Ingatan Kolektif, Mencegah Terulangnya Kekerasan?

Kompas, 23 Oktober 2000

 

Ingatan kolektif menjadi aktual untuk dibahas di Indonesia dewasa ini karena kekerasan dan pembunuhan massal yang selalu terulang. Orang mulai curiga, jangan-jangan tiadanya proses hukum terhadap kekerasan dan pembunuhan yang terjadi, merupakan upaya sistematik untuk mengubur ingatan kolektif.

Tidak pernah terungkap siapa pelaku-pelaku yang bertanggung jawab. Korban pun sulit mendapat pengakuan sebagai korban, bahkan mengalami viktimisasi kedua. Orang dihambat untuk mengetahui dan mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Semua dikaburkan supaya orang lupa. Ingatan kolektif dipaksa menelan kebohongan. Kaburnya ingatan kolektif bukankah suatu bentuk persekongkolan dengan kekerasan ? Masihkah akan terulang di masa depan?

Tanpa ingatan kolektif

Ingatan bukan sekadar bekas goresan, tetapi mengenal kembali bekas-bekas goresan itu. Banyak dari bekas goresan ingatan manusia terhapus dan dilupakan. Ingatan bukan keseluruhan dari masa lampau, tetapi bagian dari masa lampau yang terus hidup dalam diri orang atau kelompok masyarakat, dan tunduk kepada representasi dan sudut pandang dewasa ini. Maka mengingat melibatkan usaha untuk memberi makna, upaya memverifikasi hipotesa-hipotesa pengingat, membangun kembali makna. Mengingat bisa juga mengalihkan makna.

Beragamnya goresan ingatan manusia (masuknya ingatan palsu, adanya tuntutan untuk selektif, terjadinya pengalihan makna) menuntut suatu konfrontasi, suatu debat kritis dan terbuka terhadap kesaksian dan semua dokumen. Debat semacam itu menjanjikan suatu pemurnian dan kredibilitas ingatan. Pandangan retrospektif terhadap masa lalu ini tidak hanya merupakan pengalaman yang memberi makna, tetapi terutama kehendak untuk membangun suatu proyek yang bermakna.

Mengapa perlu ingatan kolektif ? Jawabannya sederhana, yaitu untuk bertindak lebih bijaksana dan lebih hati-hati. Menghidupkan ingatan kolektif berarti membangun bersama proyek perdamaian dan berusaha tidak mengulangi kekeliruan masa lampau yang tragis, yang masih menghantui dan melukai ingatan kolektif. Bangsa yang tanpa ingatan kolektif adalah bangsa tanpa masa depan.

Kredibilitas kesaksian

Bagaimana ambisi bisa terpenuhi agar ingatan sungguh-sungguh setia pada masa lalu? Ingatan diharapkan dapat merepresentasikan sesuai dengan apa yang pernah terjadi. Ambisi ingatan untuk bisa sedekat mungkin pada kebenaran ditolong oleh dua hal: kesaksian dan dokumen. Melalui kesaksian, orang tetap tinggal dekat dengan ingatan, sedangkan melalui dokumen orang masuk ke dalam sejarah.

Sebetulnya dokumen memperpanjang kehadiran kesaksian. Kesaksian merupakan pernyataan bahwa sesuatu telah terjadi. Dengan mengatakan sesuatu telah terjadi, saksi mau mengatakan tiga hal.

Pertama, "Saya ada di tempat kejadian". Ini merupakan jaminan akan apa yang telah saya derita.

Kedua, saksi ingin mengatakan: "Percayalah kepada saya", ajakan menjalin hubungan kepercayaan. Kepercayaan yang diberikan terhadap kesaksian menentukan kredibilitasnya.

Ketiga, "Kalau Anda tidak percaya kepada saya, tanyakanlah kepada yang lain, tetapi orang lain tidak akan memberikan sesuatu yang lebih baik kecuali kesaksian yang lain". Ini berarti kesaksian terbuka terhadap kritik dan konfrontasi dengan berbagai kesaksian lain.

Titik ini merupakan pintu masuk ke sejarah. Orang biasanya lalu berbicara dengan menggunakan istilah ingatan sosial untuk semua kejadian masa lalu, semua yang terjadi dalam waktu yang diseleksi dari pendekatan ilmiah, suatu rekonstruksi kritis yang dibahas sebagai objek pengetahuan.

Menagih utang

Dengan sejarah, pembicaraan tentang ingatan tidak bisa dilepaskan dari dokumen. Pada titik ini, orang melampaui ingatan individual dan masuk ingatan kolektif. Perubahan ini sah, karena melalui bahasa, ingatan-ingatan individual terjalin di dalam ingatan kolektif. Mengatakan bahwa kita ingat akan sesuatu berarti mengumumkan kita telah melihat, kita telah mendengar, kita belajar sesuatu, kita mendapat sesuatu; dan ingatan ini diungkapkan dalam bahasa yang dipahami oleh semua, berarti masuk ingatan kolektif.

