MASALAH NAMA  "ALLAH"

 

 

a. Sebutan yang diusulkan oleh Sang Mubaligh adalah salah, dan bukti bahwa tidak membaca Alkitab dengan baik. Ini adalah pola Saksi Yehova.
b. Kitab Suci resmi yang dipakai oleh Gereja Katolik, bahkan sejak sebelum Islam muncul di dunia, sudah tidak biasa menggunakan kata YAHWEH, tetapi dalam Septuaginta (LXX - berbahasa Yunani) dan maupun sesudahnya dalam Vulgata (bahasa Latin) semua kata itu sudah diterjemahkan dengan Deus; dalam edisi bahasa Inggris, kemudian diterjemahkan dengan God; dan dalam bahasa Indonesia baku diterjemahkan dengan Allah - dengan lafal Indonesia dan bukan lafas Arab. Kalau kta bisa menemukan Alkitab kita dalam bahasa Arab, kemungkinan besar juga ditulis dengan sebutan yang sama. Kitab yang memakai sebutan YAHWEH adalah Kitab
dalam bahasa Hibrani (Aram) seperti yang memang dipakai oleh orang Yahudi. Dan sebutan itu pun populer dalam Taurat yang adalah Kitab resmi Yahudi. Dengan demikian terbukti jelas bahwa TUDUHAN si mubaligh adalah keliru, dan membuktikan kebodohan atau sok tahu dari kenyataan yang sebenarnya tidak mereka ketahui. Sayang sekali atas sikap terlalu gegabah di masa orang gampang emosi seperti ini. Jadi kita agama Kristiani tidak pernah menggunakan sebutan Yahwe untuk menyapa Allah.
c. Maka memaksakan dan mengklaim salah satu istilah sebagai istilah eksklusif bukan tindakan tepat dan normal. Bahkan kalau ditelusuri malahan bisa memukul balik bahwa sebutan itu sebenarnya bisa jadi pertama-tama lahir dari tradisi Kristiani, yang banyak diserap oleh Muhammad di awal perkembangan pengetahuan keagamaannya. Sebutan yang sudah biasa dipakai untuk menyebut Allah yang satu-satunya, yang adalah pencipta langit dan bumi dan segala isilnya - itulah yang diadopsi ke dalam budaya Islam di jaman berikutnya.
Bedanya Islam menempatkan kata Allah sebagai 'Asma' (nama diri); sementara tradisi kristiani sebenarnya tidak pernah menempatkan secara mutlak kata "ALLAH" sebagai nama diri. Bukti itu jelas sekali, bahwa "Nama diri" - tidak pernah boleh dan tidak perlu diterjemahkan. Paling banter yang terjadi adalah soal lafal dan pronounsiasi yang dipengaruhi oleh bahasa ibu (mother tongue) setiap suku. Sebagai contoh nama "Maria" - bisa dilafalkan menjadi Maryam, Myria, Mariah, Mary, Miaria, dll. Tapi tidak pernah bisa dimengerti kalau diganti dengan "Dewi" begitu saja. Nama kota "Kudus" - tidak bisa diterjemahkan dengan "Sacred" kepada orang Inggris, atau Sancto kepada si Itali; atau suci kepada simbah kita. Kudus tetap apapun bahasanya ya Kudus.
Nah, Allah - ini nyatanya disepakati bahwa masing-masing bangsa dan bahasa mempunyai sebutan yang berbeda dengan maksud sama; artinya bisa diterjemahkan. Bahkan untuk di Indonesia saja, ada beberapa suku yang menggunakan kata yang berbeda untuk menyebutNya (lihatlah bahasa suku, seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian).
Jadi kita menggunakan kata ALLAH ini sebagai bahasa Indonesia baku dan resmi untuk menterjemahkan kata God, Deus itu dalam paham Indonesia. Maka memaksa
dan mengancam serta melarang penggunaan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar adalah melawan bangsa ini dan membuktikan betapa hilangnya nasionalisme kelompok pelarang ini.
Maka saya mengusulkan, entah kepada siapa saja yang membaca surat itu atau apapun, untuk tidak mudah terseret mengikuti pola pikir yang sesat dan salah ini. Jadilah bangsa Indonesia 100% dan Kristiani 100%.
Maka komentar di bawah ........ saya amat tidak setuju. Sebaliknya kita dipanggil untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang hal yang sebenarnya dan sekaligus beberapa ungkapan bahasa Indonesia entah yang lahir karena pengaruh agama apapun, tetapi begitu disahkan sebagai bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi kita. Dan tidak ada seorang pun boleh dan bisa melarang orang menggunakan bahasa yang ada di dunia ini untuk mengekspresikan apa yang dirasakan, dialami dan dipikirkan.
Seperti kita orang Indonesia, tapi kadang kita menggunakan bahasa Inggris, atau menggunakan beberapa istilah yang aslinya kita adopsi dari bahasa lain, entah bahasa asing atau bahasa daerah.
Jadi, marilah kita berwawasan terbuka agar lebih bijak, dan jangan justru ikut mempersempit wawasan dan cakrawala berpikir kita.

