Minggu Biasa IX/A, tanggal 6 Maret 2011  (Matius 7:21-27 dan Ulangan 11:18.26-28.32)
 

MASUK KERAJAAN SURGA
 


Rekan-rekan yang baik,
Dalam Matius 7:21-27 Yesus menegaskan bahwa yang membuat orang masuk ke Kerajaan Surga ialah menjalankan kehendak "Bapa-ku yang di surga" dan bukanlah semata-mata menjalankan pelbagai kebaikan, seperti bernubuat, mengusir setan, bermukjizat demi nama Tuhan. Pengajaran ini bagian dari Khotbah di Bukit (Matius 5-7) yang memuat dasar-dasar kehidupan umat baru: Sabda Bahagia (5:1-12) yang dilanjutkan dengan penegasan bahwa para murid itu garam dunia (5:12-14) dan bahwa Yesus mengajar untuk meneguhkan serta menjalankan yang sudah mereka ketahui dari Taurat Musa (5:17-48). Khususnya bila memberi sedekah, hendaknya tak usah mempertontonkannya (6:1-4), begitu juga bila berdoa (6:5-15; "Bapa Kami" 9a-13) dan berpuasa (6:16-18). Umat diajar agar tak terikat pada kekayaan duniawi 6:19-24) dan menumbuhkan sikap pasrah kepada kebesaran ilahi agar rasa khawatir teratasi (6:25-34). Hendaknya murid tidak bersikap mau menghakimi orang lain (7:1-5), hendaknya bersikap hormat akan barang keramat (7:6), berteguh dalam memohon (7:7-11), berani berusaha walau jalan kebenaran terasa sesak dan sempit pintunya (7:12-14), sambil mewaspadai sikap kesalehan palsu (7:15-23), tetapi hendaklah bijaksana dan penuh perhitungan (7-24-27). Orang banyak menjadi takjub karena Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

DARI BACAAN PERTAMA (Ulangan 11:18. 26-28. 32)
Konteks pengajaran Yesus ialah kehidupan rohani umat Perjanjian Lama. Dapat dikatakan, inti kerohanian mereka ialah meluhurkan Sabda Ilahi dan menyediakan diri untuk ditempatiNya. Dengan demikian mereka berbagi hidup denganNya dan menemukan kebahagiaan sejati. Sabda dapat dikenali dalam ujud Taurat yang memuat macam-macam ketetapan serta peraturan kehidupan umat. Oleh sebab itu, menjalankan semua ini dengan sebaik-baiknya menjadi jalan menuju ke kebahagiaan hidup dan keselamatan. Kesadaran seperti ini tercermin dalam bacaan pertama, Ulangan 11:18. 26-28. 32. Orang diimbau agar menaruh perkataan ilahi dalam hati dan jiwa - maksudnya dalam pikiran, anganan, dan dalam kehidupan. Juga diminta agar perkataan itu diikatkan sebagai tanda pada tangan dan menjadi lambang di dahi (ayat 18). Begitu maka semua perbuatan ("tangan") dan maksud tujuannya ("dahi") dihubungkan langsung dengan Sabda Ilahi sendiri. Tentu saja bukannya tindakan luar belaka. Bila tidak disertai kesungguhan, maka perkataan yang mendatangkan berkat itu malah membuat orang terkutuk justru bila tidak menjalankannya (ayat 26-28). Oleh karena itu orang sekali lagi diimbau untuk mengikuti ketetapan-ketetapan dan peraturan hidup yang membuat kehadiran Sabda terlaksana dalam kehidupan umat (ayat 32). Boleh dikatakan "hukum-hukum Taurat" dimaksud untuk memudahkan orang mendekat kepada Sabda Ilahi sendiri. Tetapi bukanlah peraturan-peraturan itulah yang menjadi pokok. Lama kelamaan dalam keagamaan umat Perjanjian Lama hukum-hukum itu disamakan dengan tujuan sehingga memberatkan. Oleh karena itu berkembang profesi para ahli hukum Taurat yang menjelaskan makna peraturan dan mengarahkan pada tujuan hukum itu sendiri.

Pada zaman kemudian ada pengajar-pengajar yang justru menekankan sisi hukum dan bukan isi serta tujuannya. Mereka membuat umat terbebani. Sabda Ilahi yang memerdekakan batin malah tidak ditekuni. Pengajaran Yesus di Bukit (Matius 5-7) khususnya 5:17-48 bertujuan mengembalikan peraturan Taurat ke tujuan semula. Dan orang banyak menangkap arah ini, oleh karena itu diceritakan Matius bahwa mereka takjub Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti para ahli Taurat mereka (7:28-29).

AGAMA OBROLAN & OBRALAN?
Sebuah ironi bahwa agama sering menjadi buah bibir dan dibicarakan dalam banyak kesempatan, tetapi berhenti dalam bentuk obrolan belaka. Memang enak memperkatakan hal-hal yang ada "di sana", bebas dari macam-macam kenyataan yang tak mengenakkan dalam hidup sehari-hari. Kerap juga sumber-sumber hidup agama, terutama Kitab Suci dikemas dalam bentuk seruan-seruan moral seperti barang obralan belaka. Inilah kiranya yang melatari Matius 7:21 "Bukan setiap orang yang berseru kepadaku 'Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di Surga." Memang agama menolong orang untuk melihat arah ke depan, ke hidup kekal, ke keselamatan. Namun menaruh agama dalam arahan itu sering membuat orang lupa daratan, menjauhi kenyataan di sekeliling. Masalah ini saya bawa kepada Matt.

