HEALTHY SEXUAL LIFE

         

 BILA PASANGAN TERPAUT JARAK

 

Istilah bujang lokal atau lajang lokal sering ditujukan bagi mereka yang karena suatu sebab harus berpisah dengan pasangan hidupnya untuk jangka waktu panjang. Agar tidak terjebak dalam persoalan yang bisa menyebabkan bubarnya ikatan perkawinan, para bujang dan lajang lokal ini perlu menyiasatinya.          

 

Di zaman kini, peran di dalam sebuah rumah tangga sudah mengalami banyak perubahan. Banyak istri bekerja di luar rumah, mencari nafkah bersama suami. Ketika bandul waktu bergulir ke zaman globalisasi, pasangan suami-istri ada yang tidak serumah lagi. Entah karena tugas atau hal lain, ada pasangan yang berpisah untuk jangka waktu lama. Ada yang berpisah kota, banyak pula yang pisah negara.
Pasangan suami-istri Rino dan Rina (bukan nama asli) salah satu contohnya. Karena pekerjaan masing-masing, mereka mesti tinggal tidak satu atap. Jarak harus memisahkan mereka. Rina di Jakarta, suaminya di Balikpapan.
Rina sangat percaya akan komitmen dan tanggung jawab suaminya. Meski memiliki jadwal 2-1 (dua minggu bekerja dan satu minggu libur), terkadang suaminya harus bekerja di luar aturan itu. Sebagai karyawan yang bertugas di perusahaan jasa perminyakan, Rino memang bekerja tanpa pengenal waktu. Terlebih ketika pelanggannya, perusahaan minyak internasional, mulai melakukan pengeboran. Saat itu ia harus memelototi lembaran-lembaran kertas untuk mengambil kesimpulan, adakah minyak bumi di bawah sana?

Sementara itu Rina sedang giat-giatnya mengejar karier di sebuah perusahaan otomotif. Saking sibuknya, di suatu masa ia tidak menyadari lagi sudah berapa lama suaminya tidak pulang ke Jakarta. Rina sendiri jarang ke Bqalikpapan. Ia tidak betah dengan kondisi di sana. Ketika sadar, ia sudah terlambat. Gara-gara pertengkaran kecil, keretakan hubungan mereka pun tak bisa disembunyikan lagi. Suaminya mengaku berselingkuh.

Keretakan rumah tangga memang menjadi salah satu resiko yang dihadapi pasangan. Namun dengan komitmen yang kuat tak jarang pasangan tetap utuh meski jarak memisahkan mereka.

Santi (nama samaran), misalnya terpaksa berpisah tempat tinggal dengan suaminya. Suaminya di Jakarta. Ia di Singapura untuk bekerja. Meski tidak bisa leluasa pulang atau ditengok suami, nyatanya rumah tangga mereka tetap utuh.

Begitu pula dengan Ferry (nama rekaan) yang harus berpisah dengan istrinya yang tinggal di Jakarta. Ia harus mengadakan penelitian di Amerika Serikat dan hanya memiliki kesempatan pulang setiap enam bulan sekali.  

Tahu identitas
Menanggapi fenomena itu, psikolog Dra. Ieda Poernomo Sigit Sidi mengingatkan kembali arti perkawinan. Perkawinan terjadi karena dua orang berlainan jenis kelamin bersama-sama sepakat untuk saling berbagi kehidupan. Bayangannya tentu secara fisik bersama-sama. Kebersamaan itu menjadi penting mengingat dalam kesehariannya mereka akan berhadapan dengan banyak perbedaan yang mesti dipertemukan. "Nah, perkawinan itu berharap perbedaan-perbedaan itu tidak dipertajam. Justru dicari titik temunya. Dalam upaya inilah diperlukan kerja sama dari masing-masing pasangan", ujar Ieda.

Kedekatan secara fisik memungkinkan pasutri mendekatkan diri secara mudah. Dengan begitu, cinta yang membawa mereka ke perkawinan akan senantiasa dipupuk dan berkembang. 'Kemewahan' ini tentu tidak dipunyai oleh pasangan yang berpisah jarak. Dalam kasus seperti ini, apa yang dipikirkan oleh dua orang yang terlibat dalam perkawinan tentang pasangannya menjadi penting. Apakah ia tetap menjadi bagian dari pasangannya atau merasa lepas? "Kan beda sekali nanti perilakunya".

Bila tetap menjadi bagian dari pasangannya, ia akan selalu berpikir bahwa ia memiliki suami atau istri di mana pun ia berada. Sebaliknya, kalau merasa lepas, ia akan merasa memiliki pasangan tapi tidak di sampingnya, semuanya harus ia kerjakan sendiri. "Lalu ada orang lain yang masuk dalam kesehariannya dan memberi perhatian lebih, cerita pun bisa berbelok", kata Ieda. Karena itu, memahami identitas diri menjadi kunci penting dalam 'perkawinan jarak jauh' (PJJ).

