NYANYIAN PARA MANTAN BUDAK DI TIBET DAN OBOR OLIMPIADE
 


Dulu, seorang budak dan keturunannya tak pernah menyanyi, budak tak pernah tersenyum. Sampai pada tahun 1950, ada harapan baru, ada satu juta orang budak mulai dibebaskan, dan mereka dapat bernyanyi bersama-sama. Itulah masa lalu yang dialami Basang (巴桑, 1937 -) seorang penulis perempuan asli Tibet yang selalu aktif mengkounter aksi-aksi yang dilakukan Dalai Lama dan kroni-kroninya.

Di media-media, kita hanya melihat kecaman-kecaman media barat yang memanfaatkan momen perjalanan keliling obor Olimpiade Beijing. Bangsa barat yang notabene mantan para penjajah ini kini berbicara nyaring atas nama HAM. Tibet adalah mantan daerah koloni Inggris, kitapun melihat betapa rakyat Inggris begitu emosional menghadang perjalanan obor di London sepanjang 53 km, dikerumuni para demonstran dengan berbagai macam caci-maki. Seolah lupa mereka sendiri dan "teman-temannya" melakukan apa (?) misalnya di Iraq, dan di negara-negara lain sampai sekarang dengan dalih "perdamaian" dan bertindak sebagai "polisi dunia".

Ada kisah menarik yang sering "diabaikan" oleh media-media barat, suatu kenyataan yang pernah terjadi berabad-abad di Tibet, yaitu perbudakan. Bagaimana kaum elite, kaum tuan tanah, para Lama mengambil keuntungan-keuntungan dari manusia dengan kasta terendah ini, yang terjadi dalam sistem kebudayaan, kehidupan spiritual dan sejarah panjang perbudakan yang pernah terjadi di Tibet. Di bawah ini saya kutip interview wartawan TV Phoenix-Hongkong dengan Basang (巴桑), yang ditayangkan 30 April 2008. Basang terlahir dari keluarga budak di daerah Gonggar Shannan. Ketika lahir ia dinamai "Galsang" yang artinya "beruntung", kedua orang tuanya menjadi budak dari keluarga kaya di Lhasa.

Di sebelah adalah sebuah contoh foto seorang budak perempuan berusia 35 tahun, terlihat seperti orang yang berumur 65 tahun. Budak di Tibet tidak pernah ada kesempatan untuk bebas. Mereka rata-rata mati pada umur 40-an, orang yang terlahir dari kaum budak selamanya akan menjadi budak. Dahi seorang budak, sama kasarnya dengan telapak kakinya, karena setiap kali berada di hadapan tuannya, budak itu harus menyembah tuannya dengan membenturkan dahinya ke tanah. Budak hanyalah alat, tidak ada HAM, budak lebih rendah dari anjing. Budak tidak mempunyai harta, baju yang melekat di badannya, itulah hartanya. Bahkan ada istilah dalam bahasa lokal: "Budak hanya dapat membawa bayangannya dan meninggalkan bekas telapak kakinya, itulah hartanya budak".

Ketika berumur 16 tahun, Basang mulai sadar, ia mulai bisa melihat realita sekelilingnya, bahwa terlahir sebagai budak tidak akan mungkin bebas dari perbudakan. Berkali-kali Basang ingin mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Sungai Lhasa. Yang pertama, ketika hendak bunuh diri, ia teringat orang-tua dan saudara-saudaranya, kemudian ia mengurungkan niatnya. Namun hidup terasa semakin berat ia kembali mencoba bunuh diri di tempat yang sama. Ketika ia hendak menceburkan dirinya ke sungai itu untuk yang ke-dua kali, ia mendengar ada sekelompok orang menyanyi di seberang sungai sana, dan orang-orang yang menyanyi itu adalah para budak yang baru saja mendapat kebebasan. Budak-budak tidak akan pernah menyanyi, ia hanya akan menyanyi ketika ia bebas.

