Injil hari Minggu XIII/C, tanggal 1 Juli 2007  (Lukas 9:62)

TENTANG MEMBAJAK TANAH
 


Dalam Lukas 9:62 (ikut dibacakan sebagai Injil hari Minggu XIII/C tanggal 1 Juli 2007) disampaikan pepatah Yesus tentang orang yang menganggap diri siap membajak tapi menoleh ke belakang. Dikatakannya, orang ini tidak layak untuk Kerajaan Allah. Dalam ulasan mingguan yang dikirim ke Internos yang lalu dijelaskan bahwa Kerajaan Allah meminta perhatian penuh. Dan kiranya memang demikianlah tuntutan hidup ke sana. Sesungguhnya ini barang biasa. Apa ada komitmen yang bisa dijalankan dengan setengah-setengah? Memang ada yang persyaratannya tidak begitu berat, seperti misalnya bermain kartu atau halma atau scrabble. Tetapi kegiatan bermain seperti tidak bisa dijalankan dengan bermain-main. Orang diharap menepati aturan main dengan sungguh. Bila tidak, permainan bubar. Begitu pula macam-macam kegiatan lain, termasuk hidup mengikuti Yesus mengabarkan Kerajaan Allah. Tentunya ini bukan perkara hitam putih. Perhatian seutuhnya dalam hal ini ada tahap-tahapannya. Bila hanya tahap sempurna saja yang dihitung, maka tak bakal ada orang yang bisa ke sana. Kenyataan adanya tahap-tahapan ini perlu diikutsertakan dalam tafsir ayat di atas. Bila tidak ayat itu malah dijauhkan dari kenyataan.

PARONOMASIA
Khusus mengenai pepatah dalam Lukas 9:62 di atas, ada cerita menariknya. Gagasan "membajak tanah" dan "menoleh ke belakang" di sana sebetulnya berasal dari sebuah permainan kata dalam bahasa Aram dan Ibrani. Dalam kedua bahasa ini ada kata kerja yang bentuk dasarnya ialah "kharasy" (kh diucapkan seperti [akhir] dan sy seperti [syahdan]). Kata itu maknanya bisa "membajak tanah", tetapi bisa pula berarti "bungkam seribu bahasa". Sebenarnya lebih baik dikatakan ada dua kata yang berbeda artinya berbeda tapi ucapannya sama. Taruh kata memang dulu Yesus mengucapkan pepatah dalam bahasa Aram, maka bagian pertama pepatah itu bisa ditangkap baik sebagai "membajak tanah" maupun "bungkam".
Perkaranya baru menarik bila bagian kedua disimak juga, yakni "menoleh ke belakang". Di sini tidak lagi ada dua makna, hanya ada satu dan dalam bahasa Ibrani maupun Aram artinya jelas, yakni bukan hanya menoleh, melainkan mengarahkan pandangan ke belakang. Bahkan mengarahkan pandangan di sini dimaksud untuk mengatakan bertujuan pergi ke belakang, berbalik. Bila demikian maka baik kharasy dalam arti membajak tanah maupun bungkam tadi dipertentangkan dengan bertujuan berbalik ke belakang. Permainan kata atau paronomasia tadi sebenarnya sudah hilang dalam teks Yunani Lukas 9:62 meski makna umumnya masih ada, yakni tak pantaslah orang berniat mengerjakan tanah, tapi menoleh ke belakang dulu. Tetapi seluk beluknya masih dapat kita lacak asal sabar.

MEMBAJAK TANAH DENGAN URIK?
Membajak tanah di zaman Yesus dulu dilakukan dengan cara mirip seperti di tanah Jawa, yakni selalu maju ke muka, bila sudah sampai ke batas ladang, maka bajak-nya dibalik arahnya (dan tentunya keledai di sana dulu atau kerbau di Jawa disuruh berputar). Begitu jalannya tetap ke depan walau sekarang arahnya berkebalikan dengan yang tadi ditempuh. Bila belum sampai ke pematang kerbau disuruh berputar dan bajak dibalik arahnya, maka pekerjaannya jadi runyam. Separuh ladang tidak terbajak. Tanahnya jadi tidak keruan. Jelas apa yang hendak disampaikan dalam pepatah tadi. Orang yang berbalik sebelum menyelesaikan satu tahapan bakal tidak menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Kayak dalam pertandingan renang, sebelum sampai ujung sudah balik dulu. Urik. Begitulah Yesus mengatakan orang urik seperti itu tidak layak bagi Kerajaan Allah.
Pendengar Yesus waktu itu tentunya tersenyum dan merasa terkena hatinya. Banyak yang diam-diam mengakui memang rada urik. Tetapi pepatah ini tidak bikin serik, tidak menyinggung perasaan karena ada humornya. Terbayang petani yang rada tolol yang bemaksud nguriki diri sendiri tadi itu....bikin ketawa! Maka kritik yang mengajak orang berani menertawakan kekurangan diri sendiri itu tidak terasa mempermalukan. Tidak juga terasa sebagai kopi pahit. Mari kita lacak lebih jauh tapukan dengan humor segar itu.

