TERUSLAH MENYIKSA BATIN RAKYAT
Suara Pembaruan Daily, 8 Nopember 2006
Oleh:  Benny Susetyo


Studi banding lagi, studi banding lagi. Studi terus... terus," begitulah gumam rakyat hari-hari ini. Diberitakan, sebanyak 31 anggota Komisi V DPR dan sejumlah pejabat Departemen Perhubungan (Dephub) serta direksi BUMN bidang transportasi secara bertahap selama dua pekan melakukan studi banding ke tiga negara di Eropa, yakni Belanda, Jerman dan Prancis. Anggota Komisi V itu akan melakukan kunjungan kerja ke sejumlah tempat, untuk pembahasan revisi empat rancangan undang-undang (RUU) di bidang perhubungan (Pembaruan 4/11).
Diberitakan pula, dalam jadwal kegiatan rombongan disebutkan, setiap rombongan akan menemui pejabat perhubungan setempat. Namun dalam kunjungan itu juga dibuat jadwal untuk berwisata (Pembaruan 4/11).

Kebohongan Vs Kebenaran
Sudah lama di negeri ini kita susah membedakan antara kebohongan dan kebenaran. Yang bohong sering merupakan kebenaran dan yang benar sering merupakan kebohongan. Sejak dulu memang sulit bisa ditutup-tutupi bahwa "studi banding" yang dilakukan oleh anggota dewan itu seringkali lebih banyak "jalan-jalannya". Dulu, yang pernah melakukan "studi banding" ke Mesir bahkan menyatakan minta maaf secara terbuka. Mereka berjanji menjadikan kasus ini sebagai "pelajaran berharga". Sekarang, mereka berangkat lagi ke Eropa.
Alasannya juga macam-macam. Rakyat kebanyakan tidak tahu apakah alasan itu benar atau tidak. Apakah yang dalam niatnya benar, dalam praktiknya juga benar. Apakah yang maksudnya baik dalam hati, dalam perilaku juga baik. Tapi sepandai-pandai bajing meloncat, suatu saat akan jatuh juga. Kebohongan tidak akan bisa digantikan dengan kebenaran, dengan cara apapun dan bagaimanapun juga.
Adalah politisi, kita tahu semuanya bahwa dua logika biner, baik buruk, benar salah, hitam putih itu dalam kredo mereka dibolak-balik. Namanya politisi, mereka merupakan pemain perilaku dan pemain kata-kata yang unggul. Rakyat 200 juta pun bisa dikibuli.

Penuh Kontroversi
DPR Reformasi adalah dewan yang tak pernah berhenti melahirkan kontroversi. Kendatipun mendapat kecaman dari mana-mana, kontroversi terus menerus dihadirkan seolah untuk menyiksa batin rakyat. Untuk kasus sebelum saat ini, dahulu meskipun mendapat kritik pedas sebab dinilai tidak efektif dan dinilai menghambur-hamburkan uang negara, justru DPR memperbesar anggarannya sampai dua kali lipat. Atas nama studi banding, anggaran dibengkakkan bahkan sampai dua kali lipat hingga 110 persen.
Studi banding sebenarnya proses belajar yang baik. Tetapi di negara kita makna studi banding sering terpeleset dan dipelesetkan oleh dunia kepolitikan elite kita menjadi sekadar "jalan-jalan". Karena itu sebagus, seperlu, seurgen, seharus atau sehebat apapun rancangan 'studi banding' dengan anggaran selangit, bukanlah tindakan yang bijaksana di mata rakyat. Ini karena situasi yang dihadapi oleh rakyat saat ini jauh lebih sulit daripada situasi yang mereka hadapi.
Empati yang tidak dalam, rasa memiliki yang tidak serius, mendahulukan kepentingan politik partai dan golongan, ambisi dan keserakahan pribadi adalah soal-soal yang menyebabkan naluri anggota dewan itu bermasalah-atau tidak sehat. Dalam sorotan dan kritik luar biasa, anggota dewan seolah tak mendengarnya. Atau mereka mendengarnya tapi hati nurani dan naluri kemanusiaannya sudah tumpul?
Kita bersedih karena kegalauan Socrates bahwa dalam demokrasi rakyat akan diwakili oleh orang- orang yang bebal dan dungu hampir seratus persen terbukti. Mereka bebal rasa dan sulit diajak merasakan kepahitan yang diderita bangsa ini. Apa guna wakil rakyat jika mereka tidak membela, empati dan belajar dari rakyat?
Ketidaksadaran bahwa uang saku, tunjangan, anggaran "jalan-jalan", yang mereka minta itu sungguh-sungguh berasal (atau diperas) dari keringat rakyat, membuat tertutupnya mati hati para politisi bangsa ini. Sayang sekali mereka melihat anggaran sebesar itu sebagai jumlah yang masih sangat kecil, dan mereka tak sadar bahwa itu adalah sebentuk pengkhianatan terhadap kesengsaraan rakyat.