Basang ingin mengikut mereka, tapi ia takut pada Tentara Pembebasan (The People's Liberation Army, PLA), walaupun ia pernah mendengar bahwa Tentara Pembebasan ini kabarnya mereka menolong para budak dan orang miskin. Tetapi ia masih takut, bahwa jika ia ditemukan tentara pembebasan, ia nanti akan dikembalikan kepada tuannya, dan ia nanti akan disiksa dan dihukum. Lalu ia berjalan tak tentu arah selama 6 hari, tanpa bekal, tubuh hanya berbalut sepotong cawat dan atasan compang-camping. Kemudian ia sampai di sebuah pangkalan udara di Tibet, ia ditemukan oleh tentara Pembebasan yang sedang memperbaiki peralatan-peralatan di sana. Tentara itu bertanya kepadanya "siapa namanya?" Gadis dengan nama asli "Galsang" itu mengubah namanya menjadi "Basang" (nama "planet Venus" dalam bahasa Tibet berarti "the brightest star"), ia melakukan ini karena ia takut dikembalikan kepada majikannya dan dihukum. Namun tentara itu tidak mengembalikan gadis budak itu ke majikannya, sebaliknya, ia bersama-sama dengan para budak-budak lainnya dikirim ke Shanghai untuk mendapatkan pendidikan. Sejak itulah gadis ini dipanggil dengan nama "Basang" sampai sekarang.

Perubahan namanya menjadi "Basang" itu sekaligus mengubah nasip hidupnya. Ketika masuk dalam pendidikan, Basang seperti balita yang baru belajar bicara, ia buta han-yu oral maupun tulis, dengan semangat yang luar biasa dan sekaligus menikmati kebebasannya dari perbudakan ia begitu antusias menyerap semua pengajaran dan pendidikan yang didapatkannya dari pemerintah China kala itu. Setiap hari ia menghafalkan huruf-huruf kanji, dan menghafalkan artinya. Tahun 1956 di Tibet terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh kaum Lama, kemudian tahun 1957 Basang dikirim kembali ke tempat asalnya di Lhasa untuk membantu rakyat Tibet kasta rendah dan orang miskin untuk mendapatkan pendidikan di sana. Pada saat itu Basang belum fasih betul Han-yu, ia baru mengenal huruf yang terbatas dan baru menguasai pin-yin (cara membaca huruf kanji), sembari mengajar ia tetap belajar. Ia ingin menjadi guru yang baik dan mengangkat derajat kaumnya agar tidak akan pernah lagi mengalami penindasan. Tahun 1959 Basang menyelesaikan pendidikannya, ia lulus sekolah dengan nilai yang bagus, ia menetap kembali di Tibet. Ia sudah berubah menjadi seorang perempuan yang berpendidikan dan berbudaya, ia bergabung pula dengan kelompok Democratic Reform, kemudian ia menjabat sebagai the deputy head of Nang County pada tahun 1960, karirnya terus menanjak pada tahun 1970 ia menajdi the deputy secretary of the Party Committee of the Tibet Autonomous Region.

Anda bisa bayangkan apa pandangan kaum borju dan para Lama di Tibet, melihat karir Basang si mantan budak ini menjadi seorang perempuan yang sama sekali berbeda. Bersamaan dengan kenyataan itu, ada banyak sekali Basang-basang lain yaitu kalangan mantan budak lainnya yang menjadi dokter, tehnisi, guru, pengacara, artis yang tidak lagi hidup lebih rendah daripada binatang. Mereka telah menjadi majikan bagi dirinya sendiri, mereka tidak lagi hidup dalam ketakutan dan harus tunduk kepada majikan, mereka telah menentukan nasib sendiri, mereka menjadi manusia-manusia sepenuhnya.

