Injil Minggu Biasa XVI/C, tanggal 22 Juli 2007  (Lukas 10:38-42)

KUNAFA MARTA, SENYUM MARIA
 


Rekan-rekan yag baik,
Kisah dua perempuan bersaudara dalam Lukas 10:38-42 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVI tahun C ini acapkali dipandang sebagai anjuran agar orang memilih bersikap seperti Maria yang duduk bersimpuh mendengarkan Tuhan dan jangan seperti Marta, saudaranya, yang tenggelam dalam kesibukan pelayanan belaka. Tetapi dalam teks Injil Lukas itu tidak kita jumpai Yesus yang memuji-muji Maria, tidak pula ada celaan terang-terangan atau halus terhadap sikap Marta. Yesus bertamu untuk menerima kebaikan mereka dan ia menukarnya dengan Kabar Gembira, bukan sindiran atau ajaran-ajaran yang kerap dititipkan atau dipaksa-paksakan ke dalam Injil.

DI RUMAH MARTA
Cerita ini terjadi di rumah "seorang perempuan yang bernama Marta" (ayat 38). Tokoh ini kiranya memang seorang perempuan terpandang yang tinggal di sebuah suburbia. Terjemahan "desa" dapat memberi kesan keliru. Dari Yohanes 11:1 kita tahu rumah Marta itu di Betania, semacam pemukiman yang berkembang dalam hubungan dengan sebuah kota tua, yakni Yerusalem. Di Betania itu juga nanti Yesus dielu-elukan sebagai raja (Lukas 19:29, Markus 11:1). Mereka yang tinggal di tempat seperti itu biasanya orang yang cukup berada. Gagasan "suburbia" lebih cocok, seperti "Kebayoran Baru"-nya Jakarta atau "Candi Baru"-nya Semarang atau "BSD". Begitulah bisa sekadar kita bayangkan kedudukan sosial Marta dan Maria.
Di beberapa tempat lain dalam Injil disebutkan Yesus mengajar dari kota ke kota dan dari "desa ke desa". Sebetulnya yang dimaksud ialah dari kota dan wilayah suburbianya. Memang Gereja pertama berkembang di kalangan itu. Di tanah Palestina dulu tak ada banyak hunian yang mirip desa yang biasa kita bayangkan, yaitu pemukiman yang terpisah dari dunia perkotaan. Di sana sini di padang gurun memang ada hunian kaum Badui, tetapi mereka tidak menetap di satu tempat melainkan berpindah-pindah secara musiman. Di wilayah padang gurun memang ada pertapaan dan orang perkotaan sekali-sekali datang untuk "nyepi" atau minta berkah orang suci seperti Yohanes Pembaptis. Di mana orang "miskin" tinggal? Tempat mereka meneduh biasanya di luar pintu gerbang kota, tetapi tidak di suburbia kota itu. Mereka biasa meminta sedekah di jalanan dari mereka yang keluar masuk kota. Bersama dengan penderita kusta, orang buta, orang miskin tinggal di luar kedua wilayah hunian itu. Mereka betul-betul kaum marginal, tak masuk hitungan. Para murid dari generasi kedua yang memang orang kota dan suburbia makin peka akan keadaan mereka yang terpinggir ini dan berbuat banyak untuk mengentas mereka dari kemelaratan. Dalam hal ini terasa paling jelas kesadaran kalangan murid yang dikenal Lukas.
Marta dikenang para murid generasi kedua sebagai perempuan terpandang yang rumahnya pernah menjadi tempat singgah Yesus bersama murid-muridnya dalam perjalanan menuju Yerusalem. Memang tak sedikit perempuan yang "melayani rombongan Yesus dengan harta mereka" (Lukas 8:3 lihat juga Lukas 4:39; Markus 15:40-41). Dan kedua bersaudara ini termasuk kelompok penunjang seperti itu. (Maria saudara Marta itu bukan Maria Magdalena.) Di rumah itu Yesus tidak hanya singgah, ia juga sempat mengajar. Di situ ia diterima baik, tidak seperti di sebuah tempat di Samaria yang diceritakan sebelumnya dalam Lukas 9:53-56.

