Reproduksi Kesenjangan Sosial Melalui Sekolah

Kompas, 21 Juli 2003

 

SEJAK masih di sekolah dasar, peserta didik sudah dipacu untuk berprestasi agar masuk peringkat. Sejak dini mereka mulai berlomba memperebutkan tempat di setiap jenjang proses pendidikan karena menjanjikan posisi sosial di masa depan.

Maka, perburuan sekolah favorit sudah menghantui orangtua. Lembaga-lembaga yang menawarkan bimbingan belajar persiapan masuk sekolah atau universitas favorit menjamur. Sistem sekolah menciptakan mitos, semua punya kesempatan sama.

Perburuan sekolah favorit ini memberi bukti, orang telah menyetujui sistem seleksi masyarakat sejak dini. Betulkah semua peserta didik punya kesempatan sama? Ideologi bakat kian melanggengkan mitos, semua mempunyai kesempatan yang sama. Namun, bukankah asal-usul sosial peserta didik menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan atau kegagalan di sekolah (P Bourdieu, 1970)?

Ada faktor yang memelihara mitos kesamaan kesempatan itu. Representasi kisah sukses telah mengecoh dengan menampilkan dua atau tiga tokoh yang berhasil meski berasal dari keluarga miskin atau petani desa. Kisah itu mau meyakinkan, berkat ketekunan, mereka mampu meniti tiap jenjang pendidikan hingga berhasil menduduki jabatan tertentu. Orang tidak bertanya berapa persen jumlah yang berasal dari keluarga miskin atau petani bisa berhasil seperti itu. Setelah lulus dari perguruan tinggi, untuk menemukan pekerjaan, hubungan- hubungan sosial ikut menentukan, apalagi jabatan mapan. Padahal, keluarga miskin biasanya lemah dalam modal sosial ini.

Representasi seperti itu meyakinkan, seakan berkat bakat dan ketekunan, semua peserta didik berkesempatan sama untuk berhasil. Padahal, asal-usul lingkungan sosial amat menentukan. Peserta didik dari keluarga miskin atau petani harus berjuang keras untuk meniti tangga sekolah karena jauh dari fasilitas pendidikan dan budaya.

Lain halnya dengan mereka yang sejak kecil tidak asing dengan buku, komputer, kunjungan ke perpustakaan, berlangganan majalah atau koran, diskusi di mana olah-pikir menjadi aktivitas utama, maka menulis dan berbicara telah menjadi bagian hidup. Terbiasa dengan lingkungan di mana bahasa cerdik menjadi bahasa ibu, mereka mumpuni menggunakan kata-kata dan cara berpikir lebih terasah tajam (P Bourdieu, 1964).

Kebiasaan membaca dan belajar karena sudah menjadi tradisi keluarga mempermudah peserta didik dari lingkungan sosial tertentu memenangi persaingan. Dari sini muncul ideologi bakat, seakan kemampuan dan keunggulan peserta didik adalah bakat bawaan. Padahal, keberhasilan itu berkat disposisi, hasil keterampilan dan pembiasaan, lalu menjadi bagian kesadaran praktis, kemudian diungkapkan dalam kemampuan yang kelihatannya alamiah, bisa berkembang lantaran lingkungan sosial tertentu (habitus menurut P Bourdieu, Le Sens Pratique, 1980).

Mekanisme seleksi sosial dini

Konsep habitus ini tidak berarti menyetujui determinisme yang memenjara tindakan manusia dalam kerangka pembatas dari luar atau struktur sosial yang mengondisikan seakan individu tidak mandiri dan rasional. Memang, meski manusia mandiri dan rasional, gagasan atau pemikirannya tidak lepas dari suatu visi tentang dunia yang berakar dalam posisi sosial tertentu.

Keterampilan seseorang dalam menjawab tantangan dikondisikan oleh lingkungannya dan dipengaruhi rutinitas tindakannya. Namun, kebiasaan dan keterampilan itu berfungsi seperti program yang memiliki kemampuan kreatif dan jangkauan strategis dalam lingkungan tertentu.

Jadi, meski ada faktor determinisme yang membebani representasi-representasi peserta didik, konsep habitus juga memperhitungkan kemampuan kreatif dan strategis. Maka, tidak disangkal peserta didik dari lingkungan miskin membuktikan bisa berhasil. Mereka tidak terpenjara oleh keterbatasan lingkungan sosial dan mampu mengatasinya.

Masalahnya, berapa persen jumlah yang bisa menikmati keberhasilan seperti itu. Jerih payah dan pengorbanan macam apa harus menyertai keberhasilan yang relatif rendah itu. Dan yang menyesatkan, saat tingkat keberhasilan yang rendah itu justru cukup untuk menyelubungi mekanisme seleksi sosial melalui sekolah.

Lalu mitos bahwa setiap peserta didik mempunyai kesempatan sama kian hidup dan diyakini. Mekanisme seleksi sosial melalui sekolah tidak pernah dipertanyakan lagi karena tampak seperti alamiah, meski hanya menguntungkan kalangan berkecukupan. Ia menjadi sarana mempertahankan posisi-posisi sosial atau sarana dominasi kelompok sosial tertentu. Mekanisme seleksi ini dipertajam kecenderungan untuk berbeda dalam selera kegiatan budaya dan pilihan apa yang dikonsumsi, dipakai, serta dimiliki.