Sebagian besar rakyat Tibet lebih memilih China daripada penguasa lama Tibet, ini karena mereka dari kaum miskin dan kaum budak, dan nyatanya Tentara Pembebasan membebaskan mereka sehingga sistem perbudakan itu tidak ada lagi di Tibet. Segolongan orang kaya dan elite yang pernah menikmati sistem perbudakan di Tibet tentu saja membenci China, karena "hak-hak privilege" mereka sebagai kaum elite terhapus. Basang, dalam pandangannya dengan merujuk kepada nasib yang pernah menimpanya, mengatakan dengan tegas bahwa The Democratic Reform-lah yang membawa pencapaian HAM bagi para mantan budak. Mereka sepenuhnya menjadi orang-orang yang merdeka. Satu juta orang mantan budak karena pembebasan semuanya dapat menyanyi. Basang-basang yang lainpun senantiasa dapat bernyanyi, dan mereka menyanyi dengan merdu, nyanyiannya selalu menjadi tanda kebebasan mereka dari perbudakan, silakan simak suara Basang yang lain di
http://youtube.com/watch?v=c_Q4rfMI3h8&feature=related

Sejauh ini pula Tibet berkembang menjadi suatu daerah yang lebih maju, orang yang berpendidikan yang dulunya dari kalangan rendah menjadi lebih banyak dan selalu bertambah. Pembangunan infrastruktur, institusi pendidikan, rumah sakit, dll. Tentu saja ada kalangan-kalangan "borju" yang masih merindukan zaman keemasan mereka, berlindung di balik negara-negara barat mereka meneriakkan HAM. Tentu saja "HAM" mereka sebagai seorang mantan-"majikan" terinjak-injak karena mereka tidak lagi diberi kesempatan lagi menganiaya dan dan mempergunakan budak-budaknya sekehendak hatinya. Kalau sekarang para Lama di Tibet berteriak tentang HAM, tidakkah mereka menengok sejarah bahwa para Lama juga menjadi bagian elite dalam masyarakat Tibet yang tutup mata bahkan ikut menindas dan mempergunakan keringat dan jerih payah kaum budak? Tentara Pembebasan memang dalam satu sisi "melanggar hak istimewa" kaum borju Tibet, tetapi di sisi lain Tentara Pembebasan ini menjadi pahlawan yang nyata di mata para budak. Pemerintah China, senantiasa memperbaiki sistem pemerintahan, pembangunan dan hubungan pusat dengan daerah ini. Pemerintah China telah menyelesaikan suatu mega proyek yaitu pembangunan jalan kereta api menuju Tibet, satu-satunya di dunia, The Qinghai - Tibet Railway "road to heaven", jaringan kereta api ini dibangun di ketinggian 4.000 meter di atas pemukaan laut dan orang juga menyebutnya "By train on the roof of the world". Ada daerah-daerah tertentu dimana ketika menaiki kereta ini harus menggunakan masker oksigen. Kalau dulu orang susah sekali melakukan perjalanan dari dan ke Tibet, sekarang ada kereta super cepat ke Tibet. Perdagangan menjadi maju, ekonomi maju, pendidikan maju; sebaliknya ada juga pihak-pihak yang tidak menyukai perkembangan ini.

Kita mungkin dapat saja mengatakan bahwa penayangan kisah hidup dari Basang ini adalah upaya China untuk mendapat nama baik, atau bagian dari propaganda China untuk menempatkan diri sebagai negara yang justru membela HAM. Sebagai pengamat dari luar, China dan Tibet, tentu saja kita tidak boleh melihat satu sumber pemberitaan-pemberitaan yang berasal dari "Barat" saja, dan ikut-ikutan menjadi apriori kepada China secara sepihak. Bagaimanapun barat adalah barat, ada supremasi "Barat", yang selalu ingin di atas orang-orang Timur. Ada banyak orang barat yang "was-was" akan kebangkitan bangsa-bangsa Timur.

