''Demagogue'' dan Kebencian Itu

Kompas, 14 Maret 2000
 

FENOMENA Joerg Haider mengguncang demokrasi di Eropa. Berkat peroleh suara yang banyak, Partai Kebebasan yang dipimpinnya masuk ke dalam koalisi pemerintah baru di Austria. Begitu diumumkan reaksi keras segera bermunculan: Israel memanggil pulang duta besarnya. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Madelaine Albright, memberi peringatan keras. Negara-negara Uni Eropa mengancam akan mengisolasi Austria. Di dalam negeri dilanda gelombang demonstrasi menentang pemerintah baru. Bukankah itu hasil pemilihan yang demokratis? Mengapa ditentang?

Dalam suatu konferensi pers Joerg Haider pernah membuat pernyataan yang meremehkan arti pembantaian jutaan warga Yahudi oleh Nazi Jerman: "Tragedi itu hanya sebagian kecil dari sejarah". Tidak hanya karena pernyataan itu Joerg Haider ditentang. Ada alasan lebih mendasar: ideologi partai politik itu kebencian, kebencian terhadap orang asing.

ALASAN yang mendasari kebencian terkesan logis: pertama, angka pengangguran di Austria cukup tinggi. Orang asing dianggap merebut pekerjaan warga Austria asli; kedua, orang asing di Austria menjadi parasit karena memanfaatkan sistem asuransi sosial; ketiga, angka kejahatan serta kekerasan tinggi dan kebanyakan pelakunya adalah orang asing. Siapa warga Austria yang tidak tergiur oleh program yang menjanjikan dapat memberantas ketiga penyakit sosial ini: bebas dari pengangguran, bebas dari rasa takut akan kekerasan dan kejahatan, kemakmuran karena Austria hanya untuk orang Austria. Caranya: "Yang bukan orang Austria minggir!" "Xenophobia", takut orang asing menjadi benci terhadap orang asing, itulah inti ideologi partai Joerg Haider.

Akan tetapi, bila dianalisis dengan cermat argumen yang kelihatan logis itu sangat bias. Argumen bahwa orang asing merebut pekerjaan warga Austria sulit dibuktikan karena kebanyakan orang asing bekerja pada sektor yang disingkiri warga asli, alias pekerjaan kasar. Krisis ekonomi yang menjadi penyebab utama pengangguran tidak dikaitkan. Orang asing yang mendapat santunan asuransi sosial banyak yang sudah lama tinggal di negara tersebut. Dulu orangtua mereka sendiri dibutuhkan untuk pekerjaan kasar itu. Angka kejahatan yang tinggi dari warga asing tentu saja sulit dihindari. Mereka selalu menjadi korban pertama bila ada PHK. Mencari kerja sulit.

Bagaimana argumen yang bias itu bisa mempunyai daya tarik yang luar biasa? Pengangguran dan rawan kejahatan adalah pengalaman nyata, yang membuat takut dan marah. Perasaan cemas akan masa depan karena belum melihat tanda-tanda perbaikan ekonomi. Lalu partai ekstrem kanan ini menjanjikan pemecahan dengan mengeksploitasi perasaan takut, cemas dan marah itu untuk kepentingan politik, demagogy. Mereka mereduksi semua persoalan itu menjadi "karena kehadiran orang asing". Berkobarlah kebencian terhadap orang asing, "biang kerok" semua masalah sosial.

***

ITULAH demagogy. Joerg Haider itu adalah seorang demagogue. Di Indonesia fenomena demagogue seperti itu menghinggapi juga beberapa politikus: politikus yang gemar mengaduk-aduk perasaan masyarakat, biasanya dengan menggunakan isu agama, untuk kepentingan politiknya, daripada mengajak berpikir secara obyektif dalam mencari jalan keluar. Sayangnya, warna wacana yang dominan dari banyak pemuka agama, para pengkotbah dan guru-guru agama adalah demagogy. Demagogy ini lebih berbahaya lagi ketika koran, tabloid dan majalah tertentu mengadopsinya sebagai gaya pemberitaan: penyebaran kebencian semakin efektif dan luas. Sangat efektif untuk orang sederhana, tetapi tak jarang kaum intelektual terkena juga, bahkan menjadi ideolog kebencian.

Demagogy, tipe wacana manipulatif, efektif untuk menggalang dukungan politik dari khalayak karena mempunyai mekanisme yang khas. Pertama, seorang demagogue selalu mencari kambing hitam atas segala masalah. Maka kebencian terhadap suatu kelompok tertentu ditumbuhkan, dipelihara dan kalau perlu diperdahsyat intensitasnya. Dengan cara ini, fanatisme dan militantisme kelompok dijamin karena jalan keluar masalah diidentikkan dengan menghancurkan suatu kelompok tertentu. Bila kepentingan politik memerlukannya, lalu tinggal menarik picu untuk diledakkan.

Kedua, argumen yang menjadi senjata utama biasanya ad hominem (menyerang pribadi orangnya) dan argumen kepemilikan kelas (gagasan seseorang tidak bisa lepas dari lingkungan atau kelas dari mana dia berasal) yang penuh kebencian. Orang tahu kedua bentuk argumen ini rentan terhadap masalah SARA, mudah untuk membangkitkan sentimen agama dan kelompok. Argumen itu cenderung mengalihkan perhatian dari substansi permasalahan, karena hanya akan mencari kambing hitam. Dengan memojokkan seseorang pada kepemilikan agama tertentu, etnis tertentu, atau kelompok tertentu, mereka berupaya mengisolasikan untuk mencegah semua bentuk simpati atau solidaritas terhadapnya, sehingga semua usahanya akan dicurigai dan ditentang.

