Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa X/A, tanggal 8 Juni 2008 (Matius 9:9-13 dan Hosea 6:3-6)

PANGGILAN DALAM HIDUP SEHARI-HARI

Rekan-rekan yang baik,
Pada hari Minggu Biasa X tahun A ini dibacakan Matius 9:9-13. Petikan itu berawal dengan kisah Yesus mengajak seorang pemungut cukai yang bernama Matius untuk menjadi pengikutnya (ayat 9) dilanjutkan dengan makan bersama dengan para pemungut cukai dan para pendosa (ayat 10-13). Tindakan ini mengundang tanda tanya dari pihak kaum Farisi. Tetapi Yesus menjelaskan mengapa ia justru mau bergaul dengan orang-orang yang biasanya disingkiri. Apa maksud kutipan dari Hosea 6:6 pada ayat13a? Apa Warta Gembira seluruh petikan ini?

PANGGILAN MATIUS
Kisah ini sejajar dengan yang terdapat dalam Markus 2:14 dan Lukas 5:27. Dalam Injil Markus dan Lukas, nama pemungut cukai itu ialah Lewi. Ia bukan salah satu dari kedua belas rasul. Injil Matius menyebutnya Matius, salah satu dari keduabelas rasul. Penyusun Injil Matius mengganti nama Lewi (dari sumbernya, yakni Injil Markus) menjadi Matius untuk menghubungkan tokoh ini dengan Matius, salah seorang dari dua belas rasul, yang dalam daftar para rasul dalam Matius 10:3 jelas-jelas disebut pemungut cukai. Daftar para rasul dalam kedua Injil lain tidak menyebut pekerjaan Matius, lihat Markus 3:18 dan Lukas 6:14. Apakah kisah ini kisah panggilan seorang rasul yang namanya Matius yang pekerjaannya memang pemungut cukai atau kisah panggilan pemungut cukai yang bernama Lewi sebetulnya bukan soal yang penting. Yang hendak disampaikan di sini ialah panggilan orang yang biasanya dijauhi kaum baik-baik pada saat itu. Maklum pemungut cukai zaman itu dipandang sebagai orang yang diupah penguasa untuk memeras.
Diceritakan bagaimana Yesus memanggil orang yang sehari-hari bekerja memungut cukai menjadi pengikutnya. Ketiga Injil menggambarkan bagaimana ia langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Yesus. Sudah sejak awal identitas orang ini kabur. Hanya ada satu hal yang sama-sama dikatakan ketiga Injil, yakni waktu itu ia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai. Tidak jelas apa ia sudah berprofesi sebagai pemungut cukai atau baru magang. Pembaca dibiarkan menduga-duga. Yang penting orang itu diajak Yesus menjadi muridnya. Juga penting diingat bahwa ajakan ini diberikan kepada orang yang sedang menjalankan pekerjaan yang waktu itu dianggap pekerjaan yang kurang terhormat. Apakah Yesus hendak menunjukkan bahwa orang seperti ini juga boleh diajak? Kita diminta ikut mempertimbangkan arti tindakannya itu. Apakah ia mau "menyelamatkan" orang tadi dari pekerjaan yang akan menyeretnya lebih jauh ke arah yang keliru? Bisa saja kita bertanya demikian. Ayat itu sebaiknya menjadi titik tolak pemikiran, dan tidak langsung dijadikan dasar anggapan-anggapan saleh mengenai panggilan menjadi murid Yesus.
Perkataan Yesus "Ikutilah aku!" itu berisi ajakan menjadi murid, bukan sekedar mengikut, melainkan belajar melihat kehidupan ini dengan bantuan guru itu. Juga dapat dikatakan melihat jalan yang sedang ditempuh sang guru tadi. Tidak berarti mencontoh atau meniru begitu saja. Cara itu malah tidak membuat yang bersangkutan bisa mandiri. Ajakan itu diterima. Dikatakan Matius bangkit dan mengikut dia. Begitulah akhirnya memang menjadi muridnya. Mungkin bagi orang sekarang akan lebih jelas bila dikatakan Matius memperlihatkan komitmennya.
Rupa-rupanya Matius melihat Yesus sebagai tokoh yang memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan. Pembaca Injil dapat membayangkan apakah hal itu dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Pasti sebelumnya Matius pernah mendengar mengenai Yesus. Mungkin pernah juga ikut dalam pengajarannya di satu tempat. Yang jelas sekarang ia mempertimbangkan tawaran Yesus. Boleh jadi ia juga pernah bertemu dengan murid Yesus dan mendengar tentang guru itu. Kini ia merasa tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