Perilaku Priyayi
Tak sadar sebagai pembela rakyat, anggota dewan sudah sangat sering memerankan diri sebagai punggawa kerajaan zaman dulu yang enggan dikritik. Mereka ingin disebut priyayi, yang dalam ucapan Geerts dikatakan sebagai kelas masyarakat paling, hidup serba berkecukupan, dan selalu "memajaki"rakyat dengan berbagai cara.
Mereka ingin disanjung meski berbuat tidak benar. Mereka ingin dihormati meski perilakunya sering bertentangan dengan moralitas kemanusiaan.
Politik priyayiisme ini hidup menggurita di segenap lini pemerintahan dari daerah hingga pusat. Kita hidup dalam sebuah zaman di mana demokrasi, obyektivitas dan rasionalitas disanjung-sanjung, tapi kepatuhan dan keterpaksaan secara tidak masuk akal dipraktikkan. Sebagai elite politik mereka tak sadar kalau tindak-tanduk dan perilakunya selalu menjadi bahan pergunjingan masyarakat.
Rakyat sendiri sering tertipu memiliki wakil rakyat yang demikian. Tertipu dan berulang kali tertipu memiliki pelayan yang suka mencuri uang juragan, menipunya dengan seperangkat hukum yang direkayasanya.
Itulah lingkaran kegelapan yang mewarnai kehidupan politik yang mencerminkan betapa nurani kita sebagai bangsa telah sirna di muka bumi pertiwi ini. Sangat sedih kita menyaksikan rakyat yang sudah kehabisan "air mata".
Para elite kita bagai singa sirkus yang lihai memerankan tipu muslihat yang membuai dan menipu penonton. Mereka bagai pemain sulap yang pandai membuat penonton tertawa sekaligus menangis. Mereka pandai menyembunyikan sesuatu "tanpa terlihat" penonton (tapi penonton sadar bahwa ia ditipu), dan memperlihatkan sesuatu yang menakjubkan.

Pertimbangan Dagang
Juergen Habermas pernah menyatakan die Normativitaet des Faktischen. Dalam kehidupan para politisi sering melahirkan kecenderungan untuk membolak-balik fakta dan norma. Terdapat kecenderungan agar suatu kenyataan faktual bisa membenarkan dirinya secara normatif, dan bukannya benar dalam pengertian norma-norma yang berlaku.
Di tengah suasana serba materialistis, pertimbangan pengambilan keputusan dalam berbagai areal kehidupan hanya diwarnai dengan pertimbangan untung-rugi. Bukan pertimbangan benar salah.
Suatu tindakan bisa jadi 'menguntungkan' walaupun secara moral "salah", demikian pula sebaliknya. Karena itu sulit bagi kita untuk menemukan mana yang dusta dan mana yang jujur. Kriteria politisi jujur dan politisi penuh dusta sulit diberikan karena pertimbangan yang sering digunakan adalah pertimbangan untung-rugi.
Politik, jika semata-mata menggunakan logika dagang untung-rugi, hanya akan menghasilkan para politisi yang jiwanya seperti pebisnis. Bukan pertimbangan baik-buruk, salah-benar, jujur-dusta, melainkan suatu tindakan sering dilakukan apakah menguntungkan atau merugikan.
Ini sudah terjadi dalam keseharian politik kita. Akibatnya, orang yang sedang berdusta bahkan sering dianggap sebagai orang jujur yang sedang berkhotbah. Batasannya makin kabur dan sumir. Antara dusta dan kejujuran hanya dipisahkan oleh sehelai rasa yang sering kita sebut sebagai hati nurani. Karena itulah banyak politisi berdusta di dalam khotbah-khotbah yang tampak di depan mata sebagai "jujur".

 

 


* Penulis adalah Budayawan

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.