GUS: Ini nih, Matt, kok petikan kali ini ditaruh dalam hubungan dengan "pada hari terakhir" (ayat 22), maksudnya apa?
MATT: Saat orang tahu betul apa yang betul dan apa yang tidak.
GUS: Lho, jadi sekarang ini tidak begitu jelas mana yang benar?
MATT: Kiranya begitu. Tapi ada pegangannya, sudah disebut di situ: menjalankan kehendak "Bapa-ku yang ada di Surga".
GUS: Penjelasannya bagaimana, umat di paroki masih bertanya-tanya.
MATT: Ehm, ungkapan "Bapa-ku yang ada di Surga" itu khas ajaran sang guru kita Yesus. Ingat, bahwa "Bapaku" itu kalau dilacak Aramnya dikatakan bukan untuk membedakan "Bapaku" dengan "Bapamu" atau bapanya kaum ini atau itu, tapi untuk menyebut Yang Mahakuasa dengan cara akrab, dekat, tanpa sungkan-sungkan.
GUS: Kok masih kabur. Apa maksudnya membedakan Tuhan Allah yang jauh dan yang dekat, penuh perhatian?
MATT: Persis! Dalam doa Bapa Kami para murid diajak untuk belajar berani memanggil Yang Mahakuasa dengan cara itu. Jadi kita didorong untuk belajar mendekat ke Yang Mahakuasa tanpa takut-takut, walau hormat dan pasrah. Maka doanya berlanjut dengan "jadilah kehendakMu".
GUS: Tapi apa sih kehendak Bapa itu? Bagaimana kita bisa tahu?
MATT: Belum belajar? Lupa novisiat? Begini, orang Perjanjian Lama boleh tahu yang dikehendakiNya lewat Taurat. pada zaman Yesus orang banyak diajak mengikuti tafsir Taurat yang hidup dan menakjubkan, yakni Yesus sendiri. Itu dia pegangannya.
GUS: Jadi gampangnya, kalau buka Kitab Suci, kitab pertama, Kejadian mulai dengan pernyataan kehendak Yang Mahakuasa, "Jadilah terang!" dan begitu ciptaan mulai dan seterusnya. Ini kan pegangan kita? Kehendak ilahi dalam menciptakan wahana kehidupan di jagat ini?
MATT: Wah, pintar nih. Lalu?
GUS: Dari Oom Hans kita tahu bahwa "terang" itu ialah Sabda, yang kenyataannya ialah Yesus yang kita ikuti ini kan?
MATT: Eh, kalau begini terus nanti kami jadi murid.
GUS [geli, Matt sih memang tidak kenal tulisan Oom Hans, tahunya hanya Mark]: Kita setuju saja, melakukan kehendak Bapa yang di Surga itu sama dengan tidak menghalangi agar Terang semakin meluas dan Sabda makin didengar.
MATT [serius mukanya]: Ya tentu itu yang dimaksud! Mereka yang menggembar-gemborkan telah begini begitu sebenarnya tidak membiarkan Sabdanya makin kedengaran, melainkan kata-kata mereka sendiri. Masuk Kerajaan Surga itu bukan upaya sendiri melainkan diupayakan oleh Yang Di Atas sana. Hanya perlu membiarkan diri dibawa ke sana.

DUA JALAN
Dalam bagian kedua Injil Minggu kali ini disampaikan perumpamaan mengenai orang yang membiarkan diri diresapi Sabda, yakni "mendengar perkataanku dan melakukannya" sebagai orang yang membangun rumah di atas batu. Akan tetap kokoh sekalipun diterpa hujan dan angin. Tetapi yang mendengar dan tidak menjalaninya - tidak membiarkan diri dirasuki Sabda - seperti rumah yang dibangun di atas pasir, bakal rubuh dilanda air banjir hujan dan angin. Tetapi perumpamaan ini tidaklah sesederhana itu. Masalahnya bukan "sanggup" atau "kurang sanggup" menjalankan yang didengar. Bila begitu akan tampil sebagai seruan moral yang bagus didengar tapi risikonya berhenti pada kesalehan belaka. Matius menaruh persoalannya pada tradisi kebijaksanaan. Orang yang membangun rumah dengan dasar yang kukuh ialah "orang bijak", tapi yang mendirikan rumah di atas pasir hanyalah "orang bodoh". Perumpamaan mengenai membangun rumah di atas batu atau di atas pasir disodorkan sebagai dua jalan. Yang satu jalan kepintaran yang mengantar ke keselamatan, yang lain jalan kebodohan yang mendorong ke kehancuran.

Dalam alam pikiran orang Yahudi, hidup beragama yang benar baru terwujud bila dijalani dengan bijaksana. Bahkan boleh dikatakan, kebijaksanaan ialah keagamaan yang sejati. Bukannya semata-mata menetapi hukum-hukum. Bukannya sekadar menyuarakan ajaran-ajaran. Bukannya melulu menjalankan ini itu "atas nama Tuhan". Orang bijaksana memperhitungkan tindakan-tindakannya. Seperti dalam perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima lain yang bodoh (Matius 25:1-13), diperhitungkan keadaan yang tidak diharapkan: mempelai datang larut malam, atau seperti dalam perumpamaan kali ini, hujan angin. Hendak disampaikan gagasan bahwa menepati ajaran agama tidak otomatis memperoleh jalan masuk ke Kerajaan Surga. Malah yang beranggapan demikian akan mengalami kerugian besar.

 


Salam,
A. Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.