Dokumen merupakan transposisi ingatan dan kesaksian ke dalam tulisan. Ia pertama-tama adalah kumpulan kesaksian-kesaksian yang dihayati dan diarsipkan. Tetapi kita tidak perlu tergesa-gesa menggunakan istilah sejarah untuk menggantikan ingatan. Sejarah memperluas ingatan dalam hal ruang dan waktu, dia juga memperluas tema-tema dan obyek-obyeknya.

Oleh karena itu, kemudian dibedakan sejarah politik, sejarah sosial, sejarah ekonomi, dan sejarah budaya. Apa yang mau digarisbawahi dengan pembedaan antara sejarah dan ingatan? Pembedaan ini mengandung pesan dari sejarah terhadap ingatan: tugas ingatan kolektif tidak sekadar menghadirkan kepedihan akan apa yang tidak ada lagi, tetapi menagih utang terhadap apa yang telah terjadi.

Maka tidak mengherankan bila sejarawan Taufik Abdullah menulis tentang ingatan kolektif bangsa Indonesia sebagai dendam dan tuntutan: "Ingatan kolektif masyarakat Indonesia masih banyak menyimpan dendam sejarah.

Pertama, masyarakat mulai menuntut pada ingatan kolektif untuk menentang apa saja yang pernah dibuat Orde Baru. Kedua, menuntut perubahan terhadap dominasi kesadaran". (Kompas, 3/10/00) Bagaimana menata ingatan kolektif?

Menata kembali

Untuk menata kembali ingatan kolektif, upaya yang dilakukan tidak sekadar meluruskan atau mengoreksi sejarah dengan menulis kembali secara benar, tetapi harus diarahkan untuk menata kembali infrastruktur ingatan sosial atau sejarah. Pertama, hukum dan masyarakat sekarang harus mengakui adanya pelaku kejahatan dan korban kejahatan pada masa lalu.

Kedua, keadilan harus ditegakkan, dengan pelaksanaan sanksi hukum terhadap pelaku kejahatan dan restitusi (pemulihan) serta rehabilitasi terhadap korban.

Ketiga, pengampunan jangan mengaburkan kepastian hukum dan tidak bisa diberikan atas nama korban. Kekakuan pendekatan hukum perlu diimbangi pendekatan yang akan memberi gambar lebih hidup, yaitu melalui kisah yang dituturkan oleh sastra dan seni.

Maka selain kesaksian dan dokumen, ingatan kolektif bisa ditolong untuk dihidupkan melalui karya sastra. Untuk ingatan kolektif, bila tidak menyangkut peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi dan secara langsung diderita, pengetahuan manusia dikomunikasikan dengan lebih mudah melalui teks atau karya seni. Ingatan akan penderitaan dan kesewenangan penguasa Uni Soviet secara lebih hidup digambarkan dalam karya-karya Alexander Soljenitsyne; ingatan akan pembantaian massal bangsa Yahudi oleh Nazi tampil lebih keras dalam buku-buku Primo Levi, dan sebagainya.

Ingatan kolektif bukan digunakan untuk merugikan manusia, bukan pula untuk memberi pembenaran terhadap kekerasan, penindasan, dan penganiayaan. Membangun ingatan kolektif adalah untuk memberi pembenaran akan harapan. Harapan bahwa hari esok akan lebih baik, bahwa kekejian, kekerasan, dan ketidakadilan tidak akan terulang.

Maka pengaburan sejarah harus dikoreksi melalui kesaksian mereka yang menjadi korban dan mereka yang kalah. Ingatan macam apa yang perlu dipertahankan? Pada akhir suatu perang saudara, para demokrat Athena masuk kota dan membangun rezim demokrasi. Untuk mempertahankan masa depan Athena, mereka bersumpah untuk tidak mengingat kembali luka-luka lama. Dendam sejarah ini ingin dikuburkan. Tetapi, ini bukan berarti menerima kesewenang-wenangan dan ketidakadilan masa lampau. Ternyata proses peradilan tetap berjalan tetapi tidak ada balas dendam pribadi maupun kolektif.

Sejarah tidak dihancurkan tetapi dikoreksi. Kewajiban manusia bukan menghancurkan legenda-legenda yang ada hubungannya dengan hidup, bukan pula melupakan sejarah yang pahit, tetapi meluruskan untuk menjadi ingatan kolektif. Ada yang disebut kejahatan melawan kemanusiaan, ada pula kejahatan melawan ingatan kolektif. Mengubur ingatan yang masih hidup dari para korban ketidakadilan, merupakan kejahatan. Seseorang didefinisikan oleh ingatan individualnya, yang tak bisa dilepaskan dari ingatan kolektif.

Ingatan terkait dengan identitas. Melupakan berarti memperkosa ingatan, merampas manusia dari haknya akan ingatan. George Orwell benar waktu mengatakan, orang yang melupakan masa lalu, dia berpihak kepada diktator yang menganggap diri berhak mengontrol saat ini dengan mendominasi waktu yang lalu. Ingatan akan suatu tragedi tidak selalu tragis, tetapi memang tidak netral. Ingatan itu akan menilai, menghakimi, dan mengambil posisi atau berpihak kepada korban.
 
 

* DR. Haryatmoko, dosen Program Pascasarjana UI, Universitas Sanata Dharma dan IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.