HEALTHY SEXUAL LIFE

 

 

 Beranilah Berekspresi Demi Rekreasi

Menghindari kejenuhan dalam beraktivitas seksual, setiap pasangan dituntut untuk kreatif bersetubuh. Kreatif dalam hal posisi, waktu, atau tempat. Namun , semua kreativitas itu haruslah disetujui masing-masing pasangan. Bukankah semua demi kepuasan bersama?         

Dulu sewaktu sekolah menengah, ada istilah PMP. Ini bukan mata pelajaran khas Orde Baru, hanya plesetan saja: Posisi Menentukan Prestasi. Nah sekarang saat sudah berkeluarga, saya dapat istilah lain namun mirip: PMS. Hmm....ini bukan kepanjangan dari Penyakit Menular Seksual, tapi Posisi Menentukan Sensasi. Ah, aya aya wae.

Berbicara hubungan seksual memang pada akhirnya bermuara ke sensasi, atau kenikmatan, kepuasan; dan untuk itu tentu menyangkut soal posisi. Entah posisi umum atau aneh-aneh, ketika kenikmatan itu sudah tercapai, ya selesailah esensi hubungan seksual. Banyak pasangan terutama lelaki yang tak acuh begitu kenikmatan direngkuh. Padahal dalam tahapan yang ideal setelah foreplay dan play, masih ada afterplay. Atau dalam olahraga ada pendinginan.

Dalam hal membicarakan posisi bersanggama, sekarang ini sudah tidak terhitung berapa banyak informasi soal ini. Mulai yang kuno ala Kamasutra sampai yang modern ala Film biru. Namun pada dasarnya posisi-posisi tadi hanya itu-itu saja. Selebihnya adalah kreativitas dari pasangan yang terikat dalam perkawinan untuk mencari kenikmatan dari aspek rekreatif.

 

Nyaman buat berdua

Namun, anda salah jika berpendapat bahwa orang barat lebih bebas dalam berekspresi soal posisi ini dibandingkan dengan orang timur. Dalam bukunya Jalan Kesempurnaan Melalui Kamasutra; Seks, Cinta dan Kasih Anand Krishna menuliskan bahwa sampai tahun 1920-an, barat hanya mengenal satu posisi hubungan seksual, yakni posisi misionaris (pria di atas wanita). Mereka beranggapan inilah posisi yang wajar. Selama berabad-abad posisi-posisi yang lain dianggap tidak wajar. Bahkan ada yang menganggapnya haram, dosa.

Sebaliknya, para pakar seks di timur tidak begitu memperhatikan soal posisi bersetubuh. Secara fisik pria lebih kuat. Jadi, wanita tidak harus di bawah. Justru ia harus di atas sebab dengan begitu ia akan mengalami orgasme lebih cepat. Soalnya, dalam berhubungan seksual wanita minimal membutuhkan orgasme tiga kali untuk mencapai kepuasan yang sempurna.

Naskah kuno dari dunia timur yang membahas soal posisi bersetubuh salah satunya Kamasutra, hasil racikan Bhagavan Vatsyayan. Dari tujuh bab keseluruhan Kamasutra, ada satu bab khusus yang membahas posisi bersetubuh. Sedikitnya ada 25 posisi yang semuanya memberikan cara-cara menuju Kama, kepuasan seksual yang melibatkan seluruh panca indera manusia sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.

Bagi beberapa orang, posisi-posisi yang ada dalam buku itu mungkin akan membikin dahi berkernyit. Namun sebagai sebuah pilihan dalam memaknai dimensi rekreasi sebuah hubungan seksual Kamasutra amat membantu. Seperti yang diungkapkan oleh Putri, wanita Solo yang bermukim di pulau seberang, buku Kamasutra amat membantu dirinya dan sang suami dalam mengeksplorasi gaya bersetubuh.

"Saya dan suami sama-sama suka mencoba berbagai macam gaya", begitu ujarnya melalui surat elektronik (surel) beberapa waktu silam. Namun ia memberi catatan soal posisi-posisi yang ada di buku. "Bila dirasa posisi itu nyaman buat kami berdua, ya ayo aja".

Nyaman buat berdua memang harus diberi perhatian khusus. Hal itu juga ditegaskan oleh dr. Heru Oentoeng, M.Repro, Sp.And, dari Siloam Hospitals Kebun Jeruk. "Posisi untuk rekreasi harus dicari sampai kedua pihak merasa nyaman. Jangan sampai satu pihak nyaman, pihak lain tidak. Untuk membicarakan nyaman tidaknya posisi tadi bisa dilakukan saat afterplay. Pada saat ini, pasangan bisa berdiskusi soal posisi-posisi mana saja yang nyaman dan mana yang tidak nyaman. Dievaluasi apakah perlu dilakukan perubahan".Nah, buat para suami, nasihat dr. Heru yang menjadi nara sumber bincang-bincang seputar reproduksi di sebuah radio di daerah Tangerang ini patut disimak. Jangan selesai 'berbuat' langsung ngorok. Atau menyambar remote control dan memilih saluran kesukaan di teve ruang keluarga tanpa peduli dengan pasangannya.

