HEALTHY SEXUAL LIFE

         

 BILA HERBAL SEBAGAI JALAN KELUAR

 

Gairah dan potensi seksual pria konon bisa diatasi dengan herbal tertentu. Asal jangan terjebak mimpi ngawur, usia anda sudah berkepala empat tapi maunya kembali perkasa seperti ketika berusia 20-an tahun!      

 

Purwo tercenung lama memandangi kertas hasil tes laboratorium. Waktu itu ia berusia 46 tahun. Di atas kertas tertera jawaban atas kegelisahannya tiga bulan terakhir. Entah kenapa, gairah seksualnya belakangan melemah.

"Biasa seminggu dua kali (muncul hasrat menyentuh istri). (Tapi kemudian) jadi dua minggu sekali, lama-lama sebulan sekali", ujar lelaki yang anti obat-obatan modern itu. Tak cuma itu, kinerja penisnya juga terjun bebas. "Padahal walau secapek apa pun biasanya saya tetap greng lho".

Ia pernah menjajal salah satu jamu yang iklannya sering muncul di teve. Namun, "Ginseng dan purwoceng tak sehebat seperti yang dipromosikan", kesal Purwo. Akhirnya ia memeriksakan diri ke Bagian Penyakit Dalam RSCM. Ternyata biang keladinya diabetes. Gula darah dua jam sesudah makan mencapai 350 mg/dl.

"Pantas, 'kinerja' seksual saya ikut terpengaruh", gerutunya. Obat dokter ia tebus separuh, lalu diminum sekedarnya. Ia masih lebih percaya pada obat herbal. Setahun sebelumnya, ia pernah menderita hipertensi. Setelah secara teratur mengonsumsi obat herbal tekanan darahnya menurun, lalu berangsur normal.

Untuk diabetesnya ia memercayakan pada ramuan herbal yang mengandung mimba (Azadirachta indica Juss), daun salam (Syzygium polyanthum Walp), dan brotowali (Tinospora crispa Miers) dua kali sehari, pagi dan malam. Dalam dua minggu, gula darahnya turun jadi 200 mg/dl. "Tapi untuk turun ke 150 (normal) butuh waktu dua bulan tanpa berhenti mengonsumsi".

Sekarang untuk perawatan ia cukup minum brotowali dua kali sehari. Kini di usianya yang 49 tahun, diabetes tak lagi membuat Purwo lemes, kempis gairah. Tak cuma itu. Kapan saja, ia juga siap greng. Tiga kali seminggu? Okay, man.

 

Jamu tiga fungsi

Menurut Ir. Widisih Puji Winarto, Ketua Yayasan Pengembangan Tanaman Obat Karyasari, apa yang diminum Purwo benar untuk memerangi diabetes. Daun mimba misalnya, untuk menurunkan gula darah. Daun salam mengurangi absorbsi (penyerapan) lemak di usus halus. Sedang brotowali mampu memperbaiki kinerja pankreas.

Diakui oleh alumnus Institit Pertanian Bogor tahun 1982 itu, menurunnya gairah seksual antara lain dipicu oleh faktor fisik (termasuk di dalamnya penyakit) dan psikis. Faktor fisik berkenaan dengan 'hukum alam', bahwa menginjak usia 40 tahun, kaum lelaki pasti mengalami penurunan gairah dan kinerja seksual.

Sedangkan faktor psikis merujuk adanya stress akibat pekerjaan, hubungan kurang harmonis dengan pasangan, kemacetan lalu lintas, dan lain-lain.

Untuk 'membakar kembali' gairah seksual, Winarto menekankan perlunya mengonsumsi tanaman obat yang setidaknya memiliki tiga fungsi. Pertama, fungsi analeptik yang membuat tubuh terasa segar. Jenis tanamannya misalnya jahe merah (Zingiber officinale Linn. var. rubrum) dan lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum).

Kandungan aspartic acid dan betha-sitosterol pada jahe merah, merangsang saraf sehingga tubuh menjadi segar, serta merangsang produksi hormon androgen. Sementara lengkuas merah mengandung zat aktif basonin dan galangol, yang sama-sama merangsang semangat, menghangatkan tubuh. Dilengkapi dengan eugenol yang mencegah ejakulasi prematur.

Kedua, fungsi adaptogen yaitu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap kelemahan fungsi tubuh dan penyakit serta stress. Jenis tanaman adaptogen itu misalnya tapak liman (Elephantophus scaber L.) dan daun sendok (Plantago mayor).

Tapak liman memiliki efek farmakologis sebagai penurun panas, antibiotik, anti radang, peluruh air seni, menghilangkan bengkak, dan menetralkan racun. Sedangkan daun sendok bersifat antiinflamasi, antitusiv, antiseptik, hepatoprotektor, menormalkan aktivitas hati.

Ketiga, fungsi tonik yaitu menciptakan tenaga, mendukung metabolisme untuk terbentuknya tenaga. Tanaman tonik ini di antaranya adas (Foeniculum vulgare Mill). Di dalamnya terkandung 1,8 sineol yang mampu mengatasi ejakulasi dini, merangsang ereksi, merangsang keringat, penguat hepar, juga perangsang saraf pusat. Adas juga mengandung arginine yang mencegah kemandulan, memperkuat daya hidup sperma. Selain itu, di dalam adas juga terdapat rutin yang bisa merangsang semangat dan gairah, serta menunda penuaan.