*************

 

Memang kelompok Saksi Yehova, khususnya kelompok seperti Yakub dkk., biasanya mengemukakan keberatannya khususnya menyangkut penjelasan saya untuk menyebutkan bahwa Allah adalah "sebutan" dan bukan pertama-tama nama diri. Kedua, biasanya mereka mengacu kepada Kitab Keluaran, yang menunjukkan bahwa Allah sendiri memperkenalkan dirinya sebagai Yahwe. Ketiga, salah kaprah, karena memang untuk Indonesia atau mereka yang dididik dengan latar belakang budaya Indonesia mudah sekali mengerti kata Allah seolah milik Islam murni.


a. Penangkapan bahwa Allah hanyalah nama diri, jelas keliru. Justru kita membuktikan bahwa sejarah manusia sepanjang masa dan sepakat semua bangsa, untuk menerima budaya dan paham kristiani bahwa Allah adalah tidak bisa disebut sebagai nama diri saja, atau sebutan saja. Kalau nama diri – tidak boleh dan tidak perlu diterjermahkan, kecuali pengaruh pronounsiasi lokal saja. Sehingga seperti dalam kasus Yohanes (Indonesia) – John (Inggris); Yakobus (Indonesia) – Jack / James (Inggris); Heronimus (Indonesia) – Jerome (Inggris) dll. Soal ini pertama-tama memang soal terjemahan, karena Indonesia mengikuti bahasa Latin secara murni menyangkut nama. Hal ini berbeda dengan soal Maria : Mariyah : Mariah : Maryam. Ini adalah soal dialek bahasa suku dan latar belakang Kitab Suci yang dipakai.
Jadi tampaknya tidak demikian dengan sebutan Allah. Semua bangsa dan bahasa mempunyai terjemahan sesuai dengan rasa keagamaan setempat. Maka tampaklah sebutan itu tidak mau mentransfer nama diri, tetapi pengertian, suatu figur atau ide tertentu.
Sementara itu kalau mau disebut murni sebutan, juga tidak cukup kuat. Karena untuk sebutan biasanya bisa diberikan artikel di depan kata ybs., seperti The, a atau an (Inggris); La/il, un (It / Sp), dll. – ternyata untuk Allah itu tidak lazim. The Lord – biasa. Tapi tidak The God.
Jadi tampak juga bahwa sebutan itu bukan sebutan biasa, tapi diperlakukan seperti status nama diri.
Itulah kekhasan sebutan Allah. Maka memperlakukan murni sebagai nama diri ataupun sebagai sebutan saja, adalah keliru.

b. Hal itu akan semakin mudah dibuktikan bagaimana kata itu dipakai, baik dalam Kitab Suci atau pun dalam doa resmi kita. Misalnya kita lihat dari sebutan dalam Kitab Mazmur, ambil saja sembarang yang ada kata Allah dan bagaimana itu dipakai, contoh:
1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
3:2 Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku;
3:3 banyak orang yang berkata tentang aku: "Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah." S e l a
3:4 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.
3:5 Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. S e l a
3:6 Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!
3:7 Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.
3:8 Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik.
3:9 Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! S e l a dll . atau bahkan dari awal Kitab Kejadian sekali pun :
1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.

Lalu kita perhatikan dan renungkan dengan sungguh:
- Kalau itu nama diri – sopankah atau biasakah kita menyebut nama diri langsung (tanpa sebutan) mereka yang kita hormati. Kalau untuk orang yang kita segani, hormati, atau bahkan cintai kita selalu menambahkan kata sebutan status, misalnya Bapak, Ibu, Nak, dll – sebagai ekspresi relasi yang positif dan bahkan kadang kedekatan hati, atau ekspresi politness / forma cortessia / kesopanan.
Coba saja kita ganti kata Allah dengan nama diri, misalnya Samiran, maka akan berbunyi:
Mzm 3:8 : “Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Samiran-ku!
Dan kalau kata TUHAN (asumsi TUHAN = YHVH, beda dengan Tuhan) juga digantikan, maka akan berbunyi:
Mazmur 3:8 : “Bangkitlah, Samiran, tolonglah aku, ya Samiran-ku!
- Atau kita hanya akan berani menyebut nama diri langsung kalau kita selevel, atau kepada yang lebih rendah; dan bukan sebaliknya.
- Atau kita memanggilnya demikian karena kita tidak menghargai dia atau sedang marah kepadanya.
Itulah kebiasaan kita. Dalam hal rohani, saya kira ukuran kesopanan dan perasaan manusiawi ini tetap wajar diperhitungkan.
- Lalu mengapa untuk kita dan Kitab Suci menggunakan sebutan langsung nama saja (jawa: njangkar atau nungkak krama).
Kalau kita misalnya salah dalam doa kita yang menyebut “Ya Allah ........ atau Engkaulah Allah-ku . dlsb.” – bisa kita mengerti mungkin karena kita salah mengerti Kitab Suci. Lalu nyatanya Kitab Suci pun menggunakan pola yang sama.
Lalu siapa yang salah? Yang sama dengan Kitab Suci dan tradisi religius selama ini, atau yang memulai tradisi baru yang melawan semua kebiasaan di atas?

c. Maka atas ungkapan “Abraham” atau “Bapak kita” saja punya nama, kok masak Allah tidak mempunyai nama.
- Jawaban pada point b di atas sudah memberikan arah untuk itu.
- Maka kalau rindu memberikan nama silakan saja, tapi itu tidak berarti kami yang lain harus menerima nama pemberian baru itu.
- Nama yang diperkenalkan Allah kepada Musa dengan YHV(H) – adalah sebuah ekspresi yang kalau digali dari makna waktu itu (penyelidikan bahasa berdasarkan filologi perkamen ybs) kata itu bermakna : I AM (Inggris). Itu nama dirikah?
Maka LAI dan LBI (Katolik) menterjemahkan ayat itu menjadi :
Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (Keluaran 3:14).
- Dan akhirnya saya mengulangi pernyataan saya di atas, kita adalah pengikut Kristus dan bukan pengikut Abraham atau Musa seperti orang Yahudi. Kita menerima Musa dan Abraham karena mereka merindukan Kristus dan percaya akan janji Allah yang terpenuhi dalam Yesus Kristus. Maka mengoreksi ajaran Yesus Kristus dengan dasar Perjanjian Lama adalah mundur. Soal nama, Musa mengenalnya sebagai YHVH karena asing. Sementara Yesus menegaskan atau mengajari kita :
“Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” (Mat 11:27).

