Setan.....Setan......Tujuh Setan.........


Rekan-rekan,
Kemarin Luc dan Mark datang ke sini dan kita membicarakan macam-macam perkara. Salah satu perkara yang saya tanyakan kepada mereka ialah siapakah itu tujuh setan yang pernah dikeluarkan dari Maria Magdalena. Perkara ini rumit secara eksegetis. Luc bersikeras hanya dia sajalah yang tahu perkara itu. Dalam Lukas 8:2 memang ia bilang bahwa Tante Lena itu ya begitu. Luc tak senang dengan keyakinan keliru dari sementara orang kurang paham ilmu tafsir bahwa Mark juga tahu menahu perkara tujuh setan itu dan bahkan menambah-nambah dengan menyebutkan bahwa Jesus yang mengeluarkan mereka (Markus 16:9). Luc mendesis, "Ya tentu, siapa lagi!" sambil meletakkan gelas teh hibiscus yang barusan dihirupnya. "Tapi jangan bilang itu dari Mark!" tambahnya jengkel.

REDAKSI DOBEL
Mark tenang dan malah membenarkan Luc. Katanya, "Luc betul, itu tuh, Markus 16:9-20 bukan dariku!" Pernyataan kalem ini efeknya bagi beberapa orang akan seperti mendengar bledeg halilintar di siang hari bolong. Jadi ayat-ayat itu ditambahkan orang zaman kemudian? Memang. Menurut para ahli, yang menyusun penutupan panjang Injil Markus itu sudah tahu isi tulisannya Matt dan Luc (yang tentunya tak diketahui Mark ketika menyusun Injilnya!) dan malah memuatkan gagasan mereka di situ.
Seolah-olah kejutan eksegetis tadi belum cukup. Mark mengatakan juga bahwa samasekali bukan dari dia penutupan yang pendek Injilnya, yakni Markus 16:8b ("Dengan singkat mereka [= ketiga perempuan] sampaikan semua pesan itu [=dari orang muda yang mereka lihat dalam kubur Yesus] kepada Petrus dkk. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridnya memberitahukan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan kekal itu.)
Jadi kayaknya Mark menabas buntung ekor karangannya sendiri,dua kali, sampai ngepok. Tapi ia juga bisa ngerti kenapa kemudian orang membubuhkan dua tambahan di atas pada karangannya. Memang aneh bila Injil kok berhenti dengan berita bahwa ketiga perempuan itu ketakutan setengah mati (Markus 16:8) dan tidak menceritakan pengalaman mereka di kubur itu kepada siapa pun. Penutupan pendek (16:8b) tadi sebenarnya untuk mengubah kesan ini dan meluruskan akhir cerita. Kan kejadiannya Petrus dkk. akhirnya tahu dan warta tadi malah menyebar ke mana-mana. Bahkan kemudian ada orang lain yang menambahkan penutupan panjang yang menggambarkan penampakan Yesus kepada para murid dan mengisahkan kenaikannya ke Surga (16:9-20).
Tentunya akan ditanyakan apa kedudukan dua tambahan penutupan itu bagi iman kita. Ah, ini perkara rumit. Iman bukan asal percaya, tapi percaya dengan kritis menalarkan sumber. Lha kalau sumbernya sungsang kayak tadi bagaimana? Hanya bisa kita pecahkan bila kita mau melihat kenyataan. Iman kristen itu tidak jadi begitu saja seperti jamur yang nongol dari tanah dalam waktu semalam. Butuh empat abad sampai bulat. Bulat berarti juga cukup seser mengatasi yang secara mikro berkontradisksi kayak penutupan pendek Markus dan akhir yang sungguh tadi. Malah juga tidak amat benar bila kita mau bataskan yang diimani pada Injil seperti yang kita punyai sekarang. Juga tidak cocok bila mau disempitkan lagi hingga versi pertama dari Injilnya Markus. Nanti kalau begini terus bisa mau cari sampai apa yang dikatakan Yesus tanpa mempertimbangkan apa yang dimengerti oleh para pendengarnya yang pertama. Paragraf ini memang nyrempet-nyrempet.

