Utopia Politik dan Radikalisme
Kompas, 18 April 2002
 


SECARA berkala dalam masyarakat muncul suatu utopia. Utopia biasanya disambut hangat di masyarakat yang sedang dilanda krisis. Di Jawa, pada masa penjajahan, orang mengenal utopia dalam bentuk mesianisme: janji akan datangnya Ratu Adil. Di Eropa, pengaruh teks Thomas More, Utopia, terhadap ideologi sosialis utopis abad XIX tidak bisa diabaikan. Utopia sosialis dari Charles Fourier sampai Karl Marx, dari Saint-Simon sampai Robert Owen mempunyai kesamaan, yaitu mempertanyakan gagasan-gagasan zaman itu, mengguncang keyakinan kebanyakan orang, protes terhadap tatanan sosial yang ada dan mengusulkan konsepsi kehidupan sosio-politik alternatif. Di Indonesia dewasa ini, gerakan-gerakan sosial-politik utopis semacam itu juga tumbuh subur.
Hampir semua agama menjadi sumber inspirasi gagasan utopia politik. Dalam kristianisme dikenal tokoh seperti Savonarola di Firenze (1498) dan Jan Beukels di Munster (1536). Dalam Islam, masa Nabi Muhammad SAW selalu menjadi acuan utopia kehidupan sosio-politik bagi pemikiran-pemikiran dan gerakan-gerakan sosial-politik Muslim. Satu hal yang menandai gerakan-gerakan utopis ini ialah radikalisme. Dari mana radikalisme ini? Radikalisme ini berasal dari struktur utopia itu sendiri: visi manikean; revolusi sudah di ambang pintu; cobaan akan datang; teror dan pengawasan panoptik.


Visi Manikean


Dunia ini pada dasarnya hanya dibagi dua kelompok: baik dan jahat, terang dan gelap, benar dan salah. Musuh adalah wujud nyata kejahatan. Dalam utopia sosialis, pilihannya antara sosialisme (wujud nyata yang baik) atau bourjuisie/kapitalisme (wujud nyata kejahatan). Dalam utopia politiko-religius, tidak hanya dua kelompok yang seagama atau musuh. Model manikean utopia politiko-religius membagi tiga kelompok: yang terpilih (militan), massa pemeluk (simpatisan) dan para pendosa atau kaum kafir yang ada di luar agama pilihan.
Visi manikean ini mendorong ke radikalisasi tindakan melalui tiga cara: satanisasi musuh, hierarkisasi keanggotaan, dan puritanisasi gerakan. Pertama, pemisahan baik-jahat, berfungsi untuk satanisasi musuh. Dengan cara itu, pembunuhan musuh menjadi sesuatu yang impersonal karena musuh merupakan negasi terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan agama pilihan. Jadi tidak mungkin ada perdamaian dengan orang-orang semacam itu. Robespierre pernah mengatakan, "Mereka yang memerangi rakyat untuk menghentikan kebebasan dan meniadakan Hak Asasi Manusia harus dilawan bukan sebagai musuh biasa, tetapi sebagai pembunuh dan bandit pemberontak".
Kejahatan ada di mana-mana, licik dan penuh jebakan, maka harus dihancurkan. "Ada konspirasi jahat" adalah senjata yang digunakan kaum utopis politiko-religius untuk mendiskualifikasi setiap upaya menghalanginya. Komplotan jahat yang berupa jaringan desinformasi, pengkhianatan dan pembunuhan adalah strategi musuh untuk menghambat pewujudan utopia itu. Kedua, hierarkisasi keanggotaan. Semakin besar keinginan menjadi bagian inti dari organisasi semakin nekat dan radikal tindakannya. Pengakuan militansi hanya datang melalui fanatisme semacam itu. Ketiga, puritanisasi gerakan adalah upaya menghindari segala bentuk kontaminasi ajaran, tradisi, kebiasaan, serta usaha untuk menyeleksi anggota atas dasar militansi. Tuduhan pengkhianatan merupakan cara menyingkirkan anggota yang dianggap tak berguna. Maka pepatah "revolusi memakan anaknya sendiri" berlaku pada utopia politiko-religius. Mereka yang seagama pun akhirnya akan dibersihkan bila dianggap tidak segaris dengan kelompok inti.


