pendapatnya sendiri melainkan menyampaikan apa-apa yang telah "diprimpen-kan" kepadanya oleh Yang Di Atas. Ini juga perkara eksegese yang semakin ramai dibincang-bincangkan dewasa ini.
Begini ceritanya. Pada akhir pembukaan Kitab Daniel (Dan. 1:20) ditandaskan bahwa Daniel itu "orang pintar" yang kepandaiannya 10 kali lipat dari semua orang berilmu dan ahli jampi-jampi di Babilonia, sarangnya para ahli tenung zaman itu. Jadi Daniel memang tokoh peng-pengan. Ia dapat membaca mimpinya raja Nebukadnezar dan malah menjelaskan maknanya. Nah di sini ada sisi yang biasanya luput dari mata pembaca modern. Raja Nebukadnezar dalam bab 2 "mendapat mimpi" yang absurd dan tidak jelas maknanya. Baru jelas ketika diterangkan seluk beluknya oleh Daniel yang "diprimpeni" Yang Maha Tinggi mengenai mimpi itu (Dan. 2:9) agar dapat menjelaskannya. Lihat betapa jauhnya perbedaan antara "mendapat mimpi" dan "diprimpeni". Yang satu tak keruan, bikin waswas, mengacaukan, menakutkan. Yang kedua jernih, jelas, menaruh perkara dalam proporsi yang benar, bikin orang takwa - bukan takut. Menghalau waswas dan meniupkan kelegaan. Baca saja Daniel bab 2, akan jelas ke situ kan arahnya. Dalam bahasa Aram dan juga Ibrani bisa dibedakan antara "mendapat mimpi" dan "mendapat penglihatan malam" (Jawanya "diprimpeni"), meski kedua-duanya bersangkutan dengan mimpi. Catatan, Dan. 1:1-2:4a bahasanya Ibrani, 2;4b-7:28 Aram; 8:1-12:13 kembali Ibrani. Nanti dalam Dan. 7 dst., Daniel "mendapat mimpi" dan sekaligus "diprimpeni" mengenai makna mimpinya".

Bagaimana membedakan mimpi ragenah tadi dengan pengalaman "diprimpeni"? Dalam Alkitab, "diprimpeni" itu tidak menyangkut hal-hal sensasional dan isapan jempol, melainkan kenyataan, meski cara penggambarannya bisa simbolik dan fantastis. Ini paradoks, tapi ya begitu. Mendapat penglihatan malam, "diprimpeni" itu amat berbeda. Di situ tersangkut perkara-perkara besar umat manusia. Ini pegangan paling jelas untuk membedakan mimpi yang bisa ditahayulkan dengan mimpi yang asalnya dari yang Mahatinggi. Pegangan selanjutnya ialah bahwa perkaranya bukan urusan untung rugi sang subyek, bukan perkara orang-perorangan, seperti misalnya yang bersangkutan akan jadi kaya, atau sebaliknya, bangkrut usahanya, atau leluhur minta sesaji dst. Jadi bukannya Yusuf (baik yang dalam Kejadian maupun yang ada dalam kisah Matt) akan dapat keuntungan pribadi, melainkan agar ia ikut serta dalam mewujudkan yang dimaui Yang Mahatinggi. Dua pegangan tadi (menyangkut hal besar kemanusiaan dan bukan urusan pribadi belaka) mesti sama-sama dikenakan untuk menguji apa ini "diprimpeni" atau bukan.

Luc kita pernah cerita tentang kejadian "diprimpeni" yang amat besar dampaknya bagi sejarah profan dan agama. Buka saja Kisah Para Rasul 16:9-10. Di situ dituturkannya penglihatan malam hari yang dialami Paulus - dalam bahasa kita, Paulus "diprimpeni" di Troas, sebuah lokasi di Turki. Ia "diprimpeni" orang Makedonia (Yunani utara, bumi Eropa, bukan lagi bumi Asia) yang berkata kepadanya, "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Maksudnya, menyeberang dari Troas (di Turki, Asia) ke sana (ke Makedonia, bumi Eropa). Dan memang Paulus berlayar menyeberangi laut yang memisahkan Asia dan Eropa itu. Inilah asal mulanya Yesus Kristus diwartakan ke bumi Eropa. Kita bayangkan, Paulus dikawal paranormal dan sekaligus managernya, yakni Luc, sampai di kota Filipi, kota pertama bagian Makedonia - Eropa - tempat hunian warga Roma di perantauan dan tinggal beberapa hari di situ (ayat 11) dan kisah selanjutnya ialah dikenalinya kuasa Yesus Kristus di situ ketika Paulus mengeluarkan roh pesugihan (= thuyul?) dari seorang perempuan sihir yang dipekerjakan untuk memperkaya majikannya. Ini semua ada dalam Kis. 16:13-18. Menarik. Anda juga akan bisa melihat beda antara yang mimpi yang tak keruan dan petunjuk yang benar dari Yang Mahatinggi.

Tetapi yang mau disampaikan dalam kisah itu ialah saat pertama kalinya iman akan Yesus Kristus tumbuh di bumi Eropa. Dan orang yang pertama yang memeluk iman ini ialah Bu Lidia, saudagar perempuan kosmopolit asal Tiatira (di Turki Barat) tapi hidup dan memiliki perusahaan besar di Filipi (Makedonia, bumi Eropa). Bisnisnya ialah berdagang kain mahal ("kain ungu" - bisik Luc dalam Kis. 16:14, busana kaum bangsawan kaya). Ia dan seantero stafnya dibaptis, tambah Luc lebih lanjut. Tentunya Bu Lidia ini besar pengaruhnya di kalangan ibu-ibu jetset di Filipi (lihat saja Kis. 16:13). Mereka itulah penopang perkembangan awal misi Paulus di Eropa. Dan kiranya inilah penjelasan historis-teologis Luc bagaimana kekristenan berkembang di bumi Eropa.

Pembicaraan di atas sekali lagi menunjuk pada dua pegangan dalam menentukan apa itu "diprimpeni": satu, menyangkut perkara besar (perkembangan iman ke Eropa) dan kedua, bukan perkara untung rugi sang misionaris Paulus, melainkan panggilan ilahi, seperti ditulis Luc dalam Kis. 16:10 [dari diprimpeninya Paulus itu] "...kami menarik kesimpulan bahwa Yang Mahakuasa benar-benar memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana (= Makedonia, bumi Eropa)." Inilah membedakan roh-roh, inilah menguji roh-roh yang juga bisa berhubungan dengan pengalaman "diprimpeni".

Dalam kebatinan tingkat tinggi aliran Oom Hans ada yang dinamakan "menguji roh"; coba lihat 1Yoh. 4.1: "Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetap ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah... Dan konteks selanjutnya dalam surat itu akan makin memperjelas bagaimana sih menguji roh-roh itu. (nb. IGNATIUS lOYOLA DALAM BUKU 'LATIHAN ROHANI', memberikan cara "PEMBEDAAN ROH JAHAT DAN ROH BAIK"

Salam hangat,
A. Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.