Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XVI/A, tanggal 20 Juli 2008 (Matius 13:24-43 dan Keb 12:13.16.19)

TENTANG BENIH YANG BERTUMBUH DAN LALANG YANG MANDUL
 


Rekan-rekan yang baik,
Injil yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVI tahun A ini memuat tiga perumpamaan mengenai Kerajaan Surga: lalang dan gandum (Matius 13:24-30); sesawi (13:31-32), dan ragi (13:33-35) diikuti dengan penjelasan Yesus mengenai perumpamaan yang pertama khusus bagi murid-muridnya (13:36-43). Rangkaian seperti ini juga terdapat dalam petikan Minggu lalu (Matius 13:1-23), yakni perumpamaan mengenai penabur beserta penjelasannya bagi para murid. Di situ diperlihatkan betapa rapuhnya benih Kerajaan Surga. Oleh karenanya perlu ada tanah yang cocok serta penggarapan yang sungguh agar dapat bertumbuh dan berbuah. Petikan kali ini memperlihatkan sisi-sisi lain. Lalang yang tumbuh bersama dengan gandum menggarisbawahi daya-daya gelap tidak serta-merta tersingkir dari kehidupan orang beriman. Kerajaan Surga juga seumpama sesawi dan ragi. Walaupun pada awalnya kecil dan sedikit, nanti bila tumbuh dan berkembang akan menaungi dan merasuki banyak orang. Para pendengar diajak menarik hikmat dari perumpamaan-perumpamaan itu untuk membaca kembali iman dalam mengikuti Yesus.
Di bawah juga akan sekadar diikhtisarkan alam pikiran yang melandasi perumpamaan sehubungan dengan gagasan mengenai Yang Ilahi dan manusia dalam bacaan pertama (Kebijaksanaan 12:13.16.19).

DI TENGAH KEKUATAN-KEKUATAN GELAP
Perumpamaan mengenai benih lalang yang ditaburkan musuh di ladang gandum menunjukkan bahwa kekuatan-kekuatan gelap masih tetap membayangi orang-orang yang sudah mau menerima kehadiran ilahi. Sekaligus ditegaskan bahwa keadaan ini nanti akan berakhir. Satu saat yang gelap akan dipisahkan dari yang terang.
Dalam perumpamaan ini diceritakan satu saat para penggarap ladang ("hamba-hamba") melapor kepada pemilik bahwa ada lalang tumbuh di situ padahal sang pemilik kan hanya menabur benih baik, yakni benih gandum. Pendengar sebelumnya sudah mendengar bahwa pada malam hari seorang musuh menyebarkan bibit lalang, namun para penggarap belum tahu. Yang empunya ladang tetap tenang. Ia sadar apa yang terjadi dan memberi tahu para penggarap bahwa ada lawan yang menabur lalang di situ. Para penggarap ladang mau segera mencabuti lalangnya. Dan memang biasanya ladang sering disiangi dan dibersihkan dari tetumbuhan lain. Tetapi dalam perumpamaan ini pemilik mencegah. Aneh! Sikap pemilik itu bukan seperti yang biasa terjadi.
Pendengar yang tahu seluk beluk penggarapan ladang juga segera merasa ada yang tak wajar. Lalang biasanya segera dicabuti, juga bila tumbuh lagi. Semakin aneh lagi, alasannya ialah agar gandum tak ikut tercabut. Mana mungkin! Para penggarap mestinya tahu betul mana lalang dan mana gandum. Kadang-kadang terdengar tafsiran bahwa jenis lalang yang dibicarakan di sini boleh jadi amat mirip dengan gandum sehingga risiko yang diungkapkan pemilik tadi jadi lebih masuk akal. Tetapi penjelasan seperti ini sebetulnya dicari-cari dan malah memiskinkan perumpamaan tadi. Dalam perumpamaan wajar ada hal yang mengusik dan tak langsung terasa klop. Justru unsur itulah yang dapat membuat orang berpikir lebih lanjut. Oleh karena itu lebih baik kita biarkan saja keanehan pemilik ladang tadi. Ia melarang para penggarap ladang itu melakukan pembersihan. Tentu para penggarap akan bertanya-tanya terus. Pendengar akan dapat ikut menikmati ajaran perumpamaan ini bila bersedia membiarkan keanehan tadi.
Kekuatan jahat memang terasa mengancam. Dan tidak usah disangkal adanya. Yang bisa dilakukan ialah belajar mengenali gerak-geriknya. Manusia kiranya juga tak bakal mampu meniadakannya dengan kekuatan sendiri. Nanti akan dijelaskan kepada para murid bahwa lalang ialah orang-orang yang memihak yang jahat. Mereka itu disemai oleh Iblis sendiri. Iblis juga pernah menggoda Yesus tanpa hasil, dan kini Yesus mengajar murid-muridnya agar tahu cara-cara yang dipakai Iblis mengeruhkan keadaan. Para murid dapat belajar menjadi semakin mampu juga membedakan yang baik dari buruk.