DUA CARA MENERIMA KEDATANGAN YESUS
Tentu saja Marta bangga rumahnya disinggahi. Ia berusaha sebaik-baiknya melayani tetamunya. Terutama tamu yang satu ini. Tidak heran, ibu rumah tangga ini mulai sibuk menyiapkan ruang, perhelatan, apa saja yang pantas bagi kesempatan ini. Ia tidak ingin nanti dibicarakan orang bahwa jamuannya tak semeriah Bu Anu.... Kita bayangkan Marta ke sana ke mari mencicipi ini itu, menyuruh si ini si itu, agak mengomel kok begini begitu, ia pegang komando sore itu... Lha di mana Maria? Tuh, malah "duduk dekat kaki Yesus" ikut-ikutan mendengarkan uraian ilmu ketuhanan yang sedang dibeberkan Yesus kepada para bapak terhormat di ruang tamu! Bagaimana si Maria ini, pikir Marta. Di zaman itu memang tak biasa perempuan diterima menjadi murid ahli agama. Yesus ini nyleneh. Kok tidak merasa kurang enak kuliahnya ikut dihadiri perempuan. Marta makin kesal. Dan pada ayat 40 rasa jengkelnya itu sempat mendarat pada Yesus, "Tuhan, kok diam saja melihat saudaraku ini membiarkan aku sendirian keteteran melayani!" Tipe Marta itu masih dapat dilihat di sekitar kita, perempuan baik hati dan cekatan, meski ceplas-ceplos dan rada intimidating. Maria lain. Siapa yang lebih menerima Kabar Gembira? Tak perlu tergesa-gesa kita jawab.
Tentang Maria tidak banyak kata ditulis. Namun ia menjadi perhatian semua pihak: Marta yang kesal terhadapnya, Yesus yang akan mengatakan sesuatu tentangnya, dan orang banyak, dan homilist hari ini juga. Jangan lupa, juga perhatian Lukas penginjil! Maria perempuan yang berani dalam caranya sendiri, tak kalah dari Marta, ia nekat mendengarkan kuliah Yesus. Ia tak membiarkan diri dibatasi rambu-rambu tingkah laku bagi kaum perempuan waktu itu. Tapi ia tidak mencari-cari pembenaran teoretis. Mungkin juga bukan soal baginya. Tak terpikir olehnya teori emansipasi, apalagi wacana seputar konstruksi sosial gender. Perangainya tidak konfrontatif. Sekarang ia sedang asyik mendengarkan perkataan Yesus - "duduk dekat kaki Tuhan", seperti dibisikkan Lukas kepada pembacanya dalam ayat 39. Langsung sesudahnya, Lukas menulis "sedangkan Marta sibuk sekali melayani". Sikap mendengarkan ditaruh Lukas berjajar dengan kesibukan melayani. Ini bukan penilaian. Bukan juga untuk membuat kita memilih. Ia mengajak kita mengamat-amati serta menikmati peristiwa manusiawi itu dan belajar mengenal kemanusiaan sendiri.

MELACAK KISRUHNYA TEKS
Bukan maksud Lukas memperlawankan kerohanian kontemplatif dan spiritualitas aktif. Tidak juga seperti Yesuit yang getol menyarankan sintesis antara keduanya dalam ujud "contemplatio in actione". Lukas lebih apa adanya, lebih lugu. Tapi juga lebih lembut. Ia memperlihatkan, di dalam perjalanan ke salib, ke Yerusalem ini, ada orang-orang yang menyambutnya secara khusus tapi dengan cara mereka masing-masing.
Pada akhir episode itu Yesus mengatakan Maria sudah memilih "bagian terbaik" yang tak akan diambil darinya. Apa itu? Mendengarkan Tuhan? Agar supaya tidak terlalu cepat meloncat ke tafsiran seperti itu, baiklah diketahui bahwa paling sedikit ada lima versi teks pada ayat yang memuat "bagian terbaik" tadi. Ini menunjukkan saratnya upaya penafsiran dari zaman dulu: (1) Marta, Marta, Maria telah memilih bagian terbaik... (2) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, Maria telah memilih bagian terbaik.... (3) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya beberapa saja yang perlu; Maria telah memilih bagian terbaik.... (4) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian terbaik.... (5) Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal; tapi hanya beberapa saja yang perlu atau malah hanya satu saja; Maria telah memilih bagian terbaik....
Jelas (5) itu hasil gabungan (3) dan (4), dan masing-masing dari (3) dan (4) itu berisi tafsiran tentang apa yang dimaksud dengan tak usah banyak repot dalam (2). Teks (1) boleh jadi telah kehilangan "engkau khawatir...dengan banyak hal" yang memuat amatan Yesus mengenai Marta. Mana yang benar? Teks Lembaga Alkitab Indonesia, memilih (4), mengikuti pemakaian teks utama dalam liturgi. Tradisi ini memang sepatutnya dihargai. Mari kita coba mengerti alam pikiran pengarangnya sendiri.