SETAN KETUJUH = ?
Agar tidak dipermasalahkan, maka perlu pernyataan nyrempet-nyrempet ini disampaikan dengan gaya kisah nonsens seperti yang sedang kalian hadapi ini. Kami tadi berbicara mengenai 7 setan yang dikeluarkan dari Maria Magdalena - itu yang dicatat oleh Luc. Tapi setahu kami para ahli, Luc sepanjang dua bukunya hanya menyebut 6 nama setan, yakni Satanas, Beelzebul, Diabolos, Daimonion, Pneuma Akatharton, dan Pneuma Poneeron. Eh, mereka kadang-kadang mengeluh ke sini karena banyak orang kurang tahu nama-nama mereka. Hanya disebut "setan" begitu saja. Beelzebub menggerutu, dia kan bukan setan kodian! Baik tak usah kita masuk dalam wawancara dengan mereka nanti salah-salah eksegese dikira ilmu menafsirkan omongan mereka. Begini saja, mereka itu kan hanya enam, lha yang ketujuh itu siapa dan bagaimana rupanya? Luc mengatakan terserah imajinasi kalian. Karangannya bukan untuk membatasi keikutsertaan pembaca, melainkan untuk menggairahkannya, katanya.
Nah, ini dia, kalau begitu kita merdeka untuk menemukan ciri-ciri setan yang ketujuh ini. Cuma tidak perlu kita beri nama, nanti dikira pembikin jejadian. Hanya bisa digambarkan. Itu pun dengan susah payah karena keterbatasan bahasa Indonesia - terutama bahasa Indonesia saya, maklum sudah 28 tahun tidak tinggal di sana. Maka untuk bisa rada bebas saya lukiskan tokoh jahat ketujuh itu dalam bahasa Jawa dan beri versi Indonesia sebisanya. Boleh jadi ada kawan yang bisa membantu membuat versi Indonesianya rasanya semantap bahasa Jawa. Maklum bahasa Jawa itu enak untuk "nyacat" mencela kekurangan orang lain sampai sepuasnya. Beginilah pada hemat saya ciri-ciri setan ketujuh yang pernah menghuni Maria Magdalena itu:

VERSI JAWA:
Gandané amis kaya lélépah. Awaké bungkik tur cébol. Wetengé mblending, bokongé nyedit. Yèn mlaku glendah-glendèh rada déglog, lha wong sikilé péngkor. Tontonen, kaé guluné rada tèngèng, sirahé gèpèng, rambuté gembel, tumané pating gremet. Tangané céko, drijiné kithing, kukuné ireng. Bathuké nonong, manyul jinenggung, rainé burik, pipiné kempot. Mripaté ngolik ning kéro tur bèlèken, alisé nylekèthèt marakaké kepingin nylomot. Cangkemé, blaik, perot lan untuné pating pecothot. Lambéné sing nduwur guwing, sing ngisor ndomblé. Ileré ngecès. Uwangé nyakil, yèn guneman mèwèk-mèwèk, swarané bindeng ra genah amarga irungé gruwung saksisih, sing sisih liya ndlèwèr umbelé. Kupingé perung sing tengen lan sing kiwa sajaké budeg. Lelembut siji iki ulaté ra naté padang, tansah njegadul lan nylekuthis, sing nyawang mentala napuk.

VERSI INDONESIA (yang mesti diperbaiki oleh rekan di Indonesia):
Baunya anyir seperti hantu air. Badannya kecil bungkuk dan cebol. Perutnya seperti bola basket, pantatnya mendongak ke atas. Langkahnya lamban tak teratur, agak pincang karena kakinya tidak lurus. Tuh, lehernya miring, kepalanya kayak kegencet, rambutnya tak pernah disisir bertabur kutu. Tangannya terbalik, jari-jarinya bengkok, kukunya kotor. Dahinya menonjol ke depan, rasanya ingin memukulnya sampai bengkak, wajahnya bopeng, pipinya tenggelam. Matanya seperti burung hantu kesiangan, juling dan merah berair membuat orang ingin menyundut alisnya yang tak keruan arahnya itu. Mulutnya, minta ampun, perot dan giginya berebut nongol. Bibirnya yang atas berbelah, yang bawah menggelambir. Ludahnya menetes terus. Rahangnya panjang yang bawah. Bila bicara kayak orang mau menangis, suaranya sengau tak jelas karena hidungnya kusta sebelah, yang sebelah keluar ingusnya. Telinganya yang kanan terpotong dan yang kiri agaknya tuli. Makhluk tak kelihatan yang satu ini seri wajahnya tak pernah cerah, selalu suram dan masam, membuat orang yang melihatnya sampai hati menampar.

Itu saja dulu deskripsi verbal dari si nomor tujuh yang dikeluarkan dari Maria Magdalena. Apa ada rekan yang sudah melihatnya sendiri?

 


Salam,
A. Gianto

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.