Logika Kekerasan Terorisme
Kompas, Jumat, 05 Agustus 2005

 


Dunia peradaban sekali lagi tertusuk gambar mengerikan terorisme. Teroris telah merampas jiwa-jiwa orang tak bersalah dan melukai banyak korban. Kelompok teroris masuk menjadi salah satu aktor politik dunia selain negara, pelaku ekonomi, dan masyarakat sipil (Ulrich Beck, 2004:40).

Jaringan teroris merupakan jaringan kekerasan, sasarannya merebut monopoli kekerasan negara (id). Terorisme menjadikan kekerasan sebagai sarana efisien untuk mencapai tujuan politik.

Efisiensi dan prinsip realisme

Kekosongan nilai yang tercermin dalam prinsip ”tujuan menghalalkan cara” memungkinkan kegilaan nihilisme. Korban justru dianggap sebagai ukuran keberhasilan atau bagian sasaran strategi. Nihilisme terorisme terletak dalam legitimasi kekerasan dengan mengosongkan substansi tujuan. Lalu tujuan diabaikan. Sarana menjadi mutlak. Efisiensi menjadi prinsip realisme. Akibatnya, pilihan nilai dikorbankan. Padahal, nilai terkandung dalam tujuan tindakan. Oleh terorisme yang melandaskan agama, substansi tujuan diisi dengan pembenaran ideologis dan simbolis kekerasan melalui teks Kitab Suci.

Terorisme mencerminkan tindakan dengan argumen keharusan. Argumen keharusan bukan argumen etika. Etika merupakan hasil pilihan. Keharusan mengabaikan pilihan. Penalaran yang mengantar pilihan kekerasan memang masuk akal, tetapi bukan pertimbangan moral.

Korban dan penghinaan

Kekerasan dimaksudkan menutupi kecilnya jumlah anggota. Bentuk keputusasaan diubah menjadi tindakan nekat. Terorisme merupakan senjata bagi yang lemah karena jumlah anggota maupun kekuatan militer konvensional (M Crenshaw, 1998:11). Pernyataan ini bukan mau membersihkan yang secara militer kuat dari keterlibatan tindak terorisme.

Melukai, menyandera, atau membunuh bagian yang lemah dari masyarakat yang dianggap musuhnya dipilih sebagai cara mengimbangi kekuatan. Ketakutan dilihat lemah, mendorong teroris menunjukkan kekuatannya (M Crenshaw 1998:16). Obyek serangan pertama-tama adalah simbol-simbol kekuasaan, seperti militer, polisi, dan politikus. Bila sasaran dijaga kuat, serangan diarahkan pada yang lemah perlindungannya.

Cara ini didorong ketidaksabaran bertindak karena rasionalitas instrumental. Simbol kemampuan melukai adalah wujud penyanderaan paling murni (ibid, 20). Dengan bertindak cepat, teroris merasa bisa mengompensasi kelemahannya. Kekerasan terhadap warga yang lemah perlindungannya adalah cara paling efektif meningkatkan kekuatan tawar.

Penghinaan tak tertanggungkan sering menjadi pemicu kekerasan, membuat tidak peduli pada korban yang tak bersalah. Teroris menuduh korban bukannya tidak bersalah, tetapi terlibat langsung atau tidak politik pemerintahnya melalui konspirasi atau connivence (persetujuan tak terungkap). Tuduhan ini berfungsi menghilangkan rasa salah. Dengan cara ini, fanatisme pendukung tidak dikendorkan oleh pertimbangan kemanusiaan. Fanatisme mencabut orang keluar dari realitas.

Tercabut dari realitas

Keterasingan terhadap realitas menghancurkan spontanitas. Padahal, spontanitas adalah sumber kebebasan gagasan dan pikiran kritis. Fanatisme mengabaikan tanggung jawab kemanusiaan.

Melalui konsepsi romantis bahasa, ideologi berhasil membutakan. Romantisme bahasa menekankan rumusan indah dan retorika meski harus membayar dengan terputus dari realitas. Tercabut dari realitas membuat tidak peka akan tanggung jawab. Keterasingan dan tiadanya tanggung jawab kemanusiaan adalah akibat setiap proses radikalisasi agama. Semua agama rentan terhadap bahaya ini.

Kunci sukses radikalisme agama pada kemampuan memberi kepastian. Ketidakpastian ekonomi global yang melahirkan pengangguran, kesenjangan, dan ketidakadilan, radikalisme agama menjanjikan ekonomi adil dan persaudaraan. Dalam ketidakpastian politik di mana korupsi merajalela, dan dekadensi moral meluas, radikalisme agama menjanjikan revolusi moral. Radikalisme agama memberi jaminan pengikutnya bukan atas dasar analisis, tetapi keyakinan dari visi Manikean.

Visi Manikean meyakini dunia dibagi dua kelompok, baik dan jahat. Janji akan masa depan tanpa kesusahan dikaitkan pemisahan baik/jahat. Pemisahan ini demi mistifikasi penganut agama pilihan dan satanisasi musuh. Musuh dianggap negasi terhadap nilai agama pilihan. Janji bahwa musuh agama akan binasa menjadi alat pembenaran melakukan apa saja, termasuk kekerasan dan pembunuhan.

Ancaman teroris memberi pembenaran kekuatan militer dan negara untuk mendapat izin berburu tanpa batas, membolehkan menguber siapa saja yang dicurigai teroris (Ulrich Beck, 2004:44).

Kecurigaan terhadap teroris memungkinkan definisi musuh menjadi lebih luwes. Demi perlindungan masyarakat, penguasa berhak mendefinisikan identitas musuh sesuai kepentingannya. Akibatnya, menurut Ulrich Beck, penetapan keadaan darurat menjadi biasa.

Memang, teroris sering memancing penguasa melakukan represi terhadap masyarakat. Dengan cara ini terorisme mau mengarahkan ketidakpuasaan masyarakat terhadap penguasa agar orang bersimpati dan membenarkan perjuangan mereka (M Crenshaw, 1998:19). Namun, korban tetap menumbuhkan simpati. Kekejaman akan mengundang antipati.

 


* DR. HARYATMOKO, Pengajar Pascasarjana Filsafat UI dan Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.