Sistem representasi kelas sosial dan konsumerisme

Ketika sekolah menerapkan pakaian seragam, peserta didik dari kelas sosial atas menyatakan perbedaannya melalui merek sepatu, jam tangan, handphone, kendaraan, dan aksesori yang dipakai. Apa yang dipakai bukan hanya masalah selera, sadar atau tidak ditentukan dan diorganisasi sesuai dengan lingkungan dan posisi di masyarakat. Tidak sekadar masalah pendapatan, pilihan sekolah, pilihan jenis olahraga, musik, kursus bahasa, atau les tambahan dan sebagainya, selera mengungkapkan sistem representasi yang khas pada kelompok sosial tertentu, posisi mereka dalam masyarakat dan keinginan untuk menempatkan diri dalam tangga kekuasaan (Bourdieu, 1979).

Sistem representasi kelompok sosial itu ditentukan oleh akses ke kegiatan budaya tertentu yang pada dasarnya tidak setara, sesuai kepemilikan sosial. Keinginan untuk berbeda merupakan upaya representasi posisi sosial dalam kerangka mekanisme konstruksi penilaian. Di balik ketidaksetaraan akses dan perbedaan penilaian itu, tercermin kode-kode dan wacana yang dikuasai berkat lingkungan sosial yang kemudian diperkokoh sekolah.

Kesukaan pada musik klasik, penguasaan bahasa Inggris, ikut les piano, mencerminkan kepemilikan lingkungan sosial tertentu. Apa yang dipakai, dimiliki, dan pilihan jenis hiburan bukan hanya sesuatu yang bermakna, tetapi terkait dengan hubungan antarmanusia untuk mempertahankan atau menaiki tangga kepemilikan lingkungan sosial. Dari sini tampak hubungan sistem representasi kelas sosial dan konsumerisme. Jadi, semua kelas sosial terkena wabah itu.

Konsumerisme bukan hanya dorongan memiliki atau belanja berlebihan untuk afirmasi keberadaan ego. Ego ini bukan ego modern yang terisolasi, ia dalam jalinan sosial. Konsumerisme itu menjadi proyeksi pembatasan dan keinginan sosial atau proyeksi ketakutan kepada yang sosial yang diinternalisasikan. Ia terkait organisasi atau rekayasa representasi-representasi, pesan-pesan, dan penataan tanda-tanda.

Organisasi atau penataan itu salah satunya mendasarkan mekanisme hasrat mimetis ímeniruí (R Girard, 1982): sesuatu menjadi menarik karena diinginkan oleh orang lain. Pihak lain yang awalnya membantu menumbuhkan keinginan lalu menjadi penghalang. Maka, dalam konsumerisme ada unsur persaingan, hubungan kekuasaan.

Hasrat mimetis tidak lepas dari hubungan kekuasaan. Selera kelas penguasa menentukan budaya, sistem komunikasi dan integrasi kelompok yang dilanggengkan dalam institusi sekolah. Maka, menjadi kepentingan kelompok itu untuk tetap memelihara mitos bahwa sekolah membuka kesempatan yang sama bagi semua. Mitos ini menghidupkan hasrat mimetis untuk berhasil dalam diri peserta didik yang berasal dari lingkungan miskin dalam modal budaya. Dengan demikian, sistem sekolah yang lebih menguntungkan mereka yang kuat modal ekonomi dan budaya tidak dipertanyakan.

Wilayah pendidikan prioritas

Kebijakan pemerintah mengurangi subsidi perguruan- perguruan tinggi negeri favorit tertentu membahayakan cita- cita pendidikan untuk rakyat. Jalur khusus seleksi mahasiswa baru sudah merupakan diskriminasi terhadap calon mahasiswa dari kalangan miskin, sudah menjadi sarana seleksi sosial. Bukan maksud tulisan ini mempertanyakan sistem institusi sekolah. Tulisan ini hendak melihat suatu mekanisme reproduksi kesenjangan sosial yang tersembunyi. Memecah mitos seakan semua mempunyai kesempatan yang sama. Padahal, peserta didik dari kalangan sosial tertentu dengan besarnya akumulasi modal budaya lebih siap menghadapi persaingan. Kesadaran ini diharapkan memobilisasi upaya menyingkirkan hambatan sosio-budaya penyebab tingginya kegagalan di sekolah peserta didik dari kalangan sosial bawah.

Upaya itu ialah pengembangan kelas-kelas penyesuaian selama satu tahun bagi mereka yang berasal dari wilayah pendidikan tertinggal; penyelenggaraan perpustakaan umum; menyediakan penyewaan komputer yang dapat diakses kalangan miskin; penciptaan wilayah pendidikan prioritas untuk peserta didik yang berasal dari kalangan miskin, wilayah pedesaan tertentu, dan daerah terpencil agar mendapatkan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan yang bermutu.

 

 

* DR. Haryatmoko, Pengajar Program Pascasarjana UI dan Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.