Bandingkan dengan
“sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku……
Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yoh 10:15; 14:7)
Maka mengikuti bagaimana Yesus menyebut Allah adalah lebih kristiani daripada sikap manapun.
Demikianlah sekedar tambahan penjelasan atas kesulitan dan diskusi atau polemik sekitar keinginan untuk mengganti semua kata Allah dengan Yahwe. Semoga kita tidak mudah termakan agitasi atau semacam itu. Percayalah penerimaan resmi Gereja kita atas Kitab Suci, baik itu Kanonisasi dan versi yang sah, telah melalui studi ilmiah dan teologis kuat. Sementara usulan kelompok Saksi Yehova, termasuk Yakub dkk hanya berdasarkan opsi mereka atau misi mereka untuk mempolulerkan dan menarik orang kristiani kepada murid Yehova indirect.
Semoga tidak tambah bingung.

 

Salam dan doa,
Yohanes Samiran, SCJ
*** Semoga Hati Yesus selalu merajai hati kita ***

 

NB.
** Yesus menyebut Allah tidak hanya dengan Bapa, tapi juga dengan sebutan lain Eli, Eloi, Adonai, dlsb. Justru karena Ia mengenal kekayaan dalam diri Allah, maka sebutan yang dimiliki pun tidak picik dan miskin .........." di dalam Allah kita diperkaya karenaNya"

 

######################################################

 

 

Beberapa hari lalu, seorang teman dari komunitas jurnalis Kristen meminta saya untuk turut dalam perdebatan soal nama Allah. Terus terang, saya malas. Mengapa? Karena saya sangat mengenal "kaum penentang Allah" itu, pola pikir mereka "hitam putih", main kutip ayat-ayat Alkitab secara harfiah terlepas dari konteks (mirip dengan "metode ayat bukti" a la bidat Saksi-saksi Yehuwa), dan kekurangan paling serius mereka, tidak menguasai filologi bahasa-bahasa semitis, khususnya keserumpunan bahasa Ibrani, Aram dan Arab.
Karena itu, saya anggap enteng saja gerakan mereka itu. Tetapi setelah melihat sepak terjang mereka semakin ngawur, hantam kromo, dan lebih penting lagi agaknya mereka didukung oleh dana yang cukup besar, saya harus belajar telaten menulis untuk menjelaskan kaum awam dalam bahasa Arab itu. Tulisan singkat ini, kiranya dapat membatu umat Kristiani di Indonesia yang "sedang diombang-ambingkan oleh penga-jaran mereka".

Asal-usul Allah: Tinjauan dari Bahasa Arab
Kalau dr. Suradi mula-mula, -- sebagaimana banyak artikel-artikel polemik Kristen terbitan Amerika, -- menyangkal sama sekali bahwa istilah Allah cognate dengan El, Eloah, Elohim (Ibrani) dan Elah, Alaha (Aram/Suryani), kini para penerusnya mencoba memisahkan antara kata-kata ilah (sembahan), alihat, (sembahan-sembahan) dan al-Ilah (sembahan itu, sembahan yang benar) yang se-rumpun dengan istilah el, eloah, elohim dengan Allah yang dianggapnya "nama dari dewa Arab yang mengairi bumi". Allah, yang dianggapnya sebagai nama "dewa air", dirujuknya dari artikel Wahyuni Nafis, dalam bunga rampai The Passing Over: Melintas Batas Agama, menjadi dasar penolakannya terhadap penggunaan kata Allah dalam Alkitab Kristen di Indonesia.
Untuk meneguhkan pembedaan antara ilah, alih-ah, dan al-Ilah dengan Allah, Teguh Hendarto lalu menyangkal bahwa istilah Allah berasal dari al-Ilah (Bahana, Maret 2001). Menurut argumentasinya yang sangat awam mengenai bahasa Arab, ia menulis kalau al-Ilah dapat disingkat menjadi Allah, mengapa Alkitab tidak menjadi Altab? Untuk itu saya harus menjelaskannya secara sabar, karena mungkin ia tidak bisa membaca sepotongpun huruf Arab, meski gayanya yang kelewat percaya diri seolah-olah mau menggurui saya.