Sejumlah aktivis pro Dalai Lama di negara-negara Barat berulang kali mencoba merebut Obor Olimpiade. Sejak kekacauan pada perjalanan Obor Olimpiade di London, kemudian di Paris, terjadi "drama perampasan" dari tangan para pembawa obor. Gadis cacat Jin Jing (26 tahun) yang membawa obor Olimpiade diserang oleh beberapa pendemo yang semuanya laki-laki. Jin Jing, dari atas kursi rodanya, memberikan perlawanan untuk melindungi obor yang dibawanya. Insiden ini menimbulkan kemarahan rakyat China, mereka menyerukan pemboikotan untuk tidak belanja di seluruh jaringan toko retail (hypermarket) Carrefour di China atas insiden memalukan, merebut obor dari orang cacat ini, dan reaksi keras rakyat China. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy yang sebelumnya juga pernah menyerukan pemboikotan Olimpiade Beijing, akhirnya pemerintah Perancis mengirim utusan khusus, yaitu Ketua Senat Perancis Christian Poncelet untuk secara khusus meminta maaf dan menemui Jin Jing.

Ketegangan terjadi akibat politisasi olimpiade tahun ini terutama di sejumlah negara-negara barat, dan ada ketimpangan-ketimpangan pemberitaan akan Tibet. Contohnya kemarin tanggal 1 Mei 2008, di media-media diberitakan bahwa api olimpiade akan dibawa naik ke puncak gunung Everest yang berketinggian 8.850 meter, oleh pendaki-pendaki kelas dunia, dan diliput wartawan-wartawan pilihan sebagai saksi, ini kejadian yang belum pernah ada di dunia. Semenjak pasca kerusuhan di Tibet, berita-berita dari barat, BBC terutama masih terus melakukan provokasi, berteriak nyaring akan adanya pelanggaran HAM pada rakyat Tibet. Namun, BBC dengan tidak jujur menayangkan gambar-gambar demonstrasi anti China oleh para rohaniawan Tibet yang sudah berlalu (usang) "demo pelanggaran HAM" seolah-olah kerusuhan itu masih terjadi di Tibet. Padahal yang disebut-sebut "melanggar HAM" oleh pers "barat" ini adalah tindakan memadamkan kerusuhan yang dibuat oleh pasukan khususnya Dalai Lama. Negara apapun ketika menghadapi kerusuhan di dalam suatu demonstrasi, mereka akan menangkapi orang-orang yang menjadi provokator atau pemicu kerusuhan itu. Dalam penayangan peringatan Mayday (hari buruh 1 Mei), kita juga dapat melihat siapapun yang berbuat onar dalam suatu demonstrasi ditangkapi oleh polisi. Dan hal "sama" itulah yang terjadi, kerusuhan di Tibet tidak dilakukan oleh rakyat Tibet, tetapi dilakukan oleh pasukan luar atas kemauan Dalai Lama. Sejak tahun 1960an Dalai Lama mempunyai pasukan khusus yang dilatih pihak luar.

Entah mengapa BBC begitu "membenci" China, barangkali mereka masih mengingat jaman keemasan menjajah negara-negara Asia di masa lalu, dan kemudian merasa China merebut Tibet dari tangannya. Sementara kalau melihat TV local semisal CCTV yang ada justru penyambutan-penyambutan obor olimpiade yang akan segera datang. Ada pagelaran seni dari rakyat Tibet di Lhasa untuk menyambut 100 hari akan tiba diadakannya Olimpiade di Beijing. Sumber yang lebih "netral" Phoenix juga menayangkan yang sama gambar terbaru ini, mereka menyanyi, menari bersuka-cita, tak ada lagi kerusuhan.

