Injil Minggu Biasa XXI B, tanggal 27 Agustus 2006  (Yohanes 6:60-69)
 

SANDUNGAN
 


Rekan-rekan yang baik,
Apa yang dimaksud Yesus ketika mengatakan dirinya ialah Roti Kehidupan yang turun dari surga (lihat Yohanes 6:41, bdk. ayat 51 60)? Bahkan murid-muridnya yang terdekat ikut mempertanyakan klaim seperti itu. Lebih sukar lagi mengerti penjelasan Yesus dalam Yohanes 6:65 (bdk. ayat 44) bahwa tak ada seorang pun dapat datang kepadanya bila Bapa tidak mengaruniakannya. Untuk menemukan jalan sampai ke Bapa katanya perlu lewat Yesus, tapi sekarang ditandaskan, untuk datang ke Yesus perlu karunia dari Bapa. Mau ke mana omongan yang berlingkar-lingkar ini? Tak mengherankan banyak yang meninggalkannya dan tak jadi pengikutnya lagi. Agama kan mesti dijalani, tidak diomongkan melulu! Kita ini cuma ingin menjalankan yang dimaui Yang Kuasa, kok pakai putar-putar begitu. Begitulah pikir para murid.

SANDUNGAN
Seperti disinggung di atas, kejadian ini berhubungan erat dengan pengajaran Yesus mengenai dirinya sebagai roti kehidupan dalam 6:25-50. Begini ceritanya. Di Kapernaum Yesus didatangi banyak orang yang mengharapkan makanan berlimpah seperti diberikannya beberapa waktu sebelumnya di seberang lain. Harapan seperti itu bahkan pernah membuat orang-orang sedemikian bersemangat sampai mau mengangkatnya menjadi raja. Tetapi Yesus menyingkir (Yohanes 6:15). Baik diketahui, penguasa wilayah di Galilea waktu itu ialah Herodes Antipas yang kurang disukai orang Yahudi karena memihak kepentingan kaisar Romawi. Gairah orang banyak akan Yesus dilandasi harapan akan seorang pemimpin yang lebih memperjuangkan orang setempat. Yesus pun tahu akan hal ini. Tersirat dari kata-katanya yang memuat sindiran dalam Yohanes 6:27: "...kamu mencari aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, [yakni percaya akan siapa Yesus itu sesungguhnya], melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang [Yesus dianggap berkampanye politik dengan bagi-bagi makanan gratis!]. Tapi kali ini ia tidak menjauhi orang-orang yang mencarinya, melainkan memberi pengajaran bagaimana mereka mesti memurnikan harapan mereka. Ia berusaha membuat mereka sadar bahwa yang mereka butuhkan ialah makanan yang memberi hidup kekal, bukan sekadar pengisi kebutuhan sesaat. Orang banyak diajaknya mau menyadari kehadiran ilahi di dunia ini.
Sebetulnya mereka bersimpati pada imbauan Yesus tadi, tetapi mereka juga ingin tahu bagaimana "menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah", bagaimana dapat hidup sebaik-baiknya menurut kehendakNya. Yesus menjawab, hendaknya mereka percaya kepada dia yang telah diutus Allah sendiri kepada mereka (Yohanes 6:28-29). Maksudnya, diri Yesus sendiri. Hendaknya mereka terbuka menerima ajarannya mengenai siapa Yang Mahakuasa itu dan dengan demikian memperoleh hidup dariNya. Orang-orang itu kemudian menegaskan dalam ayat 31 bahwa leluhur mereka sudah tahu dan mempercayai perkara itu - mereka diberiNya makan roti dari surga. Mereka berpikir akan Keluaran 16:4 pengalaman umat di gurun dalam perjalanan ke Tanah Terjanji. Yesus kemudian menerapkan kepercayaan turun temurun itu kepada dirinya. Dia inilah roti kehidupan yang sebenarnya, yang kini diberikan dari surga untuk membuat manusia sampai ke tujuan perjalanan hidup mereka. Bukan seperti manna yang menjadi penyambung hidup sementara, dirinya memungkinkan orang sampai pada hidup kekal (Yohanes 6:48-50).
Pengajaran baru seperti ini tidak begitu saja diterima. Injil Yohanes menyampaikan kesulitan dari dua kelompok orang. Dalam Yohanes 6:50-59 (dibacakan Minggu lalu) ditunjukkan reaksi dari kalangan orang-orang Yahudi yang berkumpul mendengarkan pengajarannya di rumah ibadat di Kapernaum. Tanggapan kritis selanjutnya datang dari kalangan murid sendiri (ayat 60-69 yang dibacakan hari ini). Sulit mencernakan penegasan Yesus bahwa dirinya itu roti kehidupan dalam artian tadi. Kok sejauh itu. Apa kami sendiri dianggap tidak mampu mengalami kerahiman Allah secara langsung. Apa ini bukan kerohanian yang berlebihan? Begitulah kiranya yang ada dalam benak para murid. Yesus mengerti kesulitan mereka. Memang perkataannya mengguncang, juga bagi mereka yang sudah mulai mengikutinya.