Begini, pada prinsipnya sebuah kata dalam bahasa-bahasa semitik dibentuk dari akar kata (al-jidr) yang biasanya terdiri dari 3 konsonan. Akar kata itu bisa dipecah-pecah menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja dan kata benda baru. Misalnya, kitab dari kata k-t-b. Dari akar kata ini, lalu dibentuklah menjadi banyak kata: kata benda, kata kerja, dan sebagainya. Dari akar kata k-t-b kita dapat menemukan kata-kata sebagai berikut: kitaab (buku), kaatib (penulis), maktabah (perpustakaan), maktub (tertulis, termaktub), uktub (tulislah!), dan seterusnya.
Sedangkan kata Ilah, al-Ilah terbentuk dari 3 akar kata hamzah, lam, haa (‘-l-h). Dari akar kata ini, kita mengenal isltilah ilah, alihah, dan al-Ilah (atau bentuk singkatnya: Allah). Sebagai sesama bahasa rumpun semitis, bahasa Ibrani dan bahasa Aram mempunyai ciri yang sama. Saya juga pernah menulis, bahwa kata Ibrani Elah, Eloah berasal dari kata el (kuat) dan alah (sumpah). Al- dalam kata Allah berbeda dengan El (kuat) dalam bahasa Ibrani. Kata Ibrani El, sejajar dengan bahasa Arab Ilah, sedangkan kata sandang Al- yang mendahului Ilah sejajar dengan bahasa Ibrani ha-elohim (Raja-raja 18:39). Tetapi kasus penyingkatan al-Ilah menjadi Allah hanya terjadi dalam bahasa Arab, tidak terjadi dalam bahasa Ibrani atau Aram.
Selanjutnya, memisahkan sebutan Allah dari Ilah, al-Ilah juga tidak bisa dipertahankan. Sebab ahli bahasa Arab, baik dari kalangan Islam maupun Kristen, juga banyak yang menganggap bahwa sebutan Allah itu musytaq atau dapat dilacak asal-usulnya dari kata lain. Jadi, tidak benar anggapan kaum penentang Allah itu yang mengatakan bahwa Allah tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa-bahasa lain. Memang, ada penerjemah al-Qur’an yang berpandangan demikian, misalnya terjemahan Abdallah Yusuf Ali, The Meaning of The Holy Quran.
Jadi, tidak semua umat Islam berpandangan bahwa istilah Allah itu ghayr al-musytaq (tidak berasal dari kata lain, karena dianggap "the proper name"). Sama seperti "kaum penentang Allah" yang menganggap Yahweh tidak bisa diterjemahkan, begitu juga di kalangan Islam ada yang berpandangan seperti itu. Pdt. Jacob Sulistiono mengutip majalah Islam Sabili, yang memuat tulisan seorang Muslim yang menganggap bahwa Allah itu tidak bisa diterjemahkan, tetapi itu tidak mewakili pendapat seluruh umat Islam di dunia. Bahkan di kalangan Islam sendiri, Sabili sering dianggap mewakili kelompok Islam garis keras, setali tiga uang dengan "kaum penentang Allah", minimal dalam pandangan teologisnya yang sama-sama "hitam putih" itu.
Salah satu diantara terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Inggris yang menerje-mahkan istilah Allah, misalnya silahkan membaca: The Massage of the Qur’an, oleh Muhammad Asad. Dalam terjemahan yang cukup otoritatif di dunia Islam Barat ini, ungkapan: Bismillahi Rahmani Rahim diterjemahkan: "In the Name of God, The Most Grocious, The Dispenser of Grace".
Memang, Sabili dalam salah satu terbitannya pernah menguraikan bahwa secara etimologis, kata Allah yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha' dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua) adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena itu, kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama' (plural). Demikian pula kata ini tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. Jacob Sulistiono mengutip ini, saya yakin ia sendiri tidak mengerti apa itu bentuk mutsanah, jama’ atau mudhaf dalam bahasa Arab.
Harus saya jelaskan sekali lagi, padangan Sabili sama sekali tidak bisa dianggap representatif mewakili Islam. Banyak ulama Islam terkemuka yang berpandangan sebaliknya. Contohnya, kita bisa membaca kitab yang sangat terkenal di dunia Arab, al-Mu’jam al-Mufahras, yang menempatkan kata Allah tersebut di bawah heading (judul): hamzah, lam, haa ( ‘-l-h). Mengapa? Karena Al- pada Allah adalah hamzah wasl, sehingga Al- bisa hilang dalam kata: wallahi, bi-lahi, lil-lahi, dan sebagainya. Misalnya, pada kalimat Alhamdu lil-lah (segala puji bagi Allah), lil-lahi ta’ala (karena Allah Yang Maha Tinggi), kata sandang Al- di depan Allah juga dihilangkan.
Sedangkan kata Allah tidak bisa dijumpai dalam bentuk ganda dan jamak, secara historis dibuktikan karena kata sandang al- yang mendahului kata ilah, muncul untuk menegaskan: ilah itu, yang sudah mengandung makna pengkhususan. Maksudnya, bisa berarti Dia adalah ilah yang paling besar, sedangkan ilah-ilah lain berada di bawahnya, seperti dianut kaum Mekkah pra-Islam, seiring dengan pergeseran dari paham politeisme menuju henoteisme. Sebaliknya, bisa juga berarti "ilah satu-satunya, yang tidak ada ilah selain-Nya". Makna kedua ini, antara lain diberikan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, kaum Hanif pra-Islam di wilayah Arab untuk menegaskan Keesaan-Nya. Tradisi monoteisme inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Islam.
Selanjutnya, kata Allah memang tidak dapat dijadikan mudhaf, tetapi itu tidak berarti bahwa Allah itu nama diri. Sebab bukan hanya "nama diri" yang tidak bisa dijadikan mudhaf, tetapi setiap bentuk ma’rifah juga tidak bisa dijadikan mudhaf. Misalnya, kita berkata: Baitu al-Kabiiri (Rumah yang besar itu). Kata baitu dalam kalimat ini adalah "mudhaf", sedangkan al-kabiiri adalah "mudhaf ilaih". Tetapi kalau kita tambahkan al- sebelum bait, misalnya: al-baitu kabiirun (Rumah itu besar). Jadi, maknanya berbeda. Mengapa? Karena al-bait disini menjadi mubtada’ (subyek), bukan mudhaf lagi, sedangkan kabiirun adalah khabar (predikat).



