Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XI/A, tanggal 15 Juni 2008  (Matius 9:36-10:8 dan Keluaran 19:2-6)

PENGABDIAN RASUL DAN KEBUTUHAN UMAT
 


Rekan-rekan yang budiman,
Matius 9:36-10:8 yang dibacakan pada hari Minggu XI tahun A ini berlapis-lapis wartanya. Disebutkan dalam 9:36-38 bagaimana Yesus tergerak hatinya melihat orang banyak mengharapkan pertolongan dan dampingan. Ia menganjurkan para muridnya memohon kepada Yang Mahakuasa agar mengirim pekerja-pekerja menuai hasil yang sudah tersedia. Kemudian dalam 10:1-4 diberitakan peresmian keduabelas rasul, lengkap dengan daftar nama serta pemberian kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan dari segala penyakit dan kelemahan. Selanjutnya dalam 10:5-8 diceritakan bagaimana para rasul diutus untuk melayani mereka yang membutuhkan pertolongan.

DUA ARAH PERUTUSAN
Pada akhir Injil Matius diceritakan, para rasul diutus untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus (Matius 27:19). Tetapi ini baru terjadi setelah kebangkitan. Ketika Yesus masih di dunia, seperti disebutkan dalam petikan hari ini, ia mengutus mereka hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel. Dengan jelas bahkan disebutkan agar mereka tidak mendatangi wilayah Samaria, apalagi negeri asing dan orang luar. Baru setelah kebangkitanlah pengajaran Yesus terbuka bagi semua orang. Dan murid-murid akan ditugasi membawakannya ke semua penjuru dunia. Mereka akan menemukan cara-cara menyampaikannya kepada orang-orang yang tadinya tidak diperhitungkan. Karena mereka yang pertama-tama dituju telah menolak, ajakannya kini akan dilimpahkan kepada orang-orang lain. Begitulah penjelasan adanya dua arah perutusan.
Dalam Injil Matius, sejak awal Yesus ditampilkan sebagai raja yang mendatangi umatnya, yakni Israel. Itulah inti kisah kelahiran Yesus menurut Matius. Dia itu Imanuel yang jauh-jauh hari sebelumnya telah dinubuatkan Yesaya (Yesaya 7:14). Dia diperkenalkan sebagai raja baru di Yudea, ditakuti Herodes, tapi didatangi dengan penuh hormat oleh orang-orang bijak dari Timur.
Yesus diutus kepada orang-orang yang tak tahu lagi kepada siapa harus mencari pegangan. Dia mendatangi umat yang mengharapkan pemimpin yang tepercaya. Mereka seperti domba yang kehilangan arah, panik, tubruk sana tabrak sini. Para rasul diberi kuasa oleh Yesus sang Gembala untuk ikut melayani domba-domba tadi. Para rasul dipercaya untuk ikut mengusahakan agar umat tidak gampang terseret arus atau diombang-ambingkan keadaan yang tidak menentu. Kuasa rasuli ini seperti itu masih ada dalam komunitas orang beriman. Karena itu Gereja dapat menjadi pelayan kemanusiaan. Terutama pada saat-saat kemanusiaan membutuhkan pegangan. Tidak usah kita sempitkan pembicaraan pada masalah-masalah yang menyangkut struktur kepemimpinan dalam Gereja. Ada sejarah yang panjang yang mendasari pengaturan kelembagaan di dalam komunitas Gereja. Lebih berguna berusaha melihat bagaimana Injil hari ini mengajarkan bahwa kuasa melayani itu memang asalnya dari Yesus sang utusan Allah sendiri. Kuasa itu kuasa yang diabdikan pada umatNya. Kuasa ini sakral, baik bagi pengemban maupun bagi umat. Tidak bisa diklaim oleh perorangan. Yang mendapatkannya akan merasakan tanggung jawab yang besar dalam pelaksanaannya.
Menurut Matius para rasul diikutsertakan dalam tugas memberitakan bahwa "Kerajaan Surga sudah dekat" dan membawakan kesembuhan (Matius 10:7-8). Berwarta dan menyembuhkan, itu semua telah dijalankan Yesus sendiri. Masih ada satu kegiatan lain yang dilakukannya, yakni mengajar tentang siapa itu dirinya dan siapa Allah yang diperkenalkannya itu. Tetapi baru setelah Yesus bangkit, murid-murid akan betul-betul diikutsertakan di dalam kegiatan mengajar (Matius 27: 19). Baru setelah semuanya terjadi. Dengan kata lain, baru setelah kebenaran yang diajarkan ditegaskan oleh kuasa ilahi sendiri. Untuk sementara kini mereka masih belajar memahami kebenaran yang dibawakan Yesus dalam pewartaan dan penyembuhan.
Dalam ayat 8 para rasul diminta memberikan dengan cuma-cuma apa saja yang telah mereka terima dengan cuma-cuma pula. Artinya, mereka dihimbau agar berani berbagi keteguhan iman yang telah ditumbuhkan Allah dalam diri mereka sendiri. Hanya mereka yang berjiwa merdeka seperti ini dapat mewartakan dan menyembuhkan orang lain dalam macam-macam arti dan wujud. Tak terbatas pada hal-hal yang lazim dikenal. Iman yang hidup mengambil wujud yang tak terduga-duga. Inilah kekuatan iman dan inti kegiatan rasuli.