 

Mitos penis

Selain soal nyaman untuk berdua, berbicara tentang posisi bersetubuh dr. Heru mewanti-wanti. Sebelum bicara lebih jauh soal posisi ini, harus ditepiskan dulu pendapat bahwa posisi pasangan pria di atas lebih dikenal dengan posisi misionaris adalah posisi yang normal dan posisi di luar itu adalah abnormal. "Tidak harus hubungan seksual itu bertatap muka", tambah dr. Heru sambil menyebut bahwa hal itu merupakan mitos saja.

Seks merupakan sesuatu yang bersifat pribadi. Jadi, seharusnya tidak ada aturan-aturan yang baku. Yang dibutuhkan hanyalah pengetahuan yang benar. Tentu saja pengetahuan soal aspek kesehatan dan aspek lain yang berkaitan dengan seks. Nah, soal posisi bersetubuh pun sepatutnya sudah urusan masing-masing orang.

Dengan mengatur posisi, sensasi berhubungan intim dapat ditingkatkan. Mencari posisi yang pas juga merupakan proses belajar. Proses untuk mencari rasa nyaman dan aman dalam melakukan aktivitas seksual. Misalnya untuk orang gemuk, tentu tidak semua posisi bisa dilakukan. Ada trik-triknya agar jika salah satu atau malah kedua pasangan gemuk 'rekreasinya' berjalan nyaman dan tentu berkesan. Untuk orang gemuk, dr. Heru memberi contoh posisi yang nyaman, "Misalnya menyiku, pria berdiri sedangkan wanitanya rebah di ranjang dengan kaki menyentuh lantai, dan menyamping".

Pada lelaki selain gemuk, terkadang mereka mengeluhkan soal pendeknya penis mereka. Hal ini kentara sekali kalau kita mengamati rubrik-rubrik seksologi. Banyak pemilik mini-penis ini merasa minder dan sebuah tanya mengemuka: "Dapatkah saya memuaskan pasangan saya kelak?". "Jangan termakan mitos soal ukuran ini. Jangan juga minder dengan ukuran yang mini. Soalnya, G-Spot atau titik kenikmatan perempuan terletak sekitar dua sentimeter dari bibir dalam kemaluan wanita", kata dr. Heru sambil menyebutkan bahwa panjang penis saat ereksi rata-rata orang Indonesia 10-15 cm. Jadi, dengan panjang minimal saja sudah sanggup menggerus-gerus G-Spot.

Heru memberi contoh kasus bahwa penis panjang tak selalu membahagiakan pasangan. "Ada kasus, penis suami sangat panjang. Ternyata istrinya mengeluh bahwa ia tidak merasa nyaman terutama saat gaya women on top. Rahimnya seperti kesodok-sodok", ujar Heru. Nah, terbukti kan yang panjang tidak selalu bagus. Seperti tagline sebuah film "The size doesn't matter". Ukuran bukan segalanya! Yang penting tekniknya, bung!

Memang untuk pria dengan penis pendek perlu lebih kreatif dalam memainkan posisi bersetubuh. Kalau belum menemukan cara memuaskan pasangan, cobalah untuk melakukan seks oral. Beberapa wanita mengaku bahwa mereka bisa memperoleh orgasme hanya karena klitorisnya dirangsang dengan lidah pasangannya. Cuma soal seks oral ini, kebersihan organ kelamin harus dijaga betul. Satu lagi soal penis yang membuat pemiliknya kudu memberi perhatian lebih: bentuk yang tidak standar. Seperti diketahui, bentuk penis saat ereksi kebanyakan mengacung atau mendongak. Akan tetapi, menurut Heru, ada beberapa bentuk penis yang tidak umum seperti melengkuh ke bawah. Untuk posisi seperti ini perlu memilih posisi yang pas agar kenikmatan bisa diraih. "Misalnya posisi doggy style. Pada posisi ini penis akan menyentuh G-Spot yang berada di belakang klitoris", kata Heru.

Di akhir obrolan, dr. Heru mengingatkan bahwa tidak ada posisi yang aman dari kemungkinan terjadinya kehamilan selama kualitas sperma suami bagus dan sel telur siap dibuahi (masa subur). "Saat kondisi seperti itu, posisi yang bagaimanapun cenderung bisa hamil", katanya. Jadi jika ada yang bilang bahwa posisi wanita di atas mengurangi dampak kehamilan adalah mitos belaka. "Memang pada posisi itu kesempatan sperma untuk masuk ke rahim dan kontak dengan indung telur berkurang".

Tak lupa dr. Heru memberi tips bagi mereka yang ingin melakukan variasi posisi: vitalitas dan bugar! 

                                                             

 

(Agus Surono)


 

Menulis ibarat bermain cinta. Tak usah khawatir soal orgasme, tapi berkonsentrasilah saja pada prosesnya. 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.