Metode "debat Kusir" dan "Logika

Jungkir Balik" Penentang Allah

Saya sangat paham apabila LAI selama ini tidak pernah menggubris tuntutan kelompok sempalan ini, yang menuntut agar dalam Alkitab bahasa Indonesia dihilangkan kata Allah. Mengapa? Anda baru mengetahui alasannya, kalau anda mengikuti metode "debat kusir" dan "logika jungkir balik" mereka. Saya sekedar mengulang beberapa contoh:
Mula-mula mereka menuduh Allah itu "dewa air" berdasarkan beberapa rujukan yang mereka anggap mendukung, bahwa Allah pernah disembah bersama dewa-dewa kafir Mekkah pra-Islam. Tuduhan ini lalu saya tanggapi, Pertama: berdasarkan inkripsi-inskripsi Arab Kristen pra-Islam, yaitu Zabad (521 M) dan Umm al-Jimmal (perte-ngahan abad ke-6 M) bahwa Allah sudah dimaknai secara monoteistik Kristen, lengkap dengan foto-foto inskripsi, bacaannya, ulasan para ahli filologi, dan perkembangannya di gereja-gereja Arab setelah Islam hingga zaman kita sekarang; dan kedua: berdasarkan inskripsi Kirbeth el-Qom dan Kunlitet Ajrud, yang ditemukan di wilayah Hebron, Yahweh pun juga pernah disembah bersama dewi kesuburan, Asyera.
Tanggapan saya ditanggapi balik. Pertama, bukti-bukti pemakaian Allah menurut inskripsi pra-Kristen itu, menurutnya tidak membuktikan keabsahan kata Allah, melainkan karena orang Arab Kristen tidak tahu asal-usulnya. Jadi, Hendarto sudah mempunyai praduga dulu, bahwa Allah itu "dewa air", "dewa bulan", "dewa matahari", atau dewa apapun Allah itu, ia tidak perduli, yang penting kata itu harus ditolak. Ia tidak menyelidiki dulu, bahkan buku Roberts Morrey, yang lebih merupakan karya polemik yang sangat provokatif anti-Islam itu, disebutnya sebagai "bukti archeologis?".
Padahal, dalam buku ini tidak ada pembahasan arkheologis sama sekali, kecuali berbagai sumber bacaan yang dirangkai-rangkai tanpa penelitian mendalam. Juga buku Steppen van Natan, Allah: Divine or Demonic, yang lebih menyerupai traktat tersebut, bagaimana "buku sampah" begini bisa disejajarkan dengan hasil penelitian Prof. Littmann, misalnya, yang meneliti inkripsi-inskripsi Arab pra-Islam itu sangat menda-lam, bahkan banyak ahli-ahli lain yang reputasinya tidak diragukan, yang telah menyerahkan hampir seluruh hidup mereka untuk penelitian ilmiah.
Jadi, mereka menolak kata Allah berdasarkan buku-buku para penginjil yang berangkat dari asumsi teologis "hitam-putih" dan sama sekali tidak mempunyai keahlian di bidang sejarah dan arkheologi. Tetapi ketika saya counter dengan bukti-bukti sejarah, dikatakannya "bahwa itu hanya statement manusia, yaitu orang Islam dan Kristen Arab, yang tidak korelasinya dengan Firman Tuhan dalam Alkitab". Komentar ini, mungkin disebabkan karena saya tidak banyak "main kutip ayat-ayat" seperti mereka. Maksud-nya, banyak ayat Alkitab mereka ajukan untuk mendukung anggapan mereka bahwa nama Yahwe tidak boleh diterjemahkan, sedangkan mereka mamahami nama ilahi itu sama seperti nama-nama makhluk-Nya. Untuk menunjukkan kedangkalan pemikiran mereka, silahkan baca artikel saya: "Nama Yahweh: Harus Dipertahankan atau Boleh Diterjemahkan?".
Kedua, kalau saya buktikan bahwa Yahwe juga pernah disembah bersama dengan dewi Asyera, dengan enteng ia mengatakan bahwa itu hasil sinkretisme di Israel pada zaman dahulu, tanpa secara fair juga menerapkan penilaian yang sama untuk kata Allah, bahwa istilah Arab ini juga diartikan secara salah oleh orang-orang Arab pra-Islam. Padahal bahasa itu netral, tergantung apa makna yang kita berikan. Inilah yang saya namakan motode "debat kusir" alias debat tukang dokar, dengan "logika jungkir balik" mereka itu.
Yang lebih menggelikan lagi, Teguh Hendarto mengkoreksi terjemahan Alkitab al-Muqaddas (Today’s Arabic Version), terbitan Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Syarq al-Ausath, Beirut, yang saya kutip dalam makalah saya. Ungkapan Laa Ilaha illa Allah (Tidak ada Ilah kecuali Allah) yang tercatat dalam 1 Korintus 8:4, dengan gayanya yang menggurui, katanya terjemahan yang benar: Laa Ilaha al-Wahid. Ini bahasa Arab apa? Tidak ada artinya sama sekali, dan terang saja akan ditertawakan santri desa yang baru belajar Juzz Amma. Tetapi, ya itulah kualitas rata-rata kaum Penentang Allah itu. Semua ini saya ungkap di sini, karena gerakan mereka semakin gencar dan ngawur, seperti yang akan kita lihat di bawah ini.

 

 

Teguran Keras Mubaliq se-Indonesia:
Provokasi Opo maneh iki, Rek?