SIKAP BERAGAMA YANG TERBUKA
Disebutkan bahwa Yesus kemudian makan bersama banyak "pemungut cukai" dan "kaum pendosa". Mereka ini orang-orang yang semestinya dijauhi orang yang benar atau orang yang merasa demikian. Anggapan inilah yang membuat kaum Farisi mempertanyakan mengapa Yesus bergaul dengan orang-orang yang semestinya disingkiri itu. Memang kalangan Farisi mau menerima Yesus sebagai rekan, sebagai sesama yang mau mengamalkan agama. Tetapi, pikir mereka, kok dia malah berkelakuan demikian?
Marilah kita mencoba sekadar mengikuti jalan pemikiran orang Farisi. Makan di rumah pemungut cukai bersama orang-orang seperti dia dan pendosa lain bisa berarti makan hidangan yang dibayar dengan penghasilan yang tidak sah menurut hukum agama, bahkan boleh jadi juga makan makanan yang tak halal, atau paling sedikit memakai piring mangkuk yang belum dibersihkan menurut aturan agama. Lebih parah lagi, bergaul dengan orang-orang tipis keagamaannya itu bisa menumpulkan sikap keagamaan sendiri dan condong mengikuti cara hidup para pendosa itu. Sikap mereka penuh dengan perhitungan "jangan-jangan" yang membelenggu kemerdekaan batin.
Kaum Farisi sebenarnya mau juga mendekati dan mengajak pendosa bertobat dan kembali ke jalan benar. Tapi jangan mulai kompromi, apalagi main-main dengan ajaran Taurat! Bagaimana guru tenar yang ini - Yesus - kok mau mengikuti caranya sendiri? Begitulah mereka mengajak bicara para murid Yesus. Mau "menyelamatkan" mereka dari pengajaran yang serong ini? Mau mencari tahu? Kita para pembaca Injil boleh membayangkan kemungkinan-kemungkinannya. Sekarang juga sering orang ditanya mengapa iman kristen itu begini begitu oleh mereka yang boleh jadi mau menawarkan jalan yang mereka anggap lebih cocok.
Ketika mendengar murid-murid berdiskusi dengan orang Farisi, Yesus datang menyela dan mengucapkan pepatah: bukan orang sehatlah yang butuh tabib, tapi orang sakit. Dan memang para tabib tidak boleh takut mendatangi orang sakit. Orang yang hidup di luar Taurat - orang yang tipis agamanya dalam hitungan kaum Farisi - mestinya didatangi, bukan dijauhi! Yesus memperkenalkan spiritualitas baru kepada orang-orang zaman itu. Ringkas. Praktis.

KUTIPAN DARI Hosea 6:6
Pada akhir petikan ini, dalam ayat 13a, penginjil menambahkan kata-kata Yesus yang mengutip Hosea 6:6. Orang-orang dihimbau agar mencoba mengerti makna ayat yang mengatakan bahwa Allah menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan. Kutipan itu kini dipakai untuk menegaskan bahwa Yesus datang untuk memperkenalkan kerahiman ilahi, tapi kaum Farisi menuntut diadakannya korban persembahan. Mereka malah menjauhkan inti hukum Taurat sendiri. Pembaca Injil Matius diajak mendalami siapa yang kini mereka ikuti itu: Yesus yang hidup dan membuat orang semakin mengenal kebaikan ilahi. Ataukah mereka merasa akan lebih aman bila menepati prinsip-prinsip ajaran agama belaka.
Ditekankan oleh nabi Hosea bahwa Allah ingin menyadarkan umatNya agar tidak membelenggu diri dengan anggapan bahwa mereka bisa mencapai keselamatan dengan menjalankan kurban seteliti-telitinya. Memang kurban persembahan diwajibkan supaya orang ingat dan hormat pada kewibawaan Yang Mahakuasa. Namun Hosea mengajak orang mengenali apa yang sesungguhnya dikehendakiNya. Ia bukannya menginginkan agar didupai dan diberi persembahan. Ia ingin agar umat mengenal kerahimanNya. Dan dengan demikian menemukan keselamatan. Bagaimana? Dengan ikut mengujudkannya dalam hidup sehari-hari. Itulah yang diwartakan Hosea. Dan dalam Injil Matius, warta Hosea ini digarisbawahi Yesus. Lebih dari itu, Yesus ingin agar orang banyak mengerti bahwa ia datang untuk membuat warta Hosea itu lebih dekat, lebih kelihatan, dan bisa dihayati.

SEKALI LAGI TENTANG AJAKAN MENGIKUTI DIA
Petikan hari ini berawal dengan kisah panggilan Matius. Dalam ayat 9 memang tidak muncul kata "memanggil". Tetapi tindakan Yesus mengajak Matius itu ialah panggilannya. Pada akhir kutipan, dalam ayat 13b, Yesus mengatakan bahwa ia datang bukan untuk "memanggil" orang benar melainkan orang berdosa.
Panggilan ialah ajakan yang ditawarkan, bukan dipaksakan. Karena itu bisa ditolak, diingkari, didiamkan oleh yang dipanggil. Hal ini diolah lebih lanjut di dalam perumpamaan mengenai pesta perkawinan yang diselenggarakan seorang raja dalam Matius 22:1-14. Para undangan menolak datang atau mendiamkan undangan dan malah memperlakukan buruk pesuruh raja itu (ayat 5-6). Maka ia pun menghukum mereka. Ia kemudian mengutus pesuruh untuk memanggil siapa saja yang mereka temui di jalan, "orang jahat dan orang baik" (ayat 9-10). Dan tempat perjamuan itu kini penuh dengan orang-orang ini. Mereka yang sebetulnya boleh merasa beruntung. Mereka tadinya tak masuk hitungan, tetapi kini mendapat kesempatan luas. Semuanya beres? Belum selesai perumpamaannya. Ada dari antara orang-orang ini yang datang tidak memakai pakaian pesta. Ia hanya memenuhi panggilan dengan setengah-setengah. Dan orang itu akhirnya dikeluarkan. Ajaran perumpamaan itu jelas. Dipanggil ikut menikmati kerahiman ilahi belum cukup. Perlu diusahakan agar kebaikan ilahi itu menjadi kenyataan, bukan hanya potensialnya belaka.

Dalam petikan hari ini tokoh Matius itu pertama-tama ialah orang yang berani menerima kehadiran Tuhan. Oleh karenanya ia dapat menerima dirinya. Ia tidak mundur. Ia terus mengikuti dia, menjadi murid Tuhan sendiri.


Salam hangat,
A. Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.