Sebagai orang Asia, kita perlu untuk salut kepada China, karena dengan diadakannya Olimpiade di Beijing ini -- dalam kurun waktu 72 tahun -- baru di tahun 2008 ini Obor Olimpade diarak di banyak negara-negara di Asia, melalui Thailand, Malaysia, Indonesia, dll. Kita bersama telah melihat bahwa tanggal 22 April 2008 kemarin adalah untuk pertama kalinya Olympic Torchbearer melewati Indonesia sejak Indonesia merdeka. Tahun 2000 yang lalu, Olimpiade diselenggarakan di Sydney-Australia. Negara Indonesia sebagai contoh "tidak ditengok" oleh penyelenggara Olimpiade Sydney meskipun Indonesia dan Australia saling bertetangga. Sementara itu, China yang jauh, menempatkan Indonesia dan negara-negara Asia lain, sebagai sesama bangsa Asia layak untuk dilalui Obor Olimpiade. Dan pada tahun ini obor olimpiade menoreh suatu catatan bahwa Obor Olimpiade itu melalui perjalanan terpanjang dalam sejarah.

Disamping itu, kita sebagai pembaca berita dan pemirsa TV perlu juga memahami dan bersikap realistis karena tuntunan Dalai Lama XIV ini tidak lagi realistis. Meskipun Dalai Lama kelihatannya hanya minta otonomi, namun ketika dijabarkan seperti apa otonomi yang dimaksudkan itu, ia mensyaratkan tidak boleh ada tentara China sama sekali di Tibet. Juga tidak boleh ada orang suku Han menjadi anggota di pemerintahan Tibet (Suku Han adalah suku utama di China, jumlahnya mencapai 90%). Terlebih lagi, Dalai Lama juga menuntut wilayah Tibet adalah bukan hanya daerah Tibet sekarang ini, melainkan juga provinsi-provinsi lain di sekitarnya, yaitu sebagian dari Provinsi Gansu, sebagian dari Provinsi Sichuan, dan keseluruhan Provinsi Qinghai. Wilayah-wilayah yang disebutkan tadi jika dijadikan satu itu setara dengan seperempat wilayah China sekarang. Mungkinkah keinginan ini dikabulkan pemerintah pusat?

Dalai Lama adalah pemimpin, dan seorang rohaniawan. Jikalau memiliki kuasa ia akan memimpin dengan sistem theokrasi, sistem yang sebelumnya pernah terjadi dimana di sana juga ada perbudakan. Kitapun tidak dapat terlalu naif melihat "kesalehannya dalam beragama" lalu memandang bahwa dia "pasti tidak berdosa", ataupun menganggap "dia pasti benar". Umberto Eco, penulis fenomenal buku "The Name of the Rose" yang membuka borok para rohaniawan, dan ia menyajikan suatu hal yang patut kita simak bersama bahwa: "Kejahatan bisa muncul dari kesalehan". Dalai Lama janganlah dijadikan sebagai sumber utama untuk menimba kebenaran dalam berita dan menilai penindasan-penindasan yang digembar-gemborkan para Lama asal Tibet ini. Kisah-kisah rakyat jelata Tibet dari seorang perempuan yang bernama Basang ini patutlah juga kita jadikan sebagai pertimbangan, kecuali kalau anda menganggap bahwa Dalai Lama adalah "dewa" yang tidak pernah salah.

Akan selalu terjadi yang mana para pemimpin-pemimpin (walaupun komunis) yang telah membebaskan rakyatnya dari liang perbudakan akhirnya "memperbudak" juga "dengan cara yang lain". Selanjutnya, anda dapat mengkajinya sendiri.

 


Blessings,
Bagus Pramono
May 2, 2008

 

Artikel terkait :
- Tibet WAS, IS, and ALWAYS WILL BE a part of China
- Tibet: By Li Ao (Taiwanese Historian)
- CCTV9 Documentary on Lhasa, Tibet, China Riots (Part 1 of 2)
- CCTV9 Documentary on Lhasa, Tibet, China Riots (Part 2 of 2)
http://portal.sarapanpagi.org/sosial-politik/nyanyian-para-mantan-budak-di-tibet-dan-obor-olim.html



A well written piece of poem depicting the dilemma that China has been facing the US and some other nations.
A Poem - Published by the Washington Post.