Senyawa apa yang membuat suatu tanaman obat mampu bersifat afrodisiak? "Setiap tanaman obat terdiri atas ratusan zat, dan semuanya berfungsi". Karenanya, efek obat dari satu tanaman merupakan efek dari seluruh zat yang dikandungnya. Maka jika diisolasi, zat-zat itu bisa tidak berefek afrodisiak, atau efeknya sangat kecil.

 

Miskin efek sampingan

Setelah 'semangat juang' kembali berkobar, hasil ini tak akan ada gunanya kalau 'daya tunjuk' ternyata melemah. Di sini peran 'Mr. Penny' menjadi penting. "Jangan lupa, kegiatan seksual berpusat pada kemampuan ereksi", kata Winarto. Sedangkan penis, menurut dia, jelas bagian dari tubuh. Jadi, antara tubuh dan penis tak bisa dipisahkan.

Ereksi terjadi karena tubuh memompakan darah ke penis, yang sebenarnya bukan otot, melainkan semacam spons yang menegang jika diisi darah bertekanan. Namun, tandas mantan Kepala Sekolah Menengah Teknologi Xaverius di Belitang Sumatra Selatan ini, pemompaan itu sendiri terjadi atas pengaturan susunan saraf pusat (SSP).

"Tanpa saraf pusat (otak) yang memerintahkan, tidak akan terjadi pemompaan, dan tanpa pemompaan tidak akan terjadi ereksi. Sedangkan dorongan saraf pusat untuk memompa sangat tergantung pada aspek psikis", tambahnya. Di situlah obat herbal 'bermain'. Herbal bekerja memperlancar pemompaan dan kerja SSP, yakni pada fungsinya sebagai analeptik, adaptogen, dan tonik.

Hal penting yang diingatkan Winarto berkenaan dengan kemampuan ereksi, "Masalah seksual bukan hanya mengandung aspek fisik, tapi juga psikis. Tanpa dorongan psikis, tidak mungkin terjadi gairah seksual".

Keampuhan obat herbal yang diyakini tak memiliki efek sampingan itu, boleh dikata seimbang dengan obat-obatan medis seperti Viagra, Cialis, dan sebagainya. Winarto tak berani membandingkan secara langsung, karena tak pernah mempelajari khusus jenis obat-obatan itu, dan merasa belum perlu untuk mencoba.

Hanya saja dari informasi resmi yang dia peroleh, efek utama obat-obatan modern itu paling utama sebagai dilatasi, memperlonggar pembuluh darah khususnya yang menuju ke penis.

"Jadi, sifatnya sebagai jalan pintas dan solusi sesaat saja. Jeleknya, tanpa minum obat itu, ereksi sulit didapat. Akhirnya, timbul ketergantungan".

Sebaliknya, Winarto merujuk pada banyaknya zat aktif yang difungsikan oleh obat herbal, sehingga lebih konstruktif. Bisa meningkatkan kondisi fisik yang segar, punya daya tahan, dan cukup energi. Dengan obat herbal, penanganan masalah kelelakian itu jadi lebih menyeluruh, bukan sekedar memperlancar jalan darah ke perangkat seksual.

 

'PEPABRI'  tetap 'PEPABRI'

Sebelum mencoba obat-obatan herbal, perlu dipahami bahwa ramuan alami itu hanya untuk mengobati aspek penurunan fungsional. Misalnya dari 'perjuangan hidup' meningkat jadi 'pegangan hidup'. Atau dari 'pegangan hidup' menjadi 'pandangan hidup'. Ia tak bisa menyulap mereka yang ada di tahap 'perjuangan hidup' menjadi 'pandangan hidup', misalnya.

Secara berseloroh, Winarto memberi tamsil, "Lha wong sudah 'Pepabri' kok kepingin jadi 'Akabri', itu omong kosong". Jika aspek psikis, gizi, dan metabolisme tubuh cukup baik, dalam seminggu obat herbal sudah bisa menunjukkan hasil.

"Biasanya dalam tiga hari setelah rutin meminum obat herbal, ranjang sudah kembali hangat. Gairah kembali menyala", jamin Winarto. Jika sudah minum obat herbal, tapi belum greng juga, ia menyarankan datang ke klinik herbal untuk diperiksa dokter. Siapa tahu, gangguan itu disebabkan penyakit diabetes mellitus, seperti dialami Pak Purwo.

Setelah mengonsumsi jamu khusus diabetes, dan kadar gula dalam darah normal kembali, barulah obat herbal afrodisiak boleh diminum. Segala masalah seksual, Winarto menyarankan perlu ditangani secara baik dan terbuka. Jangan hanya disimpan jadi rahasia suami-istri. Sebab itu akan berdampak bagi keharmonisan rumah tangga, bahkan masyarakat.

Makin terbuka, makin baik buat pasutri, makin gampang pula diobati.

 

 

(Dharnoto)


 

Aristoteles adalah orang pertama yang menyebut cantharides - yang mengandung zat aktif cantheridin - sebagai afrodisiak 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.