DUABELAS RASUL
Daftar keduabelas rasul dalam Matius 10:2-4 mengikuti Markus 3:16-19 yang menjadi dasar Lukas 6:14-16 pula. Ada beberapa perubahan dalam daftar Matius. Nama Andreas, yang ada dalam urutan ke empat dalam daftar Markus kini ditempatkan pada urutan kedua, boleh jadi untuk mendekatkan kepada Simon saudaranya. Matius juga mengubah "Matius dan Tomas" dalam Markus menjadi "Tomas dan Matius pemungut cukai", demi enaknya gaya bahasa. Namun tambahan yang paling penting yang dibubuhkan Matius ialah penyebutan bahwa Simon ialah yang rasul yang pertama. Dalam Injil Matius memang Simon lebih ditonjolkan sebagai yang pertama dari antara para rasul. Simon itu juga yang nanti dalam Injil Matius (16:17-19) digambarkan mendapat kedudukan khusus sebagai dasar umat dan juru kunci Kerajaan Surga.
Dalam Injil Matius kata "rasul" hanyalah muncul satu kali, yakni dalam Matius 10:2, begitu juga dalam sumber Matius yang masih kita lihat dalam Markus 6:30. Injil Lukas di lain pihak lebih sering memakai kata itu, boleh jadi karena Lukas melihat rasul sebagai jabatan yang ada dalam komunitas yang dikenalnya. Bagaimanapun juga, rasul itu artinya utusan. Mereka diberi kuasa menyampaikan berita dan mengerjakan urusan atas nama yang mengutus. Utusan hanya dapat mengerjakan tugasnya bila memang tepercaya, baik di mata yang mengutus maupun di hadapan mereka yang didatangi.
Keduabelas rasul itu lambang duabelas suku Israel. Gagasan duabelas suku ini berkembang sejak lama dan menjadi cara umat Perjanjian Lama memahami diri sendiri. Oleh karena itu dapat menjadi lambang yang menyatukan umat yang mau membangun diri sebagai umat baru yang dihidupi oleh kekuatan Tuhan sendiri. Amat berbeda dengan pandangan yang terpancang pada pegangan yang sudah-sudah dan yang makin membatu, pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah tanpa arti lagi, pada hukum yang menyesakkan, pada rasa takut melulu.