Mengetahui identitas yang melekat dalam diri, entah sebagai suami atau istri pada PJJ akan membantu pasangan dalam menyiasati dan menyikapi kondisi tadi. Secara teknis bisa diatur, misalnya jika kondisi A, maka langkahnya begini, dsb. Memang tidak semua kondisi bisa diperhitungkan. Akan muncul abnormalitas di luar perhitungan kita. Dalam keadaan seperti ini harus ada pengertian dari masing-masing pasangan. Kasus seperti itu juga bisa dijadikan pengalaman seandainya menemui kasus serupa. "Self enrichment. Inilah yang membedakan antara yang berpengalaman dan tidak", tutur Ieda.

Yang dikhawatirkan kalau kita kemudian lupa pada identitas diri. "Atau menukar identitas. Kan ada joke tuh, 'bujang lokal'. Ya, tidak ada istilah itu dalam perkawinan. Kalau berangkat dengan identitas suami (atau istri), ya pakailah itu sampai kapan pun. Jangan berubah menjadi lajang hanya karena terpisah jarak". 
 
Abaikan suara sumbang
Mengingat resiko yang bisa terjadi dalam PJJ, maka sebelum memutuskan, Ieda menyarankan untuk menimbangnya dengan cermat. Yang penting, pasangan suami-istri mengerti betul mengapa memilih hidup terpisah. Misalkan, seorang suami memperoleh kesempatan tugas belajar ke luar negeri dan tidak memungkinkan membawa keluarganya. Langkah hidup terpisah itu tetap diambil karena menurut pasangan itu, langkah tersebut akan memperbaiki masa depan keluarga mereka.

Perlu disadari pula, kepergiannya tidak semata demi keluarga tapi juga demi diri sendiri, demi peningkatan karier yang bisa dipandang sebagai aktualisasi diri. "Kalau semata demi keluarga, nantinya si suami seperti berkurban", seloroh Ieda.

Namun Ieda juga menekankan setiap individu itu unik, "Carilah yang pas dengan kondisi anda berdua. Yang lain itu referensi, pertimbangan saja. Kenali diri sendiri dan pasangan anda. Anda mampu hidup terpisah jarak atau tidak? Kalau enggak mampu, ya enggak usah maksa". Simulasi dengan hidup terpisah selama seminggu misalnya, bisa menjadi pilihan untuk mengecek soal kemampuan itu.

Sayangnya, kita hidup di tengah masyarakat yang juga memiliki opini sosial lebih menerima suami yang pergi daripada istri. Jika suami yang pergi, orang akan beranggapan wajar. "Pasti demi kebaikan keluarga", begitu masyarakat membatin. Namun apa tanggapan masyarakat kalau istri yang pergi? "Apaan sih? Ngapain sih? Apa yang dicari? Tega-teganya meninggalkan suami dan anak!"

Opini masyarakat itu mau tidak mau meresap dalam benak pasangan yang akan hidup terpaut jarak; dan bisa jadi mempengaruhi pikirannya. Kalau tidak tahan mendengar suara-suara seperti itu, bisa saja pasangan itu akan berubah pikiran.

Menanggapi hal itu, Ieda hanya punya saran pendek: jangan dengarkan! "Anda berdua yang tahu persis: siapa anda, siapa pasangan anda. Anda berdua yang tahu persis ke mana tujuan anda". Tentu saja setelah semuanya dikalkulasi.

Setelah keputusan diambil, barulah merumuskan langkah-langkah yang boleh dan tidak boleh dilakukan sambil mengantisipasi jika terjadi masalah di luar perhitungan. 

Gunakan untuk hal positif
Satu babak telah terlewati. Namun, jalan yang dilewati bukannya sudah aman, justru mulai masuk ke kawasan yang tidak terpantau dengan baik. Kalaupun sudah membuat 'perjanjian di atas kertas', bisa saja yang tercetak di sana jadi tak bermakna. Beruntunglah kemajuan teknologi informasi memberikan solusi. Mulai dari telepon, sms, email, chatting, VoIP, sampai jenis yang konvensional: surat. Apa pun cara yang dipilih, Ieda menekankan pentingnya kualitas. Jadi, ketika sedang bertelepon, jangan ngomong ngalor-ngidul atau berkomunikasi layaknya atasan-bawahan.

Jangan pula menggunakan hukum ekonomi dalam persoalan ini. Misalnya, menilai pulsa telepon mahal. Resiko yang bisa terjadi mungkin lebih berat, semisal perkawinan bubar jalan, seandainya tidak sering berkomunikasi dengan pasangan. "Jadi, lebih mahal mana?", tanya Ieda. Atau harga tiket pesawat yang bisa menguras tabungan. "Anda itu butuh kebersamaan!", tandas Ieda lagi. Yang bisa dilakukan adalah dengan menyiasati seperti telepon untuk hal-hal yang penting saja. Cerita lengkapnya di surat saja, atau melalui faksimili yang langsung sampai.