Revolusi di ambang pintu


Saatnya tiba, besok kemenangan akan diperoleh berkat perjuangan partai pekerja; buruh dan petani bersatu menuntut hak-hak mereka. Pada tahun 1848, Marx mengumumkan kehancuran bourjuisi. "Tiba-tiba masyarakat jatuh dalam situasi biadab: kelaparan dan perang yang menghancurkan telah memisahkan dari sarana-sarana kehidupan. Industri dan perdagangan bangkrut. Bourjuisi tidak mampu mempertahankan diri sebagai kelas dominan. Harus berubah! Aksi revolusioner menjadi keharusan, karena masyarakat terlalu muak terhadap peradaban zaman ini. Kemiskinan berkembang jauh lebih cepat daripada jumlah penduduk dan kekayaan".
Utopia politiko-religius tidak hanya mengumumkan perubahan yang didahului bencana alam, kemiskinan, konflik, dan perang yang menghancurkan bangsa. Kataklisme, kemiskinan, dan perang itu hanyalah sindrom dari kebobrokan moral. Maka fokus utama revolusi agama adalah mengatasi dekadensi moral. Banyak revolusioner agama mengumumkan saatnya sudah tiba. Situasi yang ada sudah tidak bisa ditolerir lagi. Saat yang dijanjikan tidak hanya sudah dekat, tetapi fatal, sudah dikehendaki Tuhan. Kalau dalam Manifesto Komunis (1848) Marx meramalkan "bourjuisi menyiapkan senjata yang akan menjadi alat pembunuh dirinya sendiri", dalam utopia politiko-religius, self-accomplished prophecy menjadi mekanisme penghancuran musuh agama pilihan. Biasanya seorang nabi meramalkan sesuatu, tetapi Tuhan yang menentukan. Dalam self-accomplished prophecy, yang meramalkan sekaligus adalah pelaksananya.
Dalam rapat akbar di Nurenberg, Hitler meramalkan, penghisap darah rakyat Jerman (yang dimaksud adalah Yahudi) suatu saat akan binasa. Dalam benak Hitler sudah ada rencana pengejaran dan pembunuhan massal terhadap orang-orang Yahudi. Janji dan ramalan bahwa para musuh agama pilihan akan binasa menjadi alat pembenaran untuk melakukan apa saja, termasuk kekerasan terhadap siapa saja yang dianggap musuh. "Saatnya sudah tiba" lalu mempunyai efek radikalisasi gerakan. Bukan berarti situasi yang tidak dapat ditolerir itu akan segera bisa diakhiri, namun penderitaan, cobaan dan kekurangan itu mulai sekarang mempunyai makna positif. Harapan akan masa depan yang lebih baik membuat pengorbanan yang sekarang ini menjadi bermakna.


Cobaan akan datang


Betapa pedihnya cobaan, penantian yang lama, saat-saat putus asa selalu mempunyai makna. Cobaan-cobaan itu menjadi pemurnian dan cara seleksi mereka yang terpilih. Tanda keterpilihan itu adalah tahan menghadapi semua tantangan dan cobaan. Ideologi memberi makna terhadap cobaan, kegagalan, atau kekalahan dengan meyakinkan kemenangan akhir sudah dekat. Karl Marx (1848) menulis: "Kadang-kadang kaum bourjuis menang, tetapi kemenangan mereka hanya sementara." Tidak ada alasan yang bisa mengendurkan semangat dan militansi mereka.
Keyakinan ideologis semacam itu mendorong dedikasi dan pengorbanan, namun juga membawa kepada tiadanya toleransi, tidak peka lagi terhadap kekejaman dan kekerasan. Kesetiaan tanpa syarat memberi makna kepada hidup mereka dan kekecewaan mereka. Pahit karena kekalahan dilihat sebagai sesuatu yang sementara. Melemahnya ideologi ditanggapi dengan optimisme bahwa gagasan-gagasan besar akan bisa bertahan hidup. Proses ini tanpa disadari menjadi proses perubahan dari keyakinan agama menjadi keyakinan politik yang memuncak sampai pada utopia. Semua ini terjadi karena perasaan diabaikan atau disingkirkan dari kekuasaan dialami kelompok sosial tertentu mengkristal menjadi perlawanan dan mendorong radikalisasi gerakan.


Teror dan pengawasan panoptik


Teror bukan hanya menjadi sarana seleksi anggota terpilih, namun juga sebagai pedagogi untuk menjamin hukuman bagi musuh dan cara untuk memobilisasi para pengikut. Dalam bawah sadar kolektif, kekerasan dan kekejaman hukuman tidak dirasakan sebagai yang menghancurkan, tetapi dilihat sebagai pendidikan, bentuk moralisasi individu, sebagai sarana integrasi ke dalam struktur kelompok sosial itu. Kekerasan atau kekejaman hukuman akan makin berat bagi mereka yang menolak, bahkan bisa sampai pada isolasi atau kematian. Seakan-akan pepatah "yang sungguh mencintai, tak segan menghukum" mendapat pembenaran. Hal ini untuk menghindari sifat pasif. "Sifat pasif merupakan kejahatan melawan revolusi", kata Lenin. Jadi teror tidak hanya sarana untuk menguasai manusia, tetapi juga sarana untuk memobilisir mereka dengan meyakinkan bahwa revolusi belum selesai, bahwa musuh masih hidup.
Kebenaran itu ada dan hanya satu. Hanya pemimpin yang bisa menafsirkan secara benar. Pemimpin mempunyai tugas membawa anggota-anggotanya ke dunia yang lebih baik dengan segala cara. Mekanisme mental perilaku kejam berjalan dengan kesadaran penuh. Saling curiga merupakan akibat logis yang tak terhindarkan, sehingga berkembang mentalitas menjilat dan fitnah. Mekanisme ini merupakan bentuk pengawasan yang paling efektif. Pemimpin tidak perlu selalu hadir, namun ada perasaan selalu diawasi pada diri anggota-anggotanya. Pengawasan diskontinu, efeknya kontinu. Mengapa perlu pengawasan panoptik ini? Ideologi ingin menjamin kebahagiaan manusia, bukan menindas. Tetapi visi menyeluruh tentang masyarakat mengandaikan suatu kontrol yang total dan permanen terhadap individu. Radikalisasi tindakan merupakan efek dari teror dan pengawasan panoptik. Orang ingin membuktikan dirinya loyal dan militan.

 


* DR. HARYATMOKO, Pengajar program pascasarjana filsafat pada Universitas Indonesia Jakarta, IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta.
 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.