When we were the Sick Man of Asia, We were called The Yellow Peril.
When we are billed to be the next Superpower, we are called The Threat.
When we closed our doors, you smuggled drugs to our open markets.
When we embrace Free Trade, You blame us for taking away your jobs.
When we were falling apart, You marched in your troops and took what you wanted.
When we tried to put the broken pieces back together again, Free Tibet you screamed, It Was an Invasion!
When we tried Communism, you hated us for being Communist.
When we embrace Capitalism, you ridicule us for being Capitalist.
When we have a billion people, you said we were destroying the planet.
When we tried limiting our numbers, you said we abused human rights.
When we were poor, you thought we were dogs.
When we loan you cash, you blame us for your national debt.
When we build our industries, you call us Polluters.
When we sell you goods, you blame us for global warming.
When we buy oil, you call it exploitation and genocide.
When you go to war for oil, you call it liberation.
When we were lost in chaos and rampage, you demanded rules of law.
When we uphold law and order against violence, you call it violating human rights.
When we were silent, you said you wanted us to have free speech.
When we are silent no more, you say we are brainwashed-xenophobics.
Why do you hate us so much, we asked.
No, you answered, we don't hate you.
We don't hate you either,

But, do you understand us?
Of course we do, you said,

We have AFP, CNN and BBC's...
What do you really want from us?
Think hard first, then answer...
Because you only get so many chances.
Enough is Enough, Enough Hypocrisy for This One World.
We want One World, One Dream, and Peace on Earth.
This Big Blue Earth is Big Enough for all of Us.

 

 

 

PERTAMA DI DUNIA :
Obor Olimpiade Sampai di Puncak Everest
Kamis, 08-05-2008 | 15:07:01


Obor Olimpiade dinyalakan Kamis 8 Mei 2008
pukul 9:12 waktu setempat di puncak Gunung Everest


EVEREST BASE CAMP- Api Olimpiade sukses mencapai Puncak Everest, Kamis (8/5). Ini merupakan saat yang emosional bagi China dan kesuksesan bagi kirab obor Olimpiade yang kerap diwarnai aksi protes. "Hidup Tibet, Hidup Beijing," teriak para pendaki yang semuanya mengenakan baju merah di depan kamera TV setelah mengibarkan bendera China, bendera Olimpiade dan bendera bergambar logo Olimpiade Beijing 2008.
"Beijing menyambutmu, tashi delek," kata mereka saat memberi salam dalam bahasa Tibet yang kurang lebih berarti 'semoga semuanya baik-baik saja.' Saat itu mereka selesai mengantarkan api dalam obor kecil ke puncak setinggi 8.848 meter itu setelah mendaki selama enam jam.
Para pendaki, pejabat dan sekelompok kecil wartawan harus mampu bertahan di ketinggian dengan oksigen tipis, suhu yang nyaris membekukan dan sanitasi dasar. Namun mereka juga menikmati salah satu pemandangan terindah di dunia selama beberapa hari, sebelum akhirnya ada celah cuaca cerah untuk melanjutkan pendakian fase terakhir.
Lima pendaki, dua di antaranya perempuan membawa obor itu ke puncak Everest di tengah suhu minus 30 derajad Celcius. Mahasiswa Beijing, Huang Chungui, menyerahkan obor itu kepada Ciren Wangu, perempuan Tibet yang mengambil beberapa langkah terakhir tanpa bantuan oksigen. Ciren Wangu menginjak puncak pada pukul 09.16 waktu setempat lalu mengacungkan obor itu dengan disambut teriakan gembira para pendaki lain.
Tim Everest yang melibatkan 22 warga Tibet, delapan etnis China Han dan seorang warga minoritas Tujia itu telah berada di gunung itu selama lebih dari sepekan untuk menyiapkan rute lewat dinding timur laut.
"Semua etnis di Daerah Otonomi Tibet sangat bangga. Etnis Tibet dalam hal tertentu memuji momen ini," kata Wu Yingjie, wakil ketua eksekutif wilayah itu.

(kompas.com)

 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.