Korupsi dan Tanggung Jawab Politik

Kompas, 7 Januari 2004

 

 

FANATISME dalam hal ideologi, agama, atau pemikiran selalu menimbulkan masalah: konflik dan kekerasan. Lahan subur fanatisme bukan pertama-tama orang-orang bodoh yang mudah dipengaruhi atau diyakinkan, tetapi orang yang tidak lagi melihat pembedaan antara kenyataan dan fiksi, benar dan keliru dalam norma penalaran. Jadi kaum intelektual pun rentan terhadap fanatisme.

Eichmann, Dr Otto Bradfisch, Dr Otto Hunsche, bukan orang-orang bodoh, namun terpikat menjadi pendukung fanatik Nazi. Hannah Arendt dalam analisanya terhadap sistem totaliter menyimpulkan, lahan ideal fanatisme adalah orang-orang yang tidak mampu lagi memilah-milah realitas dan makna dari apa yang terjadi, tidak mempertanyakan lagi kebenaran dan makna dari suatu wacana, apalagi mengambil jarak dan kritis terhadap keyakinannya.

 

Meremehkan realitas

Ketika seorang pemeluk agama tertentu begitu yakin bahwa membunuh pemeluk agama lain dibenarkan secara teologis, orang itu tidak lagi memiliki acuan lain yang memungkinkannya membuat penilaian serius akan isi wacana teologis itu. Dalam penafsirannya, mediasi budaya diabaikan. Pengalaman yang merupakan tempat terjadinya hubungan kongkret antara orang itu dengan makna secara sistematis ditolak. Makna martabat manusia tidak mampu berbicara apa-apa lagi.

Hubungan konkret antarmanusia tidak lagi menjadi kesempatan untuk mengambil jarak terhadap keyakinan, kepentingan diri, atau kelompoknya. Dialog dianggap senjata orang lemah. Otokritik adalah tabu. Dengan demikian fanatisme bukan pertama-tama datang dari isi gagasan suatu ideologi atau agama, atau dari visinya tentang dunia, tetapi pertama-tama dari sikap dasar pemikiran.

Sikap ini meremehkan secara radikal realitas. Padahal realitas dunia ini menjadi titik tolak ideologi. Bukankah sikap itu merendahkan manusia yang kongkret? Bukankah ini suatu bentuk orientasi nihilis karena menganggap berbicara tentang realitas, padahal menyangkal realitas itu sendiri? Pemikiran semacam ini alih-alih terbuka terhadap yang lain, malahan mengubur yang lain dan apa yang di luar dirinya ke dalam realitasnya sendiri yang dianggap unik dan mutlak. Kejadian-kejadian besar hanya akan menjadi pemicu yang merangsang pemikiran narcissic untuk memberikan pembenaran terhadap orientasi dan kepentingannya sendiri.

Prinsipnya setiap orang bebas menciptakan kembali dunia seturut keinginannya, tiap orang bebas mengubah gagasan bahkan ke gagasan yang bertentangan, bila itu menguntungkannya. Fanatisme menyembunyikan perubahan terus menerus dari makna gagasan yang dianutnya. Perubahan makna tidak tertentangan dengan konsekuensi penalaran. Perubahan itu hanya bertentangan dengan logika diduktif yang kosong. Justru karena melulu disibukkan oleh konsekuensi logis, fanatisme membolehkan inkoherensi dalam gagasan.

Fanatisme yang pada dasarnya adalah wacana totaliter, menunjukkan bisa selalu berubah sesuai perubahan kenyataan, bukan untuk menyaingi kenyataan itu, tetapi agar adimakna yang melekat padanya dapat selalu menjawab kemungkinan-kemungkinan munculnya realitas yang tak dapat diramalkan. Contoh bahasa yang amat lentur ini adalah pembedaan bangsa Arya dan yang tidak murni. Hitler mengidentifikasi bangsa yang tidak murni itu, yaitu orang Yahudi. Dengan demikian dibenarkan eksterminasi bangsa Yahudi, dan kemudian kategori yang tidak murni itu diterapkan pada orang Polandia dan orang-orang Slavia lainnya. Akhirnya purifikasi dilakukan terhadap bangsa Jerman sendiri.

