KEKERASAN DALAM MEDIA

Kompas, 3 Juli 2008


Beberapa waktu lalu kita disuguhi kekerasan yang dilakukan organisasi sosial tertentu. Tak berapa lama, pecah demonstrasi mahasiswa penuh kekerasan. Semua ditampilkan di media tanpa seleksi. Etika komunikasi seperti tak berdaya menghadapi maraknya kekerasan di media.
Kekerasan fisik, pornografi, kekerasan virtual, dan kekerasan simbolik merajalela tanpa ada struktur kuat yang melawannya. Kekuatan moral seperti dibuat tak berdaya. Agama cenderung tergoda untuk mengusulkan pemecahan represif.
Ketidakpedulian atau ketidaktahuan para pendidik, orangtua, politik, atau organisasi profesi melemahkan perjuangan etika komunikasi. Sebagai wacana normatif, etika komunikasi membutuhkan prasarana kuat: topangan hukum, deontologi profesi, analisis kritis, militansi asosiasi-asosiasi perlindungan pemirsa atau pengguna audiovisual. Tujuannya ialah terwujudnya informasi yang mencerahkan dan mendewasakan.

Kekerasan sebagai komoditas
Kekerasan bisa didefinisikan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan (P Lardellier. 2003:18). Dalam kekerasan, unsur dominasi terhadap pihak lain tampil dalam berbagai bentuk: fisik, verbal, moral, psikologis, atau memalui gambar. Penggunaan kekuatan fisik, manipulasi, fitnah, pemberitaan yang tidak benar, pengondisian yang merugikan, kata-kata yang memojokkan, penghinaan merupakan ungkapan nyata kekerasan. Logika kekerasan merupakan logika kematian karena bisa melukai tubuh, mengganggu kejiwaan seseorang/kelompok dan menjadi ancaman integritas pribadi.
Kekerasan tidak harus berbentuk fisik, tetapi bisa menghancurkan dasar kehidupan seseorang. Sasarannya bisa psikologi seseorang, bisa cara berpikir, bisa afeksinya. Mengapa kekerasan dalam media tidak selalu memancing reaksi penolakan atau protes, tetapi justru sering memikat?
Kekerasan bila dipresentasikan, bisa menjadi gambar yang tampil melemah, lalu membuka dialektika banalisasi dan sensasionalisasi (Y Michaud, 1978:51). Gambar lalu menjadi komoditas. Ada yang menawarkan. Ada yang meminta, tetapi ada juga yang tidak tertarik.Dinamika itu memberikan pekerjaan kepada penasihat komunikasi. Gambar membuat kekerasan menjadi biasa. Dengan menghadirkan yang umum dan normal di dunia tontonan, pemirsa dibiasakan tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal, penggambaran di media menciptakan dunia yang sulit dibedakan antara riil, simulasi, hiperiil, atau bohong. Semua gambar dan teks diatur agar keyakinan pemirsa akan kekerasan menemukan ilustrasinya. Lalu, begitu keluar dari gambar menjadi lebih diteguhkan.

Aspek pendidikan dan etika
Ada presentasi kekerasan yang mengandung aspek estetiko-destruktif yang mengundang ketertarikan atau reaksi muak. Paksaan bermuka dua ini menempatkan kenikmatan dalam perjumpaan antara keindahan dan kematian (P Lardellier, 2003:22). Aspek ini dieksploitasi kepentingan pasar. Kekerasan dalam film, fiksi, siaran, dan iklan menjadi bagian industri budaya yang tujuan utamanya ialah mengejar rating dan sukses pasar.
Program yang berisi kekerasan jarang mempertimbangkan aspek pendidikan, etis, dan efek traumatisme penonton. Pendakuan bahwa tidak semua kekerasan jelek karena ada presentasi dalam media yang mengandung dimensi seni mempersulit pemilahan mana yang mendidik dan mana yang merugikan. Dimensi seni dalam kekerasan media yang terintegrasi dalam tubuh sosial dan institusi budaya berusaha mencari legitimasi. Proses legitimasi ini terombang-ambing antara eufimisasi dan pelebih-lebihan kekerasan.

Skenario penularan kekerasan
Apa yang ditakutkan ialah skenario penularan kekerasan di media menjadi kekerasan sosial riil. Informasi kekerasan bisa menambah kegelisahan umum sehingga membangkitkan sikap represif masyarakat, alat penegak hukum. Politisi sering mengeksploitasi perasaan tidak aman untuk kepentingannya (RUU APP). Saat kekerasan di media berfungsi seperti nilai barang, ia digunakan menjadi alat untuk menormalisasi situasi, sarana guna memecah belah dan alat efektif untuk demoralisasi warga atau kelompok tertentu.
Menurut hasil studi tentang kekerasan di media televisi AS oleh American Psychological Association tahun 1995, seperti dikutip S Jehel (2003:124), ada tiga kesimpulan yang perlu mendapat perhatian serius. Pertama, mempresentasikan program kekerasan meningkatkan perilaku agresif. Kedua, memperlihatkan secara berulang tayangan kekerasan dapat menyebabkan ketidakpekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban. Ketiga, tayangan kekerasan dapat meningkatkan rasa takut sehingga akan menciptakan representasi dalam diri pemirsa betapa berbahayanya dunia.

Tiga tipe kekerasan
Untuk bisa memahami kekerasan dalam media, orang perlu memahami, di media dikenal setidaknya tiga tipe dunia, yaitu dunia riil, dunia fiksi, dan dunia virtual. Karena itu, kekerasan juga perlu dibedakan sesuai pembedaan ketiga dunia itu. Jadi, ada tiga bentuk kekerasan. Pertama, kekerasan-dokumen yang merupakan bagian dari dunia riil atau faktual. Kedua, kekerasan-fiksi yang menunjukkan kepemilikan pada dunia yang mungkin ada; misalnya dalam kisah-kisah fiksi, film, kartun, komik, dan iklan. Ketiga, kekerasan-simulasi yang berasal dari dunia virtual (N Nel, 2003:38-41), misalnya dalam permainan-video, permainan on-line.
Bentuk-bentuk kekerasan ini lebih sering dikondisikan oleh kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik terjadi karena pengakuan dan ketidaktahuan yang didominasi atau yang diatur. Sebetulnya logika dominasi ini bisa berjalan karena prinsip simbolis yang diketahui dan diterima oleh yang mengusai maupun yang dikuasai. Prinsip simbolis ini bisa berupa bahasa, cara berpikir, bekerja, dan bertindak (P Bourdieu, 1998). Kekerasan simbolik berlangsung karena sistem informasi dan media besar berjalan mengikuti aturan tertentu, seperti keseragaman, mimetisme, reportase langsung pada kegiatan, sensasionalisme, dan penempatan prioritas informasi yang penuh kepentingan.

 


* DR. HARYATMOKO, Pengajar di Pascasarjana FIB UI, Jakarta, dan Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta
 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.