Sama ngototnya dengan Hendarto, kita juga dikacau oleh Pdt. Jacob Sulistyono, seorang penganut "sekte Yahweh" , yang lebih Yahudi ketimbang Yahudi sendiri, dalam perdebatannya di www.salib.net  Banyak orang menduga, bahwa ia sendiri berada di belakang kasus "Surat Teguran Keras Mubaligh se-Indonesia", yang tidak jelas juntrungannya itu. Menurutnya, Allah dalam Islam dan Yahwe dalam Kristen itu mutlak berbeda. "Umat Islam tidak suka orang Kristen menyebut Allah", tulisnya, "karena ada istilah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, sedangkan Islam percaya bahwa Allah itu tdk bisa disamakan dengan apapun". Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang menyebutkan sebagai berikut:
Qul huwa llaahu ahad. Allahush shamad. Lam Yalid wa lam yulad. Wa Lam Yakun lahu kufuwwan ahad. Artinya: "Katakanlah Dialah Allah Yang Esa. Allah, Dia adalah tempat bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Q.s. al-Ikhlas 112/ 1 – 4).
Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha huwa al-Masih ibn Maryam. Artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih Putra Maryam" (Q.s. Al-Maaidah/5:17).
Dengan keterangan di atas, ia seolah-olah malah membenarkan bahwa Tuhan orang Kristen itu beranak dan diperanakkan. Padahal mestinya, sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, justru seharusnya ia menjelaskan kepada umat Islam bahwa istilah Putra Allah itu bukan dalam makna "beranak dan diperanakkan", bukan malah membenarkannya, sekedar demi mendukung penolakannya atas istilah Allah. Q.s. al-Ikhlas ditujukan untuk menolak keyakinan pra-Islam di Mekkah, bahwa Allah mempu-nyai anak-anak perempuan, yaitu al-Latta, Uzza dan Manah.
Sedangkan Q.s. al-Maidah 17 lebih diarahkan kepada keyakinan semacam mujja-simah (antropomorfisme) bidat Kristen di Mekkah, yang menganggap bahwa Allah sama dengan tubuh kemanusiaan Yesus itu sendiri. Sudah barang tentu, keyakinan ganjil seperti ini juga tidak pernah dianut oleh orang Kristen manapun, baik itu gereja Katolik, gereja-gereja ortodoks dan reformasi Protestan sekarang ini.
Para ahli lain juga menghubungkan keyakinan yang diserang al-Qur’an itu dengan sekte bidat Kristen Maryamin (penyembah Maryam), yang memuja Maryam dan mengarak patungnya di sekeliling ka’bah serta mempersembahkan kepadanya collyrida (roti persembahan), sehingga disebut juga sekte Collyridianisme. Karena itu, tepatnya yang ditolak al-Qur’an adalah keyakinan pseudo-trinity yang terdiri: Allah, ‘Isa al-Masih dan Maryam (Q.s. an-Nisa’/4:171; al-Maidah/5: 73, 116), dan sema sekali tidak cocok diterapkan untuk keyakinan Kristen sebenarnya.
Sebelum saya tutup artikel ini dengan penjelasan singkat makna Putra Allah dalam Iman Kristen, perlu saya tanyakan mengenai tuntutan Mubaligh se-Indonesia? Lembaga ini kalau memang ada, mewakili siapa sehingga berani meng-claim dirinya seolah-olah seluruh umat Islam Indonesia? Ini sangat berbahaya bagi kerukanan umat beragama, apalagi kalau lembaga fiktif ini sengaja dibuat kelompok Kristen tertentu untuk meloloskan pandangan-pandangannya yang tidak ilmiah itu.



