Injil Minggu Biasa XXV B, tanggal 24 September 2006  (Markus 9:30-37)

Petikan hari Minggu kali ini memuat pernyataan yang kedua dari Yesus kepada murid-muridnya mengenai kesengsaraan, salib, serta kebangkitannya. Setelah itu ia juga memberi pengajaran agar dalam mengikutinya para murid tidak berpamrih bakal mendapat kedudukan. Sebelum mendalami pengajaran ini marilah ditengok sejenak maksud serta makna pemberitahuan mengenai sengsara tadi bagi komunitas para murid waktu itu.

PERNYATAAN MENGENAI KESENGSARAAN


Meskipun diakui oleh orang-orang yang paling dekat sebagai Mesias, namun Yesus lebih memahami dirinya sebagai Anak Manusia dan bahkan menegaskan dirinya akan ditolak, disalibkan, tetapi akan dibangkitkan. (Lihat ulasan Injil Minggu lalu, Markus 8:27-35). Pernyataan ini muncul hingga tiga kali dalam Injil Markus, Matius dan Lukas. Yang pertama, Markus 8:31-33//Matius 16:13-23//Lukas 9:22, yang kedua Markus 9:30-32//Matius 17:22//Lukas 9:43b-45 dan yang ketiga, Markus 10:32-34//Matius 20:17-19//Lukas 18:31-34. Pernyataan pertama diikuti pengajaran khusus bagi siapa saja yang mau mengikutinya, yakni agar mereka sedia "menyerahkan nyawa", maksudnya berdedikasi penuh Markus 8:34-39//Matius 16:24-28//Lukas 9:23-27. Pernyataan yang kedua dilanjutkan dengan pengajaran untuk tidak mencari kedudukan tinggi, melainkan bersikap seperti anak kecil Markus 9:34-37//Matius 18:1-5//Lukas 9:46-48. Pernyataan ketiga ditegaskan dengan pengajaran mengenai kesediaan melayani satu sama lain Markus 10:35-45 Matius 20:20-28 (Lukas tidak menyertakan padanannya). Dari ikhtisar itu kelihatan bahwa arah ke salib dan kebangkitan itu memang sulit dipahami, bahkan oleh murid-murid terdekat yang sudah lama mengikutinya. Jalan untuk memahami kenyataan salib dan kebangkitan itu ialah kesediaan untuk menerima tanpa memikirkan serta mementingkan diri ataupun mencari kedudukan yang tinggi. Inilah yang diberikan dalam pengajaran yang mengikuti setiap pernyataan tadi.
Semakin mendekat ke Yerusalem, semakin menuju salib dan kebangkitan, Yesus semakin berusaha agar murid-murid terdekatnya dapat menerimanya dengan ikhlas. Namun murid-murid sulit memahami mengapa ia perlu mengalami penderitaan hingga kematian di salib. Mengapa Yang Maha Kuasa tidak menyertainya dengan bala tentara surga dan dunia untuk membangun kejayaan umat di hadapan para penentang-penentangnya. Pertanyaan seperti ini memang pertanyaan yang ada dalam lubuk hati mereka. Juga dalam hati kecil kita. Mengapa perlu sampai sejauh itu. Mengapa ia dan juga kita seolah-olah dibiarkan sendirian di hadapan kekuatan-kekuatan yang kini semakin mengancam kita.

MENGHADAPI KEKUATAN YANG JAHAT DENGAN SALIB
Kekuatan jahat perlu ditekuni dengan salib, seperti yang dilakukan Yesus. Baru dengan demikian daya gelap akan dapat dikuasai dan diubah menjadi kekuatan terang. Namun perlu disadari bahwa salib bukan identik dengan apa saja yang membuat penderitaan terasa. Ada banyak penderitaan yang bukan salib dan mestinya bisa dihindari, dan diatasi dengan kebijaksanaan hidup dan ikhtiar. Pelbagai ketimpangan sosial tidak bisa dikatakan salib, melainkan musibah sosial yang mesti ditangani dengan serius. Menyebutnya sebagai salib tidak membawa manfaat apapun kecuali menutup mata pada kenyataan. Dan mengurangi makna salib yang sesungguhnya. Yang perlu diterima sebagai salib ialah yang dihadapi oleh Yesus sendiri, yakni penolakan manusia terhadap kebaikan ilahi. Inilah realitas yang jahat yang hanya dapat dihadapi dengan salib.
Penderitaan serta kematian Yesus itu akan berakhir dengan kebangkitan. Unsur yang paling membedakan salib dengan penderitaan biasa ialah ada tidaknya kaitan dengan kebangkitan. Bahkan salib dan kebangkitan ialah satu realitas dengan dua muka yang tak dapat dipisahkan. Bila tidak ada kebangkitan maka tak dapat dikatakan penderitaannya mengalahkan yang jahat. Juga tidak dapat ditegaskan bahwa ada kebangkitan tanpa salib. Seperti dalam peristiwa pemberitahuan pertama, ketika mendengar pemberitahuan kedua para murid juga kurang menangkap maksud Yesus