SPIRITUALITAS BARU
Pengajaran Yesus kepada orang-orang sezamannya dulu memang amat berani. Bukan hanya mengguncang, tapi juga serasa meruntuhkan bangunan doktrin keagamaan yang hingga saat itu tak dipertanyakan dan tak boleh dipertanyakan. Yesus mengurungkan satu pokok yang paling dasar dalam bangunan keagamaan Yahudi, yakni gagasan bahwa dari hari ke hari umat dihidupi langsung oleh Allah dengan makanan dari surga. Ditegaskannya, itu tidak cukup menjamin sampai ke tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni hidup abadi. Yang bakal menghidupi manusia ialah semua yang dilakukan dan diajarkannya. Pada kesempatan lain ia bahkan berbicara mengenai keruntuhan Bait. Dan dirinya akan menjadi Bait - tempat kediaman Allah - yang sesungguhnya. Maka orang diajak memasuki Bait yang baru ini, bersatu dengan dengan yang paling inti dalam kehidupannya, yakni memperkenalkan Allah dalam wajah kebapaannya kepada seluruh umat manusia.
Tentu saja klaim seradikal itu bikin geger. Memang bila tidak dicermati dengan hidup batin, lembaga keagamaan satu saat malah akan membekukan kehadiran ilahi yang sebenarnya tak dapat dipancang begini atau begitu dengan pasak doktrin dan peraturan ritual. Namun apa sekarang semuanya perlu ditanggalkan? Mana pegangan bahwa yang dipegang sekarang ini benar dan bukan hanya harapan semu? Tidak makin keblinger?
Yohanes mengajak pembacanya, dulu dan kini, untuk berani menghadapi soal ini. Pegangan satu-satunya ialah kata-kata Yesus sendiri. His words against our own convictions! Tapi apa kita tidak bakal jatuh ke dalam pelbagai spekulasi dan sikap otoriter lagi? Kalau mau lebih dikonkretkan? Yesus yang mana yang mesti kita pegang? Yang dijelaskan Pastor - Uskup - Paus, yang diterakan dalam Katekismus Gereja Katolik? Yang dialami dalam retret? Dan mana tuntunan Roh? Bagaimana dengan penjelasan yang jauh lebih menarik dari kalangan lain? Di situ ada kehangatan, lebih meriah, lebih menampung daripada kelompok kita sendiri! Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak.
Petikan hari ini juga menyodorkan hal sama kepada para murid dulu. Dan perkataan keras yang sulit dicerna telah membuat banyak pengikutnya mengundurkan diri. Tegas-tegas disebut demikian dalam Yohanes 6:66. Dan Yesus sendiri seperti sudah lupa daratan. Ia malah menantang kelompok yang paling dekat, paling pilihan, yakni kedua belas murid. Yesus menantang, apa kalian tidak mau pergi juga? Dan seakan-akan belum cukup, malah mengatakan salah satu di antara dua belas murid pilihannya itu bahkan telah jadi Iblis! yang dimaksud ialah Yudas Iskariot, yang akan berkhianat.

DARI SUDUT PANDANG YOHANES
Dua hal pokok disampaikan Yohanes. Pertama mengenai roti kehidupan yang turun dari surga. Berarti surga kini datang ke dunia manusia. Surga bukan lagi tempat sudah jadi yang nun jauh di sana dan belum terjangkau. Yang hendak ditawarkan Injil hari ini ialah benih Surga yang tumbuh di dunia ini yang bila tumbuh terus akan membesar dan menaungi semua yang hidup di bawahnya. Tetapi dunia manusia telah sedemikian teralienasi dari keilahian tadi sehingga tidak dapat lagi menerimanya, tak dapat mencernakannya dan menjadikannya bagian dalam kehidupannya. Ini ironi terbesar dari keberadaan manusia. Satu-satunya jalan ialah bila Yang Mahakuasa membuat manusia mampu ke sana. Caranya ialah dengan membuat satu orang dari antara manusia dapat melihat dan menghidupi kehadiran surga. Yesus ialah orang itu. Inilah kiranya yang dimaksud dengan karunia yang disebut dalam ayat 65. Sebetulnya tidak sesulit seperti dipikirkan para murid. Justru itulah yang terjadi.
Kedua, Yohanes menyampaikan pengakuan Petrus akan kemesiasan Yesus dengan cara yang khas. Di bagian awal Injilnya, Yohanes menceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis memberitahu dua orang muridnya bahwa Yesus yang lewat di situ itu adalah Anak Domba Allah (Yohanes 1:36), maksudnya persembahan yang mendapat perkenan penuh dari Allah. Salah seorang yang mendengar sang Pembaptis itu, yakni Andreas, selanjutnya menemui Simon, saudaranya dan mengatakan "kami telah menemukan Mesias" dan membawanya kepada Yesus dan Yesus memberi Simon nama baru, yakni Kefas - artinya Petrus (Yohanes 1:40-42). Dan kini di saat-saat kritis, Petrus menemukan kembali kekuatan yang memegangnya pada perjumpaan pertama tadi. Ia tak melihat orang lain yang dapat diikuti selain Yesus sendiri, ia memiliki perkataan yang membawa ke hidup kekal - ia itulah Yang Kudus dari Yang Mahakuasa. Maksudnya, dirinya itulah tempat keilahian sendiri hadir secara utuh.

Dua hal itu dapat menjadi pegangan bagi kita hari ini. Pertama, surga itu kenyataan yang dapat mulai dibangun di sini bersama dengan dia yang ada dalam batin kita - Roti Kehidupan. Kedua, perjumpaan dengan dia yang amat dekat dengan Allah sendiri menumbuhkan kerohanian yang makin matang. Yesus bukan guru yang mengajarkan abc belaka, ia mengajak orang belajar menemukan Yang Ilahi yang sering samar-samar terlihat dan lirih terdengar.


Salam hangat,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.