"MEMILIH YANG TERBAIK"
Luc kemarin datang ngobrol ke rumah saya. Beberapa minggu ini memang ia tak kelihatan. Maklum baru saja ia kembali dari menengok kampung halamannya. Dibawanya oleh-oleh sebesek kunafa, penganan nyamikan Timur Tengah bermadu, kenyal-kenyal kemripik berisi kacang pistacchio gepuk. Di sore musim panas itu kami mulai bicara ke sana ke mari mengenai orang-orang zaman dulu, termasuk kedua bersaudara Marta dan Maria.
GUS: Marta masuk lagi ke ruang tamu, bangga, membawa penampan dengan tambahan kunafa dan heran melihat minumannya kok ternyata belum dihidangkan. Tadi Maria kan sudah dipesan menyuguhkan teh, lha nyatanya tetap duduk terpaku di bagian depan kumpulan itu Maka Marta minta Yesus membangunkan Maria dari lamunannya supaya mengambilkan minuman. Marta sendiri masih akan menyiapkan tumpeng kus-kus.
LUC: Imaginatif! Apa akan terbit di jurnal penulisan kreatif?
GUS: [Dapat angin.] Mengenai "satu saja yang perlu" yang dikatakan Yesus, gimana juntrungnya? Apa maksudnya satu macam saja suguhannya sudah cukup, tak usah banyak-banyak. Kunafa cukup, tak usah tambah kueh amandel baklava. Atau Yesus sebenarnya mau bilang, ala kadarnya saja, tak usah macam-macam?
LUC: [Kelihatan geli, lalu menambah] Maria memang barusan memberi Yesus seiris kunafa yang betul-betul dipilihnya sebagai potongan "yang terbaik". Kubayangkan Yesus memaksudkan, "Sudahlah, Marta, kan Maria memilihkan [sepotong kunafa] yang terbaik yang kau suguhkan tadi dan memberikan padaku dengan senyum. Kunafa buatanmu rasanya jadi tambah manis! Sudah kucicipi, takkan diambil orang lain - tuh piringnya masih dipegangkan Maria!"
Luc meraih cangkir dan menghirup teh hibiscus hangat kegemarannya, lalu mendesis puas. Terhenyak saya oleh humornya yang enteng tapi padat berisi itu. Eksegese kunafa! "Yang terbaik" itu memang hasil olahan Marta tapi dipilih dan disampaikan oleh Maria. Dan tanpa memandang perangai masing-masing, Yesus menerima kebaikan mereka berdua. Kunafa atau apa saya "yang satu yang perlu" (ayat 42) itu sekadar tanda mereka bertiga saling memperkenalkan diri masing-masing. Yesus tidak minta agar lebih didengarkan. Ia sudah senang rombongannya diterima dengan ramah. Pemberian apa saja dapat membuatnya puas.

Sampai larut malam kami ngobrol di kebun Biblicum. Setelah mengantar Luc sampai ke gerbang, terlintaslah di benak saya, malam itu, di Betania Yesus dan murid-muridnya sempat mendapatkan tempat menaruh kepala untuk beristirahat, hal yang sebenarnya sudah tak mereka harapkan lagi (lihat Lukas 9:58; Matius 8:20). Kebaikan dua perempuan bersaudara itu membuat orang yang berjalan menuju ke Yerusalem itu bisa sekadar menarik nafas. Satu saja yang perlu, yang terbaik, kunafa hasil jerih payah Marta yang dihidangkan oleh Maria dengan senyum.