Datang menengok atau pulang kampung pada akhirnya menjadi satu-satunya jalan untuk berkumpul, termasuk melakukan hubungan intim. Meski yang terakhir itu belum tentu tercapai. "Seks memang sesuatu yang indah. Tapi bukan berarti sesuatu yang 'harus'. Kalau memang ada yang mengganggu, misalnya menstruasi atau capek karena bekerja, ya kita berdua mengerti kalau harus menunda dulu aktivitas kami", tutur Santi.

Bicara soal hasrat seksual pada pasangan yang terpisah jarak menjadi menarik, sebab mereka sebelumnya sudah pernah melakukan dan karena jarak mereka tidak leluasa lagi. Di lain pihak, hasrat seksual tidak memandang apakah pasangannya berada di dekatnya atau ribuan mil jauhnya. Namun, Ieda melihat hal ini seharusnya bukan menjadi persoalan. "Lo, bukankah kondisi ini mirip ketika mereka belum menikah. Punya gairah seksual tapi tidak memiliki exit permit untuk melakukan hubungan seksual? Kalau dulu bisa, kenapa sekarang enggak?", ujarnya.

Soal dorongan seks ini seharusnya sudah disadari sejak awal. Ya inilah konsekuensi pilihan untuk hidup terpaut jarak. Alasan kesepian yang sering dilontarkan hanyalah excuse. Lagi pula semua itu tergantung pada pikiran. "Membunuh hasrat? Wah, paling kalau suami lagi tidak ada di Singapura atau kami lagi enggak ketemuan, aku konsentrasi kerja saja. Atau menonton teve, atau bersih-bersih rumah, atau jalan-jalan sama teman ke mall. Or elsewhere", tukas Santi dengan ringan.

Intinya, jika pasangan menggunakan waktu luangnya untuk hal-hal positif, maka marital affair tak bakalan muncul. Begitu pesan Ieda. 

Kalkulasi lagi
Selain dengan mengalihkan hasrat ke hal-hal yang positif, benteng keimanan diyakini kuat untuk menahan godaan 'setan selingkuh'. Inilah yang membuat istri Ferry tenang-tenang selama suaminya berada di Amerika Serikat. Ia pun berkonsentrasi menjaga anak semata wayangnya.

Iman pada akhirnya membedakan cara pandang orang dan cara orang mengontrol diri sendiri. "Itulah yang saya katakan, orang yang beriman itu mengatur perilakunya. Dia bersyukur bahwa keluarganya mendukung dia pergi untuk sebuah cita-cita demi perbaikan keluarga. Masak saya harus menjawab mereka dengan hal-hal yang tidak baik?"

Sayangnya tak semua pasangan yang berjauhan memiliki benteng-benteng seperti itu. Kisah Rino di awal tulisan ini menjadi contoh betapa ia tidak menyadari adanya 'ranjau-ranjau' yang bisa menjebaknya. Setelah merasakan buah perbuatannya, ia baru menyesal. "Wah, tidak tahan uji nih!", komentar Ieda.

Ia pun menyarankan Rino menempatkan orang lain pada diri sendiri saat menghadapi amarah istrinya. Jangan minta orang lain mengerti keadaan kita selama di rantau kalau anda sendiri tidak mau mengerti. "Tidak adil dong", kata Ieda.

Bagaimana sikap Rina sebaiknya? Tentu saja menghilangkan sakit hatinya pada sang suami. Lalu meminta ketegasan suaminya soal siapa yang dipilih, ia atau wanita lain. Di sinilah akan terjadi 'kompetisi'. Kalaupun Rino memilih Rina, jangan anggap persoalan sudah selesai.

Di lain pihak, kunci untuk kembali bagi Rino adalah mengaku bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan. Kemudian menetapkan langkah ke depannya: kembali ke keluarga atau meninggalkan keluarga. "Anda tidak bisa memperoleh semua dalam hidup ini. Jadi, harus memilih". Kalau Rino memutuskan kembali, artinya ia harus betul-betul kembali. Kembalilah demi cinta, bukan demi yang lainnya.

Setelah persoalan selesai, kalkulasi kembali kesepakatan awal. Apakah Rina perlu ikut suami? Untuk menjawabnya, perlu dijawab dulu pertanyaan apakah Rino bukan termasuk suami yang bisa hidup sendirian di rantau? Kalau iya, berarti Rina mau tidak mau harus ikut. Apa pun yang terjadi.

Sekedar catatan buat mereka yang sedang menjalani PJJ, kalkulasi ulang tidak harus setelah ada kejadian. "Dalam kasus PJJ, evaluasi itu sangat penting. Itu yang orang Indonesia tidak biasa. Gimana entar aja..... Enggak bisa kita hidup dengan gimana entar", tukas Ieda.

Kita berharap, semoga Rina dan Rino bisa menambal biduk mereka yang koyak.

 

        

(Agus Surono)


 

Dari survei yang dilakukan Tracey Cox, penulis buku Hot Sex: How to Do It, lebih dari 50% wanita mapan dan berpendidikan tinggi melakukan masturbasi secara teratur 

 

 

 

         

 

 

Powered by: SECAPRAMANA.Com. Inc.