Ketiga, seorang demagogue biasanya sangat canggih dalam membuat skematisasi. Dalam fenomena ideologi, ada mekanisme yang disebut skematisasi: upaya menyederhanakan suatu gagasan atau pemikiran agar bisa memiliki efektivitas sosial; maka pemikiran atau gagasan itu harus bisa menjadi opini. Opini inilah yang membentuk keyakinan. Dari keyakinan tinggal satu langkah untuk sampai ke tindakan. Oleh karena itu, pemikiran harus rela kehilangan rigoritasnya menjadi lebih sederhana dan mudah ditangkap khalayak agar menjadi opini. Sampai titik ini skematisasi tidak menjadi masalah: wajar dalam proses pemahaman butuh penyederhanaan. Tetapi, bahayanya mulai terasa pada saat penyederhanaan itu menjadi reduksi. Reduksi ketika problem ekonomi dan sosial seperti disebut di atas akan dapat diatasi bila orang asing diusir. Reduksi juga ketika sebuah koran memberitakan suatu konflik dan hanya memperlihatkan foto-foto korban dari satu pihak saja. Tetapi sangat efektif untuk membangkitkan kebencian.

***

KEBENCIAN itu penyebab utama kekerasan massal yang mewabah di Indonesia akhir-akhir ini: perusakan dan pembakaran tempat ibadah, penjarahan, pemerkosaan, penganiayaan, pembantaian, dan sebagainya. Orang boleh mengatakan sebab utama adalah kesenjangan ekonomi atau sistem politik yang represif. Tetapi, sangat naif kalau mengabaikan peran kebencian. Jujur, kebencian itu riil ada dan dirasakan, lebih-lebih kebencian antarkelompok agama. Tidak semua penganut agama yang satu membenci penganut agama yang lain. Ada banyak yang membangun persahabatan dan kerja sama. Namun, jumlah yang memendam kebencian itu cukup banyak untuk dengan mudah menyulut konflik dan ketegangan. Provokator tidak akan bisa berhasil kalau kebencian itu tidak ada.

Kebencian atas nama agama ini lebih sulit diredam daripada kebencian yang ditebarkan oleh nasionalisme sempit dari Partai Joerg Haider. Lebih sulit karena pertama, mistifikasi motif kebencian itu: agama memberi landasan ideologis dan pembenaran simbolis. Mereka merasa membela iman dan kebenaran, dengan kata lain, demi Tuhan sendiri. Kedua, alasan historis: pertentangan dan kebencian itu merupakan warisan sejarah. Kalau warisan sejarah, kebencian itu berarti sudah merasuk mempengaruhi perkembangan teologi dari kedua agama tersebut, baik dalam penafsiran kitab suci, tradisi, fatwa/dogma, hukum, dan sebagainya.

Akan tetapi, di satu pihak, banyak orang mampu mengatasi kebencian itu, menolak determinasi sejarah dan mengadakan reinterpretasi secara kritis dan kontekstual: banyak yang bisa membangun persahabatan tulus, kerja sama yang berguna, membangun dialog iman dan kehidupan, dan sebagainya. Di lain pihak, sebagian besar masih tetap memendam kebencian itu. Selain alasan teologis dan historis, juga karena banyak demagogue yang ingin tetap memelihara dan mengintensifkan kebencian itu. Menyedihkan kalau kita mendengar khotbah-khotbah baik di masjid-masjid maupun di gereja-gereja, pidato dan pembicaraan di pertemuan-pertemuan keagamaan, di kantor-kantor, di kampus, bahkan pelajaran agama di sekolah, nada kebencian itu masih sangat dominan. Tidak semua begitu, tetapi yang begitu jumlahnya cukup banyak. Mereka itu bukannya tidak mampu mengatasi kebencian itu, tetapi memberi kesan tidak sungguh-sungguh dan tidak mau keluar dari kebencian dan wacana permusuhan. Seperti orang sakit yang secara tidak sadar tidak mau sembuh, karena dengan menderita sakit itu dia mendapat perhatian.

Banyak demagogue (politikus, pemimpin organisasi, pemuka agama) mendapat keuntungan dan menikmati dengan mengobarkan kebencian terhadap pemeluk agama lain itu: dukungan politik, keuntungan ekonomi, militantisme pengikut, solidaritas sesama pemeluk, tidak dituduh kompromistis. Selain itu wacana kebencian mudah dipahami, hitam atas putih: kalau agama saya benar, tidak bisa tidak yang lain keliru karena kebenaran itu hanya satu. Yang berbeda dengan saya berarti musuh, kecuali kalau bertobat menjadi kawan. Demagogue dan pengikutnya tidak akan bisa menerima perbedaan dan pluralitas.

Kebencian itu diskriminatif dan menafikan yang lain, yang berbeda. Maka ada pepatah Perancis Le demagogue est le pire ennemi de la democratie (Demagogue adalah musuh terbesar demokrasi). Karena demokrasi mengandaikan pengakuan pluralisme dan penerimaan perbedaan. Jadi bisa dipahami bahwa Partai Kebebasan dari Joerg Haider, meskipun menang secara demokratis, ditentang oleh negara-negara demokrasi. Ideologinya bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dan etika politik.

Kebencian dan diskriminasi bertentangan dengan cita-cita demokrasi yang adalah kebebasan, keadilan dan kedamaian. Seperti dikatakan Paul Ricoeur: "Etika politik adalah upaya untuk memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi yang lebih adil". Tidakkah para demagogue itu sadar bahwa upayanya menebar dan memelihara kebencian itu mendatangkan malapetaka bagi rakyat?
 
 

* DR. Haryatmoko, pengajar filsafat pada Pascasarjana UI, Universitas Atmajaya, dan IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.