DARI BACAAN PERTAMA (Keluaran 19:2-6)
Spiritualitas kerasulan di atas erat hubungannya dengan gasasan pokok dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana umat yang berjalan menuju Tanah Terjanji kini tiba di padang Sinai, dan berkemah di depan gunung. Musa yang memimpin mereka naik menghadap Yang Maha Kuasa di atas gunung untuk mendengarkan sabdaNya dan menyampaikannya kepada umat.. Di sana ia mendengar bahwa bila umat sungguh-sungguh mendengarkan sabdaNya dan berteguh pada hukum-hukum perjanjianNya maka umat akan menjadi "harta kesayanganNya", artinya dekat padaNya dan diperhatikan secara khusus. Umat akan menjadi "kerajaan imam", artinya mereka menjadi sekumpulan orang yang menjadi pengantara seluruh umat manusia dan seluruh bumi ke hadapan Yang Maha Kuasa. Tugas ini mulia walaupun berat. Namun umat akan menjadi "bangsa yang kudus", maksudnya, dikhususkan dari antara bangsa-bangsa lain. Tentunya bukan untuk memisahkan diri belaka, melainkan dikhususkan agar dapat menjalankan penugasan menjadi pengantara tadi.
Pengertian-pengertian khas "bangsa kesayangan", "kerjaan imam", "bangsa khusus" di atas mendasari kerohanian dalam penugasan kedua belas rasul dalam Matius 10:1-8. Mereka diberi kuasa mengusir roh jahat, artinya menjauhkan hal-hal yang bisa menghalangi manusia mengalami kehadiran Allah yang memberi kelegaan. Juga mereka diberi kuasa menyembuhkan dari penyakit dan kelemahan. Ungkapan ini sama cakupannya dengan mengusir roh jahat. Mereka diberi kuasa. Namun pelaksanaannya dipercayakan kepada masing-masing. Di situlah terletak keluhuran panggilan rasuli. Menurut Matius 10:5 para rasul diutus. Mereka kini diminta mengamalkan kuasa yang dipercayakan kepada mereka untuk melayani orang-orang.

MEMBUAT TUAIAN BERLIMPAH?
Dalam Injil, musim menuai kerap dipakai sebagai ibarat sudah tibanya saat memetik hasil usaha yang telah lama dijalankan dan dinanti-nantikan buahnya. Orang-orang pada zaman itu hidup dalam harapan akan datangnya seorang pemimpin yang akan membawa mereka ke jalan yang aman. Orang-orang butuh pegangan. Dan kegiatan Yesus di tengah-tengah banyak orang pada zamannya menjadi tanda bahwa kini Allah mendatangi umatnya dalam diri tokoh ini. Banyak orang berhasrat mendekat dan memperoleh sesuatu darinya. Musim menuai sudah tiba.
Ajakan meminta agar empunya tuaian, yakni Allah sendiri, mengirim lebih banyak pekerja-pekerja dimaksud agar tuaian makin utuh dan melimpah. Bila tidak ada cukup penuai, batang gandum dan bijinya akan kering membusuk dan tak berguna lagi. Begitulah jalan pikirannya. Penuai jelas menentukan berhasil tidaknya musim tuaian. Minat dan harapan yang besar di kalangan umat akan sia-sia bila tak ada cukup orang yang melayaninya. Mereka akan tetap antre di luar. Siapa yang tidak iba hati melihat keadaan ini?
Mengapa bukan para murid yang diminta agar mencari dan menemukan penuai-penuai, mengapa empunya tuaian-lah yang diminta mengirim pekerja-pekerja? Boleh jadi memang ada hal yang hendak ditonjolkan. Diajarkan sikap melepaskan klaim bahwa kerasulan yang begini atau yang begitu adalah urusan si rasul sendiri: jika sukses ya karena kerjanya baik, kalau gagal ya karena kurang efisien. Pemikiran seperti ini kiranya justru mau dijauhi. Sering dalam pelaksanaan kerasulan para tokoh bersitegang mengenai cara mana akan lebih jitu, siapa yang lebih cekatan menjalankan urusan. Kerajaan Surga memakai ukuran-ukuran lain. Berhasil tidaknya penuai boleh jadi hanya Dia saja yang tahu. Karena itu kegiatan rasuli yang sejati itu kegiatan yang membawa orang makin mendekat kepada Dia yang mau menolong orang-orang yang butuh bimbingan dariNya sendiri.

 


Salam hangat,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.