 

 

NUANSA "TUAN" dan "TUHAN"

Rekan-rekan,
Berikut ini sekadar penjelasan tambahan mengenai pemakaian kata "Tuhan" dalam kisah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42) yang dibacakan Minggu 22 Juli 2007 dan khusus tentang terjadinya kata itu dalam bahasa Indonesia.

1. Dalam Lukas 10:39 disebutkan bahwa Maria "duduk di dekat kaki Tuhan". Ungkapan ini mengandung arti harfiah Maria bersimpuh dekat tempat Yesus duduk mengajar, tapi sekaligus juga berarti yang bersangkutan ialah murid, bukan pendengar sesaat. Memang pada zaman itu di masyarakat Yahudi perempuan diterima sebagai murid oleh seorang ulama waktu itu. Tetapi perlu diingat kisah ini berkembang di kalangan Lukas, yakni kalangan para pengikut Yesus yang lebih merdeka, tidak amat terikat oleh kebiasaan dan adat orang Yahudi. Di kalangan itulah justru banyak murid dari kalangan perempuan. Ini terjadi dengan kalangan yang dikunjungi Paulus dalam perjalanannya. Bahkan pengurus komunitas di Korintus ialah Bu Priskila (istri Bang Aquilla), seorang pebisnis perempuan mandiri (berani pakai nama sendiri, tidak nunut nama suami) yang juga dikenal di Roma waktu itu. Ada beberapa tokoh seperti ini di tempat lain juga.

2. Pokok lain yang menarik dan dapat membantu lebih memahami Injil pada umumnya ialah penyebutan Yesus sebagai "Tuhan" seperti dalam ayat itu, walaupun jelas yang sedang diceritakan ialah tokoh Yesus orang Nazaret, guru dan penyembuh tenar yang akhirnya bernasib tragis di Yerusalem. Ini bukan perkara terjemahan. Aslinya ialah kata Yunani "kyrios", bisa dialihbahasakan sebagai "tuan" tapi juga sebagai "Tuhan". (Atau bila dipakai sebagai sapaan, seperti oleh Marta dalam Lukas 10:40, menurut tatabahasa Yunani bentuknya ialah "kyrie!", yakni "tuan!" tapi bisa pula "Tuhan!"). Mana cara yang tepat untuk memahami? Baiklah diingat bahwa kisah ini (juga seluruh Injil) baru muncul di kalangan umat paling tiga puluh tahunan setelah Yesus disalibkan sebagai pewartaan bagi generasi kedua kalangan murid. Ketika itu sudah mantap warta dan kesadaran di kalangan umat bahwa:
(a) Yesus itu ialah "Dia yang Terurapi" (Kristus/Mesias), yang resmi datang dari Allah sendiri.
(b) Dia telah bangkit pada hari ketiga setelah dimakamkan mengikuti penyalibannya di bawah pemerintahan Ponsius Pilatus.
(c) Ia bukan saja guru dan penyembuh tenar dari Nazaret yang mengajarkan bahwa Yang Mahakuasa itu bisa dialami dan dipanggil sebagai Bapa. Yesus Kristus itu sendiri kini diimani sebagai yang ada bersama dekat dengan Bapa yang tadi diajarkannya kepada orang banyak. Ini terungkap dengan penyebutannya sebagai "Putra". Dan kedekatan dengan Bapa ini jaminan bahwa pengajaran tadi itu benar.

3. Oleh karena itu, dalam kesadaran umat, Yesus yang bangkit itu kini dialami sebagai Tuhan yang memperkenalkan bukan saja dengan ajaran dan tindakan siapa Bapanya itu, melainkan yang bisa menghadirkanNya dalam dirinya - dalam kehadiran yang khusus di tengah umat yang mengingatnya. Dan inilah perspektif yang ditampilkan penulis Injil kepada pembacanya. Kata "kyrios" yang dipakai merujuk Yesus dalam Injil mengacu pada Yesus dari Nazaret ("tuan") dan sekaligus Kristus Iman ("Tuhan") seperti dijelaskan tadi. Berarti Injil menampilkan Yesus sejarah dan sekaligus mempersaksikan bahwa ia itu ialah Tuhan orang beriman yang mengakui dia sebagai Kristus. Ini kunci memahami kisah-kisah Injili.