Makna term Putra Allah: Belajar Dari "bahasa teologis" Kristen Arab

Kalau begitu, apakah makna sebenarnya istilah Putra Allah dalam Iman Kristen? Harus ditegaskan, bahwa tidak ada umat Kristen yang pernah mempunyai sebersit pemikiran pun bahwa Allah secara fisik mempunyai anak, seperti keyakinan primitif orang-orang Mekkah pra-Islam tersebut. Saya ingin menjelaskan metafora ini berda-sarkan teks-teks sumber Kristen Arab, supaya terbangun kesalingpahaman teologis Kristen-Islam di Indonesia. Sebab selama ini ada jarak yang cukup lebar secara kultural antara "bahasa teologis" Kristen Barat, yang memang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, sehingga kesalahpahaman semakin berlarut-larut.
Istilah Putra Allah yang diterapkan bagi Yesus dalam Iman Kristen untuk mene-kankan praeksistensi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal, seperti disebutkan dalam Injil Yohanes 1:1-3. Ungkapan "Pada mulanya adalah Firman", untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Firman Allah sendiri.
Selanjutnya, "Firman itu bersama-sama Allah", menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah. Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence), yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada "Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya" (‘aqlullah al-naatiqi, au natiqullah al-‘aaqli, faahiya ta’na al-‘aqlu wa al-naatiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen Arab. Sedangkan penegasan "Firman itu adalah Allah", mene-kankan bahwa Firman itu, sekalipun dibedakan dari Allah, tetapi tidak berdiri di luar Dzat Allah. Mengapa? "Tentu saja", tulis Baba Shenuda III dalam bukunya Lahut al-Masih (Keilahian Kristus), "Pikiran Allah tidak akan dapat dipisahkan dari Allah ( ‘an ‘aqlu llahi laa yunfashilu ‘an Allah)". Dengan penegasan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri, makan keesaan Allah (tauhid) dipertahankan.
Ungkapan "Firman itu bersama-sama dengan Allah", tetapi sekaligus "Firman itu adalah Allah", bisa dibandingkan dengan kerumitan pergulatan pemikiran Ilmu Kalam dalam Islam, yang merumuskan hubungan antara Allah dan sifat-sifatnya: Ash Shifat laysat al-dzat wa laa hiya ghayruha (Sifat Allah tidak sama, tetapi juga tidak berbeda dengan Dzat Allah). Jadi, kata shifat dalam Ilmu Kalam Islam tidak hanya bermakna sifat dalam bahasa sehari-hari, melainkan mendekati makna hypostasis dalam bahasa teologis Kristen.
Dalam sumber-sumber Kristen Arab sebelum munculkan ilmu Kalam al-Asy’ari, hyposistasis sering diterjemahkan baik shifat maupun uqnum , "pribadi" (jamak: aqanim), asal saja dimaknai secara metafisik seperti maksud bapa-bapa gereja, bukan dalam makna psikologis. Sedangkan ousia diterjemahkan dzat, dan kadang-kadang jauhar. Istilah dzat dan shifat tersebut akhirnya dipentaskan kembali oleh kaum Suni dalam menghadapi kaum Mu’tazili yang menyangkal keabadian Kalam Allah (Al-Qur’an), sebagaimana gereja menghadapi bidat Arius yang menyangkal keabadian Yesus sebagai Firman Allah.
Kembali ke makna Putra Allah. Melalui Putra-Nya atau Firman-Nya itu Allah menciptakan segala sesuatu. "Segala seuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak sesuatupun yang jadi dari segala yang dijadikan" (Yohanes 1:3). Jelaslah bahwa mem-pertahankan keilahian Yesus dalam Iman Kristen, tidak berarti mempertuhankan kemanusiaan-Nya, apalagi dengan rumusan yang jelas-jelas keliru: "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih Putra Maryam" (innallaha huwa al-masih ibn maryam).
Dalam rumusan ini, yang ditentang al-Qur’an adalah menyamakan kemanusiaan Yesus dengan Allah. Padahal yang kita dimaksudkan ketika mempertahankan keilahian Yesus, menunjuk kepada Firman yang kekal bersama-sama Allah, yang melalui-Nya alam semesta dan segala isinya ini telah diciptakan.
Dan karena sejak kekal Kristus adalah Akal Allah dan Sabda-Nya, maka jelaslah Firman itu adalah Allah. Karena Akal Allah berdiam dalam Allah sejak kekal (wa madaama al-Masih huwa ‘aql allah al-naatiqi, idzan faahuwa llah, lianna ‘aql allah ka’inu fii llahi mundzu azali). Dan karena itu pula, Firman itu bukan ciptaan (ghayr al-makhluq), karena setiap ciptaan pernah tidak ada sebelum diciptakan).
Secara logis, mustahillah kita membayangkan pernah ada waktu dimana Allah ada tanpa Firman-Nya, kemudian Allah menciptakan Firman itu untuk Diri-Nya sendiri. Bagaimana mungkin Allah ada tanpa Pikiran atau Firman-Nya? Kini kita memahami secara jelas ajaran Tritunggal Yang Mahaesa, bahwa Allah, Firman dan Roh-Nya adalah kekal, sedangkan Firman dan Roh Allah selalu berdiam dalam keesaan Dzat-Nya, berada sejak kekal dalam Allah).
Selanjutnya, istilah Putra Allah berarti "Allah mewahyukan Diri-Nya sendiri melalui Firman-Nya". Allah itu transenden, tidak tampak, tidak terikat ruang dan waktu. "Tidak seorangpun melihat Allah", tulis Rasul Yohanes dalam Yohanes 1:18, "tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa Dialah yang menyatakan-Nya". Inilah makna tajjasad (inkarnasi). "Dengan inkarnasi Firman-Nya", tulis Baba Shenouda III, "kita melihat Allah. Tidak seorangpun melihat Allah dalam wujud ilahi-Nya yang kekal, tetapi dengan nuzulnya Firman Allah, kita melihat pewahyuan diri-Nya dalam daging" (Allahu lam yarahu ahadun qathu fi lahutihi, wa lakinahu lamma tajjasad, lamma thahara bi al-jasad).