SIAPAKAH YANG TERBESAR?
Adegan beralih dari sebuah tempat di Galilea yang namanya tidak disebut ke sebuah rumah di Kapernaum, juga di wilayah Galilea. Di rumah inilah Yesus menanyai para murid tentang apa yang mereka bicarakan di perjalanan. Mereka diam tak berani menjawab, karena mereka tadi mempertengkarkan mengenai siapa di antara mereka yang terbesar. Mereka cukup tahu, tidak sepatutnyalah mereka berpikir demikian. Tetapi guru mereka tidak memarahi mereka, melainkan mengajak mereka untuk mengenal diri dengan lebih dalam. Mereka kini sudah bukan lagi orang luar dan pengikut baru. Mereka telah berjalan bersama Yesus dari tempat ke tempat, telah melihat yang diperbuat bagi orang banyak, telah mulai ikut serta melayani mereka. Murid-murid ini ialah Yang Duabelas, kalangan paling dekat dengannya sendiri. Mereka dimaksud sebagai inti umat yang baru yang akan memperkenalkan Yang Ilahi kepada segala bangsa. Inilah orang-orang yang memang mempunyai niat mengikuti Yesus. Kok malah kini mau saling mengecilkan agar dikenal bahkan di kalangan sendiri sebagai orang yang lebih penting. Begitulah yang terkilas dalam pikiran mereka. Memang mereka masih butuh belajar membuat diri searah dengan dia yang mereka ikuti.
Yesus pun memberi mereka pengajaran khusus mengenai apa itu menjadi yang pertama. Ia tahu tiap orang mempunyai hasrat menjadi orang penting. Orang yang tidak memiliki dorongan ke arah itu juga sulit menemukan makna hidup. Namun apa yang membuat penting, itulah yang bermacam-macam. Dan tidak selalu benar dan cocok dengan pilihan hidup yang sudah mulai ditempuh. Inilah keadaan para murid waktu itu. Guru mereka membantu mereka semakin menemukan diri.
Diajarkan bahwa yang ingin menjadi yang pertama, hendaklah menjadi yang berdiri paling belakang dan melayani semuanya. Jelas hendak itunjukkannya bahwa mementingkan orang lain bakal membuat pengikut Yesus menjadi besar. Yesus sendiri melakukannya. Seluruh hidupnya ditujukan untuk mengusahakan kebahagiaan orang lain, memperoleh keselamatan bagi umat manusia. Perjalanannya ke salib dan kebangkitan itu sebuah ziarah yang bakal menyelamatkan umat manusia dari kungkungan kuasa yang jahat yang tak dapat dipecahkan kecuali dengan pengorbanan dan keikhlasan untuk itu.
Para murid diajar untuk menerima anak kecil - artinya menerima anak kecil sebagai yang penting meski ia tak dapat menonjolkan diri pernah berbuat banyak dan berjasa, dst. Ia diterima bukan karena yang diperbuatnya melainkan karena berharga tanpa jasa sendiri. Itulah spiritualitas yang sepantasnya berkembang dalam diri para murid dalam mengikuti guru mereka.

MENGIKUTI DIA
Ada manfaatnya bila hal di atas dipahami bersama dengan pengajaran yang diberikan setelah pemberitahuan kesengsaraan yang pertama dan yang ketiga. Titik berat dalam pengajaran yang disampaikan setelah pemberitahuan sengsara yang pertama ialah kesediaan berdedikasi utuh dalam mengikuti Yesus (Markus 8:34-38). Injil mengungkapkannya dengan "merelakan nyawa". Namun bukan sisi pengorbanan melulu yang ditekankan, melainkan sisi keuntungannya. Dikatakan siapa yang kehilangan nyawanya "karena aku dan karena Injil" malah akan mendapatkan keselamatan bagi dirinya (Markus 8:35).
Jadi tekanan bukan pada kemartiran atau berani mati demi agama dan iman. Tafsiran ke arah itu kurang membantu dan malah meleset. Yang dituju ialah keberanian untuk menanggalkan serta meninggalkan pikiran-pikiran sendiri mengenai apa itu mengikut Yesus dan membiarkan diri dituntun olehnya dan dengan demikian dapat mengalami sendiri apa itu berjalan bersama dia. Jadi "kehilangan nyawa" di situ ialah membuka diri untuk menerima kekayaan batin yang sejati. Spiritualitas ini memberi arti pada "menyangkal diri dan memikul salib dan mengikuti dia" yang dikatakan dalam ayat sebelumnya (ayat 34). Bukan memikul salib apa saja, melainkan ikut ambil bagian dalam meringankan salib yang dipanggul Yesus. Itulah salib yang bermuara pada kebangkitan.
Sesudah pemberitahuan kesengsaraan yang ketiga kalinya diceritakan Yakobus dan Yohanes meminta Yesus agar mereka dapat duduk di kanan dan kirinya bila ia memperoleh kemuliaannya kelak. Yesus menanyai mereka apa mereka bersedia minum dari cawan yang diminumnya dan dibaptis dengan baptisan yang diterimanya. Maksudnya, menjadi senasib sepenanggungan. Mereka menyatakan sanggup. Sekalipun demikian, Yesus menukas, ia tak berhak memberikan kedudukan yang mereka inginkan itu karena hanya diberikan kepada yang pantas menerimanya - siapa pun orang itu (Markus 9:35-40). Kemudian Yesus menambahkan, siapa ingin menjadi besar hendaknya menjadi orang yang mau melayani, yang mau menjadi yang pertama hendaknya ada di bawah, sebagai hamba, seperti ia sendiri (Markus 9:43-45).
Begitulah dari ketiga pengajaran tadi dapat dilihat apa artinya mengikuti Yesus. Pertama-tama, tentu bukan meniru-niru dia, melainkan membiarkan diri dibentuk olehnya sendiri. Kedua, tidak memaksa diri menjadi orang besar, melainkan bersedia datang kepadanya tanpa apa-apa yang dapat diperhitungkan sebagai jasa yang patut mendapat ganjaran. Akhirnya, mengikuti dia itu ialah semakin membiarkan diri dituntun oleh Yang Maha Kuasa sendiri ke tempat dan kedudukan yang sudah disediakan olehNya sendiri yang tak terduga macamnya. Bapa yang Maha Baik pasti akan memberikan yang terbaik menjadi sumber kekuatan. Inilah iman yang ditumbuhkan Yesus dalam diri murid-muridnya.



Salam hangat,
A. Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.