4. Megenai asal usul kata "Tuhan" dan "tuan" khusus dalam bahasa Indonesia:
(a) Kata "Tuhan" sebenarnya muncul sebagai ucapan hiperkorek (jadi "keliru") dari huruf H dalam T-W-H-N, satu bentuk penulisan yang kurang lazim dari kata "tuan" dalam ejaan Arab Melayu. Penulisan yang sesuai dengan kaidah ialah T-W-N. (Huruf W di situ mewakili bunyi [u] dalam silaba pra-akhir yang terbuka; ini kaidah standard.) Huruf H dalam T-W-H-N itu sebetulnya upaya dalam penulisan pra-standard untuk mereproduksi bunyi [h] lemah yang masih terdengar di antara sukukata [tu] dan [an]. (Bandingkan dengan ucapan "bahasa" yang sebenarnya ucapan hiperkorek dari "basa"; juga "baharu" -"baru".) Ucapan hiperkorek [tu-han] dengan [h] beraspirasi keras itu kemudian dipakai khusus untuk menyebut Tuhan dan selanjutnya makindikembangkan pemakaiannya di kalangan Kristen dan masuk dalam kosakata umum bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Demikianlah kata "Tuhan" menjadi kata tersendiri, makin terpisah dari kata "tuan". Dalam bahasa Jawa diversifikasi leksikal seperti ini hanya terjadi lewat perbedaan huruf kecil-huruf kapital, ucapannya sama: gusti-Gusti, jadi seperti banyak bahasa lain yang kita kenal.
(b) Dari segi etimologi, kata "tuan" dibentuk dari "tua" dan "-an" dengan penyederhanaan ucapan [a-a]. Imbuhan -an pada kata sifat kerap menghasilkan kata benda dengan arti 'yang seperti...'. Jadi "tuan" secara etimologis berarti yang mirip dengan kaum tua, karena memang yang bersangkutan tidak selalu benar-benar tua usia, tetapi kedudukan, derajat serta kehormatannya seperti para tetua. Bentukan "tuan" sudah membatu sehingga tak diingat lagi bahwa asalnya dari kata "tua". Dalam bahasa Indonesia sekarang bentukan semacam masih kelihatan dalam kata "manisan" (nyamikan yang rasanya manis dan asam seperti manisan asem dan manisan salak), "kuningan" (logam yang warna idealnya "kuning" walaupun lebih sering tampak coklat kusam seperti kran wastafel pasturan yang jarang digosok Brasso). Dengan kata dasar lain, bentukan dengan -an memiliki makna lain, yakni yang di- seperti dalam "ringkas-an", "curi-an". Bandingkan juga bentukan gaya Jakarta "tua-an" dikit, "besar-an dikit" yang punya makna "lebih ..." ).
(c) Kata "tuan" dapat dipakai sebagai kata sapaan dan kata ganti orang kedua dalam ragam sopan gaya lama: "Ya tuan (=sapaan), sekiranya tuan (=kata ganti orang kedua) berkenan datang ke pondok hamba,...." Selain itu, dalam arti 'yang seperti orang tua, terhormat, berwibawa, dst.' kata "tuan" juga dapat dipakai sebagai sebutan honorifik seperti "Tuan/Tn." Zainal dst. Berlawanan dengan itu, bentukan leksikal yang relatif baru, yakni "Tuhan" tidak (belum?) dapat dipakai sebagai sebutan honorifik seperti itu; tak ada *Tuhan Baal walaupun sebagai kata sapaan sudah dipakai: " Di manakah Engkau, ya Tuhan?" Kata "Tuhan" juga tidak dipakai sebagai kata ganti orang kedua sekalipun acuannya ialah Tuhan sendiri.

Mudah-mudahan catatan ekesege dan linguistik di atas bermanfaat.

 


Salam hangat,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.