Melalui Firman-Nya Allah dikenal, ibarat seseorang mengenal diri kita setelah kita menyatakan diri dengan kata-kata kita sendiri. Jadi, sebagaimana kata-kata se-seorang yang keluar dari pikiran seseorang mengungkapkan identitas diri, begitu Allah menyatakan Diri-Nya melalui Firman-Nya. Inilah maka ungkapan dalam Qanun al-Iman (Syahadat Nikea/Konstantinopel tahun 325/381), yang mengatakan bahwa Putra Allah yang Tunggal telah "lahir dari Sang Bapa sebelum segala zaman" (Arab: al-maulud min al-Abi qabla kulli duhur). Adakah di dunia ini seseorang yang dilahirkan dari Bapa? Jawabnya, tentu saja tidak ada! Setiap orang lahir dari ibu. Karena itu, Yesus disebut Putra Allah jelas bukan kelahiran fisik, tetapi kelahiran ilahi-Nya sebagai Firman yang kekal sebelum segala zaman.
Tetapi bukankah secara manusia Yesus dilahirkan oleh Bunda Maria? Betul, itulah makna kelahiran-Nya yang kedua dalam daging. Mengenai misteri ini, Bapa-bapa gereja merumuskan2 makna kelahiran (wiladah) Kristus itu, seperti dirumuskan dalam ungkapan yang indah:
As-Sayid al-Masih lahu miladain: Miladi azali min Ab bi ghayr umm qabla kulli ad-duhur, wa miladi akhara fi mal’i al-zamaan min umm bi ghayr ab. Artinya: "Junjungan kita al-Masih mempunyai dua kelahiran: Kelahiran kekal- Nya dari Bapa tanpa seorang ibu, dan kelahiran-Nya dalam keterbatasan zaman dari ibu tanpa seorang bapa insani’.
"Lahir dari Bapa tanpa seorang ibu", menunjuk kepada kelahiran kekal Firman Allah dari Wujud Allah. Tanpa seorang ibu, untuk menekankan bahwa kelahiran itu tidak terjadi dalam ruang dan waktu yang terbatas, bukan kelahiran jasadi (bi ghayr jasadin) melalui seorang ibu, karena memang "Allah tidak beranak dan tidak diper-anakkan". Jadi, dalam hal ini Iman Kristen bisa sepenuhnya menerima dalil al-Qur’an: Lam Yalid wa Lam Yulad, karena memang tidak bertabrakan dengan makna teologis gelar Yesus sebagai Putra Allah.
Sebaliknya, "Lahir dari ibu tanpa bapa", menekankan bahwa secara manusia Yesus dilahirkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Meskipun demikian, karena Yesus bukan manusia biasa seperti kita, melainkan Firman yang menjadi manusia, maka kelahiran fisik-Nya ditandai dengan mukjizat tanpa perantaraan seorang ayah insani. Kelahiran-Nya yang kedua ke dunia karena kuasa Roh Allah ini, menyaksikan dan meneguhkan kelahiran kekal-Nya "sebelum segala abad". Dan karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus, maka Yesus dilahirkan oleh Sayidatina Maryam al-Adzra’ (Bunda Perawan Maria) tanpa seorang ayah.
Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa ajaran Tritunggal sama sekali tidak berbicara tentang ilah-ilah selain Allah. Ajaran rasuli ini justru mengungkapkan misteri keesaan Allah berkat pewahyuan diri-Nya dalam Kristus, Penyelamat Dunia. Dalam Allah (Sang Bapa), selalu berdiam secara kekal Firman-Nya (Sang Putra) dan Roh Kudus-Nya. Kalau Putra Allah berarti Pikiran Allah dan Sabda-Nya, maka Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri, yaitu hidup Allah yang abadi. Bukan Malaikat Jibril seperti yang sering dituduhkan beberapa orang Muslim selama ini. Firman Allah dan Roh Allah tersebut bukan berdiri di luar Allah, melainkan berada dalam Allah dari kekal sampai kekal
Jadi, jelaslah bahwa Iman Kristen tidak menganut ajaran sesat yang diserang oleh al-Qur’an, bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan. Untuk memahami Iman Kristen mengenai Firman Allah yang nuzul (turun) menjadi manusia ini, umat Islam hendaknya membandingkan dengan turunnya al-Qur’an alam Allah (nuzul al-Qur’an). Kaum Muslim Suni (Ahl l-Sunnah wa al-Jama’ah) juga meyakini keabadian al-Qur’an sebagai kalam nafsi (Sabda Allah yang kekal) yang berdiri pada Dzat-Nya, tetapi serentak juga terikat oleh ruang dan waktu, yaitu sebagai kalam lafdzi (Sabda Tuhan yang temporal) dalam bentuk mushaf al-Qur’an dalam bahasa Arab yang serba terbatas tersebut.
Dan seperti fisik kemanusiaan Yesus yang terikat ruang dan waktu, yang "dibunuh dalam keadaannya sebagai manusia" (1Petrus 3:18), begitu juga mushaf al-Qur’an bisa rusak dan hancur. Tetapi Kalam Allah tidak bisa rusak bersama rusaknya kertas al-Qur’an. Demikianlah Iman Kristen memahami kematian Yesus, kematian-Nya tidak berarti kematian Allah, karena Allah tidak bisa mati. Saya kemukakan data-data paralelisasi ini bukan untuk mencocok-cocokkan dengan Ilmu Kalam Islam. Mengapa? Sebab justru seperti sudah saya tulis di atas, pergulatan Islam mengenai Ilmu Kalam dirumuskan setelah teolog-teolog Kristen Arab, menerjemahkan istilah-istilah teologis dari bahasa Yunani dan Aram ke dalam bahasa Arab.
Akhirul Kalam, semoga tulisan ini semakin merangsang pembaca untuk menggumuli teologi kontekstual yang mendesak dibutuhkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya dalam merentas jalan menuju dialog teologis dengan Islam. Bukankah dialog teologis Kristen-Islam selama ini sering mengalami kebuntuan, karena "kesenjangan bahasa teologis" antara keduanya, akibat tajamnya pengkutuban Barat-Timur selama ini? Marilah kita realisasikan pesan rasuli, supaya kita siap sedia segala waktu "untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…." (1Petrus 3:15), dan bukan malah menghabiskan energi kita untuk mengurusi "kelompok-kelompok kurang cerdas yang suka bikin onar" itu.


Bambang Noorsena
Madinat al-Tahrir, Cairo, 16 Nopember 2004.

Penulis adalah Pengamat Gereja-gereja Arab di Timur Tengah, Pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), anggota dewan konsultatif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), kini sedang melanjutkan studi di Kairo, Mesir.
 


 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.