AKAN DISUDAHI, TETAPI BOLEH SIAPA?
Pemilik ladang berkata, biarkan lalang dan gandum terus tumbuh sampai panenan. Baru saat itu ia sendiri akan menyuruh para penuai - bukan penggarap yang tadi datang melaporkan adanya lalang - untuk memisahkan lalang dari gandum. Dalam penjelasannya nanti, Yesus mengatakan bahwa para penuai itu ialah malaikat (ayat 39). Dengan kata lain, kekuatan dari langit sendirilah yang akan membasmi yang jahat. Bukan penggarap yang ada di dunia.
Yang terjadi pada musim panen pada akhir zaman dapat menerangkan mengapa pemilik membiarkan lalang tumbuh dan malah melarang penggarap mencabutinya. Pemilik yang tadi menaburkan benih baik tetap tampil sebagai tokoh berwibawa dan tahu apa yang bakal dilakukannya. Ladangnya tak bakal rusak. Panenannya pasti. Ia tidak tergoda bereaksi sesaat meskipun mendapat laporan ada lalang tumbuh di sela-sela gandum. Ia tahu ada pengganggu. Dan ia mengajak para penggarap mengenali gerak gerik musuh pengganggu dan tidak terjerumus ikut bermain dengannya tanpa sadar.
Siapakah tokoh itu? Dalam penjelasan kepada para murid, diterangkan bahwa pemilik yang menaburkan benih baik itu ialah Anak Manusia. Ungkapan ini menunjuk kepada diri Yesus sendiri sebagai dia yang telah mendapat kuasa ilahi sepenuhnya untuk mengurus jagat ini. Boleh kita ingat kembali sosok serupa Anak Manusia dalam penglihatan Daniel 7:13-14 yang datang ke hadapan Yang Mahatinggi ("Yang Lanjut Usia") untuk menerima kekuasaan dan kemuliaan yang kekal dan "kerajaannya ialah kerajaan yang tak akan musnah". Para murid tentunya langsung menangkap rujukan kepada tokoh dalam Kitab Daniel ini. Yesus yang mereka ikuti itulah Anak Manusia ini! Untuk apa waswas? Lalang tak lagi berarti apa-apa baginya. Di hadapan tokoh seperti ini kenyataan yang jahat macam apa pun tak lagi bisa mengguncang. Tak perlu berusaha menyiangi lalang menyingkirkan keburukan. Serahkan padanya! Lebih bijaksana berupaya menyadari diri sebagai benih baik dan tumbuh sebaik-baiknya sampai bisa dituai hasilnya. Dalam penjelasan nanti, benih ini disebut "anak-anak Kerajaan", artinya orang-orang yang hidup dalam naungan kuasa Anak Manusia menurut Kitab Daniel tadi. Kerajaannya tak bakal musnah. Para murid boleh merasa tenteram meski hidup di sela-sela lalang, yakni "anak-anak si jahat" yang berasal dari Iblis sendiri. Orang tak diminta memandang diri sebagai yang ditugasi memerangi yang jahat. Yang akan mengakhiri yang jahat itu kekuatan dari atas sana. Orang hanya diminta semakin menjadi diri sendiri: benih yang baik, menjadi anak-anak kerajaan.
Mereka juga disebut orang-orang benar yang akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka (ayat 43). Inilah hidup orang yang mau mengikuti dan memihak pada Anak Manusia. Pusat perhatian bukan pada mencabuti lalang kegelapan, tetapi pada tindakan ikut mengujudkan karya Anak Manusia sendiri. Inilah panggilan para murid. Inilah yang hendak diajarkan kepada orang banyak juga. Inilah spiritualitas budi jernih, bukan sikap rohani yang mau memerangi apa-apa yang dirasa tak beres.