Demikian juga fanatisme agama, sasaran pertama yang harus dinafikkan atau dihancurkan adalah para pemeluk agama-agama lain. Akhirnya purifikasi akan dilakukan terhadap sesama pemeluk agama itu sendiri. Di sini tampak jelas suatu relativisme radikal dari fanatisme: bukan realitas yang menentukan makna dari kata-kata, tetapi kata-kata menciptakan kembali realitas sesuai yang dikehendaki.

Menjadi relativis berarti sekarang dapat menyangkal apa yang dikatakan kemarin tanpa harus khawatir terhadap hal-hal yang kontradiktif. Orang semacam ini tidak terintimidasi oleh kontradiksi dalam wacananya. Hari ini orang itu mendukung mati-matian gagasan/ orang tertentu, dan hari berikutnya mencaci-makinya dengan alasan yang sangat masuk akal. Ini merupakan suatu bentuk kesewenangan-wenangan berpikir.

 

"Self-fulfilled Prophecy" dan ilusi

Radikalisasi kesewenang-wenangan berpikir berarti boleh mengatakan apa pun, kemudian akan bergeser menjadi boleh melakukan apa pun. Self-fulfilled prophecy merupakan bentuk perubahan dari kesewenang-wenangan berpikir kesewenang-wenangan tindakan. Dalam Self-fulfilled prophecy, orang yang meramalkan peristiwa yang akan terjadi sekaligus juga pelaku yang mengeksekusi atau memerintahkan untuk mengeksekusi ramalan itu. Di depan massa pengikut dan simpatisan Nazi, Hitler pernah meramalkan, mereka yang memeras rakyat Jerman (istilah untuk orang Yahudi) suatu saat akan binasa.

Semua orang tahu, di balik ramalannya itu, Hitler sudah menyusun rencana matang untuk menghancurkan bangsa Yahudi. Pelaku pembinasaan terhadap bangsa Yahudi itu Hitler sendiri dengan memobilisasi semua aparatnya. Maka di Indonesia, ini masuk akal bila orang curiga terhadap politikus yang suka meramalkan kerusuhan, huru-hara, untuk menyertai gagasan-gagasannya. Jangan-jangan si politikus peramal itu sekaligus pelaksana atau otak di balik kerusuhan/huru-hara itu. Self-fulfilled prophecy adalah usaha penggalangan opini publik. Ramalannya seakan-akan merupakan upaya mencegah kehancuran lebih lanjut, padahal sebenarnya hanya blackmail. Suatu cara licik memberi bobot kepada wacananya dengan menunjukkan, apa yang dikatakan betul-betul terbukti.

Fanatisme itu eksklusif: membedakan yang masuk kelompok dan yang di luar. Terpilih menjadi anggota kelompok dalam penalaran teologis melahirkan hak-hak istimewa yang akan semakin mempertegas garis batas dengan yang di luar. Pemisahan itu berarti, pertama, pemberian hak-hak istimewa; kedua, sering diartikan penghapusan hak-hak yang ada di luar. Konsekuensi dari kedua hal ini ialah yang ada di dalam agama atau ideologi tertentu seakan-akan berhak menentukan hidup/mati dari mereka yang ada di luar.

Kekerasan, kekejaman bahkan pembunuhan terhadap yang di luar mendapat pembenaran ideologi atau teologis. Ekslusivitas ini juga merupakan upaya untuk melindungi diri dari kontaminasi dan menjaga kemurnian ajaran. Tiap penafsiran bekerja dalam lingkup terbatas, tetapi ilusi sebagai aspek dari ideologi membatasi lagi lingkup itu dari kemungkinan-kemungkinan penafsiran: ideologi itu buta, tidak refleksif, alergi terhadap kritik. Sesuatu yang berbeda atau baru, tidak bisa diterima bila tidak sesuai model-model yang sudah tergambar di dalam ideologi itu.

 

Massa: pemikat kaum intelektual

Jangan dikira fanatisme hanya menjadi konsumsi kaum tak terpelajar. Fanatisme juga memikat kaum intelektual. Daya pikat fanatisme bagi kaum intelektual ialah kemampuannya menjembatani dengan massa dan tiadanya kemunafikan. Jembatan itu berupa wacana eksklusif. Berpikir kategoris hitam atas putih adalah cara paling mudah untuk mereduksi realitas. Wacana yang dihasilkan akan mudah dipahami dan banyak pengikutnya. Ia hanya akan memberi dua pilihan: masuk kelompok atau musuh. Propaganda kaum fanatik sekaligus terang-terangan dan menyesatkan, kelihatannya paradoks, namun sebetulnya tidak. Keterusterangannya terletak pada apa yang dikatakan. Mereka terus terang mengungkapkan maksud jahatnya tanpa merasa malu.

