Tanggal 2 September 2007  (Matius 8:5-13)
 

INJIL MINGGU KITAB SUCI NASIONAL
 


Rekan-rekan,
Apakah kiranya yang menjadi pokok perhatian kisah Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira (Matius 8:5-13) yang dipilih sebagai Injil bagi hari Minggu Kitab Suci Nasional 2 September 2007 ini? Dari kisah itu sendiri kelihatan bahwa titik pusat kisah itu ialah kata-kata Yesus menanggapi kepercayaan sang perwira kepadanya. Yesus mengungkapkan rasa herannya bahwa di antara orang-orang sekaumnya sendiri - orang Yahudi - tidak pernah dijumpainya kepercayaan sebesar itu! Perwira itu datang menjumpainya di perjalanan dan mohon agar hambanya yang lumpuh disembuhkan. Yesus berkata akan datang menyembuhkannya. Namun perwira tadi mengatakan tak layak rumahnya didatangi Yesus, tapi sepatah kata saja cukup agar hambanya tadi sembuh.

YAHUDI DAN BUKAN YAHUDI?
Pendengar Injil waktu itu akan mengerti alasan yang lazim, yakni tak patut rumah orang bukan Yahudi didatangi seorang ulama dan tokoh seperti Yesus. Apalagi ia kan seorang perwira, seorang tokoh militer Romawi, yang dianggap oleh orang Yahudi sebagai bagian kaum penindas. Tetapi ini alasan sosial. Dan memang dalam Injil masalah seperti ini sering tampil. Dipergunjingkan - tentunya orang Yahudi - mengapa Yesus duduk makan bersama para pemungut bea dan kaum pendosa di mata orang Yahudi. Mengapa kok ia tidak menyuruh murid-muridnya menjalankan pembasuhan alat-alat makan seperti para ulama lain? Mengapa ia berani mengatakan hal-hal besar seperti keakrabannya dengan Yang Mahakuasa sendiri yang dipanggilnya sebagai Bapa? Dst. Maklum di masyarakat waktu itu seorang tokoh diharapkan bertindak dan berbicara seperti lazimnya para tokoh. Jadi, menjalankan peran-peran sosial habis perkara dan semua orang puas. Tetapi tidak bagi Yesus dan kelompoknya. Ia datang
membawakan hawa segar kehidupan beragama. Ia datang memperkenalkan inti kehidupan iman. Apa itu?
Perwira tadi bukan orang Yahudi. Ia boleh jadi pernah mendengar kisah Abraham, tapi boleh jadi juga tidak begitu paham. Baginya cerita itu bisa jadi hanya cerita di kalangan orang Yahudi. Tetapi tokoh yang ini, yang dikenal orang banyak di Galilea sebagai penyembuh, Yesus, ini dia orang besar yang mesti didatanginya. Ini cara perwira itu memahami Yesus. Baginya percaya itu kongkrit. Mencarikan kesembuhan bagi seorang yang diperhatikannya, hambanya yang lumpuh dan sangat menderita (Matius 8:6) Dalam Injil Lukas (Lukas 7:2) bahkan disebutkan bahwa perwira ini "sangat menghargai" hambanya yang sakit keras itu. Maka tak segan-segan ia datang memintakan kesembuhan dari tokoh yang sebenarnya dari kalangan lain, bukan dari kalangan dia sendiri. Ini keberanian mempercaya yang amat nyata. Ini juga tindakan yang amat manusiawi. Ini juga tafsir yang paling jelas bagi kisah Abraham yang sering kali terasa terlalu besar bagi orang yang bukan dari kalangan Yahudi sendiri.
Bisa diaktualkan kepada orang-orang lain di zaman lain. Bisa diterapkan kepada semua orang yang merasa ingin mendapatkan berkat dari orang besar yang datang lewat menyembuhkan kesakitan di kalangan umat manusia.