LHA SESAWI DAN RAGI SAJA BEGITU, APALAGI KERAJAAN SURGA
Kerajaan Surga juga diumpamakan dengan biji sesawi yang meskipun terkecil dari antara biji-bijian (ayat 32) bisa menjadi pohon yang rindang. Jalan pikirannya begini. Bila biji sekecil itu saja bisa tumbuh besar menjadi pohon yang menaungi burung-burung, apalagi benih Kerajaan Surga, pasti dapat tumbuh menaungi siapa saja. Ini penyampaian dengan cara "a fortiori". Begitu pula perumpamaan mengenai ragi yang diambil dan diadukkan ke dalam tepung (ayat 33). Meski tak kelihatan, dayanya segera merasuki ke mana saja, bahkan dapat membuat 40 liter tepung berkembang. Nah, bila ragi saja punya kekuatan seperti itu, apalagi Kerajaan Surga, pasti akan lebih mampu mengembangkan siapa saja yang bersentuhan dengannya sekalipun tak terlihat jelas! Memahami perumpamaan sesawi dan ragi dengan cara ini dapat membuat orang semakin memahami betapa besar dan kuatnya Kerajaan Surga yang diwartakan Yesus.
Meskipun demikian hidup berdekatan dengan utusan Yang Ilahi sendiri juga tetap perlu mengakui adanya kenyataan yang jahat. Tidak bijaksana bila orang berupaya meniadakan yang jahat begitu saja dengan kekuatan sendiri. Salah-salah akan terkecoh. Yang bisa dilakukan ialah membawakan perkaranya kepada pemilik. Dia akan menanggapinya dengan bijaksana. Dan boleh kita belajar dari dia. Perjalanan yang semakin memisahkan yang baik dari yang buruk sudah mulai dan akan berakhir. Tetapi yang melaksanakan pemisahan ialah Anak Manusia. Dia yang telah mendapat kuasa ilahi itu akan datang dengan kekuatan-kekuatan surgawi. Tugas orang benar? Ya hidup sebagai orang benar, tumbuh sebagai benih baik dan tidak berubah rupa jadi lalang dan mandul seperti mereka! Itulah kekuatan Kerajaan Surga yang tumbuh seumpama sesawi dan yang menjadi ragi bagi dunia.

KEROHANIAN DAN KEBIJAKSANAAN
Dalam bacaan pertama (Kebijaksanaan 12:13.16.19) diketengahkan pandangan kaum bijak yang hidup di tengah-tengah "kemelut teologi" waktu itu. Maklum kitab Kebijaksanaan Salomo ditulis dalam masa umat Perjanjian Lama semakin perlu hidup bersama dengan orang-orang lain yang budaya Yunani. Bahkan kitab itu dikarang langsung dalam bahasa Yunani bagi kalangan umat yang hidup dalam keadaan itu. Salah satu ketegangan dalam kehidupan rohani umat diakibatkan oleh adanya perbedaan alam pikiran yang mendalam antara budaya agama Yahudi tradisional dan alam pikiran Yunani. Dalam keagamaan tradisional, Yang Ilahi terutama dipahami dalam kerangka "Yang Adil", yakni Dia yang mengganjar atau menghukum seukur dengan kebaikan atau kejahatan. Juga manusia diukur dengan keadilan. Sisi-sisi kerapuhan manusia masuk dalam keburukan. Alam pikiran Yunani berbeda. Berpijak pada sisi-sisi kemanusiaan, alam pikiran ini mengakui kemungkinan-kemungkinan yang ada pada manusia untuk mengenali yang baik dan yang buruk bukan sebagai yang sudah jadi melainkan yang tumbuh dan menjurus entah ke kebaikan yang utuh entah ke keburukan yang tak teratasi lagi. Memang alam pikiran ini bisa menjurus ke sikap tak peduli mana yang baik dan mana yang buruk. Namun dalam budaya Yunani sekaligus ditekankan rasionalitas pilihan, arahan, serta tindakan. Dan kekuatan budi manusiawi inilah yang membuatnya mampu menilai mana yang mengarah ke yang baik dan mana yang tidak. Kaum intelek Yahudi waktu itu mengenal dua alam pikiran tadi, yakni alam pikiran Yahudi tradisional yang menekankan kewajiban dan menggambarkan Yang Ilahi sebagai Yang Adil, tetapi juga alam pikiran Yunani yang mengajarkan rasionalitas dan membawakan gambaran akan Yang Ilahi sebagai Dia yang memahami keadaan manusia. Yang terakhir inilah yang tampil dalam gagasan Tuhan yang menyayangi kemanusiaan, yang bisa memberi waktu kepada manusia untuk mempertimbangkan pilihan sehingga mendapatkan jalan yang benar. Dan kaum bijak waktu itu semakin menyadari bahwa Dia Yang Adil itu juga sekaligus Dia Yang penuh kasih sayang dan berbelas kasihan pada keadaan manusia. Dua sisi ini memang sudah dikenal sebelumnya, namun baru pada zaman itu kedua-duanya tampil bersama. Dan gagasan mengenai Yang Ilahi ini menjadi dasar bagi tindakan dan sikap keagamaan pula. Dalam Keb 12:19 ditandaskan bahwa Dia mengajar umatNya bahwa "orang benar harus sayang akan manusia" dan Ia pun memungkinkan orang memiliki harapan akan perbaikan dan kemajuan. Inilah yang dimaksud dengan "kesempatan bertobat" yang disebut pada akhir ayat itu. Gambaran seperti ini melatari alam pikiran pengajaran Yesus, juga yang disampaikan dalam perumpamaan-perumpamaan Injil kali ini.

 


Salam,
A. Gianto

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.