DIAM DENGAN MULUT MECUCU?
Humor selanjutnya muncul dari arti lain dari kata "kharasy" tadi, yakni bungkam, tutup mulut, menahan kata. Bayangkan orang yang mulutnya mecucu penuh menahan makanan agar tidak terhambur keluar. Bisa pula isinya rahasia atau perkara yang tidak boleh sebarangan diceritakan. Bayangkan dulu ketika Zakharia disabda oleh malaikat Gabriel sampai diam mecucu sembilan bulan tidak bisa menceritakan penglihatan yang tentu saja bisa dilukiskannya dengan panjang lebar. Ia kan imam yang berpendidikan teologi dan akrab dengan dunia malaikat! Tetapi ia disuruh menahan semuanya dalam mulut yang kita bayangkan mecucu tadi...sampai ia menuliskannya, dengan benar, yakni "namanya Yohanes", artinya Tuhan itu melimpahkan rahmat dan perkenannya dan menyuarakan pujian bagiNya. (Lihat esai tentang Injil hari raya Kelahiran Yohanes Pembaptis tanggal 24 Juni 07).
Dalam pepatah yang ada dalam Lukas 9:62, mecucu diam seribu bahasa itu sarat dengab muatan rohani. Orang yang bersangkutan diminta agar tidak gegabah omong mengenai Kerajaan Allah atau mengobral ajakan mengikuti Yesus. Orang diharapkan diam, kalau perlu mecucu ya apa boleh buat, asal jangan bocor. Dan kiranya banyak yang bersedia menahan diri begitu. Apa sih susahnya diam? Namun kita juga sadar sering tidak bisa pegang rahasia, latah, gampang cerita sana sini. Nah kiranya memang ada di antara orang yang sudah berniat mecucu diam tadi yang tidak tahan dan jadi latah mulai mundur menoleh ke belakang mencari pendengar dan cerita sana sini mengenai Kerajaan Allah tanpa menjalaninya sendiri dengan telaten, seperti orang yang membajak lurus ke depan sampai selesai satu tahap sebelum berbalik untuk tahap berikut. Orang yang tak tahan mecucu ini akan buyar kerohaniannya. Jelas, seperti kata Yesus sendiri, orang itu tak layak bagi Kerajaan Allah, karena hanya mengobralnya, bukan menghidupinya, apalagi mewartakannya sebagai pengikut Yesus. Sikap berani diam menahan latah seperti ini ialah sikap bijak, sikap orang yang mendalam kebatinannya.

IDIOM IBRANI DALAM 1SAMUEL 10:27
Dalam teks Ibrani 1Samuel 10:27 ungkapan dengan akar kata kharasy tadi sudah muncul. Dalam Alkitab terjemahan LAI, dikatakan bahwa Saul, yang baru saja diresmikan sebagai raja, kini dicibiri beberapa orang dursila yang meragukan kemampuannya menyelamatkan bangsa. Tetapi, seperti terbaca dalam terjemahan Indonesia, "Ia pura-pura tuli". Teks aslinya agak lain. Dikatakan dalam bahasa Ibrani "wayhi (=ia pun jadi) ke-makhrisy (=seperti orang yang sungguh membisu)". Bagian kedua itu sebenarnya juga bisa berarti "seperti orang yang membajak dengan baik-baik." Memang Saul tidak menindak kaum dursila, tapi ia memilih diam, dan melanjutkan urusannya sendiri sebaik-baiknya seperti orang yang membajak tanah dengan sungguh. Alih bahasa "...pura-pura tuli" dalam Alkitab LAI memang dapat menampilkan kembali satu sisi, tapi sisi lain kurang keluar, yakni yang menekankan sikap bijak dan sungguh-sungguh mengarahkan diri pada penugasannya sendiri tanpa meributkan mulut usil kaum dursila. Idiom yang dipakai dalam 1Samuel 10:27 ini menunjukkan bahwa permainan kata atau paronomasia dengan akar kata Ibrani kharasy bukannya tak dikenal. Pendengar pepatah Yesus dalam Lukas 9:62 dulu tentu juga tahu permainan kata itu. Memang dalam versi Yunani Lukas, paronomasia yang dasarnya Ibrani (dan Aram) itu kurang tampil. Tapi boleh jadi Luc mengandaikan orang yang membacanya bisa melacaknya dengan memakai azimat ilmu bahasa.

MELARANG PAMITAN - MASAKAN BEGITU?
Pepatah dengan paronomasia dalam Lukas 9:62 tadi dipakai Yesus untuk menanggapi permintaan orang yang berniat mengikutinya tapi ingin berpamitan dulu dengan keluarganya dalam ayat sebelumnya. Jawaban dengan pepatah tadi jangan buru-buru ditafsirkan Yesus mencela dan melarang orang yang mau berpamitan dengan keluarga. Malah kita bisa baca Yesus membiarkan orang tadi sungguh berpamitan. Apa salahnya? Justru kalau tak pamitan malah aneh rasanya.
Yang kiranya justru hendak disarankan dalam adegan itu begini. Bila nanti yang bersangkutan. ketemu sanak keluarganya dan menerangkan kenapa mau ikut Yesus demi Kerajaan Allah, hendaknya ia menjelaskannya dengan sungguh, setahap demi setahap, seperti orang yang membajak tanah dengan benar, jangan cerita yang tidak utuh, jangan menyatakan niatan dengan hati mendua, setengah jalan. Sekaligus dinasihatkan agar tidak mengobral perkataan, tapi agar tahu menyimpan kata, tahu di mana mesti diam dulu.

Masih bersikeras dengan tafsir "pokoknya ikut Yesus"? Nanti kan tersandung sendiri! Semua ini kan sebenarnya tanggapan Yesus terhadap orang yang dalam Lukas 9:57 radikal bilang "Aku akan mengikut engkau, kemana saja engkau pergi." Yak-yak-o, begitu keluh Luc ketika mendengar homili saleh di Roma yang rada kurang manusiawi hari Minggu ini. Ia merasa malu dikira menuntutkan yang bukan-bukan. Saya suruh dia minum teh hibiscus melupakan perkara itu. It's only human!

 


Salam,
Gianto

 

 

    

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.