MENERIMA KUASA SABDA ILAHI
Dikatakan bahwa perwira itu nanti, bersama banyak orang dari mana saja, akan duduk makan bersama Abraham, Ishak, Yakub, di dalam Kerajaan Allah. Ketiga bapa bangsa ini, terutama yang pertama, Abraham ialah cikal bakal semua orang beriman. Yang dilakukan Abraham itu ialah ikut menegaskan yang disabdakan Allah. Ia disuruh berangkat dari negeri leluhurnya, untuk pergi ke tanah yang akan ditunjukkanNya sendiri dalam perjalanan itu. Abraham akan dijadikanNya bangsa besar, yang akan diberkatiNya sendiri. Dan siapa yang memberkatinya akan diberkatiNya pula, siapa yang mengutuknya akan terkutuk. Oleh karena Abraham banyak orang di muka bumi akan memperoleh berkat. Abraham pun mengikuti semua yang dikatakan Allah. Itulah iman. Mengiakan Sabda Ilahi.
Masih ada sisi lain yang patut dicamkan. Perwira itu memahami kuasa Yesus dalam cara yang amat biasa baginya. Ia perwira dan punya bawahan yang akan menurut pada perintahnya. Ia cukup mengatakan ini atau itu dan akan dijalankan. Baginya Yesus yang berkuasa menyembuhkan akan dapat memerintahkan begitu. Tak perlu merepotkan diri datang. Sepatah kata saja akan cukup. Bahkan perwira itu merasa tidak pantas didatangi oleh orang besar seperti Yesus.
Baik menurut cara orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, percaya itu tumbuh dari dasar dan arah yang sama: mengenali kuasa Sabda Ilahi dan membiarkan diri dituntun olehnya. Terjadi pada Abraham, juga terjadi pada perwira ini. Abraham menegaskan kuasa Sabda Ilahi tadi dengan menjalankan yang diperintahkannya. Perwira tadi mengakui kuasa Yesus - sang Sabda Ilahi - dengan memintakan kesembuhan. Perbandingan ini menarik. Yang mau dicapai dengan percaya tidak lagi menjadi pusat perhatian. Perwira tadi memang menginginkan agar hambanya sembuh. Tetapi dalam seluruh kisah ini kesembuhan itu bukan lagi menjadi pokok. Yang menjadi pusat ialah percaya akan kuasa Yesus. Kesembuhan yang dimohonnya bagi hambanya datang sebagai yang melengkapi dan perwira itu tidak merasa perlu melihat sendiri bahwa kesembuhan terjadi. Abraham pergi meninggalkan negeri bukan demi sesuatu yang lebih menguntungkan. Ia mau berangkat, dalam kisah panggilan Abraham, justru karena Allah menyuruhnya berangkat. Ke mana dan untuk apa, itu nanti akan ditunjukkanNya sendiri. Begitu pula kejadian-kejadian dalam hidup Abraham yang diuraikan dalam Surat Ibrani 11:1-2.8-19 yang dipilih sebagai bacaan kedua bagi Minggu Kitab Suci Nasional tahun ini.

MEMBIARKAN SABDA ILAHI MENJADI BESAR
Percaya dalam hidup orang beriman pada dasarnya tidak ditentukan oleh apa yang nanti bakal diperoleh: keberhasilan, ketenaran, kebesaran, kesembuhan, keselamatan. Ya bahkan keselamatan bukan jadi pokok dalam iman. Yang pokok ialah percaya itu sendiri, mengakui dan membiarkan Sabda Ilahi bekerja dalam diri Abraham, dalam diri perwira itu, dan tentunya dalam diri kita juga. Itulah kebesaran sabda yang sesungguhnya. Tak usah diukur dengan apa yang akan terjadi. Ini malah menomorduakannya. Bisa-bisa ini malah akan berakhir dengan "mensyarikatkan" Yang Mahakuasa. Dan yang bersangkutan akan menjadi musyrik, bukan bukan lagi orang beriman melainkan penyembah berhala kesembuhan, keberhasilan, bahkan berhala keselamatan. Sabda Ilahi bukan jimat yang disembunyikan dan dilancarkan pada kejadian yang tak diinginkan, atau dikenakan pada saat-saat yang gawat.
Pandangan mengenai iman seperti yang ada dalam diri Abraham dan perwira itu membongkar banyak anggapan yang kurang sesuai. Abraham percaya bukan karena pertama-tama ada bukti kebenaran kepercayaannya, melainkan karena ia mantap mengiakan ada dengan Dia yang bersabda kepadanya. Begitu pula perwira tadi. Ia percaya bukan karena pertama-tama Yesus mendatangkan kesembuhan, melainkan karena terbangun rasa hormat besar akan kekuasaan tokoh yang sedang lewat menuju Kapernaum itu! Baik Abraham maupun perwira tadi membiarkan Sabda Ilahi menunjukkan kuasanya tanpa mengarah-arahkannya semata-mata ke kebutuhan mereka sendiri. Dengan demikian mereka malah membuat Sabda Ilahi menjadi besar dalam diri mereka dan meraja dalam kehidupan mereka.

Merayakan bulan Kitab Suci dapat menjadi cara menghayati hidup beriman seperti yang terjadi pada Abraham dan perwira tadi. Mendengarkan Sabda Ilahi, mendalaminya, mengkajinya mencari maknanya, menjadi serangkaian tindakan rohani dan jasmani, pikiran dan perasaan untuk datang mendekat kepada sang sabda sendiri. Apa yang nanti terjadi sebagai berkat tidak lagi menjadi pendorong yang paling utama. Kedekatan serta keakraban itulah yang akan tumbuh dan menjadi kenikmatan mendengarkannya.

 


Salam hangat,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.