INJIL MINGGU BIASA XVI B, tanggal 23 Juli 2006  (Markus 6:30-34)

KE TEMPAT SUNYI BERISTIRAHAT SEJENAK

 

Kedua belas murid yang diutus dua berdua ke pelbagai tempat untuk menyiapkan kedatangan Yesus kini kembali berkumpul dengan dia. Injil jelas-jelas menyebut mereka "rasul", artinya orang yang diutus. Dalam pengutusan itu mereka dibekali kuasa atas roh jahat sehingga orang-orang yang mereka datangi dapat mulai mengenal siapa yang mengutus. Orang yang luar biasa. Dan ia bakal datang sendiri ke tempat kami! Tak mengherankan banyak yang tak sabar menunggu. Ada yang mengikuti para rasul yang kembali menemui sang guru. Orang-orang itu ingin segera melihat sendiri siapa dia yang dikabarkan para utusannya. Itulah suasana yang melatari Markus 6:30-34 yang dibacakan pada hari Minggu ini. Para pendengar di zaman ini boleh mencoba memasuki suasana batin itu dengan ikut merasa-rasakannya.

KEINSAFAN YANG BERKEMBANG
Terasa betapa besarnya semangat para utusan yang kembali tadi. Kiranya mereka berhasil dan diterima di mana-mana. Mereka merasa bisa leluasa berbicara mengenai siapa Yesus yang bakal datang ke tempat itu. Tidak dirincikan apa yang mereka sampaikan. Tetapi boleh kita simpulkan dari sebuah peristiwa lain yang dicatat dalam Markus 8:27-30. Di Kaisarea Filipi, dalam perjalanan berkeliling dari tempat ke tempat, Yesus menanyai para murid apa kata orang mengenai siapa dia itu. Ada pelbagai pendapat: Yohanes Pembaptis, Elia, atau seorang nabi. Begitulah pengertian orang banyak sebelum mendengar pewartaan para rasul. Kemudian Yesus pun menanyai murid-muridnya siapa dia menurut mereka sendiri. Mewakili para murid, dalam Markus 8:29 Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Inilah keyakinan mereka. Dan tentunya keyakinan inilah yang mereka bawa kepada orang banyak. Ada soal. Bagaimana dengan larangan keras Yesus agar jangan memberitahukan tentang dia kepada siapa pun pada akhir peristiwa itu, Markus 8:20. Namun Yesus tidak menyangkal kemesiasan yang diyakini para murid tadi. Yang tidak dimauinya ialah mengobral sebutan Mesias begitu saja dengan akibat mudah disangkut-pautkan dengan pergerakan mesianisme politik waktu itu. Dari peristiwa ini dapat diperkirakan bahwa yang diberitakan para utusan tadi ialah kemesiasan Yesus yang sejati. Itulah yang mereka sampaikan dalam ujud ajakan agar orang berpikiran luas ("bertobat") dan menjadi manusia utuh (tidak dikuasai "setan" dan "penyakit") seperti tertulis dalam Markus 6:12-13. Dalam menyampaikan keyakinan kepada orang banyak dengan cara itu, para rasul sendiri juga semakin menyadari siapa Yesus itu. Inilah kiranya yang dibicarakan para rasul di hadapan guru mereka sekarang.

Sementara itu orang banyak juga berdatangan mengerumuni para rasul yang sedang berkumpul kembali dengan Yesus. Orang-orang pergi datang menemui murid-murid dan guru mereka sehingga makan pun mereka tak sempat (Markus 6:31). Catatan ringkas Markus itu menunjukkan betapa besarnya harapan orang-orang itu. Makin terasa bedanya dengan orang-orang yang mempertanyakan wibawa Yesus dalam Markus 3:20-30. Di situ, di sebuah rumah, orang banyak mengerumuninya dan Markus juga menambahkan bahwa "makan pun mereka tidak dapat" saking tidak mau kehilangan kesempatan mendekat kepadanya. Tapi di tempat itu, ironinya, keluarga Yesus sendiri menganggapnya "tidak waras lagi", dan ahli-ahli Taurat mengatakan Yesus "kerasukan Beelzebub", nama setan yang ditakuti. Kini dalam Markus 6:30-34 komentar sumbang seperti itu tidak terdengar. Orang-orang yang berdatangan mengikuti para rasul menemui Yesus itu penuh antusiasme dan harapan.


 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.