Keterusterangannya ini menyesatkan karena membenarkan maksud jahat yang tidak bisa diterima etika sosial. Propaganda itu memutus hubungan dengan makna sehingga tidak butuh lagi menutup-nutupi maksud bohong ideologi. Maksud jahat itu begitu percaya diri sehingga tidak ada rasa malu atau minder sama sekali terhadap keutamaan. Maka tidak perlu lagi menyembunyikan kejahatan dengan kebohongan. Propaganda mengatakan kebenaran, tetapi kebenaran yang dikosongkan dari maknanya. Para intelektual itu melihat di dalam kejahatan itu bukan kejahatannya sendiri, tetapi radikalitas yang terus-terang dan percaya diri: ini memikat meski menjadikan terasing terhadap realitas.

Terasing dari realitas bisa membutakan nurani: tak ada lagi perasaan bersalah dalam mendukung upaya-upaya jahat. Pembutaan itu bisa terjadi karena rasa muak terhadap masyarakat yang dibusukkan oleh kemunafikkan, ideologi, dan moral. Rasa muak yang rindu akan perubahan/pembaharuan akhirnya disalahgunakan. Fanatisme itu menjanjikan perubahan dan pembaharuan yang radikal. Dukungan mereka seiring tanpa pamrih. Tiadanya pamrih ini bukan berarti, mereka siap mengorbankan kepentingan pribadinya, tetapi hanya merupakan tanda keterasingan terhadap yang real itu sungguh total.

Keterasingan terhadap realitas dan terhadap orang lain akhirnya menghancurkan hubungan dengan dirinya sendiri: tidak ada lagi kepentingan pribadi maupun keyakinan pribadi; tidak ada lagi spontanitas yang menjadi sumber kebebasan gagasan, keyakinan, pikiran kritis dan sumber hasrat. Penolakan diri ini melepaskan diri dari tanggungjawab terhadap sekitarnya dan tanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Fanatisme itu berarti penolakan terhadap semua bentuk tanggungjawab kemanusiaan.

 

Tercabut dari etika

Bentuk keterasingan terhadap realitas yang menjadi sumber fanatisme itu tampak dalam rumusan slogan seperti: "Lebih baik lapar namun tetap memiliki martabat dari pada makan roti dari perbudakan". Kritik yang pernah dilontarkan Hannah Arendt terhadap rumusan ideologis yang membutakan itu menunjukkan betapa besar pengaruh konsepsi romantis bahasa: mengagungkan rumusan indah, meski harus membayarnya dengan terputus dari realitas. Kalau rumusannya "lebih baik makan jagung tetapi tetap bermartabat daripada makan kue tart dalam perbudakan", dimensi realitasnya masih ada. Hanya kalimatnya akan kehilangan nilai retorika, padahal sangat dibutuhkan untuk operasionalitas ideologi.

Analisa ini menunjuk adanya kaitan erat antara terasing dari realitas dan tindakan yang tidak bertanggungjawab, yang tercermin dari gegabah dalam berpikir. Contoh karikatural cara berpikir yang terasing dari realitas adalah kalimat terkenal seorang mayor tentara Amerika Serikat yang setelah menghancurkan sebuah kota di Vietnam-Selatan mengatakan: "Kita terpaksa harus menghancurkan kota ini untuk menyelamatkannya".

Sama seperti yang dikatakan seorang teroris: "Kami terpaksa membunuh ke delapan puluh lima sandera agar orang menghargai martabat bangsa kami". Kedua contoh itu menunjukkan, dengan tercabut dari pengalaman real, pemikiran tercabut juga dari akar etikanya. Terasing dari realitas berarti juga terasing dari etika dan moral karena yang sebetulnya terjadi fanatisme mengasingkan manusia dari kemanusiaan yang kongkret.
 

 

 

* DR. Haryatmoko, Pengajar Program Pascasarjana UI, Universitas Sanata Dharma, dan IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.